KPP Pratama Malang Selatan: Di Sini, DUIT Memang Segalanya


03

Alun-Alun Merdeka Malang dan sekitarnya memiliki banyak peninggalan bersejarah dari era kolonial Belanda. Inilah salah satu yang membuat kawasan itu bernilai sosial-budaya tinggi. Salah satunya, kompleks gedung yang digunakan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Malang Selatan di Jalan Merdeka Utara.

Sebagai bangunan bersejarah sekaligus cagar budaya, gedung tersebut wajib dilindungi. Rehabilitasi dan pengelolaannya harus sangat berhati-hati. Tidak boleh sembarangan merenovasi, merubuhkan bangunan, atau mendirikan bangunan baru. KPP harus mematuhi aturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Malang. Hal itu nyatanya tak menghalangi KPP Pratama Malang Selatan berbenah menjadi kantor yang modern, nyaman untuk pegawai dan wajib pajak, serta jauh dari kesan kumuh dan suram.

“Membuat cantik dan indah bangunan tidak mesti dengan pengadaan baru dan mengeluarkan biaya banyak,” kata Kepala KPP, Dwi Joko Kristanto.

Continue reading KPP Pratama Malang Selatan: Di Sini, DUIT Memang Segalanya

Advertisements

KPP Madya Batam: Dari FTZ hingga Toilet


Dalam edisi kali ini Intax melakukan liputan ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Batam. Selain memiliki unit khusus yang tidak ada di KPP lain, kantor ini memiliki strategi khusus pengawasan terkait tipikal wajib pajak yang ditanganinya. Menariknya KPP Madya Batam juga tak melupakan kebutuhan dasar para pemangku kepentingannya: toilet bersih.

*

Provinsi Kepulauan Riau merupakan hasil pemekaran dari Provinsi Riau dan terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 2002. Provinsi ini mencakup lima kabupaten: Bintan Kepulauan, Karimun, Kepulauan Anambas, Lingga, Natuna, dan dua kota: Batam dan Tanjungpinang. Kota terakhir ini terletak di Pulau Bintan serta menjadi ibukota Kepulauan Riau.

Baca Lebih Lanjut.

Klise


Kupetik bintang, untuk kau simpan.  Cahayanya tenang, berikan kau perlindungan.

Lirik lagu ini klise, tapi ada yang sebaliknya, yang nyata, yang bintang itu tak sekadar hanya bisa diteropong dan dilihat dari kejauhan, namun bisa kita sentuh dan berikan.

Pagi tadi saya memesan ojek daring. Ternyata yang datang adalah seorang pemuda. Anak tetangga di RT sebelah rumah.

Baca Lebih Lanjut.

​Firmania Ayu Ambari: Life Begins at Twenty Five


Petang mendung itu, di dalam ruangan berukuran enam belas meter persegi, dengan meja kayu besar di tengah dan dikelilingi banyak kursi rapat, Firmania Ayu Ambari, 29 tahun, ditemui di Gedung A1, Kompleks Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta (19 April 2017).

Di luar gedung, hujan mulai turun. Suara halilintar berulang kali terdengar. Ayu yang duduk di hadapan menyungging malu. Matanya membulat di balik kacamata. Rambutnya dicat coklat, tergerai sebahu. Baju batik yang ia kenakan adalah campuran warna biru dan merah. Di depannya, telepon genggam tergeletak dan terhubung dengan kabel dari catu daya.

Baca Lebih Lanjut.

Beste: Narasi Cita Tak Sampai


Muhammad Bestari, 27 tahun, mengamati kelir komputer. Kelimun huruf kecil di sana dibacanya dengan cermat. Tak lama ia menuliskan sesuatu di aplikasi pengolah kata. Ia melakukannya berulang kali. Kaca mata minus tidak cakap menyembunyikan kepayahan matanya. Hari itu, Beste sudah membaca puluhan berita yang masuk. 

Beste, nama panggilan yang diberikan kakeknya, bersyukur selepas dari DIV STAN tahun 2016 lalu bisa ditempatkan di Seksi Pengelolaan Berita, Subdirektorat Hubungan Masyarakat Perpajakan, Direktorat Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak). 

Baca lebih lanjut.

Bibliotek DJP: Pinjam Asli, Balik Bajakan


Alarm pendeteksi pencurian buku di Perpustakaan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) meraung lantam ke penjuru ruangan.  Ini isyarat ada buku yang sedang keluar ruangan perpustakaan tapi belum tercatat dalam sistem peminjaman buku.

Muhammad Arif Yusuf Hasibuan, 25 tahun, memeriksa alat setinggi 160 cm itu. Hasib, biasa ia dipanggil teman-temannya, dengan membawa satu buku tebal mengulang sekali lagi. Ia menjauhi peranti itu dengan jarak lebih dari satu meter. Tak terdengar suara apa pun. Berkali-kali ia mondar-mandir tapi alat yang ditaruh di dekat pintu ini tetap membisu.

Baca Lebih Lanjut.

Menyebut Sebuah Nama


Ilustrasi: Dokter

Wajahnya oval. Bibirnya bersepuh lipstik warna pink. Matanya disembunyikan di belakang kacamata tipis. Tak irit dengan mesam-mesem. Kepalanya dibalut dengan jilbab hijau yang sepadan dengan rok panjang. Jas putih yang dipakai mempertegas keberadaan profesi yang disandang. “Bapak orang pajak yah?” tanyanya kepada saya. Pertanyaan yang sungguh menyentak.

Alamakjang, sekejap langsung tersadar. Saya memang belum sempat berganti baju saat berkonsultasi tentang hasil lab anak saya dengannya. Kaos Amnesti Pajak yang saya kenakan dengan tiga huruf besar “DJP” tercetak di lengan kaos sebelah kiri masih saya pakai malam ini sejak dari tugas piket di hari libur Nyepi, pagi tadi.

Baca lebih lanjut.