RIHLAH RIZA #33: NIKMATI SATU DETIK ITU DAN JANGAN MENUNGGU


RIHLAH RIZA #33: NIKMATI SATU DETIK ITU DAN JANGAN MENUNGGU

 

Why look so canny at every penny? You’ll take no money within the grave.

(Snow White and the Huntsman)

 

Jam dinding bertuliskan Direktorat Jenderal Pajak Kanwil DJP Aceh itu sekarang sudah tertempel di dinding kamar saya. Ini pemberian dari Kepala Kantor Wilayah DJP Aceh seusai saya menjadi narasumber sosialisasi KEP-10/PJ/2014 tentang Pembentukan Gerakan “DJP Bersih di Tangan Kita” di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak akhir Maret lalu. Jadi kalau bangun dari tidur saya tak perlu meraba-raba tempat tidur lagi mencari hp untuk melihat jam. Sekarang cukup dengan membuka mata saja. Ini bermanfaat sekali insya Allah.

Sekarang alat penunjuk waktu sudah ada di mana-mana. Di setiap hp dan komputer pasti ada informasi mengenai hal ini. Otomatis jam tangan—entah yang analog atau digital tapi tidak pintar—sekarang sekadar aksesoris. Tapi benda itu tetap dibutuhkan di saat alat-alat elektronik dilarang dibawa atau dinyalakan seperti pada waktu ujian atau di dalam pesawat. Dan di dalam kubur, jenazah juga tak akan membawa jam.

Tapi mereka tahu satuan waktu. Betapa satu detik saja hidup di dunia akan benar-benar memengaruhi kondisi mereka di alam kubur. Mereka meminta-minta sedetik atau sekejap saja agar bisa balik ke dunia dan beramal saleh. Barulah mereka tahu amal saleh yang sedikit pun akan menjadi pembeda apa yang akan mereka dapatkan dan di mana akhir mereka berkedudukan. Surga atau neraka. Kita kelak akan menjadi mereka pula. Lalu mengapa kita tidak menyadari betapa berharganya satu detik itu ketika kita masih hidup?

Satu detik akan menjadi relatif pada masing-masing orang. Satu detik akan terasa lama buat siapa yang menggenggam bara di tangan. Jangankan satu detik, satu jam saja bagi para pecinta akan terasa seperti kilatan cahaya di langit. Mencintalah maka waktu akan berjalan dengan cepat. Seperti waktu yang begitu singkat bagi para pegawai DJP ketika pulang bertemu dengan sanak keluarganya. Mereka yang dicinta yang bisa dijumpai sepekan atau sebulan sekali.

Dan tahukah Anda keberadaan saya di Tapaktuan pun ternyata sudah lima bulan lebih sejak kedatangan atau enam bulan sejak surat keputusan pemindahan. Tak terasa. Mengapa? Karena saya berusaha mencinta, Insya Allah. Mencinta takdir yang hinggap dalam hidup. Mencinta Tapaktuan. Mencinta senjanya yang setiap hari berganti-ganti keindahannya. Sungguh, akan terasa lama bagi siapa yang menunggu.

Kemudian ingatan saya terpelantingkan pada sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh Lev Grossman, penulis buku The Magicians, “For just one second, look at your life and see how perfect it is. Stop looking for the next secret door that is going to lead you to your real life. Stop waiting. This is it: there’s nothing else. It’s here, and you’d better decide to enjoy it or you’re going to be miserable wherever you go, for the rest of your life, forever.” Nikmati satu detik itu dan jangan menunggu.

Seperti saya menikmati detik-detik sepi di Tapaktuan pada tanggal 9 April 2014 ini. Tapaktuan benar-benar menjadi kota sepi sekali di saat pencoblosan. Kata penduduk setempat, situasi ini seperti pada saat lebaran. Tapi penduduk ternyata sedang meramaikan Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang dipusatkan di pajak (baca: pasar) inpres. Ada empat TPS yang ada di sana. Dan saya berdua dengan teman sekantor saya, AA Fikri, yang memegang hak suara dari tempat lain, ternyata diprioritaskan untuk mencoblos duluan setelah menyerahkan formulir A5. Padahal banyak penduduk yang menunggu antrian di bawah tenda yang disiapkan panitia. Alhamdulillah berkah.

Memasuki bilik suara, saya buka empat lembar kertas suara itu. Sebagai pendatang di sini saya diberikan empat hak suara untuk DPR RI, DPD, DPR Aceh, dan DPR Kabupaten. Saya sudah menentukan pilihan saya sebelum memasukinya. Saya buka lebar-lebar kertas suara untuk memastikan tidak ada yang rusak. Dan situasi seperti ini, saat mencoblos, sejak tahun 1997, adalah saat mendebarkan bagi saya. Karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Selalu saya ucapkan bismillah ketika memulai mencoblos. Semoga pilihan ini tidaklah salah. Saya titipkan suara ini kepada mereka untuk perbaikan bangsa.

Mulanya saya sudah pesimis tidak menggunakan hak suara karena ribetnya mengurus pindah TPS dari Bogor ke Tapaktuan. Kalaupun saya menjadi golongan putih (golput pakai huruf kecil) tetapi golput saya bukan karena alasan ideologis melainkan keterbatasan. Kalau itu tidak masalah. Tetapi saya harus memastikan ikhtiar saya sudah maksimal untuk mendapatkan hak suara saya. Dan saya mendapatkan suntikan semangat luar biasa ketika teman-teman saya di Bogor dan Jakarta benar-benar berjuang habis-habisan untuk idealisme yang mereka usung. Saya terlecut. Tercambuki. Agar tidak menjadi orang-orang yang tertinggal. Orang yang duduk-duduk saja. Orang yang datang perang ketika perang sudah usai.

Setelah perenungan habis-habisan malam itu, besok paginya—dua minggu sebelum hari H pencoblosan—saya datang bersama AA Fikri ke Kantor Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Aceh Selatan. KIP ini kalau di luar Aceh sama saja dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Awalnya ditolak oleh salah satu komisioner KIP di sana. Artinya kami harus melewati prosedur dengan mengurus pindah pilih dari TPS asal di Bogor. Saya beritahukan informasi tentang surat edaran KPU Pusat, calon pemilih pindah cukup datang ke KPU setempat dan menunjukkan KTP untuk bisa mendapatkan formulir Model A-5 KPU asalkan saya sudah terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT). Setelah di cek melalui situs online KPU ternyata saya memang terdaftar di DPT. Pada akhirnya saya sah bisa memilih.

Pertanyaan paling mengemuka adalah mengapa saya capek-capek mengurus ini dan itu dalam rangka pesta rakyat ini? Sedangkan saya tidak kenal dengan para caleg itu. Tapi sungguh inilah jawabannya. Semata dalam rangka ikhtiar memberikan sumbangsih buat negara. Supaya tidak golput. Karena buat saya, saya sudah dikasih otak untuk memilih caleg-caleg baik. Maka mengapa tidak mempergunakan anugerah yang Allah berikan kepada saya untuk sedikit berpikir keras memilah dan memilih. Alasan lainnya adalah kontribusi balik buat dakwah dan kebaikan.

Ah, kerja saya belumlah tak seberapa dibanding mereka yang telah berjuang dan berdoa siang dan malam. Cuma satu suara ini yang bisa saya berikan untuknya, untuk mereka. Mungkin bagi Anda satu suara itu tak seberapa, tapi bagi saya satu itu tak ternilai harganya. Bahkan teman saya sampai bilang seharga satu milyar rupiah pun, satu suara ini tak akan saya jual. Karena semua bermula dari satu. Anda tahu Niagara? Ia kumpulan dari sedikit tetes-tetes mata air itu. Anda tahu musik yang sering Anda dengar itu? Semua bermula dari satu nada yang dikumpulkan dan menjadi indah.

Dari jauh, dari Tapaktuan, inilah yang bisa saya persembahkan untuk umat, negeri, dan bangsa ini sebagai tanda cinta kepada mereka yang telah membelokkan saya dari jalan-jalan sesat kepada jalan-jalan penuh kebaikan dan keberkahan.

Inilah jalan pertengahan yang bisa saya ambil dari dua kelompok orang. Yakni ketika sebagian masyarakat bilang, “Saya hanya mau mencoblos mereka yang memberi uang.” Dan sebagian lainnya bilang dengan penuh apatis (skeptis, pesimis, dan murung melihat masa depan) untuk tidak menggunakan hak suaranya. Inilah jalan saya. Jalan yang kelak akan saya wariskan kepada tiga anak saya kelak. Jalan perjuangan. Jalan senyap dari puja-puji namun penuh onak dan caci maki. Insya Allah.

**

Siang hari setelah mencoblos, setelah meminum segelas kopi Aceh yang nikmat itu, jarum merah pertanda detik yang lekat saya pandangi dari atas tempat tidur masih berjalan tepat waktu di jam dinding hadiah ini. Hawa laut biru di depan mess bebas suka cita masuk rumah dan memenuhi rongga dada. Ini yang saya suka dari Tapaktuan. Tapi ini tak akan lama. With love, this, too, will pass very quickly.

2014-04-07 11.45.30

Formulir Model A.5-KPU

 

 

riza

Minum kopi dulu usai mencoblos di Warung Kopi Terapung. (Sketsa).

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jam dinding itu.

 

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 09 April 2014

 

 

 

 

 

RIHLAH RIZA #32: PAHLAWAN ITU BUKAN SAYA


RIHLAH RIZA #32: PAHLAWAN ITU BUKAN SAYA

 

 

Suatu waktu kalau Anda berkunjung ke Tapaktuan datanglah sebentar di salah satu sudutnya. Ambillah barang satu atau dua gambar di sana. Itu sudah cukup dikatakan kalau Anda sudah benar-benar datang ke kota kecil ini. Ini sebuah dinding beton penahan longsor dari sebuah bukit. Di dinding itu bertuliskan ucapan selamat datang dan banyak mural sederhana yang menceritakan aktivitas penduduk Tapaktuan. Letaknya berada di ujung jalan masuk terminal atau berada di depan warung kopi terkenal: Terapung. Tempat para supir travel berisitirahat setelah usai perjalanan dari Medan atau pun Banda Aceh. Di suatu waktu itu, di suatu pagi itu, saya mengangkangi sudutnya.

Suatu waktu setelah dari sana Anda juga perlu bergerak ke arah utara. Mengunjungi situs makam Tengku Syaich Tuan Tapa. Tuan yang menjadi legenda di kota ini. Tuan yang pernah bertempur dengan naga dan jejak kaki raksasanya tertancap di karang pinggiran samudera. Makamnya tidak seperti makam orang-orang biasa, bentuknya besar memanjang, dan cukup terawat. Anda bisa masuk ke dalam kompleks makam karena pintu pagarnya tak terkunci. Di sebelah kanan makam terdapat makam dengan ukuran biasa dari seorang penguasa Tapaktuan bernama Datuk Radja Amat Djintan yang wafat pada tahun 1928 M. Di suatu waktu itu, di suatu pagi itu, saya terpekur memandangi rumah keabadian tempat dua manusia berkalang tanah.

Suatu waktu setelah Anda mengunjungi situs makam itu bergeserlah sedikit ke utara lagi. Ke sebuah rumah, tempat seorang Kapiten Belanda di tahun 1929 berfoto bersama dengan teman-temannya dan dua ekor anjing hitam. Mereka berfoto di halaman depan rumah. Rumah yang kini tak berpenghuni. Foto saat mereka mapan dan merasa berhak untuk berbuat apa saja kepada pribumi. Sedangkan di pelosok pedalaman, perlawanan itu tetaplah berlangsung sampai Jepang datang di tahun 1942. Di suatu waktu itu, di suatu pagi itu, saya menggigit dan memamah sejarah tanpa tandas karena saya sisakan sebagian untuk saya simpan di memori kepala.

Suatu waktu setelah Anda mengunjungi semuanya, beristirahatlah sebentar. Sejenak saja. Mendekatlah. Dan jangan menjauh. Duduk bersama saya di tepian pantai ini. Tempat biasa saya melabuhkan atau malah melarungkan rindu. Tempat kata-kata memungut satu per satu dirinya sendiri menjadi sajak dan gigil. Mungkin kita akan duduk di sini sampai matahari bulat di hadapan habis dilahap samudera. Tenang saja di sini, kita nikmati potongan senja, sambil memandang putih buih, mendengar gemuruh ombak, menghirup aroma asin laut, dan merasakan sepoi angin yang membelai wajah. Di suatu waktu itu, di suatu saat itu, saya ingin menceritakan kepada Anda sesuatu. Sudilah Anda mendengarnya.

Suatu ketika saya pulang ke Jakarta dari Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Dengan menggunakan “singa terbang”, para penumpang harus transit di Bandara Kualanamu, Medan dan kami harus turun terlebih dahulu dari pesawat. Saat itu sudah jam setengah tujuh malam. Satu jam kemudian kami diminta masuk pesawat kembali. Di situlah kericuhan dimulai, ada dua orang penumpang dari Banda Aceh yang tidak mendapatkan tempat duduk. Tempat duduknya semula telah diisi penumpang dari Bandara Kualanamu. Sedangkan yang tersisa hanya satu kursi kosong dengan nomor yang berbeda.

Pramugari tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah dapat dipastikan telah terjadi kesalahan dalam sistem booking mereka. Petugas “Singa Terbang” di bandara turun tangan dan meminta agar salah satu dari penumpang itu terbang dengan menggunakan pesawat lain yang—kata petugas itu—telah siap untuk terbang juga. Tapi sang penumpang tidak mau karena merasa berhak di pesawat ini. Sang penumpang tidak bisa disalahkan karena ia berangkat dari Banda Aceh. Katanya pun, kalau ia berangkat dari Bandara Kualanamu ia masih bisa memahami dan mau pindah pesawat. Tapi karena ia bayar untuk naik pesawat dengan jam dan nomor penerbangan dari Banda Aceh maka ia bersikeras berada di pesawat yang sama.

Perdebatan semakin memanas, ditambah para penumpang lain membela sang penumpang dari Banda Aceh. Sedangkan dua penumpang yang naik dari Bandara Kualanamu santai saja di tempat duduknya, merasa tidak ada masalah. Sampai-sampai kepala kru hendak melaporkannya kepada pilot karena kericuhan tanpa kejelasan akhir ini. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Saya pikir alangkah eloknya kalau petugas “Singa Terbang” menjanjikan akan memberikan kompensasi layak kepada sang penumpang ketika mau pindah pesawat. Tapi itu tidak pernah terlontar dari mulut petugas. Ujung-ujungnya perdebatan tetap berlangsung.

Di tengah suasana tidak nyaman ini, di antara wajah gelisah para penumpang yang mengharapkan pesawat segera terbang, berdirilah seorang pemuda bertubuh gempal. Tanpa basa-basi ia menawarkan diri kepada pramugari untuk menjadi volunteer. Ia bersedia pindah pesawat. Bergegas ia ambil tasnya dan langsung keluar pesawat. Usai sudah semuanya. Sang penumpang dari Banda Aceh bisa duduk. Penumpang lain ikut senang. Pesawat pun segera bisa terbang. Solusinya sederhana dan tak sulit. Mesti ada yang harus berkorban. Dan pengorbanan itu tidak ditunjukkan dari para empunya masalah. Tapi dari pemuda tidak dikenal. Pemuda yang akan terbang lebih malam dan tiba di Bandara Soekarno Hatta lebih lama dari kami semua. Sebuah solusi yang tidak pernah terlintas dalam benak saya. Di suatu waktu itu, di suatu saat itu, pemuda itu pahlawannya. Bukan saya.

Pahlawan itu adalah orang yang mengorbankan segala. Ia yang berani mewakafkan dirinya bermanfaat buat orang banyak. Di atas pengorbanan itu berdirilah prinsip yang teramat kokoh tak tergoyahkan apa pun. Prinsip tak akan tegak di atas dinar dan dirham yang hanya memuaskan perutnya saja. Maka pada malam itu sebatas kekaguman kepada sang pemuda yang hanya bisa dipersembahkan. Bukankah—mengutip Anis Matta—kekaguman adalah sebagian cara kita membalas utang budi kepada para pahlawan?

Suatu waktu usai sudah cerita ini terkisahkan kepada Anda. Malam telah jelang. Saatnya untuk pulang. Dan saya bukanlah pahlawan karena telah berjasa mengantarkan Anda berkeliling Tapaktuan. Bukan. Terlalu berlebihan soalnya. Cukuplah saya menjadi pahlawan buat kalian di Citayam yang senantiasa saya rindukan setiap malam-malam sepi di tanah seberang. Bukan untuk dikagumi, melainkan diteladani. Itu pun jika saya memilikinya, memiliki keteladanan itu. Di suatu waktu, di saat itu, semoga itu saya adanya.

 

 

Selamat Datang di Kota Naga (Foto koleksi pribadi).

 

Kompleks makam Tengku Syaich Tuan Tapa (Foto Koleksi Pribadi)

Makam Tengku Syaich Tuan Tapa (Foto koleksi pribadi).

Makam Datuk Radja Amat Djintan (Foto koleksi pribadi).

Rumah Kapiten Hofstede Tapa Toean di tahun 1929 (Wikipedia) dan masa kini (Foto koleksi pribadi).

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan 22.59 03 Maret 2014

 

RIHLAH RIZA #8: MEULABOH DAN 105 TAHUN YANG LALU


RIHLAH RIZA #8: MEULABOH DAN 105 TAHUN YANG LALU

Meulaboh. Di waktu sahur. Akhir Ramadhan 1316 H (11 Februari 1899 M). Suaminya tertembak di dada dan di perutnya. Tembakan prajurit Van Heutsz merobohkan dan menyebabkan suaminya meninggal dunia. Jenazah suami keduanya ini dibawa para pengikutnya untuk dikuburkan di sebuah tempat yang dirahasiakan agar tidak diketahui Penjajah Belanda yang ingin memastikan kalau “pengkhianat” yang bernama Teuku Umar ini benar-benar tewas.

    **

Kami bertiga tiba di Bandara Kualanamu jam 8.15 pagi (27/10) dan harus menunggu tiga jam lebih agar bisa naik pesawat ke Meulaboh. Untuk ke sana kami harus ganti pesawat yang lebih kecil lagi. Dari Jakarta menuju Kualanamu kami memakai pesawat Boeing yang dioperasikan Lion Air, sedangkan ke Meulaboh kami menggunakan maskapai Wings Air dengan pesawat ATR72-500 berbaling-baling dua buatan perusahaan Perancis-Italia. Tentu dengan kapasitas penumpang yang lebih sedikit daripada Boeing. Berkisar 70-an penumpang.

    Penerbangan kami ini merupakan penerbangan connecting. Kami cukup membeli tiket sekali saja. Ada beberapa jadwal penerbangan dari Jakarta mulai dari jam lima sampai jam delapan pagi. Semua penerbangan di jam tersebut transit di Kualanamu menunggu pesawat ATR72-500 yang dijadwalkan berangkat jam 10.45 siang. Saya sarankan jangan terbang dengan pesawat yang berangkat dari Jakarta jam delapan pagi karena dikhawatirkan ditinggal oleh pesawat ke Meulaboh itu jika ada keterlambatan atau delay di Bandara Soekarno Hatta.

(Koleksi Foto Pribadi)

    Ada keterlambatan. Oleh karenanya jam 11 lebih kami baru diminta untuk segera naik pesawat. Kami naik bus yang telah disediakan menuju pesawat yang diparkir jauh dari tempat tunggu kami. Karena pesawat ATR72-500 ini masuknya melalui pintu belakang maka tak perlu ada garbarata. Perlu waktu lima puluh menit penerbangan untuk sampai ke Bandara Cut Nyak Din, Meulaboh. Kalau ditarik garis lurus kami harus menempuh perjalanan sepanjang 295 km.

    Dua teman saya bertujuan akhir Meulaboh. Tetapi Meulaboh bukan tujuan saya. Tapaktuanlah yang menjadi tujuan. Tentu banyak jalan menuju Tapaktuan. Banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan untuk memilih jalan itu.

    Pertama, Jakarta-Banda Aceh melalui udara dilanjut dengan menempuh 439 km perjalanan darat menggunakan travel menuju Tapaktuan selama kurang lebih delapan jam. Jalanan mulus. Harga tiket pesawat dan lamanya perjalanan Jakarta-Banda Aceh tentunya lebih mahal dan lebih lama daripada Jakarta-Kualanamu apalagi kalau transit dulu.

    Kedua, Jakarta-Kualanamu melalui udara dilanjut menuju Meulaboh dengan pesawat dan masih ada 200-an km menuju Tapaktuan dengan perjalanan darat atau sekitar tiga sampai empat jam lebih. Harus ada yang menjemput di Bandara Cut Nyak Din. Jalanan mulus.

    Ketiga, Jakarta-Kualanamu melalui udara dilanjut menuju Tapaktuan dengan pesawat Susi Air berjenis Cessna Grand Caravan C 208 B berpilot dua orang dan berpenumpang dua belas orang. Tarifnya murah karena telah disubsidi pemerintah. Jadwalnya tidak setiap hari dan hanya di jam-jam tertentu. Untuk menyiasati waktu dan daripada menempuh perjalanan darat yang lama maka banyak teman di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan bila berangkat dari Jakarta ia mengambil perjalanan paling malam lalu menginap—tidur di mana saja—di Bandara Kualanamu kemudian lanjut dengan pesawat kecil menuju Bandara Kelas IV Teuku Cut Ali, Pasie Raja, Tapaktuan. Jadwalnya itu yang sering tidak bersahabat. Dari Tapaktuan sekitar jam empat sore sedangkan dari Kualanamu jam tujuh pagi. Tentu ini bikin terlambat (TLB) atau pulang cepat (PC) dalam catatan kehadiran kita.

    Keempat, Jakarta-Kualanamu melalui udara. Kemudian naik bus, kereta api, atau taksi menuju Medan. Lalu dari Medan naik travel atau bis menuju Tapaktuan. Menempuh tujuh hingga delapan jam perjalanan dengan jarak 390-an km. Jarak tempuhnya lebih pendek daripada rute dari Banda Aceh namun jalanan tidak mulus. Dengan perpindahan bandara dari Polonia, Medan ke Kualanamu, Deli Serdang menambah waktu tempuh untuk bisa sampai di Tapaktuan.

    Saran penting dari saya berdasarkan informasi dari teman-teman adalah lebih baik naik travel dari Medan ke Tapaktuan daripada naik bis jika ingin memburu waktu sampai di Tapaktuan pagi-pagi. Travel hanya ada di Medan. Belum ada di Kualanamu. Jam terakhir travel adalah jam 9 malam. Setelah itu tak ada lagi.

    Itulah empat rute menuju Tapaktuan. Sedangkan perjalanan dengan rute Jakarta Meulaboh ini saya tempuh karena ini merupakan perjalanan pertama, bersama teman, bawa banyak barang, dijemput juga oleh teman-teman, dan tidak mengetahui jalur langsung dari Kualanamu ke Tapaktuan. Rute ini tidak akan saya tempuh lagi Insya Allah. Yang masih masuk akal bagi saya adalah rute ketiga dan keempat.

    Ohya, penting juga diketahui, bahwa  ketika pesawat ini bertujuan Meulaboh, maka sesungguhnya pesawat ini mendaratnya di Bandara Cut Nyak Din yang berada di Kabupaten Nagan Raya. Kabupaten ini merupakan pecahan dan bersebelahan dengan Kabupaten Aceh Barat yang beribu kota Meulaboh. Masih 45 km dari Bandara Cut Nyak Din menuju kota Meulaboh.

Pesawat ATR72-500 saat tiba di Bandar Udara Cut Nyak Din, Kabupaten Nagan Raya. (Foto Pribadi)

    Saya tiba di Bandara Cut Nyak Din jam 12.15. Saya berpisah dengan dua orang teman saya yang ditempatkan di KPP Pratama Meulaboh. Lalu saya melanjutkan perjalanan dengan teman-teman dari KPP Pratama Tapaktuan yang menjemput saya satu jam kemudian. Mereka adalah Mas Yan Permana, Mas Hasbul—teman lama saya di KPP Penanaman Modal Asing Empat dulu, Mas Suardjono dan Mas Oji Saeroji.

    Mulailah perjalanan panjang kami menuju Tapaktuan. Melewati perkebunan kelapa sawit, jalanan mulus yang sepi, tak bertemu dengan bis gede-gede seperti di Pantura Jawa, jarang ketemu truk, tak ada angkot, yang ada pesaing kami: motor. Perjalanan kami diselingi dengan berhenti dua kali di masjid yang berbeda, lalu makan di rumah makan Jokja (Pakai k bukan g), dan berhenti sebentar di SPBU. Saya mengira perjalanan darat ini berlangsung singkat tapi ternyata lama. Saya sampai terkantuk-kantuk karena tempat tujuan tak kunjung tiba.

    Kami banyak disuguhi pemandangan elok. Bukit-bukit lebat seperti di jalanan Garut-Tasikmalaya. Bahkan suatu saat kami melewati barisan bukit yang diatasnya ditutupi kabut dan dari kumpulan kabut itu muncul lengkung pelangi yang luar biasa indahnya. Kebetulan habis hujan saat itu. Subhanallah. Indah banget. Apalagi kalau sudah sampai di Kecamatan Sawang, Tapaktuan kita akan melihat pemandangan pantai yang eksotis. Bagian tentang keeksotisan inilah yang saya tidak sabar untuk menuliskannya segera. Tapi nanti satu per satu saya akan menyuguhkannya di bagian lain.

Plang KPP Pratama Tapaktuan (Koleksi Pribadi)

Akhirnya pada pukul 18.15 saya tiba di Tapaktuan. Mobil yang kami kendarai mampir sebentar melihat kantor kami. Kata teman agar saya tidak shock dulu sebelum benar-benar bekerja esok harinya. Mess tempat saya akan tinggal berjarak tidak jauh dari kantor ini. Kurang lebih 75 meter.

So, total jenderal 14,5 jam perjalanan Citayam menuju Tapaktuan. Dengan kecanggihan teknologi perjalanan 2400-an km itu hanya ditempuh beberapa jam saja. Saya tak bisa membayangkan berapa hari perjalanan dengan menaiki kuda. Ngapain lagi bayangin naik kuda. Dengan kecanggihan teknologi itulah setidaknya mengurangi lelah yang diderita jika perjalanan itu harus kudu naik kuda atau perjalanan darat berhari-hari.

Tinggal ke depannya perlu dipikirkan lagi moda transportasi yang mengubah benda padat menjadi partikel tak terlihat dan memindahkannya dalam sekejap ke tempat yang dituju lalu menjadikan partikel itu seperti semula. Fiksi dan Hollywood banget. Tapi semua bermula dari mimpi seperti mimpi Leonardo Da Vinci yang merancang bangun alat yang bisa menerbangkan manusia. Atau seperti pintu doraemonkah?

Alat yang mampu menuntaskan rindu kepada orang dan kampung halaman, tanpa lelah, dan bisa setiap saat. Yang akan menuntaskan rindu seperti  rindu Cut Nyak Din akan negeri tempat ia dilahirkan. Ia terbuang di masa tuanya. Ke sebuah tempat yang jaraknya ribuan kilometer dari makam suaminya. Sebab suatu alasan: keberadaannya di Aceh membuat semangat perlawanan rakyat Aceh tetap berkobar. Tentu jangankan pesawat, bus pun tak ada pada masa itu.

Gunung Puyuh, Sumedang. Di 105 tahun yang lalu dari tanggal ini, tepatnya 6 November 1908 ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Keterasingan yang dibawa sampai mati. Tapi jasanya tak pernah terasing di jiwa anak bangsa atas semangat dan perlawanannya yang tak mengenal lelah dan sakit. Dan saya hampir dekat dengan Meulaboh. Suatu saat, jika ada waktu dan kesempatan saya akan mengunjungi makam suaminya dan berdoa di sana: agar Allah menggabungkannya ke dalam golongan orang-orang yang syahid.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 5:51 6 November 2013

Tags: Jakarta-Meulaboh, Pesawat dari Jakarta ke meulaboh, Jakarta-tapaktuan, pesawat dari Jakarta ke tapaktuan, citayam, tapaktuan, kpp pratama tapaktuan, nagan raya, aceh selatan, aceh barat, bandara teuku cut ali, bandara cut nyak din, garut-tasikmalaya, garut, tasikmalaya, pesawat ke tapaktuan, pesawat ke meulaboh, jadwal ke meulaboh, jadwal ke tapaktuan, kpp pma empat, kpp penanaman modal asing empat, rumah makan jokja, pesawat atr72-500, kualanamu, banda aceh, medan, yan permana, oji saeroji, hasbul, suardjono, polonia, deli serdang, pasie raja, kpp pratama meulaboh, teuku umar, sumedang, van heutsz, gunung puyuh.

WAJAH YANG TERASING


WAJAH YANG TERASING

 

Wajah dan penampilan saya tidak bisa dipercaya oleh Wajib Pajak sehingga sempat “disekap” di sebuah ruangan tertutup sambil ditanya macam-macam oleh karyawan Wajib Pajak. Sedangkan karyawan yang lainnya mengonfirmasi kebenaran saya sebagai PNS di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) Tiga.

    Waktu itu saya masih sebagai Jurusita Pajak Negara. Kebetulan sedang tidak memakai seragam Jurusita. Sedangkan teman saya yang lain—Jurusita senior—juga sedang memarkirkan mobilnya dan sengaja membiarkan saya sendiri belajar menghadapi Wajib Pajak.

    Yang menerima telepon dari Wajib Pajak adalah Kepala KPP sendiri. Dan ia kebetulan pas lagi tidak ingat dengan nama saya. Kebetulan pula atasan saya, Pak Mubari, Kepala Seksi Penagihan, sedang berada di depannya. Pak Kepala KPP bertanya kepada Pak Mubari apakah benar ada yang namanya Riza Almanfaluthi sebagai pegawai KPP PMA Tiga. Langsung saja Pak Mubari mengiyakan.

    Selamat. Saya bisa pulang juga pada akhirnya dengan tetap meminta kepada Wajib Pajak untuk mematuhi apa yang tersurat di dalam Surat Paksa dalam jangka waktu 2 x 24 jam. Kalau tidak? “Mbuh.”

    Itu bertahun lampau. Kisaran 2004-an. Sekarang 2013. Pada akhirnya saya bergaul lagi dengan masalah penagihan setelah ada penugasan baru sebagai Kepala Seksi Penagihan di KPP Pratama Tapaktuan Oktober 2013 nanti. Tempat baru, teman-teman baru, jabatan baru, semua baru. Seperti biasa saya cuma bisa menyandarkan kepada Sang Maha Pengatur Segalanya. Agar pada saatnya nanti saya diberikan kekuatan untuk menjalankan amanah ini.

    Jadi ingat pada kalimat dalam sebuah buku yang ditulis oleh Anis Matta dalam bukunya yang berjudul: “Setiap Saat Bersama Allah”.

    Sering, tentu, kita bepergian dan bertemu dengan daerah baru atau orang baru. Lalu kita merasa terasing. Karena Rasulullah saw ingin agar kita kuat, maka beliau mengajarkan doa ini kepada kita: A’udzu bikalimatillaahitaammah min syarri maa kholaq. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang Mahasempurna ini dari segala kejahatan yang ada (yang diciptakan-Nya). Hadits riwayat Muslim.

    Sekarang kudu belajar undang-undang penagihan pajak lagi. Belajar prosedur penagihannya, pemblokiran, penyitaan, ilmu komunikasi, ilmu negosiasi, dan banyak lagi lainnya. Untuk bisa dipelajari dari Direktorat Keberatan dan Banding (tempat kerja yang akan saya tinggalkan ini) dapat juga kiranya dibawa putusan-putusan Pengadilan Pajak tentang gugatan Wajib Pajak kepada Direktorat Jenderal Pajak karena adanya kesalahan prosedur penagihan.

Ohya tidak akan lupa baca-baca buku yang satu ini: Berbagi Kisah & Harapan: Untaian Kisah Perjuangan Penagihan Pajak. Buku yang kebetulan saya menjadi anggota tim redaksinya.

    Buku ini merupakan kumpulan 43 tulisan yang ditulis oleh para pegawai pajak dari seluruh pelosok tanah air yang sehari-harinya bergerak dan bergaul di dunia penagihan pajak. Buku ini bercerita tentang pengalaman-pengalaman mereka dalam melakukan penagihan pajak dan menghadapi banyak tipe orang yang susah ditagih utang pajaknya.

    Beberapa hari yang lalu saya sempat menanyakan tentang penyebaran bukunya kepada teman yang kebetulan tahu betul. Ternyata baru beberapa KPP yang kebagian dan dicetak sedikit karena terkendala dana. Padahal itu buku bagus buat “sharing” pengalaman ke sesama petugas di Seksi Penagihan. Semoga tak lama lagi buku ini bisa tersebar ke seluruh pegawai pajak di tanah air.

    Saya akan bawa buku ini ke Tapaktuan untuk bisa dibaca buat teman-teman Seksi Penagihan di sana. Saya juga akan belajar banyak kepada mereka: Mas Rachmad Fibrian (pelaksana di Seksi Penagihan KPP Pratama Tapaktuan), Mas Rizaldy, dan Mas Fahrul Hady (Jurusita). Semoga mereka bisa menerima saya sebagai muridnya.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Hitung mundur menuju Tapaktuan.

17:40 28 September 2013