Setiap Anjing Boleh Berbahagia, Apalagi Aku


 

Apalagi setelahnya?

Si Tokek memberinya selembar foto. Foto gadis yang sama, yang ditempel di langit-langit kabin truk. Gadis itu telah bertambah besar. Berbeda dengan foto-foto sebelumnya, yang semuanya selalu dibawakan oleh Si Tokek, kali ini di balik foto tersebut ada tulisan. Tulisan tangan si gadis kecil:

 

 

Menulis itu membaca. Maka ketika kesibukan memang telah memakan waktu yang kita punya, bahkan untuk menulis pun sampai tak sempat, bagi saya itu tidak mengapa asal waktu-waktu yang lewat itu telah diisi dengan kegiatan membaca. Ini penting buat menulis dan penulis.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Cinta Tak Lekang Sabari



Judul        : Ayah

Penulis    : Andrea Hirata

Penerbit    : Bentang Pustaka

Terbit    : Cetakan Keenam, Agustus 2015

Tebal     : xx + 412 halaman

Sabari sudah kadung cinta kepada Marlena sejak SMP, sampai SMA, kemudian lulus. Tapi apa daya cintanya selalu ditolak Lena. Tak pernah hidupnya berpaling dari Lena, si cantik pemberontak berlesung pipit, hingga semua yang dikerjakan dalam hidupnya hanya untuk sebuah obsesi: cinta Lena.

Kemudian Sabari ketiban pulung, kalau tidak disebut mengorbankan dirinya. Karena suatu sebab, Sabari diminta Markoni untuk menikahi Lena. Walau mereka sudah menikah, tak pernah mereka hidup serumah. Hingga Si L dan seluruh kebaikan yang dibawa—sebutan Sabari kepada Lenamelahirkan anak yang kemudian biasa dipanggil Zorro.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #12: “HALO NYET…”


RIHLAH RIZA #12:

“HALO NYET…”

 

Napoleon Bonaparte memasuki Moskow, 14 September 1812. Tapi ia hanya menemui kota itu telah kosong melompong dan dibakar. Ia mundur. Kini, yang dihadapi oleh 650.000 prajurit pimpinannya ini bukan pasukan Rusia melainkan cuaca dingin. Lebih dari dua per tiga pasukannya tewas kelaparan dan kedinginan. Sebagiannya ditawan. Hanya 4% prajuritnya yang mampu menyebrangi Sungai Berezina.

**

“Sudah berapa lama di Aceh, Kapten?” tanya saya kepada Kapten Yudho Komandan Kompi lulusan Akademi Militer Magelang asal Nganjuk ini.

“Sudah lama. Delapan tahun. Kalau Pak Riza?”

“Baru satu minggu.”

Perwira pertama ini tertawa. Karena dibandingkan dengan para prajurit anggota Batalyon Infanteri (Yonif) 115 Macan Leuser ini keberadaan satu minggunya saya ini sungguh tidak berarti apa-apa.

Ini pembicaraan kami di sela-sela acara olahraga bersama yang diselenggarakan oleh Markas Yonif 115 ML. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan mendapatkan undangan untuk menghadirinya bersama instansi pemerintah yang lain. Bupati Tapaktuan yang baru dilantik pada tanggal 22 April 2013 pun ikut hadir dalam acara tersebut.

Saya mendapatkan banyak kenalan dengan para prajurit dan pejabat dalam acara itu. Dan dunia memang sempit, saya ketemu dengan orang satu kampung di sini. Ia menjabat sebagai Komandan Rayon Militer Kluet Utara. Ia sudah lama menetap dan mempunyai istri orang Aceh.

Saya juga ketemu dengan prajurit lainnya yang ternyata ia punya kakak yang bekerja di kantor pajak. Saya mengenal kakaknya walau tidak begitu dekat. Dan lebih mengejutkannya lagi ia punya istri orang Bojonggede. Yaa…kompleks rumahnya itu tempat saya sering main sebelum saya dipindahtugaskan ke Tapaktuan.

Saya mengobrol akrab dengan mereka diselingi kudapan kacang dan jagung rebus. Tak lupa teh manis dan kopinya. Sekalian pula menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka tentang pajak. Silaturahmi ini jadinya sekaligus ajang sosialisasi. Karena ternyata banyak juga yang belum memahami kalau penghasilan yang mereka terima berasal dari pajak.

Dalam acara itu ada banyak pilihan olahraga seperti bola basket, voli, tenis lapangan, catur, dan main batu. Permainan terakhir ini sebenarnya permainan domino. Saya bersama Kapten Yudho memilih main bola basket bersama prajurit yang lain. Three on three. Sebentar saja saya sudah ngos-ngosan. Sedangkan nafas para prajurit masih panjang. Saya cuma menghasilkan satu assist. Tak lebih. Langsung time out. Minta diganti.


Bermain basket dengan latar belakang pegunungan Leuser (Foto Koleksi Pribadi)

Setelah makan siang, kami berpamitan dengan tuan rumah yang ramah ini. Kami melewati pos penjagaan bertuliskan motto yang menyindir saya: Lakukan yang Terbaik dan Tetap Semangat. Kalau diterjemahkan dalam bahasa yang sederhana maka dapat diartikan: apa pun kondisinya, di mana pun adanya, memberikan yang terbaik dan selalu semangat itu kudu.


Pos Penjagaan Yonif 115 ML (Foto Koleksi Pribadi)

Kami pulang. Ada lebih dari 25 km jalanan harus kami lalui untuk menuju Tapaktuan. Markas Yonif 115 ML ini terletak di Kecamatan Pasie Raja dan di bawah Komando Resort Militer 012/Teuku Umar, Komando Daerah Iskandar Muda.

Karena jalanan menuju Tapaktuan mengalami longsor dan dalam proses perbaikan maka ada jalan alternatif baru yang dibuat melalui pinggiran pantai yang memanjang mulai dari utara sampai selatan. Jalan alternatif ini melalui pinggiran Pantai Cemara. Saking panjangnya pinggiran pantai ini, maka kalau ada rombongan kuda liar yang dilepas berlari kencang di pantai dari ujung ke ujungnya lalu dibuat filmnya ini bisa terekam sampai bermenit-menit.

Di beberapa bagian Pantai Cemara berjejer warung dengan saung-saungnya. Yang memang sedikit kendala adalah masalah kamar kecil. Terkadang warung tidak menyediakannya. Pemilik warung hanya mendirikan tempat tertutup ala kadarnya di atas rawa.

Di pantai ini pun jarang ada yang berenang. Tidak seperti di Pantai Rindu Alam seperti yang sudah pernah saya terangkan sebelumnya. Jadi Pantai Cemara ini hanya cocok untuk sekadar ngupi-ngupi, kongko-kongko, dan jalan-jalan saja.


Pantai Cemara Tapaktuan (Foto Koleksi Pribadi)


Sudut lain Pantai Cemara Tapaktuan (Foto Koleksi Pribadi)

Di sinilah saya mendapatkan sebuah pemandangan yang memikat. Perpaduan unsur-unsur indah dari sebuah lansekap. Ada tanah lapang, deretan pohon cemara, deretan pegunungan, cahaya matahari yang menyinari bagian perbukitan, langit yang setengah gelap, laut, dan pantai. Ini seperti bukan di Indonesia, tapi di Pegunungan Alpen Swiss yang pernah saya kunjungi beberapa waktu yang lalu dalam mimpi.

 


Salah satu pemandangan di Pantai Cemara Tapaktuan (Foto Koleksi Pribadi).

Coba bandingkan dengan gambar pegunungan Alpen yang satu ini:


Pegunungan Alpen sebelas dua belas dengan yang ada di Tapaktuan.


Pantai Cemara dari ketinggian dan kejauhan. (Foto Koleksi Pribadi)

Bandingkan dengan yang satu ini:


Taman Nasional Abel Tasman, Selandia Baru. Kebetulan yang mengambil gambar adalah orang profesional.

 


Monyet yang kami temui di sepanjang perjalanan pulang dari Pantai Cemara Tapaktuan (Foto Koleksi Pribadi)

Dalam perjalanan pulang pun kami menjumpai mamalia berkaki empat dan berekor panjang. Monyet di sini tidak nakal. Tidak seperti baboon di Taman Nasional Table Mountain Afrika Selatan yang akan berubah ganas kalau sudah mendengar suara plastik kresek yang dibawa para wisatawan. Ini berarti tanda ada makanan. Monyet di Tapaktuan ini cuma pasang muka memelas kepada para pengguna jalan agar kiranya sudi melemparkan kepada mereka penganan atau jajanan. Saya sapa salah satu dari mereka, “Halo Nyet…” Dia tak sudi menjawabnya. Melengos.


Cool…dipanggil melengos bae.(Foto Koleksi Pribadi)

Penolakannya tak membuat saya gusar. Saya pergi meninggalkan mereka. Masih ada yang harus saya kerjakan di mess. Terutama lagi pekerjaan yang sudah lama saya tinggalkan dan lupa cara mengerjakannya: mencuci baju. Nanti setelah itu seperti biasa saya akan membuka pintu depan lebar-lebar, mengambil kursi, menghadapkannya ke jalanan, menaruh tangan di belakang kepala, dan memandang kejauhan, memandang kepada apa yang dikatakan Andrea Hirata tentang langit: sebuah kitab yang terbentang.

Ini cara saya membunuh waktu. Sambil berpikir tentang hal-hal yang lalu dan apa yang harus saya lakukan nanti-nanti. Terutama kapan saya bisa pulang ke Citayam. Seminggu sekali? Dua minggu sekali? Tiga minggu atau sebulan sekali? Ini semata soal rindu yang tak bisa dibunuh. Dengan cara apa pun. Ini soal mimpi-mimpi yang tak pernah absen dalam meramaikan tidur di setiap malam. Dan izinkanlah saya untuk selalu bermimpi. Bermimpi bertemu dengan orang-orang yang saya cintai di gampong. Saya tak sama dengan monyet yang hidup di pantai-pantai itu. Mereka tak punya mimpi. Sedangkan saya punya mimpi. Mimpi yang akan selalu saya tulis.

Seperti apa yang dikatakan Napoleon saat ditawan di atas kapal Inggris HMS Bellerophon, “Apa yang harus kita lakukan di tempat terpencil itu? Well, kita akan menulis memoir kita. Kerja adalah parang dari waktu.”

Begitu jua saya.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 18 November 2013