Margareta Sofyana, Ibu Kemanusiaan Rawasari


Rita di depan rumahnya.

Sosok teguh hati menyigi kesehatan dari gang sempit, pasar, sampai diskotek. Ini soal kerja kemanusiaan yang butuh napas panjang.

Perempuan itu keluar dari rumahnya yang berada di gang sempit persis ketika saya datang pada Sabtu, 9 November 2019. Ia kemudian menyilakan saya masuk ke ruang tamunya yang kecil. Ada sofa di sana dan karpet berwarna merah terhampar di lantai. Saya memilih duduk di atas karpet. Kipas yang tergantung di plafon rumah berputar dengan kecepatan normal. Sudah cukup untuk menyejukkan ruangan tak seberapa besar itu.

“Silakan diminum, Mas,” katanya. Perempuan itu, Margareta Sofyana, 47 tahun, menghidangkan segelas teh hangat yang tak elok untuk ditampik. Pagi menjelang siang itu ia tampak sederhana. Tubuhnya berbalut pakaian yang rapat mulai dari kepala sampai kaki. Wajahnya selalu dihiasi dengan senyum. Senantiasa semringah.

Continue reading Margareta Sofyana, Ibu Kemanusiaan Rawasari

Advertisements

Qawwali dan Jyoti Nooran


Rahat Fatih Ali Khan dalam sebuah performa.

Waktu saya mendengar salah satu soundtrack film Zero (Desember 2018) yang dibintangi Shah Rukh Khan saya jadi ingat satu hal. Suara penyanyi lagu Tanha Hua itu pernah saya dengar di salah satu soundtrack film Shah Rukh Khan yang lain berjudul: Jab Harry Met Sejal (Agustus 2017).

Ketika saya menulis tema lagu dan film bukan berarti kamus saya penuh dengan dua hal itu. Saya fakir dari keduanya.

Baca lebih lanjut.

Folder dan Kode Haska


“Centang satu, Bro!” teriak Bibing kepada seisi ruangan Subdirektorat Penyuluhan Perpajakan, Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2humas)sesaat berita pesawat jatuh di Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat memenuhi layar kaca televisi pada Senin pagi (29/10).

Tanda centang satu itu berarti pesan Bibing kepada Tri Haska Hafidzi, teman sejawatnya, baru diterima di peladen Whatsapp, namun belum sampai ke ponsel Haska. Haska menjadi salah satu penumpang Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 jurusan Jakarta-Pangkalpinang yang jatuh itu.

Baca Lebih Lanjut.

Firmansyah Akbar, Nasihat itu Telahlah Sampai


Desi Zulya langsung lemas mendengar nama suaminya berada dalam manifes pesawat Lion Air bernomor penerbangan JT-610 yang jatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat (Senin, 29/10).

Padahal beberapa jam sebelumnya, ketika Firmansyah Akbar hendak berangkat ke Bandara Soekarno Hatta dini hari itu, Firman menginginkan berfoto berdua saja dengan Desi. Firman meminta anaknya mengambil gambar. Mobil yang sempat dipesan secara daring oleh Firman sudah menunggu di depan rumah sedari tadi.

Baca Lebih Lanjut.

JT-610 Tinggal Landas, Haska Berbekal Tamat Satu Juz Alquran


Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memeluk istri Tri Haska Hafidzi yang menjadi salah satu korban pesawat Lion Air JT-610.

Tri Haska Hafidzi menyentuh layar telepon genggam dengan ujung jari jempolnya. Ia baru saja melaporkan kewajibannya pada pukul 05.46 pagi. Entah di ruang tunggu terminal Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng atau di dalam kabin pesawat Lion Air JT-610, ia memberi tanda centang hijau pada daftar yang tersedia.

Ini berarti sebagai anggota grup Whatsapp “DJP Bertilawah P2humas”, Haska sudah menyelesaikan tugasnya membaca Alquran satu juz dalam sepekan.

Baca Lebih Lanjut.

Mata Kamera Penonton Meneropong Sudut-sudut Oktagon


Sketsa Submission.

Ada yang unik dan mencengangkan dari kejadian kaos seusai pergulatan Ultimate Fighting Championship (UFC 229) antara Khabib Nurmagomedov dan Conor McGregor di T-Mobile Arena, Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat pada Ahad (7/10).

Ini bukan soal orang tua, agama, dan negerinya Khabib, petarung dari Dagestan, Rusia. Dan bukan soal perilaku intimidatif Conor McGregor dalam mendegradasi mental lawan pada saat konferensi pers karena kelakuannya memang seperti itu.

Baca Lebih Lanjut.

Alibaba (2): Dari Proyek Rahasia Sampai Indonesia


Crocodile in the Yangtze. Gambar dari Businessinsider.com.au

Proyek Rahasia
Agar bisnisnya berkembang maju, Alibaba butuh investor lebih banyak lagi. Dari berbagai lobi, di tahun 1999 ia mendapatkan investor pertamanya yaitu kelompok investor yang dipimpin oleh Goldman Sachs yang membeli 50% saham Alibaba.

Alibaba mendapat tambahan investasi lagi dari bank asal Jepang Softbank sebesar US$20 juta yang kelak membuat pemiliknya—Masayoshi Son—menjadi orang terkaya di Jepang. Modal itu membuat Alibaba mendapatkan dana segar, tenaga segar, dan mendapatkan lebih dari 150.000 anggota terdaftar di situs webnya.

Baca Lebih Lanjut.