
Beberapa waktu lalu, terbit pengumuman kelulusan. Ada yang namanya tercantum di sana. Ada pula yang diam-diam membaca daftar itu berkali-kali tanpa menemukan dirinya. Sesak kadang datang dengan cara sesederhana itu.
Tidak mengapa merasa kecewa. Sangat manusiawi. Sembari itu barangkali kita perlu mendengar cerita ini. Peristiwa baru yang terjadi pada 2 Mei 2026 di ajang 152nd Kentucky Derby di Churchill Downs, Louisville, Kentucky, Amerika Serikat.
*
Berada di paling buncit, tidak ada yang menengok kuda pacu itu sama sekali.
Penonton dan komentator di pacuan kuda itu sedang menyorot barisan terdepan saja di jalur sepanjang 2.012 meter.
Namun, pada 35 detik terakhir, si paling buncit, kuda bernama Golden Tempo dengan Jose Ortiz sebagai joki, melesat ke depan. Dari 18 kuda yang ikut balapan, Golden Tempo mulai menyalip satu per satu lawannya. Menyelinap ke sana ke mari. Membelah kerumunan di depannya.
Kamera televisi mulai menyorot Cherie DeVaux, pelatih kuda yang berada di sisi tribun utama. Di antara gemuruh penonton yang mulai lantang, DeVaux yang semula diam saja kemudian berteriak keras menyemangati Golden Tempo dan Ortiz.
Di titik finis, Golden Tempo menjadi yang pertama. Di posisi kedua adalah Renegade, kuda yang dipecut oleh Irad Ortiz Jr. Dan tahukah kalian siapa Irad ini? Dia adalah kakak kandung Jose Ortiz. Jadi ketika Jose Ortiz menyalip kakaknya di detik terakhir, kemenangan itu benar-benar nyaris. Bukan menang jauh, hanya seujung leher kuda di garis finis.
Churchill Downs pecah. Penonton riuh. Yang menjadi pemenang adalah underdog. Di titik inilah sejarah terukir, selama 152 kali penyelenggaraan Kentucky Derby sejak 1875, tidak ada pelatih kuda perempuan yang memenangi lomba pacuan kuda ini. Hari itu, Cherie DeVaux mematahkannya.
Usai balapan, DeVaux mengatakan: “Aku bahkan tidak percaya. Dua puluh dua tahun lalu aku memulai karier di sini sebagai exercise rider muda yang penuh semangat. Dan aku tidak pernah membayangkan akan duduk di sini hari ini.” Dalam dunia balapan kuda: exercise rider adalah orang yang menunggangi kuda saat latihan, bukan saat balapan resmi. Jokilah yang menunggangi kuda pada saat balapan.
Pada 2018, DeVaux memberanikan diri membangun kandang kudanya sendiri tanpa jaminan apa pun, kecuali kepercayaan sang suami dan keyakinannya yang ia bangun pelan-pelan. DeVaux membangun tim, melatih kuda, hadir setiap hari dalam gelap, jauh sebelum mawar kemenangan, jauh sebelum sorak-sorai penonton.
Cerita kemenangan dari si paling buncit menjadi terdepan sepertinya dekat dalam keseharian. Hampir setiap orang pernah diremehkan, merasa tertinggal, kalah cepat, merasa hidup orang lain melesat lebih dulu, merasa dirinya sudah terlalu jauh di belakang untuk menang, sekadar debu di belakang rombongan, tidak dilihat kamera, tidak disebut komentator.
Namun, hidup terkadang menyimpan tikungan terakhirnya sendiri. Hidup tidak selalu dimenangkan oleh yang paling depan sejak awal. Dari Golden Tempo kita menyaksikan, orang yang tampak kalah belum tentu benar-benar kalah. Kita hanya perlu bertahan cukup lama sampai tikungan terakhir itu datang. Menunggu momentum yang disediakan untuk kita. Dan momentum itu kadang datang terlambat, tetapi itu mengubah segalanya.
Kelak, di saat itu, kita seperti Ortiz. Setelah tiba di garis finis, sembari menuju tribun juara, masih di atas Golden Tempo, sebagai tradisi Kentucky Derby yang paling orisinal, Ortiz menerima karpet mawar merah. Apa yang dilakukannya? Ortiz menjumput segenggam mawar, lalu melemparkannya ke udara. Kedua tangannya terangkat dan matanya melihat langit Churchill Downs.
*
Riza Almanfaluthi
Jayapura, 9 Mei 2026
Foto dari wuky.org
Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi