Babe Yadi Si Penjual Kerak Telor Tak Mau Menunggak Listrik


Babe Yadi ini berjualan kerak telor di Kompleks Pertanian Citayam, Ragajaya, Bojonggede, Bogor. Ia baru dua bulan mangkal di sini. Sebelumnya mangkal di Kota, Jakarta, tetapi karena di sana sepi pengunjung akibat pandemi akhirnya ia pindah ke rumah anaknya di Kampung Wates.

Babe Yadi berjualan sekadar menyambung hidup. Sudah dua bulan juga listrik belum dibayar. Ia enggak mau menunggak, tetapi apa daya ia masih tak memiliki kemampuan dalam kondisi begini.

Baca Lebih Lanjut

Di Titik Didih Kerinduan


Malam lebaran di salah satu sudut Semarang.

Suara mirip peluit mencelat dari ketel yang isinya air mendidih. Uap panasnya berontak dan buru-buru keluar dari celah sempit di ujung moncong ketel seperti iblis dengan bala tentaranya ketika azan Magrib 1 Syawal besok berkumandang.

Mereka kembali merapatkan barisan, berkoordinasi, dan membagi tugas mengembalikan manusia kepada kesesatan setelah sebulan mereka dipenjara. Mereka ingin agar kawan-kawannya dari kalangan manusia yang sudah suci dibasuh Ramadan, kembali menjadi anggota yang akan menemani mereka di neraka.

Baca Lebih Lanjut.

Membeli Martabak di Bulak


MEMERANGKAP***Senja.

Ketika kami tiba di Masjid Alhusna, Kinan langsung menuju saf terdepan saja.  Tak ada yang menemaninya. Umminya Kinan sedang tak enak badan jadi tak bisa salat id. Sedangkan kami bertiga segera masuk ke dalam ruangan utama masjid.

Hari ini lebaran. Kami kembali salat di masjid ini. Mengulang ritual setahun sekali. Khatibnya berkhotbah selama 30 menit yang isinya diingat dengan baik oleh Kinan. Di antaranya tentang nyamuk, organ tubuhnya, alat untuk menusuk korban, dan obat bius yang dipakai satoan itu saat menggigit manusia.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #31: SHAHRUKH DAN LIANG KUBUR


RIHLAH RIZA #31: SHAHRUKH DAN LIANG KUBUR

 

 

Shahrukh Mirza adalah anak keempat dari Timur Lenk, penakluk besar Asia. Selama 42 tahun kekuasaannya, Shahrukh berhasil mempertahankan dinasti Timurid dari perpecahan dan kebangkrutan. Di Herat, pusat pemerintahannya, ia mengumpulkan para cendekiawan untuk menjadikan kota itu sebagai corong peradaban Islam. Ia membangun perpustakaan besar untuk mendukung keilmuan. Kegiatan ilmiah dan perekonomian pun akhirnya berkembang pesat.

**

Kalau sudah hari Jumat, mess ini harus sudah siap-siap ditinggalkan penghuninya. Kebanyakan teman-teman satu mess pulang ke Medan atau Pekanbaru. Lengkap sudah sepi yang saya rasakan di Tapaktuan kalau kebetulan pas saya tidak pulang ke Citayam. Salah satu kegiatan yang biasa saya lakukan untuk membunuh sepi ini adalah dengan membaca buku. Tidak banyak buku yang saya bawa dari Citayam ke Tapaktuan ini. Namun internet memudahkan semuanya, ketika tidak ada lagi buku yang belum dibaca, mengunduh ebook menjadi jalan satu-satunya agar saya dapat terus membaca buku.


Sedikit buku itu (Foto koleksi pribadi).

 

Kebetulan membaca buku sudah menjadi tradisi keluarga kami. Profesi bapak saya yang mendukung tradisi itu. Salah satu profesi bapak adalah penjual majalah bekas, novel, dan teka-teki silang. Bapak beli majalah, buku, dan TTS itu di Pasar Senen, Jakarta. Otomatis sejak kami kecil kami sudah terbiasa membaca. Dari mulai majalah anak-anak, remaja, sampai ibu-ibu. Sampai sekarang saya masih ingat tentang sebuah cerita pendek yang biasa menjadi sisipan di majalah ibu-ibu. Saya lupa nama majalah itu, entah Femina, Kartini, atau Kartika atau yang lainnya. Garis besarnya demikian.

Ada seorang pemuda berkenalan dengan seorang perempuan di sebuah taman. Setiap hari mereka bertemu di sana. Sampai kemudian timbul benih-benih cinta di antara mereka berdua. Tapi tidak berapa lama perempuan itu menyatakan dengan sebenarnya kepada sang lelaki kalau hubungan ini harus diakhiri. Tidak bisa diteruskan. Cerita yang dituturkan dari pihak lelaki ini berakhir dengan sebuah kenyataan, sang lelaki harus menerima bahwa cinta yang mulai tumbuh ini kandas di tengah jalan karena perempuan itu sebenarnya adalah banci.

Tahun delapan puluhan masih belum ada majalah islami. Jadi jangan harap ketemu majalah Sabili dan Annida di lapak dagangan bapak. Dua majalah ini baru saya baca sewaktu kuliah di STAN bertahun-tahun kemudian. Pun, majalah Panji Masyarakat sebagai majalah islami yang penyebarannya paling luas saat itu tidak menjadi barang dagangan bapak, mungkin karena peminat dan pembelinya sedikit.

Membaca itu jendela dunia. Bisa tahu semua. Bisa tahu apa saja. Bukannya sombong, guru geografi di SMP sampai bosan melihat saya yang selalu pertama kali mengacungkan tangan setiap ada pertanyaan yang diajukannya. Kalau pak guru itu tahu, majalah intisari bekas inilah yang sebenarnya menjadi bacaan yang bergizi buat saya saat itu sehingga mampu menjawab pertanyaannya.

Bapak juga pembaca buku. Ada buku yang menjadi kitab wasiatnya. Selalu dibaca terus menerus walau sudah berulang kali khattam. Buku yang sudah lapuk dan menguning. Ditulis oleh Dale Carnegie yang berjudul Bagaimana Menghilangkan Cemas & Memulai Hidup Baru. Buku yang harus dijaga hati-hati oleh kami dan jangan bergeser dari tempatnya ditaruh kecuali oleh dirinya sendiri. Kalau tidak, seisi rumah akan dimarahinya. Sayang buku itu terbakar habis bersama kamar yang ditempati bapak waktu kejadian kebakaran rumah saya di tahun 2010 lalu.

Buku Carnegie ini menjaga pikiran bapak agar tetap positif. Saya menyetujuinya. Waktu kecil dulu saya sudah baca buku itu sampai habis. Puluhan tahun kemudian, di Tapaktuan ini, saya bawa dan baca buku yang ditulis oleh Dale Carnegie Associate. Sudah pernah saya sebutkan di tulisan saya sebelumnya. Buku sejenis lainnya adalah bukunya ‘Aidh bin Abdullah al-Qarni yang berjudul Don’t be Sad: Cara Hidup Positif Tanpa Pernah Sedih & Frustasi.

Mau tidak mau buku tersebut menjaga dan membawa nilai-nilai positif buat saya. Berusaha untuk tidak berburuk sangka, dendam, putus asa, benci, cemas, dan takut. Selalu bekerja dengan lebih baik dan berusaha sebarkan kebaikan karena saya yakin kebaikan itu akan datang kembali kepada saya dengan energi yang lebih besar lagi. Terpenting lagi adalah berusaha mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan begitu banyak kepada saya. Puas dengan apa yang diberikan Allah membuat kita menjadi orang yang terkaya di dunia. Inilah yang disebut saya, di Tapaktuan ini, di sebuah tempat yang jauh dari orang-orang yang saya cintai, sebagai upaya menjaga nalar tetap positif.

Tapi menurut saya tidak berhenti di situ, semata menjaga nalar positif, melainkan perlu juga menjaga amal tetap positif. Ketika waktu berlebih dan beban kerja tidak sedahsyat di Jakarta, sudah semestinya kalau amal-amal yang terkait dengan ruhiyah tetap juga pada kuadran positif. Maka bacaan yang sangat menunjang itu adalah Kitab Hadis Riyadhus Shalihin yang ditulis oleh Imam Nawawi. Kitab yang direkomendasikan para ulama untuk dapat dimiliki oleh setiap keluarga muslim. Membacanya pun perlu trik. Tak perlu sekaligus dibaca, melainkan baca satu hadis dalam sehari namun konsisten membacanya. Renungi lalu amalkan.

Ah, terlalu banyak cakap awak ini. Tapi memang inilah obat sepi saya dalam kesendirian. Benar, karena dalam kesendirian ada keinsafan dan kesadaran. Kesadaran tentang bahwa kita nanti pun akan sendiri. Sendiri dengan sebenar-benarnya sendiri. Siapa coba yang akan menemani kita kala dipendam dalam tanah nanti? Almutanabbi, pujangga Arab, pernah mengatakan, “Tempat duduk yang paling mulia di dunia ini adalah pelana kuda. Dan teman yang paling baik sepanjang zaman adalah buku.”

Tapi saat itu, bukan buku lagi sebagai teman melainkan amal. Yang baik atau yang buruk? Itu tergantung dari apa yang kita kumpulkan selama hidup. Amal baik itu menjelma menjadi sosok rupawan yang akan menemani kita di liang kubur sampai kiamat tiba. Tapi sebaliknya amal buruk itu menjelma menjadi sosok buruk rupa dan bau yang kita pun akan jijik didekatinya.

Sebuah syair Arab menyatakan, “Untuk medan pertempuran, prajurit-prajurit telah diciptakan baginya, dan bagi buku, penulis dan penyairlah tempatnya. Shahrukh sebagai penakluk bekerja di atas pelana kuda mengarungi medan pertempuran untuk dapat mempersatukan kembali wilayah yang pernah digenggam bapaknya. Al-Mutanabbi dan al-Hasan al-Lu’lu’i telah disediakan buat mereka buku sebagai temannya. Untuk liang kubur, saya atau kita telah disiapkan baginya. SOS, siapa teman sejati yang akan menemani kita? Amal baik atau amal buruk?

Karena dalam kesendirian ada keinsafan dan kesadaran.

 


Patung dada Shahrukh Mirza (Wikipedia).

 


The Great Arab Poet, Abu al Tayyeb al Mutanabbi (Gambar dari sini)

 

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 15 Maret 2014

RIHLAH RIZA #13: SEPERTI SENJA YANG BERGULUNG-GULUNG


RIHLAH RIZA #13:

SEPERTI SENJA YANG BERGULUNG-GULUNG

 

Selain Ibnu Bathuthah ada juga penjelajah Arab yang mendahuluinya—tepatnya di abad 10—bernama Ibnu Fadlan. Manuskrip yang tersisa tentangnya menceritakan pertemuan budaya antara Arab dan Viking.

**

    Jam 20.15, mobil travel yang akan mengantarkan saya ke Medan sudah tiba di mess. Rencananya saya akan pergi ke Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak untuk menghadiri undangan mengikuti workshop sehari
yang diselenggarakan oleh Direktorat Keberatan dan Banding. Workshop ini mengenai organisasi penyelesaian sengketa perpajakan. Atas seizin Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan saya diperbolehkan untuk mengikutinya. Kebetulan pekan ini adalah pekan ketiga keberadaan saya di Tapaktuan, karenanya saya sekaligus memanfaatkannya untuk pulang.

    Saya duduk di bagian depan di samping supir. Tempat duduk yang sudah saya pesan khusus kepada agen travelnya. Pokoknya saya tidak akan berangkat dengan travel itu kalau saya tidak duduk di situ. Karena ini perjalanan darat yang memakan waktu lama tentunya kita kudu milih tempat yang nyaman. Jok di samping dan di belakang supir adalah tempat duduk yang nyaman. Yang paling nyaman tentunya di samping supir. Kalau kita tidak pesan atau tidak beruntung kita bisa saja dapat duduk di bagian tengah. Dan ini bisa-bisa tidak tidur sepanjang perjalanan karena tak ada senderan buat kepala. Apalagi kalau sudah dijepit dua orang.

    Innovanya masih gres. Suara mesinnya halus. Kijang ini masih harus mampir ke rumah-rumah menjemput penumpang. Ini saja butuh waktu satu jam. Ternyata semuanya perempuan. Tentu saya tepat duduk di depan. Selama perjalanan saya mengalami roaming. Persis seperti Antonio Banderas dalam The 13th Warrior yang berperan sebagai Ahmad bin Fadlan yang diselamatkan para petempur Viking dari gangguan penjarah Mongol-Tatar.

    Orang Arab kepercayaan Khalifah di Baghdad namun terusir ini dalam sebuah makan malam jadi bahan olok-olok dari mereka yang menyelamatkannya. Ahmad tahu ia jadi bahan pembicaraan. Tapi ia tak mengerti apa yang dibicarakan. Makanya ia perhatikan gerak bibir mereka. Saking jeniusnya lama-kelamaan orang Arab ini jadi paham dan tahu bahasa mereka. Seketika Ahmad jadi tahu kalau yang dibicarakan dengan nada mengejek itu adalah kudanya yang kecil dan pedangnya yang bengkok. Mereka akhirnya terdiam ketika Ahmad menimbrung dengan mengucap sebuah kata. Lalu berikutnya ngobrol seru dengan bahasa mereka.

    Saya tak sejenius Ahmad bin Fadlan ini. Saya tak mengerti apa yang supir dan perempuan penumpang itu bicarakan. Saya tak mampu membaca gerak bibir mereka. Yang saya paham cuma kata-kata yang sangat familiar seperti ambo. Selebihnya tidak. Lainnya yang bisa terdengar seperti kata “dakik-dakik”. Tak tahulah awak artinya ini. Dengan jaket hitam tipis dan sarung yang sengaja dibelitkan di leher untuk mengurangi terpaan angin malam dari jendela yang sedikit terbuka, saya banyak terdiam. Sesekali mengobrol dengan supir yang enak nyetir-nya ini dan kalau di tikungan tak sedikit pun mengurangi kecepatan.

    Dua kali kami berhenti untuk istirahat. Supirnya makan dan ngupi. Perhentian pertama ini di sebuah warung makan bernama Awak Away di Kota Subulussalam. Kota ini jaraknya tiga jam perjalanan darat dari Tapaktuan dan merupakan satu dari lima kota yang berada di Provinsi Aceh. Empat kota lainnya adalah Kota Banda Aceh, Kota Langsa, Kota Lhokseumawe, dan Kota Sabang. Perhentian kedua saya tak tahu di daerah mana.

    Ketika kami menyusuri gelapnya malam di jalan yang berliku-liku di bawah pegunungan Bukit Barisan, entah di daerah Kabupaten Pakpak Barat atau Dairi (dua-duanya merupakan kabupaten yang berada di wilayah Sumatera Utara) mobil kami dihadang segerombolan orang. Kami harus berhenti juga karena di tengah jalan sudah ada pohon yang melintang. Mereka minta duit. Tapi tidak meminta kepada kami melainkan kepada supir.

Ada sedikit intimidasi mereka dengan cara mengerubuti supir secara bersamaan. Jendela dipenuhi dengan tangan-tangan yang berusaha menggapai-gapai dashboard. Tapi tak ada insiden. Dikasih secukupnya mereka mau. Saat uang sudah diterima pohon tumbang pun dengan mudahnya digeser oleh mereka dari tengah jalan. Sejatinya bukan pohon tumbang, melainkan dahan pohon dengan banyak daun yang sengaja ditebang.

Tidak jauh dari sana, tiga atau lima kilometer setelah gerombolan itu, ada razia polisi di depan posnya. Kami diperiksa sebentar, terutama barang yang ada di atas mobil yang ternyata isinya durian.

    Kami sampai di Medan jam lima pagi. Inilah kali pertama saya singgah di kota Medan seumur hidup saya dan tak menyangka kota ini begitu besarnya. Pantas saja kalau dijuluki sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Kami melewati Masjid Raya Medan atau Masjid Al Mashun dalam keremangan lampu yang membuat bangunan ini semakin indah dilihat. Kubahnya mirip dengan kubah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dengan model Turki-nya.

 

Masjid Raya Medan (Koleksi Yopi Photography)

Enam penumpang turun mendahului saya di sebuah hotel. Saya turun terakhir di Stasiun Medan. Saya akan naik kereta api ke Bandara Internasional Kualanamu. Saya pergi ke stasiun ini dikarenakan saya tiba di Kota Medan masih pagi. Kalau tibanya jam enam pagi saya akan putuskan langsung naik bus Damri di Jalan Gatot Subroto dan tidak berhenti di stasiun kereta api itu. Alhamdulillah waktunya cukup.

Stasiun Medan ini besar, bersih, dan modern. Loketnya bergaya bank. Bukan seperti loket pasar malam. Dilayani oleh petugas berpenampilan seperti awak kabin pesawat maskapai penerbangan. Rapih, ramah, dan penuh senyum. Bagi pengguna Commuter Line Jakarta-Bogor pasti bisa membandingkan gaya mereka dengan gaya petugas loket di stasiun-stasiun Jabodetabek. Serupa langit dan bumi.

Mungkin karena harga tiketnya juga yang membedakan. Saya harus membayar sebesar 80 ribu rupiah untuk sekali pergi dengan jarak tempuh 40 km. Butuh waktu 37 menit untuk sampai di bandara. Tetapi kalau dari bandara ke Kota Medan butuh waktu 44 menit.

Bentuk keretanya seperti kereta rel listrik Jabodetabek. Tetapi posisi dan bentuk kursinya seperti kursi kereta api jarak jauh Jakarta-Surabaya. Di dalam kereta berpendingin ini terdapat rak-rak besi bersusun, tempat menaruh tas penumpang. Letaknya di samping pintu masuk dan bukan di atas kursi penumpang.

Kereta Api di Bandara Kualanamu

 

Sampai di bandara, saya langsung cari tiket ke Jakarta. Untuk jam-jam penerbangan terdekat tiketnya sudah habis. Banyak calo menawarkan tiket kepada saya. Tapi saya tidak mau beli di calo walaupun harganya lebih murah dan jamnya lebih dekat. Saya akhirnya dapat penerbangan untuk jam 11 siang. Sebelum terbang saya sempatkan diri beli bolu gulung khas Medan.

Singkat cerita saya sampai di Bandara Soekarno Hatta. Dari sana menyambung ke Pasar Minggu naik Bus Damri. Turun di Pertigaan Duren Kalibata. Lalu naik Kopaja ke Stasiun Kalibata. Tiba di stasiun sudah ada pengumuman Commuter Line ke Bogor yang akan segera datang. Empat puluh menit kemudian saya sudah tiba di Stasiun Citayam. Saya sudah tak sabar bertemu Ayyasy dan Kinan, tapi hujan deras menghalangi saya untuk segera beranjak dari stasiun.

Setengah jam kemudian, walau hujan masih turun rintik-rintik, saya paksakan diri naik ojek. Dan…

“Abiiiii….!!!,” Kinan berteriak saat melihat saya turun dari motor ojek. “Abi dataaang!”

Kinan berlari menyambut dan langsung memegang tangan saya. Menariknya masuk ke dalam rumah. Mas Ayyash sudah berdiri di depan pintu. Saya gendong dan peluk Kinan. Saya juga memeluk Mas Ayyasy. Ummu Haqi tak menyambut saya karena ia masih di kantor.

Saya bahagia banget bertemu dengan mereka. Pastilah bahagia. Memangnya ada yang tak bahagia bertemu orang yang dicintainya setelah berpisah sekian lama? Padahal belumlah genap tiga minggu. Inilah, bahagia yang sederhana, yang pula dirasakan teman-teman Direktorat Jenderal Pajak yang ditempatkan jauh dari keluarga. Semakin juga merasakan dengan sebenar-benarnya rasa atas nikmat kebersamaan yang terkadang jika tidak ada kata “jauh” di antaranya menjadi biasa-biasa saja, bahkan mengkufurinya.

Kita akan merasakan betapa sehat itu sungguh nikmatnya jika sakit sedang mendera. Kita pun akan merasakan betapa waktu luang itu sungguh berharganya jika masa sibuk terhela di muka. Kita jua akan merasakan betapa kebersamaan itu tak ternilai artinya jika kesendirian mendominasi hari-hari kita.

Lalu kelelahan menempuh perjalanan 20 jam dari Tapaktuan sampai Citayam tak bisa dibandingkan dengan gurat bahagia berjumpa dengan mereka yang dicinta. Sungguh, orang-orang bijak pernah mengatakan bahwa pertemuan dengan yang dicinta adalah salah satu dari empat hal yang bisa membawa ketenangan dalam hati. Ketiga lainnya adalah melihat yang hijau-hijau, melihat air yang mengalir, dan melihat buah-buahan di atas pohonnya. Dua yang pertama saya dapatkan semuanya di Tapaktuan. Alhamdulillah.

Sore itu Kinan tak mau dimandikan kecuali oleh saya. Sewaktu mandi juga dia nyerocos bicara apa saja. Sore itu, bisa memandikan dan mendengar apa saja yang diomongkannya adalah bahagia sederhana saya. Seperti melihat senja yang bergulung-gulung. Senja di Tapaktuan.

 

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 23 November 2013

Malam Minggu Sepi

 

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, djp, Direktorat Keberatan dan Banding, kpp tapaktuan, Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan, Antonio Banderas, The 13th Warrior, arab, Viking, Mongol-Tatar, Khalifah di Baghdad, Ahmad bin Fadlan, Awak Away, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh, Kota Banda Aceh, Kota Langsa, Kota Lhokseumawe, Kota Sabang, Bukit Barisan, Pakpak Barat, Dairi, Masjid Raya Medan, Masjid Al Mashun, Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Stasiun Medan, bandara internasional kualanamu, Kinan fathiya almanfaluthi, Muhammad yahya Ayyasy almanfaluthi, mas ayyasy, ummu haqi, ria dewi ambarwati, Citayam, Kinan, Senja di Tapaktuan, perjalanan menuju tapaktuan, kpp pratama tapaktuan

 

RIHLAH RIZA #12: “HALO NYET…”


RIHLAH RIZA #12:

“HALO NYET…”

 

Napoleon Bonaparte memasuki Moskow, 14 September 1812. Tapi ia hanya menemui kota itu telah kosong melompong dan dibakar. Ia mundur. Kini, yang dihadapi oleh 650.000 prajurit pimpinannya ini bukan pasukan Rusia melainkan cuaca dingin. Lebih dari dua per tiga pasukannya tewas kelaparan dan kedinginan. Sebagiannya ditawan. Hanya 4% prajuritnya yang mampu menyebrangi Sungai Berezina.

**

“Sudah berapa lama di Aceh, Kapten?” tanya saya kepada Kapten Yudho Komandan Kompi lulusan Akademi Militer Magelang asal Nganjuk ini.

“Sudah lama. Delapan tahun. Kalau Pak Riza?”

“Baru satu minggu.”

Perwira pertama ini tertawa. Karena dibandingkan dengan para prajurit anggota Batalyon Infanteri (Yonif) 115 Macan Leuser ini keberadaan satu minggunya saya ini sungguh tidak berarti apa-apa.

Ini pembicaraan kami di sela-sela acara olahraga bersama yang diselenggarakan oleh Markas Yonif 115 ML. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan mendapatkan undangan untuk menghadirinya bersama instansi pemerintah yang lain. Bupati Tapaktuan yang baru dilantik pada tanggal 22 April 2013 pun ikut hadir dalam acara tersebut.

Saya mendapatkan banyak kenalan dengan para prajurit dan pejabat dalam acara itu. Dan dunia memang sempit, saya ketemu dengan orang satu kampung di sini. Ia menjabat sebagai Komandan Rayon Militer Kluet Utara. Ia sudah lama menetap dan mempunyai istri orang Aceh.

Saya juga ketemu dengan prajurit lainnya yang ternyata ia punya kakak yang bekerja di kantor pajak. Saya mengenal kakaknya walau tidak begitu dekat. Dan lebih mengejutkannya lagi ia punya istri orang Bojonggede. Yaa…kompleks rumahnya itu tempat saya sering main sebelum saya dipindahtugaskan ke Tapaktuan.

Saya mengobrol akrab dengan mereka diselingi kudapan kacang dan jagung rebus. Tak lupa teh manis dan kopinya. Sekalian pula menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka tentang pajak. Silaturahmi ini jadinya sekaligus ajang sosialisasi. Karena ternyata banyak juga yang belum memahami kalau penghasilan yang mereka terima berasal dari pajak.

Dalam acara itu ada banyak pilihan olahraga seperti bola basket, voli, tenis lapangan, catur, dan main batu. Permainan terakhir ini sebenarnya permainan domino. Saya bersama Kapten Yudho memilih main bola basket bersama prajurit yang lain. Three on three. Sebentar saja saya sudah ngos-ngosan. Sedangkan nafas para prajurit masih panjang. Saya cuma menghasilkan satu assist. Tak lebih. Langsung time out. Minta diganti.


Bermain basket dengan latar belakang pegunungan Leuser (Foto Koleksi Pribadi)

Setelah makan siang, kami berpamitan dengan tuan rumah yang ramah ini. Kami melewati pos penjagaan bertuliskan motto yang menyindir saya: Lakukan yang Terbaik dan Tetap Semangat. Kalau diterjemahkan dalam bahasa yang sederhana maka dapat diartikan: apa pun kondisinya, di mana pun adanya, memberikan yang terbaik dan selalu semangat itu kudu.


Pos Penjagaan Yonif 115 ML (Foto Koleksi Pribadi)

Kami pulang. Ada lebih dari 25 km jalanan harus kami lalui untuk menuju Tapaktuan. Markas Yonif 115 ML ini terletak di Kecamatan Pasie Raja dan di bawah Komando Resort Militer 012/Teuku Umar, Komando Daerah Iskandar Muda.

Karena jalanan menuju Tapaktuan mengalami longsor dan dalam proses perbaikan maka ada jalan alternatif baru yang dibuat melalui pinggiran pantai yang memanjang mulai dari utara sampai selatan. Jalan alternatif ini melalui pinggiran Pantai Cemara. Saking panjangnya pinggiran pantai ini, maka kalau ada rombongan kuda liar yang dilepas berlari kencang di pantai dari ujung ke ujungnya lalu dibuat filmnya ini bisa terekam sampai bermenit-menit.

Di beberapa bagian Pantai Cemara berjejer warung dengan saung-saungnya. Yang memang sedikit kendala adalah masalah kamar kecil. Terkadang warung tidak menyediakannya. Pemilik warung hanya mendirikan tempat tertutup ala kadarnya di atas rawa.

Di pantai ini pun jarang ada yang berenang. Tidak seperti di Pantai Rindu Alam seperti yang sudah pernah saya terangkan sebelumnya. Jadi Pantai Cemara ini hanya cocok untuk sekadar ngupi-ngupi, kongko-kongko, dan jalan-jalan saja.


Pantai Cemara Tapaktuan (Foto Koleksi Pribadi)


Sudut lain Pantai Cemara Tapaktuan (Foto Koleksi Pribadi)

Di sinilah saya mendapatkan sebuah pemandangan yang memikat. Perpaduan unsur-unsur indah dari sebuah lansekap. Ada tanah lapang, deretan pohon cemara, deretan pegunungan, cahaya matahari yang menyinari bagian perbukitan, langit yang setengah gelap, laut, dan pantai. Ini seperti bukan di Indonesia, tapi di Pegunungan Alpen Swiss yang pernah saya kunjungi beberapa waktu yang lalu dalam mimpi.

 


Salah satu pemandangan di Pantai Cemara Tapaktuan (Foto Koleksi Pribadi).

Coba bandingkan dengan gambar pegunungan Alpen yang satu ini:


Pegunungan Alpen sebelas dua belas dengan yang ada di Tapaktuan.


Pantai Cemara dari ketinggian dan kejauhan. (Foto Koleksi Pribadi)

Bandingkan dengan yang satu ini:


Taman Nasional Abel Tasman, Selandia Baru. Kebetulan yang mengambil gambar adalah orang profesional.

 


Monyet yang kami temui di sepanjang perjalanan pulang dari Pantai Cemara Tapaktuan (Foto Koleksi Pribadi)

Dalam perjalanan pulang pun kami menjumpai mamalia berkaki empat dan berekor panjang. Monyet di sini tidak nakal. Tidak seperti baboon di Taman Nasional Table Mountain Afrika Selatan yang akan berubah ganas kalau sudah mendengar suara plastik kresek yang dibawa para wisatawan. Ini berarti tanda ada makanan. Monyet di Tapaktuan ini cuma pasang muka memelas kepada para pengguna jalan agar kiranya sudi melemparkan kepada mereka penganan atau jajanan. Saya sapa salah satu dari mereka, “Halo Nyet…” Dia tak sudi menjawabnya. Melengos.


Cool…dipanggil melengos bae.(Foto Koleksi Pribadi)

Penolakannya tak membuat saya gusar. Saya pergi meninggalkan mereka. Masih ada yang harus saya kerjakan di mess. Terutama lagi pekerjaan yang sudah lama saya tinggalkan dan lupa cara mengerjakannya: mencuci baju. Nanti setelah itu seperti biasa saya akan membuka pintu depan lebar-lebar, mengambil kursi, menghadapkannya ke jalanan, menaruh tangan di belakang kepala, dan memandang kejauhan, memandang kepada apa yang dikatakan Andrea Hirata tentang langit: sebuah kitab yang terbentang.

Ini cara saya membunuh waktu. Sambil berpikir tentang hal-hal yang lalu dan apa yang harus saya lakukan nanti-nanti. Terutama kapan saya bisa pulang ke Citayam. Seminggu sekali? Dua minggu sekali? Tiga minggu atau sebulan sekali? Ini semata soal rindu yang tak bisa dibunuh. Dengan cara apa pun. Ini soal mimpi-mimpi yang tak pernah absen dalam meramaikan tidur di setiap malam. Dan izinkanlah saya untuk selalu bermimpi. Bermimpi bertemu dengan orang-orang yang saya cintai di gampong. Saya tak sama dengan monyet yang hidup di pantai-pantai itu. Mereka tak punya mimpi. Sedangkan saya punya mimpi. Mimpi yang akan selalu saya tulis.

Seperti apa yang dikatakan Napoleon saat ditawan di atas kapal Inggris HMS Bellerophon, “Apa yang harus kita lakukan di tempat terpencil itu? Well, kita akan menulis memoir kita. Kerja adalah parang dari waktu.”

Begitu jua saya.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 18 November 2013

 

 


 

RIHLAH RIZA #8: MEULABOH DAN 105 TAHUN YANG LALU


RIHLAH RIZA #8: MEULABOH DAN 105 TAHUN YANG LALU

Meulaboh. Di waktu sahur. Akhir Ramadhan 1316 H (11 Februari 1899 M). Suaminya tertembak di dada dan di perutnya. Tembakan prajurit Van Heutsz merobohkan dan menyebabkan suaminya meninggal dunia. Jenazah suami keduanya ini dibawa para pengikutnya untuk dikuburkan di sebuah tempat yang dirahasiakan agar tidak diketahui Penjajah Belanda yang ingin memastikan kalau “pengkhianat” yang bernama Teuku Umar ini benar-benar tewas.

    **

Kami bertiga tiba di Bandara Kualanamu jam 8.15 pagi (27/10) dan harus menunggu tiga jam lebih agar bisa naik pesawat ke Meulaboh. Untuk ke sana kami harus ganti pesawat yang lebih kecil lagi. Dari Jakarta menuju Kualanamu kami memakai pesawat Boeing yang dioperasikan Lion Air, sedangkan ke Meulaboh kami menggunakan maskapai Wings Air dengan pesawat ATR72-500 berbaling-baling dua buatan perusahaan Perancis-Italia. Tentu dengan kapasitas penumpang yang lebih sedikit daripada Boeing. Berkisar 70-an penumpang.

    Penerbangan kami ini merupakan penerbangan connecting. Kami cukup membeli tiket sekali saja. Ada beberapa jadwal penerbangan dari Jakarta mulai dari jam lima sampai jam delapan pagi. Semua penerbangan di jam tersebut transit di Kualanamu menunggu pesawat ATR72-500 yang dijadwalkan berangkat jam 10.45 siang. Saya sarankan jangan terbang dengan pesawat yang berangkat dari Jakarta jam delapan pagi karena dikhawatirkan ditinggal oleh pesawat ke Meulaboh itu jika ada keterlambatan atau delay di Bandara Soekarno Hatta.

(Koleksi Foto Pribadi)

    Ada keterlambatan. Oleh karenanya jam 11 lebih kami baru diminta untuk segera naik pesawat. Kami naik bus yang telah disediakan menuju pesawat yang diparkir jauh dari tempat tunggu kami. Karena pesawat ATR72-500 ini masuknya melalui pintu belakang maka tak perlu ada garbarata. Perlu waktu lima puluh menit penerbangan untuk sampai ke Bandara Cut Nyak Din, Meulaboh. Kalau ditarik garis lurus kami harus menempuh perjalanan sepanjang 295 km.

    Dua teman saya bertujuan akhir Meulaboh. Tetapi Meulaboh bukan tujuan saya. Tapaktuanlah yang menjadi tujuan. Tentu banyak jalan menuju Tapaktuan. Banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan untuk memilih jalan itu.

    Pertama, Jakarta-Banda Aceh melalui udara dilanjut dengan menempuh 439 km perjalanan darat menggunakan travel menuju Tapaktuan selama kurang lebih delapan jam. Jalanan mulus. Harga tiket pesawat dan lamanya perjalanan Jakarta-Banda Aceh tentunya lebih mahal dan lebih lama daripada Jakarta-Kualanamu apalagi kalau transit dulu.

    Kedua, Jakarta-Kualanamu melalui udara dilanjut menuju Meulaboh dengan pesawat dan masih ada 200-an km menuju Tapaktuan dengan perjalanan darat atau sekitar tiga sampai empat jam lebih. Harus ada yang menjemput di Bandara Cut Nyak Din. Jalanan mulus.

    Ketiga, Jakarta-Kualanamu melalui udara dilanjut menuju Tapaktuan dengan pesawat Susi Air berjenis Cessna Grand Caravan C 208 B berpilot dua orang dan berpenumpang dua belas orang. Tarifnya murah karena telah disubsidi pemerintah. Jadwalnya tidak setiap hari dan hanya di jam-jam tertentu. Untuk menyiasati waktu dan daripada menempuh perjalanan darat yang lama maka banyak teman di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan bila berangkat dari Jakarta ia mengambil perjalanan paling malam lalu menginap—tidur di mana saja—di Bandara Kualanamu kemudian lanjut dengan pesawat kecil menuju Bandara Kelas IV Teuku Cut Ali, Pasie Raja, Tapaktuan. Jadwalnya itu yang sering tidak bersahabat. Dari Tapaktuan sekitar jam empat sore sedangkan dari Kualanamu jam tujuh pagi. Tentu ini bikin terlambat (TLB) atau pulang cepat (PC) dalam catatan kehadiran kita.

    Keempat, Jakarta-Kualanamu melalui udara. Kemudian naik bus, kereta api, atau taksi menuju Medan. Lalu dari Medan naik travel atau bis menuju Tapaktuan. Menempuh tujuh hingga delapan jam perjalanan dengan jarak 390-an km. Jarak tempuhnya lebih pendek daripada rute dari Banda Aceh namun jalanan tidak mulus. Dengan perpindahan bandara dari Polonia, Medan ke Kualanamu, Deli Serdang menambah waktu tempuh untuk bisa sampai di Tapaktuan.

    Saran penting dari saya berdasarkan informasi dari teman-teman adalah lebih baik naik travel dari Medan ke Tapaktuan daripada naik bis jika ingin memburu waktu sampai di Tapaktuan pagi-pagi. Travel hanya ada di Medan. Belum ada di Kualanamu. Jam terakhir travel adalah jam 9 malam. Setelah itu tak ada lagi.

    Itulah empat rute menuju Tapaktuan. Sedangkan perjalanan dengan rute Jakarta Meulaboh ini saya tempuh karena ini merupakan perjalanan pertama, bersama teman, bawa banyak barang, dijemput juga oleh teman-teman, dan tidak mengetahui jalur langsung dari Kualanamu ke Tapaktuan. Rute ini tidak akan saya tempuh lagi Insya Allah. Yang masih masuk akal bagi saya adalah rute ketiga dan keempat.

    Ohya, penting juga diketahui, bahwa  ketika pesawat ini bertujuan Meulaboh, maka sesungguhnya pesawat ini mendaratnya di Bandara Cut Nyak Din yang berada di Kabupaten Nagan Raya. Kabupaten ini merupakan pecahan dan bersebelahan dengan Kabupaten Aceh Barat yang beribu kota Meulaboh. Masih 45 km dari Bandara Cut Nyak Din menuju kota Meulaboh.

Pesawat ATR72-500 saat tiba di Bandar Udara Cut Nyak Din, Kabupaten Nagan Raya. (Foto Pribadi)

    Saya tiba di Bandara Cut Nyak Din jam 12.15. Saya berpisah dengan dua orang teman saya yang ditempatkan di KPP Pratama Meulaboh. Lalu saya melanjutkan perjalanan dengan teman-teman dari KPP Pratama Tapaktuan yang menjemput saya satu jam kemudian. Mereka adalah Mas Yan Permana, Mas Hasbul—teman lama saya di KPP Penanaman Modal Asing Empat dulu, Mas Suardjono dan Mas Oji Saeroji.

    Mulailah perjalanan panjang kami menuju Tapaktuan. Melewati perkebunan kelapa sawit, jalanan mulus yang sepi, tak bertemu dengan bis gede-gede seperti di Pantura Jawa, jarang ketemu truk, tak ada angkot, yang ada pesaing kami: motor. Perjalanan kami diselingi dengan berhenti dua kali di masjid yang berbeda, lalu makan di rumah makan Jokja (Pakai k bukan g), dan berhenti sebentar di SPBU. Saya mengira perjalanan darat ini berlangsung singkat tapi ternyata lama. Saya sampai terkantuk-kantuk karena tempat tujuan tak kunjung tiba.

    Kami banyak disuguhi pemandangan elok. Bukit-bukit lebat seperti di jalanan Garut-Tasikmalaya. Bahkan suatu saat kami melewati barisan bukit yang diatasnya ditutupi kabut dan dari kumpulan kabut itu muncul lengkung pelangi yang luar biasa indahnya. Kebetulan habis hujan saat itu. Subhanallah. Indah banget. Apalagi kalau sudah sampai di Kecamatan Sawang, Tapaktuan kita akan melihat pemandangan pantai yang eksotis. Bagian tentang keeksotisan inilah yang saya tidak sabar untuk menuliskannya segera. Tapi nanti satu per satu saya akan menyuguhkannya di bagian lain.

Plang KPP Pratama Tapaktuan (Koleksi Pribadi)

Akhirnya pada pukul 18.15 saya tiba di Tapaktuan. Mobil yang kami kendarai mampir sebentar melihat kantor kami. Kata teman agar saya tidak shock dulu sebelum benar-benar bekerja esok harinya. Mess tempat saya akan tinggal berjarak tidak jauh dari kantor ini. Kurang lebih 75 meter.

So, total jenderal 14,5 jam perjalanan Citayam menuju Tapaktuan. Dengan kecanggihan teknologi perjalanan 2400-an km itu hanya ditempuh beberapa jam saja. Saya tak bisa membayangkan berapa hari perjalanan dengan menaiki kuda. Ngapain lagi bayangin naik kuda. Dengan kecanggihan teknologi itulah setidaknya mengurangi lelah yang diderita jika perjalanan itu harus kudu naik kuda atau perjalanan darat berhari-hari.

Tinggal ke depannya perlu dipikirkan lagi moda transportasi yang mengubah benda padat menjadi partikel tak terlihat dan memindahkannya dalam sekejap ke tempat yang dituju lalu menjadikan partikel itu seperti semula. Fiksi dan Hollywood banget. Tapi semua bermula dari mimpi seperti mimpi Leonardo Da Vinci yang merancang bangun alat yang bisa menerbangkan manusia. Atau seperti pintu doraemonkah?

Alat yang mampu menuntaskan rindu kepada orang dan kampung halaman, tanpa lelah, dan bisa setiap saat. Yang akan menuntaskan rindu seperti  rindu Cut Nyak Din akan negeri tempat ia dilahirkan. Ia terbuang di masa tuanya. Ke sebuah tempat yang jaraknya ribuan kilometer dari makam suaminya. Sebab suatu alasan: keberadaannya di Aceh membuat semangat perlawanan rakyat Aceh tetap berkobar. Tentu jangankan pesawat, bus pun tak ada pada masa itu.

Gunung Puyuh, Sumedang. Di 105 tahun yang lalu dari tanggal ini, tepatnya 6 November 1908 ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Keterasingan yang dibawa sampai mati. Tapi jasanya tak pernah terasing di jiwa anak bangsa atas semangat dan perlawanannya yang tak mengenal lelah dan sakit. Dan saya hampir dekat dengan Meulaboh. Suatu saat, jika ada waktu dan kesempatan saya akan mengunjungi makam suaminya dan berdoa di sana: agar Allah menggabungkannya ke dalam golongan orang-orang yang syahid.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 5:51 6 November 2013

Tags: Jakarta-Meulaboh, Pesawat dari Jakarta ke meulaboh, Jakarta-tapaktuan, pesawat dari Jakarta ke tapaktuan, citayam, tapaktuan, kpp pratama tapaktuan, nagan raya, aceh selatan, aceh barat, bandara teuku cut ali, bandara cut nyak din, garut-tasikmalaya, garut, tasikmalaya, pesawat ke tapaktuan, pesawat ke meulaboh, jadwal ke meulaboh, jadwal ke tapaktuan, kpp pma empat, kpp penanaman modal asing empat, rumah makan jokja, pesawat atr72-500, kualanamu, banda aceh, medan, yan permana, oji saeroji, hasbul, suardjono, polonia, deli serdang, pasie raja, kpp pratama meulaboh, teuku umar, sumedang, van heutsz, gunung puyuh.

RIHLAH RIZA #7: MADU BUAT RINDU, GANDIWA BUAT ARJUNA


RIHLAH RIZA #7:

MADU BUAT RINDU, GANDIWA BUAT ARJUNA

 

Sehebat-hebatnya seorang Hawkeye di The Avengers ataupun seorang Legolas di The Lord of the Ring, mereka tetap kalah dengan sosok bernama Arjuna. Dua kantung panah yang dimilikinya tak pernah habis dengan anak panah. Tetapi mereka bertiga tak berarti apa-apa tanpa busur. Padang luas, bengis nan amis, dan kejam—Kurusetra—menjadi saksi saat langit-langit di atasnya menghitam karena hujan panah putra ketiga Kunti ini.

**

Dini hari jam setengah tiga pagi saya terbangun. Saya harus bersiap-siap mengejar pesawat yang akan membawa saya ke Kualanamu. Dari bandara yang baru dibuat itu saya akan naik pesawat menuju Meulaboh. Tepat satu jam kemudian kami sudah berangkat. Kinan dan Ayyasy melanjutkan tidurnya di samping Ummu Haqi. Di sebelah saya ada adiknya yang membawa mobil ini.

Untuk pergi ke bandara kali ini saya tidak lewat pintu tol Citeureup Jagorawi karena saya pikir perjalanan akan lancar-lancar saja. Nanti kami akan masuk tol dalam kota melalui pintu tol Pancoran. Saya perkirakan sampai di bandara sekitar jam setengah lima pagi.

Ternyata ada sesuatu yang tidak saya duga. Hari itu Jakarta akan mengadakan lomba Jakarta Marathon International 2013 yang diikuti oleh peserta dari dalam dan luar negeri seperti Ethiopia dan Kenya—dua negara yang konsisten mencetak pelari-pelari jarak jauh dunia. Saya tahu akan ada kegiatan besar itu dan saya juga tahu kalau ada penutupan ruas jalan di sekitar rute lari marathon itu. Tetapi saya tak menyangka kalau jalan Pancoran menuju Mampang ditutup dan diblokir polisi lebih dini.

Akhirnya saya putuskan untuk masuk lewat pintu tol di depan Menara Saidah. Kami pun dari Pancoran menuju Cawang Bawah untuk memutar. Ternyata pintu tolnya belum buka. Saya sedikit cemas karena teman-teman yang sudah ada di Bandara Soekarno Hatta sudah mulai check-in. Kami balik lagi ke Pancoran dan memutuskan untuk kembali ke Cawang Bawah menuju Cawang UKI. Dari sana masuk tol dalam kota melalui pintu tol terdekat.

Bunyi tang tung tang tung tanda notifikasi Whatsapp semakin terdengar. Teman-teman sudah memutuskan untuk meninggalkan saya. Tak masalah. Karena dengan sedikit ngebut saya akan sampai jam lima pagi. Masih satu jam lagi dari jadwal penerbangan. Tapi seharusnya saya memikirkan ketersediaan waktu lebih untuk penghitungan bagasi saya. Sepanjang perjalanan menuju bandara itu saya isi dengan istighfar dan shalawat. Insya Allah ini solusi dan ikhtiar selamat.

Sampai di terminal 1B yang penuh itu saya turun, menurunkan koper besar dengan berat lebih dari 25 kg, dan menyalami satu per satu anggota keluarga. Lalu langsung masuk antrian tanpa menengok ke belakang. Petugas imigrasi mengecek tiket dan tas para calon penumpang. Setelah lolos pemeriksaan saya segera menuju tempat check-in maskapai penerbangan. Saya tidak terlambat karena masih menjumpai dua teman saya di sana. Pyuhhh…

Butuh waktu empat puluh menit sejak kedatangan saya untuk check-in dan membayar kelebihan bagasi kami. Ini berarti teman-teman sudah mengantri satu jam. Lebih lama daripada saya. Ada panggilan buat para calon penumpang untuk segera naik pesawat ke Kualanamu. Kami bergegas ke atas setelah sebelumnya membayar airport tax. Kami melalui pemeriksaan imigrasi kembali.

Di ruang tunggu sudah tidak ada orang lagi. Semua telah memasuki pesawat, tinggal kami bertiga yang belum masuk. Bahkan ketika kami akan masuk pun ada petugas imigrasi yang meminta tas teman saya karena di dalamnya masih berisi dua logam panjang kunci sepedanya. Itu seharusnya berada dalam tas bagasi dan tidak boleh masuk kabin pesawat. Untuk mudahnya tas itu dititipkan di awak kabin.

Ketika sudah menghempaskan tubuh di kursi pesawat itulah kelegaan muncul. Soalnya tak lama kemudian pesawat benar-benar menggerakkan rodanya. Ini jadi pengalaman berharga buat saya. Pesawat jarang delay kalau pagi. Antrian check-in juga panjang. Lamanya check-in dengan barang bawaan yang berat dan masuk bagasi pun perlu diperhitungkan. Pokoknya kalau berangkat dari Citayam menuju bandara harus tiga sampai empat jam sebelum batas waktu take-off pesawat. Bahkan lebih baik jika dari batas mulai check-in. Jangan lupa, lewat tol Jagorawi saja.

**

Saat pesawat mulai terbang, saya pejamkan mata. Sambil memikirkan momen yang seharusnya ada tapi terlewatkan. Saya tadi terburu-buru tidak sempat mencium dan memeluk Kinan dan Ayyasy. Sesuatu yang tidak biasa. Ini membuat ruang hampa di hati. Rasa yang hampir sama saat meninggalkan pertama kali bapak dan ibu waktu kelas satu SMA karena saya harus indekos di kota lain.

Berpisah dengan sesuatu yang kita cintai adalah hal terberat dalam hidup. Dan saya merasakannya sekarang. Merasakan apa yang senior-senior saya alami dulu. Mungkin ini pula yang menyebabkan banyak teman melepaskan statusnya sebagai pegawai pajak karena penempatan di tempat yang jauh dan berpisah dengan keluarga. Sebagian besar teman-teman saya tetap memilih bertahan. Yang terakhirlah yang saya pilih. Karena yakin ini yang terbaik yang Allah berikan kepada saya sebagai jawaban atas doa: Robbi ‘anzilni munzalan mubarakan wa anta khoirun munzilin.
Ya Robbi, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik baik yang memberi tempat.

Kalau sudah berpikir demikian, penempatan di Tapaktuan sejatinya adalah sebuah hadiah yang diberikan Allah kepada saya. Ini yang terbaik buat saya, keluarga saya, ruhani saya, perjalanan hidup saya, instansi saya, dan akhirat saya. Insya Allah.

Serupa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail, saya tinggalkan Ummu Haqi, Kinan, Ayyasy, dan Mas Haqi dalam perlindungan Allah. Saya pasrahkan semuanya kepada Allah. Dialah yang akan menjaga mereka. Dialah pemilik sejati mereka. Biarlah pemiliknya yang menjaga mereka. Cukup doa yang tak kurang-kurang buat mereka.

**

Bandara Kualanamu. Saya masih harus menunggu beberapa jam lagi di sana. Ada notifikasi status facebook yang masuk. Dari Ummu Haqi.

Dan Allah selalu tahu bagaimana caranya menenangkan hati kita dan anak-anak. waktu kedatangan yang berkejaran dengan jadwal keberangkatan, nyaris tak memberi ruang bagi kita untuk mengumbar kesedihan. Cukuplah cium tangan mengiringi ketergesaan. Alhamdulillah, semoga Allah mudahkan semua urusan. Fii ‘amanillah abi….”

Ini menguatkan. Apalagi ketika sudah sampai di tujuan, foto live ini terkirim malam-malam.

Kinan dan Ayyasy

Fasad sudah lelah! Hancur sudah letih! Luluh lantak sudah semua payah yang mendera sekujur tubuh. Ini madu buat rindu saya. Serupa busur gandiwa buat Arjuna. Semoga kita bisa berkumpul lagi Nak.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 3 November 2013

Hujan, sendiri, dan pantai yang berkabut.

 

 

Tags: Kunti, hawkeye, legolas, arjuna, the avenger, the lord of the ring, kualanamu, meulaboh, tapaktuan, kpp pratama tapaktuan, kantor pelayan pajak pratama tapaktuan, kabupaten aceh barat daya, kabupaten aceh selatan, blangpidie, kinan, ayyasy, kinan fathiya almanfaluthi, yahya ayyasy almanfaluthi, ria dewi ambarwati, ummu haqi, haqi, soekarno hatta, tol citeureup, tol dalam kota, jagorawi, citayam

CHAN CHUN HWA


CHAN CHUN HWA

Di Youtube banyak sekali video tentang berbondong-bondongnya orang barat masuk Islam. Selalu saja prosesi pengucapan kalimat Syahadat itu sarat emosional dan memancing keharuan. Tak terasa mata sudah membanjir menjadi telaga. Kalau dalam Islam, ketika ada orang yang kembali kepada pangkuan Islam selalu disambut dengan gembira, takbir, dan air mata. Anda bisa mencari sendiri di sana.

Malam Ahad itu seharusnya ada ustadz yang akan mengisi pengajian pekanan kami di Masjid Al-Ikhwan. Tetapi karena mendung dan cuaca yang tidak mendukung pada akhirnya shalat maghrib itu dipimpin tanpa ustadz tersebut. Dan sebenarnya beliau berjanji akan datang karena kami—pengurus DKM—meminta dengan sangat kehadiran beliau karena akan ada orang yang masuk Islam di Masjid kami.

Ya sudah saya yang akan mengambil alih prosesi pengucapan dua kalimat syahadat itu. Tak bisa ditunda lagi. Karena hidayah bisa datang kapan saja dan ada kematian yang juga bisa datang kapan saja menghalangi hidayah itu sampai kepada orang itu.

Kali ini tetangga kami, seorang perempuan Tionghoa bernama Chan Chun Hwa. Namanya mengingatkan kepada tokoh-tokoh dunia persilatan di cerita silat Asmaraman S Kho Ping Hoo. Anak-anaknya sudah masuk ke dalam Islam. Menantunya juga. Tinggal dia saja yang belum. Yang memberatkan untuk segera masuk Islam memang teman-teman gerejanya yang intensif mendekati beliau. Tapi apa mau di kata kalau Allah sudah berkehendak ya susah. Biarpun jutaan orang menghalangi seseorang dengan membelanjakan seluruh hartanya tak akan bisa menghalangi turunnya hidayah Allah kepadanya. Tak banyak cerita dan motif tentang keinginannya masuk Islam. Itu saja yang saya ketahui.

Saya persilakan ibu-ibu mendampingi Ibu Chan Chun Hwa ke hadapan saya. Bapak-bapak duduk di bagian kiri ruangan masjid. Setelah membuka acara dengan sedikit kultum, saya bertanya kepada Ibu Chan Chun Hwa,

“Apakah Ibu benar-benar mau masuk ke dalam Islam?”

“Betul,”

“Apakah tidak ada siapapun atau apapun yang memaksa Ibu masuk ke dalam Islam? Karena dalam Islam tidak ada paksaan beragama. Laa ikrooha fiddiin.”

“Tidak ada,”

“Alhamdulillah, kalau demikian mari Ibu ikuti kata-kata saya. Ibu sebelumnya pernah belajar mengucapkan dua kalimat syahadat ini?”

“Pernah,”

“Baik mari ikuti ucapan saya ya Bu…”

Di luar hujan sangatlah deras. Rahmat Allah sedang turun ke bumi Citayam. Ia menjadi saksi atas masuk Islamnya seorang yang bernama Chan Chun Hwa. Dua kalimat syahadat telah diucapkan. Dalam bahasa Arab dan Bahasa Indonesia.

Ia telah mempersaksikan bahwa tidak ada Tuhan, tidak ada ilah selain Allah yang patut disembah. Dan ia pun mempersaksikan bahwa Muhammad adalah seorang Rasul Allah, utusan Allah. Utusan yang terakhir dan tidak ada nabi dan rasul setelahnya.

Tahmid bergema di masjid Al-Ikhwan. Ibu-ibu memeluk Ibu Chan Chun Hwa. Ibu-ibu telah bersepakat untuk memberikan nama baru buatnya: Ibu Sri Sulastri Khairunnisa.

“Ibu tahu arti Khairunnisa?” tanya saya kepadanya.

“Tidak tahu,” jawabnya.

“Khairunnisa itu artinya perempuan yang baik. Nama adalah doa. Insya Allah Ibu akan menjadi perempuan baik-baik dengan hidayah Allah sampai akhir nanti. Amin.”

“Bapak-bapak, Ibu-ibu yang Insya Allah dimuliakan Allah swt, alhamdulillah petang ini kita telah mendapatkan saudara baru yang kembali ke dalam Islam, karena sesungguhnya manusia itu ketika dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikan mereka yahudi, nasrani, dan majusi. Syahadat itu adalah miftahul jannah, kuncinya surga, tetapi tentu tidak sekadar berhenti sampai dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Ada konsekuensi-konsekuensi yang harus ditanggung ketika menjadi seorang muslim. Yaitu melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah dan rasulNya dan meninggalkan larangan-laranganNya. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban ibu-ibu di sini untuk memberikan pelajaran tentang Islam kepada Ibu Chan Chun Hwa ini, ajak beliau mengikuti taklim, dan kita semua yang Bapak-bapak juga mempunyai kewajiban memberikan nasihat. Sebagai perwujudan menegakkan amar makruf nahi munkar. Baik kita akhiri acara ini dengan doa bersama.”

Ada doa-doa yang terlantun pada saat itu. Apalagi pada saat hujan deras, saat Allah mengijabah doa-doa hambaNya. Maka kami meminta kepada Allah agar hidayah Islam ini tetap ada pada kami sampai kami menghembuskan nafas yang terakhir.

Rabbana la tuzigh qulubana ba’da id hadaitana wa hab lana min ladunka rahmah innaka antal wahhab

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). Ali Imran (3) ayat 8.

Hujan tak mau menyelesaikan tangisnya yang sumbang walau acara itu sudah selesai. Memang rahmat Allah tak berkesudahan. Tak henti-hentinya datang kepada semua makhluk. Apalagi kepada saya. Tetapi manusia memang begitu. Dikasih banyak, bejibun, oleh Allah, tapi untuk bersyukur saja susahnya minta ampun. Hidayah Islam adalah nikmat Allah yang teramat besar, sehingga para ulama—kita pun demikian—dalam setiap memulai ceramahnya selalu mengingatkan tentang perlunya kita bersyukur atas nikmat Islam ini. Tak semua orang bisa mendapatkannya. Karena masih banyak milyaran orang di muka bumi ini yang belum mendapatkan hidayah Allah ini.

Saya bersyukur mendapatkan hidayah ini sejak lahir, tetapi terkadang yang mendapatkan hidayah ini sejak lahir malah ketaatannya kalah jauh daripada orang yang mendapatkan hidayah baru-baru saja. Ini semata untuk mengejar ketertinggalan—perkataan yang biasa sering diucapkan oleh para muallaf itu. Tetapi walaupun sekadar mengejar ketertinggalan jangan-jangan amal-amal mereka malah lebih utama, dahsyat, dan diterima Allah daripada yang sudah lama berislam tetapi miskin prioritas amal, kering keikhlasan, dan banyak yag ditolak Allah karena riya’.

Astaghfirullah…karenanya doa itu selayaknya tidak tertinggal dari mulut-mulut kita ketika sehabis shalat: ya Allah berilah petunjuk kepada kami sampai nyawa kami dicabut. Amin.

***

Riza Almanfaluthi

di lantai: glosoran

09:39 15 September 2013

Gambar diambil dari Islamedia.

Tulisan ini diunggah pertama kali oleh Islamedia. http://www.islamedia.web.id/2013/09/chan-chun-hwa.html

NA ADONG HEPENG


NA ADONG HEPENG

 

Mau cerita saja kejadian hari kamis di pekan lalu. Pagi itu di depan pasar Citayam ban meletus. Doorrr!!! Saya kira ban motor orang lain. Ternyata ban belakang motor saya. Terasa ada yang berbeza. Terasa bergoyang.

Kejadiannya jam 05.37 pagi. Sedangkan jadwal Kereta Rel Listrik (KRL) pukul 05.45. Ya sudah saya dorong motor ke tempat penitipan motor. Untung tak jauh cuma 100 meter-an. Yang terpenting adalah menitipkan motor dulu. Naik KRL dulu. Ke kantor dulu. Absen dulu. Alhamdulillah tak telat. Tak jadi dipotong. Motor mah urusan belakangan.

Dua hari sebelumnya, seorang teman bercerita kalau ada Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ban motornya bocor. Lalu ia meninggalkan motornya sampai sore sama tukang tambal ban. Dianya kemana? Ke kantor. Kok meninggalkan motor dinas di abang tukang tambal ban? Semuanya demi absen.

Eh, ini kejadian pada saya. Tapi saya meninggalkannya di tempat penitipan motor. Pagi masih dimudahkan. Tapi sorenya harus ekstra kerja keras. Niatnya ngelembur karena banyak pekerjaan di kantor. Tapi tak jadi karena harus urus motor dulu. Takutnya nanti tak ada tukang tambal ban yang buka malam-malam.

Oleh karena itu jam lima sore langsung cabut. Sampai di Stasiun Citayam jam 18.15. Sholat dulu, lalu ke tempat parkiran. Ditawarkan pompa tangan untuk isi angin. Posssss… 1000 kali pompaan juga taka akan pernah bisa. Ban luar sobek karena sudah tipis. Berarti ada robekan besar di ban dalam.

Segera saya menuju ke tukang tambal ban. Ban luar dibuka. Betul juga ban dalamnya pecah sepanjang 3 cm. Saya pikir percuma kalau ditambal dengan ban luarnya yang masih sobek. Kudu beli ban luarnya juga. Saya tanya pada sang tukang berapa harga banya. “Seratus empat puluh limar ribu rupiah,” katanya.

Ngok… Duit di dompet cuma Rp 65 ribu. ATM pun jauh. Malas ambil duitnya. Jadi saya bilang ke Si Lae-nya: “Lae, simpan SIM saya ditambah Uang saya,mau? Besok saya bayar lunas.” Si Lae-nya diam saja. Geleng kepala. “Oh tak bisaaa,” katanya.

“Ya sudah ditambah KTP saya, bagaimana?”

Tetap saja dia tak mau. SIM ditambah KTP ditambah Rp 65 ribu, tetap tidak mau juga?

“STNK saja,” kata dia.

Ya sudah saya girang mendengarnya. Cek dompet. Pooosssss….Tak ada. Ngik.

“Yaaah gak ada Lae. Ketinggalan di rumah. Bagaimana kalau SIM, KTP, duit 65 Ribu ditambah hp saya?” Harga hp seken saya itu 10 kali lipat harga ban itu. Terlalu tinggi ya? Ya sudah 5 kali saja deh.

Ogah. Dia diam bae. Idealismenya tak bisa dibeli. Tik…tik…tik…gerimis jatuh. Saya memutuskan untuk menambal ban dalamnya saja. Mendengar putusan itu Si Lae-nya sudah merasa segan saja bawaannya.

“Tak bisa ditambal nih,” katanya. Saya ngotot, “sudah tambal saja, masih bisa kok.” Pada akhirnya dia menambal juga. Soor…soor…soor…suara hujan. Deras banget. Petir sambar-menyambar. Depan toko sudah tergenang air setinggi lutut bebek. “Lae, nanti yang bolongnya dilapis ban dalam bekas yah, ” kataku padanya.

Saat dia menambal ban, saya berpikir sampai tidak motor ini ke rumah. Minimal ke ATM dulu dan setelahnya sekalian ke bengkel beli ban luar. Si Lae menunggu tambalan matang menonton tv siaran langsung Inter Milan lawan Liga Selection. Saya berdiri menatap rinai hujan dan merenungi nasib. Merenungi kenapa Si Lae ini masih tak percaya sama saya. Hihihi tampang jenggot tak bisa jadi garansi.

Anehnya dingin-dingin begitu saya beli teh botol dingin. Haus. Walau ada air putih di tas. Sepuluh menit kemudian selesai penambalan.

“Berapa Lae?”

” 8000,” katanya.

Saya tak bisa pulang langsung karena hujan masih deras. Tulalit tulalit weeeks hp samsulku mati kehabisan daya. Lengkap sudah. Tersandera. Unconnecting people. Setengah jam lamanya saya menunggu hujan reda. Ternyata tak betah juga. Langsung saya ambil keputusan untuk menerobos rerimbunan hujan ini. Yang penting selamatkan dulu barang-barang elektronik di bawah jok. Saya tak bawa jas hujan. Tak pernah menyiapkan soalnya. Karena jarak rumah dengan stasiun dua kilo saja.

Setelah tas ransel kugendong dipunggung. Grung…pelan-pelan saya mengendarai motor. Duduknya juga tak bisa di tengah jok. Di ujung jok saja agar bebannya tak sampai ke ban belakang.

Tak pakai jas hujan. Tak pakai jaket. Tak pakai helm (jangan ditiru). Tak pakai topi. Pelan-pelan lagi. Telak banget hujan leluasa menyetubuhi saya. Maksud saya, hujan telak menguyupiku. Setelah 600 meter lewat saya mampir ke ATM. Berrrr… alat pendingin ATM bertiup menambah dingin yang saya rasakan. Ambil hepeng. “Lae, nih aku adong hepeng,” batinku.

Saya segera naik motor lagi dan menemukan bengkel. Ya sudah saya sekalian mampir. Yang terpenting menemukan ban luar dengan merek dan kualitas apapun. Harga ban denganmerek random yang tak jelas itu Rp150 ribu. Bisa kurang goceng kalau pasang sendiri. Ngok, memangnya saya punya alatnya apa? Jadi tetap tuh itu barang saya beli.

Lebih dari 15 menit Si Mas itu memasang ban. Tapi kayaknya 20 menit lebih deh. Di tengah pemasangan ban itu hujan mereda. Ehh pas selesai, baru menempelkan
tangan di stang motor, hujan kembali datang. Tapi tak apa, aku tetap harus menerobos hujan. Yang penting saya segera bisa sampai rumah.

Sekarang, dengan ban berperforma maksimal, saya bisa geber kecepatan. Herannya setiap saya tambah kecepatan, hujan pun semakin deras. Saya pun berkejaran dengan hujan. Semuanya basah. Sepatu basah. Baju basah. Kepala basah. Tas basah. Kuyup semua.

Sayang enggak ada rombongan penari di belakang saya. Dua puluh orangan begitu. Dan saya juga tak bawa tambur besar. Kalau ada kan saya bisa nyanyi India. Dung dung tak tak dung dung tak tak. Tum …namaste. Nyanyi apa yaaaah? Kasih tau enggak yaaa….? Pokoknya suasana mendukung banget buat setting film India. Tiang listrik dan pohon banyak.

Sedang membayangkan itu, motor sudah sampai di rumah. Tiiin…tiiin…klakson motor berbunyi. Pintu rumah dibuka. Langsung saya memasukkan motor ke dalam rumah. Apa yang terjadi setelah ini kawan? Kinan datang menyambutku. “Ujan-ujan ya Bi?” tanyanya. Ini dia foto Kinan di suatu hari:

Langsung lenyap capek saat melihatnya. Bahagia. Walau tampang saya tampang tak bisa dipercaya tapi wajah saya tetap disambut dengan gembira olehnya.

Jam setengah sembilan lebih saya sampai rumah. Ini berarti 3,5 jam dari kantor. Dan selesailah sudah timeline twitter yang saya buatkan narasinya ini. Cuma mau cerita saja.

Khattam.

 

Riza Almanfaluthi

dedauan di ranting cemara

ngetwit tanggal 25 Mei 2012

08.14 pagi.

 

Tags: citayam, lae, batak, kinan, shah rukh khan