Puisi yang Pralaya Setelah Kau Sajakkan


Nak, malam ini kita sama-sama merayakan kata-kata. Kau serupa Isa yang membangkitkan  puisi yang pralaya sampai ia bisa menari di lidah-lidahmu, lalu terjun ke dinding-dinding, dan meleleh di sudut-sudut bulan yang sabit. Dan melihat itu, kucing kuning kita berjingkrakan dengan meong yang tak henti-henti. Tabik, serunya.

Nak, lalu kau ingat, pemilik puisi yang kau hidupkan itu tiba-tiba datang menjenguk. Mencari puisinya yang hilang dan tak jelas rimbanya. Ia minta puisi itu kembali ke haribaannya. Tapi kau menolak, karena puisi itu sudah jadi bonekamu , yang kau timang-timang , kau ajak bicara, kau ganti bajunya, kau sisir rambutnya, walau sehelai dua helai kata-kata rontok tak ketulungan.

Nak, penyair itu pulang dengan kesedihan. Tanpa membawa puisinya yang bergelandangan, menjauh darinya, dan hilang. Padahal dari mulutnya yang durga itu dia bisa saja tumbuhkan benih-benih puisi yang lain. Lalu mendewasakan dan membuntingi mereka satu persatu. Dan lagi-lagi seperti biasa, kegilaan penyair menjadi sebab kehancuran hati para puisi. Lara tak terperikan. Pantas saja mereka minggat dan bunuh diri. 

Nak, kau bersama puisi itu malah tertawa kesenangan melihat penyair itu sengsara. Entah apa yang kau pikirkan sehingga kau gandrung bersamanya. Ayuklah, kita makan bakso malam ini, ajakmu. Puisi lahap memakan ribuan bakso hingga membuat buncit kata-kata sampai berbual-bual. Keringatnya menetes hampir-hampir menghapus sebagian huruf-hurufnya. Malam itu malam yang merunduk kelelahan. 

Nak, saat kau tidur. Puisi di sampingmu masih begadang. Aku masih terjaga. Dia melihatku. Aku memandangnya. Tak berkedip. Saling menatap. Di antara kami dibatasi uap kopi panas yang tadi aku buat sendiri. Sepertinya uap rela dirinya jadi wasit adu kedigdayaan ini. Kami masih saling selidik. Membaca simbol-simbol. Membaca absurditas. Membaca yang tak terdefinisikan. Membaca yang tak bisa ditulis dengan ribuan kata-kata. Sampai suatu ketika dering telepon genggam berbunyi mengganggu sepi yang binal.  Aku angkat telepon itu dan ada suara di seberang sana: aku mati, katanya.

Nak, seketika itu juga puisi di sampingmu yang sedang lahap memamah mimpi-mimpimu, mimpi-mimpiku,  terjun kata-katanya, huruf-hurufnya, ke dinding. Tak hanya dia. Rambut kataku, hidung kataku, tangan kataku, kaki kataku, semua kata-kataku, huruf-hurufku terjun ke dinding. Sama-sama meleleh di sudut-sudut bulan yang sabit. Kali ini kucing kuning kita diam disambar sunyi. 

Nak, dengkurmu saja seperti puisi. 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Semarang Lelayu, 30 April 2017

Advertisements

Empat Hal Ini Menjawab Mengapa Mental Free Athletes Berbeda dengan Mental Orang Biasa



Teman-teman. Tidak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat. Sudah 2,5 tahun saya berkecimpung dengan dunia Freeletics. Alhamdulillah saya masih konsisten untuk berlatih. Walaupun tentu dengan usaha yang lebih dikarenakan kesibukan dan ketiadaan waktu.

Sewaktu di Tapaktuan saya masih sempat untuk berlatih di pagi hari sebelum ke kantor atau di sore hari sebelum Magrib datang.

Baca Lebih Lanjut.

Ritual


 

images (2)

Selamat ulang tahun puisi. Kuhadiahkan sepetak

pelukan di tubuhmu yang dingin

sehabis bangun tidur. Beruntung kau kuat

hingga tak merontokkan kata-kata, huruf-huruf

di sekujur tubuhmu yang rindang oleh luka.

 

Selamat ulang tahun puisi. Sekarang, aku yang payah

mengingatmu. Hingga tak tahu kalau hari ini

engkau mengulang  ritual. Kuberikan sepetak dekapan

di tubuhmu yang dingin sehabis bangun tidur. Terberkatilah

matahari karena ia mendapatkan cahayanya dari

kumpulan kunang kata-katamu.

Baca Lebih Lanjut.

Nasihat Nan Nirmala


Ingin menjadi apa ketika setiap keinginan kita senantiasa terwujud? Beberapa tahun yang lampau ada sebuah film yang menceritakan seorang tokoh.

Tokoh ini kalau meminta sesuatu pasti terwujud. Tetapi selalu ada konsekuensi yang mengikutinya. Tapi ia pengecut. Sehingga ketika ia menjadi apa dan risiko dari menjadi apanya itu muncul, buru-buru ia segera mengajukan permintaannya yang lain. Ia menerima menjadi apa tapi tak mau menanggung imbas yang ada.

Baca Lebih Lanjut.

​Firmania Ayu Ambari: Life Begins at Twenty Five


Petang mendung itu, di dalam ruangan berukuran enam belas meter persegi, dengan meja kayu besar di tengah dan dikelilingi banyak kursi rapat, Firmania Ayu Ambari, 29 tahun, ditemui di Gedung A1, Kompleks Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta (19 April 2017).

Di luar gedung, hujan mulai turun. Suara halilintar berulang kali terdengar. Ayu yang duduk di hadapan menyungging malu. Matanya membulat di balik kacamata. Rambutnya dicat coklat, tergerai sebahu. Baju batik yang ia kenakan adalah campuran warna biru dan merah. Di depannya, telepon genggam tergeletak dan terhubung dengan kabel dari catu daya.

Baca Lebih Lanjut.

10 Kontributor yang Disayang Editor


Seksi Pengelolaan Situs, Subdirektorat Hubungan Masyarakat Perpajakan, Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menyelenggarakan Workshop Kontributor Konten Situs dan Media Sosial DJP di Legian, Kuta, Bali selama tiga hari (11 s.d. 13 April 2017).

Acara yang dikemas dengan menarik ini diikuti 88 peserta dari seluruh Indonesia, mulai Banda Aceh sampai Merauke. Beberapa materi yang disampaikan di hari pertama adalah Menjadi Kontributor yang Disayang Editor oleh Riza Almanfaluthi, materi Flash Photo oleh Wiyoso Hadi, dan Cara Unggah Konten oleh Nanang Priyadi.

Continue reading 10 Kontributor yang Disayang Editor