Imam Para Bocil


Saya senang sekali menghuni rusun unit 1002 ini. Kebersihan senantiasa terjaga. Ada Kak Asri yang membersihkan 1002 sekali dalam sepekan. Hari lainnya, saya yang menjaga kebersihannya.

Sebelum berangkat ke kantor, saya memastikan tidak ada yang terbengkalai. Semua piring dan gelas kotor sudah tercuci. Ranjang sudah rapi. Meja tidak berantakan. Pakaian kotor sudah dimasukkan ke dalam plastik. Sekali dalam sepekan saya menyerahkan pakaian kotor ini ke penatu. Mereka bersedia mengambil baju kotor dan mengantar kembali baju bersih.

Continue reading Imam Para Bocil

Golden Tempo


Jose Ortiz menunggangi Golden Tempo bernomor kuda 19.

Beberapa waktu lalu, terbit pengumuman kelulusan. Ada yang namanya tercantum di sana. Ada pula yang diam-diam membaca daftar itu berkali-kali tanpa menemukan dirinya. Sesak kadang datang dengan cara sesederhana itu.

Tidak mengapa merasa kecewa. Sangat manusiawi. Sembari itu barangkali kita perlu mendengar cerita ini. Peristiwa baru yang terjadi pada 2 Mei 2026 di ajang 152nd Kentucky Derby di Churchill Downs, Louisville, Kentucky, Amerika Serikat.
*

Continue reading Golden Tempo

97 Gram


Slogan legendaris “Impossible is Nothing” dari jenama sepatu terkenal seolah menemukan wujud aslinya hari itu.

Ada yang mengejutkan di London Marathon 2026, Minggu, 26 April 2026. Dua pelari mampu mencatat rekor baru dengan berlari sepanjang 42,195 km di bawah dua jam. Catatan waktu impian para pelari maraton. Ini serupa impian para pelari hobi bisa berlari 5 km di bawah 30 menit atau 10 km di bawah satu jam.

Continue reading 97 Gram

Unit 1002


Sabtu sore itu (14 Maret 2026), Dhino mengajak saya menengok rusun. “Bapak kayaknya perlu lihat-lihat rusun dulu deh,” katanya.

Terus terang saya masih merasa nyaman di ruangan kecil di lantai 2 KPP Pratama Jayapura ini. Namun, ajakan Dhino tak bisa saya tampik. Kalau sekadar menengok rusun sebenarnya cukup bawa badan saya, tetapi enggak tahu kenapa saya langsung mengemas koper kecil saya dan mengangkutnya ke dalam mobil.

Baca Lebih Lanjut

Di Antara Jembatan Holtekamp dan Kenangan Tapaktuan


Setelah bertemu dengan Pak Sekti di kanwil, hari belumlah selesai. Sehabis salat Asar saya langsung mengumpulkan anggota tim Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jayapura. Saya ingin berkenalan dan menyamakan visi dengan mereka.

Waktu berjalan dengan cepat. “Nanti kita buka puasa bareng di luar, Pak,” kata Mas Chandra, Kepala Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal, KPP Pratama Jayapura.

Continue reading Di Antara Jembatan Holtekamp dan Kenangan Tapaktuan

Tifa di Hari Pertama


Lampu di ujung pesawat saat meninggalkan Jakarta.

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya pernah meminta kepada pramugara Batik Air itu untuk membangunkan saya di waktu sahur, tetapi justru saya terbangun oleh suara samar-samar pengumuman. Saya beruntung bisa terbangun.

Pengumuman itu menginformasikan kalau waktu Subuh akan segera tiba 20 menit lagi. Jam ponsel menunjukkan pukul 03.10. Masih dalam mode Waktu Indonesia Barat. Saya segera menyantap roti yang disiapkan sebelum berangkat. Bismillaah, saya iringi pula dengan niat berpuasa Ramadan. Di luar jendela belum terlihat apa-apa selain gelap dan kelap-kelip lampu di ujung sayap pesawat.

Continue reading Tifa di Hari Pertama

Panggilan yang Datang Terlalu Cepat


Selesai dilantik pada Selasa (10 Maret 2026) itu, pertanyaan berikutnya adalah mulai kapan saya akan bertugas di sana? Saya belum memedulikan itu, saya masih berfokus pada penyelesaian pekerjaan di Coretax dan meneliti berkas-berkas.

Ketika saya sampai di rumah pukul 17:00, Ummi Kinan sedang duduk di teras rumah.

”Loh kok belum masuk?” tanya saya.

“Kinan tidur, dibangunkan susah. Kunci masih menggantung di pintu,” katanya.

Continue reading Panggilan yang Datang Terlalu Cepat

Teknologi Berubah, Wajah Mereka Tetap Sama


Hujan begitu deras siang itu. Diiringi angin kencang dan suara jendela yang menutup dengan keras. Brak!!

Saya melihatnya dari ruang kelas yang sudah sepi. Di lantai 2 Gedung N PKN STAN. Beberapa menit lalu saya menutup kelas. Seperti kebiasaan saya selama ini, saya paling terakhir meninggalkan ruangan. Membereskan administrasi perkuliahan, menaruh materi ke dalam folder, dan menutup kelas secara daring. Semuanya serba tanpa kertas.

Continue reading Teknologi Berubah, Wajah Mereka Tetap Sama

Respons Cepat dalam 1 Nanodetik



Sore itu, saya membuka koran digital langganan di laptop.  Saya tertarik pada sebuah berita yang berjudul “Bos Nvidia: Chip Buatan China Tinggal Hitungan Nanodetik Saja di Belakang AS”. Nvidia merupakan perusahaan teknologi Amerika Serikat yang terkenal sebagai produsen Graphics Processing Unit (GPU) terbesar dan paling maju di dunia. Bos Nvidia yang dimaksud dalam berita itu adalah pendiri sekaligus CEO Nvidia Jensen Huang.

Di dalam persaingan pembuatan cip, China dianggap tertinggal. Pada saat perang dagang antara Amerika Serikat dan China, China kelimpungan karena ada penerapan boikot Amerika Serikat pada pasokan cip ke China. Sebenarnya China dari beberapa tahun lampau sudah membaca ketergantungan ini. Supaya mandiri, mereka berjuang keras untuk bisa memproduksi mesin litografi—mesin pembuat cip. Di sini dunia masih menganggap China masih tertinggal jauh.

Continue reading Respons Cepat dalam 1 Nanodetik

Di Bawah Bayang-Bayang Witte Huis


Dua hari sebelumnya saya sudah bangun pada pukul tiga pagi untuk berkumpul di Gedung Juanda I, Kementerian Keuangan. Kami akan menghadiri Pidato Kenegaraan Presiden RI pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD di Gedung MPR DPR RI pada Jumat, 15 Agustus 2025.

Kali ini, pada 17 Agustus 2025, saya juga harus bangun lebih dini karena saya diundang untuk mengikuti upacara 17 Agustus di Kementerian Keuangan. Upacara itu akan dipimpin langsung oleh Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani Indrawati.

Continue reading Di Bawah Bayang-Bayang Witte Huis