Malam Pertamamu Bagaimana?


Photo by Naim Benjelloun on Pexels.com

Imbauan pemerintah dan MUI Kabupaten Bogor untuk melaksanakan kegiatan Ramadan di rumah saja di tengah wabah COVID-19 membuat suasana malam pertama Ramadan di sekitaran kami sepi. Tidak ada warga yang berbondong-bondong menuju masjid seperti biasanya.

Dari tangkapan layar CCTV masjid kompleks yang dibagikan di grup percakapan yang saya ikuti ada jemaah yang salat tarawih dengan saf yang renggang. Jemaah perempuan tidak terlihat.

Baca Lebih Lanjut

RIHLAH RIZA #24: JEJAKMU MERAKSASA, RINDUKU APALAGI


RIHLAH RIZA #24: JEJAKMU MERAKSASA, RINDUKU APALAGI

Atau biarkanlah ketika kangen yang meraksasa itu menusuk pusat pertahanan ketegaran, izinkanlah memuarakannya pada samudera keheningan yang bernama doa dan sajak. Seperti dua laki-laki ini.

**

Matahari duha bersinar hangat. Ini saat yang tepat menuju tempat yang menjadi ciri khas kota Tapaktuan: Tapak Raksasa Tuan Tapa. Enggak afdal jika berkunjung ke kota pala ini tetapi tidak mampir melihatnya. Dan baru kali ini—selama hampir tiga bulan di Tapaktuan—saya menyempatkan diri berkunjung. Itu pun karena mengantarkan teman-teman dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh yang sedang silaturahmi ke Tapaktuan.

Seperti kebanyakan daerah wisata di Kabupaten Aceh Selatan ini yang potensinya kurang digarap maksimal, papan petunjuk arah menuju lokasi wisata jejak Tuan Tapa pun tidak ada sama sekali. Entah di pusat kota atau di lokasi wisatanya sendiri. Tidak ada juga plang atau papan informasi yang menceritakan legenda atau asal usul objek wisata itu seperti yang saya sering lihat ketika mengunjungi objek wisata atau situs bersejarah di Banda Aceh.

Bekas tapak berukuran besar itu terkait dengan legenda yang beredar di kalangan masyarakat Aceh Selatan. Yakni ketika sepasang naga bertarung dengan Tuan Tapa dalam rangka memperebutkan Putri Naga. Putri ini sebenarnya adalah anak manusia yang terombang-ambing dari kapal Cina yang karam. Putri itu lalu diasuh sepasang naga tersebut.

Dalam salah satu versi cerita, Tuan Tapa dimintakan bantuannya oleh orang tua sang putri. Mereka ingin mengambil kembali anak mereka dari cengkeraman sepasang naga. Tuan Tapa berkelahi dan berhasil membunuh naga jantan. Naga betina melarikan diri walaupun pada akhirnya tewas juga. Bekas-bekas pertempuran yang berserakan, antara lain tapak raksasa, tongkat, dan topi Tuan Tapa menjadi bukti dari legenda itu dan bisa disaksikan sampai sekarang. Namanya juga legenda, kita tidak pernah tahu realitas sesungguhnya dari cerita yang beredar dari mulut ke mulut masyarakat Aceh Selatan ini

Lokasi tersebut berada tidak jauh dari pelabuhan Tapaktuan. Tepatnya berada di belakang gedung olahraga. Untuk ke sana bisa ditempuh dengan mobil, motor, sepeda, atau jalan kaki. Semua kendaraan hanya bisa diparkirkan di kaki bukitnya. Kendaraan bus tentunya tidak bisa masuk. Tempat parkirnya berada di tepian laut. Satu garis dengan tembok pembatas pelabuhan. Ada semacam bangunan kecil di sana sebagai tempat istirahat atau pos. Dan perlu diperhatikan tidak ada orang yang menjaga kendaraan di sana. Pastikan semua terkunci dengan aman. Apalagi sepeda.

Dari tempat parkir itu naik ke atas bukit melalui jalan setapak yang sudah dibuat undakan semen. Berjalannya harus hati-hati karena di sebelah kiri undakan itu jurang dan laut dengan ombak yang besar. Tidak butuh waktu lama dan tenaga ekstra untuk bisa sampai ke bagian tertinggi undakan. Setelah itu kita menyusuri bebatuan hitam untuk bisa sampai ke tapak raksasanya. Batu-batu itu terjal sehingga harus tetap waspada melangkahinya.

Di atas batu-batu itulah—walaupun belum sampai ke titik akhir—kita akan benar-benar terpesona dengan keindahan alam yang memanjakan mata. Tempat ini bisa dijadikan tempat untuk berkhalwat dan berkontemplasi. Batu hitam, ombak besar yang menghantam pantai, semilir angin, pepohonan yang rindang adalah suasana yang mendukung dalam pencarian sebuah inspirasi.

Ada adat-istiadat yang harus dipegang saat mengunjunginya. Terutama sekali agar tidak bicara sembarangan dan tinggi hati. Sebenarnya tidak hanya di tempat itu, di mana pun adanya, sikap angkuh dan banyak cakap itu tidak terpuji. Ada lagi aturan penduduk setempat bagi perempuan pengunjung, yang boleh sampai ke jejak itu adalah perempuan yang tidak datang bulan. Kalau lagi datang bulan cukup melihatnya dari atas batu hitamnya saja. Tidak boleh mendekat. Aturan ini adalah bentuk kearifan lokal, turuti saja, dan bukan pada masalah angker atau keramatnya melainkan pada ketiadaan jaminan keselamatan yang ada.

Sampai di situsnya, jejak tapak itu, bolehlah kita ambil gambar tetapi jangan lupa pula untuk berhati-hati. Karena pernah kejadian, di hari keempat lebaran tahun 2013 lalu, ada tiga orang dimakan ombak. Kejadiannya persis jam-jam pagi seperti kedatangan kami ini. Dua orang tewas, salah satunya perempuan. Satu orang selamat walaupun dalam kondisi kritis. Jadi kalau mau foto-foto lihat posisi dan keadaan ombaknya. Jangan asal pose. Apalagi berpose di ujung kaki sambil duduk di tepian karangnya. Tepian karang itu dengan permukaan laut cukup tinggi, ini berarti ombak yang menerjang dan menelan bulat-bulat tiga orang itu adalah ombak yang sangat besar.

Setelah puas melihat-lihat, kami pun pulang. Sebenarnya ada undakan lagi menuju puncak Gunung Lampu ini. Undakan ini menuju menara pemancar yang kalau kita memanjatnya akan terlihat seluruh pemandangan kota Tapaktuan. Dari posisi teratas di bukit ini kita juga bisa melihat dan mengambil gambar jejak Tuan Tapa dari ketinggian. Tapi untuk hari ini kami cukup sampai di sini dulu. Suatu saat kami akan kembali dan menaiki puncak yang paling tingginya.

Jejak raksasa itu berada di ujung karang sebelah kiri, lihat bangunan kecil itu adalah semacam saung atau pos, di situlah kendaraan diparkirkan. Sedangkan gedung besar itu adalah gedung olahraga. (Foto Koleksi pribadi).

Jalan setapak menuju tapak raksasa Tuan Tapa (Foto koleksi pribadi).

Pemandangan pelabuhan angkutan barang dari Gunung Lampu (Foto koleksi pribadi).

Salah satu pemandangan pantai Tapaktuan yang diambil dari karang batu hitam (Foto koleksi Agung Pranoto EP).

Di atas jejak raksasa Tuan Tapa (Foto koleksi Agung Pranoto EP)

Bersama teman-teman KPP Pratama Meulaboh (Kika): Niko Andriansyah Kopa: Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi II, Agung Pranoto Eko Putro: Kepala Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal, Tulus Mulyono Situmeang: Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi II KPP Pratama Tapaktuan, saya, Yan Permana: Account Representative KPP Pratama Tapaktuan, dan Agus Salim: Kepala Seksi Penagihan KPP Pratama Meulaboh, bercelana pendek hijau (Foto koleksi pribadi).

Cara ini, mengunjungi tempat-tempat indah di Tapaktuan, adalah cara tepat membunuh rindu yang serindu-rindunya, rindu yang bikin pilu sepilu-pilunya. Atau mengalihkan sejenak dari kepenatan mengembara savana kangen. Atau biarkanlah ketika kangen yang meraksasa itu menusuk pusat pertahanan ketegaran, izinkanlah memuarakannya pada samudera keheningan yang bernama doa dan sajak. Seperti dua laki-laki ini.

Di sebuah maghrib laki-laki yang satu mendoakan anak-anaknya. “Kalau aku kangen, aku bacakan Alfatihah untuk anak-anakku. Di halaman depan Alquran, sebelum surat Alfatihah, aku tempel pas foto mereka berdua. Dan sebelum aku tilawah, aku baca Alfatihah sambil memandangi foto mereka lalu aku cium fotonya satu per satu. Sebelum tidur, bila tidak capek sekali, Saya sebut nama dan mendoakan mereka. “

Laki-laki yang tak mau disebut namanya ini menambahkan, “Aku hanya mengingat nasihat Ibu saya. Kalau anak-anak itu tidak hanya cukup dipenuhi kebutuhan fisiknya saja. Aku juga harus prihatin untuk anak-anak. Puasa, salat malam, mendoakan mereka adalah laku prihatin itu. Mengusap-usap kepala mereka bila tidur dan membacakan doa-doa diubun-ubun mereka. Itu yang dilakukan ibu kepadaku.”

“Sampai sekarang aku belumlah sehebat ibuku. Ibu selalu berpuasa bila anak-anaknya akan dan sedang ujian. Selalu menghibur bila hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita. Sedoyo sampun dikersakke Gusti Allah, ” tambahnya lagi.

Di sebuah pagi, lelaki lain menuliskan rasa kangennya di buku catatan hariannya. “Semalam mau menelepon Mas Haqi, tapi telepon asramanya tidak ada yang mengangkat. Pagi ini pun demikian. Susah adanya. Padahal Abi sudah kangen sama Mas Haqi. Sudah setengah bulan lebih tak mengobrol dengannya. Tadi malam pun telepon rumah begitu. Mas Ayyasy sudah tidur. Kinan habis menangis. Waktu menerima telepon bekas-bekas tangisan menjejak di pita suaranya. Abi bilang, nanti sebentar lagi Abi pulang. Melihat di internet ada gambar kalian berdua, foto Mas Ayyasy dengan Kinan di samping patung unta, membuat kangen Abi bertambah saja Nak. “

Caramu melampiaskan kangen seperti apa?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 18 Januari 2014

RIHLAH RIZA #8: MEULABOH DAN 105 TAHUN YANG LALU


RIHLAH RIZA #8: MEULABOH DAN 105 TAHUN YANG LALU

Meulaboh. Di waktu sahur. Akhir Ramadhan 1316 H (11 Februari 1899 M). Suaminya tertembak di dada dan di perutnya. Tembakan prajurit Van Heutsz merobohkan dan menyebabkan suaminya meninggal dunia. Jenazah suami keduanya ini dibawa para pengikutnya untuk dikuburkan di sebuah tempat yang dirahasiakan agar tidak diketahui Penjajah Belanda yang ingin memastikan kalau “pengkhianat” yang bernama Teuku Umar ini benar-benar tewas.

    **

Kami bertiga tiba di Bandara Kualanamu jam 8.15 pagi (27/10) dan harus menunggu tiga jam lebih agar bisa naik pesawat ke Meulaboh. Untuk ke sana kami harus ganti pesawat yang lebih kecil lagi. Dari Jakarta menuju Kualanamu kami memakai pesawat Boeing yang dioperasikan Lion Air, sedangkan ke Meulaboh kami menggunakan maskapai Wings Air dengan pesawat ATR72-500 berbaling-baling dua buatan perusahaan Perancis-Italia. Tentu dengan kapasitas penumpang yang lebih sedikit daripada Boeing. Berkisar 70-an penumpang.

    Penerbangan kami ini merupakan penerbangan connecting. Kami cukup membeli tiket sekali saja. Ada beberapa jadwal penerbangan dari Jakarta mulai dari jam lima sampai jam delapan pagi. Semua penerbangan di jam tersebut transit di Kualanamu menunggu pesawat ATR72-500 yang dijadwalkan berangkat jam 10.45 siang. Saya sarankan jangan terbang dengan pesawat yang berangkat dari Jakarta jam delapan pagi karena dikhawatirkan ditinggal oleh pesawat ke Meulaboh itu jika ada keterlambatan atau delay di Bandara Soekarno Hatta.

(Koleksi Foto Pribadi)

    Ada keterlambatan. Oleh karenanya jam 11 lebih kami baru diminta untuk segera naik pesawat. Kami naik bus yang telah disediakan menuju pesawat yang diparkir jauh dari tempat tunggu kami. Karena pesawat ATR72-500 ini masuknya melalui pintu belakang maka tak perlu ada garbarata. Perlu waktu lima puluh menit penerbangan untuk sampai ke Bandara Cut Nyak Din, Meulaboh. Kalau ditarik garis lurus kami harus menempuh perjalanan sepanjang 295 km.

    Dua teman saya bertujuan akhir Meulaboh. Tetapi Meulaboh bukan tujuan saya. Tapaktuanlah yang menjadi tujuan. Tentu banyak jalan menuju Tapaktuan. Banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan untuk memilih jalan itu.

    Pertama, Jakarta-Banda Aceh melalui udara dilanjut dengan menempuh 439 km perjalanan darat menggunakan travel menuju Tapaktuan selama kurang lebih delapan jam. Jalanan mulus. Harga tiket pesawat dan lamanya perjalanan Jakarta-Banda Aceh tentunya lebih mahal dan lebih lama daripada Jakarta-Kualanamu apalagi kalau transit dulu.

    Kedua, Jakarta-Kualanamu melalui udara dilanjut menuju Meulaboh dengan pesawat dan masih ada 200-an km menuju Tapaktuan dengan perjalanan darat atau sekitar tiga sampai empat jam lebih. Harus ada yang menjemput di Bandara Cut Nyak Din. Jalanan mulus.

    Ketiga, Jakarta-Kualanamu melalui udara dilanjut menuju Tapaktuan dengan pesawat Susi Air berjenis Cessna Grand Caravan C 208 B berpilot dua orang dan berpenumpang dua belas orang. Tarifnya murah karena telah disubsidi pemerintah. Jadwalnya tidak setiap hari dan hanya di jam-jam tertentu. Untuk menyiasati waktu dan daripada menempuh perjalanan darat yang lama maka banyak teman di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan bila berangkat dari Jakarta ia mengambil perjalanan paling malam lalu menginap—tidur di mana saja—di Bandara Kualanamu kemudian lanjut dengan pesawat kecil menuju Bandara Kelas IV Teuku Cut Ali, Pasie Raja, Tapaktuan. Jadwalnya itu yang sering tidak bersahabat. Dari Tapaktuan sekitar jam empat sore sedangkan dari Kualanamu jam tujuh pagi. Tentu ini bikin terlambat (TLB) atau pulang cepat (PC) dalam catatan kehadiran kita.

    Keempat, Jakarta-Kualanamu melalui udara. Kemudian naik bus, kereta api, atau taksi menuju Medan. Lalu dari Medan naik travel atau bis menuju Tapaktuan. Menempuh tujuh hingga delapan jam perjalanan dengan jarak 390-an km. Jarak tempuhnya lebih pendek daripada rute dari Banda Aceh namun jalanan tidak mulus. Dengan perpindahan bandara dari Polonia, Medan ke Kualanamu, Deli Serdang menambah waktu tempuh untuk bisa sampai di Tapaktuan.

    Saran penting dari saya berdasarkan informasi dari teman-teman adalah lebih baik naik travel dari Medan ke Tapaktuan daripada naik bis jika ingin memburu waktu sampai di Tapaktuan pagi-pagi. Travel hanya ada di Medan. Belum ada di Kualanamu. Jam terakhir travel adalah jam 9 malam. Setelah itu tak ada lagi.

    Itulah empat rute menuju Tapaktuan. Sedangkan perjalanan dengan rute Jakarta Meulaboh ini saya tempuh karena ini merupakan perjalanan pertama, bersama teman, bawa banyak barang, dijemput juga oleh teman-teman, dan tidak mengetahui jalur langsung dari Kualanamu ke Tapaktuan. Rute ini tidak akan saya tempuh lagi Insya Allah. Yang masih masuk akal bagi saya adalah rute ketiga dan keempat.

    Ohya, penting juga diketahui, bahwa  ketika pesawat ini bertujuan Meulaboh, maka sesungguhnya pesawat ini mendaratnya di Bandara Cut Nyak Din yang berada di Kabupaten Nagan Raya. Kabupaten ini merupakan pecahan dan bersebelahan dengan Kabupaten Aceh Barat yang beribu kota Meulaboh. Masih 45 km dari Bandara Cut Nyak Din menuju kota Meulaboh.

Pesawat ATR72-500 saat tiba di Bandar Udara Cut Nyak Din, Kabupaten Nagan Raya. (Foto Pribadi)

    Saya tiba di Bandara Cut Nyak Din jam 12.15. Saya berpisah dengan dua orang teman saya yang ditempatkan di KPP Pratama Meulaboh. Lalu saya melanjutkan perjalanan dengan teman-teman dari KPP Pratama Tapaktuan yang menjemput saya satu jam kemudian. Mereka adalah Mas Yan Permana, Mas Hasbul—teman lama saya di KPP Penanaman Modal Asing Empat dulu, Mas Suardjono dan Mas Oji Saeroji.

    Mulailah perjalanan panjang kami menuju Tapaktuan. Melewati perkebunan kelapa sawit, jalanan mulus yang sepi, tak bertemu dengan bis gede-gede seperti di Pantura Jawa, jarang ketemu truk, tak ada angkot, yang ada pesaing kami: motor. Perjalanan kami diselingi dengan berhenti dua kali di masjid yang berbeda, lalu makan di rumah makan Jokja (Pakai k bukan g), dan berhenti sebentar di SPBU. Saya mengira perjalanan darat ini berlangsung singkat tapi ternyata lama. Saya sampai terkantuk-kantuk karena tempat tujuan tak kunjung tiba.

    Kami banyak disuguhi pemandangan elok. Bukit-bukit lebat seperti di jalanan Garut-Tasikmalaya. Bahkan suatu saat kami melewati barisan bukit yang diatasnya ditutupi kabut dan dari kumpulan kabut itu muncul lengkung pelangi yang luar biasa indahnya. Kebetulan habis hujan saat itu. Subhanallah. Indah banget. Apalagi kalau sudah sampai di Kecamatan Sawang, Tapaktuan kita akan melihat pemandangan pantai yang eksotis. Bagian tentang keeksotisan inilah yang saya tidak sabar untuk menuliskannya segera. Tapi nanti satu per satu saya akan menyuguhkannya di bagian lain.

Plang KPP Pratama Tapaktuan (Koleksi Pribadi)

Akhirnya pada pukul 18.15 saya tiba di Tapaktuan. Mobil yang kami kendarai mampir sebentar melihat kantor kami. Kata teman agar saya tidak shock dulu sebelum benar-benar bekerja esok harinya. Mess tempat saya akan tinggal berjarak tidak jauh dari kantor ini. Kurang lebih 75 meter.

So, total jenderal 14,5 jam perjalanan Citayam menuju Tapaktuan. Dengan kecanggihan teknologi perjalanan 2400-an km itu hanya ditempuh beberapa jam saja. Saya tak bisa membayangkan berapa hari perjalanan dengan menaiki kuda. Ngapain lagi bayangin naik kuda. Dengan kecanggihan teknologi itulah setidaknya mengurangi lelah yang diderita jika perjalanan itu harus kudu naik kuda atau perjalanan darat berhari-hari.

Tinggal ke depannya perlu dipikirkan lagi moda transportasi yang mengubah benda padat menjadi partikel tak terlihat dan memindahkannya dalam sekejap ke tempat yang dituju lalu menjadikan partikel itu seperti semula. Fiksi dan Hollywood banget. Tapi semua bermula dari mimpi seperti mimpi Leonardo Da Vinci yang merancang bangun alat yang bisa menerbangkan manusia. Atau seperti pintu doraemonkah?

Alat yang mampu menuntaskan rindu kepada orang dan kampung halaman, tanpa lelah, dan bisa setiap saat. Yang akan menuntaskan rindu seperti  rindu Cut Nyak Din akan negeri tempat ia dilahirkan. Ia terbuang di masa tuanya. Ke sebuah tempat yang jaraknya ribuan kilometer dari makam suaminya. Sebab suatu alasan: keberadaannya di Aceh membuat semangat perlawanan rakyat Aceh tetap berkobar. Tentu jangankan pesawat, bus pun tak ada pada masa itu.

Gunung Puyuh, Sumedang. Di 105 tahun yang lalu dari tanggal ini, tepatnya 6 November 1908 ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Keterasingan yang dibawa sampai mati. Tapi jasanya tak pernah terasing di jiwa anak bangsa atas semangat dan perlawanannya yang tak mengenal lelah dan sakit. Dan saya hampir dekat dengan Meulaboh. Suatu saat, jika ada waktu dan kesempatan saya akan mengunjungi makam suaminya dan berdoa di sana: agar Allah menggabungkannya ke dalam golongan orang-orang yang syahid.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 5:51 6 November 2013

Tags: Jakarta-Meulaboh, Pesawat dari Jakarta ke meulaboh, Jakarta-tapaktuan, pesawat dari Jakarta ke tapaktuan, citayam, tapaktuan, kpp pratama tapaktuan, nagan raya, aceh selatan, aceh barat, bandara teuku cut ali, bandara cut nyak din, garut-tasikmalaya, garut, tasikmalaya, pesawat ke tapaktuan, pesawat ke meulaboh, jadwal ke meulaboh, jadwal ke tapaktuan, kpp pma empat, kpp penanaman modal asing empat, rumah makan jokja, pesawat atr72-500, kualanamu, banda aceh, medan, yan permana, oji saeroji, hasbul, suardjono, polonia, deli serdang, pasie raja, kpp pratama meulaboh, teuku umar, sumedang, van heutsz, gunung puyuh.