Di Titik Didih Kerinduan


Malam lebaran di salah satu sudut Semarang.

Suara mirip peluit mencelat dari ketel yang isinya air mendidih. Uap panasnya berontak dan buru-buru keluar dari celah sempit di ujung moncong ketel seperti iblis dengan bala tentaranya ketika azan Magrib 1 Syawal besok berkumandang.

Mereka kembali merapatkan barisan, berkoordinasi, dan membagi tugas mengembalikan manusia kepada kesesatan setelah sebulan mereka dipenjara. Mereka ingin agar kawan-kawannya dari kalangan manusia yang sudah suci dibasuh Ramadan, kembali menjadi anggota yang akan menemani mereka di neraka.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Membeli Martabak di Bulak


MEMERANGKAP***Senja.

Ketika kami tiba di Masjid Alhusna, Kinan langsung menuju saf terdepan saja.  Tak ada yang menemaninya. Umminya Kinan sedang tak enak badan jadi tak bisa salat id. Sedangkan kami bertiga segera masuk ke dalam ruangan utama masjid.

Hari ini lebaran. Kami kembali salat di masjid ini. Mengulang ritual setahun sekali. Khatibnya berkhotbah selama 30 menit yang isinya diingat dengan baik oleh Kinan. Di antaranya tentang nyamuk, organ tubuhnya, alat untuk menusuk korban, dan obat bius yang dipakai satoan itu saat menggigit manusia.

Baca Lebih Lanjut.

Mur dalam Sepotong Coklat


Kebersamaan sejati bukan soal “tampilan” dari luar, tetapi soal “jiwa” dari dalam. 

​Aku ingin mengatakannya dengan kata “tiba-tiba”, tetapi senyatanya memang tidak ada yang tiba-tiba, karena ada hari yang terlewati mulai dari hari pertama Ramadan hingga saat ini. Malam ke-27 Ramadan.

Di Masjid kompleks kami ini, Masjid Alikhwan, banyak orang berdatangan memenuhinya, mulai dari orang tua sampai anak-anak. Mereka ingin menjadi bagian dari umat yang mendapatkan kemuliaan di malam itu yakni lailatulkadar.

Baca Lebih Lanjut.

For Solo Trombone



Apakah engkau tahu trombon? Itu adalah alat musik tiup logam. Abbie Conant sanggup memainkan terompet besar itu dengan baik dan profesional.

Suatu ketika Munich Philharmonic Orchestra mengundangnya untuk sebuah audisi. Audisi pertama itu dilakukan secara buta. Maksudnya para pelamar memainkannya di balik tabir. Para Juri murni hanya mendengar dan menilai dari suara yang dihasilkan trombon tanpa melihat siapa yang memainkannya.

Baca Lebih Lanjut.

Berkemih di Kolong Jembatan Cawang


Chubbyrock, ini kucing kampung, jantan, tua-tua keladi, dan bulunya berwarna oranye. Mata kanannya berkabut, jejak luka seusai berkelahi mixed martial arts sesama kucing. Makanya kalau jalan, kepalanya selalu miring ke kanan.

Tubuhnya juga banyak bekas cedera. Entah seberapa banyak pertempuran jalanan yang telah ia lalui, entah dalam rangka memperebutkan betina atau mempertahankan daerah kekuasaannya.

Baca Lebih Lanjut.

Di Sepanjang Pantura



Ada empat hal yang saya lakukan di atas kereta api ekonomi yang saya naiki kali ini. Menekuri aplikasi percakapan, membanting pandangan ke luar jendela, membaca buku, dan tidur. Dua hal pertama sangat mendominasi betul.

Abaikan upaya bercakap-cakap dengan kawan duduk di sebelah seperti yang biasa saya lakukan. Kali ini di samping saya adalah seorang perempuan generasi milenial yang baru naik dari Stasiun Cirebon menuju Jakarta.

Baca Lebih Lanjut.

Kelak Mereka adalah Siborg, Bahkan Sekadar Hologram


Saat ini para pengguna jalan tol sering melihat banyak gerbang tol yang dulunya berdiri megah sudah tidak terpakai dan hanya menyisakan kekosongan saja.

Dulu banyak petugas yang melayani pemberian dan pembayaran tiket tol, namun sekarang sudah tidak ada lagi. Semua telah tergantikan dengan mesin. Seluruh pengguna jalan tol dipaksa untuk memakai uang elektronik.

Baca Lebh Lanjut.