Ah-ha Moment: Sebesar apa Percikanmu?



Di suatu pagi yang padat dengan sinar rawinya masih majal, saya baru saja keluar dari mulut Commuter Line di Stasiun Kalibata. Saya bentangkan aplikasi perbincangan yang sudah berjejal dengan banyak risalah itu. Salah satunya pesan gambar yang terkirim dalam sebuah grup. Saya membuka gambar itu dan langsung tersentak hingga sanggup menghentikan langkah saya yang bergegas.

Kemudian saya mencari bangku kosong yang ada di peron stasiun, saya melirik jam, dan saya pikir masih cukup waktu untuk tiba di tempat pendidikan dan pelatihan yang sedang saya ikuti selama sepekan ini. Semua neuron yang ada di balik tempurung kepala saya seperti tepercik api, terpantik.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Berbincang-bincang dengan Sepatu 



Setiap malam, aku sering terbangun. Bangkit dari ranjang dan berbincang-bincang dengan sepatu. Benda yang sering kuajak lari-lari di pagi hari, tak pernah kurang 5 kilometer jauhnya. Kalau aku lelah sebenarnya dia pun lelah. Kalau dia aus sebenarnya aku pun aus. Haus apalagi. Haus dan aus hanya sekadar dibedakan dengan satu huruf saja.

Ia tak mengeluh walau setiap hari disakiti oleh kaki-kakiku dan perasaan-perasaanku pada saat lari. Karena semakin gelap perasaanku maka semakin keras kupacu kecepatan lariku. Ia juga tak mengaduh kalau sekujur tubuhnya dilumat kerasnya aspal, dimandikan becek jalanan, atau sekadar diwangikan kotoran kucing.

Hanya satu, yang kutahu, dia tak mau, berkawan sepi kelabu, di sudut rumah yang berdebu: tempat persemayaman terbaiknya. Sepi, katanya, sangatlah jahat. Ia sering merampas ingatan dan melemparkannya ke masa nan purba, “Ia hitam. Makanya aku minta kaubangun dan menemaniku setiap malam.”

Malam ini malam yang sama dengan malam-malam sebelumnya. Aku bangun dan menemaninya. Kali ini ia terburu nafsu menyergapku, “Mimpi buruk lagi?” Yang kujawab dengan anggukan penuh dentum kesungguhan. “Pagi ini kita lari. Tak perlu cepat-cepat. Barangkali yang kaubutuhkan adalah jarak. Semakin jauh kau berlari, barangkali akan mampu membuatmu melupakan mimpimu,” kata sepatu.

Mendengar ia bicara demikian, kupikir memang ia benda terbaik yang pernah ada diciptakan oleh dunia. Bersama-sama denganku, hati-hati, pelan-pelan, sangat terinci, membuat perencanaan kejahatan tak terperi. Membunuh mimpi-mimpi. Mimpi-mimpi yang buruk. Seburuk-buruknya peninggalan. Peninggalan sehitam malam.

Makanya setiap malam, aku sering terbangun. Bangkit dari ranjang dan berbincang-bincang dengan sepatu.
***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Pancoran, 25 Juli 2017

Nyalakan Senyum di Parasnya


[Dalam puisi ini tidak ada ilustrasi gambar, sebagai penghormatan terhadap foto lampau sosok perempuan cilik yang mestinya ada di laman ini]

 

Pagi ini, aku tidak lari pagi.
tak baik lari pagi sehabis begadang
selalu soal meninggalkan endapan:
kantuk dan ingatan tentangmu.
apalagi aku lelah berlari-lari
dalam mimpi-mimpiku yang meriang
dalam mimpi-mimpimu yang intan
bahkan dalam lamunan yang buru-buru

kepada pohon nangka di depan rumah
pagi ini aku ucapkan selamat
semalam kau hebat
dari dahanmu kautumbuhkan
perempuan cilik
hanya saja,
untuk nanti malam aku berpesan
nyalakan senyum di parasnya
barangkali dengan beberapa tetes hujan dan sedikit kabut,
bekerja keraslah
semoga kau tak mengantuk
pagi ini kita ngopi dulu.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Di bawah pohon nangka, 23 Juli 2017

Hatimu yang Kawah Merapi


Di malam yang sibuk mengunyah dirinya sendiri, aku bertanya kepada bayang-bayang seorang gadis kecil yang sedang memegang sebuket bunga. Bunga yang langsat. “Apa kabarmu, Bayang? Sudah kautemukan  duniamu yang kecil itu?” Lalu kau hanya bisa tertawa dan aku terkantuk-kantuk karena ketiadaan segelas kopi yang mengangeni. Dalam hatimu yang kawah Merapi kutemukan lava sedih bergolak-golak. Tinggal menunggu waktu, “Meletuslah.” Bersama kehilangan dan ingatan yang buru-buru. Aku, biarlah menjadi endapan yang tertinggal.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 18 Juli 2017

Fiksi atau Ilusi?


 

Kepada para penyair, engkau selalu membawa-bawa perasaanmu, lalu membuka kitab tafsir mahadewa, menebak-nebak palung hati, seakan-akan lirik-lirik magis puisi itu adalah pahit manis hidup para penyair yang paling nyata.

Kepada para penulis cerpen, roman, atau apa pun kausebut, engkau tanggalkan perasaanmu, kaupendam kitab tafsir, tak sedikit pun kau mengira bahwa isi cerita itu adalah potongan sejati kisah hidup penulisnya.

Ini tak adil. Kaumudah sekadar menyebut kisah para penulis itu sebagai fiksi, lalu mengapa kausulit menyebut puisi para penyair itu sebagai ilusi?

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 23 Juli 2017

Cerita Lari BNI UI Half Marathon (2):  Setelah ini Apalagi?


Sebelas Kilometer Terakhir

Menamatkan kilometer 11 menjadi Point of No Return buat saya. Mau tidak mau saya harus terus menderas ke depan. Mengakhirinya sampai garis finis. Di sisa-sisa water station (WS) yang ada, selain minum air berion saya juga mengambil air putih biasa untuk saya simbah ke kepala saya. Ini bikin adem.

Di kilometer  11 ini saya jauh dari kafilah lari. Saya otomatis seperti lari sendirian. Tidak ada yang menyusul saya dan saya pun tak bisa menyusul yang di depan.

Continue reading Cerita Lari BNI UI Half Marathon (2):  Setelah ini Apalagi?