Testimoni Seseloki Seloka di Pinggir Selokan: Bagaikan Gelombang Ombak di Pantai Selatan


Beberapa waktu lalu, kawan saya sekaligus pembaca buku Seseloki Seloka di Pinggir Selokan bernama Ikhwanudin membagikan foto dan narasi tentang kesaksiannya saat membaca buku sajak-sajak saya tersebut.

Ia menuliskannya di saat sedang menunggu kereta api malam yang akan membawanya ke Semarang. Ia kemudian menyebarkan foto dan narasi itu di grup Whatsapp dan akun Instagramnya. Tentunya buat saya, apa yang dilakukannya sangat berharga. Saya berterima kasih kepadanya.

Baca Lebih Lanjut

Seperti Matahari, Tanah Basah, dan Pelangi Seusai Hujan


Jumat itu saya bersilaturahmi kepada Ibu Aan Almaidah Anwar atau A3. Beliau biasa diinisialkan seperti ini. Adanya di lantai 25 Gedung Mar’ie Muhammad Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak.

Sesaat hendak menuju meja kerjanya yang tidak berada di ruangan khusus—karena sudah menerapkan metode flexible working space (WFS)—panggilan menyeruak.

Baca Lebih Banyak

Sebuah Testimoni: Buku Sajak di Awal Tahun yang Layak Anda Baca


Salah satu pembaca buku tingkat akut adalah Sigit Raharjo. Ia juga pembaca buku puisi Seseloki Seloka di Pinggir Selokan.

Ia menuliskan ulasan singkat di akun Instagramnya dengan nama @om.sig. Buat saya ulasannya berharga. Apa katanya setelah mendapatkan dan membaca buku tersebut?

Langsung saja kita simak testimoninya.

Baca Lebih Lanjut

Psikologi Uang: Sabar dan Tamak


Seperti Steven Spielberg, sebagian masyarakat Indonesia tergiur investasi dengan imbal hasil tak masuk akal.

Pada pertengahan Desember 2021 lalu, terbongkar investasi bodong alat kesehatan hingga mencapai Rp1,2 triliun. Tergoda dengan keuntungan luar biasa, investor menyerahkan uangnya untuk dikelola. Bukannya untung, malah bencana yang datang. Mereka tertipu investasi yang menggunakan skema Ponzi.

Continue reading Psikologi Uang: Sabar dan Tamak

Di Balik Layar Seseloki Seloka di Pinggir Selokan


Merah Buku

Tidak tebersit dalam benak saya untuk menerbitkan buku kumpulan sajak dalam waktu dekat. Sebabnya, saya sedang menulis buku lain dengan tema khusus.

Apa daya, diselingi dua proyek buku formal dari kantor konsentrasi saya terpecah. Saya belum sempat meneruskan naskah buku keempat saya itu.

Baca Lebih Banyak

Buku Sajak Itu Tiba di Masjid Nabawi


“Tiga genting jatuh di talang,” kata istri.

“Kok bisa?” tanya saya.

Baca Lebih Lanjut

Membaca Seloka dari Panggung ke Panggung


Membaca puisi itu seperti makanan sehari-hari waktu SD dulu. Saya pernah ikut juara membaca puisi dan menang. Membaca puisi di Malam Puncak 17 Agustusan tingkat kelurahan juga sering.

Pernah suatu ketika, puisi wali kelas saya bacakan di atas panggung malam Agustusan itu. Ada yang saya sesali di sana. Namanya lupa saya sebut setelah judul puisinya. Barangkali waktu itu saya lagi demam panggung, berdiri di hadapan ratusan orang. Pak Mastara, nama guru SD itu, mengingatkan saya soal itu setelah saya turun panggung. Ia tidak marah. Adegan ini puluhan tahun lalu itu, masih terekam di benak saya sampai sekarang.

Baca Lebih Banyak

Bomber Mafia: Bau Daging Terbakar di Langit Tokyo


Buku ini buku paling tipis yang pernah ditulis oleh Malcolm Gladwell sampai saat ini.

Ini wajar karena buku berjudul Bomber Mafia: Mimpi, Godaan, dan Malam Terpanjang pada Perang Dunia II mulanya ditulis dalam format buku audio yang kemudian diubah menjadi buku cetak.

Baca Lebih Banyak

Sebagai Titik Temu Chef d’oeuvre


Sewaktu SMP saya sering berkunjung ke perpustakaan di sela-sela jam istirahat dan jam kosong pelajaran. Membaca banyak buku terutama cerita pendek dari para pengarang terkenal dunia. Salah satunya Rabindranth Tagore.

Pemenang Nobel bidang sastra pada 14 November 1913 ini pernah mengunjungi Jawa, Bali, Kuala Lumpur, Malaka, Penang, Siam, dan Singapura pada 1927. Tagore menuliskan catatan perjalanan itu dalam karya yang berjudul Jatri.

Baca Lebih Banyak

Geger Besar Sebelum Perang Jawa-Resensi Buku Geger Sepoy


Sewaktu saya masih di SMP, sekolah saya mengadakan darmawisata ke Yogyakarta. Usai itu kami harus menulis laporannya. Kelompok kami mengambil tema Benteng Vredeburg. Saya baru tahu sekarang, benteng inilah yang digunakan Inggris untuk memeriam Keraton Yogyakarta.

Saat pasukan Inggris di masa kepemimpinan Raffles menaklukkan Kesultanan Yogyakarta, isi Keraton Yogyakarta dijarah sampai habis. Ini 13 tahun sebelum terjadinya Perang Jawa yang melibatkan Pangeran Diponegoro.

Baca Lebih Lanjut