Butuh Laptop Bekas di Hari Terakhir PPS


Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan sudah menjadi kewajiban negara membiayai pendidikan dasar yang ditempuh oleh warga negaranya. Saya sering dan senang memotivasi anak-anak muda untuk sekolah dan melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya.

Ketika saya mendapatkan kabar bahwa anak Mas Amin, salah satu office boy di direktorat kita, hendak melanjutkan pendidikan SMP-nya di pesantren, saya mendukungnya. Apalagi anaknya yang bernama Yoga Ananda Saputra ini pernah juara kedua Olimpiade Matematika di Bandung. Kecerdasan matematikanya luar biasa.

Baca Lebih Banyak

Kantong Sampah, Indikator Kesalehan Kantor


Tahukah Anda kalau religiositas kantor ini diukur dari beratnya kantong sampah?

Dari laporan Statista Global Consumer Survey yang saya kutip dari Detikcom, Indonesia masuk ke dalam negara dengan tingkat religiositas 80 s.d. 99 persen.

Baca Lebih Banyak

Musibah Ini untuk Menghapus Banyak Kesalahan


Setelah menginap di rumah Bi Idah di Segeran dan sebelumnya kami mengalami musibah di jalan (Ceritanya bisa dibaca di sini), besok paginya kami berangkat ke Jatibarang untuk ziarah ke makam bapak dan mamah.

Sebelum ke makam, kami menyempatkan diri silaturahmi ke toko mebel Bi Ghoniyah. Tokonya terletak di deretan toko mebel di samping BRI Cabang Jatibarang. Ada Maman, anaknya Bi Ghoniyah, juga di sana. Ia teman masa kecil saya dulu.

Continue reading Musibah Ini untuk Menghapus Banyak Kesalahan

Disebut Begini Manusia yang Tidak Tahu Berterima Kasih


Semuanya kehendak Allah. Mengapa kami mengalami dua kejadian ini dalam waktu kurang dari 24 jam saja? Kami adalah manusia yang tidak mengetahui masa depan. Mengetahui satu detik di depan pun kami tidak bisa.

Jadi, pada Selasa, 10 Mei 2022 itu kami berangkat dari Semarang menuju Jakarta. Tepatnya pukul 12.00. Kami berangkat siang karena di pagi harinya kami harus menuntaskan urusan soal visa Ayyasy yang saat itu sedang dalam proses pengurusan tinggal di tahun keduanya di Berlin, Jerman.

Baca Lebih Lanjut

Nametag: Rumusnya Begini


Jumat sore itu, saya tiba di Stasiun Jurangmangu satu setengah jam menjelang berbuka puasa. Langit gelap menyisakan rintik hujan dan gegas orang-orang yang penuh harap agar mereka bisa sampai di rumah sebelum azan Magrib berkumandang.

Sebelum keluar peron stasiun saya memesan ojek daring. Pemesanan tak kunjung mendatangkan hasil. Aplikasi tidak bisa melacak keberadaan pengojek. Biasanya kalau hujan begitu memang susah mendapatkan ojek daring.

Baca Lebih Banyak

Dua Jam Bersama Hasan Tiro


Ini adalah artikel feature yang ditulis oleh wartawan Tempo Arif Zulkifli dan dipublikasikan di Majalah Tempo edisi 29 Mei–4 Juni 2000 yang berjudul:

Dua Jam Bersama Hasan Tiro

LELAKI itu merapatkan mantelnya. Ia berdiri di pintu balkon menghadap ke luar apartemen. Angin dingin musim semi berembus. Lima belas derajat Celsius. Kering, menusuk seperti jarum. Di luar, laut Mälaren yang menggenangi Kota Stockholm berpendar-pendar. Di atasnya, sebuah bukit warna cokelat menyembul dari permukaan air. Udara cerah. Awan meriaki biru langit.

“Lihat pemandangan itu,” katanya. “Mirip sekali dengan Aceh.” Lelaki itu, Hasan Muhammad di Tiro, 75 tahun, kembali merapatkan mantelnya. Rambutnya yang putih tersisir ke samping. Rautnya keras dan giginya kusam termakan usia. Sesekali ia tersenyum.

Baca Lebih Banyak

Cerita Perjalanan: Ini Bukan Kopi, Ini Cuko


Sabtu pagi itu, setelah salat subuh, saya segera check out dari tempat saya bermalam. Saya kemudian memesan taksi daring menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Jalanan lengang sehingga mobil yang saya tumpangi tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana.

Saya kemudian mengantre di konter maskapai penerbangan untuk mendapatkan kertas fisik boarding pass. Sesuatu yang mestinya tidak saya lakukan karena ternyata di sudut lain bandara ada mesin untuk mencetak boarding pass secara mandiri.

Continue reading Cerita Perjalanan: Ini Bukan Kopi, Ini Cuko

Nidya Hapsari: Hidup itu Maraton, Bukan Sprint


Di lantai 16 Gedung B Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, INTAX menyambut Nidya Hapsari yang datang berseragam khas Kementerian Keuangan warna biru dipadupadankan dengan sweater biru tua dan kerudung motif coklat tua. Tanda pengenal bertali panjang hitam tergantung di lehernya.

Nidya menampik tawaran INTAX untuk meminum kopi. “Tadi pagi saya sudah minum kopi,” kata perempuan penggemar amerikano dingin ini dari balik maskernya. Kegemaran meminum kopi tumbuh ketika ia kuliah di Australia. “Masyarakat sana tuh embracing the coffee culture. Kopi sudah jadi kebutuhan,” ujarnya. Sampai sekarang Nidya masih menyimpan cangkir kopi andalan yang ia selalu bawa saat di sana.

Baca Lebih Banyak

Jamu Jun Yanti, Pengudar Kahanan Rindu


Semangkuk jamu jun yang mampu menghangatkan malam.

Setelah beranjangsana lama di rumah saudara, kami pun pulang. Di tengah perjalanan sambil mencari warung kopi, di malam yang hampir larut, istri saya mendadak memberhentikan mobil. “Stop, berhenti di sini. Kita minum jamu jun dulu,” katanya.

Saya turun dari mobil dan menemaninya. Kami menghampiri warung seadanya yang berada di atas pembatas jalan di sebuah kompleks perumahan. Pembatas jalan ini memiliki lebar kurang dari dua meter dan banyak pedagang berjualan di atasnya.

Baca Lebih Lanjut

Hiroshima dan Sandal di Teras Masjid


 

Da ist nichts zu machen.”

Itu sebuah kalimat dalam bahasa Jerman yang diungkapkan oleh penduduk Hiroshima kepada Pastur Wilhelm Kleinsorge saat bom atom dijatuhkan dari atas awan dan meledak di udara pada 6 Agustus 1945, pukul 08.15.

Baca Lebih Banyak