Sherlock Holmes dan Ramadan: Refleksi A Study in Scarlet


Saya mengenal Sherlock Holmes sejak kecil. Namun, baru kali ini saya membaca novel tokoh detektif swasta itu secara utuh.

Pada malam Ahad lalu, saat saya mengunjungi salah satu mal di Cibinong, saya menemukan lapak buku di lantai dasar. Lapak tersebut bukan milik toko buku besar, melainkan pedagang yang biasa berpindah-pindah dari satu mal ke mal lain.

Tak sengaja saya menemukan buku Sir Arthur Conan Doyle ini di antara tumpukan buku lainnya. Saya membaca halaman sampul belakang buku itu dan mendapati informasi kalau Sir Arthur Conan Doyle secara keseluruhan telah menuliskan empat novel dan lima puluh enam cerita pendek yang terbagi dalam lima seri.

Setelah saya bongkar tumpukan buku seri Sherlock Holmes ini, saya hanya mendapati tiga dari empat novelnya saja. Saya pun langsung membawanya ke kasir. “Yang ada di display hanya tiga novel saja,” kata sang kasir ketika saya menanyakan judul lainnya.

Jadi, judul empat novel Doyle ini secara berurutan adalah A Study in Scarlet, The Sign of The Four, The Hound of the Baskervilles, dan The Valley of Fear. Buku yang tidak ada adalah buku yang kedua: The Sign of the Four. Saya pikir nanti saya bisa membelinya secara daring.

Saya membaca A Study in Scarlet segera. Kurang dua hari saya menamatkan 184 halamannya. Ini buku pertama di tahun 2026 yang saya baca sampai halaman terakhirnya. Pantas buku ini menarik.

Di tengah buku, tepatnya di Bab 7 bagian pertama novel itu, Holmes sudah bisa menangkap tokoh pembunuh tanpa terduga. Tanpa disangka oleh pembaca, tanpa dikira oleh dua detektif polisi Scotland Yard yang sedang bertamu di apartemen Holmes di 221B Baker Street, London. Setelah itu, buku mengilas balik 20 tahun sebelumnya di kehidupan tokoh pembunuh di Amerika Serikat di sekitar tahun 1850-an.

Yang saya tak menyangka dari novel pertama Doyle ini, ada nuansa roman, sebuah kisah kasih yang tak sampai. Tokoh pembunuh begitu obsesif untuk membalas dendam hampir seumur hidupnya, lama, dan melelahkan; dari wilayah terpencil, berpindah kota, bahkan benua. Dari sana kita kemudian merayakan sebuah permenungan di depan pendiangan: kejahatan tidak muncul dari kehampaan, melainkan dari cinta yang tak sampai. Energi emosional begitu kuat sampai bertahan hampir seumur hidup.

Hari ini, 29 Syakban 1447 H, saya justru teringat bahwa energi batin manusia bisa bergerak ke dua arah. Di novel ini ia menjelma obsesi yang menempuh benua dan tahun; di kehidupan nyata, bulan puasa mengajarkan energi yang sama untuk ditarik ke dalam, untuk ditahan, dipelankan, lalu dipurnakan. Barangkali kejahatan memang tidak lahir dari kehampaan, tetapi dari luka yang tak sempat direnungkan. Ramadan seolah menawarkan pendiangan lain: bukan api yang membakar, dialah api kecil yang cukup untuk melihat wajah sendiri lebih jelas.

Wajah penuh amuk atau wajah yang diteduhkan Ramadan?
**

Riza Almanfaluthi
17 Februari 2026

Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
👉 https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

 

Ketika Amigdala Tidak Memberi Alarm, Terlalu Baik Juga Berbahaya


Alex Honnold berhasil menaklukkan gedung pencakar langit Taipei 101 setinggi 508 meter dengan mendakinya tanpa tali pengaman pada Ahad, 25 Januari 2026. Pendaki asal Amerika Serikat itu menuntaskannya selama 90 menit dan Netflix menyiarkan peristiwa tersebut secara langsung.

Honnold berdiri di puncak dan berswafoto di sana tanpa rasa takut. Potongan video pendakiannya berseliweran di media sosial. Honnold yang mendaki, warganet yang merasa kakinya gemetar. Saya yang turut melihat video tersebut juga merasakan hal yang sama, seolah saya berada di ketinggian tersebut.

Continue reading Ketika Amigdala Tidak Memberi Alarm, Terlalu Baik Juga Berbahaya

Bertahan Hidup dengan Memakan Krupuk dan Gorengan Tetangga


Jalan nasional Banda Aceh-Lhokseumawe yang terendam banjir.

Hujan terus-menerus selama sepekan di Lhokseumawe menjadi tanda kedatangan Siklon Senyar. Fenomena cuaca yang jarang terjadi di daerah khatulistiwa.

Pada Selasa malam, 25 November 2025, Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Lhokseumawe Firman Tatariyanto sudah mewanti-wanti seluruh pegawai KPP untuk bersiap siaga. Puncaknya pada keesokan hari. Banjir besar melanda kota terbesar kedua di Aceh. Jalan nasional Lhokseumawe—Bireuen lumpuh. Lhokseumawe pelan-pelan terendam, listrik padam, dan jaringan telekomunikasi lumpuh.

Continue reading Bertahan Hidup dengan Memakan Krupuk dan Gorengan Tetangga

Ada Hal-Hal yang Tak Perlu Disebut, Tetapi Terus Hidup


Ketika kembang api meledak di langit malam, mata saya masih belum terpejam. Masih menulis, masih membaca buku di dalam kamar. Selamat datang 2026.

Saya meninggalkan 2025 dengan penuh rasa syukur karena begitu banyak nikmat-Nya yang diberikan kepada saya. Ada rezeki yang mengalir, pekerjaan yang lancar, target yang tercapai, tubuh yang sehat, dan penghargaan yang diterima. Sedih dan duka mesti saja ada, tetapi kadarnya tak bisa mengalahkan sukacita itu. Tentunya tak perlu diceritakan di sini. Biar yang senang dan bahagia saja.

Continue reading Ada Hal-Hal yang Tak Perlu Disebut, Tetapi Terus Hidup

Mengapa Orang Indonesia Sulit Mengatakan Tidak?


Saya baru sadar, kata yang paling jarang diajarkan ke orang Indonesia adalah: tidak.

Kita punya tokoh dalam suatu cerita kehidupan. Si tokoh ini selalu berkata iya untuk diminta mengerjakan sesuatu, diutangi, diminta hadir, ataupun diminta diam. Ia tidak pernah diajari berkata “tidak”. Yang diajari dan dipahami olehnya adalah “tidak enakan”. Sampai suatu hari, tubuhnya jatuh sakit dan tak ada yang datang menjenguk.

Di tempat lain, di sebuah kantor kecil di sudut Jakarta, seorang staf junior tahu keputusan atasannya keliru. Ada angka yang tidak masuk dan risiko besar. Namun, rapat tetap berjalan mulus. Tidak ada satu pun yang berkata “tidak”. Setelah rapat aksi dijalankan, barulah kesalahan itu meledak.  Continue reading Mengapa Orang Indonesia Sulit Mengatakan Tidak?

Kalau Kamu Bicara, Kamu Bisa Menulis


Suatu malam, ketika saya berada di atas motor ojek daring dalam perjalanan ke rumah, di jembatan layang di atas Pasar Loak Kebayoran, saya mendapatkan panggilan telepon yang tak bisa ditampik. “Saya kirim rekaman saya. Coba cek,” katanya.

Tiga puluh menit kemudian, setibanya di rumah, saya langsung membuka laptop, membuka Web WhatsApp, dan mengunduh fail rekaman itu. Saya mendengarkannya sampai selesai.

Continue reading Kalau Kamu Bicara, Kamu Bisa Menulis

Respons Cepat dalam 1 Nanodetik



Sore itu, saya membuka koran digital langganan di laptop.  Saya tertarik pada sebuah berita yang berjudul “Bos Nvidia: Chip Buatan China Tinggal Hitungan Nanodetik Saja di Belakang AS”. Nvidia merupakan perusahaan teknologi Amerika Serikat yang terkenal sebagai produsen Graphics Processing Unit (GPU) terbesar dan paling maju di dunia. Bos Nvidia yang dimaksud dalam berita itu adalah pendiri sekaligus CEO Nvidia Jensen Huang.

Di dalam persaingan pembuatan cip, China dianggap tertinggal. Pada saat perang dagang antara Amerika Serikat dan China, China kelimpungan karena ada penerapan boikot Amerika Serikat pada pasokan cip ke China. Sebenarnya China dari beberapa tahun lampau sudah membaca ketergantungan ini. Supaya mandiri, mereka berjuang keras untuk bisa memproduksi mesin litografi—mesin pembuat cip. Di sini dunia masih menganggap China masih tertinggal jauh.

Continue reading Respons Cepat dalam 1 Nanodetik

Di Bawah Bayang-Bayang Witte Huis


Dua hari sebelumnya saya sudah bangun pada pukul tiga pagi untuk berkumpul di Gedung Juanda I, Kementerian Keuangan. Kami akan menghadiri Pidato Kenegaraan Presiden RI pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD di Gedung MPR DPR RI pada Jumat, 15 Agustus 2025.

Kali ini, pada 17 Agustus 2025, saya juga harus bangun lebih dini karena saya diundang untuk mengikuti upacara 17 Agustus di Kementerian Keuangan. Upacara itu akan dipimpin langsung oleh Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani Indrawati.

Continue reading Di Bawah Bayang-Bayang Witte Huis

Internet Do Magic: Kali Ini Bukan Tipu-Tipu


Suatu ketika ada pesan masuk di DM Instagram saya.

“Maaf, Pak. Saya mau bertanya apakah Bapak tahu dengan Ibu Ayu Endah Damastuti? Beliau tertinggal dompetnya, Pak. Saya lihat biodatanya yang muncul berfoto dengan Bapak,” tulis laki-laki itu dalam pesan tersebut.

Baca Lebih Lanjut

Bedanya Abebe Bikila dan Saya


Semalam Garmin FR235 sudah saya isi daya kembali. Penanda ketahanan baterai telah menunjuk angka 2% sebelumnya. Rencananya buat saya pakai besok. Ada rutinitas lari yang mesti dijalani.

Pukul 6 pagi, saya masih belum beranjak dari laptop. Padahal saya sudah siap dengan pakaian lari. Saya masih asyik mengobrol tentang keuangan dengan ChatGPT.

Baca Lebih Banyak