Bangke


Betina itu bersama kucing garongnya.

Kemarin sore, sewaktu berdesak-desakan di atas Commuter Line saya menelepon Kinan. Suara di seberang sana terasa sedih. Ya, Kinan menangis karena induk kucing itu tiba-tiba sudah jadi bangke di depan rumah. Entah ketabrak atau sakit. Badan betina kucing itu memang kurus apalagi dia sedang menyusui kelima anaknya.

Langsung saya lemas dan berusaha browsing cara menyelamatkan bayi-bayi kucing yang baru berumur satu bulan itu. Ada blog yang menceritakan pengalamannya dalam penyelamatan anak kucing yang ditinggal induknya. Awalnya berhasil tapi pada akhirnya jadi bangke juga.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Menyerah untuk Bangkit Kembali


“But man is not made for defeat,” he said.

“A man can be destroyed but not defeated.”

(Ernest Hemingway, 1952)

Bangkok di suatu siang, Alex Danyliuk dalam pelariannya berusaha mengakses internet di sebuah warung internet. Alex memberikan kartu kredit kepada penjaga warnet, karena aturannya sebelum pakai komputer harus bayar dulu.

Alex langsung menuju bangku kosong dan berusaha menghubungi kontaknya. Di sudut sana penjaga warnet sedang memasukkan nomor kartu kredit Alex, tapi apa lacur kartu itu ditolak. Muncul notifikasi di layar komputer penjaga warnet kalau kartu itu kartu kredit bajakan.

Continue reading Menyerah untuk Bangkit Kembali

Seberapa Dashrath-nya Kita?



What I did is there for everyone to see. When God is with you, nothing can stop you.

Dashrath Manjhi

Kalau ada orang yang ingin membuktikan seberapa besar kekuatan cinta maka banyak sejarah telah menuliskannya. Kalau ada yang ingin tahu dahsyatnya cinta menghancurkan gunung, maka Dashrath Manjhi telah membuktikannya.

Selama 22 tahun—dari tahun 1960 sampai 1982 Dashrath Manjhi seorang diri menghancurkan gunung dengan hanya berbekalkan tali, palu, dan alat tatah. Di desa miskin Gehlaur, dekat Gaya di negara bagian Bihar orang-orang telah menganggapnya gila. Tapi Dashrath dengan tekad bulat tak memedulikan semua cemooh itu karena ia tahu betul apa tujuannya.

Baca Lebih Lanjut

Lagi, Kisah Nyata Tentang Keajaiban Sedekah dan Istighfar: Mukidi dan Dompetnya



Sore di Banda Aceh. Senja sudah mulai turun. Jalanan ramai dengan kendaraan. Mukidi menunggui mobil yang sedang diperbaiki di salah satu bengkel yang berada di Peunayong. Sudah dari kemarin Mukidi datang ke kota ini. Ada banyak urusan yang kudu diselesaikan. Niatnya malam ini harus kembali ke Tapaktuan.

Lagi suntuk-suntuknya menunggu tiba-tiba Mukidi teringat dengan dompet tempat Mukidi banyak menaruh kartu-kartu penting. Ada kartu pegawai, kartu BPJS, dan kebanyakan uang plastik. Jantung langsung copot. Tak ada! What? Astaghfirullah. Kemana dompet itu? Mukidi memeriksa tas kecilnya bermerek Bodypack warna hitam. Tak ada.
Baca Lebih Lanjut.

Martabak Buat Bapak Polisi



Martabak Manis via https://patriciaangelika.files.wordpress.com

Selamat Pagi Pak Polantas, semoga pagi ini adalah pagi yang indah untuk dinikmati Bapak di tengah deru mesin kendaraan dan tentunya kepulan asap hitam yang keluar dari knalpot mobil angkutan umum. Semoga pagi ini pula adalah pagi yang penuh semangat untuk menjalankan tugas mulia Bapak, mengatur lalu lintas dan melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya. Semoga pagi ini pun adalah pagi yang penuh kebahagiaan karena anak dan istri di rumah baik-baik dan sehat-sehat saja, cukup makan dan cukup pendidikan.

Tidak hanya buat Bapak, pagi ini pun bagi saya adalah pagi yang penuh kebahagiaan. Bagaimana tidak bahagia karena tadi malam saya mendapat sentuhan luar biasa dari pelayanan Bapak. Tapi sebelumnya saya ceritakan dulu kepada Bapak kenapa pagi-pagi ini saya teringat dengan Bapak.

Ya, di saat saya membaca halaman belakang sebuah koran nasional di Republik ini, mata saya terpaut pada foto di sudut kanan bawah halaman koran itu. Pada sosok-sosok polisi, teman-teman Bapak di Polres Pamekasan, yang sedang tekun mengikuti psikotes penggunaan senjata api. Saya paham cara ini dilakukan adalah untuk mengetahui seberapa jauh kelayakan teman-teman Bapak untuk memegang senjata api itu. Peristiwa Semarang telah membuat saya dan Bapak terkejut bukan?

Baca Lebih Lanjut.

Ketika Iblis Tak Pernah Mengatakan Itu



Akulah pemegang undang-undang penjara, akulah yang mematikan dan menghidupkan, aku boleh membunuh seratus orang sehari dan tiada siapa boleh menghalang. Jika tuhan turun, aku akan sumbat ke dalam penjara dan akan aku sula.

Hamzah Basyuni
**

 

Keberanian pasukan muslim menginap di Tabuk tanpa ada perlawanan pihak Romawi sebagai salah satu adikuasa pada saat itu membuat derajat kaum muslimin naik satu tingkat di mata bangsa Arab lainnya. Kemudian berdatanganlah utusan kabilah Arab dari berbagai penjuru menemui Rasulullah saw. Salah satunya dari Bani Amir yang mengutus Amir bin Thufail dan Arbad bin Qais. Dua orang yang tercatat dalam sejarah tapi dengan tinta hitam yang mengeruhkan.

Karena kedatangan mereka dengan mengancam Sang Terpilih. Ancaman yang tidak main-main: menghilangkan nyawa. “Kalau kita sudah berjumpa dengannya, saya akan membuatnya sibuk dan lupa denganmu. Kalau dia sudah lengah, pukullah dia dengan pedangmu,” kata Amir bin Thufail kepada Arbad. Tapi Rasulullah saw adalah makhluk yang terpelihara. Usai menolak menemui Amir bin Thufail yang menginginkan perbincangan empat mata, Rasulullah saw berdoa, “Ya Allah, cukupkanlah aku dari Amir bin Thufail.” Apa yang terjadi?

Di tengah safari meninggalkan Madinah, Allah kirimkan penyakit thaun kepada Amir bin Thufail. Pembesaran kelenjar yang membuatnya menjerit kesakitan hingga kematian menjemputnya di rumah seorang wanita Bani Salul—suatu kabilah Arab yang dianggap rendah oleh kabilah Arab lainnya. Bagaimana dengan Arbad bin Qais?

Baca Lebih Lanjut.

Duka Bersama dari Garda Terdepan DJP


13012762_10209288722155575_7320788217930801356_n

 

Orang itu tidak percaya kepada saya yang membawa surat tugas dan berbaju lengkap jurusita. Ia “mengurung” saya dalam ruangan kantornya. Ditinggal sendirian. Lama banget. Teman saya tidak ikut masuk. Dia ada di tempat parkir. Saya ditanya macam-macam dan saya jawab seadanya dan menjelaskan maksud kedatangan saya memberitahukan Surat Paksa. Sampai pada akhirnya selesai urusan.

Sampai di kantor saya dipanggil kepala kantor. Barulah ketahuan kalau orang perusahaan itu menelepon kepala kantor saya dan menanyakan apakah benar saya adalah petugas dari kantor pajak. Waktu itu kepala kantor saya tidak ingat ada pegawainya bernama Riza. Untung ada Kepala Seksi Penagihan yang sedang berada di depannya. Dan langsung mengonfirmasikan kepada orang perusahaan bahwa benar saya adalah petugas pajak. Pantas saja orang perusahaan itu perlakuannya berubah kepada saya. Langsung jadi ramah. Awalnya dia menyangka saya komplotan penipu yang menyamar jadi petugas pajak.

Baca Lebih Lanjut.