
Sebuah pesan masuk pada hari ulang tahun ke-81 Republik Indonesia.
Dari Mas Yudha Daiz Himawan, Kepala Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Sarmi.
Saya senang sekali menghuni rusun unit 1002 ini. Kebersihan senantiasa terjaga. Ada Kak Asri yang membersihkan 1002 sekali dalam sepekan. Hari lainnya, saya yang menjaga kebersihannya.
Sebelum berangkat ke kantor, saya memastikan tidak ada yang terbengkalai. Semua piring dan gelas kotor sudah tercuci. Ranjang sudah rapi. Meja tidak berantakan. Pakaian kotor sudah dimasukkan ke dalam plastik. Sekali dalam sepekan saya menyerahkan pakaian kotor ini ke penatu. Mereka bersedia mengambil baju kotor dan mengantar kembali baju bersih.
Sabtu sore itu (14 Maret 2026), Dhino mengajak saya menengok rusun. “Bapak kayaknya perlu lihat-lihat rusun dulu deh,” katanya.
Terus terang saya masih merasa nyaman di ruangan kecil di lantai 2 KPP Pratama Jayapura ini. Namun, ajakan Dhino tak bisa saya tampik. Kalau sekadar menengok rusun sebenarnya cukup bawa badan saya, tetapi enggak tahu kenapa saya langsung mengemas koper kecil saya dan mengangkutnya ke dalam mobil.
Setelah bertemu dengan Pak Sekti di kanwil, hari belumlah selesai. Sehabis salat Asar saya langsung mengumpulkan anggota tim Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jayapura. Saya ingin berkenalan dan menyamakan visi dengan mereka.
Waktu berjalan dengan cepat. “Nanti kita buka puasa bareng di luar, Pak,” kata Mas Chandra, Kepala Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal, KPP Pratama Jayapura.
Continue reading Di Antara Jembatan Holtekamp dan Kenangan Tapaktuan

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya pernah meminta kepada pramugara Batik Air itu untuk membangunkan saya di waktu sahur, tetapi justru saya terbangun oleh suara samar-samar pengumuman. Saya beruntung bisa terbangun.
Pengumuman itu menginformasikan kalau waktu Subuh akan segera tiba 20 menit lagi. Jam ponsel menunjukkan pukul 03.10. Masih dalam mode Waktu Indonesia Barat. Saya segera menyantap roti yang disiapkan sebelum berangkat. Bismillaah, saya iringi pula dengan niat berpuasa Ramadan. Di luar jendela belum terlihat apa-apa selain gelap dan kelap-kelip lampu di ujung sayap pesawat.
Selesai dilantik pada Selasa (10 Maret 2026) itu, pertanyaan berikutnya adalah mulai kapan saya akan bertugas di sana? Saya belum memedulikan itu, saya masih berfokus pada penyelesaian pekerjaan di Coretax dan meneliti berkas-berkas.
Ketika saya sampai di rumah pukul 17:00, Ummi Kinan sedang duduk di teras rumah.
”Loh kok belum masuk?” tanya saya.
“Kinan tidur, dibangunkan susah. Kunci masih menggantung di pintu,” katanya.
Pesawat Batik Air terbang meninggalkan landasan Bandara Soekarno Hatta pada dini hari pukul 00.45, tepatnya pada Jumat 13 Maret 2026. Pesawat ini hanya diisi sekitar tiga puluhan orang. Kursi penumpang banyak yang kosong. Dua kursi di samping saya juga kosong. Sebelum terbang, pramugari meminta kesediaan saya pindah ke kursi darurat.
Saya membawa roti dan air minum yang saya siapkan untuk sahur. Saya sempat bertanya kepada pramugari apakah pilot atau awak kabin akan mengumumkan waktu sahur dan salat Subuh. Ia mengiyakan. Sampai di sini saya sudah cukup tenang.
Continue reading Hari Ketika Saya Tidak Tahu Apa yang Sedang Terjadi
Hujan begitu deras siang itu. Diiringi angin kencang dan suara jendela yang menutup dengan keras. Brak!!
Saya melihatnya dari ruang kelas yang sudah sepi. Di lantai 2 Gedung N PKN STAN. Beberapa menit lalu saya menutup kelas. Seperti kebiasaan saya selama ini, saya paling terakhir meninggalkan ruangan. Membereskan administrasi perkuliahan, menaruh materi ke dalam folder, dan menutup kelas secara daring. Semuanya serba tanpa kertas.
Suatu ketika ada pesan masuk di DM Instagram saya.
“Maaf, Pak. Saya mau bertanya apakah Bapak tahu dengan Ibu Ayu Endah Damastuti? Beliau tertinggal dompetnya, Pak. Saya lihat biodatanya yang muncul berfoto dengan Bapak,” tulis laki-laki itu dalam pesan tersebut.

Semalam Garmin FR235 sudah saya isi daya kembali. Penanda ketahanan baterai telah menunjuk angka 2% sebelumnya. Rencananya buat saya pakai besok. Ada rutinitas lari yang mesti dijalani.
Pukul 6 pagi, saya masih belum beranjak dari laptop. Padahal saya sudah siap dengan pakaian lari. Saya masih asyik mengobrol tentang keuangan dengan ChatGPT.