Bulan Penegakan Hukum di Awal Periode Terakhir Amnesti Pajak


Memasuki awal periode ketiga sekaligus periode terakhir program Amnesti Pajak, Januari 2017 bisa ditandai sebagai bulan Penegakan Hukum. Beberapa peristiwa melatarbelakanginya. Yang pertama, Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana (Tipikor) Banda Aceh menjatuhkan hukuman kepada Muslem Syamaun, mantan bendahara umum daerah (BUD) Pemerintah Kabupaten Biereun, dengan vonis 15 tahun penjara. Muslem dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana korupsi Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) selama 2007-2010 senilai Rp27,6 miliar.

Kedua, Penyidik Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) menyerahkan Amie Hamid, tersangka pelaku tindak pidana pencucian uang atas hasil tindak pindana perpajakan beserta harta sitaan kepada Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan untuk selanjutnya disidangkan pada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Kasus baru dengan sangkaan TPPU atas Amie Hamid ini diancam dengan pidana paling lama 20 tahun dengan denda paling banyak Rp10 miliar.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

11 Tahun The End of The Rainbow



Peraih Pulitzer tiga kali dan penulis kolom di The New York Times bernama Thomas L Friedman pernah menulis artikel yang menarik dan dipublikasikan di harian yang sama pada 29 Juni 2005.

Friedman menulis tentang Irlandia, yang menjadi negara terkaya kedua di Uni Eropa, setelah Luksemburg hanya dalam waktu satu generasi saja. Irlandia memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita lebih tinggi dari Jerman, Perancis, dan Inggris.

Baca Lebih Lanjut.

Dari Stalin Hingga Kampret Kecilnya



Stalin dan putrinya: Svetlana.

Saat ini saya sedang membaca buku yang ditulis oleh Simon Sebag Montefiore yang berjudul Stalin: Kisah-kisah Yang Tak Terungkap. Sudah berada di bab pertengahan saat Hitler mengirim utusan Joachim von Ribbentrop kepada Stalin untuk mengadakan perjanjian nonagresi Jerman Soviet.

Sambil memperkaya bacaan itu saya juga surfing dengan bacaan dari internet. Wikipedia dan Youtube jadi referensi kaya. Saya mulai dari mencari tokoh-tokoh dekat di samping Stalin, tokoh-tokoh seperjuangan pada masa Lenin yang ternyata juga dibantai sendiri oleh Stalin.

Continue reading Dari Stalin Hingga Kampret Kecilnya

Trump, Mankiw, dan Kita


batavialaboratorium
Kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat mengejutkan. Persona polemis ini memang dikenal dengan kebijakan rasisnya terhadap minoritas dan imigran. Partai Republik yang mencalonkannya juga dikenal sebagai partai konservatif. Dalam bidang ekonomi partai ini meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi didorong melalui persaingan bebas tanpa ada campur tangan pemerintah.

Partai Republik juga meyakini bahwa hak kekayaan harus diberikan kepada individu secara penuh. Oleh karenanya partai ini cenderung menurunkan beban pajak buat orang kaya: mereka yang berpenghasilan 250 ribu dolar Amerika Serikat ke atas. Jumlahnya 2% dari populasi penduduk Amerika Serikat. Continue reading Trump, Mankiw, dan Kita

Mereka Sejenis: Sama-sama Menantang Allah



Menggelitik sih. Dikirimin ini dari lapak sebelah. Melihat liberalis menertawakan dan mempertanyakan hal-hal seperti ini. Tapi sungguh hal ini sudah biasa. Dan Allah sudah kasih jawabannya 14 abad yang lalu.

Dalam penggalan surat Muhammad ayat 4 disebutkan, “Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain.”

Baca Lebih Lanjut.

Kibul Besar di Suatu Malam



Sebenarnya begini, lagi asyik menulis malam-malam begini, fokus saya sedikit terusik dengan catatan pengamat ini. Ada beberapa hal yang perlu dikritisi dari apa yang diungkap oleh Salamuddin Daeng.

1. Saya belum menemukan beritanya kalau Jokowi mengumumkan penerimaan Tax Amnesty (TA) ada Rp 1000 triliun yang masuk. Barangkali teman-teman ada yang kasih tahu saya?

2. Soalnya target dana yang masuk ke APBN sampai berakhirnya periode TA di tahun depan adalah Rp 165 triliun bukan Rp 1000 triliun. Cuma itu. Walaupun banyak juga yang meragukan target ini.

Baca Lebih Lanjut

Menyoal Pajak dan Kesadaran Kita: (Tanggapan dan Apresiasi untuk Prof Apridar)



Oleh Riza Almanfaluthi

MENINGKATKAN penerimaan pajak perlu kesadaran kita sebagai warga negara. Apalagi dengan adanya program pengampunan pajak (tax amnesty) yang dikampanyekan pemerintah pada saat ini. Kesadaran itu sayangnya dicemari oleh ulah oknum pegawai pajak dan panyakit akut korupsi di kementerian dan lembaga negara, sehingga perlu adanya pengawasan internal dan eksternal untuk mengamankan keuangan negara.

Demikian disampaikan oleh Guru Besar Ekonomi dan Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh, Prof Dr Apridar SE MSi, dalam opininya berjudul “Pajak dan Kesadaran Kita” yang dimuat di Serambi Indonesia (Rabu, 3 Agustus 2016).

Secara garis besar penulis setuju dengan opini Prof Apridar, namun ada beberapa hal yang perlu ditanggapi. Pertama, tentang kekeliruannya mengenai tarif uang tebusan dalam rangka pengampunan pajak ini. Kedua, pengawasan internal di lingkup Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Dan, ketiga, potensi korupsi di kementerian dan lembaga negara.

Baca Lebih Lanjut.