Cerita Lari Tugu To Tugu 2017: Pelukan dan Kehangatan


30 Kilometer yang Sebegitunya.

Pengalaman hidup adalah mufti yang memang memfatwakan
banyak hal kepada saya sebagai mustafti.

Setelah menerima medali dan kaos sebagai penamat, saya segera membereskan peralatan saya. Tiba-tiba kembali rasa mual itu muncul. Saya segera cari tempat sepi. Di bawah pohon palem yang baru tumbuh, saya memuntahkan semua isi perut. Semuanya cairan yang tadi saya minum di sepanjang pelarian itu. Lega.

Setelah itu saya menuju tenda besar panitia. Di sana ada wadah plastik besar berisi air es untuk merendamkan kaki. Saya memasukkan kaki. Dan tidak butuh waktu lama, itu saja membuat tubuh saya menggigil tidak karuan. Tidak hanya di kaki, tetapi ke seluruh tubuh. Ini seperti dingin yang menyerang saat kita demam atau meriang. Saya segera angkat kaki. Saya sudah merasa sangat kelelahan.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Cerita Lari Tugu To Tugu 2017: Banyak Drama


Capek Bro. 🙂

Tetapi pada saat malam hari, kebanyakan minum malah bikin kembung.

 

Saya tiba di PDAM Cibinong. Ini penghentian pertama. Sudah 1 jam 31 menit saya berlari. Itu kira-kira 12,5 kilometer. Belum ada cairan yang masuk sama sekali. Baru dua butiran kecil gula jawa yang saya habiskan.

Di sana, setelah dilakukan pengecekan oleh panitia, saya langsung mengambil minuman botol warna biru itu dan menenggaknya sampai habis. Hal yang nantinya membawa saya kepada sesuatu.
Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Tugu To Tugu 2017: Kelinci dan Kura-kura


 
Malam itu, sebagian manusia mencari kemeriahan,

sebagiannya lagi mencari Tuhannya, sedang aku?

 

Setahun nan lampau berlari di malam tahun baru masih menjadi sebuah angan-angan. Di Tapaktuan, di sebuah kantor yang masih memantau target tahunan, akhir tahun 2016 menjadi momen yang tak bisa diabaikan. Kami harus stand by. Dua puluh satu hari kemudian, saya dipindah ke Jakarta.

Setahun kemudian angan-angan itu menjadi nyata. Di malam terakhir 2017, saya berdiri di tengah kelimunan pelari yang akan memulai pelarian itu. Bersiap-siap menempuh jarak 30 kilometer dari Polres Depok sampai Kantor Walikota Bogor.
Baca Lebih Lanjut.

Tak Ada Derek dan Sabari Pagi Ini


“BULAN DESEMBER***ini saya baru lari 12 kilometer. Jadi bagaimana supaya saya bisa mempersiapkan diri buat lari 30 kilometer di malam tahun baru dari Depok ke Bogor?” tanya saya kepada bujang ganteng itu. Ia juga ikut di even Tugu ke Tugu ini.

“Besok Minggu Half Marathon saja,” jawabnya. Baiklah. Akhirnya saya canangkan target besok pagi hari Ahad ini saya akan lari 24 kilometer. Setara 80% dari 30 kilometer. Kata pelari pro sih begitu katanya. Minimal kalau latihan ya ambil 80% dari jarak tempuh lomba.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Jakarta Marathon 2017: Mengejar Melanie


Pada 2015, Esa Marindra Fauzi, seorang teman sekaligus penamat triatlon mengajak saya yang waktu itu sedang bertugas di Tapaktuan untuk mencoba menyeret-nyeret kaki bareng sejauh 21,1 kilometer di palagan Jakarta Marathon. Baru dua tahun kemudian niat itu menjadi nyata setelah saya pindah tugas ke Jakarta.

Ahad pagi yang masih gulita, 29 Oktober 2017, pada saat saya menyerahkan tas di tempat penitipan tas (drop bag area) sebuah colekan menyentuh pundak saya. Ternyata Esa. Kami sama-sama terlambat datang.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari BNI UI Half Marathon (2):  Setelah ini Apalagi?


Sebelas Kilometer Terakhir

Menamatkan kilometer 11 menjadi Point of No Return buat saya. Mau tidak mau saya harus terus menderas ke depan. Mengakhirinya sampai garis finis. Di sisa-sisa water station (WS) yang ada, selain minum air berion saya juga mengambil air putih biasa untuk saya simbah ke kepala saya. Ini bikin adem.

Di kilometer  11 ini saya jauh dari kafilah lari. Saya otomatis seperti lari sendirian. Tidak ada yang menyusul saya dan saya pun tak bisa menyusul yang di depan.

Continue reading Cerita Lari BNI UI Half Marathon (2):  Setelah ini Apalagi?

Cerita Lari BNI UI Half Marathon: Ini Soal Nafas Panjang


Racepack.

Wajah saya tersungkur di atas seuntai sajadah sembari melamatkan sebentuk doa yang tak kunjung habis menjulang ke langit. Meminta kepada Yang Maha Menatap sebuah kekuatan dan kesehatan agar tubuh yang dititipkan kepada saya menjadi berdaya. Jam sudah menunjukkan wajah  bertaringnya di angka 03.45 pagi.

Saya harus melesat ke Universitas Indonesia (UI) untuk menandak kaki mengikuti lomba lari BNI UI Half Marathon 2017. Ini lomba pertama yang saya ikuti untuk kategori 21 kilometer. Atau musabaqah kedua setelah lari 5 kilometer di Spectaxcular 2016 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Continue reading Cerita Lari BNI UI Half Marathon: Ini Soal Nafas Panjang