1453, Sejarah Anjing-Anjing Kafir yang Ditulis oleh Mereka yang Kalah


012917_1344_1453Sejarah1.jpg

Di Eropa,  citra Turki menjadi kata lain dari kekejaman dan kebengisan. Sejak 1536, kata Turk dipakai dalam bahasa Inggris dengan pengertian, menurut Oxford English Dictionary, “Seseorang yang berperilaku barbar dan biadab. Webster New Collegiate Dictionary menyebutnya begini, ”One who is cruel or tyrannical.”

Stigma ini setelah penaklukkan Konstantinopel pada 83 tahun sebelumnya oleh Muslim Turki Utsmani. Tahun 1453 menjadi khas dan istimewa karena dia adalah sejarah yang justru banyak ditulis oleh pihak yang kalah. Roger Crowley—penulis buku 1453 Detik-detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim—menulis demikian di bab Tentang Sumber buku itu.

Continue reading 1453, Sejarah Anjing-Anjing Kafir yang Ditulis oleh Mereka yang Kalah

Advertisements

The Martian: Si Penghuni Mars



Mark Watney tidak menyangka badai Mars membuatnya harus ditinggal anggota tim Ares 3 yang lain karena dianggap tewas. Tidak ada alat komunikasi yang menghubungkannya dengan Hermes—pesawat pulang pergi Bumi Mars—apalagi dengan Houston di Bumi. Mark harus bertahan hidup dengan segala cara sampai bantuan Ares 4 tiba dari Bumi. Tapi itu butuh waktu lama. Kini yang terpenting adalah bagaimana caranya agar Bumi tahu dia masih hidup.

Sol demi sol ia lalui. Satu sol 39 menit lebih lama dari satu hari. Sebagai seorang ahli botani dan “tukang serba bisa” dalam ekspedisi Mars maka Mark dengan segala cara mendadak menjadi seorang ahli kimia sekaligus ahli fisika untuk bisa bercocok tanam kentang di Hab (tenda pangkalan), memproduksi air, dan menghasilkan oksigen.

Baca Lebih Lanjut.

LEIDEN! Kepemimpinan Yang Menginspirasi


 

COVER LEIDEN - DUTA MEDIA TAMA

Ini bukan soal kota dan universitas tertua di Belanda yang bernama Leiden. Juga bukan membicarakan subjek. Melainkan soal predikat dalam bahasa belanda, leiden, yang berarti memimpin. Pekerjaan seorang pemimpin. Salah satu kriterianya ada dalam cerita ini.

Satu persamaan antara logo Bonek Persebaya Surabaya dan LA Mania Persela Lamongan adalah keduanya memakai wajah suporter yang sama. Bedanya logo Bonek Persebaya memakai ikat kepala sedangkan LA Mania tergambar dengan blangkon. Menariknya, kedua logo ini terinspirasi dari sosok yang sama. Pemuda gagah berani bernama Kadet Soewoko.

Pada 9 Maret 1949, tujuh orang menghadang segerombolan Belanda bersenjata lengkap.  Soewoko dengan  segelintir pasukannya tak pernah gentar menghadapi mereka. Serangan gencar dilancarkan menyebabkan banyak serdadu Belanda terjengkang.  Tapi keadaan berbalik. Belanda mengepung. Sampai Soewoko akhirnya tertembak dan terluka parah.

Baca Lebih Lanjut.

Cinta Tak Lekang Sabari



Judul        : Ayah

Penulis    : Andrea Hirata

Penerbit    : Bentang Pustaka

Terbit    : Cetakan Keenam, Agustus 2015

Tebal     : xx + 412 halaman

Sabari sudah kadung cinta kepada Marlena sejak SMP, sampai SMA, kemudian lulus. Tapi apa daya cintanya selalu ditolak Lena. Tak pernah hidupnya berpaling dari Lena, si cantik pemberontak berlesung pipit, hingga semua yang dikerjakan dalam hidupnya hanya untuk sebuah obsesi: cinta Lena.

Kemudian Sabari ketiban pulung, kalau tidak disebut mengorbankan dirinya. Karena suatu sebab, Sabari diminta Markoni untuk menikahi Lena. Walau mereka sudah menikah, tak pernah mereka hidup serumah. Hingga Si L dan seluruh kebaikan yang dibawa—sebutan Sabari kepada Lenamelahirkan anak yang kemudian biasa dipanggil Zorro.

Baca Lebih Lanjut.

Dokter Cilik dan Stetoskop Ajaibnya



Judul            : Syifa dan Stetoskop Ajaib

Penulis        : Sri Widiyastuti

Penerbit        : DAR! Mizan

Tahun        : 2015

Tebal            : 124 Halaman

ISBN            : 978-602-242-743-8

Syifa anak kelas tiga sekolah dasar yang bercita-cita menjadi dokter. Mama Syifa mengikutkan Syifa ke ekstrakurikuler dokter kecil di sekolahnya. Suatu ketika, ia mengikuti lomba dokter kecil tingkat sekolah dasar yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kota Bogor.

Tak menyangka ia menjadi juara pertama lomba itu. Sebagai hadiahnya Syifa mendapatkan piala dan sebuah stetoskop berwarna merah. Ajaib, alat yang biasa dipakai dokter dan digunakan untuk memeriksa suara dalam tubuh ini ternyata bisa bicara dan bergerak-gerak. Benda itu hidup.

Ayaya, stetoskop ini namanya Stevi. Dulu Stevi memiliki seorang tuan yang sudah menjadi dokter spesialis. Stevi mencari tuan barunya. Syifalah orangnya. Akhirnya Syifa dan Stevi menjalin persahabatan dan memulai petualangan-petualangan barunya.

Baca Lebih Lanjut.

APPLE VS GOOGLE: Perseteruan Korporasi Besar yang Melahirkan Revolusi Teknologi Digital



Judul Buku    :     Apple vs Google: Perseteruan Korporasi Besar yang Melahirkan Revolusi Teknologi Digital

Penulis        :    Fred Vogelstein

Penerbit    :     Bentang

Cetakan    :     2015

Tebal        :     viii + 372 hal

Kematian perusahaan ternama di industri teknologi ini benar adanya dan sudah memakan banyak korban. Akankah terulang lagi?

Apple dan Google terkenal sebagai perusahaan peraup laba terbesar dan pencipta inovasi penting. Apple dengan iPhone dan Google dengan Androidnya. Jauh sebelum itu Apple menciptakan Macintosh dan iPod. Google dengan mesin pencari kelas wahid. Memang ada beda. Ini seperti sesuatu yang tidak bisa dipertarungkan. Yang satu menghasilkan perangkat keras, sedangkan yang lainnya dengan perangkat lunaknya.

Lalu apa yang diperebutkan oleh dua perusahaan terbesar di dunia ini? Platform. iPhone dan Android sedang memperebutkannya. Pemenang perseteruan ini biasanya mendapatkan pangsa pasar dan laba melebihi 75%. Yang kalah hanya bisa berjuang agar bisa bertahan.

Baca Lebih Lanjut.

KOMPASIANA HANYA KOLAM KECIL


Kompasiana Hanya Kolam Kecil

 


Ini mah bukan kolam tapi telaga. 😀 (Gambar diambil dari sini)

 

Saya mau bercerita sedikit. Mau memberikan pilihan kepada Ayah dan Bunda yang ingin menyekolahkan anak-anaknya. Saya mengilustrasikannya seperti ini. Ada anak cerdas di Amerika Serikat. Ia mencintai pelajaran matematika, kimia, fisika, biologi, dan ilmu pasti lainnya. Cita-citanya menjadi seorang ahli sains. Selepas SMA ia memilih kuliah di kampus yang ternama dan bonafide untuk menggapai cita-citanya. Di sebuah universitas tempat anak-anak cerdas berkumpul.

Untuk dapat belajar di kampus itu ia harus melalui ujian SAT. Ujian yang digunakan di banyak sekolah tinggi Amerika Serikat sebagai tes masuknya. Mungkin kalau di Indonesia adalah SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri)-nya. Di universitas terkenal itu ia memilih jurusan sains tentunya. Ia lulus dan dapat belajar di sana.

Tapi apa yang terjadi? Di tengah perkuliahan ia gagal dan memilih keluar serta berpindah jurusan ke ilmu sosial. Padahal ia sudah menyadari kenyataan untuk tidak menjadi nomor satu di antara orang-orang cerdas itu. Bahkan ia sangat sadar ketika menjadi mahasiswa biasa-biasa saja bahkan paling bawah sekali pun. Ia tak berharap untuk menyaingi mereka. Targetnya adalah mampu bertahan kuliah.

Namun ia tetap bekerja keras untuk dapat menyamai kecerdasan dan mengikuti irama kepandaian dari mahasiswa cerdas di kelasnya itu. Tapi ia selalu mendapatkan nilai B minus seberapa pun kerasnya usaha belajarnya itu. Nilai-nilai yang tak pernah ia dapatkan di SMA-nya dulu. Katanya, teman-temannya itu sampai pada suatu titik egoisme untuk tidak mau berbagi ilmu karena ketat nya kompetensi. Dosennya sampai bilang juga kepadanya untuk tak perlu ikut mata kuliah ini. Ia menyerah. Ia gagal.

Kalau saja ia memilih universitas yang pertengahan, maka ia akan bisa mengikuti irama kuliah dan menjadi terbaik di kelasnya. Ia pun akan tetap pada jalurnya untuk menjadi ahli sains. Ia tidak bodoh. Ia cerdas. Tapi ia salah dalam memilih. Ia tidak membandingkan dirinya dengan mahasiswa di luar kampusnya. Ia hanya menjadikan teman-teman kampusnya sebagai benchmark. Itu membuatnya merasa bodoh dan tak berguna.

Universitas ternama itu adalah kolam besar dan anak cerdas itu ikan kecilnya. Sedangkan jika ia memilih universitas biasa saja atau universitas pertengahan ia sesungguhnya adalah ikan besar dan universitas biasa itu adalah kolam kecilnya. Ayah dan Bunda ingin menjadikan anak Ayah dan Bunda ikan besar di kolam kecil atau ikan kecil di kolam besar?

Karena berdasarkan penelitian, tak ada signifikansi pengaruh almamater terhadap perolehan pendapatan setelah lulus kuliah. Berdasarkan penelitian pula ada perbandingan seperti ini dengan contoh sederhana. Ada 100 anak tercerdas yang nilai SAT-nya tinggi kuliah di jurusan sains Harvard . Seratus anak yang SAT-nya rendah di bawah daripada mereka yang kuliah di Harvard, kuliah di jurusan sains universitas biasa saja. Dua universitas ini mempunyai metode dan sistem pengajaran yang sama. Ternyata masing-masing dari universitas itu hanya bisa meluluskan 50% saja mahasiswa mereka.

Ini aneh. Seharusnya mereka yang nilai SAT-nya tinggi dan bisa kuliah di Harvard tentu lulus semua. Atau dengan kata lain mahasiswa yang SAT-nya rendah daripada mahasiswa Harvard dan hanya bisa kuliah di universitas biasa saja itu yang tak akan mampu lulus kuliah jurusan sains. Tapi kok malah ada mahasiswa Harvard yang tidak lulus kuliah.

Ini artinya adalah banyak sekali yang mau jadi ikan kecil di kolam besar dengan risiko ia tidak bisa menjadi apa yang diidamkannya, dan tidak memilih menjadi ikan besar di kolam kecil hanya karena gengsi dan kehormatan.

Anak yang saya ceritakan di atas sampai bilang: “Kalau saja saya kuliah di universitas biasa saja itu, saya bakal masih di bidang yang saya cintai dan menjadi ahli sains.” Yang lain bilang: “Lucu sekali banyak mahasiswa matematika dan fisika yang pada akhirnya drop out dan masuk kuliah hukum, setelah lulus menjadi pengacara atau konsultan pajak.”

Saya paham, perusahaan di di Amerika Serikat memilih orang-orang yang terbaik berdasarkan apa yang dihasilkannya bukan semata dari almamater mana ia lulus. Tapi untuk diterapkan di Indonesia mungkin masih cukup sulit karena masih memandang dari mana Anda kuliah. Ini untuk urusan dunia pendidikan. Tapi untuk dunia lainnya bisa jadi bisa.

 

Apa yang saya ceritakan di atas adalah sebuah penceritaan kembali secara sederhana dalam bahasa dan sedikit imajinasi saya dari apa yang ada dalam salah satu bab buku Malcolm Gladwell yang berjudul David & Goliath. Sebuah buku yang memberikan cara pandang baru dalam memahami fenomena sosial. Bagaimana memandang kelemahan sebagai sebuah keunggulan. Semua orang—dalam medan pertempuran itu—memandang remeh kepada David karena ia melawan raksasa kuat bernama Goliath. Tapi sejarah mencatatnya bahwa apa yang dianggap sebagai kekuatan itu rontok tak berdaya di hadapan sosok “penuh” kelemahan. Dari empat buku yang ditulis sebelumnya saya lebih menikmati buku terbarunya ini. Buku ini anti mainstream.

 

Dalam dunia tulis menulis Anda bisa menjadi ikan besar di kolam kecil untuk menjadi orang yang dikenal sebagai penulis hebat. Misalnya dengan konsisten menulis dan mengirimkan tulisan ke media di bawah Kompas. Atau membuat sebuah media sendiri tempat buat para penulis berkreasi tanpa ada seleksi, juri, dan keterbatasan lainnya. Tanpa mengesampingkan kualitas tentunya. Tak perlu berkecil hati. Kompasiana, saat ini, bisa menjadi kolam kecilnya. Dan banyak kompasianer yang telah menjadi ikan besarnya di sana.

Seperti Monet, Degas, Cezanne, Renoir, dan Pisarro yang tidak akan pernah dikenal dunia jika mereka hanya menjadi ikan kecil di kolam besar dengan hanya bertahan bagaimana bisa memasukkan karya mereka di galeri “Salon” yang benar-benar ketat dalam seleksi dan tempatnya sangat terbatas.

Tapi akhirnya mereka membentuk komunitas tersendiri untuk mengenalkan lukisan impresionisme dan mereka menjadi ikan besar di kolam kecil. Pada akhirnya mereka dikenal dunia. Lukisan mereka banyak dicari orang. Saya memilih menjadi ikan besar di kolam kecil. Anda?

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08 Mei 2014

Dimuat pertama kali di Kompasiana: http://media.kompasiana.com/buku/2014/05/09/kompasiana-hanya-kolam-kecil-652009.html