Cerita Mudik (2): Brexit Sampai Akhir Perjalanan



Berburu Bensin

Penunjuk bensin tinggal dua strip lagi. Saatnya untuk mengisinya. Tapi di mana? Di dekat pintu tol Brexit? Jelas tidak mungkin. Antriannya panjang. Saya bertanya ke tetangga yang juga sudah duluan mudik via grup Whatsapp. Belum ada jawaban. Namun dering telepon dari tetangga saya yang lain memberi tahu info yang cukup penting, bahwa nanti isi bensin di SPBU yang kedua di jalan Dampyak Tegal. Itu berarti SPBU Muri yang dikenal dengan toilet bersihnya.

Brebes kami lewati dengan kemacetan parah. Begitu pula di kota Tegalnya walaupun para pemudik sudah diarahkan ke jalan lingkar luar via terminal, bukan ke arah kotanya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Saya mulai ngantuk lagi. Contra Flow sudah dibuat di sepanjang Tegal tapi tetap saja macet.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Cerita Mudik: Dari Citayam, Brexit, Sampai Semarang


kendaraan-memasuki-pintu-tol-brebes-timur-pejagan-brebes-jawa-tengah-_160709184446-290


Akhirnya setelah satu bulan persis di Tapaktuan dan tidak bertemu dengan anak dan istri, saya bisa berkumpul lagi dengan mereka pada Jumat tanggal 1 Juli 2016. Tepatnya pada malam ke-27 Ramadan 1437 H. Masih ada waktu untuk sahur dan berbuka puasa bersama dengan mereka. Terpenting lagi melakukan perjalanan mudik untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara di kampung.

Kami merencanakan mudik berangkat ke Semarang pada Senin siang (4 Juli 2016). Kami berangkat bertujuh. Saya dan Ummi Kinan, Kinan, Mas Haqi, Mas Ayyasy, Hendrik (adik istri), dan Mbak Alfi (keponakan). Sebelumnya kami telah mempersiapkan diri untuk membawa bekal buat berbuka puasa di tengah jalan. Seperti kejadian tahun lalu kami berbuka puasa di pinggir jalan tol Palikanci.

Kami berangkat dari rumah di Citayam pada pukul 12.30 dengan membaca Bismillah. Mengingatkan kepada semua bahwa perjalanan ini adalah perjalanan dalam rangka kebaikan dan bukan dalam rangka kemaksiatan. Sehingga dengan itu kami senantiasa berharap agar Allah melindungi perjalanan kami.

Baca Lebih Lanjut.

180 Derajat Yang Kedua


image
(i.ytimg.com)

Yang biasanya menemani kita adalah mereka yang mampu bertahan menjadi teman di kala nestapa. Bukan hanya di gempita. Tapi perempuan ini tidak. Di kala jaya sang idola, maka ia menjadi bulan sebagai teman dari bintang. Namun, ketika sang idola mendapat petaka maka ia berbalik arah. Menengok pun tidak. Ini klise. Sebuah adegan dari video klip 180 Degree Tamer Hosny. Lagi-lagi saya mau bilang seperti di 180 Derajat awal, kalau 180 Degree di sini bukan bercerita tentang roman klasik seperti itu, melainkan…..

Baca lebih lanjut.

180 Derajat



Jelang Palimanan di Tol Cipali (Foto milik Makhfal Nasirudin)


    Ini bukan judul lagu yang dinyanyikan penyanyi Mesir yang dikenal sebagai pedendang lagu-lagu arab romantis: Tamer Hosny. Tapi benar-benar keadaan yang berlawanan dengan masa sebelumnya. Tentang apa? Tentang perjalanan mudik dan balik kami.

Baca lebih lanjut.

Ini Dia Tempat Jual Baterai Remote Mobil


Kunci remote mobil Avanza 2007 yang saya pakai ini adalah kunci cadangan. Tanda-tanda melemahnya remote sudah mulai tampak. Antara lain tidak bisa meremote dari jarak jauh, tombolnya sudah mulai oblak, dari dekat pun remote sering tidak berfungsi.

Tapi saya abai. Waktu mudik ke Semarang, saya tahu ini bakalan bermasalah. Namun saya tidak membawa kunci remote satu lagi yang juga punya kendala sama.

Satu bulan sebelum mudik pernah kejadian remote tak bisa berfungsi. Jadi pakai manual saat membuka pintu mobil. Otomatis alarmnya menyala memekakkan telinga. Saya tutup pintu dan tak berani melanjutkan memakai manual lagi. Baru berfungsi kembali setelah beberapa waktu lamanya didiamkan begitu saja.

Baca Lebih Lanjut.

INI KISAH NYATA SEBUAH KEAJAIBAN, TAS YANG SEMPAT RAIB DI KOMPLEKS MASJID ITU DITEMUKAN KEMBALI


INI KISAH NYATA SEBUAH KEAJAIBAN,

TAS YANG SEMPAT RAIB DI KOMPLEKS MASJID ITU DITEMUKAN KEMBALI

    Waktu itu saya dan dua anak laki-laki saya sedang berada di Masjid Agung Jawa Tengah seusai melaksanakan salat zuhur berjamaah. Untuk kali keduanya saya datang ke masjid terbesar di Jawa Tengah ini. Mumpung mudik di Semarang kami sempatkan untuk singgah di sana.

Kami menikmati keteduhan di dalamnya sembari mengagumi ornamen bangunan dan kotak kayu tempat menyimpan Alquran raksasa berukuran 145×95 cm2 hasil karya anak bangsa. Tak lama kami keluar masjid sambil berteduh di sebuah bangunan kosong di depan toko suvenir.

Di sana, saya menyempatkan diri untuk menulis di blog saya. Sedangkan Mas Haqi lagi asyik dengan tabnya. Dan Mas Ayyasy melihat-lihat pemandangan sekeliling masjid dan keramaian orang mengantri untuk menaiki Menara Asmaul Husna setinggi 99 meter.
Baca lebih lanjut

INI MUDIK YANG MENYENANGKAN


INI MUDIK YANG MENYENANGKAN

 

Perjalanan mudik kemarin menyisakan banyak remah-remah kesimpulan. Dan tentunya menyenangkan. Dimulakan dengan sebuah niat yang baik: mempererat tali persaudaraan dengan sanak di kampung. Oleh karenanya kami cuma berharap Allah melindungi perjalanan kami ini. Mudik dan baliknya. Alhamdulillah semuanya dikabulkan. Tidak melelahkan lagi.

    Senin menjelang siang (5/8), tepatnya pada pukul 10.30 kami berangkat berenam saja—Saya, istri, ibu mertua, Maulvi, Ayyasy, dan Kinan—dari Citayam. Kita berangkat jam segitu karena tak mau buru-buru dan untuk memberikan hak kepada tubuh agar bisa istirahat setelah semalamnya mencari Lailatul Qadr di malam 27 Ramadhan. Semalamnya pun saya ubah gaya iktikafnya. Biasanya baru tidur 24.00 kemudian bangun jam 02.00, menjadi tidur lebih dini dan bangun jam 03.00. Ini setidaknya memberikan tenaga buat mudik.

    Perjalanan dari Citayam sampai Cikampek lancar banget yah. Tak ada kemacetan sama sekali. Bahkan saat keluar pintu tolnya. Saya pun akhirnya memilih ke kiri—ke arah perempatan Jomin—karena lengang dan tak ada polisi yang mengarahkan kami untuk ambil arah ke kanan menuju Sadang seperti tahun-tahun sebelumnya.

    Sungguh, jalur Pantura ini terakhir saya ambil tiga tahun yang lalu. Setelahnya selalu mengambil jalur tengah yang panjang dan tetap macet juga. Kemacetan atau merayapnya mobil dari mulai Jomin sampai Sukra, Indramayu masih dalam batas kewajaran. Kadang merayap kadang bisa memacu kecepatan sampai 80km/jam.

    Sampai di Jatibarang saya tempuh jalur Jatibarang-Palimanan. Sampai di Kertasemaya maghrib. Untuk memasuki tol Palimanan sejak dari Tegalgubug mulai merayap. Kapanpun, entah cuti bersamanya panjang atau tidak, menjelang lebaran ini jalur Jatibarang-Palimanan tetaplah padat. Seharusnya saya ambil jalur seperti tahun-tahun sebelumnya kalau mudik melalui Pantura, yaitu melalui jalur Jatibarang-Karangampel-Cirebon. Ini jalur yang tak pernah dianggap oleh pemudik, padahal jalur ini jalur yang lengang dengan jalannya yang lebar. Selepas Cirebon barulah memasuki tol di Kanci.

    Dari Palimanan sampai Pejagan, saya bisa melenggang dengan kecepatan tinggi. Jalan tol sepi. Cuma mulai merayap lagi selepas gerbang tol Pejagan menuju Brebes, karena harus antri untuk bisa menyeberangi palang pintu kereta api. Setelah itu lancar. Tak ada kemacetan.

Kami berkali-kali berhenti. Bahkan kalau dihitung bisa sampai tujuh kali istirahat. Santai sajalah. SPBU Muri jadi tempat idaman untuk istirahat. Jam 23.30 kami ada di sana. Kami sahur di Sari Raos Gringsing, setelah Alas Roban, jam tiga pagi. Lalu kami melanjutkan perjalanan sebelum imsak. Sampai di Mangkang, Semarang sudah setengah lima pagi. Rumah sudah dekat. Tapi kantuk sudah tak bisa ditahan lagi. Daripada celaka lebih baik istirahat saja. Karena berdasarkan data statistik yang dirilis dinas terkait kecelakaan terjadi kebanyakan karena gerimis kantuk yang melanda.

Akhirnya kami tiba di Semarang, pukul 07.30, jadi kurang lebih 21 jam perjalanan. Ini sudah termasuk rekor bagi kami. Karena tahun-tahun sebelumnya hampir bahkan lebih dari 24 jam perjalanan. Yang terpenting selamat dan tidak melelahkan.

    So, bagi saya, untuk menempuh perjalanan mudik kemarin perlu kiat-kiat tersendiri. Dan inilah remah-remah kesimpulan itu antara lain sebagai berikut:

  1. Menej dengan baik malam iktikafnya;
  2. Siapkan fisik dengan baik. Tak perlu memaksakan diri, sehabis pembagian zakat jam satu malam langsung cabut. Tidur yang cukup. Berangkat pagi saja setelah shubuh atau dhuha atau menjelang dzuhur;
  3. Ambil jalur Jatibarang-Karangampel-Cirebon untuk menghindari kemacetan;
  4. Perbanyak istirahat di jalan;
  5. Tentunya perbanyak doa.

     

Semoga Allah memberikan kemudahan itu di tahun-tahun yang akan datang. Karena sesungguhnya kita berangkat untuk sebuah niat yang baik, niat yang mulia, yaitu silaturahmi. Kalau sudah demikian insya Allah, Allah akan lindungi perjalanan kita. Semoga.

 

***

Riza Almanfaluthi

dirantingcemara

09:45 14 Agustus 2013