Tifa di Hari Pertama


Lampu di ujung pesawat saat meninggalkan Jakarta.

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya pernah meminta kepada pramugara Batik Air itu untuk membangunkan saya di waktu sahur, tetapi justru saya terbangun oleh suara samar-samar pengumuman. Saya beruntung bisa terbangun.

Pengumuman itu menginformasikan kalau waktu Subuh akan segera tiba 20 menit lagi. Jam ponsel menunjukkan pukul 03.10. Masih dalam mode Waktu Indonesia Barat. Saya segera menyantap roti yang disiapkan sebelum berangkat. Bismillaah, saya iringi pula dengan niat berpuasa Ramadan. Di luar jendela belum terlihat apa-apa selain gelap dan kelap-kelip lampu di ujung sayap pesawat.

Continue reading Tifa di Hari Pertama

Panggilan yang Datang Terlalu Cepat


Selesai dilantik pada Selasa (10 Maret 2026) itu, pertanyaan berikutnya adalah mulai kapan saya akan bertugas di sana? Saya belum memedulikan itu, saya masih berfokus pada penyelesaian pekerjaan di Coretax dan meneliti berkas-berkas.

Ketika saya sampai di rumah pukul 17:00, Ummi Kinan sedang duduk di teras rumah.

”Loh kok belum masuk?” tanya saya.

“Kinan tidur, dibangunkan susah. Kunci masih menggantung di pintu,” katanya.

Continue reading Panggilan yang Datang Terlalu Cepat

Hari Ketika Saya Tidak Tahu Apa yang Sedang Terjadi


Pesawat Batik Air terbang meninggalkan landasan Bandara Soekarno Hatta pada dini hari pukul 00.45, tepatnya pada Jumat 13 Maret 2026. Pesawat ini hanya diisi sekitar tiga puluhan orang. Kursi penumpang banyak yang kosong. Dua kursi di samping saya juga kosong. Sebelum terbang, pramugari meminta kesediaan saya pindah ke kursi darurat.

Saya membawa roti dan air minum yang saya siapkan untuk sahur. Saya sempat bertanya kepada pramugari apakah pilot atau awak kabin akan mengumumkan waktu sahur dan salat Subuh. Ia mengiyakan. Sampai di sini saya sudah cukup tenang.

Continue reading Hari Ketika Saya Tidak Tahu Apa yang Sedang Terjadi

Teknologi Berubah, Wajah Mereka Tetap Sama


Hujan begitu deras siang itu. Diiringi angin kencang dan suara jendela yang menutup dengan keras. Brak!!

Saya melihatnya dari ruang kelas yang sudah sepi. Di lantai 2 Gedung N PKN STAN. Beberapa menit lalu saya menutup kelas. Seperti kebiasaan saya selama ini, saya paling terakhir meninggalkan ruangan. Membereskan administrasi perkuliahan, menaruh materi ke dalam folder, dan menutup kelas secara daring. Semuanya serba tanpa kertas.

Continue reading Teknologi Berubah, Wajah Mereka Tetap Sama

Ramadan sebagai Zona 5G Spiritual: Mengapa Koneksi kepada Allah Terasa Lebih Kuat?



Pada saat pertemuan pertama pengurus masjid yang baru, salah seorang pejabat pajak memberikan sambutan. Di dalamnya ada kalimat yang membuat saya bertafakur. Kurang lebihnya ia mengatakan demikian: “Ramadan ini menjadi masa di mana konektivitas hamba kepada Tuhannya sedang tinggi-tingginya.”

Ini benar adanya. Di bulan itu intensitas ibadah meningkat: ada puasa di siang hari, tarawih, tadarus, sedekah, salat malam, atau iktikaf. Aktivitas spiritual yang biasanya tersebar menjadi padat dan terjadwal.

Continue reading Ramadan sebagai Zona 5G Spiritual: Mengapa Koneksi kepada Allah Terasa Lebih Kuat?

Sherlock Holmes dan Ramadan: Refleksi A Study in Scarlet


Saya mengenal Sherlock Holmes sejak kecil. Namun, baru kali ini saya membaca novel tokoh detektif swasta itu secara utuh.

Pada malam Ahad lalu, saat saya mengunjungi salah satu mal di Cibinong, saya menemukan lapak buku di lantai dasar. Lapak tersebut bukan milik toko buku besar, melainkan pedagang yang biasa berpindah-pindah dari satu mal ke mal lain.

Tak sengaja saya menemukan buku Sir Arthur Conan Doyle ini di antara tumpukan buku lainnya. Saya membaca halaman sampul belakang buku itu dan mendapati informasi kalau Sir Arthur Conan Doyle secara keseluruhan telah menuliskan empat novel dan lima puluh enam cerita pendek yang terbagi dalam lima seri.

Continue reading Sherlock Holmes dan Ramadan: Refleksi A Study in Scarlet

Ketika Amigdala Tidak Memberi Alarm, Terlalu Baik Juga Berbahaya


Alex Honnold berhasil menaklukkan gedung pencakar langit Taipei 101 setinggi 508 meter dengan mendakinya tanpa tali pengaman pada Ahad, 25 Januari 2026. Pendaki asal Amerika Serikat itu menuntaskannya selama 90 menit dan Netflix menyiarkan peristiwa tersebut secara langsung.

Honnold berdiri di puncak dan berswafoto di sana tanpa rasa takut. Potongan video pendakiannya berseliweran di media sosial. Honnold yang mendaki, warganet yang merasa kakinya gemetar. Saya yang turut melihat video tersebut juga merasakan hal yang sama, seolah saya berada di ketinggian tersebut.

Continue reading Ketika Amigdala Tidak Memberi Alarm, Terlalu Baik Juga Berbahaya

Bertahan Hidup dengan Memakan Krupuk dan Gorengan Tetangga


Jalan nasional Banda Aceh-Lhokseumawe yang terendam banjir.

Hujan terus-menerus selama sepekan di Lhokseumawe menjadi tanda kedatangan Siklon Senyar. Fenomena cuaca yang jarang terjadi di daerah khatulistiwa.

Pada Selasa malam, 25 November 2025, Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Lhokseumawe Firman Tatariyanto sudah mewanti-wanti seluruh pegawai KPP untuk bersiap siaga. Puncaknya pada keesokan hari. Banjir besar melanda kota terbesar kedua di Aceh. Jalan nasional Lhokseumawe—Bireuen lumpuh. Lhokseumawe pelan-pelan terendam, listrik padam, dan jaringan telekomunikasi lumpuh.

Continue reading Bertahan Hidup dengan Memakan Krupuk dan Gorengan Tetangga

Ada Hal-Hal yang Tak Perlu Disebut, Tetapi Terus Hidup


Ketika kembang api meledak di langit malam, mata saya masih belum terpejam. Masih menulis, masih membaca buku di dalam kamar. Selamat datang 2026.

Saya meninggalkan 2025 dengan penuh rasa syukur karena begitu banyak nikmat-Nya yang diberikan kepada saya. Ada rezeki yang mengalir, pekerjaan yang lancar, target yang tercapai, tubuh yang sehat, dan penghargaan yang diterima. Sedih dan duka mesti saja ada, tetapi kadarnya tak bisa mengalahkan sukacita itu. Tentunya tak perlu diceritakan di sini. Biar yang senang dan bahagia saja.

Continue reading Ada Hal-Hal yang Tak Perlu Disebut, Tetapi Terus Hidup

Mengapa Orang Indonesia Sulit Mengatakan Tidak?


Saya baru sadar, kata yang paling jarang diajarkan ke orang Indonesia adalah: tidak.

Kita punya tokoh dalam suatu cerita kehidupan. Si tokoh ini selalu berkata iya untuk diminta mengerjakan sesuatu, diutangi, diminta hadir, ataupun diminta diam. Ia tidak pernah diajari berkata “tidak”. Yang diajari dan dipahami olehnya adalah “tidak enakan”. Sampai suatu hari, tubuhnya jatuh sakit dan tak ada yang datang menjenguk.

Di tempat lain, di sebuah kantor kecil di sudut Jakarta, seorang staf junior tahu keputusan atasannya keliru. Ada angka yang tidak masuk dan risiko besar. Namun, rapat tetap berjalan mulus. Tidak ada satu pun yang berkata “tidak”. Setelah rapat aksi dijalankan, barulah kesalahan itu meledak.  Continue reading Mengapa Orang Indonesia Sulit Mengatakan Tidak?