Bocah Citayam di Bandara Berlin Bradenburg


Semalam saya baru sadar, sekarang sayalah yang harus memberi makan dua ekor ikan cupang ini.

Biasanya Muhammad Yahya Ayyasy Almanfaluthi yang mengerjakannya, selain pekerjaan mengunci pintu gerbang dan rumah di ujung malam.

Baca lebih Lanjut

Cerita Lari Mandiri Jogja Marathon 2018 (3): Menghilang di Rerimbunan Kembang Kenikir


Mandi di sendangmu (Foto milik sendiri).

Asyik. Aku tiba juga di Water Station (WS) kilometer (KM)-26. Di sana ada Fruit Station. Yang jelas ada pisang. Aku mengambil pisau yang ada di meja lalu memotong potongan pisang yang sudah kecil kemudian menyantapnya. Aku menikmati potongan itu tanpa ada keinginan untuk muntah.

Air yang keluar dari Water sprinkler memancur deras. Aku sekalian mandi. Segar rasanya disiram butiran air. Ini Svarloka. Tempat sungai mengalir dan buah-buahan tumbuh. Sudah cukup. Jalan saja.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Mandiri Jogja Marathon 2018 (2): Melangit Menuju Svarloka


Tampak Belakang

Prambanan masih gulita saat aku dan Mas Hafidz berada tak jauh di belakang garis start yang sudah dipenuhi para pelari. Sebagian besar dari mereka memakai kaos komunitas larinya.

Beberapa dari mereka ada yang memakai balon yang diikatkan di kaosnya. Mereka para pacer yang akan memandu kecepatan berlari sampai tiba di garis finis dengan beberapa kategori waktu.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Mandiri Jogja Marathon 2018 (1): Aku Membutuhkanmu



Foto di depan monitor BIB. (Foto milik Mas Afif)

Preambule

Ria Dewi Ambarwati, nama yang perlu kututurkan pertama kali dalam cerita lariku ini. Ia yang melepaskan kepergianku untuk pergi ke Yogyakarta. Untuk berlari menyelesaikan Full Marathon pertamaku di Mandiri Jogja Marathon 2018, Ahad, 15 April 2018 ini.

Sabtu siang itu (14/4), istriku hanya senyum sambil melet ketika kuberi kiss bye di atas motor abang ojek daring yang akan mengantarkanku ke Stasiun Citayam. Baiklah. “Doamu kubutuhkan buat mengkhatamkan pekerjaan gila ini,” kataku dalam hati.

Baca Lebih Lanjut.

Mawar yang Mencipta Sejarah


​Mawar selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik di sekolah dasar negeri itu. Secara tidak sadar ia yang anak pasar menjadi wakil anak-anak proletar sebagai pesaing anak-anak kelas aristokrat seperti guru, pegawai negeri sipil, atau orang-orang kaya lainnya di sekolah itu. Rangking kelasnya selalu di antara dua nomor ini: 1 atau 2.

Pernah suatu ketika, ia tidak mengikuti les salah satu pelajaran yang diajarkan oleh guru sekolah. Apa yang terjadi? Ia mendapatkan nilai jelek. Sedangkan mereka yang mengikuti les berbayar itu nilainya tinggi-tinggi. Mawar yakin ini bukan karena ketidakmampuannya dalam mencerna pelajaran, melainkan semata karena ia tidak ikut les itu. Pun, karena ia tak sanggup untuk membayar biaya les itu.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari: Menjadi Prajurit Alqutuz



Sejak ditempatkan di Tapaktuan dan mengenal olahraga lari, keterbatasan waktulah yang menghalangi saya untuk mengikuti lomba-lomba lari. Tapaktuan itu jauh kemana-mana. Tapi kali ini, takdir menentukan lain. Akhirnya kesampaian juga buat ikut race di SpecTAXcular 2016. Homely karena yang menyelenggarakan adalah instansi sendiri.

Sebuah even kampanye pajak yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) pada hari Ahad, 29 Mei 2016 di Jakarta, tepatnya di pelataran parkir barat Sarinah Plaza. Salah satu acaranya adalah lomba lari 5K.

Ini race pertama saya. Momen pertama kali saya untuk bisa mengunjungi Car Free Day (CFD) di Jalan Jenderal Sudirman dan Thamrin, Jakarta. Juga adalah kopdar pertama saya bersama teman-teman lari di DJP Runners yang seru-seru itu.

Berangkat Jumat malam dari Tapaktuan, sampai Sabtu siang di Bandara Halim Perdanakusumah. Sampai di Citayam Bogor sudah sore. Langsung saya ajak istri dan Kinan untuk pergi ke rumah adik di Jakarta. Malamnya saya carbo loading sambil mengitari seputaran Jalan Wahid Hasyim dan Jalan Cut Meutia, Jakarta.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #65: Mau Dibikin Apa?


image
Seplastik penuh jagung manis Meulaboh

Sehabis salat Jumat saya menuju pajak (pasar). Hari-hari “meugang” sudah lewat. Pasti sudah banyak yang berjualan. Niatnya mau beli bumbu-bumbu. Karena kemarin ada yang kasihan sama saya nyetatus masak seadanya begitu buat buka puasa.Iya memang betul, seadanya bukan karena diet atau apa melainkan karena tak ada yang bisa dibeli.

Nah siang ini niatnya mau beli telur, cabe merah, bawang putih, dan bawang merah. Yang penting beli dulu, buat apanya itu nanti. Paling buat menambah-nambah rasa gitu. Menu buka kemarin yang hanya kentang, bakso beku, dan ikan tongkol dijadikan satu tanpa diberi bumbu apa pun itu ternyata tetap asin. Barangkali sari pati dari ikan atau bumbu yang melekat di bakso sapi tadi sudah membaur dalam air sewaktu direbus. Begono.

Baca Lebih Lanjut.

Catatan Hati Seorang Ayah


Untuk Ayyasy

Dari Abi.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

19 September 2014

Di 12 tahunmu.

INI KISAH NYATA SEBUAH KEAJAIBAN, TAS YANG SEMPAT RAIB DI KOMPLEKS MASJID ITU DITEMUKAN KEMBALI


INI KISAH NYATA SEBUAH KEAJAIBAN,

TAS YANG SEMPAT RAIB DI KOMPLEKS MASJID ITU DITEMUKAN KEMBALI

    Waktu itu saya dan dua anak laki-laki saya sedang berada di Masjid Agung Jawa Tengah seusai melaksanakan salat zuhur berjamaah. Untuk kali keduanya saya datang ke masjid terbesar di Jawa Tengah ini. Mumpung mudik di Semarang kami sempatkan untuk singgah di sana.

Kami menikmati keteduhan di dalamnya sembari mengagumi ornamen bangunan dan kotak kayu tempat menyimpan Alquran raksasa berukuran 145×95 cm2 hasil karya anak bangsa. Tak lama kami keluar masjid sambil berteduh di sebuah bangunan kosong di depan toko suvenir.

Di sana, saya menyempatkan diri untuk menulis di blog saya. Sedangkan Mas Haqi lagi asyik dengan tabnya. Dan Mas Ayyasy melihat-lihat pemandangan sekeliling masjid dan keramaian orang mengantri untuk menaiki Menara Asmaul Husna setinggi 99 meter.
Baca lebih lanjut

DI BAWAH NAUNGAN COLOSSEUM OF JAVA


DI BAWAH NAUNGAN COLOSSEUM OF JAVA

Subhanallah, waktu berjalan tiada berhenti. Tiada melambatkan waktunya sedikit pun. Meninggalkan segalanya. Dan sekarang sudah tanggal 3 Agustus 2014 saja. Meninggalkan tanggal 24 Juli 2014–sebagai saat terakhir saya menulis di Tapaktuan–di belakang. Sekarang saya berada di Semarang. Di sebuah masjid yang teduh, Masjid Agung Jawa Tengah. Tahun ini saya kembali mudik ke kota kelahiran istri. Untuk bersilaturahmi dengan sanak kerabat dan berziarah ke makam mertua.

Setelah menempuh ribuan kilometer dari Tapaktuan dan hanya beristirahat sehari semalam, maka dengan tekad dan niat yang diupayakan selurus mungkin saya berangkat mudik pada hari Ahad. Satu hari menjelang lebaran. Syukurnya Allah memudahkan segalanya. Perjalanan relatif dilancarkan. Hanya menemui sedikit kemacetan di Cijelag dan Jembatan Comal. Ya, untuk tahun ini kembali kami arungi medan laga jalur permudikan melalui jalur tengah. Via Cipularang keluar Gerbang Tol Purwakarta lalu tembus ke Situ Buleud, Wanayasa, Sumedang, Cijelag, Palimanan, Kanci, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal sampai ke Semarang.

Saya yang biasanya ‘ngantukkan’ ternyata mampu kuat mengendarai mobil sendiri tanpa istirahat tidur sampai Batang. Setelah di kota sebelah Pekalongan itu saya merasa capek dan harus berhenti. Sampai di rumah Semarang jam setengah empat pagi. Kalau ditotal maka kami telah menempuh jarak 558 KM dalam waktu 18,5 jam. Alhamdulillah kami  bisa salat Id di tempat. Padahal kami sudah tidak berharap dan tidak diupayakan dengan keras untuk segera tiba di Semarang. Mengingat kondisi jalan, situasi lebaran, dan hanya saya sendiri yang jadi supir.
Baca lebih lanjut