Di Titik Didih Kerinduan


Malam lebaran di salah satu sudut Semarang.

Suara mirip peluit mencelat dari ketel yang isinya air mendidih. Uap panasnya berontak dan buru-buru keluar dari celah sempit di ujung moncong ketel seperti iblis dengan bala tentaranya ketika azan Magrib 1 Syawal besok berkumandang.

Mereka kembali merapatkan barisan, berkoordinasi, dan membagi tugas mengembalikan manusia kepada kesesatan setelah sebulan mereka dipenjara. Mereka ingin agar kawan-kawannya dari kalangan manusia yang sudah suci dibasuh Ramadan, kembali menjadi anggota yang akan menemani mereka di neraka.

Baca Lebih Lanjut.

Membeli Martabak di Bulak


MEMERANGKAP***Senja.

Ketika kami tiba di Masjid Alhusna, Kinan langsung menuju saf terdepan saja.  Tak ada yang menemaninya. Umminya Kinan sedang tak enak badan jadi tak bisa salat id. Sedangkan kami bertiga segera masuk ke dalam ruangan utama masjid.

Hari ini lebaran. Kami kembali salat di masjid ini. Mengulang ritual setahun sekali. Khatibnya berkhotbah selama 30 menit yang isinya diingat dengan baik oleh Kinan. Di antaranya tentang nyamuk, organ tubuhnya, alat untuk menusuk korban, dan obat bius yang dipakai satoan itu saat menggigit manusia.

Baca Lebih Lanjut.

Happy Eid Mubarak 1436 H


Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Di hari yang kesedihan tak boleh tampak ini selayaknya keluarga besar Almanfaluthi mengucapkan mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah terima amal ibadah kita selama Ramadhan yang baru saja lewat, dan memperkenankan kita untuk kembali mencumbuinya di tahun-tahun mendatang. Taqabalallaahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, ja’alanallaahu minal a’idin wal faizin.
Semoga pula kita menjadi pribadi-pribadi yang salih dan salih pula dalam bermasyarakat. Happy Eid Mubarak 1436 H.

Foto-foto:

image

                    Mas Haqi, Ummi Kinan, Kinan, Abi, Mas Ayyasy

Lihat Foto Lebih Banyak Lagi.

CERITA MUDIK BOGOR SEMARANG 21 JAM LEBIH


CERITA MUDIK BOGOR SEMARANG 21 JAM LEBIH

 

Ramadhan, mudik, dan baliknya sudah berlalu. Saatnya menatap hari esok untuk menekuni rutinitas dan pekerjaan kembali. Namun masih ada bagian cerita yang belum sempat untuk dituliskan di sini. Oleh karenanya izinkan saya untuk mengisahkan sedikit perjalanan mudik kami.

    Cuti bersama dimulai dari hari Senin, Kamis, dan Jum’at. Ditambah satu hari lagi cuti tahunan pada hari Senin pekan depannya sehingga kalau ditotal jenderal jumlah hari libur yang saya ambil –dari tanggal 27 Agustus s.d. 5 September—adalah sebanyak 10 hari.

    Karena masih banyak tugas yang harus diselesaikan terutama masalah pengumpulan dan pembagian zakat di Masjid Al-Ikhwan maka saya putuskan untuk memulai perjalanan mudik itu pada Sabtu malam Ahad tepatnya pukul 00.00. Karena memang tugas penghitungan ZIS baru selesai jam setengah 12 malam. Pada menit ke-40 selepas tengah malam kami pun berangkat.

    Kilometer sudah dinolkan, tangki bensin sudah dipenuhkan, shalat safar tertunaikan, shalawat sudah dipanjatkan, perbekalan sudah disiapkan, dan fisik sejenak sudah diistirahatkan maka perjalanan dimulai dengan menyusuri terlebih dahulu tol Jagorawi lalu ke Lingkar Luar Cikunir sampai ke tol Cikampek.

    Keberuntungan di tahun lalu tidak berulang di tahun ini. Selepas pintu tol Cikopo mobil kami dialihkan ke jalur kanan untuk melewati Subang karena pertigaan Jomin macet total. Padahal rencana kami adalah untuk singgah dulu di tempat bibi, Lik idah, di Segeran Indramayu. Kalau melalui jalur tengah—Cikopo, Subang, Cikamurang, Kadipaten, Palimanan—sudah pasti kami harus memutar terlalu jauh ke Segeran.

    Sebelum masuk Kalijati Subang saja sudah macet total. Kami pun mematikan mesin mobil. Jam sudah menunjukkan setengah empat pagi ketika kami memulai sahur di atas kendaraan. Kami sudah bertekad untuk tidak mengambil dispensasi untuk tidak berpuasa pada saat menjadi musafir.

Karena saya merasakan betul kenikmatan berbuka di saat orang lain tidak berpuasa dan godaan tawaran pedagang asongan dengan minuman dingin yang berembun di siang terik, apalagi di tengah kemacetan yang luar biasa. Syukurnya Haqi dan Ayyasy juga mau untuk sahur dan berpuasa. Kebetulan pula mobil kami tepat berhenti di depan masjid, sehingga ketika adzan shubuh berkumandang kami dengan mudahnya memarkirkan mobil dan shalat.

Setelah shalat kondisi jalanan ke arah Subang sudah tidak macet lagi. Arah sebaliknya yang menuju Sadang yang macet. Kami melewati Subang menuju Cikamurang dengan kecepatan sedang. Menjelang matahari terbit kami melewati perkebunan pohon-pohon Jati. Indah sekali pemandangan yang terekam dalam mata dan benak menyaksikan matahari yang mengintip di sela-selanya. Dan sempat tertuliskan dalam sebuah puisi yang berjudul Terperangkap. Saya rekam dengan menggunakan kamera telepon genggam dan unggah segera ke blog.

Sebelum Cikamurang kami lewati, lagi-lagi kendaraan kami dialihkan dari jalur biasanya ke arah jalur alternatif. Tentunya ini memperpanjang jarak dan waktu yang kami tempuh sampai Kadipaten. Kemacetan yang kami temui selepas Cikamurang sampai Palimanan hanyalah pasar tumpah. Terutama pasar tumpah di Jatiwangi dan Pasar Minggu Palimanan.

Setelah itu kami melewati jalur tol Kanci Palimanan melalui pintu tol Plumbon. Di tengah perjalanan karena mendapatkan informasi dari teman—yang 15 menit mendahului kami—via gtalk bahwa di pintu tol Pejagan kendaraan dialihkan arusnya menuju Ketanggungan Timur dan tidak boleh ke kiri menuju Brebes maka kami memutuskan untuk keluar tol melalui pintu tol Kanci.

Tapi jalur ini memang padat sekali. Kalau dihitung jarak Kanci hingga Tegal ditempuh dalam jangka waktu lebih dari 3 jam. Jam sudah menunjukkan angka 15.15 saat kami beristirahat di SPBU langganan kami, SPBU Muri, tempat yang terkenal dengan toiletnya yang banyak dan bersih. Shalat dhuhur dan ashar kami lakukan jama’ qashar. Haqi dan Ayyasy sudah protes mau membatalkan puasanya karena melihat banyak orang yang makan eskrim dan minum teh botol. Kami bujuk mereka untuk tetap bertahan. Bedug buka sebentar lagi. Sayang kalau batal. Akhirnya mereka mau.

Setelah cukup beristirahat kami langsung tancap gas. Jalanan lumayan tidak penuh. Pemalang kami lewati segera. Kami memang berniat untuk dapat berbuka di Pekalongan. Di tempat biasa kami makan malam seperti mudik di tahun lalu. Di mana coba? Di alun-alun Pekalongan, sebelah Masjid Agung Al-Jami’ Pekalongan, tepatnya di Rumah Makan Sari Raos Bandung. Yang patut disyukuri adalah kami tepat datang di sana pas maghrib. Beda banget dengan tahun lalu yang maghribnya baru kami dapatkan selepas Pemalang.

Rumah makan ini khusus menjual ayam kampung yang digoreng. Sambalnya enak. Tempatnya juga nyaman. Ada lesehannya juga. Kebetulan pula pada saat kami datang, kondisinya padat banyak pengunjung, dan anehnya kami dapat tempat paling nyaman yang ada lesehannya. Persis di tempat kami duduk setahun yang lalu.

Cukup dengan teh hangat, nasi yang juga hangat, sambal dan lalapan, satu potong ayam goreng, suasana berbuka itu terasa khidmatnya. Yang membuat saya bahagia adalah Haqi dan Ayyasy mampu menyelesaikan puasanya sehari penuh.

Setelah makan dan istirahat kami langsung sholat maghrib dan isya. Walaupun tempat sholat sudah disediakan di rumah makan itu, saya dan Haqi berinisiatif shalat di Masjid Agung Al-Jami’ Pekalongan. Waktu itu suasana masjid ramai karena dekat dengan alun-alun yang sesak dipenuhi pedagang dan pusat perbelanjaan. Kami sempat merekam gambar menara masjid tua ini.

Selepas adzan ‘isya kami segera berangkat kembali untuk menyelesaikan kurang lebih 102 km tersisa perjalanan kami. Batang kami lewati tanpa masalah. Kendal pun demikian. Saya yang tertidur tiba-tiba sudah dibangunkan karena mobil kami ternyata sudah sampai di rumah mertua di daerah Grobogan dekat stasiun Poncol.

Perjalanan kami belum berakhir karena kami memang berniat menginap di rumah kakak. Sekarang gantian saya yang menyetir menuju Tlogosari, Pedurungan. Tidak lama. Cuma 15 menit saja. Akhirnya tepat pada pukul 21.45 kami pun sampai di tujuan.

Wuih… lebih dari 21 jam lamanya perjalanan mudik ini. Saya sempat berpikir lama–kelamaan jarak Bogor Semarang susah untuk ditempuh dalam jangka waktu 12 jam atau lebih sedikit. Tidak seperti di tahun 2007 lalu waktu kami berangkat jam enam pagi sampai di Semarang sekitar pukul tujuh petang dengan suara takbir menggema dan kembang api menghiasi langit.

Tapi apapun yang kami lalui yang terpenting penjalanan itu bisa ditempuh dengan selamat. Saya yakin shalawat yang kami lantunkan menjadi salah satu faktor utama keselamatan kami. Dan berujung pada kebahagiaan kami di lebaran bersama keluarga di kampung. Semoga cerita mudik Anda pun berakhir bahagia.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.37 WIB

6 September 2011

 

Diupload pertama kali di http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/09/06/cerita-mudik-bogor-semarang-21-jam/

Tags: bogor, semarang, ramadhan, mudik, cuti bersama, masjid al-ikhwan, tol jagorawi, lingkar luar cikunir, tol cikampek, tol cikopo, subang, lik idah, segeran, indramayu, cikamurang, kadipaten, palimanan, kalijati, haqi, ayyasy, cikamurang, palimanan, jatiwangi, pasar minggu palimanan, tol kanci palimanan, plumbon, gtalk, pejagan, ketanggungan timur, brebes, spbu muri, pemalang, pekalongan, alun-alun pekalongan, masjid agung al-jami’ pekalongan, rumah makan sari raos bandung, batang, kendal, grobogan, stasiun poncol, tlogosari, pedurungan

INDRAMAYU-SEMARANG LANCAR


INDRAMAYU-SEMARANG LANCAR

Malam-malam, bibi saya kaget. Ia menyangka mobil yang masuk ke pekarangan rumahnya adalah mobilnya yang sedang pergi ke Jakarta. Ketika membuka garasi, baru ia “ngeh” kalau yang datang adalah keponakannya. Perjalanan yang begitu panjang sebelumnya seperti enggak terasa karena ada kebahagiaan dalam pertemuan ini. Apatah lagi makan malam berat ditemani dengan sayur dan tahu buatan bibi setelah sekian lama. Nikmat banget.

Karena kepala saya pusing, nyut-nyutan, akhirnya diputuskan untuk berangkat ke Semarangnya besok pagi dini hari. Saya minum obat pasaran kegemaran saya, yang kalau diminum sakit kepalanya langsung hilang. Cukup satu biji saja. Setelah itu tidur.

Sabtu, 19 September 2009

Jam dua malam kami bangun untuk bersiap-siap berangkat kembali. Di Dapur Bibi, sibuk sekali menyiapkan makanan untuk sahur kami. Sayur bening dan telur dadar. Subhanallah, walaupun sederhana tapi lezat nian. Sepertinya ini sahur terlahap yang pernah saya ingat di ramadhan ini. Pula, bisa jadi ini adalah sahur yang terakhir di ujung ramadhan.

Tiga kurang delapan menit, angka yang ditunjukkan oleh jam di mobil kami. Kami berangkat dari rumah bibi. Sebelum pergi, saya bilang kepada Bibi saya Insya Allah Sabtu mendatang, sewaktu akan balik ke Jakarta, kami datang kembali ke rumah Bibi .

Bibi saya berpesan, kalau mau balik lagi ke sini bilang dulu, supaya dirinya bisa mempersiapkan oleh-oleh yang harus kami bawa untuk ke Jakarta. Ia, katanya mau membuatkan kami koci, makanan khas Indramayu yang bentuknya segitiga dan di dalamnya ada isi kacang hijau. Oke Bi…

Mata sudah melek betul ketika kami menyusuri jalanan jalur Karang Ampel Cirebon yang bermeridian, lebar, mulus, dan sepi. Kecepatan bisa dipacu sampai 100 km/jam. Benar-benar kami seakan-akan pemilik sejatinya jalan itu. Dan kami baru menemukan rombongan pemudik lain, kala kami sampai di pertigaan Kanci.

Sholat Shubuh kami lakukan di daerah sekitar Tanjung, Brebes. Kami singgah di Masjid di sana. Namun sungguh tak representatif sekali. Kamar kecil dan airnya sedikit sekali. Jadi diputuskan masjid ini bukan untuk tempat istirahat kami.

Secara umum perjalanan kami lancar-lancar saja. Kemacetan walaupun ada jarang kami temui. Dan tentunya tidaklah separah hari kemarinnya.

Ketika kantuk mulai terasa, kami memutuskan untuk berisitrahat di Posko Toyota di Alas Roban. Awalnya kami sudah membayangkan apa yang pernah diiklankan di situsnya tentang posko lebaran Toyota seperti fasilitas kursi pijat atau istirahat yang nyaman. Tapi nyatanya jauh api dari panggang. Kami mampir dan tidak ada fasilitas itu. Sekadar mencari kursi tersisa untuk tempat duduk pun enggak ada. Mungkin karena banyak pemudik yang lagi menunggu kendaraannya diperbaiki.

Jadi kami tidak istirahat di sana. Hasilnya sambil terkantuk-kantuk saya hampir menabrak pengendara motor. Sedetik saya kehilangan kesadaran. Alhamdulillah yang masih melindungi kami. Segera kami cari SPBU untuk mengistirahatkan mata ini barang lima atau sepuluh menit.

Setelah istirahat kami cabut lagi. Tentunya dengan kondisi badan yang sudah lebih baik dari seperempat jam yang lalu.

Dan tepat pada pukul 12.05 WIB kami sampai di rumah.

Masalahnya kawan, maghrib masih lama. Sedangkan badan terasa lemas banget. Sampai di rumah saya langsung tidur. Bangun tidur masih jam dua. Tidur lagi, bangun lagi belum maghrib juga. Baru kali ini saya puasa sambil melihat
jam terus. Jam tiga…Jam empat…Benar-benar berat…

Tapi tenang saja, maghrib di Semarang lebih cepat daripada maghrib di Jakarta. Dan pada waktunya…

Allahuakbar…Allahuakbar…Syawal pun tiba.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

17.30 23 September 2009

kencangkan ikat pinggang

SEMARANG MEMANG PANAS


SEMARANG MEMANG PANAS

Kamis. 17 Agustus 2006
Tepat pukul 05.00, ba’da shubuh, kami berempat sudah bersiap-siap menuju Stasiun Jatinegara, karena Kereta Api Bisnis Fajar Utama jurusan Semarang Tawang sudah bersiap di stasiun itu pada pukul 07.30 pagi.
Tukang ojek yang biasanya banyak di pangkalan dekat rumah, ternyata pada saat itu tidak ada batang hidungnya satu pun. Akhirnya kami harus berjalan sekitar tiga ratus meter untuk mencari tukang ojek lain, sampai ketemu juga ojek langganan kami.
Sepuluh menit kemudian, saya, Qaulan Sadiida, Haqi, dan Ayyasy sudah berada di stasiun Citayam untuk naik KRL Jurusan Kota menuju Stasiun Tebet. Tidak lama KRL itu pun datang. Penuh juga ternyata. Kami pun harus berdesak-desakan. Saya sampai heran kenapa hari libur seperti ini masih KRL dijejali oleh banyak penumpang. Saya akhirnya menyadari bahwa ternyata banyak PNS yang berseragam Korpri masuk kantor untuk mengikuti upacara tujuh belas agustusan.
Syukurnya, saya tidak diberi giliran untuk mengikuti upacara itu. Karena kalau tidak, acara liburan pulang kampung ini akan gagal dan tiket yang sudah kami beli sebulan kemudian bisa hangus. Rugi banyak saya kalau kejadiannya demikian.
Ya, Istri saya memang sudah lama tidak pulang kampung ke Semarang. Kangen pada ibunya sudah tidak terbendung lagi. Saya pun tidak bisa menghalanginya untuk bertemu dengan sang ibu, walaupun nanti di bulan September besok kami harus datang ke sana kembali karena keponakan kami mengadakan resepsi pernikahan.
Tidak apa-apa sekalian menikmati liburan panjang. Dan tentunya sudah ada kesepakatan di antara kami, bahwa kalau bulan Agustus dan September ini pulang ke Semarang, nanti kalau lebaran tidak usah pulang lagi ke sana tapi cukup untuk pulang ke Jatibarang menemui orang tua saya. Deal.
Perjalanan dengan KRL yang saya khawatirkan terlambat ternyata tidak terjadi. Kami masih punya banyak waktu untuk sampai ke Jatinegara. Walaupun kami harus bersusah payah untuk keluar dari gerbong KRL karena penuh sekali dengan penumpang. Kasihan Haqi dan Ayyasy terjepit-jepit. Apa daya kami berdua sudah membawa barang bawaan yang cukup berat, jadinya tidak bisa menggendong mereka berdua.
Dari Stasiun tebet kami naik Bajaj dengan ongkos cukup Rp8.000,00. Awalnya kami hendak naik ojek tapi saat dipanggil dari kejauhan mereka tidak mau datang, malah yang datang tukang Bajaj. Ya, sudah tidak apa-apa malah menghemat karena kalau naik ojek bisa habis ongkos sebesar Rp14.000,00.
Kurang lebih Pukul 07.00 pagi kami sudah sampai di Stasiun Jatinegara. Alhamdulillah kami tidak terlambat. Ada waktu setengah jam untuk bersantai sembari menyuruh kedua anak saya untuk sarapan pagi dulu dengan bekal yang kami bawa.
Di stasiun ini ternyata banyak sekali orang yang akan pergi jauh dengan menggunakan moda angkutan kereta api untuk mengisi liburan panjang. Dan imbasnya ternyata di gerbong yang saya naiki penuh juga dengan orang yang bertiket tanpa nomor duduk. Lagi-lagi saya bersyukur, saya memesan tiket sudah lama sehingga kebagian nomor duduk untuk kami berempat. Haqi dan Ayyasy pun bisa menikmati perjalanan ini. Menikmati pemandangan sawah dan kegiatan panen di sekitar Pantura Jawa Barat. Laut dan sedikit hutan di Batang, dan tanaman tembakau di Kaliwungu.
Walaupun demikian, ternyata perjalanan kereta ini banyak terhambatnya. Di setasiun Bekasi kami diberhentikan cukup lama sekali. Hingga seharusnya kami sudah sampai di Stasiun Tawang sekitar pukul dua atau tiga siang, ternyata sampai di sana pada jam setengah empat sore. Waow…perjalanan ini asyik tapi melelahkan, apalagi kami sudah dibaui dengan bau kereta api, wajah lengket, dan penuh debu. Saya pikir enak juga ya kalau mencicipi perjalanan ke Semarang naik kereta eksekutif Argo. Belum pernah sih….:-)
Di stasiun ada kakak kami yang sampai terkantuk-kantuk menunggu kami. Di sepanjang perjalanan menuju rumah, dua anak kami yang di kereta itu tidak tidur saking asyiknya bermain sudah terlelap saja. Mereka terbuai dengan AC mobil yang meningkahi hawa panas Semarang. Semarang memang panas di musim panas, pun di musim hujan Semarang juga banjir.
Inilah perjalanan di hari pertama kami.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Agustus 2006