Goyang Penasaran


Seperti anak kecil yang menemukan bonekanya yang hilang, Salimah mendekapkan kepala Haji Ahmad pada dadanya. Darah yang belum sepenuhnya membeku menetes di tubuhnya. Mata Salimah berair, terpejam. Bibirnya terbuka setengah. Basah.

 

Waktu kecil dulu, setiap kali cerita setan dikisahkan ibu kepada anak-anaknya pasti telinga ini mendongak tajam. Kepekaan telinga kami meningkat beberapa desibel agar tak melewatkan satu kalimat pun yang diucapkan dari mulut ibu dengan disertai wajah kengerian yang luar biasa.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Hujan Puisi Payung Warna Warni


Jpeg
Payung warna-warni yang menggantung di atas langit-langit Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Selatan.

Puisi adalah karya seni tertinggi dalam kesusastraan. Karena menyajikan keindahan dan pemaknaan yang mendalam. Tidak semua orang diberi anugerah untuk dapat membuat puisi, sebagaimana tidak semua orang dapat menikmati puisi.

Beberapa orang menyatakan bahwa puisi yang baik adalah puisi yang bisa dinikmati. Dan berbicara kenikmatan, maka semua kembali ke soal selera. Menjadi relatif.

Baca Lebih Lanjut

Saat Menonton Televisi di Tetangga Sebelah


Foto siang tadi

DI WAKTU KECIL***dulu, saya dan adik saya kalau menonton televisi pergi ke tetangga yang keturunan Tionghwa. Kalau malam, sehabis isya, saya mengetuk pintu rumah tetangga kami itu, “Papih! Papih!” teriak kami kepada bapak tua yang biasa kami panggil demikian. Istrinya pun kami panggil Mamih.

Kalau kami datang, anjing kecilnya bernama Bleki, karena warna bulunya yang hitam, menyambut kami dengan gonggongan atau geramannya. Saya memang tidak pernah akur dengan asu itu. Jadi di depan televisi itu saya mengangkat kaki ke atas kursi, duduk bersila, bukan bermaksud tak sopan, ini sekadar menghindari kaki-kaki kami terkena sentuhan sang asu. Baca Lebih Lanjut.

Matanya Bukan Mata Medusa


 

Satu-satunya kesedihanku ialah
bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu,
ketika kau memandangku.

Panggilan telepon di malam hari itu masuk ke telepon genggam saya. Dari sebuah nomor yang tak dikenal. Tapi saya masih bersedia mengangkatnya. Commuter line yang saya naiki sebentar lagi masuk Stasiun Citayam.

Ternyata masih urusan kantor. Dari seorang sejawat di direktorat lain. Suara dari pelantang menyentak saya bahwa kereta rel listrik akan segera tiba di Stasiun Citayam. Bergegas saya mengambil tas warna hitam dari atas rak. Kemudian ketika pintu commuter line terbuka, saya pun turun.

Baca Lebih lanjut.

Sudah Kubilang, Aku Pergi Untuk Kembali


Di September yang dipaksa untuk ceria, seorang laki-laki bertemu dengan muasalnya, sejarahnya. Untuk tak mati, sejarah memakan nektar dan ambrosia waktu agar terus awet muda. Lelaki ini tidak. Ia hanya menuliskannya di laman Facebook.

Setelah berjuang dari ketersesatan Google Maps—dan sesungguhnya saya berlindung kepada Tuhan atas hal itu—yang membuat saya harus menyusuri jalanan sempit Pondok Karya, akhirnya saya bisa menemukan kampus Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN yang saya tinggalkan 20 tahun lampau ini.

Continue reading Sudah Kubilang, Aku Pergi Untuk Kembali

Cerita di Balik Layar Puisi Malam Ini Kanda Dinda


Suatu ketika pada 1 Agustus 2017 Kak Cut Ratna Marlina menanyakan kepada saya, “Jadi perlu slot khusus di acara?” Acara yang dimaksud adalah acara Reuni Alumni STAN Prodip Keuangan Spesialisasi Pajak tahun lulus 1997. Niatnya acara ini akan diselenggarakan di Hotel Mercure Ancol Jakarta pada 2 September 2017. Tepat 20 tahun setelah kami diwisuda.

Kak Cut Ratna Marlina ini adalah anggota kepanitiaan reuni yang luar biasa gigihnya dalam mengusahakan terselenggaranya acara tersebut. Perihal nama sebenarnya adalah Hajjah Ratna Marlina saja. Namun dikarenakan pada Juni 2017 lalu dipromosikan sebagai kepala seksi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Banda Aceh maka teman-teman menahbiskannya dengan “Cut”. Lengkap sudah hidupnya.

Baca Lebih Lanjut.

Aylaview: Fenomena Seretnya Investasi Kasih Sayang


Waktu itu saya masih berada di commuter line yang berangkat dari Stasiun Tanah Abang lebih kurang pukul 22.00. Saya pulang larut sehabis menonton siaran langsung bincang-bincang antara Sri Mulyani dan Rosi Silalahi di salah satu stasiun tv swasta. 

Tiba di Stasiun Tanah Abang kereta rel listrik yang menuju Bogor sudah nongkrong di jalur 3. Kebetulan saya dapat tempat duduk di commuter line itu.  Kantuk sudah merajalela di pelupuk mata. Kadang tidur kadang juga bangun. Kalau bangun saya lanjutkan dengan baca buku. Tetapi juga saya perhatikan telepon genggam, masuk ke aplikasi Facebook, dan melihat lini masanya.
Baca Lebih Lanjut.