Lidah Hitam


Lidahmu hitam, taringmu tajam, dan kau jerembapkan di leherku segala kepahitan, lalu kauhisap seluruh kebahagiaan. Relakan aku memeluk diriku sendiri, menghilangkan kepala sebab ia tempat semua kepedihan, salahku apa?

Kata-katamu panah, mulutmu busur, dan kau bidikkan di inti jantungku yang luka, lalu kau teteskan asam cuka. Ikhlaskan aku berbincang-bincang kepada kucing yang sedari tadi melihatku dengan aneh. Aku memang aneh, I’m not okay, salahku apa?

Terima kasih aku ucapkan, sebabmu aku berdamai dengan rasa sakit. Aku adalah harapan, mimpi, dan hati yang tak pernah ada.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Bojonggede, 12 Agustus 2017

 

Advertisements

Apa yang Kaucari Puan?


Puan nan rupawan, sungguh tanpa tujuwankah? Sehingga Puan tabah berpusing-pusing singgahi waktu dan tempat. Apa yang kau cari, Puan? Sedangkan lama sudah sejarah membeku jadi cerita yang ingin dikisahkan hanya kepada satu orang.

O, Puan, entah kemana lagi aku hendak mencari tahu, sedangkan lidah membeku, di titik bawah 0 derajat celcius yang jauh, jauh, jauh, dan jauh, antartika saja tak sebeku ini, Puan.

O, Puan bukankah tanpa tujuwan adalah tujuwan itu sendiri? Maka bertanyalah kepada ibu arah karena ia muasal dari segala tujuwan.

O, Puan, kapankah akan berhenti, dan dengan apa jarak tak bertambah lagi? Dengan apa Puan?

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Commuter Line, 11 Agustus 2017

Januari 2018


:untuk Machdalena Siregar

Musala berdinding bambu
​p​unya telinga dan mata
​u​ntuk lelaki yang menjelma stevan
pemilik ​hakiki kehilangan
dan harapan yang renta
untuk tali tak tersimpul

Rantai membelenggu
menggusur hasrat
tak boleh ada janur
kuning melengkung
dua kali dalam setahun
karena syariat
kau tak mau lama menjadi penanti

Aku berbaju biru di hari rabu
punya telinga dan mata
untuk lelaki yang menjelma stevan
pemilik gundah yang tak bisa disembunyikan
dari setiap tatapan dan perasaan

ada yang menusuk-nusuk jantung stevan
perihnya ingin ia bagi kepada siapa
tak bisa di rahasia
agar dada ini menjadi terang
tanpa gerhana dan langit mendung
lelaki yang mau menanti sampai Januari 2018

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10 Agustus 2017

KPP Madya Batam: Dari FTZ hingga Toilet


Dalam edisi kali ini Intax melakukan liputan ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Batam. Selain memiliki unit khusus yang tidak ada di KPP lain, kantor ini memiliki strategi khusus pengawasan terkait tipikal wajib pajak yang ditanganinya. Menariknya KPP Madya Batam juga tak melupakan kebutuhan dasar para pemangku kepentingannya: toilet bersih.

*

Provinsi Kepulauan Riau merupakan hasil pemekaran dari Provinsi Riau dan terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 2002. Provinsi ini mencakup lima kabupaten: Bintan Kepulauan, Karimun, Kepulauan Anambas, Lingga, Natuna, dan dua kota: Batam dan Tanjungpinang. Kota terakhir ini terletak di Pulau Bintan serta menjadi ibukota Kepulauan Riau.

Continue reading KPP Madya Batam: Dari FTZ hingga Toilet