Seberapa Dashrath-nya Kita?



What I did is there for everyone to see. When God is with you, nothing can stop you.

Dashrath Manjhi

Kalau ada orang yang ingin membuktikan seberapa besar kekuatan cinta maka banyak sejarah telah menuliskannya. Kalau ada yang ingin tahu dahsyatnya cinta menghancurkan gunung, maka Dashrath Manjhi telah membuktikannya.

Selama 22 tahun—dari tahun 1960 sampai 1982 Dashrath Manjhi seorang diri menghancurkan gunung dengan hanya berbekalkan tali, palu, dan alat tatah. Di desa miskin Gehlaur, dekat Gaya di negara bagian Bihar orang-orang telah menganggapnya gila. Tapi Dashrath dengan tekad bulat tak memedulikan semua cemooh itu karena ia tahu betul apa tujuannya.

Baca Lebih Lanjut

RIHLAH RIZA #9: AURAD DAN RELEGION


RIHLAH RIZA #9: AURAD DAN RELEGION

Tiga orang aktivis pergerakan itu dibuang oleh Penjajah Belanda karena kepemimpinan mereka yang mampu menggerakkan semangat perjuangan anti kolonialisme Belanda. Soekarno dibuang ke Ende, Flores pada tahun 1933. Hatta dipenjara di tahun yang sama kemudian bersama Syahrir dibuang ke tempat yang menyeramkan buat orang pergerakan pada masa itu: Boven Digoel. Sebuah tempat pembuangan buat para pemberontak Partai Komunis Indonesia tahun 1926.

    Hatta membawa koleksi bukunya sebanyak 16 peti. Di sana ia menulis buku. Juga menulis untuk koran. Penghasilan dari menulis itu dipergunakan sebagai biaya hidupnya di tanah pembuangan. Saking cintanya kepada buku ia menjadikan buku yang ditulisnya di Banda Naira—tempat pembuangan setelah Boeven Digoel—berjudul Alam Pemikiran Yunani sebagai mas kawinnya saat menikah dengan Rahmi Rachim di tahun 1945.

**

Margalaksana, Salawu, Tasikmalaya. Bertahun-tahun lampau. Dalam sebuah kenangan yang tak akan pernah hilang. Ini rumah uwak (kakak ibu) saya. Berada di pinggir jalan lintas Tasikamalaya-Garut. Halamannya luas. Samping-sampingnya sawah luas membentang. Belakangnya kolam ikan mas. Di belakangnya lagi adalah persawahan hingga ke kaki bukitnya. Daerah pegunungan yang sejuk. Desa yang tenang. Ini benar-benar tanah parahyangan. Secuil surga.

    Kalau shubuh airnya dingin bikin menggigil. Jika matahari terbit cahayanya menyinari sawah yang sedang menguning dan pohon-pohon lebat di perbukitan. Masih banyak burung-burung liar yang ribut mencari makan. Gemericik air bening dari pancuran, saung yang sedikit tua tapi bersih, ikan mas yang berenang ke sana kemari di lebak adalah gambaran sedikit tempat dekat rumah uwak. Apalagi kalau sedang hujan. Sempurna sudah seperti lukisan Basuki Abdullah tentang pantai di Teluk Numba yang dipesan oleh Soekarno.

    Suasana dan keindahannya yang dibawa sampai ke alam bawah sadar membuat saya menginginkan untuk bisa tinggal di sana. Atau di suatu tempat yang setidaknya menyamainya. Yang membangkitkan banyak inspirasi seperti Ende bagi Soekarno atau Banda Naira buat Hatta. Dan ternyata Allah membawa saya ke sebuah tempat yang merupakan paduan dari keduanya. Pegunungan dan pantai. Kota Naga: Tapak Tuan.

    Saya tinggal di sebuah mess yang dulunya merupakan bangunan bekas Pos Pajak Bumi dan Bangunan. Halaman mess ini luas sekali. Ditumbuhi dengan rumput liar dan berpagar tembok pendek. Di belakang mess terdapat pekarangan yang luas. Ada satu rumah lagi di situ. Namun tidak sebesar mess kami. Di belakangnya lagi bukit dengan hutan yang masih alami. Tempat tinggal monyet, babi, biawak serta hewan-hewan liar lainnya. Harimau tentunya sudah tidak ada lagi.

Ini mess kami. (Foto koleksi Teman)

    Di depan mess kami yang menghadap ke barat ini adalah jalanan sepi yang merupakan jalur lintas barat Sumatera. Di depannya lagi adalah pantai dari Samudera Hindia. Kalau ditarik lurus ke barat daya, tembus Pulau Simeulue maka ribuan kilometer di sana ada pulau besar yang terkenal bernama Madagascar. Kalau ditarik garis lurus 15 derajat ke barat laut maka itu adalah arah kiblat.

Suasana depan mess kami.(Koleksi Pribadi)


Sunset di suatu hari. (Koleksi pribadi)


Selalu ada senja.(Koleksi pribadi)


Pantai depan mess kami. (Koleksi pribadi)


Pemandangan depan mess kami. (Foto koleksi pribadi)

    Jadi dari pintu mess kami itu saya bisa melihat cakrawala yang memanjang, lautan luas, dan tentu saja senja di sore harinya. Pemandangan matahari tenggelam itu yang seru. Apalagi kalau langitnya tanpa awan.

Pantai di depan kami itu dibatasi tembok tebal. Gunanya untuk membatasi terpaan ombak. Karena sering kali ombak itu sampai ke jalanan. Waktu di malam pertama tidur di mess saya mengira suara yang sering kali terdengar keras dan berdebum itu adalah suara mobil yang melaju kencang. Ternyata bukan. Itu suara ombak besar yang keras. Bum…! Bum…! Bum …!

Pantai di depan kami ini pun bisa buat snorkeling. Ada karang dan ikan warna-warninya. Airnya hijau bening sehingga bisa terlihat dasar bawah lautnya. Saya pernah diajak untuk itu, alatnya sudah tersedia, saya tinggal pakai, tapi saya bilang nanti saja kalau saya sudah siap dan hari libur.

    Tidak takut kena tsunami? Insya Allah tidak. Waktu tsunami tahun 2004 lalu, Tapaktuan tidak mengalami tsunami walau air laut naik karena terhalang Pulau Simeulue ratusan kilometer di depannya. Tanda-tanda tsunami itu adalah ketika ada gempa dan air laut di pantai surut mendadak. Itu tanda yang harus diwaspadai oleh karenanya kami tinggal naik ke bukit belakang saja. Walau tsunami kemarin tidak mengakibatkan dampak signifikan di Tapaktuan, tapi di sana sudah ada tim SAR yang selalu siap untuk memberikan sosialisasi tentang tsunami ini. Bahkan di pelabuhannya ada Stasiun Pasang Surut Tsunami Early Warning System (TWES).

Bangunan tempat alat Peringatan Dini Tsunami. (Gambar koleksi pribadi)

    Jadi benar-benar pemandangan yang luar biasa indah dan tentunya menenangkan. Kalau pagi saya buka pintu depan lebar-lebar agar udara laut masuk ke dalam rumah. Pintu belakang saya buka juga agar udara perbukitan pun masuk. Asal jangan babi hutan saja yang masuk.

    Soal babi hutan ini memang punya story-nya. Waktu malam pertama kali saya menginap di mess itu ada tiga babi hutan yang sedang mencari-cari makanan. Sebuah penyambutan atas kedatangan saya. Kadang kalau kita lagi asyik-asyiknya nonton tv muncul babi-babi hutan itu dengan santainya. Tak mesti tiga, kadang dua ekor, kadang sendirian. Tergantung mood dan mau-maunya si babi. Jangan heran kalau malam-malam ada yang mengais-mengais tong sampah di pinggir jalan. Bukan pemulung seperti di Jakarta tetapi keluarga si Pumba itu. Pumba adalah karakter babi hutan di film kartun Lion King.

Bahkan pagi hari ini saat saya sedang belok ke SPBU ada babi liar yang kesiangan masuk hutan, masih cari-cari makanan di tengah kota. Untung tidak tertabrak. Kayaknya yang lagi menunggu di rumah sudah panik mengapa si babi belum pulang-pulang padahal lilinnya sudah mau habis dan cahaya matahari sudah nongol dari balik bukit. (Ini mah ngepeeeeeet…abaikan).

Selain babi ada biawak ada juga nyomet monyet. Kambing juga ada. Kucing ada juga. Jangkrik setiap malam tidak pernah absen menyuarakan aspirasinya. Krik…krik…krik…Merekalah para binatang yang sering lewat di depan atau belakang rumah.

    Kota Tapaktuan ini berada di Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan. Kotanya kecil. Se-cret-an saja ini jalanan kota sudah habis dikelilingi. Kalau pakai mobil satu lagu saja tidak habis diputar. Ke mana-mana enak pakai sepeda. Jalanan yang sepi mendukung untuk gowes. Gowes sambil menghirup udara pagi dan menikmati keindahan pantai jadi salah satu cara mengusir jenuh.

    Ada dua jalan utama yaitu Jalan T Ben Mahmud dan Jalan Merdeka. Jalan yang pertama itu jalan tempat pusat pemerintahan. Sedangkan yang terakhir adalah pertokoan dan pusat bisnis.

Kantor Bupati Aceh Selatan di Jalan T. Ben Mahmud (Koleksi teman)

    Di Tapaktuan tidak ada tempat untuk menyalurkan gaya hedon orang ibu kota seperti mal, bioskop, diskotik. Orang pun harus menutup auratnya.    Ini himbauan yang tampak di jalanan Tapaktuan. Dan para warga mematuhinya. Soalnya ada polisi syariat yang disebut Wilayatul Hisbah yang akan mengawasi. Hotel-hotel atau losmen atau penginapan jangan sekali-kali menerima pasangan yang bukan mahram untuk satu kamar kalau tidak mau dirazia.

Seharusnya AURAT bukan AURAD (foto koleksi pribadi).

    Aceh memang terkenal agamis. Ada qanun (peraturan daerah) yang menjaga keterlestarian syariat Islam di daerah istimewa ini. Apalagi Tapaktuan suku aslinya merupakan suku Aneuk Jamee yang merupakan para perantau dari Minangkabau yang sudah menetap di sana sejak abad ke-15. Banyak masjid dan meunasah (musholla) yang dibangun. Agama menjadi urat nadi mereka dalam berperikehidupan. Tak sekadar slogan yang biasa terpampang.

Slogan yang terpampang di SMA Negeri 2 Tapaktuan. Seharusnya RELIGION bukan RELEGION. (Foto Koleksi Pribadi)

Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Minang dengan logat Aceh.

    “Pake talua?” tanya penjual nasi gurih itu kepada saya.

    “Hah apa?” saya balik tanya karena tak mengerti.

    “Pake talua?” dia mengulang tanyanya.

    “Ohh iya pake telur,” ini hasil berpikir cepat saya. Mengartikan bahwa nasi uduk yang saya makan itu memang pakai telur, bukan pakai ayam gulai. Saya sering disangka asli sana. Mungkin karena melihat kulit saya ini. Rasis juga mereka. Hihihi…

    Inilah sekelumit Tapaktuan. Kota yang terkenal dengan buah palanya. Seperti pula Banda Naira yang menjadi tempat penghasil pala di masa lalu hingga orang-orang Eropa berduyun-duyun datang ke timur Indonesia memperebutkannya. Pala pada saat itu lebih tinggi nilainya daripada emas.

Tidak seperti Hatta, saya cuma membawa buku tiga biji. Tak sebanding. Tapi suasana kebatinannya memenuhi rongga dada saya. Membuncah dan memuara. Sampai waktunya itu tiba.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 05:50 7 november 2013

RIHLAH RIZA #8: MEULABOH DAN 105 TAHUN YANG LALU


RIHLAH RIZA #8: MEULABOH DAN 105 TAHUN YANG LALU

Meulaboh. Di waktu sahur. Akhir Ramadhan 1316 H (11 Februari 1899 M). Suaminya tertembak di dada dan di perutnya. Tembakan prajurit Van Heutsz merobohkan dan menyebabkan suaminya meninggal dunia. Jenazah suami keduanya ini dibawa para pengikutnya untuk dikuburkan di sebuah tempat yang dirahasiakan agar tidak diketahui Penjajah Belanda yang ingin memastikan kalau “pengkhianat” yang bernama Teuku Umar ini benar-benar tewas.

    **

Kami bertiga tiba di Bandara Kualanamu jam 8.15 pagi (27/10) dan harus menunggu tiga jam lebih agar bisa naik pesawat ke Meulaboh. Untuk ke sana kami harus ganti pesawat yang lebih kecil lagi. Dari Jakarta menuju Kualanamu kami memakai pesawat Boeing yang dioperasikan Lion Air, sedangkan ke Meulaboh kami menggunakan maskapai Wings Air dengan pesawat ATR72-500 berbaling-baling dua buatan perusahaan Perancis-Italia. Tentu dengan kapasitas penumpang yang lebih sedikit daripada Boeing. Berkisar 70-an penumpang.

    Penerbangan kami ini merupakan penerbangan connecting. Kami cukup membeli tiket sekali saja. Ada beberapa jadwal penerbangan dari Jakarta mulai dari jam lima sampai jam delapan pagi. Semua penerbangan di jam tersebut transit di Kualanamu menunggu pesawat ATR72-500 yang dijadwalkan berangkat jam 10.45 siang. Saya sarankan jangan terbang dengan pesawat yang berangkat dari Jakarta jam delapan pagi karena dikhawatirkan ditinggal oleh pesawat ke Meulaboh itu jika ada keterlambatan atau delay di Bandara Soekarno Hatta.

(Koleksi Foto Pribadi)

    Ada keterlambatan. Oleh karenanya jam 11 lebih kami baru diminta untuk segera naik pesawat. Kami naik bus yang telah disediakan menuju pesawat yang diparkir jauh dari tempat tunggu kami. Karena pesawat ATR72-500 ini masuknya melalui pintu belakang maka tak perlu ada garbarata. Perlu waktu lima puluh menit penerbangan untuk sampai ke Bandara Cut Nyak Din, Meulaboh. Kalau ditarik garis lurus kami harus menempuh perjalanan sepanjang 295 km.

    Dua teman saya bertujuan akhir Meulaboh. Tetapi Meulaboh bukan tujuan saya. Tapaktuanlah yang menjadi tujuan. Tentu banyak jalan menuju Tapaktuan. Banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan untuk memilih jalan itu.

    Pertama, Jakarta-Banda Aceh melalui udara dilanjut dengan menempuh 439 km perjalanan darat menggunakan travel menuju Tapaktuan selama kurang lebih delapan jam. Jalanan mulus. Harga tiket pesawat dan lamanya perjalanan Jakarta-Banda Aceh tentunya lebih mahal dan lebih lama daripada Jakarta-Kualanamu apalagi kalau transit dulu.

    Kedua, Jakarta-Kualanamu melalui udara dilanjut menuju Meulaboh dengan pesawat dan masih ada 200-an km menuju Tapaktuan dengan perjalanan darat atau sekitar tiga sampai empat jam lebih. Harus ada yang menjemput di Bandara Cut Nyak Din. Jalanan mulus.

    Ketiga, Jakarta-Kualanamu melalui udara dilanjut menuju Tapaktuan dengan pesawat Susi Air berjenis Cessna Grand Caravan C 208 B berpilot dua orang dan berpenumpang dua belas orang. Tarifnya murah karena telah disubsidi pemerintah. Jadwalnya tidak setiap hari dan hanya di jam-jam tertentu. Untuk menyiasati waktu dan daripada menempuh perjalanan darat yang lama maka banyak teman di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan bila berangkat dari Jakarta ia mengambil perjalanan paling malam lalu menginap—tidur di mana saja—di Bandara Kualanamu kemudian lanjut dengan pesawat kecil menuju Bandara Kelas IV Teuku Cut Ali, Pasie Raja, Tapaktuan. Jadwalnya itu yang sering tidak bersahabat. Dari Tapaktuan sekitar jam empat sore sedangkan dari Kualanamu jam tujuh pagi. Tentu ini bikin terlambat (TLB) atau pulang cepat (PC) dalam catatan kehadiran kita.

    Keempat, Jakarta-Kualanamu melalui udara. Kemudian naik bus, kereta api, atau taksi menuju Medan. Lalu dari Medan naik travel atau bis menuju Tapaktuan. Menempuh tujuh hingga delapan jam perjalanan dengan jarak 390-an km. Jarak tempuhnya lebih pendek daripada rute dari Banda Aceh namun jalanan tidak mulus. Dengan perpindahan bandara dari Polonia, Medan ke Kualanamu, Deli Serdang menambah waktu tempuh untuk bisa sampai di Tapaktuan.

    Saran penting dari saya berdasarkan informasi dari teman-teman adalah lebih baik naik travel dari Medan ke Tapaktuan daripada naik bis jika ingin memburu waktu sampai di Tapaktuan pagi-pagi. Travel hanya ada di Medan. Belum ada di Kualanamu. Jam terakhir travel adalah jam 9 malam. Setelah itu tak ada lagi.

    Itulah empat rute menuju Tapaktuan. Sedangkan perjalanan dengan rute Jakarta Meulaboh ini saya tempuh karena ini merupakan perjalanan pertama, bersama teman, bawa banyak barang, dijemput juga oleh teman-teman, dan tidak mengetahui jalur langsung dari Kualanamu ke Tapaktuan. Rute ini tidak akan saya tempuh lagi Insya Allah. Yang masih masuk akal bagi saya adalah rute ketiga dan keempat.

    Ohya, penting juga diketahui, bahwa  ketika pesawat ini bertujuan Meulaboh, maka sesungguhnya pesawat ini mendaratnya di Bandara Cut Nyak Din yang berada di Kabupaten Nagan Raya. Kabupaten ini merupakan pecahan dan bersebelahan dengan Kabupaten Aceh Barat yang beribu kota Meulaboh. Masih 45 km dari Bandara Cut Nyak Din menuju kota Meulaboh.

Pesawat ATR72-500 saat tiba di Bandar Udara Cut Nyak Din, Kabupaten Nagan Raya. (Foto Pribadi)

    Saya tiba di Bandara Cut Nyak Din jam 12.15. Saya berpisah dengan dua orang teman saya yang ditempatkan di KPP Pratama Meulaboh. Lalu saya melanjutkan perjalanan dengan teman-teman dari KPP Pratama Tapaktuan yang menjemput saya satu jam kemudian. Mereka adalah Mas Yan Permana, Mas Hasbul—teman lama saya di KPP Penanaman Modal Asing Empat dulu, Mas Suardjono dan Mas Oji Saeroji.

    Mulailah perjalanan panjang kami menuju Tapaktuan. Melewati perkebunan kelapa sawit, jalanan mulus yang sepi, tak bertemu dengan bis gede-gede seperti di Pantura Jawa, jarang ketemu truk, tak ada angkot, yang ada pesaing kami: motor. Perjalanan kami diselingi dengan berhenti dua kali di masjid yang berbeda, lalu makan di rumah makan Jokja (Pakai k bukan g), dan berhenti sebentar di SPBU. Saya mengira perjalanan darat ini berlangsung singkat tapi ternyata lama. Saya sampai terkantuk-kantuk karena tempat tujuan tak kunjung tiba.

    Kami banyak disuguhi pemandangan elok. Bukit-bukit lebat seperti di jalanan Garut-Tasikmalaya. Bahkan suatu saat kami melewati barisan bukit yang diatasnya ditutupi kabut dan dari kumpulan kabut itu muncul lengkung pelangi yang luar biasa indahnya. Kebetulan habis hujan saat itu. Subhanallah. Indah banget. Apalagi kalau sudah sampai di Kecamatan Sawang, Tapaktuan kita akan melihat pemandangan pantai yang eksotis. Bagian tentang keeksotisan inilah yang saya tidak sabar untuk menuliskannya segera. Tapi nanti satu per satu saya akan menyuguhkannya di bagian lain.

Plang KPP Pratama Tapaktuan (Koleksi Pribadi)

Akhirnya pada pukul 18.15 saya tiba di Tapaktuan. Mobil yang kami kendarai mampir sebentar melihat kantor kami. Kata teman agar saya tidak shock dulu sebelum benar-benar bekerja esok harinya. Mess tempat saya akan tinggal berjarak tidak jauh dari kantor ini. Kurang lebih 75 meter.

So, total jenderal 14,5 jam perjalanan Citayam menuju Tapaktuan. Dengan kecanggihan teknologi perjalanan 2400-an km itu hanya ditempuh beberapa jam saja. Saya tak bisa membayangkan berapa hari perjalanan dengan menaiki kuda. Ngapain lagi bayangin naik kuda. Dengan kecanggihan teknologi itulah setidaknya mengurangi lelah yang diderita jika perjalanan itu harus kudu naik kuda atau perjalanan darat berhari-hari.

Tinggal ke depannya perlu dipikirkan lagi moda transportasi yang mengubah benda padat menjadi partikel tak terlihat dan memindahkannya dalam sekejap ke tempat yang dituju lalu menjadikan partikel itu seperti semula. Fiksi dan Hollywood banget. Tapi semua bermula dari mimpi seperti mimpi Leonardo Da Vinci yang merancang bangun alat yang bisa menerbangkan manusia. Atau seperti pintu doraemonkah?

Alat yang mampu menuntaskan rindu kepada orang dan kampung halaman, tanpa lelah, dan bisa setiap saat. Yang akan menuntaskan rindu seperti  rindu Cut Nyak Din akan negeri tempat ia dilahirkan. Ia terbuang di masa tuanya. Ke sebuah tempat yang jaraknya ribuan kilometer dari makam suaminya. Sebab suatu alasan: keberadaannya di Aceh membuat semangat perlawanan rakyat Aceh tetap berkobar. Tentu jangankan pesawat, bus pun tak ada pada masa itu.

Gunung Puyuh, Sumedang. Di 105 tahun yang lalu dari tanggal ini, tepatnya 6 November 1908 ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Keterasingan yang dibawa sampai mati. Tapi jasanya tak pernah terasing di jiwa anak bangsa atas semangat dan perlawanannya yang tak mengenal lelah dan sakit. Dan saya hampir dekat dengan Meulaboh. Suatu saat, jika ada waktu dan kesempatan saya akan mengunjungi makam suaminya dan berdoa di sana: agar Allah menggabungkannya ke dalam golongan orang-orang yang syahid.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 5:51 6 November 2013

Tags: Jakarta-Meulaboh, Pesawat dari Jakarta ke meulaboh, Jakarta-tapaktuan, pesawat dari Jakarta ke tapaktuan, citayam, tapaktuan, kpp pratama tapaktuan, nagan raya, aceh selatan, aceh barat, bandara teuku cut ali, bandara cut nyak din, garut-tasikmalaya, garut, tasikmalaya, pesawat ke tapaktuan, pesawat ke meulaboh, jadwal ke meulaboh, jadwal ke tapaktuan, kpp pma empat, kpp penanaman modal asing empat, rumah makan jokja, pesawat atr72-500, kualanamu, banda aceh, medan, yan permana, oji saeroji, hasbul, suardjono, polonia, deli serdang, pasie raja, kpp pratama meulaboh, teuku umar, sumedang, van heutsz, gunung puyuh.

UNTUK ADEKKU YANG MANIS


UNTUK ADEKKU YANG MANIS


Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Puput, adekku yang manis, apa kabar hari ini? Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan Iman dan Islam kepada Puput. Tak lupa tentunya adalah kesehatan raga, apatah lagi sebentar kemudian hari-hari yang dinanti itu akan segera tiba. Wuih, bahagianya momen indah itu. Aang, turut bahagia sekali tentunya.

Puput, adekku yang manis. Ini bukan basa-basi loh. Bagaimana tidak manis hingga Mamah Aang senantiasa memajang foto keponakannya di ruang tamu di antara foto-foto keluarga kita. Hingga setiap pulang dari kampus—saat liburan itu—Aang selalu mendapati foto itu bertambah semakin manis-dan manis. Walaupun itu foto masa kecil Puput.

Dan tiba-tiba teknologi membuat kita terhubung dengan mudahnya setelah era facebook muncul ke permukaan dunia dan mengobrak-abrik sekat-sekat jarak yang memisahkan kita. Aang tak pernah tahu lebih jauh tentang Puput, karena Aang pernah datang ke rumah dulu, dulu sekali waktu Puput masih kecil, masih SD.

Tak disangka, tak dinyana tiba-tiba facebook membuat kita bertemu sekitar setengah tahun yang lampau. Dan tiba-tiba Puput sudah mau menautkan hati dengan sang idaman. Alhamdulillah, Aang senang.

Aang, sebagai saudara—kalau memang Puput masih menganggap Aang demikian, Insya Allah—tentunya hanya berpesan niatkanlah semata-mata pernikahan itu karena Allah swt. Tak lain dan tak bukan karena kehendak-Nya hingga semua ini terjadi. Jikalau ada bersitan niat-niat bukan karena-Nya, maka segeralah untuk meluruskannya. Ah, alangkah baiknya.

Ayah dan Ibu tentu senang bukan kepalang. Putrinya semata wayang akan menjadi seorang yang berbeda di pekan yang akan datang. Jika Allah berkenan Aang akan datang. Aang juga kangen dengan Salawu. Akankah suasana di sana seperti 15-an tahun yang lampau? Semoga.

Puput yang manis, tentunya Aang hanya bisa mendoakan di hari bahagia itu, semoga Puput menjadi:

  • Perempuan teragung sejagat raya layaknya Khadijah Istri pertama Rasulullah saw;
  • Perempuan dermawan dan murah hati layaknya Saudah binti Zam’ah;
  • Perempuan yang kesuciannya diumumkan dari tujuh lapis langit layaknya ‘Aisyah binti Abu Bakar;
  • Perempuan yang ahli puasa dan shalat layaknya Hafshah binti Umar;
  • Perempuan yang dengan kesabaran dan ketabahan membuahkan balasan yang agung layaknya Ummu Salamah;
  • Perempuan yang pernikahannya diatur dari tujuh lapis langit layaknya Zainab binti Jahsy;
  • Perempuan paling berkah bagi keluarganya layaknya Juwairiyah bin Al-Harits;
  • Perempuan yang dengan ketabahannya membuahkan balasan mulia layaknya Ramlah binti Abu Sufyan;
  • Perempuan yang berusaha di setiap detik dari usianya untuk beramal layaknya Shafiyyah binti Huyay;
  • Perempuan yang paling kuat menjaga silaturahmi layaknya Maimunah binti Al-Harits;
  • Perempuan yang memimpin para wanita surga layaknya Fatimah binti Rasulullah saw;
  • nti Al-Harits;
  • Perempuan yang memimpin para wanita surga layaknya Fatimah binti Rasulullah saw;
  • Perempuan yang paling banyak jasanya layaknya Halimahas Sa’diyah;
  • Perempuan yang menorehkan tinta emas perjalanan jihad layaknya Ummu Aiman, ibu asuh Rasulullah saw;
  • Perempuan yang mas kawinnya adalah dua kalimat sahadat layaknya Ummu sulaim;
  • Perempuan mujahidah yang senantiasa melindungi junjungannya layaknya Ummu Umarah;
  • Perempuan yang didoakan Rasulullah dengan doa : ‘”Semoga Allah mengganti selandangmu dengan dua selendang di Surga” layaknya Asma’ binti Abu Bakar;
  • Perempuan syahid dan penyabar layaknya Ummu Haram binti Milhan;
  • Perempuan yang diberi minum dari langit layaknya Ummu Syuraik;
  • Perempuan Ahli Bait yang paling dicintai oleh Rasulullah saw layaknya Umamah binti Abul ‘Ash;
  • Perempuan yang menurunkan penerus sebagai ulama terbesar dan ahli tafsir terkemuka layaknya Ummul Fadhl Lubabah ibunda Ibnu Abbas;
  • Perempuan pemilih hewan ternak yang penuh keberkahan layaknya Ummu Ma’bad Al-Khuza’iyyah;
  • Perempuan yang diselamatkan oleh ayat-ayat Al-qur’an layaknya Ummu Kultsum binti Uqbah. Amin, amin, amin…

Berat? Namanya do’a Puput yang manis. Sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya. Dan Allah Maha Mendengar.

Itu saja Puput yang manis dari Aang. Sudah malam yah, Aang ngantuk. Semoga ukhuwah kita tetap terjaga. Dan jangan lupa untuk dapat mampir ke Citayam. Di sana ada keponakan-keponakan Puput: Haqi, Ayyasy, dan Kinan.

Manusia tak luput dari kekhilafan dan kesalahan. Maafkan Aang jikalau surat ini menyinggung Puput. Aang berharap menemukan telaga maaf yang teramat teduh dari Puput. Lalu biarlah Aang mereguk airnya dan mendapatkan kesegaran di dalamnya.

Alhamdulillah, wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

dari Aangmu:

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di antara kepingan malam yang penuh nyamuk

10:52 25 Desember2010

*atas seizinnya  (putri utami) surat ini bisa dinikmati semua

CATATAN AWAL TAHUN: IZRAILISME


CATATAN AWAL TAHUN:

IZRAILISME

 

Kalau sudah demikian yang hanya dapat mengingatkan adalah malaikat izrail yang sudah mulai cawe-cawe (menyapa): “Halo Bang? Sudah siap?… pelan-pelan atau kasar nih? Bisa dipilih sih, tapi pilihannya bukan sekarang, tapi waktu masih dikasih kesempatan hidup.”

***

01 Januari 2011

    Tadi malam saya bersyukur sekali bisa tidur nyenyak. Tanpa terganggu sedikit pun suara berisik nyanyian kodok dari orang-orang yang membuang-buang duitnya untuk terompet, petasan, dan kembang api.

    Shubuh berjama’ah di masjid hanya dihadiri oleh 5 orang ditambah Ayyasy yang dari jam tiga pagi tidak bisa tidur. Kebanyakan yang bermalamtahunbaruan tidak shalat shubuh di masjid. Kalaupun tidak tahun baruan juga masjid tetap sama kosongnya.

    Pagi ini, ingin sekali saya berangkat ke Salawu, Tasikmalaya. Berkumpul dengan keluarga besar di sana yang lagi hajatan kawinan. Tapi sayangnya kondisi Bapak lagi tidak fit—pagi ini saat saya tengok di kamarnya, asam uratnya kambuh lagi, kakinya bengkak.

Kinan tadi malam panas banget. Setelah dikasih obat penurun panas dan dipeluk dalam ketelanjangan dada Alhamdulillah sebelum adzan shubuh berkumandang, suhu badannya sudah mulai turun. Tapi kembali ini menyurutkan tekad untuk bisa berbondong-bondong pergi ke Salawu dengan semangat 45.

Saya berharap, keluarga di sana bisa memaklumi atas ketidakdatangan saya. Karena saya pun sebenarnya amat rindu dengan Salawu dan kebersamaannya.

Kemarin saya ditanya oleh teman tentang revolusi resolusi diri. Saya diam saja. Tak tahu akan menjawab apa. Tetapi pagi ini saya jadi tertarik untuk mengungkapkan ini. Yang pasti saya berharap dengan harapan yang sama dengan orang-orang lain: tahun depan adalah lebih baik daripada tahun kemarin.

Lebih khusus lagi saya ingin bisa bermanfaat buat orang lain dengan lebih baik. Bisa tetap semangat menulis. Setiap hari. Menjadi petugas banding yang profesional dan punya integritas. Dari semuanya: keluarga adalah tetap nomor satu. Lebih cinta lagi pada Ummu Haqi, Haqi, Ayyasy, dan Kinan. Terbukti saya tidak bisa berpisah dengan mereka sehari pun dengan riang gembira.

Masih banyak lagi yang lain untuk diungkapkan. Tetapi biarlah itu menjadi sesuatu yang privat buat saya. Orang lain biarlah dengan urusannya masing-masing.

Tentang Indonesia? Berharap negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang hanya takut kepada Allah. Bukan yang takut kepada Amerika, Rusia, China, Eropa, Australia, Israel, beserta antek-anteknya. Dengan segala isme-isme yang menjadi jargon dan sesembahannya seperti imperialisme, kapitalisme, sekulerisme, liberalisme, komunisme, zionisme, stalinisme, leninisme, maoisme, aiditisme, munafikisme, skeptisme, dan ….…… (titik-titik ini buat isme-isme yang berperikebinatangan lain yang tak sempat terpikirkan di pagi ini).

Kalau pemimpin hanya takut pada Yang Diatas, ia tak peduli dengan pencitraan, ia tak peduli dengan topeng, ia tak peduli dengan kroni-kroninya, ia tak peduli mau dipilih lagi atau tidak. Yang dipedulikannya adalah bagaimana negeri ini bisa jadi negeri yang baldatun toyyibatun wa robbun ghoffur. Rakyatnya bisa makan semua. Bisa sehat semua. Bisa sekolah semua. Taqwa semua.

Tentang Indonesia lagi? ya, korupsi enggak ada lagi di muka buminya. Sayangnya para pembenci korupsi selalu berteriak-teriak kepada aparat pemerintah untuk tidak korupsi sedangkan nilai-nilai kejujuran sendiri tidak menjadi sesuatu yang inheren pada diri mereka. Ini sama saja seperti menggarami air lautan. Benahi diri dulu. Introspeksi diri dulu. Sudah jujurkah saya? Kalau sudah dan berkomitmen untuk selalu jujur, bolehlah berteriak. Hancurkan korupsi! Ganyang koruptor!

Pula bagi pengelola negeri ini—pemimpin dan aparaturnya, seberapa keras teriakan para mahasiswa dan rakyat untuk mengingatkan jangan korupsi, ya mbok didengar. Pasang telinga baik-baik. Kalau perlu cek ke dokter THT, untuk memastikan gendang telinganya masih utuh atau sudah bolong. Karena keutuhan gendang telinga menjadi ukuran budek atau tidaknya. Kalau sudah budek, memang dimaklumi untuk tidak mendengar suara-suara itu. Tapi memang enak jadi budek? Apa?! Apa?!

Yang lebih parah lagi adalah kalau nuraninya sudah budek walaupun telinganya tidak budek. Kalau bahasa langitnya adalah buta, tuli, dan bisu. Seberapapun kerasnya peringatan dan teguran untuk tidak korupsi, tetap saja dijabanin untuk hanya dapat memuaskan hawa nafsunya.

Kalau sudah demikian yang hanya dapat mengingatkan adalah malaikat izrail yang sudah mulai cawe-cawe (menyapa): “Halo Bang? Sudah siap?… pelan-pelan atau kasar nih? Bisa dipilih sih, tapi pilihannya bukan sekarang, tapi waktu masih dikasih kesempatan hidup.”

Itu saja. Tak lebih dan tak kurang. Hanya sedikit harapan, yang kata orang sih resolusi diri. Yang pasti saya berkeinginan kepada Allah agar Izrailisme tak menyapa saya pada hari ini.

Semoga terkabul. Amin.

***

 

Riza Almanfaluthi

abdi negara yang lagi belajar jujur

dedaunan di ranting cemara

06.43 01 Januari 2011

 

 

TAGS: imperialisme, kapitalisme, sekulerisme, liberalisme, komunisme, zionisme, stalinisme, leninisme, maoisme, aiditisme, munafikisme, skeptisme, izrailisme, Ummu Haqi, Haqi, Ayyasy, Kinan, salawu, tasikmalaya.

http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/01/catatan-awal-tahun-izrailisme/

 

VISIT TASIKMALAYA


VISIT TASIKMALAYA

Dari perjalanan dinas saya sejak bulan Oktober 2009 bisa jadi perjalanan ke Tasikmalaya adalah perjalanan yang paling mengesankan. Hingga membuat saya berusaha untuk menuliskannya di sini.

Ke Tasikmalaya ada kewajiban yang harus saya tunaikan di sana. Saya harus meminta penjelasan dari Wajib Pajak tentang kelalaiannya tidak menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan selama dua tahun berturut-turut.

Oleh karenanya perjalanan itu saya rancang sedetil mungkin. Mulai dari mencari hotel yang representatif, alamat Wajib Pajak dan kantor pajak setempat, serta transportasi yang harus saya tempuh, dan tentunya tak lupa tempat kuliner yang mengasyikkan.

Syukurnya saya dibantu sama teman maya saya di sana. Yang nama aslinya dan raut mukanya pun baru saya tahu ketika saya mengunjungi kantor pajak tempat ia bekerja. Bahkan ia menawarkan suaminya untuk mengantarkan saya ke hotel, ke lokasi Wajib Pajak, dan ke Pool Bus Budiman saat saya akan pulang ke Jakarta.

Kamis (3/12) pagi itu saya mengawali perjalanan dengan menaiki Kereta Lis Listrik (KRL) Bojonggede Express. KRL yang sepengetahuan saya biasa berhenti di Stasiun Manggarai ternyata berhenti di stasiun yang lebih jauh lagi yaitu Cikini.

Sampai di sana saya langsung pergi ke loket untuk membeli tiket KRL yang menuju arah sebaliknya yaitu Stasiun Kalibata. Di loket sudah banyak antrian. Antrian siapa? Ya antrian orang yang baru turun dari kereta yang sama dengan saya untuk membeli tiket pulang sore harinya. Masalahnya adalah pas antri itu ada pesan dari pengeras suara bahwa KRL yang menuju Depok akan segera sampai Stasiun Cikini dari Stasiun Gondangdia.

Segera setelah mendapatkan tiket itu saya dengan tas ransel di punggung dan laptop di tangan berlari ke atas untuk mengejar KRL. Pas banget. Saya melihat kereta sudah berjalan pelan dan saya masih sempat meloncat masuk ke dalam KRL. Alhamdulillah. Phuih…setelahnya segera saya update status facebook dulu. J

Sampai di Stasiun di Kalibata saya tidak segera ke Kantor. Saya isi perut dulu yang sedari tadi belum terisi dan sudah mulai terasa perih. Setelahnya saya baru ke kantor untuk menemui dua teman saya yang akan berangkat sama-sama ke Bandung. Niatnya saya menumpang mobil teman saya itu lalu kami akan berselisih jalan di Bandung. Karena tujuan kami memang berbeda.

Kami berangkat pukul 08.20 pagi. Saya amat menikmati perjalanan itu. Karena saya akan ke Bandung walaupun sekadar lewat dan Tasikmalaya tentunya. Dua daerah yang amat berkesan bagi saya. Tasikmalaya apalagi. Daerah yang berpemandangan dan berpegunungan menarik. Membuat saya ingin selalu berpuisi.

Mobil kami keluar pintu tol Buah Batu. Di pertigaannya kami berpisah. Dua teman kami itu sudah dijemput oleh Wajib Pajak menuju lokasinya. Sedang saya? Jalan kaki menuju Pool Taksi Blue Bird yang akan mengantarkan saya menuju Pos Kontrol Bus Budiman di Cileunyi. Ongkosnya Rp75.000,00. Mau ngirit ongkos tidak naik Travel Cipaganti malah ngorot. He..he…he… Sama saja ini sih…

Kurang lebih jam dua belas siang saya sudah berada di atas Bus Budiman Bandung Tasikmalaya. Mulailah saya menikmati pemandangan sepanjang jalan itu. Tentunya dengan kenangan masa kecil saat liburan sekolah yang selalu diajak untuk menyusuri pematang sawah di Salawu, Tasikmalaya.

Tiga jam diguncang di atas Bus akhirnya saya sampai di pinggiran kota Tasikmalaya. Dari sana saya naik angkot 05 dan 01 menuju Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tasikmalaya yang berada di Jalan Sutisna Senjaya. Cukup dengan setengah jam perjalanan kurang lebih.

Untuk apa sih saya ke KPP itu? Ah, seperti biasa tradisi perjalanan dinas di kantor kami , saya harus meminta tanda tangan pejabat di KPP setempat sebagai penanda saya telah datang di lokasi. Dan birokrasinya tak berbelit-belit cukup diwakili oleh Kepala Subbagian Umum Pak Herman yang kebetulan pula adalah orang Depok surat jalan saya sudah ditandatangani.

Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Pak Herman akhirnya saya tinggal menuju hotel yang direkomendasikan Ummu Fayi, yaitu Hotel Asri yang berada di Asia Plaza di Jalan K.H. Zaenal Mustofa. Sebelumnya juga saya sudah melakukan
pencarian di Google dan saya mendapatkan testimoni dan foto yang bagus tentang hotel itu. Apatah lagi saya mendapatkan diskon khusus 30% karena dari instansi pemerintah dengan memakai Government Rate.

Niatnya langsung menuju hotel tetapi terbersit di hati saya untuk bertemu dengan Ummu Fayi. Tentunya tak ada salahnya untuk bersilaturahim atawa kopi darat. Dan betul kalau silaturahim itu menambah rezeki. Buktinya setelah bertemu pertama kali dengannnya saya sudah ditawari untuk diantar oleh suaminya. Terimakasih Umm…

Dan tak lama bertemu pertama kali dengan suaminya kami sudah langsung akrab. Langsung nyambung kata Kang Hendra Sentosa—nama suami Ummu Fayi—itu. Ikatan batin yang dijalin oleh hubungan akidah dan tarbiyah membuat kami mampu meruntuhkan sekat-sekat kaku.

Saya diantar oleh Kang Hendra menuju hotel untuk check in. Hotel itu berada di atas Mal Asia Plaza. Fasilitas internetnya bagus, ada hotspotnya. Walaupun cuma di lobby yang tidak seperti Hotel Bentani Cirebon yang bisa sampai ke kamar masing-masing.

Setelah check in, saya menuju kamar untuk menaruh barang-barang. Dan Kang Hendra, sudah saya ajak untuk sarapan pagi bersama di hotel keesokan harinya sebelum berangkat ke lokasi Wajib Pajak.

Karena siang belum makan saya menuju ke area food court.
Ndak ada yang istimewa di sana. Di Jakarta juga banyak. Saya pesan siomay biasa saja. Setelah itu saya langsung ke kamar karena saya merasa seperti buaya air asin yang berada di kolam air tawar. Bukan habitatnya!

Istirahat? Tidak! Saya masih harus menyelesaikan pekerjaan kantor yang benar-benar tidak ada kaitannya dengan kunjungan saya ini. Pekerjaan penyelesaian putusan pelaksanaan banding sebanyak tiga berkas. Senin harus selesai. Sebelum maghrib saya sudah menyelesaikan satu berkas risalah.

Habis Isya saya keluar untuk makan malam. Seperti yang saya baca di sebuah blog yang tidak di-update lagi tentang perjalanannya di Tasikmalaya saya mencoba untuk makan nasi ayam goreng Hen-Hen, sekitar 300 meter dari Mal Asia Plaza. Dan sungguh lidah saya masih kurang berkenan, terlalu manis, kayaknya diolah pakai bumbu bacem. Pantas saja blogger itu cuma memberi nilai dua dari skala lima. Tak bisa dibandingkan dengan Sari Raos Bandung yang ada di dekat Masjid Kauman dan Alun-alun Pekalongan.

Setelahnya saya segera pulang ke kamar. Istirahat? Tidak lagi. Saya masih harus menyelesaikan pekerjaan itu. Dapat satu berkas. Barulah saya bisa tenang. Satu berkas lagi kapan? Saya bertekad habis sholat shubuh berkas risalah itu sudah bisa saya selesaikan.

Saatnya untuk tidur. Kapan tidur? Lagi-lagi penyakit saya kambuh: tak bisa tidur di tengah suasana baru. Dan saya hanya bisa terlelap pada jam dua pagi. Aduh…

Shubuh bangun. Saya melanjutkan lagi pekerjaan tersisa. Konsenstrasi sebentar. And show must go on… Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Pekerjaan sudah selesai semua. Saya siap-siap untuk sarapan dan pergi ke tempat Wajib Pajak. Jam delapan pagi kurang Kang Hendra sudah menjemput saya. Setelah sarapan bersama kami cabut menuju Linggajaya, Mangkubumi. Lokasinya dekat dengan SMPN 6 Tasikmalaya.

Saya bilang ke Kang Hendra untuk tidak menunggu saya karena sudah pasti pertemuan ini akan berjalan lama. Saya hanya meminta padanya untuk menunjukkan rute angkot yang menuju hotel agar waktu pulang nanti tidak tersasar.

Uhh…ternyata perusahaan garmen PMA itu tak sebesar yang saya bayangkan. Kecil dan terpencil. Tapi yang sungguh luar biasa para pekerjanya sebagian besar memakai pakaian, kerudung atau jilbab seragam serta kain warna hijau yang talinya diikatkan di leher dan pinggang mereka.

Kurang lebih dua jam kemudian saya sudah menyelesaikan acara pembinaan, konsultasi, dan foto-foto lokasinya. Terpenting lagi Wajib Pajak sudah berkomitmen untuk menyelesaikan kewajiban perpajakannya seperti penyampaian SPT Tahunan PPh Badan.

Kang Teddy—wakil perusahaan—kemudian mengantarkan saya ke hotel karena dia butuh software e-spt masa dan tahunan yang ada di harddisk eksternal saya yang ketinggalan di hotel. Kalau dia yang butuh bolehlah saya menumpang mobilnya. Kalau dia tidak butuh biarlah saya pulang sendiri, tak perlu diantar dan cukup numpang angkot sahaja. Ohya Kang Teddy ini tinggalnya di Ciamis dan sempat menjadi calon Bupati Ciamis dari jalur independen walaupun tidak terpilih.

Setelah selesai urusan dengan Kang Teddy saya pergi ke Masjid untuk Sholat Jum’at yang berada dekat dengan tempat parkir Mal Asia Plaza. Masjidnya kecil hingga tidak bisa menampung para jama’ah. Inti khutbah jum’atnya adalah ajakan untuk berkomitmen pada Alqur’an dan Sunnah yang kalau memegangnya pada saat ini seperti memegang bara api dan karena sesungguhnya umat Nabi Muhammad pada akhir zaman akan dianggap sebagai orang asing. It’s oke uraian ustadz salafy itu.

Sampai di kamar hotel telepon dari front office sudah berdering. Menanyakan kapan saya akan check out. Saya bilang sampai sekitar pukul 3 atau 4 sore. “Akan ada charge tambahan,” kata perempuan di seberang sana. Tidak apa-apa saya bilang. Soalnya saya mau istirahat dan tidur untuk menggantikan waktu yang terlewat tadi malam.

Eh…ketika baru saja terlelap tidur, pintu sudah digedor. Saya lupa memasang tanda “do not disturb” di pintu. Benar juga patugas kebersihan hotel mengatakan kamar akan dibersihkan. Saya bilang saya sudah memperpanjang waktu check out saya. “Enggak ada koordinasi juga nih pegawai,” kata saya dalam hati.

Setelah itu otomatis saya tidak bisa memejamkan mata barang sedetikpun. Akhirnya saya packing untuk persapan pulang. Saya pikir saya nanti bisa tidur di Bus. Ternyata pada saat check out saya
tidak dikenakan biaya tambahan lagi. Jam tiga sore Kang Hendra sudah datang menjemput untuk mengantarkan saya ke Pool Bus Budiman.

Di Pool Bus Budiman pemberangkatan terdekat adalah pukul 16.00 WIB. Sebentar lagi, karena sekarang sudah jam setengah empat. Dan betul tepat pukul empat sore sesuai jadwal bus itu berangkat menuju Kampung Rambutan, Jakarta. Tepat sih tepat. Tapi masalahnya bus itu ngetem dulu di terminal Tasikmalaya dan baru berangkat lagi jam lima sore. Lama yah…

Ada kejadian yang membuat saya was-was yaitu pada saat pengisian solar di SPBU 34-46114 yang letaknya di antara jalur pool dan terminal Tasikmalaya. Pada saat yang sama ada juga Bus Budiman jurusan Bandung Yogyakarta yang mengisi solar bersebelahan dengan bus kami.

Dengan santainya sang kenek bus itu menyalakan korek api dan merokok di depan pintu yang jaraknya dengan selang pengisian solar itu kurang lebih dua sampai tiga meter. Petugas SPBU mendiamkan saja. Bukankah ini amat berbahaya? Di SPBU itu sudah terpampang dengan tulisan besar-besar: DILARANG MEROKOK. Saya kirim sms ke nomor pengaduan yang tertera di mesin SPBU agar bisa ditindaklanjuti. Saya tidak tahu apakah ada proses follow-upnya atau tidak.

Perjalanan ke Jakarta saya nikmati betul sampai bus sudah memasuki wiayah Malongbong, Garut. Pegunungan yang berkabut tebal di atasnya, jalanan yang berkelak-kelok, sawah-sawah yag terhampar, mega yang bermendung hitam semuanya saya rekam di otak saya sebagai sejumput memori yang tak mungkin akan terlupakan, Insya Allah.

Sisa-sisa kilometer tersisa menuju Bandung saya nikmati dengan tidur lelap. Terbangun saat bus sudah berada di tol Padalarang. Lalu berlanjut tidur lagi hingga bus benar-benar memasuki terminal Kampung Rambutan tepat pukul 22.00 WIB. Benar kata Kang Hendra perjalanan Tasikmalaya-Jakarta itu cukup ditempuh dengan lima jam saja.

Untuk sampai ke rumah tidak seperti di Tasikmalaya yang kemana-mana bisa ditempuh dalam jangka waktu 15 menit. Saya harus naik angkot 112 menuju Depok. Turun di Pertigaan Ramanda lalu nyambung dengan angkot 05 hingga turun di Komplek Aira atau Depag. Di sana menunggu sebentar sekitar lima menit lalu muncul tukang ojek yang ternyata pernah menjadi pengantar dan penjemput anak saya sekolah. Kebetulan nih…

Kurang lebih jam 12 malam saya sampai dirumah. Cek anak-anak yang sudah terlelap, saya pun siap-siap untuk istirahat agar bisa mempersiapkan diri rapat kerja keesokan harinya di Cipanas, Puncak.

Terimakasih Allah yang telah melancarkan perjalanan saya. Dan terimakasih pada semuanya terutama untuk Ummu Fayi Ibu Desi Sulistiyawati dan Kang Hendra Susanto semoga Allah memudahkan urusan kalian karena telah memudahkan urusan saudaranya di Tasikmalaya.

Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

***

Riza Almafaluthi

dedaunan di ranting cemara

di dinginnya Cipanas yang menggigit

06 Desember 2009 07.16

Rinduku Untukmu


Rinduku Untukmu…
(Episode Tasikmalaya)

Hujan masih saja merintih menghitung genting di luar sana. Tak peduli pada malam yang kian tenggelam dalam selimut halimun. Tak peduli pada diriku yang memandang kegelapan di balik jendela kamar. Tak peduli padaku yang melanglangkan ingatan-ingatan pada masa-masa lalu.
Tak peduli padaku yang tiba-tiba teringat Zatoichi tercenung saat hujan tiba di rumah Bibi Oume. Memandang dan merenungi hujan itu, mengingat pertempuran melawan delapan orang yang dengan mudahnya semuanya ia tebas. Membuat tanah becek semakin becek dengan darah.
Tidak, tidak, saat ini, saat hujan ini, aku lebih merindui Tasikmalaya. Merindui sudut-sudut salah satu desanya. Merindui dinginnya malam. Merindui subuh yang semakin menggigit. Merindui cahaya matahari pagi. Merindui kicau burung. Merindui gemericik air pancuran. Merindui kokohnya saung di lebak. Merindui dua rakaat dhuhanya. Merindui dzikirnya. Merindui perjalanan pulang di pematang sawah. Merindui ikan-ikan di kolam belakang. Merindui kepulan uap nasi. Merindui sambal terasinya. Merindui duh…Gusti, saat ini aku merindui Tasikmalaya. Merindui sudut-sudut salah satu desanya.
Salah satu desa itu adalah Margalaksana di wilayah Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Desa yang menjadi tempat pelarian paman-pamanku waktu tahun 60-an, sewaktu gerakan PKI mendapat tempat di republic ini. Sebagai ketua gerakan dan aktivis kepemudaan Nahdhotul ‘Ulama Ketanggungan, Brebes , beliau bersama adik-adiknya menjadi sasaran empuk untuk diintimidasi bahkan bila perlu dibantai. Maka untuk sementara, menunggu arah angin berubah, mereka hijrah ke sana. Namun hijrah itu tidak sementara, keempat paman itu memperistri gadis, beranak pinak, dan bermata pencaharian di sana hingga kini.
Jadilah di sana tempat aku menghabiskan masa liburan sekolah yang panjang. Dan terakhir adalah sepuluh tahun yang lampau. Saat aku masih menjadi mahasiswa Program Diploma Keuangan Spesialisasi Perpajakan. Liburan panjang itu tiba. Kini saatnya aku pulang kampung—setelah berjuang habis-habisan dengan ujian-ujian sulit—seperti kebiasaan teman-teman kampus yang pada pertengahan tahun berritual untuk mengosongkan kampus, kecuali para mahasiswa yang menjadi panita penyambutan mahasiswa baru.
Tiba-tiba terbersit dalam pikiranku, kiranya aku sempatkan beberapa hari terlebih dahulu di Tasikmalaya baru setelah itu pulang ke Jatibarang, Indramayu. Maka bersiap-siaplah aku berpetualang.
Dari kampus ba’da sholat Jum’at, aku pun melaju dengan angkutan umum menuju stasiun Senen untuk mengejar Kereta Ekonomi Galuh jurusan Tasikmalaya – Banjar. Ini pengalaman pertama bagiku ke Tasimalaya dengan menggunakan jasa kereta api.
Kereta ekonomi yang seharusnya berangkat jam tiga sore, molor satu jam lebih dari jadwal semula. Kereta berangkat meninggalkan stasiun dengan tidak banyak penumpang yang memenuhi gerbong. Sehingga aku dapat meluruskan kaki ke kursi depanku yang kosong. Sambil membaca buku yang aku bawa, sesekali aku melihat ke luar jendela, melihat senja yang mulai turun dan meninggalkan jejak-jejak jingganya.
Adzan maghrib mulai berkumandang saat memasuki daerah Purwakarta yang berkelok-kelok. Aku sangat menikmati sayup-sayupnya yang keluar dari bukit-bukit nun jauh di sana. Oh Rabb, aku merindui sayup ini.
Tiba-tiba ketika aku sedang berasyik masyuk, ada seruan kepada seluruh penumpang untuk diharapkan menuju ke gerbong depan karena gerbong yang saya naiki dan masih ada lima gerbong lainnya di belakang tidak berpenerangan. Sehingga dikhawatirkan terjadi kerawanan, oleh karena itu kondektur kereta menyarankan demikian. Aku pun menurutinya dan mencari tempat duduk yang masih ada di gerbong yang terang benderang itu.
Bandung pun terlewati begitu saja, tanpa aku sadari karena terlelap oleh kantuk yang menyerangku. Namun ada yang eksotik dengan stasiun di antara bandung dan Tasikmalaya, yang kereta ini sempat untuk berhenti lama di sana, sayangnya aku lupa stasiun itu.
Dengan bangunan peninggalan zaman Belanda, kubah tinggi di atas selasarnya, dan hanya diterangi lampu bohlam yang temaram benar-benar membuatku terasa bukan berada di zaman moderen, namun seperti berada di masa-masa kemerdekaan. Tinggal aku menuliskan merdeka atau mati! di tembok stasiun maka lengkap sudah flashback ini. Benar-benar aku tertegun cukup lama. Rasa melankolisku kembali bangkit mengenang masa-masa perjuangan dulu. Duh Gusti aku merinduinya.
Tasikmalaya sudah di depan mata. Perjalanan memakan waktu kurang lebih tujuh jam. Jarum pendek jam di statiun sudah mengarah ke angka sebelas. Aku mencari mushola untuk menunaikan sholat jamakku, namun pintu mushola sudah terkunci rapat dan gelap. Akhirnya aku putuskan untuk sholat di luar stasiun.
Pada saat keluar dari stasiun itu aku baru tersadar bahwa ternyata angkutan kota sudah tidak beroperasi lagi pada jam-jam seperti ini. Maka dengan berbekal petunjuk dari orang-orang sekitar stasiun aku melangkahkan kaki ke Masjid Raya Tasikmalaya. Sengaja aku tidak naik ojek supaya bisa irit maklum aku masih mahasiswa.
Perjalanan menuju masjid raya terasa jauh, namun aku bertekad untuk ke sana dengan harapan aku bisa istirahat dan tidur di sana, dan dengan semakin semakin mendekati pusat kota aku kiranya mendapatkan angkutan yang mungkin saja masih beroperasi.
Masjid Raya setali tiga uang dengan mushola yang ada di stasiun. Terkunci rapat, tidak ada satu dari banyak pintu yang sudi membuka sedikit untuk aku. Aku pun sholat di teras masjid. Niat aku untuk beristirahat dan tidur hingga pagi terpaksa aku batalkan, karena aku tidak kuat menahan dingin angin malam di teras berlantai marmer itu. Oh ya, waktu itu aku tidak punya jaket lho.
Angkutan kota benar-benar nihil. Setelah bertanya kesana kemari, aku mendapatkan keterangan bahwa angkot baru ada pukul lima pagi. Wah, tidur dimana aku. Dan terminal pun masih sangat jauh dari masjid. Akhirnya ada seorang tukang ojek yang masih berbelas kasihan denganku. Ia bersedia mengantarkanku ke terminal hanya dengan setengah ongkos perjalanan.
Kepada tukang ojek itu aku menghaturkan banyak terimakasih saat aku telah sampai di Terminal. Di sana aku hanya menjumpai mobil angkutan yang cuma beberapa. Lagi-lagi aku mengalami keterkejutan angkutan pedesaan yang menuju Salawu baru akan datang dan berangkat jam dua nanti. Terpaksa aku mencari kenyamanan di sebelah Tukang Ulen Bakar. Aku hanya bisa memandangi saja, tak bisa menikmati makanan yang termasuk favoritku itu. Maka aku terduduk meringkuk, merapatkan tangan ke lututku, menahan dingin dan lapar selama satu jam lebih.
Penderitaanku berakhir saat angkutan pedesaan itu tiba dan langsung terisi penuh oleh banyak penumpang. Kulepaskan lelah dan penatku dengan tidur selama kurang lebih satu jam perjalanan menuju Margalaksana.
Akhirnya sampai juga di rumah “uwak”ku yang persis di pinggir jalan besar Garut Tasikmalaya. Aku menghirup udara sepertiga malam terakhir dalam-dalam dan kehembuskan sekuat-kuatnya. Lega rasanya.
Tapi dikejauhan tiga orang sepertinya bergegas menuju ke arahku. Aku tidak pedulikan mereka, aku pikir mereka adalah para peronda kampung. Segera saja aku masuk ke halaman rumah, dan mengetuk pintu. Lima menit lamanya aku mengetuk sampai beberapa saat kemudian pintu itu pun terbuka. Di seberang jalan, kulihat tiga orang itu masih memandangi aku.
******
Sarapan yang menggugah selera bersama keluarga uwak. Nikmat sekali, ceria, ramai dengan gurauan. Dari situlah aku mendengar bahwa aku sempat dicurigai sebagai salah satu anggota komplotan maling oleh para peronda kampung. Tapi semuanya bisa dijelaskan oleh uwakku waktu ia sholat shubuh di masjid. Aku tersenyum saja. Ah teganya mereka menuduh aku yang sedang kelaparan pula.
******
Sungguh kawan, aku masih tentang perjalanan itu. Masih aku merindui semuanya itu. Merindui dhuha di lebak itu. Hingga terinspirasi semua itu, aku buat puisi ini:

matahari dhuha merambati waktu
ketika sinarnya menghangatkan
pucuk-pucuk dedaunan
menggiring hati ke kehampaan
yang meradangkan diri
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

sungai bening mencumbui tanah
ketika riaknya membasahi
akar-akar pepohonan
melautkan hati ke kehilangan
yang membakarkan diri
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

burung kecil menghiasi langit
ketika kicaunya meramaikan
putih-putih awan
menerbangkan hati ke ketinggian
yang menyesakkan diri
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

rokaat pendek mengukir sajadah
ketika dzikirnya membisikkan
rongga-rongga dada
mengkhusukkan hati ke kesucian
yang membersihkan diri
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

matahari ashar mengguliri sore
ketika lelahnya menguliti
pori-pori tubuh
mencabikkan hati ke kemeranaan
yang menyakiti diri
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

aku lelah
menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari itu
karena senin masih jauh
di ufuk…

****
Aku menikmati liburan itu di sana. Menyusuri pematang sawah, jalan-jalan lengang, memancing ikan, ngaliwet di gunung, berselimut tebal saat malam, hingga rokaat-rokaat di sepertiga malam terakhir. Duh, indah nian rasanya. Duh, gelegaknya rindu ini. Duh….
Kawan, kapan aku bisa kembali ke sana, atau memutar kembali waktu yang telah berjalan?
Kini aku sedang merindui Tasikmalaya dan sudut-sudut desanya.

****

dedaunan di ranting cemara
di antara rindu untukmu
16:47 10 September 2005