Sentilan di Sentul: Konsinyering atau Konsinyasi?


Judul pertemuannya menyelentik urat kebahasaan saya.

Saya meluruh. Dengan seluruh. Seperti bunyi yang ada di ujung petir. Apa coba?

 

Di suatu masa, salah satu bagian Tim Reformasi Perpajakan mengadakan sebuah rapat di luar kantor, tepatnya di sebuah hotel di bilangan Tangerang pada pertengahan 2017. Rapat itu berjuluk panjang yang diawali dengan kata konsinyering pada sebuah latar belakang (backdrop) besar yang dipasang di panggung rapat.

Saya ingat, ini adalah rapat dengan jenama konsinyering yang pertama kali saya ikuti selama saya bekerja di Direktorat Jenderal Pajak. Dalam percakapan, kata ini biasa disingkat juga dengan kata konser.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Karena Kami Pendosa



Suatu ketika, sehabis kegiatan Pajak Bertilawah yang dilakukan oleh 12.035 pegawai Direktorat Jenderal Pajak di 366 unit kerja, muncul cuitan dari Pak Zaim Saidi di akun Twitternya. Ia bilang begini,”Pajak haram. Dosanya gak akan hilang hanya dg tilawah Qur’an. Berhentilah memajaki. Hijrah kerja lain.”
Pertama, terima kasih Pak Zaim atas nasihatnya. Kami terima dengan baik walau kami meyakini bahwa pendapat keharaman itu masih bisa diperdebatkan. Kedua, semua manusia pada dasarnya tidaklah lepas dari dosa. Ketiga, kalaupun pegawai pajak ini adalah pendosa, sungguh tak elok dengan meremehkan kebaikan yang dilakukan mereka untuk bertilawah secara serentak pada hari itu.

Continue reading Karena Kami Pendosa

Ah-ha Moment: Sebesar apa Percikanmu?



Di suatu pagi yang padat dengan sinar rawinya masih majal, saya baru saja keluar dari mulut Commuter Line di Stasiun Kalibata. Saya bentangkan aplikasi perbincangan yang sudah berjejal dengan banyak risalah itu. Salah satunya pesan gambar yang terkirim dalam sebuah grup. Saya membuka gambar itu dan langsung tersentak hingga sanggup menghentikan langkah saya yang bergegas.

Kemudian saya mencari bangku kosong yang ada di peron stasiun, saya melirik jam, dan saya pikir masih cukup waktu untuk tiba di tempat pendidikan dan pelatihan yang sedang saya ikuti selama sepekan ini. Semua neuron yang ada di balik tempurung kepala saya seperti tepercik api, terpantik.

Continue reading Ah-ha Moment: Sebesar apa Percikanmu?

Candra Membulat di atas Legian



Kehidupan malam yang gempita itu tak membuat saya beranjak dari lobi hotel. Benar-benar tidak mengusik kepenasaran saya tentang Legian. Hanya segelas kopi hitam panas yang saya sesap di atas meja sambil memandang candra yang membulat di hadapan dan di atas Legian.

Sampai pukul 01.15 dini hari sembari menunggu email yang masuk. Dari 100 orang itu berapa yang akan mengirim naskahnya. Masih belum sempat saya ketahui. Naskah yang lolos seleksi tahap pertama itulah yang akan diteruskan kepada saya.

Baca Lebih Lanjut.

Jangan Baper: Sekarang Siapa yang Gila Hormat?



Gila hormat itu tidak boleh, tetapi menjadi orang yang terhormat haruslah jadi tujuan hidup.

(Buya Hamka dalam buku Tasawuf Modern)

Ingat cerita tentang Nabi Khidir yang melubangi perahu nelayan miskin lalu membunuh seorang anak muda. Jelas secara akal sehat ini adalah sebuah kezaliman. Dan ini diprotes oleh Nabi Musa as yang baper.

Tapi dalam rangkaian QS Alkahfi diterangkan akhir cerita di atas bahwa ada hikmah atas semua kejadian itu. Hikmahnya seringkali kita harus berkhusnudzan dan jangan mengambil kesimpulan buruk terhadap seseorang karena yang nampak secara lahir belum tentu sama secara batin.

Maka dalam peristiwa kali ini kita pun perlu menggunakan perspektif Nabi Khidir agar tidak baper dan tidak berburuk sangka. Tentu bukan pada pembunuhan dan pelubangan itu, karena untuk realitas zaman sekarang—seperti yang dikatakan teman saya—rasanya sulit untuk berkhusnudzan terhadap orang yang melubangi perahu dan membunuh anak muda. Polisi akan turun tangan untuk menangkap pembunuh.

Baca Lebih Lanjut.

Catatan Hati Seorang Ayah


Untuk Ayyasy

Dari Abi.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

19 September 2014

Di 12 tahunmu.

SILUMAN BABI, SILUMAN IKAN, SILUMAN MONYET DLL: MEREKALAH YANG KALAH


SILUMAN BABI, SILUMAN IKAN, SILUMAN MONYET DLL: MEREKALAH YANG KALAH

image

Ini adalah hari kemerdekaan. Hari kemenangan setelah satu bulan berpuasa. Sejatinya kita menang atau kalah yang merasakan cuma diri sendiri. Soalnya bisa saja kita dekralasikan diri sebagai manusia merdeka dan bertakwa tetapi kemudian setan ikut bergembira dan merayakan karena ia baru saja melihat budak yang baru saja merdeka itu kembali terjerumus dalam perangkapnya yang sebenarnya lemah.

Ini adalah hari kemerdekaan setelah satu bulan melawan hawa nafsu dan bahagia yang terus menerus dirasakan. Kita cuma bisa berharap Allah kasih kita perlindungan dan bahagia sampai akhir hayat. Apalagi yang pada hari ini sedang memanjangkan umurnya dan sedang menerima rizki yang banyak karena lagi silaturahmi dengan sanak saudara. Ooo…semoga Allah kasih keberkahan di umur yang panjang dan rizki yang diterima itu.

Ini adalah hari kemerdekaan. Hari di saat kita bebas menikmati makan dan minum tanpa ada larangan lagi. Opor ayam, ketupat, dan sambal goreng ati yang terhidang kita santap sepenuh hati di  siang bolong dengan keceriaan dan bincang-bincang tanpa topeng dan basa-basi. Yang adanya baru kita rasakan cuma setahun sekali. Dengan segala detil dan pernak-perniknya. Hanya ada di hari itu. Tidak di hari lain. Walau sengaja banyak manusia berusaha menciptakannya di hari lain. Tetap tak bisa samakan. Kau harus merasakannya kembali dengan detil yang sama di tahun depan.

Ooo ini adalah hari kemerdekaan. Kala kata maaf berseliweran di antara dua mata, dua telinga, dan satu rasa. Itu kita sambut dengan lapang dada entah broadcast ataupun satu yang berbeda. Semua upaya yang harus dihargai agar tidak kehilangan makna di hari ini. Sungguh kita terima dengan senang hati. Karena semata ini tanda cinta dan perhatian kepada kita. Dari mereka. Yang patut jadi perhatian ketika tak ada maaf yang terberi…Ooo sedangkan Sang Pencipta kita adalah Dzat Yang Maha Memaafkan, lalu mengapa tak sudi beri maaf. Ataukah ada keangkuhan yang menjadi tabir. Ooo…ayolah maafkan saja mereka. Maafkan dia. Tidakkah kita ingin menjadi ahli surga karena gemar memaafkan?

Ini adalah hari kemerdekaan, hari buat mereka yang telah berpuasa. Bukan buat mereka yang sengaja berbuka di siang hari dan pamer di jalan-jalan. Buat mereka yang telah berlelah-lelah di siang hari dan malam-malamnya supaya bisa dekat-dekat dengan Sang Maha Pemberi Kemerdekaan. Sudahkah kita jadi mereka? Hasibu anfusakum qabla antuhasabu….Itung-itungan dulu  yuk amal kita sebelum kita diitung-itung sama Yang Di atas.

Ini adalah hari kemerdekaan. Hari kemenangan. Panjinya sudah dikibar-kibarkan di atas benteng, Tapi ini belumlah usai karena ini cuma pertempuran kecil. Perangnya masih berlangsung sampai ajal. Tidak tahu siapa yang menjadi pemenang sejati, Tapi kita berharap kepada Allah supaya kita menjadi pemenangnya. Dan merekalah yang kalah: iblis dan bala tentaranya: setan, jin, tuyul, sundel bolong, genderuwo, pocong, kolor ijo,  siluman babi, siluman ikan, siluman monyet, vampir (sebenarnya ini bukan karnaval)  dan manusia pengikutnya.

Ini adalah hari kemerdekaan, Hari di mana diri yang bernama Riza Almanfaluthi,  mohonkan maaf kepada semua. Seraya berharap kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan 1435 Hijr. Bekasi…cukup di sini aja sssssiiiih……ikan peda sono pegi daaahhh…..

Tabik. Happy Eid Mubarak, 1 Syawal 1434H.

Riza Almanfaluthi

Pojokan Semarang Panas

8 Agustus 2013 M