Misteri yang Menanggalkan Pengetahuan


 

Rosita Latief masih menekuri papan catur di hadapannya.  Posisi bidak-bidak hitam miliknya sudah berada di atas angin. Setiap memindahkan bidak ia memencet tombol jam catur di sebelah kanannya. Lawan mainnya kali ini adalah pecatur ulet yang pernah belajar di sekolah catur Utut Adianto.

“Saya masih Norma Master Nasional. Di Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) sudah ada yang bergelar Master Nasional,” kata Latief sambil menyebut sebuah nama. Pemilik Elo Rating Fide 2150 ini mampu menghadapi lawan tandingnya sambil meladeni pertanyaan-pertanyaan yang diajukan INTAX.

Continue reading Misteri yang Menanggalkan Pengetahuan

Advertisements

Pendar-pendar Kenangan di Titik Evenaar


Di atas awan.

Bumi Kalimantan akhirnya saya pijak kembali. Itu pun setelah 13 tahun lamanya. Bukan lagi di Palangkaraya atau Balikpapan yang hanya menjadi tempat pindah pesawat. Sekarang adalah Kota Khatulistiwa: Pontianak. Tempat yang lagi-lagi membuat saya bisa terbang dan mengarungi lautan mega bergulung-gulung dengan senja yang akan tamat. Persis waktu yang lampau itu. Catatannya masih bisa kau obrak-abrik di sini.

Buku Rhenald Kasali yang berjudul Agility: Bukan Singa yang Mengembik menemani penugasan kali ini. Kebetulan buku itu sedang membahas tentang transformasi Angkasa Pura II dalam mengelola bandara. Salah satunya Bandara Supadio di Pontianak.

Baca Lebih Lanjut.

Kumpulkan Taxmin, Ditjen Pajak: Taxmin Tidak Bawa Nama Pribadi


Direktorat Jenderal Pajak  (Ditjen Pajak)  mengumpulkan  272 admin media sosial (Taxmin) unit vertikal dalam acara Temu Nasional Admin Media Sosial Ditjen Pajak Tahun 2018 di Aula Cakti Buddhi Bhakti, Gedung Mar’ie Muhammad, Kantor Pusat Ditjen Pajak, Jakarta (Selasa, 14/8).

“Taxmin itu tidak bawa nama pribadi, melainkan nama institusi,” kata Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat, Ditjen Pajak Hestu Yoga Saksama saat membuka acara dan memberikan pengarahan di hadapan para peserta yang sebagian besar dari generasi milenial.

Baca Lebih Lanjut.

Video Puisi: Komidi Putar


Komidi Putar (Puisi dibacakan oleh Mas Putu) Ramadan-ramadan yang macam-macam mencari-cari cara-cara agar aku yang kaku ini masih fasih mengingat sore-sorenya di suatu waktu ketika aku pergi jalan-jalan ke pasar malam menikmati azan yang sebentar lagi singgah lelah. Maka aku pilih komidi putarnya sembari mengingatmu yang tak mau kuajak untuk duduk di atasnya dan berputar-putar seperti darwis kota ini mencari cinta-Nya. Engkau yang pernah bilang kepadaku, "Biar aku di bawah saja, karena cinta-Nya kutemukan disudut-sudutmu, maka aku mencintaimu." Sejak itu, aku selalu ingin menaiki komidi putar,  agar aku bisa tetap berada di pikiranmu, walaupun engkau sudah menghilang bersama huruf terakhir ikamah suatu Magrib. Aku ingin berbuka dengan pikiran yang manis tentangmu. *** Riza Almanfaluthi dedaunan di ranting cemara Sahur, 02 Juni 2018 #wording #words #puisi #puisipendek #puisisederhana #sajak #sajakpendek #sajaksederhana #poem #poetry #poet #puisimalam #sajakmalam #puisipagi #sajakpagi #puisikopi #kopimalam #kopi  #sajakkopi #dedaunan #dedaunandirantingcemara #quotes #quotesoftheday

A post shared by Riza Almanfaluthi (@riza_almanfaluthi) on

Mas, Sore ini Aku Terbang


"Mas, sore ini aku terbang." Pesawat landas aku pulas.  Aku terbangun wajahku memerah.  Dinding kabin dan kursi memerah. Wajah penumpang juga memerah. Baju mereka juga merah seperti bajuku. O, aku baru tahu sebenarnya  ada senja yang menempel di mana-mana  tak mau lepas seperti  parasmu dari kepalaku suaramu dari mulutku tatapmu dari mataku suratmu dari penaku. Oh ya, aku tadi tinggalkan puisi  di bangku ruang tunggu  barangkali engkau mau melarungkan di segara putih. Aku ingin berenang.  Aku ingin melayang. "Mas, sore ini aku terbang." . . . *** Riza Almanfaluthi Dedaunan di ranting cemara 7 Agustus 2018 36.000 kaki . . #wording #words #puisi #puisipendek #puisisederhana #sajak #sajakpendek #sajaksederhana #poem #poetry #poet #puisimalam #sajakmalam #puisipagi #sajakpagi #puisikopi #kopimalam #kopi  #sajakkopi #dedaunan #dedaunandirantingcemara #quotes #quotesoftheday

A post shared by Riza Almanfaluthi (@riza_almanfaluthi) on

 

“Mas, sore ini aku terbang.”
Pesawat landas aku pulas.
Aku terbangun wajahku memerah.
Dinding kabin dan kursi memerah.
Wajah penumpang juga memerah.
Baju mereka juga merah seperti bajuku.
O, aku baru tahu sebenarnya
ada senja yang menempel di mana-mana
tak mau lepas seperti
parasmu dari kepalaku
suaramu dari mulutku
tatapmu dari mataku
suratmu dari penaku.
Oh ya, aku tadi tinggalkan puisi
di bangku ruang tunggu
barangkali engkau mau
melarungkan di segara putih.
Aku ingin berenang.
Aku ingin melayang.
“Mas, sore ini aku terbang.”

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
7 Agustus 2018
36.000 kaki

Air Terjerang


Air terjerang: Aku meriang
Memanggil-manggil sejumput bubuk kopi
Aku seharusnya tak minum kopi malam ini
Aku meriang: centang perenang.

Hikayat yang kautulis selalu kuingat
tentang dewi yang tak pernah merasakan sakit
walau ia merana mendendangkan kesepian di atas bukit
kabut adalah nada terakhir saat pagi mendekat

Air terjerang: asap menjelma
Membawa sisa-sisa mahagelap
Engkau ingat: aku lupa
Sekarang ada yang selalu kaudekap
Aku meriang: centang perenang.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
7 Agustus 2018
Photo by Angie Leatham

Aku Pernah Menciummu di Suatu Waktu


Aku pernah menciummu di suatu waktu. Kutemui warna hujan, wangi kabut, lembut pena, dan taman-taman basah. Aku pernah menciummu di suatu waktu. Kutemui padang ilalang, darah jerapah, sedikit kenangan, dan sajak-sajak marah. Aku pernah menciummu di suatu waktu. Engkau menghilang. Aku menghilang. Di lidah-lidah hyena resah.


***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
1 Agustus 2018
Via @shemimages