14 Tahun yang Lalu: Isyarat Lolongan Anjing Itu


Malam Ahad itu, di kejauhan, anjing melolong. Panjang sekali. Begitu menyayat hati. Tetapi sejatinya membuat bulu kuduk Nova Yanti merinding. Mendengar itu,  Opa, biasa Nova Yanti dipanggil akrab, bergegas untuk segera tidur dan bangun lebih pagi. Banyak rencana yang sudah diperam di otaknya. Paling tidak bersih-bersih rumah adalah pekerjaan pertama yang harus diselesaikannya besok.

Mata Opa lalu terpejam. Memaksa melupakan kesedihan yang sebelumnya hinggap. Ia kecewa sekali tak bisa ikut pergi bersama suaminya menjenguk kakak ipar yang sedang sakit berat di Penang, Malaysia.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Lion Air JT-610: Sebelum Terbang, Metta Memberiku Pelajaran


Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan menghibur salah satu keluarga korban di Crisis Center, Bandara Soekarno Hatta, Senin, 29 Oktober 2018.

Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 jurusan Jakarta-Pangkalpinang jatuh di perairan Tanjung Karawang pagi tadi (29/10). Puluhan pegawai dari 189 penumpang dan awak pesawat adalah pegawai Kementerian Keuangan yang bertugas di Pangkalpinang. Dua belas di antaranya adalah pegawai Direktorat Jenderal Pajak.

Pegawai Kementerian Keuangan memang ditempatkan di kantornya yang tersebar di seluruh nusantara. Setiap akhir pekan ribuan pegawai tersebut pulang ke rumahnya masing-masing dengan menggunakan moda transportasi bermacam-macam. Pada Minggu malam atau Senin pagi mereka kembali ke tempat tugasnya.

Baca Lebih Lanjut.

JT-610 Tinggal Landas, Haska Berbekal Tamat Satu Juz Alquran


Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memeluk istri Tri Haska Hafidzi yang menjadi salah satu korban pesawat Lion Air JT-610.

Tri Haska Hafidzi menyentuh layar telepon genggam dengan ujung jari jempolnya. Ia baru saja melaporkan kewajibannya pada pukul 05.46 pagi. Entah di ruang tunggu terminal Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng atau di dalam kabin pesawat Lion Air JT-610, ia memberi tanda centang hijau pada daftar yang tersedia.

Ini berarti sebagai anggota grup Whatsapp “DJP Bertilawah P2humas”, Haska sudah menyelesaikan tugasnya membaca Alquran satu juz dalam sepekan.

Baca Lebih Lanjut.

Pendar-pendar Kenangan di Titik Evenaar


Di atas awan.

Bumi Kalimantan akhirnya saya pijak kembali. Itu pun setelah 13 tahun lamanya. Bukan lagi di Palangkaraya atau Balikpapan yang hanya menjadi tempat pindah pesawat. Sekarang adalah Kota Khatulistiwa: Pontianak. Tempat yang lagi-lagi membuat saya bisa terbang dan mengarungi lautan mega bergulung-gulung dengan senja yang akan tamat. Persis waktu yang lampau itu. Catatannya masih bisa kau obrak-abrik di sini.

Buku Rhenald Kasali yang berjudul Agility: Bukan Singa yang Mengembik menemani penugasan kali ini. Kebetulan buku itu sedang membahas tentang transformasi Angkasa Pura II dalam mengelola bandara. Salah satunya Bandara Supadio di Pontianak.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari MILOJI10K: Seperti Keluar dari Gua Tham Luang


 

Sepagi-paginya saya berangkat dari Citayam ke Jakarta tetap saja waktunya terlalu mepet dengan waktu start. Kali ini untuk mengikuti MILO Jakarta International 10 K pada Minggu 15 Juli 2018 lalu saya tak menginap di ibu kota.

Oleh karena itu saya harus bangun lebih pagi daripada matahari dan berangkat dengan kereta rel listrik paling awal. Jam setengah tiga pagi saya sudah bangun. Dari Stasiun Citayam saya menuju Stasiun Tebet.

Baca Lebih Lanjut.

Alibaba (2): Dari Proyek Rahasia Sampai Indonesia


Crocodile in the Yangtze. Gambar dari Businessinsider.com.au

Proyek Rahasia
Agar bisnisnya berkembang maju, Alibaba butuh investor lebih banyak lagi. Dari berbagai lobi, di tahun 1999 ia mendapatkan investor pertamanya yaitu kelompok investor yang dipimpin oleh Goldman Sachs yang membeli 50% saham Alibaba.

Alibaba mendapat tambahan investasi lagi dari bank asal Jepang Softbank sebesar US$20 juta yang kelak membuat pemiliknya—Masayoshi Son—menjadi orang terkaya di Jepang. Modal itu membuat Alibaba mendapatkan dana segar, tenaga segar, dan mendapatkan lebih dari 150.000 anggota terdaftar di situs webnya.

Baca Lebih Lanjut.

Alibaba (1): Alien yang Menciptakannya


BEBERAPA***teman saya di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan berbelanja ke negeri Cina. Melalui lapak daring tentunya. Semacam Bukalapak atau Tokopedia di sini. Mereka memanfaatkan harga murah dan ongkos kirim gratis.

Konsekuensinya mereka terima: barang itu baru sampai sebulan atau dua bulan kemudian. Tak jadi soal sembari menunggu pula musim mutasi yang lama tak kunjung tiba. Dari merekalah saya mengenal nama Alibaba.

Baca Lebih Lanjut.