RIHLAH RIZA #7: MADU BUAT RINDU, GANDIWA BUAT ARJUNA


RIHLAH RIZA #7:

MADU BUAT RINDU, GANDIWA BUAT ARJUNA

 

Sehebat-hebatnya seorang Hawkeye di The Avengers ataupun seorang Legolas di The Lord of the Ring, mereka tetap kalah dengan sosok bernama Arjuna. Dua kantung panah yang dimilikinya tak pernah habis dengan anak panah. Tetapi mereka bertiga tak berarti apa-apa tanpa busur. Padang luas, bengis nan amis, dan kejam—Kurusetra—menjadi saksi saat langit-langit di atasnya menghitam karena hujan panah putra ketiga Kunti ini.

**

Dini hari jam setengah tiga pagi saya terbangun. Saya harus bersiap-siap mengejar pesawat yang akan membawa saya ke Kualanamu. Dari bandara yang baru dibuat itu saya akan naik pesawat menuju Meulaboh. Tepat satu jam kemudian kami sudah berangkat. Kinan dan Ayyasy melanjutkan tidurnya di samping Ummu Haqi. Di sebelah saya ada adiknya yang membawa mobil ini.

Untuk pergi ke bandara kali ini saya tidak lewat pintu tol Citeureup Jagorawi karena saya pikir perjalanan akan lancar-lancar saja. Nanti kami akan masuk tol dalam kota melalui pintu tol Pancoran. Saya perkirakan sampai di bandara sekitar jam setengah lima pagi.

Ternyata ada sesuatu yang tidak saya duga. Hari itu Jakarta akan mengadakan lomba Jakarta Marathon International 2013 yang diikuti oleh peserta dari dalam dan luar negeri seperti Ethiopia dan Kenya—dua negara yang konsisten mencetak pelari-pelari jarak jauh dunia. Saya tahu akan ada kegiatan besar itu dan saya juga tahu kalau ada penutupan ruas jalan di sekitar rute lari marathon itu. Tetapi saya tak menyangka kalau jalan Pancoran menuju Mampang ditutup dan diblokir polisi lebih dini.

Akhirnya saya putuskan untuk masuk lewat pintu tol di depan Menara Saidah. Kami pun dari Pancoran menuju Cawang Bawah untuk memutar. Ternyata pintu tolnya belum buka. Saya sedikit cemas karena teman-teman yang sudah ada di Bandara Soekarno Hatta sudah mulai check-in. Kami balik lagi ke Pancoran dan memutuskan untuk kembali ke Cawang Bawah menuju Cawang UKI. Dari sana masuk tol dalam kota melalui pintu tol terdekat.

Bunyi tang tung tang tung tanda notifikasi Whatsapp semakin terdengar. Teman-teman sudah memutuskan untuk meninggalkan saya. Tak masalah. Karena dengan sedikit ngebut saya akan sampai jam lima pagi. Masih satu jam lagi dari jadwal penerbangan. Tapi seharusnya saya memikirkan ketersediaan waktu lebih untuk penghitungan bagasi saya. Sepanjang perjalanan menuju bandara itu saya isi dengan istighfar dan shalawat. Insya Allah ini solusi dan ikhtiar selamat.

Sampai di terminal 1B yang penuh itu saya turun, menurunkan koper besar dengan berat lebih dari 25 kg, dan menyalami satu per satu anggota keluarga. Lalu langsung masuk antrian tanpa menengok ke belakang. Petugas imigrasi mengecek tiket dan tas para calon penumpang. Setelah lolos pemeriksaan saya segera menuju tempat check-in maskapai penerbangan. Saya tidak terlambat karena masih menjumpai dua teman saya di sana. Pyuhhh…

Butuh waktu empat puluh menit sejak kedatangan saya untuk check-in dan membayar kelebihan bagasi kami. Ini berarti teman-teman sudah mengantri satu jam. Lebih lama daripada saya. Ada panggilan buat para calon penumpang untuk segera naik pesawat ke Kualanamu. Kami bergegas ke atas setelah sebelumnya membayar airport tax. Kami melalui pemeriksaan imigrasi kembali.

Di ruang tunggu sudah tidak ada orang lagi. Semua telah memasuki pesawat, tinggal kami bertiga yang belum masuk. Bahkan ketika kami akan masuk pun ada petugas imigrasi yang meminta tas teman saya karena di dalamnya masih berisi dua logam panjang kunci sepedanya. Itu seharusnya berada dalam tas bagasi dan tidak boleh masuk kabin pesawat. Untuk mudahnya tas itu dititipkan di awak kabin.

Ketika sudah menghempaskan tubuh di kursi pesawat itulah kelegaan muncul. Soalnya tak lama kemudian pesawat benar-benar menggerakkan rodanya. Ini jadi pengalaman berharga buat saya. Pesawat jarang delay kalau pagi. Antrian check-in juga panjang. Lamanya check-in dengan barang bawaan yang berat dan masuk bagasi pun perlu diperhitungkan. Pokoknya kalau berangkat dari Citayam menuju bandara harus tiga sampai empat jam sebelum batas waktu take-off pesawat. Bahkan lebih baik jika dari batas mulai check-in. Jangan lupa, lewat tol Jagorawi saja.

**

Saat pesawat mulai terbang, saya pejamkan mata. Sambil memikirkan momen yang seharusnya ada tapi terlewatkan. Saya tadi terburu-buru tidak sempat mencium dan memeluk Kinan dan Ayyasy. Sesuatu yang tidak biasa. Ini membuat ruang hampa di hati. Rasa yang hampir sama saat meninggalkan pertama kali bapak dan ibu waktu kelas satu SMA karena saya harus indekos di kota lain.

Berpisah dengan sesuatu yang kita cintai adalah hal terberat dalam hidup. Dan saya merasakannya sekarang. Merasakan apa yang senior-senior saya alami dulu. Mungkin ini pula yang menyebabkan banyak teman melepaskan statusnya sebagai pegawai pajak karena penempatan di tempat yang jauh dan berpisah dengan keluarga. Sebagian besar teman-teman saya tetap memilih bertahan. Yang terakhirlah yang saya pilih. Karena yakin ini yang terbaik yang Allah berikan kepada saya sebagai jawaban atas doa: Robbi ‘anzilni munzalan mubarakan wa anta khoirun munzilin.
Ya Robbi, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik baik yang memberi tempat.

Kalau sudah berpikir demikian, penempatan di Tapaktuan sejatinya adalah sebuah hadiah yang diberikan Allah kepada saya. Ini yang terbaik buat saya, keluarga saya, ruhani saya, perjalanan hidup saya, instansi saya, dan akhirat saya. Insya Allah.

Serupa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail, saya tinggalkan Ummu Haqi, Kinan, Ayyasy, dan Mas Haqi dalam perlindungan Allah. Saya pasrahkan semuanya kepada Allah. Dialah yang akan menjaga mereka. Dialah pemilik sejati mereka. Biarlah pemiliknya yang menjaga mereka. Cukup doa yang tak kurang-kurang buat mereka.

**

Bandara Kualanamu. Saya masih harus menunggu beberapa jam lagi di sana. Ada notifikasi status facebook yang masuk. Dari Ummu Haqi.

Dan Allah selalu tahu bagaimana caranya menenangkan hati kita dan anak-anak. waktu kedatangan yang berkejaran dengan jadwal keberangkatan, nyaris tak memberi ruang bagi kita untuk mengumbar kesedihan. Cukuplah cium tangan mengiringi ketergesaan. Alhamdulillah, semoga Allah mudahkan semua urusan. Fii ‘amanillah abi….”

Ini menguatkan. Apalagi ketika sudah sampai di tujuan, foto live ini terkirim malam-malam.

Kinan dan Ayyasy

Fasad sudah lelah! Hancur sudah letih! Luluh lantak sudah semua payah yang mendera sekujur tubuh. Ini madu buat rindu saya. Serupa busur gandiwa buat Arjuna. Semoga kita bisa berkumpul lagi Nak.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 3 November 2013

Hujan, sendiri, dan pantai yang berkabut.

 

 

Tags: Kunti, hawkeye, legolas, arjuna, the avenger, the lord of the ring, kualanamu, meulaboh, tapaktuan, kpp pratama tapaktuan, kantor pelayan pajak pratama tapaktuan, kabupaten aceh barat daya, kabupaten aceh selatan, blangpidie, kinan, ayyasy, kinan fathiya almanfaluthi, yahya ayyasy almanfaluthi, ria dewi ambarwati, ummu haqi, haqi, soekarno hatta, tol citeureup, tol dalam kota, jagorawi, citayam

THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY


THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY

Waktu Ahad lalu (23/12) yang liburan panjang itu, kami berempat—saya dengan my beloved rose, Kinan Chubby, dan Ayyasy The Writer—malam-malam pergi ke Margo City, Depok. Niatnya mau nonton film The Hobbit An Expected Journey. Jam masuknya 21.45.

Saya tak tertarik sama Habibie Ainun. Pokoknya mah mau lihat prekuel Lord of The Rings itu. Setelah trilogi hebat sebelumnya itu tak pernah saya nikmati atas kegarangan sound systemnya atau secara visual pada keindahan gambar negeri peri serta kebengisan perangnya.

Kini mumpung ada waktu dan anak-anak mau, kami sempatkan untuk tak melewatkan yang satu itu. Dan sungguh saya beri jempol buat Peter Jackson yang meramu film itu. Setaralah dengan novelnya yang sudah saya baca dua kali lebih itu. Ohya film ini untuk segala umur loh ya.

The Hobbit ini kalau difilmnya akan dibagi tiga bagian. Sesi pertama ini di film The Hobbit An Expected Journey, kisah Bilbo Baggins bersama 13 kurcaci dan Gandalf Penyihir Kelabu sampai pada mereka diselamatkan dari sergapan orc wajah pucat dan diterbangkan oleh para elang raksasa.

Saya membayangkan kalau di film kedua The Hobbit nanti yang akan diputar di tahun 2013 ceritanya berkisar saat mereka ketemu “siluman” beruang Beorn, bertarung dengan laba-laba di hutan lebat, dan cerita para peri yang menawan Bilbo Baggins.

Kalau di film ketiganya tentu ini yang lebih seru. Tapi sayang masih dua tahun lagi tayangnya. Soalnya di bagian akhir trilogi baru ini akan ada pertempuran besar antara pasukan kurcaci dan peri dengan para orc. Tentu di sana akan ada akhir dari Smaug Sang Naga yang mengamuk setelah lama tidur panjang mengangkangi harta rampasan di bekas istana Kurcaci dulu. Seru.

Kembali ke The Hobbit An Expected Journey, yang bagus darinya adalah peran Thorin yang dimainkan cukup apik. Cool. Sangat Ningrat. Dihormati karena ia adalah sang pemimpin, pejuang, putra mahkota, dan pemberani. Punya obsesi dan dendam 24 karat pada orc dan Smaug.

Apalagi mendengar lagu yang jadi soundtracknya: Misty Mountains (Cold). Mereka—para kurcaci—menyanyikan lagu itu di rumahnya Bilbo Baggins saat merindukan istana-istana bawah tanah mereka yang hilang. Misty Mountains (Cold) menjadi ilustrasi musik sepanjang film itu. Sepadan.

Saat film itu selesai, Kinan sudah tertidur di pangkuan Ria Dewi Ambarwati—perempuan yang telah menjadi istri saya sejak 1999. Saya bopong Kinan waktu menuju tempat parkiran. Jarum jam sudah menuding angka 00.30. Angka yang dituding menolak dan menampik jarum jam itu hingga terus saja berputar-putar. Memang waktu tak akan pernah ada yang mampu menghentikannya untuk berjalan. (Hayyah enggak nyambung). Sampai rumah kurang lebih jam 01.00 pagi. Jalanan Depok sampai Citayam sepi banget nget nget. Ya iyalah jam segitu. Kontras dengan lima jam setelah itu.

Besoknya sempat buka-buka lagi buku The Hobbit. Mau baca lagi dari awal. Ramai. Seru. Saya kumpulkan kembali buku trilogi Lord of The Rings. Mulai dari The Fellowship of The Rings, The Two Towers, sampai The Return of The King.

Ayyasy mulai tertarik novel JRR Tolkien, ia mulai bertanya-tanya.

“Emang mau baca?”

“Iya.”

Eh pada akhirnya tetap saja buku itu tergeletak di tempat tidurnya. Tak pernah dibuka lagi.

Pada saat proses mengumpulkan itu saya menemukan buku Isildur, masih bertema Dunia Tengah tapi tak dikarang oleh JRR Tolkien. Menemukan juga buku proses kreatif bagaimana para pengarang memulai menulis, serta buku-bukunya Malcolm Gladwell. Saya foto dah tuh buku. Ceklik….

clip_image001

(Untuk memperbesar foto ini klik saja)

Sudah cukup segitu saja dulu ceritanya. Inilah “me time”-nya kami. Sayang Mas Haqi enggak ikut (fotonya jadi latar belakang foto di atas). Pesantrennya baru libur mulai Sabtu besok tanggal 29 Desember 2012. Insya Allah Nak kita jalan-jalan lagi kayak dulu. Pengen kemana? Ragunan? Hayyah Ragunan mulu. Mancing? Lihat dulu dah. J Kami semua merindukanmu Nak. Apalagi Abi.

Jalan-jalan ke Cipatujah, ketemuan sama pak Polisi.

Di sini kita berpisah, sekian dan terima kasih.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:16 28 Desember 2012

Tanpa diedit lagi

CERITA MUDIK BOGOR SEMARANG 21 JAM LEBIH


CERITA MUDIK BOGOR SEMARANG 21 JAM LEBIH

 

Ramadhan, mudik, dan baliknya sudah berlalu. Saatnya menatap hari esok untuk menekuni rutinitas dan pekerjaan kembali. Namun masih ada bagian cerita yang belum sempat untuk dituliskan di sini. Oleh karenanya izinkan saya untuk mengisahkan sedikit perjalanan mudik kami.

    Cuti bersama dimulai dari hari Senin, Kamis, dan Jum’at. Ditambah satu hari lagi cuti tahunan pada hari Senin pekan depannya sehingga kalau ditotal jenderal jumlah hari libur yang saya ambil –dari tanggal 27 Agustus s.d. 5 September—adalah sebanyak 10 hari.

    Karena masih banyak tugas yang harus diselesaikan terutama masalah pengumpulan dan pembagian zakat di Masjid Al-Ikhwan maka saya putuskan untuk memulai perjalanan mudik itu pada Sabtu malam Ahad tepatnya pukul 00.00. Karena memang tugas penghitungan ZIS baru selesai jam setengah 12 malam. Pada menit ke-40 selepas tengah malam kami pun berangkat.

    Kilometer sudah dinolkan, tangki bensin sudah dipenuhkan, shalat safar tertunaikan, shalawat sudah dipanjatkan, perbekalan sudah disiapkan, dan fisik sejenak sudah diistirahatkan maka perjalanan dimulai dengan menyusuri terlebih dahulu tol Jagorawi lalu ke Lingkar Luar Cikunir sampai ke tol Cikampek.

    Keberuntungan di tahun lalu tidak berulang di tahun ini. Selepas pintu tol Cikopo mobil kami dialihkan ke jalur kanan untuk melewati Subang karena pertigaan Jomin macet total. Padahal rencana kami adalah untuk singgah dulu di tempat bibi, Lik idah, di Segeran Indramayu. Kalau melalui jalur tengah—Cikopo, Subang, Cikamurang, Kadipaten, Palimanan—sudah pasti kami harus memutar terlalu jauh ke Segeran.

    Sebelum masuk Kalijati Subang saja sudah macet total. Kami pun mematikan mesin mobil. Jam sudah menunjukkan setengah empat pagi ketika kami memulai sahur di atas kendaraan. Kami sudah bertekad untuk tidak mengambil dispensasi untuk tidak berpuasa pada saat menjadi musafir.

Karena saya merasakan betul kenikmatan berbuka di saat orang lain tidak berpuasa dan godaan tawaran pedagang asongan dengan minuman dingin yang berembun di siang terik, apalagi di tengah kemacetan yang luar biasa. Syukurnya Haqi dan Ayyasy juga mau untuk sahur dan berpuasa. Kebetulan pula mobil kami tepat berhenti di depan masjid, sehingga ketika adzan shubuh berkumandang kami dengan mudahnya memarkirkan mobil dan shalat.

Setelah shalat kondisi jalanan ke arah Subang sudah tidak macet lagi. Arah sebaliknya yang menuju Sadang yang macet. Kami melewati Subang menuju Cikamurang dengan kecepatan sedang. Menjelang matahari terbit kami melewati perkebunan pohon-pohon Jati. Indah sekali pemandangan yang terekam dalam mata dan benak menyaksikan matahari yang mengintip di sela-selanya. Dan sempat tertuliskan dalam sebuah puisi yang berjudul Terperangkap. Saya rekam dengan menggunakan kamera telepon genggam dan unggah segera ke blog.

Sebelum Cikamurang kami lewati, lagi-lagi kendaraan kami dialihkan dari jalur biasanya ke arah jalur alternatif. Tentunya ini memperpanjang jarak dan waktu yang kami tempuh sampai Kadipaten. Kemacetan yang kami temui selepas Cikamurang sampai Palimanan hanyalah pasar tumpah. Terutama pasar tumpah di Jatiwangi dan Pasar Minggu Palimanan.

Setelah itu kami melewati jalur tol Kanci Palimanan melalui pintu tol Plumbon. Di tengah perjalanan karena mendapatkan informasi dari teman—yang 15 menit mendahului kami—via gtalk bahwa di pintu tol Pejagan kendaraan dialihkan arusnya menuju Ketanggungan Timur dan tidak boleh ke kiri menuju Brebes maka kami memutuskan untuk keluar tol melalui pintu tol Kanci.

Tapi jalur ini memang padat sekali. Kalau dihitung jarak Kanci hingga Tegal ditempuh dalam jangka waktu lebih dari 3 jam. Jam sudah menunjukkan angka 15.15 saat kami beristirahat di SPBU langganan kami, SPBU Muri, tempat yang terkenal dengan toiletnya yang banyak dan bersih. Shalat dhuhur dan ashar kami lakukan jama’ qashar. Haqi dan Ayyasy sudah protes mau membatalkan puasanya karena melihat banyak orang yang makan eskrim dan minum teh botol. Kami bujuk mereka untuk tetap bertahan. Bedug buka sebentar lagi. Sayang kalau batal. Akhirnya mereka mau.

Setelah cukup beristirahat kami langsung tancap gas. Jalanan lumayan tidak penuh. Pemalang kami lewati segera. Kami memang berniat untuk dapat berbuka di Pekalongan. Di tempat biasa kami makan malam seperti mudik di tahun lalu. Di mana coba? Di alun-alun Pekalongan, sebelah Masjid Agung Al-Jami’ Pekalongan, tepatnya di Rumah Makan Sari Raos Bandung. Yang patut disyukuri adalah kami tepat datang di sana pas maghrib. Beda banget dengan tahun lalu yang maghribnya baru kami dapatkan selepas Pemalang.

Rumah makan ini khusus menjual ayam kampung yang digoreng. Sambalnya enak. Tempatnya juga nyaman. Ada lesehannya juga. Kebetulan pula pada saat kami datang, kondisinya padat banyak pengunjung, dan anehnya kami dapat tempat paling nyaman yang ada lesehannya. Persis di tempat kami duduk setahun yang lalu.

Cukup dengan teh hangat, nasi yang juga hangat, sambal dan lalapan, satu potong ayam goreng, suasana berbuka itu terasa khidmatnya. Yang membuat saya bahagia adalah Haqi dan Ayyasy mampu menyelesaikan puasanya sehari penuh.

Setelah makan dan istirahat kami langsung sholat maghrib dan isya. Walaupun tempat sholat sudah disediakan di rumah makan itu, saya dan Haqi berinisiatif shalat di Masjid Agung Al-Jami’ Pekalongan. Waktu itu suasana masjid ramai karena dekat dengan alun-alun yang sesak dipenuhi pedagang dan pusat perbelanjaan. Kami sempat merekam gambar menara masjid tua ini.

Selepas adzan ‘isya kami segera berangkat kembali untuk menyelesaikan kurang lebih 102 km tersisa perjalanan kami. Batang kami lewati tanpa masalah. Kendal pun demikian. Saya yang tertidur tiba-tiba sudah dibangunkan karena mobil kami ternyata sudah sampai di rumah mertua di daerah Grobogan dekat stasiun Poncol.

Perjalanan kami belum berakhir karena kami memang berniat menginap di rumah kakak. Sekarang gantian saya yang menyetir menuju Tlogosari, Pedurungan. Tidak lama. Cuma 15 menit saja. Akhirnya tepat pada pukul 21.45 kami pun sampai di tujuan.

Wuih… lebih dari 21 jam lamanya perjalanan mudik ini. Saya sempat berpikir lama–kelamaan jarak Bogor Semarang susah untuk ditempuh dalam jangka waktu 12 jam atau lebih sedikit. Tidak seperti di tahun 2007 lalu waktu kami berangkat jam enam pagi sampai di Semarang sekitar pukul tujuh petang dengan suara takbir menggema dan kembang api menghiasi langit.

Tapi apapun yang kami lalui yang terpenting penjalanan itu bisa ditempuh dengan selamat. Saya yakin shalawat yang kami lantunkan menjadi salah satu faktor utama keselamatan kami. Dan berujung pada kebahagiaan kami di lebaran bersama keluarga di kampung. Semoga cerita mudik Anda pun berakhir bahagia.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.37 WIB

6 September 2011

 

Diupload pertama kali di http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/09/06/cerita-mudik-bogor-semarang-21-jam/

Tags: bogor, semarang, ramadhan, mudik, cuti bersama, masjid al-ikhwan, tol jagorawi, lingkar luar cikunir, tol cikampek, tol cikopo, subang, lik idah, segeran, indramayu, cikamurang, kadipaten, palimanan, kalijati, haqi, ayyasy, cikamurang, palimanan, jatiwangi, pasar minggu palimanan, tol kanci palimanan, plumbon, gtalk, pejagan, ketanggungan timur, brebes, spbu muri, pemalang, pekalongan, alun-alun pekalongan, masjid agung al-jami’ pekalongan, rumah makan sari raos bandung, batang, kendal, grobogan, stasiun poncol, tlogosari, pedurungan

HAQI DIKHITAN


HAQI DIKHITAN

    Sehari sebelum D-Day, hari ini, Ahad 3 Juli 2011, Haqi dikhitan. Sebelum shubuh kami sudah bersiap-siap agar kedatangan kami tepat waktu. Dokter yang akan mengkhitan Haqi tempat praktiknya jauh. Dan ia hanya memberikan waktu dari jam lima sampai jam tujuh pagi.

    Haqi umurnya sudah 11 tahun dan memang tidak kami paksa untuk dikhitan sedari dulu. Maunya dia saja kapan. Tetapi tak jemu-jemu kami menyarankannya untuk berkhitan segera dan paling lambat kelas enam sudah harus dikhitan. Beberapa bulan sebelum ujian kenaikan kelas Haqi ternyata sudah minta dikhitan. Katanya malu karena dari seluruh murid laki-laki di kelasnya cuma ada dua orang saja yang belum dikhitan.

    Ya sudah, kami meminta ia bersiap-siap untuk disunat pada liburan panjang ini. Tadinya kami mau mengikutkan Ayyasy untuk sunat sekalian, ternyata dia enggak mau. Kami bilang sama Ayyasy untuk sunat di tahun depan saja waktu naik ke kelas 5 atau di bulan Desember tahun ini saat di pertengahan kelas empat.

    Ditemani sama omnya Haqi, saya tiba di Pura Medika, tempat dokter Bambang berpraktik, tepat pukul 06.30. Ketika kami sampai, kami sudah berada di antrian nomor 3. Pun, di sana sudah ada yang teriak-teriak. Anak yang dikhitan dan teriak-teriak ini pakai metode laser. Sedangkan Haqi kami niatkan dengan metode smart klamp. Yang metode laser ini lama juga. Sedangkan anak yang kedua dikhitan, juga memakai metode yang sama dengan Haqi. Cukup 15 menit.

    Setelah tiba gilirannya, saya dan omnya Haqi masuk. Sesudah suntik sana dan sini cairan penghilang rasa sakit, kemudian dibersihkan, saatnya dipasang tabungnya. Pada waktu pemasangan tabung inilah tiba-tiba, kepala saya kok pusing, dan perut kok mual . Tanda-tanda waktu kejadian donor darah beberapa tahun yang lampu seperti akan terulang. Saya segera keluar untuk meminum teh hangat yang saya bawa dari rumah—terima kasih buat Ummu Haqi yang sudah menyiapkannya.

    Kemudian setelah tenang sedikit saya kembali masuk. Tak seberapa lama, proses khitan itu selesai. Langsung bisa jalan seperti tidak ada apa-apa. Keunggulan metode smart klamp seperti ini. Bahkan bisa langsung beraktivitas seperti sediakala atau berenang sekalipun.

    Setelah membayar ongkos khitan sebesar Rp500.000,00 dan diberikan obat-obatan kami pun berpamitan dengan dokter untuk pulang ke rumah. Muka Haqi sudah terlihat pucat. Ia memang belum sarapan. Saya memintanya untuk meminum teh hangat. Di dalam mobil ia langsung tidur.

    Saya mengirimkan pesan kepada Ummu Haqi untuk mempersiapkan segalanya karena kami sudah dalam perjalanan pulang. Memang sih, tidak ada rebanaan atau marawisan untuk khitanan Haqi ini. Dan kami tidak berniat mengadakan resepsi khitanan. Cukup dengan syukuran buat ibu-ibu satu RT di pekan yang akan datang. Tetapi penyambutan juga perlu buat Haqi untuk memberikan kesan bahwa Haqi telah melewati satu fase kehidupannya untuk menjadi laki-laki sejati dan muslim yang lebih baik lagi.

    Selamat Nak, semoga jadi anak yang sholeh juga. Dan jangan lupa untuk menjaga sholatnya karena kamu sudah baligh. Tanggal 3 Juli akan selalu diingat sebagai hari istimewa buatmu dan buat Abi.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08.47 3 Juli 2011.

Tags: Maulvi izhharulhaq Almanfaluthi, smart klamp, laser, sunat, khitan, dr. bambang, pura medika, bojonggede, bogor, pabuaran, D-Day, haqi, maul, maulvi, ayyasy

CATATAN AWAL TAHUN: IZRAILISME


CATATAN AWAL TAHUN:

IZRAILISME

 

Kalau sudah demikian yang hanya dapat mengingatkan adalah malaikat izrail yang sudah mulai cawe-cawe (menyapa): “Halo Bang? Sudah siap?… pelan-pelan atau kasar nih? Bisa dipilih sih, tapi pilihannya bukan sekarang, tapi waktu masih dikasih kesempatan hidup.”

***

01 Januari 2011

    Tadi malam saya bersyukur sekali bisa tidur nyenyak. Tanpa terganggu sedikit pun suara berisik nyanyian kodok dari orang-orang yang membuang-buang duitnya untuk terompet, petasan, dan kembang api.

    Shubuh berjama’ah di masjid hanya dihadiri oleh 5 orang ditambah Ayyasy yang dari jam tiga pagi tidak bisa tidur. Kebanyakan yang bermalamtahunbaruan tidak shalat shubuh di masjid. Kalaupun tidak tahun baruan juga masjid tetap sama kosongnya.

    Pagi ini, ingin sekali saya berangkat ke Salawu, Tasikmalaya. Berkumpul dengan keluarga besar di sana yang lagi hajatan kawinan. Tapi sayangnya kondisi Bapak lagi tidak fit—pagi ini saat saya tengok di kamarnya, asam uratnya kambuh lagi, kakinya bengkak.

Kinan tadi malam panas banget. Setelah dikasih obat penurun panas dan dipeluk dalam ketelanjangan dada Alhamdulillah sebelum adzan shubuh berkumandang, suhu badannya sudah mulai turun. Tapi kembali ini menyurutkan tekad untuk bisa berbondong-bondong pergi ke Salawu dengan semangat 45.

Saya berharap, keluarga di sana bisa memaklumi atas ketidakdatangan saya. Karena saya pun sebenarnya amat rindu dengan Salawu dan kebersamaannya.

Kemarin saya ditanya oleh teman tentang revolusi resolusi diri. Saya diam saja. Tak tahu akan menjawab apa. Tetapi pagi ini saya jadi tertarik untuk mengungkapkan ini. Yang pasti saya berharap dengan harapan yang sama dengan orang-orang lain: tahun depan adalah lebih baik daripada tahun kemarin.

Lebih khusus lagi saya ingin bisa bermanfaat buat orang lain dengan lebih baik. Bisa tetap semangat menulis. Setiap hari. Menjadi petugas banding yang profesional dan punya integritas. Dari semuanya: keluarga adalah tetap nomor satu. Lebih cinta lagi pada Ummu Haqi, Haqi, Ayyasy, dan Kinan. Terbukti saya tidak bisa berpisah dengan mereka sehari pun dengan riang gembira.

Masih banyak lagi yang lain untuk diungkapkan. Tetapi biarlah itu menjadi sesuatu yang privat buat saya. Orang lain biarlah dengan urusannya masing-masing.

Tentang Indonesia? Berharap negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang hanya takut kepada Allah. Bukan yang takut kepada Amerika, Rusia, China, Eropa, Australia, Israel, beserta antek-anteknya. Dengan segala isme-isme yang menjadi jargon dan sesembahannya seperti imperialisme, kapitalisme, sekulerisme, liberalisme, komunisme, zionisme, stalinisme, leninisme, maoisme, aiditisme, munafikisme, skeptisme, dan ….…… (titik-titik ini buat isme-isme yang berperikebinatangan lain yang tak sempat terpikirkan di pagi ini).

Kalau pemimpin hanya takut pada Yang Diatas, ia tak peduli dengan pencitraan, ia tak peduli dengan topeng, ia tak peduli dengan kroni-kroninya, ia tak peduli mau dipilih lagi atau tidak. Yang dipedulikannya adalah bagaimana negeri ini bisa jadi negeri yang baldatun toyyibatun wa robbun ghoffur. Rakyatnya bisa makan semua. Bisa sehat semua. Bisa sekolah semua. Taqwa semua.

Tentang Indonesia lagi? ya, korupsi enggak ada lagi di muka buminya. Sayangnya para pembenci korupsi selalu berteriak-teriak kepada aparat pemerintah untuk tidak korupsi sedangkan nilai-nilai kejujuran sendiri tidak menjadi sesuatu yang inheren pada diri mereka. Ini sama saja seperti menggarami air lautan. Benahi diri dulu. Introspeksi diri dulu. Sudah jujurkah saya? Kalau sudah dan berkomitmen untuk selalu jujur, bolehlah berteriak. Hancurkan korupsi! Ganyang koruptor!

Pula bagi pengelola negeri ini—pemimpin dan aparaturnya, seberapa keras teriakan para mahasiswa dan rakyat untuk mengingatkan jangan korupsi, ya mbok didengar. Pasang telinga baik-baik. Kalau perlu cek ke dokter THT, untuk memastikan gendang telinganya masih utuh atau sudah bolong. Karena keutuhan gendang telinga menjadi ukuran budek atau tidaknya. Kalau sudah budek, memang dimaklumi untuk tidak mendengar suara-suara itu. Tapi memang enak jadi budek? Apa?! Apa?!

Yang lebih parah lagi adalah kalau nuraninya sudah budek walaupun telinganya tidak budek. Kalau bahasa langitnya adalah buta, tuli, dan bisu. Seberapapun kerasnya peringatan dan teguran untuk tidak korupsi, tetap saja dijabanin untuk hanya dapat memuaskan hawa nafsunya.

Kalau sudah demikian yang hanya dapat mengingatkan adalah malaikat izrail yang sudah mulai cawe-cawe (menyapa): “Halo Bang? Sudah siap?… pelan-pelan atau kasar nih? Bisa dipilih sih, tapi pilihannya bukan sekarang, tapi waktu masih dikasih kesempatan hidup.”

Itu saja. Tak lebih dan tak kurang. Hanya sedikit harapan, yang kata orang sih resolusi diri. Yang pasti saya berkeinginan kepada Allah agar Izrailisme tak menyapa saya pada hari ini.

Semoga terkabul. Amin.

***

 

Riza Almanfaluthi

abdi negara yang lagi belajar jujur

dedaunan di ranting cemara

06.43 01 Januari 2011

 

 

TAGS: imperialisme, kapitalisme, sekulerisme, liberalisme, komunisme, zionisme, stalinisme, leninisme, maoisme, aiditisme, munafikisme, skeptisme, izrailisme, Ummu Haqi, Haqi, Ayyasy, Kinan, salawu, tasikmalaya.

http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/01/catatan-awal-tahun-izrailisme/

 

WO AI NI


Thursday, April 13, 2006 – WO AI NI

Tanggal 13 April enam tahun yang lalu, dini hari, seorang perempuan berjuang sendirian antara hidup dan mati untuk melahirkan jabang bayinya yang pertama, di sebuah rumah sakit swasta milik gereja di Semarang. Berjam-jam tidak kunjung keluar walaupun sudah diberikan berbagai macam perangsang, akhirnya diputuskan proses persalinan itu dibantu dengan alat vakum. Allah masih memberikan kepadanya kesempatan untuk hidup dan mendidik anaknya.
Lalu kemana sang suami…? Ternyata ia masih ada di Jakarta. Ia sedang mengikuti hari terakhir Acara Pengenalan Kampus di sebuah perguruan tinggi khusus untuk Pegawai Negeri Sipil, yang wajib ia ikuti sebagai salah satu syarat mengikuti pembelajaran di kampus tersebut.
Malam harinya di saat ada api unggun di tengah lingkaran besar sebagai acara penutupan, hatinya merasa tidak enak. Seperti ada sesuatu yang telah terjadi. Dan ia teringat akan istri tercintanya itu, sedang apakah gerangan…? Sudahkah perjuangan itu selesai? Ah, yang ia tahu cuma beberapa hari lagi dirinya akan mempunyai jabang bayi. Tapi saat ini ia tak kuasa untuk berbuat apapun, selain acaranya padat juga pada saat itu telepon genggam adalah masih barang langka dan bukanlah barang murah yang bisa ia miliki.
Setelah acara itu selesai, segera ia bergegas ke wartel, untuk menanyakan perkembangan sang istri kepada keluarga besarnya. Berita yang mengejutkan dan menggembirakan, bahwa ia telah menjadi seorang bapak dari seorang bayi laki-laki. Ah, ia tidak menyangka, umurnya pun baru 23 tahun. Benarkah ia kini telah menjadi seorang bapak…?
Petang keesokan harinya, setelah seharian mempersiapkan perbekalan, segera ia bergegas ke stasiun Jatinegara untuk mengejar kereta api terakhir menuju Semarang. Di tengah senja Jakarta, di tambah suasana mendung, lengkap sudah hiruk pikuk dan kemacetannya.
Persis saat ia menurunkan kakinya dari angkot, baru saja terdengar pengumuman bahwa kereta api akan siap untuk diberangkatkan. Segera dengan terburu-buru ia menuju ke loket, antri sebentar, lalu menyerahkan uang, menerima tiket dan uang kembalian, bersamaan itu terdengar peluti panjang, Pritttttttttttttttttttttt……………! Serta deram dari benda yang bergerak semakin cepat.
Semua yang melihat lelaki muda ini berlarian menuju pintu kereta yang masih terbuka itu, menyemangatinya untuk segera mengejar kereta dan meraih pegangan pintu. Cepat…!Cepat…! Huph…dengan satu lompatan panjang dan terakhir mampulah ia meraih besi itu. Meninggalkan tatapan dan senyuman banyak orang dibelakang, pula Jakarta yang kian pekat, malam.
Pfhhhh…ia menghela nafas, mengelap cairan yang membasahi dahinya. Dan angin yang menerobos dari jendela kereta mampu membantu mengeringkan lebih cepat bekas-bekas usaha kerasnya. Tak hanya itu, mampu membuatnya beristirahat panjang, tertidur, dan menganyam mimpi.
Pukul tiga pagi, kereta api itu akhirnya mengakhiri perjalanannya di Stasiun Tawang. Dengan diantar tukang becak, sang suami menuju rumah sakit yang letaknya tidak sampai satu kilometer dari stasiun. Semarang dini hari masih lelap dan belumlah menggeliat.
Halaman depan rumah sakit kecil itu sepi, yang ada hanyalah seorang lelaki berumur yang berjaga-jaga di pintu gerbang. Setelah berbasa-basi sebentar, sang suami mulai mengutarakan maksud kedatangannya untuk menjenguk istrinya yang baru melahirkan.
Tapi apa lacur, penjaga itu tidak memperbolehkannya masuk dikarenakan bukan waktunya untuk membesuk. Tapi setelah diketahui bahwa kedatangannya jauh-jauh dari Jakarta, penjaga itu akhirnya mengizinkan sang suami untuk menemui istrinya, itupun setelah berdiskusi sebentar dengan suster (berkerudung suster gereja). Namun tetap tidak diperbolehkan masuk ke kamar, dan hanya dipersilakan untuk menunggu di bangku panjang khas rumah sakit yang ada di ruang tunggu itu.
Tiba-tiba di saat ia sedang melihat-lihat suasana yang baru saja diakrabinya. Keluar dari kamar paling ujung, sesosok perempuan berjalan di sepanjang lorong. Tertatih-tatih. Perlahan. Dengan salah satu tangannya masih tetap berpegangan pada dinding.
Sosok yang amat dikenalnya setahun belakangan ini menyembulkan senyumnya kepada sang suami yang bersegera meraih tubuhnya dan menuntunnya pada bangku. Namun terlihat oleh sang suami kegelisahan pada wajah istrinya saat ia duduk. Jahitan yang masih baru, terasa mengganggu dan membuatnya tidak betah untuk duduk berlama-lama.
Melihat penderitaan istrinya, yang perlahan dan tertatih-tatih saat berjalan dan wajah masih berhias ringisan, membuat keteguhan sang suami goyah. Matanya mulai berkunang-kunang dan gelap, perutnya terasa mual dan ingin muntah. Ia segera berlari ke toilet dan menumpahkan semua yang ada diperutnya. Ah, kenapa ia bisa jadi begini…? Empati berlebihan atau ketidaktegaan…?
Beberapa menit kemudian…
“Di mana anak kita…?”tanya sang suami.
“Di ruangan khusus bayi, berkumpul dengan bayi yang lainnya,” jawab istrinya.
“Bisa dilihat sekarang, Dek?”
“Sepertinya tidak bisa, Mas. Soalnya sudah peraturan di sini, bayi bisa dikeluarkan kalau saatnya menyusui memakai ASI. Mungkin mas besok lagi kesini. Sekarang pulang saja dulu ke ibu. Istirahat dulu ya, Mas.”
“Ya, sudah kalau begitu. Tidak ketukar kan dengan yang lain?” sedikit cemas, apalagi di rumah sakit seperti ini.
“Insya Allah, tidak.”
“Maafkan Mas ya Dek…tidak bisa menemani Adek kemarin.” Sang istri mengangguk sambil tersenyum.
Pergilah sang suami menuju pintu dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan dari istrinya. Tiba-tiba ia berbalik, “Dek…mirip siapa dia?”
“Mirip bapaknya.”

Malam pun pupus, kerana shubuh mulai bangun.
####

Ah, ingatan enam tahun lalu, membuatnya senantiasa memandang dengan kecintaan dan kerinduan pada wajah lelap anaknya itu. Berdoa agar ia menjadi anak yang shalih, dan tidak hanya itu, menjadi pejuang bagi addin-nya.
Ah, ingatan enam tahun lalu, membuatnya senantiasa introspeksi diri, betapa banyak waktu yang terbuang karena dunia, dan menyia-nyiakan golden age serta kebersamaan dengan anaknya yang sudah mulai tumbuh dengan segala keriangan dan kepolosannya.
Ah, ingatan enam tahun lalu, membuatnya senantiasa menyadari bahwa buah hatinya itu adalah asetnya yang paling berharga dan bukan beban. Pula ini adalah amanah yang tiada terkira hitungan bilangannya, bahkan senilai dengan jaminan dikeluarkan diri dari siksa api neraka.
Ah, ingatan enam tahun lalu, membuatnya senantiasa bersabar atas segala perilaku, menjawab sebisa mungkin segala tanya, dan untuk menjadi yang senantiasa dirindukan dan dicarinya saat membutuhkan perlindungan dan kasih sayang. Walaupun tidak seaman dan seabadi perlindungan dan kasih sayang Allah.
Ah, ingatan enam tahun lalu membuatnya berusaha mencari apa yang diminta anaknya pada ibunya tadi pagi sebelum berangkat kantor. “Bu…hadiahnya buku ya Bu. Buku yang ada jamnya itu loh. Soalnya Iz mau belajar jam-jaman, Bu” pintanya.
Ah, ingatan enam tahun lalu membuatnya berusaha untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan setiap momen-momen penting anaknya—yang bisa jadi tidak bermakna buat yang lain—hanya agar kelak anaknya tahu betapa ia mencintai dirinya.
Ah, ingatan enam tahun lalu dan ingatan pagi ini, membuatnya ia teringat sepenggal ayat ini:
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (AlKahfi:46)
Ah, ingatan enam tahun lalu dan pagi ini, membuat harapnya membuncah ke angkasa. Tidak hanya satu tapi berjuta harap untuk kebaikan diri dan anaknya pada SangPengabulHarap.
Ah, saat ini ia berkata: “aku mencintaimu, istriku…”
Dan ia pun berkata lagi: “aku mencintaimu, anakku…”