Aku Menaruh Matamu di Mataku


Alhamdulillah pada malam ini saya membagi video pembacaan puisi saya yang ada di dalam buku Seseloki Seloka di Pinggir Selokan. Video ini dibuat sebelum Ramadan 1443 H. Lagi-lagi Pak Harris Rinaldi yang mengambil rekaman dan mengedit video ini. Terima kasih banyak, Pak. Sungguh tak tepermanai.

Untuk teman-teman yang ingin mengetahui dan memiliki buku itu silakan klik tautan berikut: https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara

Di Muara Kali Bluwak, Pembacaan Satu Sajak dalam Buku Seseloki Seloka di Pinggir Selokan


Puisi ini ada di dalam buku Seseloki Seloka di Pinggir Selokan. Video ini dibuat sekali ambil. Disutradarai oleh kawan saya bernama Pak Harris Rinaldi. Tentunya saya mengucapkan terima kasih banyak atas semuanya. Untuk teman-teman yang ingin mengetahui dan memiliki buku itu silakan klik tautan berikut: https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi. Buku ini tidak terlihat seperti penampakan pada foto di bawah ini yang tebal sebegitunya. Total ada 68 halaman dan sudah cetakan kedua.

Baca Lebih Lanjut

Di Balik Layar Seseloki Seloka di Pinggir Selokan


Merah Buku

Tidak tebersit dalam benak saya untuk menerbitkan buku kumpulan sajak dalam waktu dekat. Sebabnya, saya sedang menulis buku lain dengan tema khusus.

Apa daya, diselingi dua proyek buku formal dari kantor konsentrasi saya terpecah. Saya belum sempat meneruskan naskah buku keempat saya itu.

Baca Lebih Banyak

Membaca Seloka dari Panggung ke Panggung


Membaca puisi itu seperti makanan sehari-hari waktu SD dulu. Saya pernah ikut juara membaca puisi dan menang. Membaca puisi di Malam Puncak 17 Agustusan tingkat kelurahan juga sering.

Pernah suatu ketika, puisi wali kelas saya bacakan di atas panggung malam Agustusan itu. Ada yang saya sesali di sana. Namanya lupa saya sebut setelah judul puisinya. Barangkali waktu itu saya lagi demam panggung, berdiri di hadapan ratusan orang. Pak Mastara, nama guru SD itu, mengingatkan saya soal itu setelah saya turun panggung. Ia tidak marah. Adegan ini puluhan tahun lalu itu, masih terekam di benak saya sampai sekarang.

Baca Lebih Banyak

Puisi “Aku Ingin” Sapardi Djoko Damono dalam Bahasa Arab


Sudah lama enggak ketemu dengan Pak Harris Rinaldi. Sekalinya ketemu ia menawarkan diri untuk mengambil video pembacaan puisi, ia mengedit, dan langsung membuat video seperti ini olehnya. Terima kasih banyak, Pak. Tak tepermanai.

Ini puisi “Aku Ingin” milik Almarhum Sapardi Djoko Damono yang diterjemahkan dalam bahasa Arab dan bukunya saya pegang dalam video itu. Buku itu berjudul Hammuka Daimun.

Baca Lebih Lanjut

Buku Pasir: Bersama Waktu Kita Sama-sama Menanti Jawaban


Sebelum berbicara mengenai proses penyuntingan Buku Pasir, saya mau berbicara proses penyuntingan secara umum.

Jadi pada dasarnya kegiatan menyunting ini adalah kegiatan menyiapkan tulisan agar siap diterbitkan. Apa yang dilakukan penyunting (editor)? Memeriksa kesalahan pengetikan tanda baca, pilihan kata, ejaan, dan lain sebagainya.

Baca Lebih Lanjut

Review Buku Pasir: Puisimu Janganlah Fana, Diandra


Siapa saja boleh berpuisi. Tidak ada pengastaan dalam puisi. Jika saja terjadi hal itu, maka puisi terjebak hanya menjadi milik para begawan dan bangsawan. Senyatanya puisi di dunia nyata menjadi eigendom siapa saja bahkan menjadi alat perlawanan dan biang revolusi.

Gabriela Diandra Larasati berani mendaku pada apa yang dicintainya: puisi itu. Untuk penghargaannya kepada Sapardi Djoko Damono, pensyair yang membuat mereka—yang tak mengerti bahasa prosa dan puisi—itu menjadi paham arti romantisme di balik kekuatan kata-kata yang sederhana.

Baca Lebih Lanjut

Lihat Penampilan Saya di Lomba Baca Puisi Hari Oeang ke-74 Kementerian Keuangan


Assalaamu’alaikum wr. wb. Selamat pagi.

Hari Oeang selain banyak diperingati dengan berbagai kegiatan. Maka sudah selayaknya pula dirayakan dengan kata kata. Saya menyemarakkan perkara ini dengan Hai, Ma! Sebuah karya dari W.S Rendra yang dibuat pada Juli 1992. Puisi ini banyak menemani saya dalam rihlah berbilang purnama di Tapaktuan, Aceh Selatan.

Apresiasi terbaik darimu, Kawan adalah dengan menontonnya. Lebih-lebih kalau sudi untuk memberikan vote untuk puisi di atas.

Baca Lebih Lanjut

Menjadi Cermin


Apa kabarmu? Apakah engkau menjumpaiku dalam mimpimu semalam? Atau mengeram amarah dalam pikirmu pagi ini? Aku ingin menjadi cermin tempatmu memandang sepasang telaga yang tak sanggup kurenangi dan kumengerti. Kekosongan adalah potongan kertas-kertas kecil yang kutaburkan di atas permukaannya. Berisi huruf-huruf puisi dan ketololanku merayakan kehilangan dengan secangkir kopi.

***
Riza Almanfaluthi
4 September 2020

Work From Heart


Puisi ini terdapat dalam antologi Buku Hari Pajak 2020 yang berjudul: Bangkit Bersama Pajak dengan Gotong Royong dalam Foto, Poster, dan Untaian Puisi. Selamat menikmati.

:untuk diajeng di seberang lautan

Wabah ini membuatku tak bisa kemana-mana. Aku di Tolitoli menjaga pundi-pundi. Tiga purnama aku tak bisa berjumpa. 2700 kilometer dari rumah kita. Jarak tak mampu memisahkan jiwa, apalagi renjana. Aku memanggilmu diajeng kalau aku sedang sayang, memanggilmu ibu di depan anak-anak, memanggilmu kakak di saat mesra. Aku harus meneleponmu tiga kali seperti minum obat. Pagi, siang, dan malam. Menjaga stamina cinta, saat jauh apalagi dekat. Aku tidak bekerja dari rumah, aku bekerja dari hati, hati yang memelihara malam, tempat aku memanen rindu yang tak pernah kenal pejam, tunggu aku di puncak pertemuan, sebentar lagi aku pulang.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
4 Juli 2020