Trump, Mankiw, dan Kita


batavialaboratorium
Kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat mengejutkan. Persona polemis ini memang dikenal dengan kebijakan rasisnya terhadap minoritas dan imigran. Partai Republik yang mencalonkannya juga dikenal sebagai partai konservatif. Dalam bidang ekonomi partai ini meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi didorong melalui persaingan bebas tanpa ada campur tangan pemerintah.

Partai Republik juga meyakini bahwa hak kekayaan harus diberikan kepada individu secara penuh. Oleh karenanya partai ini cenderung menurunkan beban pajak buat orang kaya: mereka yang berpenghasilan 250 ribu dolar Amerika Serikat ke atas. Jumlahnya 2% dari populasi penduduk Amerika Serikat. Continue reading Trump, Mankiw, dan Kita

Yang Berjasa, Yang Disingkirkan



Hoxsey via altcancer.net

Kanker merenggut tubuhnya. Penampilannya seperti mayat hidup. Kulit burik mengelantung lepas dari leher kurus. Kepalanya botak. Morfin telah banyak disuntikkan ke tubuhnya untuk meredakan sakit. Di bahunya ada sekumpulan daging rusak tersembunyi dengan diameter 6 inci. Gosong terpanggang sinar x yang gagal menghentikan laju kembang penyakitnya.

Itu yang digambarkan dalam buku lama yang ditulis di tahun 1999 oleh Jonathan Eisen, Guru Besar Universitas California, berjudul Suppresed Inventions & Other Discoveries. Buku yang sudah lama saya miliki terjemahannya dan baru saya baca di akhir Oktober 2015 ini.

Dr. Harry Hoxsey optimis mampu menyembuhkan pasien ini. Apalagi ia sudah menangani pasien yang kondisinya jauh lebih buruk daripada sakit yang diderita sang pensiunan sersan ini. Dr. Harry mengoleskan ramuan bubuk kuning tebal ke bahunya dan memberikan beberapa obat yang harus diminum tiga kali sehari. Sebuah pengobatan tanpa ada rasa sakit seperti dengan sinar x itu.

Baca Lebih Lanjut.

Roman HAMKA dengan Janda Cianjur, Cinta yang Putus di Tengah Jalan


(Via http://www.stoomvaartmaatschappijnederland.nl/g/)

Di Bawah Lindungan Ka’bah adalah roman karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau biasa disebut Hamka. Salah satu latar novel ini adalah Mekkah di tahun 1927. Saat haji sedang ramai-ramainya karena Tanah Hejaz jatuh ke tangan Ibnu Sa’ud dan kenaikan harga getah di tanah air. Dari tanah air saja ada 64.000 calon jama’ah haji.

Novel ini pun merupakan buah perjalanan spiritual Hamka ke tanah suci di tahun yang sama. Sekaligus dalam kenyataan yang sebenarnya ada kisah roman yang mengiringi perjalanan itu. Di atas sebuah kapal. Bersama seorang perempuan asal Sunda bernama Kulsum.

Saat itu awal Februari 1927, Malik, sebutan Hamka di kala muda, meninggalkan pelabuhan Belawan, Medan, dengan menggunakan kapal “Stoomavaart Maatschappij Nederland.” Jeddah adalah tujuan kapal itu. Melewati Laut Ceylon menjelang Laut Socotra, genap usianya 19 tahun.

Baca Lebih Lanjut.

5 Sejarawan dan Petualang Muslim Berpengaruh di Dunia




Gambar via salahuddindjp.org

Orang-orang Muslim mendahului Columbus 500 tahun dalam menemukan benua baru. Ketika Eropa masih membakar orang-orang yang mengingkari dunia itu datar, maka ilmuwan muslim di tanah Arab mengajarkan ilmu bumi dengan bola dunia.

Merekalah yang menemukan kompas yang memainkan peranan penting dalam penaklukan lautan dan penyusuran dataran luas. Dunia berhutang budi kepada mereka dalam segala hal. Catatan perjalanan mereka dalam petualangan itu menjadi catatan tak ternilai dalam pengembangan ilmu-ilmu moderen.

Inilah beberapa di antara mereka dari buku Seratus Muslim Terkemuka yang ditulis oleh Jamil Ahmed Khan—penulis Pakistan—30 tahun lalu.

Baca Lebih Lanjut.

Raja ini Memiliki 22 Istri dan 45 Anak, Salah Satunya Salman bin Abdulaziz



Setelah era Abdulaziz bin Saud, kepemimpinan Kerajaan Arab Saudi masih dipegang oleh generasi kedua Abdulaziz, yakni Saud bin Abdulaziz, Khalid bin Abdulaziz, Faisal bin Abdulaziz, Fahd bin Abdulaziz, Abdullah bin Abdulaziz dan Salman bin Abdulaziz.

Dari keenam pewaris Kerajaan Arab Saudi, semua bernasab yang sama yakni Abdulaziz. Sehingga kita bertanya-tanya seberapa banyak anak dari Abdulaziz ini sehingga sejak kematiannya di tahun 1953 sampai di tahun 2015 ini masih ada anak keturunan langsung yang memerintah.

Selama hidupnya, pendiri Kerajaan Arab Saudi modern ini memiliki 22 istri. Dari istri sebanyak itu Abdulaziz ini memiliki 45 anak. Dari berbagai sumber yang ada, generasi kedua yang masih hidup sampai sekarang sebanyak 24 putra dan putrinya. Termasuk putra mahkota yang baru bernama Muqrin bin Abdulaziz yang dilantik pada tanggal 23 Januari 2015.

Muqrin bin Abdulaziz (lahir tahun 1945) ini merupakan anak dari istri ke-18 Raja Abdulaziz yang bernama Baraka Alyamaniyah. Dialah kelak yang menjadi pewaris dari Kerajaan Saudi Arabia jika Salman bin Abdulaziz—raja Arab Saudi sekarang—meninggal dunia.

Sedangkan Salman bin Abdul Aziz yang terlahir di tahun 1935 merupakan anak Abdulaziz dari istrinya yang kedelapan bernama Hassa Alsudairi. Satu ibu kandung dengan Raja Fahd (alm), Pangeran Sultan bin Abdulaziz (alm), Pangeran Abdulrahman bin Abdulaziz, Pangeran Nayef bin Abdulaziz (alm), Pangeran Turki II bin Abdulaziz, dan Pangeran Ahmad bin Abdulaziz.

Ketujuh anak laki-laki dari Hassa Alsudairi inilah yang biasa disebut sebagai Sudairi Seven karena kecenderungan mereka yang kuat terhadap aktivitas politik dan kepemerintahan daripada anak-anak Abdulaziz yang lain.

Berikut nama-nama ibu dari para Raja Arab Saudi setelah era Raja Abdulaziz ini:

  1. Wadhah binti Muhammad bin ‘Aqab, ibu dari Raja Saud bin Abdulaziz, istri pertama Abdulaziz;
  2. Tarfah binti Abdullah Alalsyeikh, ibu dari Raja Faisal bin Abdulaziz, istri kedua Abdulaziz;
  3. Al Jawhara binti Musaed Al Jiluwi, ibu dari Raja Khalid (II) bin Abdulaziz, istri keempat Abdulaziz;
  4. Hassa Alsudairi, ibu dari Raja Fahd bin Abdulaziz dan Raja Salman bin Abdulaziz, istri kedelapan Abdulaziz;
  5. Fahda binti Asi Alshuraim, ibu dari Raja Abdullah bin Abdulaziz, istri kesepuluh Abdulaziz.

     

**

Riza Almanfaluthi

26 Januari 2015

Foto berasal dari suatu sumber.

Tulisan ini ditulis untuk dan berasal dari:

http://www.dakwatuna.com/2015/01/26/63097/raja-ini-memiliki-22-istri-dan-45-anak-salah-satunya-salman-bin-abdulaziz/#axzz3PwNKTS4A

 


 

DENDAM AMANGKURAT


DENDAM AMANGKURAT

Beberapa pemimpin Bani Abbasiyyah yang tidak berhasil membunuh lawannya dari Bani Umayyah melakukan sebuah tindakan
di luar akal manusia yang beradab hanya dengan alasan kelompok Bani Umayyah tersebut mati sebelum mereka berkuasa.
Karena masih penasaran, seorang dari mereka, Abdullah bin Ali, mengeluarkan mayat-mayat musuhnya dari kuburan, lalu
mencambuki, dan menyalibnya sebelum akhirnya dibakar. Tidak hanya itu ia membantai keturunan Bani Umayyah dan
orang-orang yang bukan berasal dari Bani Umayyah sebanyak 92.000 orang pada hari Ahad di tepi salah satu sungai di
Ramlah.

Beberapa abad kemudian, contoh lain dari begitu banyak obsesi sebuah dendam adalah saat Trunojoyo yang memberontak
kepada kakak iparnya Amangkurat II-raja Mataram yang lalim dan mau menggadaikan harga dirinya di telapak kaki VOC,
padahal kakeknya sendiri tak mau untuk tunduk pada kumpeni hingga menyerang Batavia dua kali walaupun tanpa hasil-tak
sanggup lagi untuk meneruskan perlawanan. Maka yang tampak adalah sebuah tragedi di balai agung pertemuan raja.

Di sana, penyerahan baik-baik itu tak dibalas dengan sebuah penghormatan akan nilai kehidupan. Beberapa pengawal
bergerak, menyeret Trunojoyo untuk didekatkan sampai ke depan raja. Raja berdiri dari kursi, menyambut tubuh yang
telah pucat pasi itu dengan tusukan keris Kyai Balabar. Tusukan tepat di dada hingga menembus punggung. Darah muncrat
membasahi raja.

Tak puas sampai di situ, ia memerintahkan para adipatinya untuk ikut serta terjun ke dalam lautan kebengisannya.
Mereka langsung maju menyarangkan keris masing-masing ke tubuh yang sudah tak bernyawa itu, lalu memakan jantungnya.
Dua orang tumenggung dari Pasuruhan karena tidak mendapat tempat lagi untuk di mana keris hendak ditusukkan, mereka
cuma kebagian upacara melumuri tubuh dan wajah dengan darah. Selesai?

Tidak!

Sebelum Amangkurat meninggalkan balai pertemuan itu, ia memerintahkan agar leher suami dari adik tirinya itu
dipenggal, dan kepalanya dia tenteng menuju balai peristirahatan. Semua selir wanita simpanan ia suruh menginjakkan
kakinya di atas kepala Trunojoyo sebelum masuk ke peraduan. Lalu dini hari nantinya, ia perintahkan kepala tersebut
dimasukkan ke lesung untuk dihancurkan.

Aduhai manusia, sungguh ini adalah secuil dari prahara bahkan badai dendam yang menggelayuti sukma dan hati para
pengusung sifat alami Iblis. Ia yang diusir dan dilaknat Allah ini karena kesombongannya tak mau sujud kepada Adam
tak akan pernah puas untuk senantiasa menjerumuskan anak cucu Adam ke dalam neraka yang sedalam-dalamnya. Dendamnya
tak berkesudahan.

Puaskah Abdullah bin Ali dan Amangkurat II untuk menuntaskan dendamnya? Tidak! Sungguh membunuh musuh tidak akan
cukup untuk memuaskan nafsu balas dendam. Ia pada galibnya tidak akan pernah menemukan kedamaian atau kebahagiaan
karena api dendam itu akan semakin berkobar ketika satu dendamnya saja terlampiaskan. Ia bagaikan api disiram dengan
bensin, hingga dendam itu akan menguasai seluruh sisi kemanusiaannya.

Maka Syaikh 'Aidh bin Abdullah Al-Qarni pun meminta kepada para manusia untuk memahami kata-kata ini:
"Pendendam akan selalu merasa lebih menderita dan sengsara dibandingkan dengan musuhnya, karena dia telah
kehilangan kedamaian dan kebahagiaan."

Musuh tidak akan menyakiti orang
lain lebih hebat daripada dia menyakiti diri sendiri.

Tak sekadar di forum diskusi, di dunia nyata syahwat dendam yang membesar hingga sampai menjadi obsesi adalah sebuah
tanda dari hati yang sakit. Ia senantiasa mencari setitik kesalahan yang tampak dari saudaranya sendiri. Menunggu
dengan sabar kelengahan saudaranya bagaikan elang Afrika yang sedang mencari mangsa. Di saat kelinci gurun itu muncul
maka melesatlah sang elang menerkam hingga mencabik-cabik tubuh dan memakannya. Begitu pula di saat kesalahan itu
tampak di depan matanya, ia siapkan mortir pembalasan entah dengan kata-kata atau aksi fisik secara nyata. Ia
bagaikan penjelmaan dari dendam Amangkurat II.

Ah, puaskah? Tidak, sungguh hatinya semakin sakit hingga ia sesungguhnya rapuh dan tidak menyadari bahwa obat yang
sesungguhnya itu bukan sebuah pembalasan dendam tetapi aksi sebuah hati berupa memaafkan. Ya, memaafkan atas sebuah
kesalahan itu akan menyehatkan dan membahagiakan dirinya sendiri. Ia bagaikan air hujan yang memadamkan kobaran api
para pengusung dendam. Ia bagaikan wadi di tengah gurun pasir bagi para kafilah. Ia adalah pulau kecil di tengah
samudera luas bagi orang-orang yang terapung-apung di dalamnya.

Kathleen Lawler, Ph.D-seorang peneliti di University of Tennesse, yang meneliti soal pengaruh memaafkan terhadap
kesehatan-menjelaskan sesungguhnya memaafkan dapat meningkatkan kesehatan karena terjadi pengurangan beban psikologis
yang tertekan karena disakiti dan diserang oleh orang lain. Disadari atau tidak, kemarahan dan rasa sakit hati yang
mendalam memang bisa merusak kesehatan. Memaafkan adalah obatnya. Dengannya tubuh menjadi rileks, aliran darah lebih
lancar karena jantung bekerja normal tanpa gangguan. Dan ketimbang untuk orang lain, memaafkan sebenarnya amat baik
utuk diri sendiri.

Aduhai kawan, menyandingkan sebuah kemaafan untuk menutupi sebuah lubang bernama dendam adalah tugas berat. Di
sanalah butuh sebuah semaian dari ladang keimanan. Keyakinan yang kuat bahwa dengan hanya berlindung pada Sang
Pencipta Segalanya, maka bibit-bibit sifat Iblis itu akan musnah.

Aduhai kawan, sungguh banyak para ulama pendahulu kita berwasiat pada kita semua, dengan dzikir kepadaNya selamanya ,
senantiasa mengambil wudhu, bergaul dengan orang-orang yang shalih, meninggalkan kedurhakaan dan perbuatan-perbuatan
keji, berpaling dari dosa-dosa, banyak beristighfar, tobat, dan kembali padaNya, semuanya itu adalah benteng kokoh
perlindunganNya dari segala bentuk angkara murka.

Selain itu akan kemana lagi kita berlindung? Pada kayu-kayu mati? Pada patung-patung bisu? Pada kedigdayaan diri?
Aduhai, kiranya mati adalah lebih baik daripada hidup.

Semoga kita tidak mendendam layaknya dendam Amangkurat yang tiada berkesudahan.

Allohua'lam bishshowab.

Maraji':

1. 'Aidh bin Abdullah Al-Qarni, Don't be Sad: Cara Hidup Positif
Tanpa Pernah sedih dan Frustasi
, Maghfirah Pustaka, 2004

2. 'Aidh bin Abdullah Al-Qarni, Cambuk Hati, Irsyad Baitus
Salam, 2004

3. Asmawati, Memaafkan itu Menyehatkan & Membahagiakan,
Majalah Ummi Edisi 05/XIX September 2007;

4. Bre Redana, Bulan Kabangan, dalam Derabat, Cerita Pendek Pilihan Kompas 1999.

5. Muhammad Sayyid Al-Wakil, Wajah Dunia Islam: dari Dinasti Bani
Umayyah hingga Imperialisme Modern
, Pustaka Al-Kautsar, 1998;

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09.22 08 01 08

di sana Islam sekadar simbol

FALATEHAN


FALATEHAN

Ada lagi perbincangan menarik antara kyai dan santrinya. Tidak lagi tentang wanita idaman si Santri. Tapi, kini si Santri mulai memperbincangkan hal lainnya. Tentang sebuah sejarah masa lalu yang masih suram bagi dirinya.
Dan perbincangan itu tidak dilakukan di waktu ba’da subuh seperti dulu saat pagi masih bermandikan cahaya. Mereka berbincang-bincang saat mereka rehat di saung di tengah sawah setelah berlumpur-lumpur ria membersihkan tanaman padi dari rumput-rumput liar yang mengganggu.
Santri : Ki, kemarin dalam sebuah diskusi, seorang teman masih saja percaya bahwa sesungguhnya Fatahillah yang menakhlukkan Sunda Kelapa adalah Sunan Gunung Jati itu sendiri. Padahal dari sejarah yang saya baca dan juga dari film yang saya tonton dulu, Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah orang yang berbeda. Mohon penjelasannya Ki?
Kyai : Kok tanyanya ke saya?
Santri : Ah, saya tahu Kyai sangat paham betul tentang sejarah ini. Di lemari buku Kyai saya lihat banyak sekali buku-buku sejarah. Apalagi kalau tidak salah Kyai juga keturunan Elang Cirebon.
Kyai : Kalau sudah tahu ada buku-buku sejarah di sana, mengapa tidak kau baca buku itu sendiri?
Santri : He…he…he…saya lagi malas baca Kyai. Tinggal mendengarkan saja dari Kyai kan enak.
Kyai : Jang…jang…Santri model kayak kamu inilah yang biasanya enggak akan eksis nanti setelah keluar dari pesantren. Dan hanya menjadi korban dari imperialisme dan kolonialisme gaya baru. Inginnya serba instan, cepat, dan ending oriented. Proses terabaikan.
Santri : Iya Kyai, saya kan sudah mengaku. Tapi cobalah Kyai sempatkan berbagi kepada saya tentang itu. Bisa kan Kyai?
Kyai : Tapi untuk kali ini saja. Lain kali kau bisa membacanya langsung. Tak perlu bertanya kepada saya lagi. Kecuali memang ada hal-hal yang tidak kau mengerti atau pertanyaan yang diawali “mengapa”.
Santri : Insya Allah Kyai.
Kyai : Seringkali orang menyamakan Fatahillah dengan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Padahal keduanya merupakan orang yang berbeda. Namun masih mempunyai kekerabatan dari hasil perkawinan. Fatahillah adalah menantu dari Syarif Hidayatullah, Penguasa Cirebon dan Banten. Syarif Hidayatullah sendiri adalah cucu Raja Pajajaran yang amat berkuasa pada masanya yaitu Prabu Siliwangi. Awalnya dari perkawinan Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang, lahirlah Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Raja Sengara.
Setelah meninggalnya ibu mereka, Raden Walangsungsang dan adik perempuannya belajar agama Islam kepada Syaikh Datu Kahfi di Gunung Ngamparan Jati. Mereka diperintahkan gurunya untuk pergi haji ke Mekkah setelah tiga tahun belajar bersamanya.
Santri : Hebat juga, anak-anak dari Prabu Siliwangi memilih keluar dari keraton dan memilih Islam sebagai petunjuk hidupnya.
Kyai : Ohya tentu, karena pada saat itu Islam menjadi tamaddun yang diperhitungkan oleh bangsa-bangsa di dunia. Walaupun Andalusia baru jatuh, tetapi muncul kekhalifahan baru yang masih membuat peradaban Islam masih tetap bercahaya cemerlang, yaitu Kekhalifahan Utsmani.
Santri : Ngomong-ngomong tamaddun itu apa?
Kyai : Peradaban. Lanjut. Jadi seperti zaman sekarang, kalau sudah disebut nama Amerika kita langsung membayangkannya sebagai negara paling modern, maju, kaya, dan pusat ilmu pengetahuan. Begitu pula dengan saat itu, Islam menjadi sesuatu yang diperbincangkan di banyak tempat. Apalagi dengan para pedagang Muslim yang mengembara ke berbagai tempat di belahan dunia lainnya untuk berniaga sekaligus membawa misi Islam.
Juga Mekkah dan Madinah walaupun tidak lagi menjadi sebuah pusat kekuasaan politik Islam sejak Khalifaturrasyidin terakhir, tetapi sebagai pusat kesempurnaan rukun Islam dan napak tilas sirah nabawiyyah maka kedua tempat itu adalah sesuatu tempat yang harus mereka kunjungi sebagai muallaf yang bersemangat dalam berislam. Sebagaimana kota-kota Islam terkenal lainnya seperti Kairo, Damaskus, Baghdad, dan Istanbul. Wajar kedua anak Prabu Siliwangi ini pun pergi ke tanah Arab.
Santri : Terus bagaimana Kyai?
Kyai : Setelah menunaikan haji Raden Walangsungsang kembali ke tanah Jawa dan menjadi juru labuhan di Pasambangan, yang masih merupakan kekuasaan Pajajaran. Pasambangan kemudian berkembang menjadi Cirebon, dan Raden Walangsungsang memperoleh gelar Pangeran Cakrabuana.
Sedangkan Nyai Lara Santang dilamar oleh bangsawan Arab dari Bani Hasyim, yaitu Maulana Sultan Mahmud (Syarif Abdullah). Dan melahirkan anak yang ia beri nama Syarif Hidayatullah. Setelah dewasa Syarif memilih berdakwah ke Jawa daripada menetap di tanah Arab. Lalu ia pergi ke Cirebon menemui pamannya. Setelah pamannya wafat, Syarif menggantikan kedudukan pamannya dan berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kesultanan dan dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.
Santri : Wah, Sunan Gunung Jati keturunan Suku Quraisy juga ya Ki?
Kyai : Dari silsilahnya demikian. Lalu setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam dan lepas dari pengaruh Pajajaran, ia meluaskan pengaruhnya kepada kerajaan-kerajaan yang belum mengenal Islam seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Dan ini didukung oleh Demak.
Berhubung pada saat itu Demak sedang berkonfrontasi dengan Portugis, dan Pajajaran bersekutu dengan Portugis dalam penguasaan perdagangan rempah-rempah, juga dikarenakan Banten—yang merupakan wilayah Pajajaran—merupakan pelabuhan yang strategis dan ramai yang dikunjungi oleh para pedagang dari dalam dan luar negeri, maka menarik minat Demak untuk menguasai Banten.
Diutuslah panglima perang Kerajaan Demak sekaligus menantunya sendiri yaitu Fatahillah untuk menyerbu Banten. Sebelum ke Banten, Fatahillah mampir ke Cirebon ke rumah mertuanya.
Pasukan Demak dan Cirebon bergabung di bawah pimpinan Sunan Gunung Jati , Fatahillah, Dipati Keling, dan Dipati Cangkuang menuju Banten. Di sana, anaknya Sunan Gunung Jati bernama Maulana Hasanuddin yang menjabat sebagai bupati juga melakukan pemberontakan kepada penguasa Pajajaran, sehingga mereka tidak menemui kesulitan untuk merebut Banten.
Di Banten, Sunan Gunung Jati meletakkan dasar bagi pengembangan Islam dan perdagangan orang-orang Islam di Banten pada tahun 1525 atau 1526. Ketika ia pulang ke Cirebon, Banten diserahkan kepada kembali anaknya Maulana Hasanuddin. Di tahun 1527 itulah atas prakarsa Sunan Gunung Jati penyerangan ke Sunda Kelapa dilakukan. Dipimpin juga oleh Fatahillah.
Santri : Panjang benar nih Kyai menerangkan. Sebenarnya bagi Demak Sunan Gunung Jati itu pengaruhnya seberapa besar sih?
Kyai : Oh tentu pengaruhnya besar sekali. Menurut Babad setempat yaitu Babad Purwaka Caruban Nagari yang ditulis oleh Pangeran Arya Cerbon pada tahun 1720, Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari Wali Songo. Tentang ini kamu pasti sudah tahu Jang. Ia sangat dihormati oleh raja-raja lain di Jawa karena kepemimpinan dan keilmuannya sehingga sering disebut pula sebagai Raja Pandita. Ia pun adalah salah satu pembuat soko guru Masjid Demak, selain Sunan Ampel, Kalijaga, dan Bonang. Sekarang kamu sudah mengerti belum?
Santri : Alhamdulillah, Ki. Saya jadi paham kaitan antara Fatahillah dengan Sunan Gunung Jati. Mereka bukan orang yang sama.
Kyai : Tapi jangan salah loh, beberapa tahun yang lalu koran nasional sekaliber Republika pernah menulis bahwa Fatahillah itu adalah Sunan Gunung Jati. Argumentasinya adalah bahwa Sunan Gunung Jati punya banyak nama di antaranya adalah Muhammad Nurudin, Syekh Nurullah, Sayyid Kamil, Bulqiyah, Syekh Madzkurullah, Syarif Hidayatullah, Makdum Jati. Sedang menurut babad-babad (cerita), nama asli Sunan Gunung Jati sangatlah panjang, yaitu Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Israil, Syarif Hidayatullah, Said Kamil, Maulana Syekh Makdum Rahmatullah. Jadi bisa jadi bahwa Fatahillah itu adalah Falatehan, dan Falatehan itu adalah Sunan Gunung Jati.
Tapi kalau saya baca dari tulisan itu amatlah lemah. Karena sisi historisnya digambarkan dengan alur yang loncat-loncat dan tidak bisa dimengerti. Jadi saya lebih memilih bahwa mereka bukanlah orang yang sama.
Santri : Kenapa nama Fatahillah juga disebut sebagai Falatehan, Ki?
Kyai : Salah seorang orientalis Barat yang terkenal bernama Dr BJO Schrieke, mengatakan bahwa dari hasil penyelidikannya nama Falatehan itu mungkin berasal dari perkataan Arab: Fatahillah. Kayaknya sudah cukup saya menerangkan ini kepada kamu. Kamu tinggal baca referensi yang lain.
Santri : Insya Allah tadi sudah cukup. Nanti kalau saya belum puas tentang sejarah Cirebon dan Banten saya akan baca di perpustakaannya Kyai. Boleh ‘kan Kyai?
Kyai : Boleh-boleh saja Jang. Tapi ingat, jangan melirik-lirik si Ai yah…
Santri : Lah dulu Kyai yang menawarkan. Saya boleh dong mengenal lebih dekat?
Kyai : Ah, inget aja kamu ya Jang. Ah pokoknya jangan nyerempet-nyerempet. Luruskan niat mau belajar. Bukan untuk yang lain.
Siang pun masih terik dengan matahari yang membakar. Sawah sudah mulai menyapa mereka agar menuntaskan pekerjaannya hingga senja kan jelang.
***
Maraji’:
1. http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=146425&kat_id=105&kat_id1=147&kat_id2=185
2. Sejarah Emas Muslim Indonesia, Sabili, No.9 Tahun X 2003;
3. Ensiklopedi Islam, Jilid 1 dan 5, Cetakan Keenam, PT Ictiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1999

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 31 Juli 2007