Sabtu sore itu (14 Maret 2026), Dhino mengajak saya menengok rusun. “Bapak kayaknya perlu lihat-lihat rusun dulu deh,” katanya.
Terus terang saya masih merasa nyaman di ruangan kecil di lantai 2 KPP Pratama Jayapura ini. Namun, ajakan Dhino tak bisa saya tampik. Kalau sekadar menengok rusun sebenarnya cukup bawa badan saya, tetapi enggak tahu kenapa saya langsung mengemas koper kecil saya dan mengangkutnya ke dalam mobil.
Saya pikir kami harus mengemudi lama menuju rusun. Ternyata jarak rusun dari kantor tidaklah jauh. Kurang lebih empat ratus meter jaraknya.
Rusun ini bercat putih dan biru. Terlihat sangat mencolok dari kejauhan. Di sebelah kanan kompleks terdapat hamparan tanah kosong, sedangkan di sebelah kiri berdiri Kantor BPN Jayapura. Seluruh area kompleks dikelilingi pagar tembok setinggi sekitar 2,5 meter yang pada bagian atasnya terpasang kawat berduri.
Akses masuk melalui sebuah pintu gerbang besi bercat hitam yang akan ditutup ketika malam sudah larut. Di dekat pintu gerbang tersebut juga terdapat sebuah bangunan pos pengamanan yang berfungsi sebagai titik pengawasan keluar masuk penghuni dan tamu. Lingkungan kompleks juga bersih, tertata, dan tenang. Sekilas saya merasakan keasrian kompleks rusun ini.
Rusun yang diresmikan pada 1 Februari 2024 oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ini terdiri dari tiga lantai. Unit rusun tujuan kami berada di lantai satu dengan nomor 1002. Saat memasuki unit seluas 25 meter persegi itu, saya langsung memindai setiap sudut ruangan. Unit ini terdiri dari enam bagian: ruang tamu, satu kamar utama, satu kamar tambahan, satu kamar mandi, dapur, dan ruang cuci.
Saya pun langsung terpukau dengan isi unit ini. Di ruang tamu sudah ada satu set meja makan, meja tamu beserta kursi, kulkas, dan dispenser. Di kamar utama terdapat satu ranjang besar dan lemari pakaian. Sementara itu, di kamar tambahan tersedia satu lemari dan satu ranjang susun. Setiap ruangan dilengkapi pula dengan pendingin ruangan.
Masing-masing kamar tidak dibatasi tembok kaku dan dingin, ada jendela bertirai biru yang menghadap halaman belakang kompleks rusun. Di sana ada lapangan bola voli dan perosotan anak. Saat jendela itu dibuka, hawa sore masuk. Sekitar dua ratus meter dari kompleks berdiri sebuah bukit yang menghalangi angin laut masuk ke kawasan rusun ini. Saya segera menutup jendela. Sejak awal saya sudah diingatkan bahwa Jayapura masih termasuk wilayah endemis malaria.
Saat melihat kelengkapan rusun satu per satu, saya mulai merasa bahwa tempat ini benar-benar telah disiapkan untuk saya tinggali. Tidak lagi sekadar tempat singgah sementara. Sampai di titik ini saya merasa bersyukur sekali. Benarlah apa yang dikatakan Bu Hanna saat menelepon saya sehari setelah pelantikan, ketika saya masih berada di Jakarta. “Pak Riza cukup bawa koper saja ke sini,” katanya.
Kalau saya membaca pemberitaan soal peresmian Rumah Susun Negara (Rusunara) Kementerian Keuangan ini, Ibu Sri Mulyani Indrawati bilang, ini wujud negara hadir untuk jajarannya. Saya berdiri di ruang tamu rusun ini dan saya merasa apa yang disampaikan Ibu Sri Mulyani terasa sangat nyata.
Lengkap sekali jajaran Kementerian Keuangan yang menghuni Rusunara ini. Mulai dari pegawai Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, hingga Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. Ada yang membawa keluarga dan ada pula yang sendirian.
Saat mendeskripsikan kompleks Rusunara ini, entah kenapa saya teringat dengan pendeskripsian Jung Chang saat menghuni kompleks rumah bapaknya dalam buku yang berjudul Angsa-Angsa Liar. Saya punya bukunya dan sudah membaca buku itu sampai selesai.
Saya mengenal Jung Chang karena dia bersama suaminya, Jon Holliday, menulis buku berjudul Mao: Kisah-Kisah yang Tak Diketahui (2005). Buku milik Perpustakaan Direktorat Jenderal Pajak yang juga saya baca sampai habis.
Saya mulai mengosongkan isi koper dengan pakaian cukup satu minggu saja itu. Untuk kedatangan kali ini memang saya tidak membawa banyak barang. “Nanti setelah lebaran baru bawa koper besar dan pakaian yang banyak,” pesan istri saat sebelum berangkat ke Jayapura.
Saya juga tidak membawa buku. Saya pikir nanti seiring berjalannya waktu saya akan memenuhi unit rusun 1002 ini dengan buku. Seperti waktu saya berangkat ke Tapaktuan dulu. Enggak terasa buku begitu banyak yang sampai di sana.
Kepada Dhino, saya langsung memutuskan, mulai malam ini saya akan tidur di sini. Saya tidak kembali ke kamar kecil di kantor itu.
Seperti Tapaktuan dahulu, semuanya memang selalu dimulai dari sebuah kamar dan satu koper.
***
Riza Almanfaluthi
22 April 2026
Ini saya tulis tak lebih sebagai catatan perjalanan. Catatan lainnya bisa dibaca lebih banyak lagi dalam tautan berikut: https://rizaalmanfaluthi.com/category/papua/
Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi