Maulvi Izhharulhaq Almanfaluthi berangkat ke Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), tadi pagi, 20 Agustus 2026. Sebagai project coordinator program Asar Humanity dan mitra Jepang, ia akan bertugas di sana selama sebulan.
Sejak Sabtu, 15 Agustus 2026 rangkaian gempa terjadi di berbagai daerah di NTT. Berdasarkan data BNPB per Kamis, 20 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia sudah mencapai 72 jiwa.
Setelah seharian rapat, mestinya Pak Arif Budiono ini menginap satu kamar dengan saya malam itu. Namun, ia meminta izin kepada Ibu Kepala Kantor untuk tidak mengikuti rapat besok. Ia harus ke Rumah Sakit Harapan Kita petang itu juga untuk mempersiapkan tindakan operasi jantung pada keesokan harinya. Ini menjadi pertemuan terakhir kami dengannya.
Jumat itu, Pak Arif dioperasi dan langsung tidak sadarkan diri pascaoperasi. Kami—pegawai KPP Badan dan Orang Asing—tidak diperkenankan melihat langsung kondisinya karena Pak Arif Budiono masih berada di ruang ICU.
Namanya Arie Irawan. Bang Arie adalah panggilannya. Lelaki Betawi berpeci dan berambut panjang ini meneruskan usaha menjual kerak telor dari mendiang engkong dan babehnya. Sejak tahun 2000 ia menekuni usaha itu. “Setiap tahun saya juga jualan di PRJ (Pekan Raya Jakarta),” katanya. Kerak telor memang sudah menjadi ikon PRJ sejak dulu. Ada sekitar 60-an pedagang kerak telor di area dalam PRJ. Mereka tergabung dalam paguyuban penjual kerak telor.
Usai perhelatan itu, ia langsung membayar uang muka kepada paguyuban PRJ untuk memastikan tahun depan lapaknya tidak tergantikan. Nilainya besar sekitar puluhan juta rupiah. Biasanya ia mangkal di Kranji, di depan Kantor Kecamatan Bekasi Barat. Selain itu, ia mengikuti kegiatan UMKM di kantor-kantor. Contohnya di Kompleks Pajak Kalibata selama dua hari ini. Dari rumahnya di Bekasi, ia menyewa taksi daring untuk membawa pikulan dan peralatan masaknya ke Kalibata.
Kabar itu mengentak saya di Rabu petang. Mohammad Novaldi meninggal dunia. Sesungguhnya kami hanya milik Allah dan hanya kepada-Nya kami akan kembali.
Esoknya itu saya cuti setengah hari. Mendatangi rumah duka dan menyalatinya. Kami pernah berkantor yang sama di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan sejak 2013 sampai dengan 2017. Saya pun pernah satu kantor dengan istrinya di Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat setelah saya mutasi dari Tapaktuan.
Tahukah Anda kalau religiositas kantor ini diukur dari beratnya kantong sampah?
Dari laporan Statista Global Consumer Survey yang saya kutip dari Detikcom, Indonesia masuk ke dalam negara dengan tingkat religiositas 80 s.d. 99 persen.
Jumat itu saya bersilaturahmi kepada Ibu Aan Almaidah Anwar atau A3. Beliau biasa diinisialkan seperti ini. Adanya di lantai 25 Gedung Mar’ie Muhammad Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak.
Sesaat hendak menuju meja kerjanya yang tidak berada di ruangan khusus—karena sudah menerapkan metode flexible working space (WFS)—panggilan menyeruak.
Sosok teguh hati menyigi kesehatan dari gang sempit, pasar, sampai diskotek. Ini soal kerja kemanusiaan yang butuh napas panjang.
Perempuan itu keluar dari rumahnya yang berada di gang sempit persis ketika saya datang pada Sabtu, 9 November 2019. Ia kemudian menyilakan saya masuk ke ruang tamunya yang kecil. Ada sofa di sana dan karpet berwarna merah terhampar di lantai. Saya memilih duduk di atas karpet. Kipas yang tergantung di plafon rumah berputar dengan kecepatan normal. Sudah cukup untuk menyejukkan ruangan tak seberapa besar itu.
“Silakan diminum, Mas,” katanya. Perempuan itu, Margareta Sofyana, 47 tahun, menghidangkan segelas teh hangat yang tak elok untuk ditampik. Pagi menjelang siang itu ia tampak sederhana. Tubuhnya berbalut pakaian yang rapat mulai dari kepala sampai kaki. Wajahnya selalu dihiasi dengan senyum. Senantiasa semringah.
Ari Maulana, 31 tahun, mengecek aplikasi percakapan di telepon genggamnya. Dahinya mengerut. Rupanya itu pesan darurat dari kawan sejawat yang berada di help desk Amnesti Pajak. “Kawan saya menanyakan apakah aplikasi e-spt bisa diunduh melalui pajak.go.id?” ujar Ari, di ruang kerjanya di Gedung Mar’ie Muhammad, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Selasa (14/3) ini.
Maul, biasa dirinya dipanggil, sebagai admin Content Management System segera mengecek situs web pajak.go.id, situs web resmi DJP. Dari penilikannya, aplikasi itu masih bisa diunduh dan berjalan dengan normal. Segera ia membalas pesan dari kawannya itu. Sampai saat ini kondisi situs web berjalan aman dan lancar.
Buku Simon Sebag Montefiore, yahudi asal Inggris , berjudul Stalin: Kisah-kisah yang Tak Terungkap ini menjelaskan secara detil saat-saat terakhir dari Iosif Vissarionovich Stalin. Seorang diktator dengan 20 juta orang telah dibunuh, 28 juta dideportasi, 18 juta diantaranya diperbudak di Gulag.
Penderitaan penzalim ini ditulis di bab terakhir buku itu. Dengan bab “Catatan Tambahan” setelah Stalin mati maka ini menjadi dua bab yang sering saya baca ulang dari buku yang meraih penghargaan History Book of the Year versi British Book Awards dan Book of The Year dari belasan media massa ternama di Barat ini.
Ini kisah yang dituturkan dari teman satu direktorat Gayus Tambunan pada tahun 2010. Saat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) diterpa badai kecaman serta pemberitaan yang begitu telanjang dan tidak seimbang karena salah satu pegawainya melanggar kode etik.
Bagaimana rasanya ketika keluarga besarnya mengejek sinis setelah menyaksikan tayangan televisi yang menyebut-nyebut namanya sebagai atasan Gayus? Bagaimana rasanya diberitakan oleh salah satu televisi nasional sebagai “calon tersangka koruptor”? Bagaimana rasanya saat turun dari pesawat ia disapa oleh penumpang yang lain dengan pertanyaan: “Ibu atasannya Gayus?”
Kisah yang diceritakan dan ditulis sendiri oleh Ibu Dwi Astuti ini bisa dibaca dalam Buku Berbagi Kisah & Harapan 2: Bertahan di Tengah Badai yang diterbitkan oleh DJP di tahun 2011 lalu. Selamat membaca.
Buku Berbagi Kisah & Harapan: Berjuang di Tengah Badai