RIHLAH RIZA #35: CINCIN WARISAN SETAN


RIHLAH RIZA #35: CINCIN WARISAN SETAN

Kinan bertanya kepada Mbahnya, “Bapak pakai cincin apa?” Laki-laki tua yang sedang sakit itu sambil tertawa menjawab sekenanya, “Cincin warisan setan.” Ingatannya yang sudah mulai terbatas karena stroke mungkin hanya mampu mengaitkan benda itu dengan salah satu judul novel silat Wiro Sableng karangan Bastion Tito. Novel-novel yang pernah dijualnya sewaktu menjadi pedagang buku bekas.

Cincin dengan batu warna hijau dan ikatan besi yang disepuh dengan warna keemasan itu pemberian adik iparnya yang bekerja di Arab Saudi. Karena sakit, Bapak tak pernah memakainya lagi. Kemudian saya pakai beberapa bulan sewaktu bertugas sebagai petugas banding di Pengadilan Pajak. Teman satu tim saya protes. Menurutnya saya seperti om-om atau bapak-bapak kalau memakai cincin itu. Jadi semakin kelihatan tua. Di dalam benak mereka cincin itu hanya bisa dikaitkan pada satu sosok pelawak bernama: Tessy.

Sepertinya teman-teman saya se-Direktorat Keberatan dan Banding memang tak ada yang memakai cincin. Lalu saya tak memakainya lagi. Saya tak tahu apa nama batu yang menghiasi cincinnya. Bertahun-tahun kemudian, hari ini, saya tahu jenis batu itu. Batu pirus berwarna biru kehijau-hijauan. Sayang sekali, cincin itu hilang.

**

Entah di Tapaktuan, entah di Banda Aceh, bertubi-tubi ajakan teman-teman untuk pergi mengunjungi toko penjual batu akik atau mulia itu tidak membuatku tak bergeming. “Ngapain coba? Buang-buang waktu aja,” pikir saya. Waktu itu ada yang lebih menarik daripada sekadar melototin batu: snorkeling atau snorkelling. Mengapung dan menyelam sambil menikmati keindahan bawah laut menjadi kesenangan baru saya di Tapaktuan untuk mengisi hari-hari sepi saya. Melototin biota laut itu sesuatu.

Pembicaraan teman-teman di mes, di warung, dan di kantor kalau kumpul ya berkisar perbatuan. Bahkan mereka bikin grup facebook bernama Tapaktuan Stones. Mereka sudah melakukan ekspedisi ke sungai Trangon mencari batu-batu untuk bisa digosok. Ini benar-benar sebuah penggalian potensi (galpot). Tapi potensi batu. Menggali pakai beliung, mencungkil pakai linggis, dan memalu pakai palu bebatuan di sepanjang pinggiran sungai.

Gali potensi bebatuan. Insya Allah penerimaan pajak tercapai. Loh kok? Apa kaitannya? Ekspedisi Trangon II (Foto koleksi Dony Abdillah)

Air bening mengalir di sungai Trangon (Foto koleksi Dony Abdillah)


Hasil pencapaian 100% lebih :melet (Foto koleksi Dony Abdillah)

Aceh memang kaya dengan jenis bebatuan. Ini bisa dikarenakan struktur pembentukan pulau Sumatera di waktu dahulu kala dan keberadaan barisan Pegunungan Leuser. Salah satunya batu Giok Beutong yang menjadi primadona batu ada di Meulaboh. Dulu pernah ada perusahaan Cina yang melakukan kegiatan pertambangan. Perizinan yang mereka dapatkan hanya sebatas izin usaha pertambangan bahan galian C. Perusahaan itu membawa batu-batu sebesar gajah keluar dari Aceh dan mengekspornya ke luar negeri.

Masyarakat tak tahu apa yang perusahaan itu gali dan dapatkan di sana. Setelah sepuluh tahun berjalan, barulah masyarakat sadar batu macam mana pula yang perusahaan Cina itu incar. Ternyata batu giok yang sangat berharga. Akhirnya pemerintah daerah terkait bersama masyarakat menutup izin dan akses pertambangan itu. Entah berapa ribu ton batu giok yang hilang dan entah berapa pajak yang seharusnya dibayar lenyap karena kecurangan ini.

Teman-teman ini tak berputus asa mengajak saya. Dan tahu betul bagaimana ‘meracuni’ orang. Mereka seperti bandar narkoba—dalam arti yang positif. Kasih satu atau dua batu secara gratis lalu kalau sudah ‘nyandu’ dan ‘sakau’ tinggal beli sendiri saja. Terbukti sukses mereka jalankan operasi itu kepada saya sebagai TO (target operasi) mereka selama ini.

Enam batu yang sudah digosok disodorkan kepada saya oleh teman jurusita Seksi Penagihan bernama Rizaldy. Ia berdasarkan surat keputusan mutasi, pindah dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan ke KPP Pratama Meulaboh. Kantor barunya dekat dengan rumahnya. Sebagai hadiah perpisahan dengan saya, Pak Rizaldy meminta saya memilih dua dari enam batu itu.

Berdasarkan advokasi dan provokasi teman-teman, saya ambil dua batu yang terbaik. Jenis batu idocrase dan pancawarna. Lalu Mas Suardjono—Kepala Seksi Ekstensifikasi—memberi saya batu Giok Beutong terbaiknya. Seminggu kemudian batu idocrase yang susah saya jelaskan warnanya ini sudah saya ikatkan dengan ikatan perak. Beberapa minggu kemudian diajak sama teman ke salah satu pengrajin batu giok di Tapaktuan. Saya pun manut. Saya beli dengan sukarela tiga buah batu dan satu liontin Giok Beutong berbentuk simbol “love”.

Bang Rahmadi Kuncoro—Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi I—lalu memberi saya sebuah batu mulia aquamarine warna hijau. Lalu saya juga ikut patungan membeli batu Lumut Sungai Dareh, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Seperti diketahui daerah itu menjadi terkenal setelah Presiden Amerika Serikat Barack Obama memasang cincin berbatu lumut Sungai Dareh di jari manis tangan kanannya. Kemudian saya pun mau saja ikut ekspedisi kedua Grup Tapaktuan Stones ke sungai Trangon. Tidak lama setelah itu, saya pun membeli batu zamrud dengan ikatan cincin perak untuk saya pasang di jari manis tangan kiri saya.

Semuanya menjadi serta merta. Sekarang mata saya selalu otomatis memindai tangan orang. Entah di televisi atau foto atau bertemu langsung. Apakah dia memakai cincin atau tidak? Cincinnya dihiasi dengan batu atau tidak? Batunya dari jenis batu akik atau batu mulia? Kalau dari batu akik maka batu akik jenis apa? Kalau batu mulia apakah itu zamrud, rubi, safir atau seperti apa? Kalau ke teman sendiri, pemindaian itu dilakukan dengan meminta cincinnya dicopot dari jemarinya untuk saya lihat dengan teliti kecermelangan batu dan detil ikatannya.

Semuanya menjadi serta merta. Saya jadi tahu macam-macam jenis batu walaupun masih sedikit pengetahuannya. Jadi tahu bagaimana batu itu disebut indah atau tidak. Jadi bertambah perhatian—walau masih sedikit—kepada teman facebook yang memamerkan batu jualan mereka. Pun ke tempat lapak batu dan cincin untuk sekadar melihat-lihat menjadi antusiasme baru. Maka saya baru sadar atas sesuatu yang dulu saya pertanyakan. Mengapa setiap lapak batu kaki lima selalu dikerumuni banyak orang? Ternyata batu akik dan batu mulia itu mempunyai pasar dan penggemarnya sendiri.

Antusiasme baru itu hampir sama dengan berkunjung ke toko buku. Tetapi tidak harus sampai berjam-jam. Secukupnya saja. Karena saya sadar, saya jangan sampai kena “sawan batu”. Istilah yang menunjuk kepada kegilaan terhadap batu. Seseorang bisa dikatakan mengalami penyakit gila nomor ke sekian ini jika ia sudah tidak memakai logika sehatnya dengan membeli batu mahal tanpa kecermatan dan kehati-hatian. Tentunya sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Dan yang paling penting, memakai cincin itu bisa diniatkan untuk ibadah. Bukankah memakai cincin itu sunnah Rasulullah saw? Niatkan memakai cincin sebagai bentuk kecintaan kita kepada Baginda Rasulullah saw. Entah dengan ikatan perak atau besi. Entah di jari tangan kanan atau pun di jari tangan kiri. Entah batu dari negeri Habasyah atau bukan.

Bisa berpahala dengan beberapa prasyarat tentunya. Pertama, ikatannya bukan emas, karena laki-laki diharamkan memakai cincin emas. Kedua, tidak diniatkan untuk pamer-pamer. Ketiga, tidak menimbulkan kesombongan. “Nih, gue punya zamrud. Ente punya ape? Halah cuma akik ini.” Satu titik kesombongan di hati sudah membuat kita tidak bisa mencium bau surga dalam jarak lima ratus tahun perjalanan. Sedangkan satu hari di akhirat sana sama seperti seribu tahun di bumi.

Keempat, ini yang teramat penting, jangan sampai memakai cincin menjadi jalan tergadaikannya akidah kita. Cincin itu bukan sarang makhluk gaib atau apa pun namanya. Apalagi menganggap bahwa cincin itu menjadi jalan terkabulkannya semua hasil kerja dan keinginan kita atau biasa disebut sebagai cincin bertuah. Makanya saya heran ketika ditanya berapa mahar cincin itu? Mahar? Mahar apaan? Ternyata saya baru tahu sebuah batu bisa bernilai tinggi jika ada “khadam”nya. Harga tinggi bukan untuk sebentuk cincin itu melainkan sebagai mahar untuk apa yang ada di dalamnya. Tapi sungguh kita tekor bandar kalau berlaku syirik dalam memakai cincin. Apalagi cincin warisan setan. Semoga kita dilindungi dari hal yang demikian.

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…” (QS. Al Hadid 20)

Semuanya menjadi serta merta.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

13 Mei 2015

Judul dari novel jadul cerita silat zaman dahulu kala karangan Bastion Tito: Wiro Sableng.

RIHLAH RIZA #13: SEPERTI SENJA YANG BERGULUNG-GULUNG


RIHLAH RIZA #13:

SEPERTI SENJA YANG BERGULUNG-GULUNG

 

Selain Ibnu Bathuthah ada juga penjelajah Arab yang mendahuluinya—tepatnya di abad 10—bernama Ibnu Fadlan. Manuskrip yang tersisa tentangnya menceritakan pertemuan budaya antara Arab dan Viking.

**

    Jam 20.15, mobil travel yang akan mengantarkan saya ke Medan sudah tiba di mess. Rencananya saya akan pergi ke Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak untuk menghadiri undangan mengikuti workshop sehari
yang diselenggarakan oleh Direktorat Keberatan dan Banding. Workshop ini mengenai organisasi penyelesaian sengketa perpajakan. Atas seizin Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan saya diperbolehkan untuk mengikutinya. Kebetulan pekan ini adalah pekan ketiga keberadaan saya di Tapaktuan, karenanya saya sekaligus memanfaatkannya untuk pulang.

    Saya duduk di bagian depan di samping supir. Tempat duduk yang sudah saya pesan khusus kepada agen travelnya. Pokoknya saya tidak akan berangkat dengan travel itu kalau saya tidak duduk di situ. Karena ini perjalanan darat yang memakan waktu lama tentunya kita kudu milih tempat yang nyaman. Jok di samping dan di belakang supir adalah tempat duduk yang nyaman. Yang paling nyaman tentunya di samping supir. Kalau kita tidak pesan atau tidak beruntung kita bisa saja dapat duduk di bagian tengah. Dan ini bisa-bisa tidak tidur sepanjang perjalanan karena tak ada senderan buat kepala. Apalagi kalau sudah dijepit dua orang.

    Innovanya masih gres. Suara mesinnya halus. Kijang ini masih harus mampir ke rumah-rumah menjemput penumpang. Ini saja butuh waktu satu jam. Ternyata semuanya perempuan. Tentu saya tepat duduk di depan. Selama perjalanan saya mengalami roaming. Persis seperti Antonio Banderas dalam The 13th Warrior yang berperan sebagai Ahmad bin Fadlan yang diselamatkan para petempur Viking dari gangguan penjarah Mongol-Tatar.

    Orang Arab kepercayaan Khalifah di Baghdad namun terusir ini dalam sebuah makan malam jadi bahan olok-olok dari mereka yang menyelamatkannya. Ahmad tahu ia jadi bahan pembicaraan. Tapi ia tak mengerti apa yang dibicarakan. Makanya ia perhatikan gerak bibir mereka. Saking jeniusnya lama-kelamaan orang Arab ini jadi paham dan tahu bahasa mereka. Seketika Ahmad jadi tahu kalau yang dibicarakan dengan nada mengejek itu adalah kudanya yang kecil dan pedangnya yang bengkok. Mereka akhirnya terdiam ketika Ahmad menimbrung dengan mengucap sebuah kata. Lalu berikutnya ngobrol seru dengan bahasa mereka.

    Saya tak sejenius Ahmad bin Fadlan ini. Saya tak mengerti apa yang supir dan perempuan penumpang itu bicarakan. Saya tak mampu membaca gerak bibir mereka. Yang saya paham cuma kata-kata yang sangat familiar seperti ambo. Selebihnya tidak. Lainnya yang bisa terdengar seperti kata “dakik-dakik”. Tak tahulah awak artinya ini. Dengan jaket hitam tipis dan sarung yang sengaja dibelitkan di leher untuk mengurangi terpaan angin malam dari jendela yang sedikit terbuka, saya banyak terdiam. Sesekali mengobrol dengan supir yang enak nyetir-nya ini dan kalau di tikungan tak sedikit pun mengurangi kecepatan.

    Dua kali kami berhenti untuk istirahat. Supirnya makan dan ngupi. Perhentian pertama ini di sebuah warung makan bernama Awak Away di Kota Subulussalam. Kota ini jaraknya tiga jam perjalanan darat dari Tapaktuan dan merupakan satu dari lima kota yang berada di Provinsi Aceh. Empat kota lainnya adalah Kota Banda Aceh, Kota Langsa, Kota Lhokseumawe, dan Kota Sabang. Perhentian kedua saya tak tahu di daerah mana.

    Ketika kami menyusuri gelapnya malam di jalan yang berliku-liku di bawah pegunungan Bukit Barisan, entah di daerah Kabupaten Pakpak Barat atau Dairi (dua-duanya merupakan kabupaten yang berada di wilayah Sumatera Utara) mobil kami dihadang segerombolan orang. Kami harus berhenti juga karena di tengah jalan sudah ada pohon yang melintang. Mereka minta duit. Tapi tidak meminta kepada kami melainkan kepada supir.

Ada sedikit intimidasi mereka dengan cara mengerubuti supir secara bersamaan. Jendela dipenuhi dengan tangan-tangan yang berusaha menggapai-gapai dashboard. Tapi tak ada insiden. Dikasih secukupnya mereka mau. Saat uang sudah diterima pohon tumbang pun dengan mudahnya digeser oleh mereka dari tengah jalan. Sejatinya bukan pohon tumbang, melainkan dahan pohon dengan banyak daun yang sengaja ditebang.

Tidak jauh dari sana, tiga atau lima kilometer setelah gerombolan itu, ada razia polisi di depan posnya. Kami diperiksa sebentar, terutama barang yang ada di atas mobil yang ternyata isinya durian.

    Kami sampai di Medan jam lima pagi. Inilah kali pertama saya singgah di kota Medan seumur hidup saya dan tak menyangka kota ini begitu besarnya. Pantas saja kalau dijuluki sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Kami melewati Masjid Raya Medan atau Masjid Al Mashun dalam keremangan lampu yang membuat bangunan ini semakin indah dilihat. Kubahnya mirip dengan kubah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dengan model Turki-nya.

 

Masjid Raya Medan (Koleksi Yopi Photography)

Enam penumpang turun mendahului saya di sebuah hotel. Saya turun terakhir di Stasiun Medan. Saya akan naik kereta api ke Bandara Internasional Kualanamu. Saya pergi ke stasiun ini dikarenakan saya tiba di Kota Medan masih pagi. Kalau tibanya jam enam pagi saya akan putuskan langsung naik bus Damri di Jalan Gatot Subroto dan tidak berhenti di stasiun kereta api itu. Alhamdulillah waktunya cukup.

Stasiun Medan ini besar, bersih, dan modern. Loketnya bergaya bank. Bukan seperti loket pasar malam. Dilayani oleh petugas berpenampilan seperti awak kabin pesawat maskapai penerbangan. Rapih, ramah, dan penuh senyum. Bagi pengguna Commuter Line Jakarta-Bogor pasti bisa membandingkan gaya mereka dengan gaya petugas loket di stasiun-stasiun Jabodetabek. Serupa langit dan bumi.

Mungkin karena harga tiketnya juga yang membedakan. Saya harus membayar sebesar 80 ribu rupiah untuk sekali pergi dengan jarak tempuh 40 km. Butuh waktu 37 menit untuk sampai di bandara. Tetapi kalau dari bandara ke Kota Medan butuh waktu 44 menit.

Bentuk keretanya seperti kereta rel listrik Jabodetabek. Tetapi posisi dan bentuk kursinya seperti kursi kereta api jarak jauh Jakarta-Surabaya. Di dalam kereta berpendingin ini terdapat rak-rak besi bersusun, tempat menaruh tas penumpang. Letaknya di samping pintu masuk dan bukan di atas kursi penumpang.

Kereta Api di Bandara Kualanamu

 

Sampai di bandara, saya langsung cari tiket ke Jakarta. Untuk jam-jam penerbangan terdekat tiketnya sudah habis. Banyak calo menawarkan tiket kepada saya. Tapi saya tidak mau beli di calo walaupun harganya lebih murah dan jamnya lebih dekat. Saya akhirnya dapat penerbangan untuk jam 11 siang. Sebelum terbang saya sempatkan diri beli bolu gulung khas Medan.

Singkat cerita saya sampai di Bandara Soekarno Hatta. Dari sana menyambung ke Pasar Minggu naik Bus Damri. Turun di Pertigaan Duren Kalibata. Lalu naik Kopaja ke Stasiun Kalibata. Tiba di stasiun sudah ada pengumuman Commuter Line ke Bogor yang akan segera datang. Empat puluh menit kemudian saya sudah tiba di Stasiun Citayam. Saya sudah tak sabar bertemu Ayyasy dan Kinan, tapi hujan deras menghalangi saya untuk segera beranjak dari stasiun.

Setengah jam kemudian, walau hujan masih turun rintik-rintik, saya paksakan diri naik ojek. Dan…

“Abiiiii….!!!,” Kinan berteriak saat melihat saya turun dari motor ojek. “Abi dataaang!”

Kinan berlari menyambut dan langsung memegang tangan saya. Menariknya masuk ke dalam rumah. Mas Ayyash sudah berdiri di depan pintu. Saya gendong dan peluk Kinan. Saya juga memeluk Mas Ayyasy. Ummu Haqi tak menyambut saya karena ia masih di kantor.

Saya bahagia banget bertemu dengan mereka. Pastilah bahagia. Memangnya ada yang tak bahagia bertemu orang yang dicintainya setelah berpisah sekian lama? Padahal belumlah genap tiga minggu. Inilah, bahagia yang sederhana, yang pula dirasakan teman-teman Direktorat Jenderal Pajak yang ditempatkan jauh dari keluarga. Semakin juga merasakan dengan sebenar-benarnya rasa atas nikmat kebersamaan yang terkadang jika tidak ada kata “jauh” di antaranya menjadi biasa-biasa saja, bahkan mengkufurinya.

Kita akan merasakan betapa sehat itu sungguh nikmatnya jika sakit sedang mendera. Kita pun akan merasakan betapa waktu luang itu sungguh berharganya jika masa sibuk terhela di muka. Kita jua akan merasakan betapa kebersamaan itu tak ternilai artinya jika kesendirian mendominasi hari-hari kita.

Lalu kelelahan menempuh perjalanan 20 jam dari Tapaktuan sampai Citayam tak bisa dibandingkan dengan gurat bahagia berjumpa dengan mereka yang dicinta. Sungguh, orang-orang bijak pernah mengatakan bahwa pertemuan dengan yang dicinta adalah salah satu dari empat hal yang bisa membawa ketenangan dalam hati. Ketiga lainnya adalah melihat yang hijau-hijau, melihat air yang mengalir, dan melihat buah-buahan di atas pohonnya. Dua yang pertama saya dapatkan semuanya di Tapaktuan. Alhamdulillah.

Sore itu Kinan tak mau dimandikan kecuali oleh saya. Sewaktu mandi juga dia nyerocos bicara apa saja. Sore itu, bisa memandikan dan mendengar apa saja yang diomongkannya adalah bahagia sederhana saya. Seperti melihat senja yang bergulung-gulung. Senja di Tapaktuan.

 

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 23 November 2013

Malam Minggu Sepi

 

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, djp, Direktorat Keberatan dan Banding, kpp tapaktuan, Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan, Antonio Banderas, The 13th Warrior, arab, Viking, Mongol-Tatar, Khalifah di Baghdad, Ahmad bin Fadlan, Awak Away, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh, Kota Banda Aceh, Kota Langsa, Kota Lhokseumawe, Kota Sabang, Bukit Barisan, Pakpak Barat, Dairi, Masjid Raya Medan, Masjid Al Mashun, Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Stasiun Medan, bandara internasional kualanamu, Kinan fathiya almanfaluthi, Muhammad yahya Ayyasy almanfaluthi, mas ayyasy, ummu haqi, ria dewi ambarwati, Citayam, Kinan, Senja di Tapaktuan, perjalanan menuju tapaktuan, kpp pratama tapaktuan

 

RIHLAH RIZA #6: NKRI SEBELAH MANA?


RIHLAH RIZA #6: NKRI SEBELAH MANA?

 

“Tapaktuan…!” teriak seorang teman yang sedang melihat pengumuman di SIKKA, sebuah aplikasi kepegawaian di Direktorat Jenderal Pajak. Saya yang sedang asyik menyusun daftar biaya perkara pengajuan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung sedikit terkejut. “Pengumuman apa ini?”

“Mas selamat ya…” ucapan selamat kemudian berbondong-bondong datang dari teman-teman satu ruangan atas pengangkatan saya menjadi kepala seksi. Saya jabat satu persatu tangan teman-teman. Pertanyaan lanjutannya yang saya tak tahu jawabannya.

“Ditempatkan di mana Mas?”

“Aduuh…saya juga tidak tahu. Saya belum lihat pengumumannya. Jadi pastinya di mana saya tidak tahu,” kata saya persis seperti seleb di infotainment saat ditanya wartawan gosip.

Tapi itu tak lama. Salah seorang teman yang sudah melihat pengumuman itu langsung memberitahu saya, “Tapaktuan Mas.”

Suwer…saya baru tahu ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini daerah yang bernama Tapaktuan. Di Aceh pulak.

**

Akhir September 2010 saya dipindah dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing Empat ke Direktorat Keberatan dan Banding (DKB) Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak sebagai Penelaah Keberatan. Di DKB saya masuk di Subdirektorat Banding dan Gugatan II menjadi petugas banding. Tugasnya mewakili Direktur Jenderal Pajak menghadiri persidangan di Pengadilan Pajak atas banding dan gugatan yang diajukan oleh Wajib Pajak.

Selama dua tahun delapan bulan saya menjadi petugas banding. Kemudian Ibu Direktur melakukan mutasi internal dan menugaskan saya di subdirektorat lain agar terjadi penyegaran. Tepatnya di Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi. Di subdirektorat ini saya tergabung dalam Seksi Peninjauan Kembali.

Tugas saya di seksi ini adalah membuat memori peninjauan kembali dan kontra memori peninjauan kembali ke Mahkamah Agung. Setiap putusan Pengadilan Pajak akan dievaluasi oleh Penelaah Keberatan di seksi lain yang menjadi evaluator putusan Pengadilan Pajak. Setiap evaluator akan memberikan rekomendasi dalam laporan hasil evaluasinya apakah putusan Pengadilan Pajak ini akan diajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung atau tidak.

Kalau rekomendasinya adalah diajukan PK ke Mahkamah Agung maka Seksi Peninjauan Kembali membuat memori peninjauan kembali. Selain itu kalau ada Wajib Pajak yang mengajukan memori peninjauan kembali karena kalah di Pengadilan Pajak maka kita membuat kontra memori peninjauan kembali.

Selain direktur, kepala subdirektorat, dan kepala seksi, para Penelaah Keberatan di Seksi Peninjauan Kembali ini juga diberi kuasa khusus langsung oleh Direktur Jenderal Pajak untuk membuat memori peninjauan kembali dan kontra memori peninjauan kembali dan mengajukannya ke Mahkamah Agung.

Teman-teman di Subdirektorat PKE—entah petugas evaluatornya atau petugas pembuat memori peninjauan kembali—sama-sama dikejar jatuh tempo. Makanya teori relativitas Einstein bekerja di sini. Waktu itu berjalan dengan sangat cepat. Tak terasa hari sudah jumat saja. Tak terasa pekerjaan banyak dan menuntut harus diselesaikan. Dan sampai hari itu datang, 26 September 2013…

**

Pemberkasan sudah beres. Sisa-sisa pekerjaan lainnya saya selesaikan. Tugas mengambil uang buat biaya perkara peninjauan kembali ke Mahkamah Agung sudah terlimpahkan. Tidak enaknya masih ada sebagian pekerjaan yang mau tak mau harus ditinggalkan karena saya harus pergi ke Tapaktuan. Saya khawatir ini membebankan. Tapi apa mau dikata.

Oleh karenanya saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman di Seksi Peninjauan Kembali yang selama ini membantu dan membimbing saya. Satu hal pelajaran berharga yang didapat dari sana adalah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat yang lain. Ini bisa jadi adalah sebaik-baik Penelaah Keberatan adalah yang paling bermanfaat buat teman Penelaah Keberatan yang lain. Terima kasih pula buat teman-teman semuanya di seksi lain di Subdirektorat PKE. Maaf kalau saya terlalu banyak menagih laporan hasil evaluasinya. Kerja sama yang selama ini kita bina sungguh tiada cela.

Yang pasti tak ada lagi tagihan saya kepada teman-teman seperti ini: “Slip Mbak…slip Mas…” Slip itu slip setoran biaya perkara ke bank. Itu biasa yang saya tanyakan kepada teman-teman Penelaah Keberatan yang membuat memori peninjauan kembali. Kalau ada memori yang mereka buat, mereka wajib membuat slip setorannya dan menyerahkannya kepada saya untuk kemudian disetorkan ke bank oleh teman saya yang lain.

Dan pada waktunya itu, di sebuah acara kecil-kecilan, sedikit kata-kata yang bisa saya sampaikan kepada teman-teman atas semua yang telah mereka berikan kepada saya. Hanya maaf tak terkira termohonkan kiranya agar teman-teman bisa lapang hati dan lapang dada memaafkan segala salah.

Paling depan: Mbak Fransisca Warastuti, Mbak Wahyu Nursanty, Mbak Sary Laviningrum, dan Pak Dani Koesworo. Barisan tengah: Mbak Eka Dewi Iswanti Harahap, Mbak Ayu Endah Damastuti, dan Mbak Kusumo Pratiwiningrum. Barisan belakang: Mas Bayu Ajie Yudhatama dan Mas Anndy Dailami. Semuaitu arrizquminallah betulkan Mas Anndy?

Yang memotret adalah Mas Sularso—Barakallah Mas semoga berkah pernikahannya—dan satu Penelaah Keberatan lagi adalah Mas Budi Rahardjo yang tidak bisa hadir karena ada memori peninjauan kembali yang harus segera diselesaikan. Thanks to all…

Terima kasih pula buat Pak Budi Christiadi yang telah memberikan pelajaran tentang arti sebuah pembelaan pada bawahan saat ditempatkan di timur sana dan yang terus menyemangati saya sampai akhir untuk tetap bisa survivedi tanah seberang. Terima kasih Pak.

 

Saya dan Pak Budi Christiadi (Foto milik Andreas Joko Putranto)

**

“Ini Seksi PDI ya Bu? Bisa bicara dengan OC-nya Bu?”

“Betul. Ini dari mana?”

“Saya Riza dari Tapaktuan.”

“Sebentar,” perempuan ini kemudian memanggil sebuah nama dengan suara keras yang saya di ujung telepon ini pun ikut mendengarnya.

“Mas…!!! Telepon dari tapak nyonyaaaaa….!!! teriak perempuan itu sambil tertawa-tawa.

Entah perempuan ini tahu tidak di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebelah mana daerah itu berada. Apa perlu ditapaktuankan terlebih dahulu? :p *melet.

***

 

 

 

Keterangan:

  • Seksi PDI adalah Seksi Pengolahan Data dan Informasi di Kantor Pelayanan Pajak
  • OC adalah Operator Console, atau bisa disebut juga admin sistem kantor.

 

 

 

Riza Almanfaluthi    

dedaunan di ranting cemara

21.30 31 Oktober 2013

 

Tags: budi christiadi, farchan ilyas,taslim,dedi supriadi,sularso,anndy dailami,fransisca warastuti,eka dewi iswanti harahap,budi rahardjo,kusumo pratiwiningrum,wahyu nursanty,sary laviningrum,bayu ajie yudhatama,ayu endah damastuti,fery wibowo,dewi novita,wahyu ary wibowo,rois antoni,mangatur elvina simanjuntak,henny puspita sari,pebranto hasudungan banjarnahor,ken suryo purnomo,rajonti hutajulu,andreas joko putranto,fitri,krisman hasintongan purba,achmad sunhaji, i made nesa widiada,krishna triswara wisnu,wulandari,natalina patriani,dedy damhadi,fahmi ahmad,erwin,pasti katulistiwa kasawilaga,sudiyanto,trisna sena,tito adi suwasto,ani tri wahyuni,rizky syabana,yulis bimas sakti,bambang siswanto,anhari masrob,etik prasetiyowati,imron hidayatullah,nur endah anayanti,rudy irawan, agnes meilani,amin waluya, iwan sutrisno, direktorat jenderal pajak, direktorat keberatan dan banding, subdirektorat banding dan gugatan ii, seksi peninjauan kembali, subdirektorat peninjauan kembali dan evaluasi, subdit bg ii, subdit pke, kantor pelayanan pajak penanaman modal asing empat, kpp pma empat, kpp pma 4, mas acho, memori peninjauan kembali, kontra memori peninjauan kembali, mpk, kontra mpk, dkb, Andreas Joko Putranto

Banyak Pegawai Pajak Seperti Dia, Bukan Gayus


Banyak Pegawai Pajak Seperti Dia, Bukan Gayus

image

Para penumpang secara bersamaan memandang motor yang berhenti persis di samping angkot itu. Motor yang dinaiki oleh lima orang. Di atasnya ada sepasang suami istri dengan tiga anaknya yang masih kecil-kecil. Anak paling besar di depan jok, anak keduanya di tengah, sedangkan yang kecil di gendongan Sang Ibu. Mereka tidak tahu kalau yang mengendarai motor itu adalah pegawai pajak.

Sudah 13 tahun lamanya, pegawai yang bernama Rizky Syabana ini, bekerja di Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Kementerian Keuangan. Tahun ini tahun kesembilan bekerja di lingkungan Kantor Pusat DJP. Menurutnya bekerja di direktorat yang mengurusi 75% penerimaan Negara ini tidak harus identik dengan kemewahan. Pun, PNS Pajak itu sama saja dengan PNS-PNS lainnya yang hidup bersahaja. Apalagi kesederhanaan itu adalah pilihan dan integritas adalah kewajiban.

Tentu ada masa baginya kalau integritas yang ia pegang teguh akan diuji. Syukurnya, seluruh ujian itu bisa dilewati dengan baik. Tawaran dari Wajib Pajak untuk dibantu dalam proses penyelesaian keberatan dengan imbalan yang menggiurkan, ditampiknya dengan sopan. Ia cuma mengisyaratkan kalau bersikap profesional adalah tuntutan untuk bekerja di direktorat yang terus berbenah sejak tahun 2002.

Tidak bisa tidak, ada tiga faktor yang mendukungnya untuk tetap bisa memegang teguh integritasnya itu. Pertama, paradigma tentang rezeki: jangan mengambil yang bukan haknya. Halal itu berkah. Dan keberkahan bukan berasal dari banyaknya harta. Tetapi istri, anak, kondisi rumah tangga yang selalu sehat itulah hartanya yang tak ternilai.

Kedua, merasa cukup dengan apa yang ada. Tak adanya tuntutan berlebihan dari orang tua dan istri kepada dirinya sebagai pegawai pajak yang “kata orang” harus punya ini dan itu. Ketiga, lingkungan kerja dan rumah tangga yang selalu mendukung. Sekaligus budaya di tempat kerja yang sudah baik seperti mematuhi jam kerja, berdoa sebelum bekerja, pengumuman adzan, saling mengingatkan untuk tetap menjaga integritas, dan masih banyak lagi lainnya.

Ramadhan telah tiba. Ada sesuatu yang unik di kantornya sekarang. Jika ia pergi ke Masjid setelah pengumuman waktu shalat, maka sudah dipastikan ia akan kebagian di barisan belakang karena Masjid sudah penuh oleh pegawai pajak lainnya. Ini yang dirindukan dari bulan Ramadhan. Semua seperti berlomba-lomba dalam kebaikan. Semua dilatih kejujurannya.

Tak pelak ini menumbuhkan harapannya bahwa kecambah integritas di setiap pegawai pajak akan terus terpelihara setelah bulan suci usai. Dilihat, didengar, diberitakan orang maupun tidak, di tempat yang sepi ataupun ramai. Kecambah itu akan menjadi tumbuhan yang kokoh, akarnya menghunjam jauh ke dalam tanah, batangnya kuat, cabangnya melangit, daunnya hijau dan rindang, buahnya manis.

Gayus -teman satu tim banding di Pengadilan Pajak– cuma daun kering dan tua yang memang sudah waktunya untuk jatuh. Tetapi komitmen dengan kejujuran yang dipegangnya membuat Rizki tak ikut terseret kasus yang mencederai semangat dan membuat luka hati setiap pegawai pajak yang sedang dalam proses perubahan itu.

Walau sempat dicaci, tapi ia menganggapnya sebagai risiko dari sebuah perubahan. Menyulitkan memang. Tapi bukankah semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh? Ia teringat kutipan John Gray itu. Dan ia percaya bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan.

Sampai sekarang, pagi dan sorenya, Rizky tetap konsisten mengarungi 34 kilometer dari rumah menuju kantornya, pulang dan pergi, dengan motor yang setia menemani. Tetap dengan sederhananya. Tetap dengan integritasnya. Banyak Pegawai Ditjen Pajak berintegritas seperti Rizky bukan Gayus.

Seperti kesederhanaan dan integritas para pegawai pajak lainnya yang berada di daerah terpencil. Jauh dari keluarga dan pusat keramaian, tinggal di rumah dinas berkamar pengap tanpa AC dengan ranjang berkelambu, siang hari tanpa listrik, infrastruktur yang tidak memadai. Semua dijalani dengan sikap penuh kerelaan dan tanggung jawab.

Ini semata agar denyut pembangunan bisa dirasakan oleh setiap penduduk Republik ini. Oleh karenanya negeri ini butuh pegawai berintegritas seperti mereka dan perlulah berbangga terhadap para ksatria pajak dengan sikap sederhananya yang telah berjuang dan bekerja keras tanpa pamrih demi mengumpulkan penerimaan Negara.

***

Riza Almanfaluthi

di sebuah tuts keyboard

Gambar milik Direktorat Keberatan dan Banding/Puji.

BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH


BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH

Setiap kali sidang dicukupkan maka berkas sidang seharusnya segera dirapihkan, dibuat checklist-nya, dan dikirim ke subdirektorat tetangga, Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi (PKE). Tapi ini kebanyakan tidak segera dikerjakan oleh Petugas Banding karena tersita waktunya untuk menangani berkas persidangan yang sedang berjalan.

Lama kelamaan berkas itu menggunung dan terabaikan. Terus terang ini membuat saya tidak nyaman. Seperti ada yang selalu membebani. Ini tak bisa dibiarkan. Saya harus segera membereskannya karena mau tidak mau saya akan meninggalkan Subdirektorat Banding dan Gugatan II ini. Saya tak mau menyelesaikannya sampai lembur segala di akhir nanti.

Saya berusaha mengerjakannya sedikit demi sedikit walau untuk memulainya terasa berat. Saya ambil berkas yang isinya tipis atau ringan-ringan dulu. Yang tebal dan berat itu dikerjakan nanti. Beberapa modal “mindset” penting untuk menyelesaikan sesuatu yang membebani adalah:

  1. Man Jadda wa jadaa, orang yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasilnya;
  2. Semua bisa dikerjakan asal dengan ketekunan;
  3. Memulainya dengan yang mudah atau sederhana terlebih dahulu.

Alhamdulillah dengan modal itu berkas yang tadinya bersembunyi di kolong meja dan di atas lemari samping saya bisa terselesaikan semuanya. Kadang dengan kerja lembur. Dan hasilnya meuaskan, lebih dari 250 berkas sidang berhasil saya rapihkan dan kirim. Yang paling membahagiakan adalah teman-teman pun yang tadinya cuek beybeh jadi tergerak ikut membereskan berkasnya masing-masing.

Mulai 3 Juni 2013 lalu, saya tidak lagi ikut persidangan di Pengadilan Pajak. Saya telah dipindahkan ke Subdirektorat PKE karena adanya mutasi internal di Direktorat Keberatan dan Banding. Saya jadi Penelaah Keberatan yang mengurusi pembuatan Memori Peninjauan Kembali dan Kontra Memori Peninjauan Kembali.

Sederhananya begini. Kalau ada putusan Pengadilan Pajak yang mengalahkan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan setelah dievaluasi layak untuk dilakukan Peninjauan Kembali maka saya membuatkan Memori Peninjauan Kembali untuk disampaikan ke Mahkamah Agung. Dan kalau ada Wajib Pajak dikalahkan di Pengadilan Pajak lalu tidak terima dengan putusan tersebut kemudian mengajukan Peninjauan Kembali dengan membuat Memori Peninjauan Kembali maka saya membuat Kontra Memori Pengajuan Kembali-nya.

Dan kepindahan saya ini syukurnya tidak dibarengi dengan beban penyelesaian pekerjaan lama seperti pemberkasan di atas. Semua sudah saya selesaikan. Laporan sidang juga semuanya telah dibuat. Tinggal beberapa berkas sidang saja yang belum dibuatkan laporan sidang cukupnya. Insya Allah sambil jalan dan sekarang saya bisa langsung move on di tempat baru tersebut.

Pekerjaan di Subdirektorat PKE ini semuanya adalah hal baru bagi saya. Jatuh temponya juga harian. Saya yakin dengan izin Allah saya bisa menyelesaikan semuanya. Learning by doing-lah jarene wong Inggris. Tiga hari ini pun saya sudah belajar banyak. Jadi pembelajar cepat. Walau memang butuh waktu untuk mengikuti ritme teman-teman di sana.

Salah seorang teman bilang kepada saya, “Di sini nanti Mas Riza tak bisa menulis di Kompasiana lagi saking sibuknya.” Insya Allah kalau menulis mah tetap jalan yah. Kapan pun dan di mana pun. Dan selama di subdirektorat yang lama juga saya selalu menulis di rumah. So, tinggal memenej waktunya saja. Tapi bisa jadi pernyataan itu tantangan buat saya untuk tetap produktif menulis.

Akhirul kalam, siapa bersungguh-sungguh ia dapat tetap jadi pegangan saya dalam bekerja. Saya juga ingat yang ini: ” ada sebuah dosa yang tidak bisa terhapus dengan pahala shalat, sedekah, atau haji, kecuali dengan bersusah payah dalam mencari nafkah.

Semoga bermanfaat.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21:32 05 Juni 2013

ngantuk…

gambar diambil dari sini

KISAHKU DENGAN PARA MANTAN


KISAHKU DENGAN PARA MANTAN

 

 


*Suasana Jelang Persidangan, yang lagi mikir: Bro Toni Siswanto

 

Ia sekarang telah menjadi kuasa hukum Pemohon Banding. Posisinya berada di sebelah kanan depan Hakim Tunggal. Sedangkan di samping Pemohon Banding, di meja lain, Terbanding diwakili oleh satu tim yang terdiri dari dua orang Penelaah Keberatan Direktorat Keberatan dan Banding yang pengalaman dan umurnya jauh di bawah kuasa hukum.

    Walaupun demikian tidak ada hambatan psikologis yang menghalangi Terbanding untuk bersikap profesional melawan mantan Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak (DJP) ini. Bahkan naluri paling dasar petugas banding, naluri untuk menang, terasa mendominasi. Ini persidangan acara cepat, persidangan pemeriksaan atas banding yang ditengarai tidak memenuhi ketentuan formal.

Untuk kali itu, permasalahannya adalah Pemohon Banding telat beberapa hari dalam menyampaikan permohonan bandingnya ke Pengadilan Pajak. Perlu pembuktian kalau Kantor Wilayah DJP tidak terlambat dalam mengirimkan surat keputusan keberatan. Jelas sudah pemeriksaan dicukupkan segera setelah beberapa kali persidangan. Tiga pekan kemudian, pembacaan putusan dilaksanakan. Hakim Tunggal memenangkan Terbanding.

Para Mantan

Tidak aneh jika Terbanding berhadapan dengan orang-orang yang paling dikenalnya sewaktu di kampus atau saat masih menjadi bagian dari DJP. Ada teman kampusnya, adik kelasnya, mantan dosennya, mantan teman satu direktorat, mantan kepala seksi, mantan pejabat fungsional, mantan kepala kantor pelayanan pajak, mantan kepala kantor wilayah, mantan pejabat eselon II DJP, mantan Sekretaris DJP, bahkan mantan Direktur Jenderal Pajak.

Tidak ada yang salah saat para mantan tersebut memilih menjadi kuasa hukum di Pengadilan Pajak. Undang-undang memperbolehkan siapapun orangnya untuk menggeluti profesi itu asal memenuhi syarat yang telah ditentukan. Dan setelahnya memenuhi kewajiban sebagai kuasa hukum yakni mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan Undang-Undang Pengadilan Pajak.

Bagi orang awam, ini seakan membuka peluang untuk terciptanya kongkalikong baru karena ada pengaruh yang dijual dari para kuasa hukum mantan pejabat itu kepada para mantan anak buahnya yang menjadi Terbanding atau bahkan yang sudah menjadi hakim. Tetapi pendapat ini terlalu prematur karena seakan meragukan integritas dan profesionalisme para petugas banding dan hakim. Juga ada benarnya agar kesempatan sekecil apapun untuk terjadinya persekongkolan tidak akan terjadi lagi.

Kalau dengan semangat ini, maka institusi DJP tertinggal satu langkah dari Pengadilan Pajak dalam menciptakan sistemnya. Pengadilan Pajak telah mengatur bagaimana seorang mantan hakim di Pengadilan Pajak tidak diperbolehkan menjadi kuasa hukum selama dua tahun sejak ia berhenti sebagai hakim di Pengadilan Pajak. Apakah perlu seorang mantan pegawai atau pejabat DJP juga diberlakukan yang sama agar tidak ada pengaruh yang dijual. Entah kepada institusi lamanya atau para hakim.

Bicara soal trading influence, maka kantor akuntan publik yang termasuk dalam the big four paling agresif merekrut para mantan pejabat tersebut. Mereka mengincar mantan pejabat DJP yang sekaligus mantan hakim pula apalagi kalau sudah pernah menjadi Ketua atau Wakil Ketua Pengadilan Pajak. Perkawanan masa lalu, senioritas, serta pengalaman tahunan menjadi pejabat dan hakim adalah modal utama dan bernilai tinggi, minimal ‘tidak diabaikan’ saat berkunjung ke kantor pelayanan pajak atau kantor wilayah, juga saat berbicara di hadapan Majelis Hakim.

Salah satu keuntungan merekrut para mantan ini adalah dalam persidangan mereka tahu apa yang wajib dipermasalahkan dari Terbanding yang luput dari pandangan kuasa hukum biasa. Para mantan itu juga mampu menembus birokrasi karena mereka tahu dapur DJP. Tidak segan-segan dan sungkan-sungkan memangkas alur untuk mendapatkan pelayanan excellent. Mantan kepala kantor wilayah yang baru saja pensiun tentu tidak ‘selevel’ jika dilayani hanya sekelas pelaksana, account representative, atau para penelaah keberatan. Maka minimal eselon III yang akan turun tangan.

Pertanyaannya adalah bisakah pejabat aktif DJP juga bersikap adil memperlakukan mereka seperti para pejabat aktif DJP itu memperlakukan kuasa hukum atau konsultan pajak atau Wajib Pajak lain yang bukan mantan pejabat DJP? Akankah terjadi sambutan ramah, pertemuan, atau pelayanan langsung yang diberikan oleh pejabat aktif DJP? Di sinilah profesionalisme diuji.

Kisah Lain

Jelang persidangan, seorang mantan hakim Pengadilan Pajak sekaligus mantan pejabat DJP menghampiri saya. Kami dari Terbanding pernah satu kali berhadapan dengannya di sengketa banding sebelumnya. Kali ini ia menjadi kuasa hukum untuk sebuah perusahaan elektronik milik pengusaha terkenal di Indonesia ini.

Sambil berbisik ia berkata: “Soal transfer pricing itu sebenarnya bangsa kita yang dirampok melulu.” Ia menghela nafas. Dari gesture-nya terlihat seperti tidak rela. “Dik, kalau ada tingkah laku saya yang kurang berkenan, tegur saya yah. Jangan sungkan,” lanjutnya. Kalimat terakhir ini mengingatkan saya saat bertarik urat leher dengan timnya sewaktu melakukan uji bukti. “Jiwa saya tetap DJP,” pungkasnya.

Sembari bangkit dari kursi karena sudah dipanggil masuk oleh Panitera Pengganti, saya pamit, bersalaman, dan membalas acungan jempolnya dengan dengan acungan jempol yang sama. Untuk penegasannya tersebut hanya Allah dan dirinya yang tahu. Waktu yang akan membuktikannya.

***

Riza Almanfaluthi

Pegawai Direktorat Keberatan dan Banding

04 Mei 2013

Ini adalah opini yang dimuat di Situs Intranet DJP: Kepegawaian pada tanggal 13 Mei 2013

Togetherness is Golden


image

Foto Lama Para Penggawa Subdirektorat Banding dan Gugatan II

Sanadnya begini, Kang Asep–teman sesama Penelaah Keberatan–pernah mendengar dari gurunya kalau: togetherness is golden. Riwayatnya sahih. Tidak dhaif bahkan munkar. Kalau dilihat dari matannya sahih pula. Memang betul sih kalau kebersamaan itu emas. Berharga. Tak ternilai.

Foto di atas adalah bentuk mengabadikan kebersamaan itu. Ada yang sudah pindah kantor ataupun resign dari DJP. Tapi itu tak membuat tali ikatan batin terputus sebagai sesama Penelaah Keberatan yang pernah bertugas di Pengadilan Pajak. Pahit getir menghadapi Pak Hakim dan Pak Jaksa, menunggu persidangan sampai malam menjelang, buka puasa di stasiun Gambir ataupun di lobi Gedung Sutikno Slamet, dan masih banyak momen-momen lainnya yang memupuk kebersamaan. So, melihat foto di atas adalah upaya mengenang saat-saat kebersamaan itu.

Dari foto di atas coba lihat dengan teliti, penampakan mana yang mirip dengan saya. Kalau Anda familiar dengan wajah saya tentu Anda dengan mudah mencarinya.

Kalau Anda ingin merasakan apa yang sedang saya rasakan sekarang ini. Coba abadikan setiap momen yang ada dengan kamera. Lalu lihat hasilnya beberapa waktu berselang dalam hitungan tahun. Akan Anda rasakan betapa teman-teman kita itu baik-baik semua pada kita. Rasakan saja.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di Ranting Cemara
Lantai 9 Gedung Sutikno Slamet Pengadilan Pajak
Di sela-sela penantian
10.41 1 Mei 2013 15 April 2013.

SHARING IS AMAZING


SHARING IS AMAZING


    Selalu saja perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada perjalanan berangkat. Kantuk tidak mendominasi seperti biasanya. Nyupir pun jadi enteng. Saya juga heran kenapa bisa seperti ini? Eh, ternyata karena di sepanjang perjalanan balik dari Bandung ke Jakarta itu saya mengobrol terus. Ngobrolin apa saja dengan Ibu W Arifah, Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi di Kantor Pelayanan Pajak Bogor. Ibu Arifah ditemani putranya yang baru berumur 15 bulan dan pengasuhnya.

    Selama tiga hari, sejak Rabu, kami mengikuti Workshop Tax Knowledge Base (TKB) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pelayanan, Penyuluhan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas), Direktorat Jenderal Pajak (DJP), di Grand Royal Panghegar.

    Workshop itu dimaksudkan untuk mencari masukan dan dalam rangka pengembangan TKB. TKB itu apa? TKB itu seperti situs kumpulan peraturan perpajakan yang berjalan di intranet DJP. TKB diharapkan menjadi rujukan bagi para pegawai DJP untuk mendapatkan peraturan yang valid, mutakhir, dan dapat dipercaya.     

    Nah dalam workshop itu kami dibekali tentang praktik manajemen data peraturan perpajakan dari pengelola situs Ortax. Situs ini cukup dikenal bagi para pencari peraturan perpajakan. Saya saja kalau bingung mencari peraturan terkait sengketa persidangan di Pengadilan Pajak selalu mencari di Google dengan menambahkan kata “ortax” sebagai kata kunci tambahan. Semata agar Google dapat langsung menampilkan indek pencariannya dengan Ortax menempati daftar urutan pertama hasil pencarian.

    Itu di hari pertama. Di hari kedua kami dibekali ilmu tentang Knowledge Management (KM) Sederhananya begini KM itu. Misal ada pegawai baru masuk di Direktorat Keberatan dan Banding (DKB) untuk jadi Petugas Banding. Pegawai ini belajar dari awal semua tentang ilmu-ilmu yang ada di DKB, mulai dari pengetahuan dasar keberatan dan banding, teknik berkomunikasi, teknik beracara di Pengadilan Pajak, dan lain sebagainya. Sampai dia menjadi seorang ahli dan rujukan dari teman-temannya dalam masalah sengketa di persidangan.

    Eeh…tiba-tiba gelombang mutasi menerpa pegawai tersebut. Ya sudah pegawai itu meninggalkan begitu saja DKB dengan membawa semua pengetahuan berharga yang ia miliki yang seharusnya bisa dimanfaatkan optimal di DKB. Inilah yang disebut tacit knowledge, yaitu pengetahuan yang hanya ada di kepala Sang Pegawai itu yang belum terbagi.

    Pegawai baru yang menggantikan ternyata mulai dari nol lagi untuk bisa seperti pegawai yang pindah itu. Nah, dengan KM itulah tacit knowledge dipecahkan dengan cara berbagi pengetahuan.

    Ohya kami dilatih juga cara membuat matrik “from business strategy to knowledge“, sebuah matrik yang menjabarkan cara agar pengetahuan tentang strategi bisnis bisa didapat dan dibagi. That’s great. Ilmu baru buat saya.

    Satu pertanyaan adalah mengapa perlu ilmu KM pada workshop kali ini? Jawabnya adalah bahwa pengembangan kesempurnaan TKB tidak lain dan tidak bukan juga didapat dari para pegawai DJP sebagai kontributor utamanya. Dan itu hanya bisa dilaksanakan jika semangat berbagi sudah tumbuh. KM menjadi pemantik tumbuhnya semangat berbagi.

    Malamnya ada sesi motivasi dari seorang motivator. Kami diajak untuk sama-sama membuang kotak problem hidup yang ada dalam benak kami, yang dari alam bawah sadar seringkali hal itu menghambat kami untuk bisa sukses. Tentu pada akhir sesi itu kami diajak untuk saling berbagi. Tidak hanya teori, kami diajak untuk merealisasikannya saat itu juga. Semangat berbagi ini berbuah donasi sebesar lebih dari tiga juta rupiah untuk disumbangkan kepada yatim piatu.

**

    Dua setengah jam perjalanan Bandung sampai Tanjung Barat. Kami langsung berangkat jam dua siang selesai shalat jum’at dan makan. Tidak ada acara jalan-jalan bahkan untuk sekadar cari oleh-oleh. Oleh-oleh sudah dipesankan oleh adiknya Ibu Arifah. Jalan-jalan di Bandung mah nanti saja. Cari waktu yang lebih luang. Kami ingin cepat-cepat sampai di Jakarta seperti itu karena tidak mau terjebak macetnya Jakarta di petang hari, apalagi di hari jum’at.

    Workshop kami di hari Rabu dan Kamis sampai larut malam. Sedang di hari terakhir, kami dibatasi sampai waktu check out pukul 12.00 siang. Jadi di pagi hari Jum’at itu kami melakukan finalisasi gagasan untuk TKB serta mempresentasikannya.

    Empat kelompok telah memberikan masukan yang amat berharga buat TKB. Setelah terkumpul semua kami berharap TKB dapat disempurnakan dan diluncurkan segera untuk bisa dipakai oleh seluruh pegawai DJP.

    Yang terpenting untuk tidak dilupakan adalah selayaknya pula para peserta workshop ini untuk menularkan semangat berbaginya kepada teman-teman pegawai DJP lainnya. Karena berbagi itu menakjubkan, berbagi itu untuk menerima, dan berbagi itu membahagiakan. Ayo berbagi!

***

 

 

Riza Almanfaluthi

Penelaah Keberatan Direktorat Keberatan dan Banding

dedaunan di ranting cemara

15 September 2012

Sumber gambar dari sini.

 

 


 

HAMPIR DUA TAHUN


HAMPIR DUA TAHUN

Hampir dua tahun lalu kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang mengakibatkan 34 korban jiwa dan puluhan lainnya luka berat ataupun ringan. Kecelakaan maut antara kereta api (KA) Eksekutif Argo Bromo Anggrek dengan KA Senja Utama, Sabtu (5/10/2010) di Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah.

Semuanya menyisakan kesedihan yang mendalam, terutama bagi kami di Direktorat Keberatan dan Banding, Direktorat Jenderal Pajak. Karena salah satu korban tersebut adalah teman kami yang bernama Nanang Supriyanto.

Ia seperti biasa, di hari jum’at itu dan setelah sepekan atau dua pekan bekerja di Jakarta, menggunakan KA Senja Utama untuk pulang ke Semarang karena istri dan dua orang anaknya tinggal di sana. Tetapi takdir kematian menjemputnya sebelum bertemu dengan keluarganya itu.

Kami hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan tempat yang terbaik buat sosok baik ini, memberikan ampunan kepadanya, dan memasukkan beliau ke tempat orang-orang shalih berada selayaknya.

Dan seperti biasa teman-teman di Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi menjelang hari lebaran 1433 Hijriah ini menunjukkan empatinya yang luar biasa dengan mengirimkan bingkisan kepada anak-anak Mas Nanang. Mungkin ini tak seberapa. Tetapi ada sebuah pesan terkirim dan terunggah: bahwa kami senantiasa mengingatnya. Ada silaturahim yang harus dijaga. Ada jiwa-jiwa yang harus disayang. Ada trauma yang harus dihilangkan. Ada gembira serta bahagia yang harus disemai. Ada cinta yang harus ditumbuhkan. Tahadu tahabbu. Saling memberilah hadiah, niscaya kalian akan saling mencinta.

Ini bukan apologi purba tapi tulus dari garputala rasa yang didentingkan dari hati yang paling dalam. Semoga bisa diterima.

Teruntuk:

Ananda Nadia Sifa Khoirunisa dan Ananda Huwaida Rana Khoirunisa

Anak-anakku…

Apa kabarnya?

Semoga bulan ramadhan ini membawakan keberkahan yang banyak untuk kita semua. Sebentar lagi lebaran akan tiba. Semoga pula di waktu itu akan selalu banyak kebahagiaan yang dirasa. Sebagaimana kebahagiaan yang dirasakan oleh Abi di sana karena banyaknya doa yang terlantun dari kalian.

Allaahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa Robbayani Shaghiira…

(Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa orang tuaku dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi aku di waktu kecil.)

Sebagaimana kebahagiaan yang dirasa Ummi karena melihat kalian tumbuh besar menjadi anak-anak yang sholihat, sehat, dan cerdas.

Tetaplah menjadi yang terindah di mata Ummi, Nak…

Tetaplah menjadi penyejuk mata Ummi, Nak…

Tetaplah selalu mendoakan Abi dan Ummi, Nak…

Anak-anakku…

Senantiasa bergembiralah di lebaran ‘Id seiring takbir yang berkumandang di langit.

Kami pun bergembira melihat kalian bergembira.

Kami pun bahagia melihat kalian bahagia.

Dari kami:

Teman-teman Abi

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

hanya ini yang bisa ada di ramadhan

08:21 15 Agustus 2012

Terima kasih kepada teman-teman Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi atas laku filantropinya. Kearifan yang laik sekali untuk ditiru oleh mereka yang memiliki maruah sebagai manusia bumi.

JANGAN PERNAH MENYERAH


JANGAN PERNAH MENYERAH

 

 

Ya Allah Sang Pemilik Keindahan

jika pertemuan dan perpisahan

adalah sebuah kemestian,

maka jadikanlah pertemuan itu indah

dalam pandangan kami

jadikanlah pertemuan itu indah

dalam benak dan hati kami,

sehingga keindahan itu akan tetap

menghiasi hari-hari kami,

pada saat kami berpisah nanti

 
 

Ya Allah, Ya ‘Aziiz

jika pertemuan hanyalah awal

dari sebuah perpisahan,

maka cukuplah kebahagiaan

yang kami bawa pulang,

karuniakanlah kebaikan

yang lebih kepada saudara kami yang akan pergi,

melebihi kebaikan yang ia dapatkan di sini

dan karuniakanlah kebaikan yang sama

kepada saudara kami yang datang kepada kami,

melebihi segala kebaikan

yang ia tinggalkan.

 
 

 
 

            Beberapa harap yang terucap dalam doa di saat acara Pisah Sambut Pegawai Direktorat Keberatan dan Banding, Jum’at (13/5) siang ini. Kami melepaskan lima teman yang akan berpisah.

Dua orang teman kami akan menjadi Account Representative yakni Mbak Nur di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tamansari Satu dan Mas Rio di KPP Duren Sawit. Dua orang lagi tetap menjadi Penelaah Keberatan yakni Mbak Ratna di Kantor Wilayah DJP Banten dan Pak Sudiya di Kantor Wilayah DJP Lampung. Sayangnya dua teman kami yang terakhir ini tidak ikut dalam acara.

Satu lagi adalah Mbak Vivi yang akan cuti di luar tanggungan negara untuk ikut suaminya yang sedang tugas belajar di Adelaide, Australia. Mbak yang satu ini bilang pada sesi  sambutan, “Sudah cukup 13 tahun mengabdi di Direktorat Jenderal Pajak dan kini saatnya saya untuk mengabdi kepada suami.” Tepuk tangan kami menyambut dari akhir kalimatnya itu.

Mas Rio

Mbak Nur

Mbak Vivi

 

Setelah menerima cenderamata mereka didaulat untuk bernyanyi bersama-sama. Saya tak tahu lagu apa itu awalnya, tetapi ketika tiba pada baris reffrain sepertinya itu lagu ada band,

walau badai menghadang
ingatlah ku kan selalu setia menjagamu
berdua kita lewati jalan yang berliku tajam

Saya juga tak hafal lagunya . Ini pun hanya menyalin dari internet. Mendengar lagu itu teman-teman sampai pada ikutan bernyanyi dan mengangkat kedua tangannya lalu menggoyangkannya ke kanan dan kiri. Sayang tidak ada pohon di sana. Kalau enggak, pasti MC-nya, Kang Awe, akan bilang: “yang dipohooon goyaaanng…!”

Setelah itu diperkenalkan teman-teman yang baru datang. Ada 10 orang. Satu per satu diperkenalkan. Tiba-tiba, sebelum dilanjutkan ke acara berikutnya, aku seperti merasa sendiri. Walau di tengah keramaian. Dan segera saya pun beranjak untuk meninggalkan acara itu. Entahlah, siang itu saya ingin sendiri. Tulisan ini pun sepertinya harus berakhir sampai di sini.

Satu kalimat buat yang meninggalkan kami, jangan pernah menyerah dalam kondisi apapun. Semangat!!! Semoga Allah memberikan keberkahan di setiap waktu yang dimiliki.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ask: what do you feel today? my answer: I am very happy

07.52 am 14 Mei 2011