Angin yang Menyulut Api


​Entah kenapa kuburan ini membisu. Tentu membisu karena ketiadaan hidup. Di suatu waktu duha, di bawah pohon beringin raksasa, dengan dahan dan daunnya memayungi petak-petak baka dan segala keresahan, angin menyulut api berisik, menggoyang daun-daunnya, tapi yang jatuh bukan daun-daun yang tak mau jatuh itu, melainkan ribuan kelopak bunga dengan desirnya yang menyayat seperti musim gugur. Keracapnya itu membuat nada yang tak bisa dipahami oleh telingaku yang busuk. Saat ia jatuh tak berdaya ke tanah tak mampu juga untuk ditatap mataku yang penuh dunia dan untuk dimaknai sebagai apa. Tetapi, saat itulah, suatu sayatan pisau waktu menyobek ingatan tentang segelas kopi dan roti yang terbelah dua. Di sebuah stasiun. Remah-remah yang tersisa. Kelopak bunga yang berguguran.
Entah kenapa kafe ini membisu. Tentu membisu karena ketiadaan daya padahal di tempat yang sama begitu banyak orang menanam benih kegembiraan di pekarangan waktu mereka. Di suatu malam-malam yang ranum, harum, dan menyala, betapa keinginan meminum segelas kopi atau dua atau tiga atau terserahlah begitu merasuk dalam nadi pikirku yang apabila kusayat salah satunya di pergelangan tangan, meneteslah butiran sunyi. Setiap tetesan yang runtuh bukanlah hal yang sia-sia. Ada manis dan pahitnya. Makanya aku butuh segelas kopi atau dua atau tiga atau terserahlah untuk membumihanguskan aula malam, altar, dan segala isinya. Untuk satu perihal: ceracau cerita sendiri tak habis-habisnya. Sampai pagi. Sampai aku pulang. 
Entah kenapa kuburan dan kafe ini membisu. Padahal kuburan dan kafe: sama saja. Telaga terelok para pecinta menenun kesunyiannya. 

*** 

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Tlogosari, 27 Juni 2017

Advertisements

Subuh di Suatu Dusun


Sementara kita mengabaikan Ramadan yang baru saja pamit sehari nan purba, maka pagi yang masih buta mengajak tanah becek untuk bersemedi, kabut untuk melayang, dingin untuk mendekap, suara bayi terganggu tidurnya untuk menggema, kokok ayam untuk melakukan kebiasaan sehari-harinya setiap pagi, tetes satu-satu air hujan bekas semalam yang menggelayut di daun-daun pohon untuk kemudian jatuh lunglai ke atas genting. Bunyinya memeluk antero. Tik, tik, tik. Meluruh seluruh-luruhnya. Dan ketika langkah kaki menginjak lantai dingin musala kecil, terperangahlah pada renta-renta yang segelintir menjadi pencari rukuk, kunut, dan sujud. Rukuk yang membuka kotak sepi, kunut yang menutup lubang pedih, dan sujud yang mewangikan ragi perih. Tiba-tiba ada yang meloncat dari sebuah raga dan melarikan diri untuk melihat segala dari sebuah ketinggian. Melihat sosok dirinya sendiri sedang terdiam, terpejam, dan khusyuk. Ia yang menjelma menjadi kabut, mendaki bukit, dan menghilang bersama waktu. Ada menjadi tiada. ***
Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Lari Wringinputih-Borobudur

2 Syawal 1438H

Yang Jatuh di Suatu Kertas


​a​da gerimis sisa-sisa hujan ​subuh di pucuk-pucuk daun cemara, ​i​a yang rela ​disentuh angin untuk ​runtuh ​d​i ​t​anah-tanah basah ​kaya hara 

a​da gerimis sisa-sisa badai ​di dada di sudut-sudut daun mata, i​a yang ​bermaksud ​jatuh disimbah bahagia di ​kertas-kertas sajak ​sarat aksara​

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Lantai 16, 20 Juni 2017

Memberi Hormat kepada Hujan


Nafas kita berpapasan di udara, saling uluk salam, lalu memuai di keheningan. Untuk itu, kita harus memberi hormat kepada hujan yang memberi keabadian dari sebuah pertemuan. Waktu pun berhenti, kita berpesta pora dalam gelora.

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Citayam, 22 Juni 2017

Mudik


para pemilik lelah tak mau kalah 
dengan jalanan yang mereka lindas

agar matanya menyala-nyala

agar cepat sampai
dari jauh kuucapkan:

selamat datang ke rahim ibu.

tempat kehilangan di penjara

tempat kepedihan diikat kuat-kuat
selamat datang ke rahim ibu

perigi kedamaian, 

debar jantung, belaian tangan 

di atas kulit perut,

dan doa tak berkesudahan.
***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tlogosari, 24 Juni 2017

Yang Memang Tak Pernah Selesai


Sedang membaca sajak, doa, atau sebentuk apa?

 

 

jejak nafasmu masih tercetak
di permukaan kopi
seperti jejak nafasku masih tertanda
di permukaan kulitmu
ceceran kopi di punggung-punggung cangkir yang putih
seperti ceceran ingatan di lekuk-lekuk tubuhmu yang bening
di malam yang kesorean, kita saling bergumul
mana yang paling bertahan lama berkarib dengan waktu
kau dan aku
memang sepasang yang ganas
pada bunyi dentang besi empat kali dari pos ronda
aku pulang, kau tinggal
tercecer jejak-jejak rindu di belakang
di mana-mana
di genting,
di jalanan,
di sekujur raga alam
rinaimu memang tak pernah selesai

 

***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Bogor, 14 Juni 2017