Golden Tempo


Jose Ortiz menunggangi Golden Tempo bernomor kuda 19.

Beberapa waktu lalu, terbit pengumuman kelulusan. Ada yang namanya tercantum di sana. Ada pula yang diam-diam membaca daftar itu berkali-kali tanpa menemukan dirinya. Sesak kadang datang dengan cara sesederhana itu.

Tidak mengapa merasa kecewa. Sangat manusiawi. Sembari itu barangkali kita perlu mendengar cerita ini. Peristiwa baru yang terjadi pada 2 Mei 2026 di ajang 152nd Kentucky Derby di Churchill Downs, Louisville, Kentucky, Amerika Serikat.
*

Continue reading Golden Tempo

97 Gram


Slogan legendaris “Impossible is Nothing” dari jenama sepatu terkenal seolah menemukan wujud aslinya hari itu.

Ada yang mengejutkan di London Marathon 2026, Minggu, 26 April 2026. Dua pelari mampu mencatat rekor baru dengan berlari sepanjang 42,195 km di bawah dua jam. Catatan waktu impian para pelari maraton. Ini serupa impian para pelari hobi bisa berlari 5 km di bawah 30 menit atau 10 km di bawah satu jam.

Continue reading 97 Gram

Unit 1002


Sabtu sore itu (14 Maret 2026), Dhino mengajak saya menengok rusun. “Bapak kayaknya perlu lihat-lihat rusun dulu deh,” katanya.

Terus terang saya masih merasa nyaman di ruangan kecil di lantai 2 KPP Pratama Jayapura ini. Namun, ajakan Dhino tak bisa saya tampik. Kalau sekadar menengok rusun sebenarnya cukup bawa badan saya, tetapi enggak tahu kenapa saya langsung mengemas koper kecil saya dan mengangkutnya ke dalam mobil.

Baca Lebih Lanjut

Di Antara Jembatan Holtekamp dan Kenangan Tapaktuan


Setelah bertemu dengan Pak Sekti di kanwil, hari belumlah selesai. Sehabis salat Asar saya langsung mengumpulkan anggota tim Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jayapura. Saya ingin berkenalan dan menyamakan visi dengan mereka.

Waktu berjalan dengan cepat. “Nanti kita buka puasa bareng di luar, Pak,” kata Mas Chandra, Kepala Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal, KPP Pratama Jayapura.

Continue reading Di Antara Jembatan Holtekamp dan Kenangan Tapaktuan

Merasa Sedikit Lebih Pulang


Setelah melepas Bu Hanna, saya segera berganti pakaian. Sebentar lagi masuk waktu salat Jumat. Saya tidak perlu jauh-jauh mencari masjid karena ada masjid di belakang kantor. Namanya Masjid Shalahuddin. Masjid ini dibangun di masa kepemimpinan kepala kantor sebelumnya, yaitu Pak Haris FM.

Dari cerita teman-teman di sini, pendirian masjid dilatarbelakangi adanya pegawai yang sewaktu mau salat Subuh di luar sempat mengalami pemukulan. Akhirnya daripada keluar jauh-jauh cari masjid, Pak Haris FM berinisiatif mendirikan masjid di dalam kompleks perkantoran KPP Pratama Jayapura.

Continue reading Merasa Sedikit Lebih Pulang

Tifa di Hari Pertama


Lampu di ujung pesawat saat meninggalkan Jakarta.

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya pernah meminta kepada pramugara Batik Air itu untuk membangunkan saya di waktu sahur, tetapi justru saya terbangun oleh suara samar-samar pengumuman. Saya beruntung bisa terbangun.

Pengumuman itu menginformasikan kalau waktu Subuh akan segera tiba 20 menit lagi. Jam ponsel menunjukkan pukul 03.10. Masih dalam mode Waktu Indonesia Barat. Saya segera menyantap roti yang disiapkan sebelum berangkat. Bismillaah, saya iringi pula dengan niat berpuasa Ramadan. Di luar jendela belum terlihat apa-apa selain gelap dan kelap-kelip lampu di ujung sayap pesawat.

Continue reading Tifa di Hari Pertama

Panggilan yang Datang Terlalu Cepat


Selesai dilantik pada Selasa (10 Maret 2026) itu, pertanyaan berikutnya adalah mulai kapan saya akan bertugas di sana? Saya belum memedulikan itu, saya masih berfokus pada penyelesaian pekerjaan di Coretax dan meneliti berkas-berkas.

Ketika saya sampai di rumah pukul 17:00, Ummi Kinan sedang duduk di teras rumah.

”Loh kok belum masuk?” tanya saya.

“Kinan tidur, dibangunkan susah. Kunci masih menggantung di pintu,” katanya.

Continue reading Panggilan yang Datang Terlalu Cepat

Teknologi Berubah, Wajah Mereka Tetap Sama


Hujan begitu deras siang itu. Diiringi angin kencang dan suara jendela yang menutup dengan keras. Brak!!

Saya melihatnya dari ruang kelas yang sudah sepi. Di lantai 2 Gedung N PKN STAN. Beberapa menit lalu saya menutup kelas. Seperti kebiasaan saya selama ini, saya paling terakhir meninggalkan ruangan. Membereskan administrasi perkuliahan, menaruh materi ke dalam folder, dan menutup kelas secara daring. Semuanya serba tanpa kertas.

Continue reading Teknologi Berubah, Wajah Mereka Tetap Sama

Sherlock Holmes dan Ramadan: Refleksi A Study in Scarlet


Saya mengenal Sherlock Holmes sejak kecil. Namun, baru kali ini saya membaca novel tokoh detektif swasta itu secara utuh.

Pada malam Ahad lalu, saat saya mengunjungi salah satu mal di Cibinong, saya menemukan lapak buku di lantai dasar. Lapak tersebut bukan milik toko buku besar, melainkan pedagang yang biasa berpindah-pindah dari satu mal ke mal lain.

Tak sengaja saya menemukan buku Sir Arthur Conan Doyle ini di antara tumpukan buku lainnya. Saya membaca halaman sampul belakang buku itu dan mendapati informasi kalau Sir Arthur Conan Doyle secara keseluruhan telah menuliskan empat novel dan lima puluh enam cerita pendek yang terbagi dalam lima seri.

Continue reading Sherlock Holmes dan Ramadan: Refleksi A Study in Scarlet

Ketika Amigdala Tidak Memberi Alarm, Terlalu Baik Juga Berbahaya


Alex Honnold berhasil menaklukkan gedung pencakar langit Taipei 101 setinggi 508 meter dengan mendakinya tanpa tali pengaman pada Ahad, 25 Januari 2026. Pendaki asal Amerika Serikat itu menuntaskannya selama 90 menit dan Netflix menyiarkan peristiwa tersebut secara langsung.

Honnold berdiri di puncak dan berswafoto di sana tanpa rasa takut. Potongan video pendakiannya berseliweran di media sosial. Honnold yang mendaki, warganet yang merasa kakinya gemetar. Saya yang turut melihat video tersebut juga merasakan hal yang sama, seolah saya berada di ketinggian tersebut.

Continue reading Ketika Amigdala Tidak Memberi Alarm, Terlalu Baik Juga Berbahaya