Kemenkeu Mengajar: Sehari Menjadi Guru



“Kapan Abi bisa ke sini? tanya anak saya, Ayyasy, yang ada di pesantren di kawasan perbatasan Bogor-Sukabumi.

“Kayaknya enggak bisa hari ini Nak. Soalnya Abi harus persiapan buat ngajar besok,” jawab saya dari seberang telepon.

“Yaaaaaaah,” suara Ayyasy mengisyaratkan kekecewaan.

Ïya insya Allah besok, setelah ngajar Abi datang ke sana yah,” jawab saya sambil menahan perih karena ada lubang yang menganga tiba-tiba muncul di hati. Bagi saya yang jarang bertemu dengannya ini nada kecewa darinya tentu menyesakkan dada. Penugasan di Tapaktuan, Aceh Selatan, membuat saya hanya bisa pulang sekali dalam sebulan.

Baca Lebih Lanjut

Asalkan Disuapin Olehmu, Aku Rela



Makan nasi sudah menjadi sebuah kebiasaan selama 38 tahun. Kebiasaan yang baik tentunya. Tetapi ketika sudah berlebihan maka akan menjadi keburukan. Lalu bagaimana caranya agar kebiasaan menjadikan nasi sebagai satu-satunya sumber karbohidrat itu hilang atau berkurang? Apa dampaknya? Oleng sudah pasti. Alhamdulillah saya sudah bisa melewatinya.

Dulu sewaktu masih di Jakarta, saya penyuka nasi banget. Saya akan memilih warung makan yang memberikan nasi banyak. Kalau sedikit, ogah. Apalagi kalau nasinya sudah ditumplek dalam sebuah wadah atau mangkuk kecil lalu ditaruh dipiring. Itu cuma bukit, bukan gunungan nasi. Ini semua agar kebutuhan vitamin K (baca: kenyang) terpenuhi.

Baca Lebih Lanjut.

Misteri Roseto



Ketika Malcolm Gladwell akan memulai menulis buku dia bertemu dengan salah satu temannya yang berprofesi sebagai dokter dan bertugas di Kota Roseto dekat Pennsylvania United Stated, yang penduduknya adalah hampir 100% imigran asal Italia.

Temannya ini bercerita pada Malcolm bahwa dia hampir tidak pernah menemukan penduduk Roseto yang meninggal dunia pada usia muda dan berpenyakit koroner. Kasus ini menjadi hal yang menarik untuk diteliti, mereka ditambah beberapa mahasiswa kedokteran dan sosiologi, kemudian melakukan penelitian dengan mengumpulkan sampel-sampel darah, catatan kematian, dan mempelajari pola makan dan minum mereka.

Baca Lebih Lanjut.

Mahabenar Engkau Adityawarman


image

KEMAHA PE A -AN***Dirut jasa Marga Adityawarman ini memakai EUFEUMISME “tidak pandai” kepada para pemudik sebagai pengganti kata goblok, pekok, pe-a, bego, pandir, dan segala antonimnya. Kalau sempat, pembaca silakan buka thesaurus bahasa Indonesia.

“Karena itu ya mungkin terlalu nikmatnya sampai Brexit. Kalau orang yang pandai pasti dia memilih keluar di (Gerbang Tol) Pejagan karena pasti lebih cepat. Tahun depan kalau belum bisa sampai Pekalongan (Tol Transjawa) mungkin kita akan stop. Lalu akan kita keluarkan di (Gerbang Tol) Kanci dan Pejagan,” lanjutnya.

Baca Lebih Lanjut.

Duka Bersama dari Garda Terdepan DJP


13012762_10209288722155575_7320788217930801356_n

 

Orang itu tidak percaya kepada saya yang membawa surat tugas dan berbaju lengkap jurusita. Ia “mengurung” saya dalam ruangan kantornya. Ditinggal sendirian. Lama banget. Teman saya tidak ikut masuk. Dia ada di tempat parkir. Saya ditanya macam-macam dan saya jawab seadanya dan menjelaskan maksud kedatangan saya memberitahukan Surat Paksa. Sampai pada akhirnya selesai urusan.

Sampai di kantor saya dipanggil kepala kantor. Barulah ketahuan kalau orang perusahaan itu menelepon kepala kantor saya dan menanyakan apakah benar saya adalah petugas dari kantor pajak. Waktu itu kepala kantor saya tidak ingat ada pegawainya bernama Riza. Untung ada Kepala Seksi Penagihan yang sedang berada di depannya. Dan langsung mengonfirmasikan kepada orang perusahaan bahwa benar saya adalah petugas pajak. Pantas saja orang perusahaan itu perlakuannya berubah kepada saya. Langsung jadi ramah. Awalnya dia menyangka saya komplotan penipu yang menyamar jadi petugas pajak.

Baca Lebih Lanjut.

LOG ENTRY: DAY 885



Masih seperti biasa. Azan Subuh berkumandang. Saya bangkit dari lelap. Mengambil air wudhu, memakai sarung, dan pergi ke meunasah yang jaraknya 300 meter dari rumah. Udara dingin karena baru selesai hujan. Jalanan sepi dan gelap.

Salat berjamaah dengan empat orang bapak-bapak. Lalu usainya, tak segera bergegas, merenung sebentar. Zikir dan kontemplasi atas banyaknya dosa yang senantiasa berulang. Sebagai manusia, dosa sungguh berjibun. Dosa yang sengaja atau tidak sengaja tercipta.

Baca Lebih Lanjut.

DIGERTAK ANJING


pekanbaru


Biasa mulai lari jam 6.30 pagi waktu Tapaktuan, ini berarti waktu yang terlambat di Pekanbaru. Jalanan ramai, padat, dan tidak friendly dengan pelari atau sejatinya karena saya salah arah? Kehendak awal mau susuri jalan lebar pusat kota Pekanbaru malah menyasar ke perumahan dengan jalanan yang barangkali pelari Kenya pun setidaknya akan berpikir dua kali untuk memecahkan waktu terbaiknya.

Jalanan yang menanjak itu menggetarkan saya. Mental tangguh belum ajeg terbangun. Membuat saya harus mengubah rute lari pagi di kota Madani ini. Saya masuk ke sebuah perumahan yang mayoritas penghuninya adalah Tionghoa. Menyusuri pinggiran sungai, melewati banyak kelenteng yang semarak dengan hiasan menyambut tahun baru imlek, dan tentunya makhluk berkaki empat: anjing.

Anjing pertama nongkrong di pinggiran jalan. Warnanya hitam. Dia sempat menengok kepada saya. Dia bergeming. Saya cukup waspada. Tetapi dia asyik menikmati pagi, acuh dengan keberadaan saya yang bergegas dan terengah-engah menyusuri kilometer kelima.

Baca Lebih Lanjut.