Geger Besar Sebelum Perang Jawa-Resensi Buku Geger Sepoy


Sewaktu saya masih di SMP, sekolah saya mengadakan darmawisata ke Yogyakarta. Usai itu kami harus menulis laporannya. Kelompok kami mengambil tema Benteng Vredeburg. Saya baru tahu sekarang, benteng inilah yang digunakan Inggris untuk memeriam Keraton Yogyakarta.

Saat pasukan Inggris di masa kepemimpinan Raffles menaklukkan Kesultanan Yogyakarta, isi Keraton Yogyakarta dijarah sampai habis. Ini 13 tahun sebelum terjadinya Perang Jawa yang melibatkan Pangeran Diponegoro.

Harta sebanyak 800.000 dolar Spanyol—sekitar 50 juta dolar Amerika Serikat pada saat ini—dijarah dan dibagikan untuk opsir dan bala tentara. Harta keraton sebanyak 68 peti atau setara 15 ton dan senilai 25 juta dolar Amerika Serikat dibawa ke Calcuta, India.

Belum lagi harta yang tidak ternilai seperti ratusan manuskrip, arsip keraton, dan gamelan dibawa ke Inggris. Para pangeran dan abdi dalem dijadikan kuli untuk mengangkut jarahan tersebut melewati alun-alun utara menuju Benteng Vredeburg.

Lilik Suharmaji memotret peristiwa tersebut dalam buku yang berjudul Geger Sepoy dan terbit pada Maret 2020.

Sultan Hamengku Buwono II atau biasa dikenal dengan Sultan Sepuh memang tokoh yang tidak mengenal kompromi dengan pihak asing yang menginjak-injak harga diri kesultanan. Itulah mengapa dia berkali-kali naik turun tahta.

Mengikuti pergolakan dan perang di Eropa maka pihak asing di tanah Jawa pada akhir tahun 1700-an dan awal 1800-an berkutat pada tiga negara yaitu Belanda, Perancis, dan Inggris.

Sultan Sepuh diturunkan dari tahtanya pertama kali pada tahun 1810, pada saat Daendels sebagai wakil Perancis dan Gubernur Jenderal berkuasa. Penyebabnya adalah Sultan Sepuh dianggap berada di balik peristiwa pemberontakan Raden Ronggo Prawirodirdjo III melawan Belanda.

Kesultanan diserahkan kepada putra mahkotanya, Pangeran Surojo sebagai Hamengku Buwono III—ayah dari Pangeran Diponegoro. Sultan Sepuh masih diizinkan tinggal di keraton.

Yang kedua, pada saat Raffles berkuasa. Sehabis Geger Sepoy itu, pada 1812, Sultan Sepuh diturunkan dari tahta dan karena pengaruhnya masih kuat di kalangan pengikut dan rakyatnya, Sultan Sepuh diasingkan ke Penang dan Ambon

Pada saat Perang Jawa dimulai dan Belanda kalang kabut menghadapi kekuatan Pangeran Diponegoro, Sultan Sepuh pulang dari pembuangan di Ambon dan diangkat kembali menjadi sultan pada 1826. Pesannya cuma satu, membujuk Pangeran Diponegoro untuk menyerah.

 

Sedikit Prajurit Inggris

Saat Inggris mengalahkan pasukan Perancis dan Belanda kemudian menguasai Jawa, Raffles meratifikasi perjanjian antara Belanda dan Kesultanan Yogyakarta. Antara lain, tanah-tanah yang diambil Daendels akan dikembalikan kepada Sultan kecuali Grobogan dan gerbang pemungutan pajak dan cukai diambil alih Inggris dengan Sultan akan mendapatkan kompensasi sebesar 80 ribu dolar Spanyol.

Sultan tidak puas dan menganggap hak-hak yang dirampas pada saat Daendels berkuasa tidak dikembalikan secara utuh. Ini yang menyebabkan terjadinya Geger Sepoy ditambah di Keraton Yogyakarta terjadi keterbelahan.

Pertama, kelompok Sultan Sepuh yang antiasing. Kedua, kelompok Putra Mahkota. Ketiga, kelompok oportunis yaitu Pangeran Notokusumo dan Notodiningrat. Keduanya setelah peristiwa Raden Ronggo dikorbankan oleh Sultan Sepuh untuk ditawan Daendels.

Pada saat Inggris menyerang Keraton Yogyakarta, Inggris mengerahkan 1200 pasukannya. Hanya 1200 saja. Coba bayangkan. Sedikit sekali dibandingkan pasukan Sultan sebanyak 17.000 prajurit dan 100.000 rakyat yang memakai bambu runcing.

Bedanya adalah yang sedikit itu terlatih dalam menggunakan senjata api. Prajurit Yogyakarta ahli dalam memanah dan memakai tombak. Tembakan mereka sering meleset ketika menggunakan senjata api.

Pasukan Inggris sendiri terdiri dari 500 serdadu India yang disebut sebagai serdadu Sepoy, 500 serdadu Inggris, dan 200 prajurit tambahan dari tangsi di Salatiga.

Perang sesungguhnya terjadi adalah perang meriam antarkedua benteng, yaitu Benteng Vredeburg—tempat Pasukan Inggris bermarkas—dan Benteng Baluwarti.

 

Londo Ireng

Mengapa yang sedikit ini bisa menang atas yang banyak? Ini karena dibantu para Londo Ireng (Belanda Hitam), pribumi yang setia kepada pihak asing. Mereka yang dalam hitung-hitungan sangat pragmatis, lebih baik bekerja sama dengan asing daripada hancur lebur.

Siapa saja? Ada prajurit Mangkunegara bentukan Daendels dan dipimpin Pangeran Prangwedono. Nama yang disebut terakhir ini merupakan cucu dari Raden Mas Said, pendiri Kadipaten Mangkunegaran, yang sangat antikolonial. Dalam Geger Sepoy, terdapat 500 prajurit yang tergabung dalam Legiun Mangkunegaran.

Legiun Mangkunegaran ini yang kemudian kelak menjadi legiun yang melawan pasukan Pangeran Dipenegoro dalam Perang Jawa dan Perang Aceh pada 1873-1874. Sampai sekarang apabila ada makam dengan batu nisan bertuliskan nama Jawa di Kerkhof Peucut, Banda Aceh mereka dipastikan adalah bagian dari Legiun Mangkunegara yang tewas dalam perang besar itu.

Kemudian ada pihak Pangeran Notokusumo dan Notodiningrat. Setelah Geger Sepoy, Inggris mengambil sebagian wilayah Kesultanan Yogyakarta dan diberikan kepada Notokusumo. Berdirilah Kadipaten Pakualaman. Status Notokusumo disamakan dengan seorang raja yang merdeka, tidak wajib tunduk kepada Sultan Hamengku Buwono III, dan tunduk langsung kepada pemerintah Inggris.

Seperti biasa, penjajah menggunakan taktik memecah wilayah agar tidak terjadi persatuan. Ini juga yang dulu dilakukan dalam Perjanjian Giyanti dengan memecah Mataram menjadi dua: Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Yang terakhir adalah Kapiten Tan Ji Sing, seorang keturunan priyayi Jawa dari Wonosobo yang diangkat anak oleh keturunan Cina bernama Oei Tek Liong. Tan Ji Sing adalah sahabat kental Putra Mahkota dan Raffles. Dalam penyerbuan ke Yogyakarta, Tan Ji Sing menyediakan ratusan tangga untuk menaiki Benteng Baluwarti dan menyerbu ke dalamnya. Usai Geger Sepoy, ia diangkat menjadi abdi dalem dan mendapatkan tanah meliputi 14 desa di daerah Bagelen dan Yogyakarta.

 

Kasunanan Surakarta

Bagaimana dengan Kasunanan Surakarta dalam pusaran konflik antara Kesultanan Yogyakarta dan Inggris?

Sikap Kasunanan Surakarta ini pada dasarnya mendua. Sunan Paku Buwono IV yang membujuk Sultan Sepuh agar sama-sama melawan Inggris. Dengan adanya keberpihakan Kasunanan Surakarta kepada Kesultanan Yogyakarta membuat Sultan Sepuh bertambah percaya diri.

Namun, di detik-detik penyerbuan Inggris ke Yogyakarta, sikap Sunan berubah. Ia gentar dengan unjuk kekuatan Inggris di Alun-alun Utara Keraton Surakarta. Akhirnya ia tidak jadi mengirim pasukan untuk membantu Yogyakarta. Sebanyak 400 prajurit Kasunanan dikerahkan membantu Inggris walaupun hanya diparkir di perbatasan Yogyakarta dan Surakarta.

Pada dasarnya Surakarta juga punya kepentingan untuk melihat kehancuran Yogyakarta. Sebelum ada Perjanjian Giyanti, wilayah Yogyakarta adalah milik Mataram. Jadi, kehancuran Yogyakarta adalah kesempatan untuk mendapatkan Yogyakarta kembali seperti di masa nenek moyangnya dulu. Keuntungan lainnya mendapatkan desa-desa penghasil sarang burung yang dulu pernah menjadi pundi-pundi kasunanan.

Usai Geger Sepoy, Yogyakarta memang takluk, tetapi Inggris tahu ternyata Kasunanan Surakarta bermain dua kaki. Pada akhirnya, Kasunanan Surakarta bukannya mendapatkan untung, malah buntung. Sebagian wilayah Kasunanan seluas 1000 cacah diberikan kepada Mangkunegaran sebagai hukuman.

Pemenang perang memang berkuasa dan selalu meminta konsesi, sekalipun sangat merugikan pihak yang kalah. Sejarah terus berulang sampai Indonesia modern.

Buku Lilik Suharmaji bagus, seperti permukaan telaga yang bening dan bisa menjadi tempat berkaca, bahwa kemenangan pihak asing selalu ada cerita tentang pihak sekawan seiring yang pragmatis, bersekutu dengan asing, menjadi boneka, dan kedaulatan yang terampas.

***

 

Judul Buku: Geger Sepoy, Sejarah Kelam Perseteruan Inggris dengan Keraton Yogyakarta (1812-1815).

Penulis: Lilik Suharmaji

Penerbit: Araska

Jumlah Halaman: 304

Tahun terbit: 2020

Artikel ini telah terbit di Majalah Elektronik DJP Intax Edisi II Tahun 2020.

‘Sapiens’ Yuval antara Perang, Eropa, dan Vitamin C


Photo by GEORGE DESIPRIS on Pexels.com

Kekuatan Eropa pada 1750 hanya cebol. Di tahun-tahun itu, membayangkan Eropa setara dengan Osmani, Mughal, atau Qing adalah khayalan. Sepuluh dekade kemudian waktu membaliknya.

Buku ini memang meneruskan cara berpikir Carl Sagan, evolusionis, dan tak memercayai teori penciptaan.

Continue reading ‘Sapiens’ Yuval antara Perang, Eropa, dan Vitamin C

Sekali dalam 10 Generasi Manusia Lahir Buku yang Tak Pernah Usang


Seorang penulis buku datang ke kubikel saya pagi ini.

Namanya Agus Muslim. Ia membawa dua bukunya yang baru terbit pada Februari 2021 dan menghadiahkannya kepada saya.

Continue reading Sekali dalam 10 Generasi Manusia Lahir Buku yang Tak Pernah Usang

Capek-Capek Lari 10 Km Hanya Untuk Mengambil Ini


Beberapa pekan lalu, seorang pelari datang ke rumah saya pagi-pagi. Ini yang kedua kalinya ia mengambil buku dengan berlari dari rumahnya.

Sebelumnya di tahun 2020, ia pernah datang ke rumah untuk mengambil buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini. Ceritanya pernah saya bagi di sini.

Baca Lebih Lanjut

Jangan Bikin Google Marah


The Four

Teman saya pernah bilang, “Letakkan iPhone di meja dan kita akan lihat siapa yang akan datang menghampiri mejamu.”

 

Saya tidak salah memilih buku ini untuk dibeli di antara ribuan buku lainnya yang saya cek satu persatu di sebuah situs web toko buku daring.

Baca Lebih Lanjut

Testimoni Buku Dari Tanzania ke Tapaktuan: Mewarnai Perjalanan di Ujung Timur Negeri


Seorang teman bernama Yayat Supriyatna yang bertugas di Jayapura, Tanah Papua telah memiliki dan membaca buku Dari Tanzania ke Tapaktuan, Titik Tak Bisa Kembali, Kisah Lelaki Menaklukkan Ego dengan Berlari.

Alhamdulillaah ia berkesempatan memberikan testimoninya atas buku itu. Saya sunting sedikit penulisannya tanpa mengubah substansinya, semata agar lebih mudah dibaca. Berikut testimoninya.

Continue reading Testimoni Buku Dari Tanzania ke Tapaktuan: Mewarnai Perjalanan di Ujung Timur Negeri

Propaganda dan Public Relations: Tak Ada Bedanya dengan Squealer Jika…


Buku ini terbit 75 tahun lalu di Inggris tepat pada saat Indonesia memproklamasikan dirinya sebagai negara berdaulat. Baru saya baca terjemahannya pada akhir 2020. Ke mana saja saya selama ini?

Continue reading Propaganda dan Public Relations: Tak Ada Bedanya dengan Squealer Jika…

Tak Bisa Matematika Bukan Berarti Anakmu Goblok



Otaknya cemerlang, tetapi orang ini tidak suka sekolah. Nilai-nilainya buruk dan tak suka mengikuti pelajaran sekolah. Orang ini berpikir, di sekolah ia tidak bisa menjadi apa-apa. Ia keluar.

Kepala sekolahnya meramal, “Saat berusia 21 tahun, Richard bisa saja berada di penjara, tetapi bisa juga menjadi jutawan. Saya sama sekali tidak tahu yang mana.”

Baca Lebih Lanjut

Buku Terbaru Riza Almanfaluthi: Dari Tanzania ke Tapaktuan, Titik Tak Bisa Kembali, Kisah Lelaki Menaklukkan Ego dengan Berlari


Joe Simpson memulai mendaki gunung Siula Grande di pegunungan Andes dengan ketinggian 6.344 meter, Peru bersama Simon Yates pada 6 Juni 1985. Pada saat turun gunung dua hari kemudian, musibah terjadi, Joe tergelincir sehingga meremukkan tungkai kaki kanannya.

Ditemani Simon, perjalanan ke bawah menjadi lambat. Sampai suatu ketika, saat Simon menurunkan Joe, Joe tergelincir dari tepi gunung. Ia terayun-ayun di ketinggian dengan hanya seutas tali yang tertambat di tubuh Simon. Jurang menganga ratusan kaki di bawah Joe. Angin berembus kencang dengan banyak salju. Kemudian Joe jatuh. Simon pergi ke perkemahan karena menyangka Joe telah mati.

Baca Lebih Lanjut

Bedah Buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini: Dakwah Milenial, Dakwah Literasi


Menjelang penerbitan buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini cetakan yang keenam, saya diundang untuk menjadi pembicara dalam sebuah acara bedah buku tersebut yang diselenggarakan oleh DKM Shalahuddin, Kompleks Kantor Pajak Kalibata, Jakarta Selatan (Selasa, 29/10).

Sebagai pembedah buku dalam acara yang bertajuk Dakwah Milenial, Dakwah Literasi adalah Ustaz M. Irfan Abdul Aziz. Ustaz muda ini merupakan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena dan lulusan Universitas Islamabad, Pakistan.

Baca Lebih Lanjut