Buku Pasir: Bersama Waktu Kita Sama-sama Menanti Jawaban


Sebelum berbicara mengenai proses penyuntingan Buku Pasir, saya mau berbicara proses penyuntingan secara umum.

Jadi pada dasarnya kegiatan menyunting ini adalah kegiatan menyiapkan tulisan agar siap diterbitkan. Apa yang dilakukan penyunting (editor)? Memeriksa kesalahan pengetikan tanda baca, pilihan kata, ejaan, dan lain sebagainya.

Di sinilah letak kekuasaan seorang editor. Beberapa literatur mengatakan, di balik sebuah tulisan yang enak dibaca ada editor yang hebat. Sederhananya, tidak ada yang bisa bekerja tanpa editor yang baik.

Yang menarik adalah kalau yang disunting adalah buku sastra. Ini tentunya berbeda 180 derajat dengan karya jurnalistik.

Dalam karya jurnalistik, seperti berita, flash photo, hard news, opini, feature, tafsir pembaca dipersempit, diperkecil, ditiadakan. Yang ada hanya fakta, fakta, dan fakta. Oleh karena itu, karya jurnalistik harus lugas dan sederhana. Tidak boleh ada ketaksaan (ambiguitas). Tidak boleh ada majas atau bahasa kiasan. Semuanya harus bening. Maka dari itu, editor menyederhanakan kalimat rumit agar mudah dipahami pembaca.

Dalam karya sastra, seperti puisi, cerpen, novel, adalah sebaliknya. Terlebih-lebih puisi. Tafsirnya luas banget. Di sanalah bahasa kiasan sangat dibutuhkan untuk menghidupkan tulisan. Editor harus berhati-hati. Kalimat yang rumit dibiarkan sesuai konteks puisinya. Karena di sana ada metafora, personifikasi, dan banyak majas lainnya. Yang untuk memahami dan mengartikan majas itu sendiri butuh upaya keras.

Maka dari itu, ketika orang disodorkan sebuah puisi, kebanyakan orang bilang, “Aku tak memahami puisimu.” Padahal, puisi itu untuk dinikmati, bukan untuk dipahami. Ada juga yang mengatakan puisi yang baik itu adalah puisi yang tidak menyerahkan seluruh arti yang dikandung di dalamnya hanya dengan sekali baca. Walaupun pemahaman seperti ini dikritik juga oleh beberapa orang yang mengatakan, karya sastra sekarang sangat elitis dan tidak mempunyai kaki di tengah-tengah masyarakat.

Nah, penyuntingan di dalam puisi tidak serta merta harus saklek persis dengan penyuntingan di dalam karya jurnalistik yang memperhatikan apakah ada kesalahan pengetikan, tanda baca, ejaan, dan pilihan kata.

Kesalahan pengetikan itu mah wajib diperbaiki entah di karya jurnalistik atau sastra. Di Buku Pasir pun demikian. Setelah saya baca berulang-ulang untuk mendapatkan makna—tentu dengan kebebasan tafsir saya sebagai seorang pembaca puisi—barulah saya menyunting.

Kesalahan ketik harus hapus. Lain soal dengan penggunaan tanda baca. Yang sepertinya dalam karya puisi, tanda baca merdeka mau ada di mana saja. Dalam konsep awal Buku Pasir, tanda baca seperti “titik” nyaris tidak ada. Atau bergelimang “titik tiga” yang menurut saya tanda baca tanpa makna. Saya sebagai editor harus memutuskan apakah akan memakai tanda baca ini atau enggak untuk keseluruhan naskah puisi dari awal sampai akhir.

Akhirnya saya putuskan, karena Mbak Gabriela Diandra Larasatri juga pecinta Sapardi Djoko Damono, saya menggunakan pakemnya. Menggunakan tanda baca sebagai aksesoris dan simbol di sana.

Kalau kita membaca buku puisinya Mas Nugroho Putu Warsito yang berjudul Kidung Para Pencari kita menemukan hal yang berbeda lagi. Ada puisi yang menyingkirkan tanda baca, ada juga yang memeluk semua tanda baca itu. Sedangkan kalau kita membaca puisi terjemahannya Pablo Neruda yang berjudul 20 Puisi Cinta dan Satu Nyanyian Putus Asa Pablo Neruda, puisi Neruda saklek dengan tanda baca.

Di Buku pasir, saya memakai titik sebagai tanda baca penutup kalimat. Beberapa kali saya menghilangkan titik tiga yang menyimbolkan kalimat yang menggantung.

Penggunaan kata baku dan tidak baku juga tidak sesaklek dalam karya jurnalistik. Saya melihat konteks, rasa bahasa, dan rima. Masih saya mafhumi.

Pun, terkait gaya bahasa, ada aturan tidak tertulis dalam dunia penyuntingan. Penyunting harus menghormati gaya bahasa penulis. Sebisa mungkin saya tidak mengubah gaya bahasa penulis. Saya harus memiliki tingkat adaptasi yang tinggi untuk menyesuaikan diri gaya bahasa penulis, apalagi penulis puisi seperti Mbak Gabriel.

Tentunya, terkait penggunaan kata baku tidak baku atau gaya bahasa itu, editor tidak sebagai dewa yang memiki tangan kejam untuk menyembelih kata-kata tanpa makna karena di dalam penyuntingan puisi, kita sebagai editor punya prasangka yang baik, penulis telah menempatkan kata-katanya di tempat yang terbaik. Ingat, kata-kata adalah anak-anak pensyair. Pensyairlah yang tahu betul karakter anak-anaknya karena ia yang melahirkan kata-kata itu.

Maka, untuk buku pasir itu, saya tidak kesulitan betul menyuntingnya karena Mbak Gabriel sudah menjadi ibu yang baik buat anak-anaknya.

 

Tip-tip sebagai Penyunting

Penyunting tentunya harus memiliki kemampuan menulis. Ini kemampuan dasarnya. Ada adagium: Penulis belum tentu penyunting, tetapi penyunting tentulah penulis. Itu modal dasarnya. Ia harus bisa menulis dan harus produktif berkarya. Mengapa demikian? Karena dari menulis itu ia tahu cara bagaimana memproduksi tulisan yang bagus lalu mengimplementasikannya dalam kerja penyuntingan.

Seorang penulis tentunya adalah pembaca yang rakus dan kritis. Demikian pula dengan penyunting. Ia rakus membaca dan kritis agar bisa menajamkan keahlian penyuntingannya.

Dan jika ada pertanyaan, “Apakah semua bisa menjadi penyunting?” Saya berpikir, ilmu menyunting itu ilmu katon, ilmu kelihatan, ya tentu bisa.

Kemudian, mengutip Rahardi, penyunting juga harus menguasai peranti kebahasaan dan memiliki intuisi kebahasaan. Ini aspek penting. Di sini cita rasa bahasa penyunting main.

Nah, terkait penyuntingan buku puisi, tentu bagusnya lagi adalah penyunting buku puisi ialah mereka yang suka dan sering berkemul dengan puisi.

 

RUU Perpuisian dan Kepenyairan

Kerja-kerja editor adalah kerja ketelanenan yang dihadapkan dengan kerumitan-kerumitan yang ada dan diciptakan oleh penulis. Memang tugasnya begitu. Ya enggak apa-apa disodorkan demikian.

Namun, efeknya hanya soal waktu, kalau kerumitan-kerumitan itu sudah sengaja dihilangkan oleh sang penulis sendiri sesaat ketika selesai menulis tentu itu akan membantu penulis itu sendiri agar karyanya bisa dipublikasikan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Setelah menulis bagusnya kita mengendapkan tulisan itu. Kita sengaja menjauhkan diri kita dari antusiasme terhadap karya kita sendiri. Berapa lama mengendapkannya? Beberapa jam atau hari untuk kemudian kita datang sebagai orang lain. Ketika sebagai orang lain itu kita menjadi mudah menemukan kesalahan-kesalahan yang tidak kita temui sebelumnya. Minimalnya adalah kesalahan ketik.

Sekaligus dengan pengendapan itu kita juga bisa menilai karya kita sendiri. Biasanya karya yang bagus adalah karya yang enak dibaca oleh diri kita sendiri kapanpun, selamanya.

Kalau setelah kurun waktu tertentu kita merasakan sesuatu yang beda dengan pembacaan pertama, pada waktu yang dekat dengan saat kita menciptakan puisi, berarti ada masalah dengan puisi kita.

Kalau setelah kurun waktu tertentu kita merasa “jijik” dengan puisi kita sendiri berarti puisi kita adalah puisi yang jelek atau puisi yang gagal. Lalu puisi yang terbaik itu seperti apa? Puisi yang berhasil itu bagaimana?

Kalau kita lihat RUU Perpuisian dan Kepenyairan dari Hasan Aspahani pada Pasal 1 angka 4:

PUISI terbaik adalah puisi yang bahasa yang membangunnya dan makna yang dikandungnya tidak pernah menjadi bagian dari masa lampau, ia selalu bisa dikaitkan dengan masa kini dan ia bahkan menjadi masa depan, puisi yang demikian hanya bisa dicapai dengan bakat, semangat dan kecerdasan yang tinggi.

Puisi yang selalu greget untuk kita bacakan kapan pun, itu puisi yang berhasil. Puisi yang melewati zamannya. Dan itu sudah banyak kita saksikan dari para pensyair. Untuk Buku Pasir ini, berkenankah ia lulus dari ujian waktu?

Bersama waktu kita sama-sama menanti jawaban.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
21 Januari 2021
Transkrip pada acara Buku Pasir 16 Januari 2021

Review Buku Pasir: Puisimu Janganlah Fana, Diandra


Siapa saja boleh berpuisi. Tidak ada pengastaan dalam puisi. Jika saja terjadi hal itu, maka puisi terjebak hanya menjadi milik para begawan dan bangsawan. Senyatanya puisi di dunia nyata menjadi eigendom siapa saja bahkan menjadi alat perlawanan dan biang revolusi.

Gabriela Diandra Larasati berani mendaku pada apa yang dicintainya: puisi itu. Untuk penghargaannya kepada Sapardi Djoko Damono, pensyair yang membuat mereka—yang tak mengerti bahasa prosa dan puisi—itu menjadi paham arti romantisme di balik kekuatan kata-kata yang sederhana.

Baca Lebih Lanjut

Mengapa 2021 Menjadi Tahun Penuh Harapan? Apakah Karena Ada Vaksin?


Siapa yang menyangka tahun 2020 menjadi tahun penuh keprihatinan di seluruh dunia.

Pada awal 2020, banyak rencana telah disusun dan siap untuk dijalankan dengan penuh optimisme. Namun, apa daya semua berubah dalam sekejap. Di sanalah kita semakin bermenung, manusia bolehlah berencana, Tuhan yang menentukan.

Baca Lebih Lanjut

[Feature] Penamat 264 Km: 90 Persen Soal Mental, Sisanya Fisik


Muhammad Ady Sucipto Rachmat meneteskan air matanya saat menceritakan pengalaman memasuki garis finis usai berlari sejauh 264 km dalam Jogja Ultra Charity 264K di Yogyakarta kepada Intax. “Senang campur sedih. Pengen nangis,” kata lelaki yang akrab disapa Acip, “tetapi tidak bisa karena pada saat itu suasananya ramai sekali.”

Istri, satu anaknya, dan Sakiyakerti—sesama anggota DJP Runners yang untuk acara ini menjadi panitia—menyambut Acip di garis finis. Acip mampu menyelesaikan ratusan kilometer jarak itu dalam waktu lima hari yang terbagi 26 putaran mulai 28 Oktober sampai 1 November 2020. Setiap putaran berjarak lebih dari 10 km mengelilingi bagian kota. “Perlu strategi khusus untuk menyelesaikannya,” ujar Acip.

Baca Lebih Lanjut

Testimoni Buku Dari Tanzania ke Tapaktuan: Mewarnai Perjalanan di Ujung Timur Negeri


Seorang teman bernama Yayat Supriyatna yang bertugas di Jayapura, Tanah Papua telah memiliki dan membaca buku Dari Tanzania ke Tapaktuan, Titik Tak Bisa Kembali, Kisah Lelaki Menaklukkan Ego dengan Berlari.

Alhamdulillaah ia berkesempatan memberikan testimoninya atas buku itu. Saya sunting sedikit penulisannya tanpa mengubah substansinya, semata agar lebih mudah dibaca. Berikut testimoninya.

Continue reading Testimoni Buku Dari Tanzania ke Tapaktuan: Mewarnai Perjalanan di Ujung Timur Negeri

Kisah Ini Bukan untuk Kalian yang Imannya Sudah Tebal


Sedekah yang Bikin Kaget Orang

(Sebuah Kisah Nyata)

 

“Mas, Tini demam. Panas banget nih,” kata Supinah, istrinya di ujung telepon. Bambang tercenung.

Adiknya yang bernama Agus bertanya, “Ada apa?”

Baca Lebih Lanjut

Propaganda dan Public Relations: Tak Ada Bedanya dengan Squealer Jika…


Buku ini terbit 75 tahun lalu di Inggris tepat pada saat Indonesia memproklamasikan dirinya sebagai negara berdaulat. Baru saya baca terjemahannya pada akhir 2020. Ke mana saja saya selama ini?

Continue reading Propaganda dan Public Relations: Tak Ada Bedanya dengan Squealer Jika…

Akan Ada Voice Biometrics dalam Layanan DJP


Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menerapkan banyak strategi dalam mencapai penerimaan pajak yang optimal.

Terutama strategi yang sejalan dengan desain besar strategi Kementerian Keuangan berupa pengembangan layanan pajak, kepabeanan, cukai, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak berbasis digital yang berfokus pada pengalaman pengguna (user experiences) dan ramah pengguna (user friendly).

Baca Lebih Lanjut

Nyamuk Namruz


Saya masih teringat suasana ketika aplikasi Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP) pertama kali mulai diterapkan di Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Tiga pada 2004 lampau.

Tahun itu semua kantor pajak di lingkungan Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus dimodernisasi. Tidak hanya soal integritas dan budaya kerja, melainkan teknologi informasinya. Menyusul kantor pajak di lingkungan Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar yang sudah mendahului sejak 2002.

Baca Lebih Lanjut