Saya senang sekali menghuni rusun unit 1002 ini. Kebersihan senantiasa terjaga. Ada Kak Asri yang membersihkan 1002 sekali dalam sepekan. Hari lainnya, saya yang menjaga kebersihannya.
Sebelum berangkat ke kantor, saya memastikan tidak ada yang terbengkalai. Semua piring dan gelas kotor sudah tercuci. Ranjang sudah rapi. Meja tidak berantakan. Pakaian kotor sudah dimasukkan ke dalam plastik. Sekali dalam sepekan saya menyerahkan pakaian kotor ini ke penatu. Mereka bersedia mengambil baju kotor dan mengantar kembali baju bersih.
Frugal living dalam skala moderat sedang saya terapkan di sini. Piring, gelas, sendok secukupnya dan tidak ada alat memasak. Plastik, koran, segala yang tiada bermanfaat dan sekadar memenuhi 1002, saya buang segera. Saya sering memesan makanan secara daring melalui aplikasi.
Oh ya, saya ditemani dengan penanak nasi kecil. Sampai dengan saat ini belum pernah digunakan untuk menanak nasi. Seringnya untuk merebus mi instan. Terakhir, Maspion ini saya gunakan untuk membuat sup ikan ala Chef Riza.
Hari itu, sehabis jalan kaki dan membeli nasi jagung, saya mampir ke Pasar Regional Youtefa. Saya baru pertama kali masuk ke Pasar ini setelah dua bulan tiba di Abepura. Matahari sudah mulai menyengat, padahal baru pukul 8 pagi. Saya benar-benar ngebet banget makan ikan dari seminggu lalu. Sekarang kesempatan terbaik ke pasar ini untuk membeli ikan. Mumpung libur panjang dan banyak waktu luang.
Saya menuju bagian belakang pasar tempat berkumpulnya para penjual ikan segar. Ada ikan laut dan mujair. Pilihan saya sebenarnya ikan laut merah. Namun, sepertinya ikan yang ditawarkan penjual itu terlalu banyak. Siapa yang akan makan? Ujung-ujungnya saya memilih mujair. Ibu berkerudung hitam itu menjual mujair dalam tiga pilihan: satu kilogram ada yang berharga Rp50 ribu, Rp40 ribu, atau Rp30 ribu. Saya memilih yang sedang-sedang saja. Satu kilogram dapat lima ekor mujair yang sedang megap-megap kehabisan napas.
“Mujair dari mana, Bu?” tanya saya kepada ibu penjual yang sedang membersihkan ikan. Goloknya memukul kepala ikan supaya pingsan dulu sebelum perutnya dibelah dan isinya dikeluarkan.
“Koya,” katanya menyebut salah satu distrik di Jayapura. Jayapura terkenal dengan kuliner mujairnya. Yang paling enak dan ikonik adalah mujair yang diambil dari Danau Sentani. Kata orang-orang, mujair dari danau vulkanik itu enak dan tidak berbau lumpur. Saya pernah mencobanya sewaktu mampir ke Sentani dan memang paten kali.
Dagingnya putih, empuk, dan gurih sekali. Saya jadi teringat dengan daging ikan di Tapaktuan, Aceh Selatan: segar-segar. Buat mereka yang terbiasa memamah daging ikan Jakarta yang diambil dari kotak pendingin dan sudah layu tentunya akan terkejut ketika menyantap mujair sentani ini.
Kembali ke Pasar Youtefa. Setelah membeli ikan itu saya mampir ke warung lainnya untuk membeli bawang putih, bawang merah, bumbu kaldu jamur, dan bumbu marinasi. Terbayang nanti saya mencemplungkan semuanya jadi satu. Saya tidak menghabiskan ikan itu sekaligus. Tiga ekor ikan saya masak buat hari ini. Jadilah Kamis itu, saya merayakan hidup yang tiada terkira.
Membicarakan rusun unit 1002 ini, salah satu tempat favorit saya adalah kamar utama. Seperti yang pernah saya ceritakan dulu, kamar utama ini memiliki jendela kaca yang menghadap ke timur, menghadap bagian belakang rusun yang di sana terdapat lapangan bola voli dan taman-taman kecil yang hijau dan asri.
Saya selalu membuka gorden jendela kalau saya pergi ke kantor supaya kamar ini banjir cahaya. Kalau tidak ada kekhawatiran soal malaria, saya ingin membuka jendela ini setiap saat supaya hawa segar masuk ke dalam kamar. Pas lagi hujan, saya seringnya membuka jendela itu lebar-lebar supaya kamar ini penuh petrikor yang menyejukkan paru-paru dan jiwa. Sambil berdoa: “Allahumma shayyiban naafi’an. Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat.”
Rusun ini memiliki musala yang berada di lantai 1, bersebelahan dengan tempat wudu dan toilet, dekat dengan pintu selatan. Tidak jauh juga dari pos satpam. Musala ini berukuran hanya setengah dari unit 1002. Delapan belas orang masuk bersamaan, musala ini sudah tidak memiliki ruang tersisa. Karena arah kiblatnya menghadap selasar, partisi tinggi didirikan untuk menghalangi pandangan.
Jika waktu salat tiba, azan memenuhi koridor. Saya bersyukur suara azan ini bisa menggema sedemikian rupa, sehingga saya bisa mengusahakan salat di sana. Bocil-bocil rusun selalu ada yang salat di setiap waktunya.
Pernah suatu ketika, saya pulang lebih awal. Musala masih sepi, padahal sudah waktu salat Magrib. Sepertinya penghuni rusun yang bekerja di GKN di Jayapura belumlah sampai. Akhirnya saya yang azan. Setelah menunggu sekian lama tidak ada yang datang kecuali bocil perempuan, saya ikamah. Mendengar itu, bocil-bocil laki-laki yang masih bermain di aula, langsung menyerbu musala. Saya mengimami salat para bocil itu.
Puluhan tahun lampau, Magrib selalu menjadi pusat kehidupan saya sehari-hari. Menjadi waktu bermain paling ramai bersama teman-teman, rebutan mik buat azan, kejar-kejaran, cepat-cepatan wudu karena di sebelah tempat wudu itu ada keranda, beli jajan di warung, sampai kembali ke rumah setelah salat Isya.
Memang beginilah surau-surau kecil bekerja sejak dulu. Tempat anak-anak belajar menjadi manusia pelan-pelan. Belajar antre mengambil wudu, belajar meluruskan saf, belajar diam barang lima menit setelah sebelumnya ribut berkejaran.
Seusai salam, bocil-bocil rusun itu langsung ribut lagi. Ada yang berlari keluar, ada yang bercanda sambil memakai sandal. Musala kecil itu kembali gaduh. Saya cuma tersenyum. Magrib masih tetap menjadi rumah bagi anak-anak.
***
Riza Almanfaluthi
15 Mei 2026
Ini saya tulis tak lebih sebagai catatan perjalanan. Catatan lainnya bisa dibaca lebih banyak lagi dalam tautan berikut: https://rizaalmanfaluthi.com/category/papua/
Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi
