FREELETICS WOCHE 15: 300! My Hell Week



Tiga ratus orang Sparta, menghalangi ratusan ribu pasukan Persia di sebuah celah sempit “Gerbang Panas” Thermophylae, 2495 tahun lalu. Unjuk kekuatan itu melegenda. Menjadi sebuah simbol atas sebuah kegigihan dan kekuatan melawan sebuah kemustahilan.

**

Hujan di Jumat (17/4) pagi itu tak henti-hentinya mengguyuri Tapaktuan. Derasnya tak terkatakan lagi. Kalau sudah demikian walaupun durasinya sebentar alamat mes akan kebanjiran. Dan betul, Bang Koen dan Bang Toels yang berjaga di sana sudah beri pesan kalau air sudah mulai naik. Terpaksa saya cabut dari kantor untuk menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.

  Baca Lebih Lanjut

RIHLAH RIZA #8: MEULABOH DAN 105 TAHUN YANG LALU


RIHLAH RIZA #8: MEULABOH DAN 105 TAHUN YANG LALU

Meulaboh. Di waktu sahur. Akhir Ramadhan 1316 H (11 Februari 1899 M). Suaminya tertembak di dada dan di perutnya. Tembakan prajurit Van Heutsz merobohkan dan menyebabkan suaminya meninggal dunia. Jenazah suami keduanya ini dibawa para pengikutnya untuk dikuburkan di sebuah tempat yang dirahasiakan agar tidak diketahui Penjajah Belanda yang ingin memastikan kalau “pengkhianat” yang bernama Teuku Umar ini benar-benar tewas.

    **

Kami bertiga tiba di Bandara Kualanamu jam 8.15 pagi (27/10) dan harus menunggu tiga jam lebih agar bisa naik pesawat ke Meulaboh. Untuk ke sana kami harus ganti pesawat yang lebih kecil lagi. Dari Jakarta menuju Kualanamu kami memakai pesawat Boeing yang dioperasikan Lion Air, sedangkan ke Meulaboh kami menggunakan maskapai Wings Air dengan pesawat ATR72-500 berbaling-baling dua buatan perusahaan Perancis-Italia. Tentu dengan kapasitas penumpang yang lebih sedikit daripada Boeing. Berkisar 70-an penumpang.

    Penerbangan kami ini merupakan penerbangan connecting. Kami cukup membeli tiket sekali saja. Ada beberapa jadwal penerbangan dari Jakarta mulai dari jam lima sampai jam delapan pagi. Semua penerbangan di jam tersebut transit di Kualanamu menunggu pesawat ATR72-500 yang dijadwalkan berangkat jam 10.45 siang. Saya sarankan jangan terbang dengan pesawat yang berangkat dari Jakarta jam delapan pagi karena dikhawatirkan ditinggal oleh pesawat ke Meulaboh itu jika ada keterlambatan atau delay di Bandara Soekarno Hatta.

(Koleksi Foto Pribadi)

    Ada keterlambatan. Oleh karenanya jam 11 lebih kami baru diminta untuk segera naik pesawat. Kami naik bus yang telah disediakan menuju pesawat yang diparkir jauh dari tempat tunggu kami. Karena pesawat ATR72-500 ini masuknya melalui pintu belakang maka tak perlu ada garbarata. Perlu waktu lima puluh menit penerbangan untuk sampai ke Bandara Cut Nyak Din, Meulaboh. Kalau ditarik garis lurus kami harus menempuh perjalanan sepanjang 295 km.

    Dua teman saya bertujuan akhir Meulaboh. Tetapi Meulaboh bukan tujuan saya. Tapaktuanlah yang menjadi tujuan. Tentu banyak jalan menuju Tapaktuan. Banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan untuk memilih jalan itu.

    Pertama, Jakarta-Banda Aceh melalui udara dilanjut dengan menempuh 439 km perjalanan darat menggunakan travel menuju Tapaktuan selama kurang lebih delapan jam. Jalanan mulus. Harga tiket pesawat dan lamanya perjalanan Jakarta-Banda Aceh tentunya lebih mahal dan lebih lama daripada Jakarta-Kualanamu apalagi kalau transit dulu.

    Kedua, Jakarta-Kualanamu melalui udara dilanjut menuju Meulaboh dengan pesawat dan masih ada 200-an km menuju Tapaktuan dengan perjalanan darat atau sekitar tiga sampai empat jam lebih. Harus ada yang menjemput di Bandara Cut Nyak Din. Jalanan mulus.

    Ketiga, Jakarta-Kualanamu melalui udara dilanjut menuju Tapaktuan dengan pesawat Susi Air berjenis Cessna Grand Caravan C 208 B berpilot dua orang dan berpenumpang dua belas orang. Tarifnya murah karena telah disubsidi pemerintah. Jadwalnya tidak setiap hari dan hanya di jam-jam tertentu. Untuk menyiasati waktu dan daripada menempuh perjalanan darat yang lama maka banyak teman di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan bila berangkat dari Jakarta ia mengambil perjalanan paling malam lalu menginap—tidur di mana saja—di Bandara Kualanamu kemudian lanjut dengan pesawat kecil menuju Bandara Kelas IV Teuku Cut Ali, Pasie Raja, Tapaktuan. Jadwalnya itu yang sering tidak bersahabat. Dari Tapaktuan sekitar jam empat sore sedangkan dari Kualanamu jam tujuh pagi. Tentu ini bikin terlambat (TLB) atau pulang cepat (PC) dalam catatan kehadiran kita.

    Keempat, Jakarta-Kualanamu melalui udara. Kemudian naik bus, kereta api, atau taksi menuju Medan. Lalu dari Medan naik travel atau bis menuju Tapaktuan. Menempuh tujuh hingga delapan jam perjalanan dengan jarak 390-an km. Jarak tempuhnya lebih pendek daripada rute dari Banda Aceh namun jalanan tidak mulus. Dengan perpindahan bandara dari Polonia, Medan ke Kualanamu, Deli Serdang menambah waktu tempuh untuk bisa sampai di Tapaktuan.

    Saran penting dari saya berdasarkan informasi dari teman-teman adalah lebih baik naik travel dari Medan ke Tapaktuan daripada naik bis jika ingin memburu waktu sampai di Tapaktuan pagi-pagi. Travel hanya ada di Medan. Belum ada di Kualanamu. Jam terakhir travel adalah jam 9 malam. Setelah itu tak ada lagi.

    Itulah empat rute menuju Tapaktuan. Sedangkan perjalanan dengan rute Jakarta Meulaboh ini saya tempuh karena ini merupakan perjalanan pertama, bersama teman, bawa banyak barang, dijemput juga oleh teman-teman, dan tidak mengetahui jalur langsung dari Kualanamu ke Tapaktuan. Rute ini tidak akan saya tempuh lagi Insya Allah. Yang masih masuk akal bagi saya adalah rute ketiga dan keempat.

    Ohya, penting juga diketahui, bahwa  ketika pesawat ini bertujuan Meulaboh, maka sesungguhnya pesawat ini mendaratnya di Bandara Cut Nyak Din yang berada di Kabupaten Nagan Raya. Kabupaten ini merupakan pecahan dan bersebelahan dengan Kabupaten Aceh Barat yang beribu kota Meulaboh. Masih 45 km dari Bandara Cut Nyak Din menuju kota Meulaboh.

Pesawat ATR72-500 saat tiba di Bandar Udara Cut Nyak Din, Kabupaten Nagan Raya. (Foto Pribadi)

    Saya tiba di Bandara Cut Nyak Din jam 12.15. Saya berpisah dengan dua orang teman saya yang ditempatkan di KPP Pratama Meulaboh. Lalu saya melanjutkan perjalanan dengan teman-teman dari KPP Pratama Tapaktuan yang menjemput saya satu jam kemudian. Mereka adalah Mas Yan Permana, Mas Hasbul—teman lama saya di KPP Penanaman Modal Asing Empat dulu, Mas Suardjono dan Mas Oji Saeroji.

    Mulailah perjalanan panjang kami menuju Tapaktuan. Melewati perkebunan kelapa sawit, jalanan mulus yang sepi, tak bertemu dengan bis gede-gede seperti di Pantura Jawa, jarang ketemu truk, tak ada angkot, yang ada pesaing kami: motor. Perjalanan kami diselingi dengan berhenti dua kali di masjid yang berbeda, lalu makan di rumah makan Jokja (Pakai k bukan g), dan berhenti sebentar di SPBU. Saya mengira perjalanan darat ini berlangsung singkat tapi ternyata lama. Saya sampai terkantuk-kantuk karena tempat tujuan tak kunjung tiba.

    Kami banyak disuguhi pemandangan elok. Bukit-bukit lebat seperti di jalanan Garut-Tasikmalaya. Bahkan suatu saat kami melewati barisan bukit yang diatasnya ditutupi kabut dan dari kumpulan kabut itu muncul lengkung pelangi yang luar biasa indahnya. Kebetulan habis hujan saat itu. Subhanallah. Indah banget. Apalagi kalau sudah sampai di Kecamatan Sawang, Tapaktuan kita akan melihat pemandangan pantai yang eksotis. Bagian tentang keeksotisan inilah yang saya tidak sabar untuk menuliskannya segera. Tapi nanti satu per satu saya akan menyuguhkannya di bagian lain.

Plang KPP Pratama Tapaktuan (Koleksi Pribadi)

Akhirnya pada pukul 18.15 saya tiba di Tapaktuan. Mobil yang kami kendarai mampir sebentar melihat kantor kami. Kata teman agar saya tidak shock dulu sebelum benar-benar bekerja esok harinya. Mess tempat saya akan tinggal berjarak tidak jauh dari kantor ini. Kurang lebih 75 meter.

So, total jenderal 14,5 jam perjalanan Citayam menuju Tapaktuan. Dengan kecanggihan teknologi perjalanan 2400-an km itu hanya ditempuh beberapa jam saja. Saya tak bisa membayangkan berapa hari perjalanan dengan menaiki kuda. Ngapain lagi bayangin naik kuda. Dengan kecanggihan teknologi itulah setidaknya mengurangi lelah yang diderita jika perjalanan itu harus kudu naik kuda atau perjalanan darat berhari-hari.

Tinggal ke depannya perlu dipikirkan lagi moda transportasi yang mengubah benda padat menjadi partikel tak terlihat dan memindahkannya dalam sekejap ke tempat yang dituju lalu menjadikan partikel itu seperti semula. Fiksi dan Hollywood banget. Tapi semua bermula dari mimpi seperti mimpi Leonardo Da Vinci yang merancang bangun alat yang bisa menerbangkan manusia. Atau seperti pintu doraemonkah?

Alat yang mampu menuntaskan rindu kepada orang dan kampung halaman, tanpa lelah, dan bisa setiap saat. Yang akan menuntaskan rindu seperti  rindu Cut Nyak Din akan negeri tempat ia dilahirkan. Ia terbuang di masa tuanya. Ke sebuah tempat yang jaraknya ribuan kilometer dari makam suaminya. Sebab suatu alasan: keberadaannya di Aceh membuat semangat perlawanan rakyat Aceh tetap berkobar. Tentu jangankan pesawat, bus pun tak ada pada masa itu.

Gunung Puyuh, Sumedang. Di 105 tahun yang lalu dari tanggal ini, tepatnya 6 November 1908 ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Keterasingan yang dibawa sampai mati. Tapi jasanya tak pernah terasing di jiwa anak bangsa atas semangat dan perlawanannya yang tak mengenal lelah dan sakit. Dan saya hampir dekat dengan Meulaboh. Suatu saat, jika ada waktu dan kesempatan saya akan mengunjungi makam suaminya dan berdoa di sana: agar Allah menggabungkannya ke dalam golongan orang-orang yang syahid.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 5:51 6 November 2013

Tags: Jakarta-Meulaboh, Pesawat dari Jakarta ke meulaboh, Jakarta-tapaktuan, pesawat dari Jakarta ke tapaktuan, citayam, tapaktuan, kpp pratama tapaktuan, nagan raya, aceh selatan, aceh barat, bandara teuku cut ali, bandara cut nyak din, garut-tasikmalaya, garut, tasikmalaya, pesawat ke tapaktuan, pesawat ke meulaboh, jadwal ke meulaboh, jadwal ke tapaktuan, kpp pma empat, kpp penanaman modal asing empat, rumah makan jokja, pesawat atr72-500, kualanamu, banda aceh, medan, yan permana, oji saeroji, hasbul, suardjono, polonia, deli serdang, pasie raja, kpp pratama meulaboh, teuku umar, sumedang, van heutsz, gunung puyuh.

RIHLAH RIZA #4: BOSCH DAN KOPI


RIHLAH RIZA #4: BOSCH DAN KOPI

 

Kita tak pernah tahu teh dan kopi panas yang kita minum di saat coffe break ternyata punya cerita panjang di balik keberadaannya. Ada banyak jejak amis darah dan pengorbanan dari nenek moyang kita.

 

Setelah hampir bangkrut karena terlibat perang dengan Pangeran Diponegoro, maka selama lebih dari satu abad (1935-1940) penjajah Belanda menikmati kas negara yang berlimpah dari sistem tanam paksa. Sistem ini mewajibkan setiap desa menyisihkan 20% luas tanahnya untuk ditanami komoditi ekspor seperti kopi dan teh. Jika tidak punya tanah maka penduduk desa wajib bekerja selama 75 hari di kebun-kebun penjajah. Inilah era yang dikenal sebagai era paling menindas dari penjajah Belanda di bumi pertiwi ini. Bahkan lebih kejam daripada VOC yang bangkrut duluan karena korupsi itu.

**

Ini masih di hari kedua di Banda Aceh. Setelah acara pelantikan dan rapat bersama Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) DJP Aceh, saya bersama dengan dua orang teman yang juga ditempatkan di Tapak Tuan bertemu dengan Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapak Tuan Pak Jaelani. Kami memperkenalkan diri kepadanya. Singkat cerita, untuk lebih mengakrabkan diri, Pak Jaelani mengajak kami ngupi-ngupi nanti malam di kedai kopi. Tentunya kami bersedia.

Setelah bertemu dengan Pak Jaelani, saya menyempatkan diri bertemu dengan teman lama yang asli Aceh. Ia satu angkatan dengan saya di STAN Prodip Keuangan dulu. Kalau di grup Whatsapp kami, namanya Opa Lucu. Nama sebenarnya Nova Yanti. Sejak lulus sudah ditempatkan di Banda Aceh. Sekarang dia sebagai Penelaah Keberatan di Kanwil DJP Aceh. Dua teman saya yang sama-sama berangkat dari Jakarta, Slamet Widada dan Agung Pranoto Eko Putro, sudah silaturahmi duluan dengannya. Saya belakangan dan cuma sebentar ketemu Opa Lucu karena sudah ditunggu rombongan untuk pulang ke penginapan. Tak apalah, yang penting silaturahminya sudah. Itukan bikin panjang umur dan tambah rezeki kita.

Kami sampai di Hotel Medan maghrib. Hujan masih turun. Saya rehat sejenak. Sehabis makan malam saya menunggu jemputan untuk ngupi-ngupi itu. Jarum jam pendek udah melewati angka tujuh, lalu angka delapan, dan angka Sembilan. Tidak ada informasi jadi atau tidaknya. Sepertinya memang menunggu hujan dan gerimisnya reda. Baru pada pukul 21.46 ada informasi kalau jemputan akan datang ke Hotel Medan. Setengah jam kemudian saya telah berada di dalam mobil yang di dalamnya sudah berisi lima orang.

Ternyata ada Mas Hidra Simon yang nyetir. Mas Hidra Simon ini adalah Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV di KPP Pratama Banda Aceh. Wajahnya tak asing karena pernah kami undang untuk bersama-sama menghadiri persidangan banding di Pengadilan Pajak atas kasus sengketa pajak yang kami tangani sewaktu saya masih di Direktorat Keberatan dan Banding. Di sampingnya duduk Mas Afrizal Kurniawan Syarief, satu kantor dengan Mas Hidra Simon. Ia Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi III.

Selain itu ada Mas Oji Saeroji. Teman yang ditempatkan di KPP Pratama Tapak Tuan bersama-sama saya. Di KPP itu ia menjabat sebagai Kepala Seksi Pelayanan. Ia adalah salah satu penulis Buku Berbagi Kisah dan Harapan (Berkah) Perjalanan Modernisasi Direktorat Jenderal Pajak. Ketemu pertama kali waktu ada workshop kepenulisan buat para kontributor Buku Berkah di akhir 2010. Terakhir ketemu waktu ada workshop Tax Knowledge Base di Bandung akhir Mei 2013. Dan dunia itu kecil. Sempit. Karena ternyata dia kenal juga dengan teman SMA saya. Alamaak…

Ada lagi yang sama-sama ditempatkan di Tapak Tuan, Mas Suardjono. Ia jadi Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan di KPP Pratama Tapak Tuan. Terakhir adalah Mas Maman Purwanto. Ia orang baru yang ditempatkan di KPP Pratama Subulussalam sebagai Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan juga. Jadi selain Mas Hidra Simon dan Mas Afrizal, kami berempat adalah orang baru di daerah Aceh ini.

Kami tiba di sebuah warung kopi besar: Aan ‘n Adua Kupi. Ada layar lebar seperti layar tancap. Yang diputar adalah film-film tv kabel. Sound system-nya gede. Warung ini berfasilitas wifi. Sudah banyak orang di warung itu. Kebanyakan anak muda dengan laptop masing-masing. Asap rokok pun membumbung ke mana-mana. Pak Jaelani bersama dua anaknya dan dua keponakannya sudah menunggu di warung. Pak Jaelani ini memang orang asli Aceh, setiap akhir pekan beliau pulang dari Tapak Tuan karena keluarganya tinggal di Banda Aceh.

 

Gambar kopi dari sini.

Saya pesan kopi biasa. Teman-teman yang lain pesan kopi sanger (kopi susu). Selain kopi dihidangkan pula roti dan gorengan tempe dalam sebuah piring kecil. Sambil ngupi-ngupi itu kami mengobrol lama. Ada rencana yang tersusun akhirnya. Nanti hari minggu Mas Oji dan Mas Suardjono akan berangkat ke Tapak Tuan satu mobil bersama Pak Jaelani. Berangkat jam sepuluh pagi dari Banda Aceh. Diperkirakan sampai di Tapak Tuan jam tujuh malam. Sedangkan saya masih memikirkan moda transportasi alternatif menuju Tapak Tuan pada satu pekan yang akan datangnya. Karena ada penugasan lain dari kantor lama saya baru satu minggu kemudian menyusul dua teman saya itu ke Tapak Tuan. Pak Jaelani sudah menawarkan saya untuk ikut mobilnya. Saya belum mengiyakan cuma tak enak saja karena takut merepotkan lagi.

Malam semakin larut. Akhirnya pertemuan silaturahmi awal ini pun selesai. Saya cuma bisa meminum segelas kopi saja. Tapi alhamdulillah lambung tak menolak seperti biasanya. Kami pulang. Pak Jaelani khawatir kalau ngupi-ngupi nya dilanjutkan lebih malam lagi, kami tak bisa beristirahat terutama saya yang kudu balik lagi ke Jakarta.

Warung kopinya tetap buka. Saya tak tahu kapan tutupnya. Warung kopi tak bisa dilepaskan dari kehidupan malam masyarakat Aceh. Pun kopi yang kami minum tadi. Ini warisan kerja rodi nenek moyang masyarakat Aceh sejak tanam paksa. Kita tinggal menikmatinya. Kita tak tahu tragedi apa yang ada di balik setiap tanaman kopi yang dipaksakan ditanam oleh penjajah Belanda ini. Seperti kita tak tahu pula tragedi apa yang dialami oleh nenek moyang kita dari setiap baut dan kayu jati yang tertempel di rel kereta api sepanjang utara Jawa.

Tanam Paksa (Gambar diambil dari sini)

Tapi yang pasti betapa banyak korban dari kekejaman sistem tanam paksa ini. Busung lapar dan kelaparan melanda Cirebon, Demak, dan Grobogan. Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pencetus cultuurstelsel malah dianugerahi gelar kebangsawanan Graaf atas jasa-jasanya dalam penerapan sistem kejam ini. Tapi karena perubahan politik di negeri penjajah itu sendiri, maka sistem tanam paksa dicabut di tahun 1870. Mekipun demikian era ini belumlah berakhir untuk daerah di luar Jawa. Penjajah Belanda mengembangkan penanaman besar-besaran yang difokuskan pada tanaman kopi. Contohnya di Tanah Gayo, Aceh, sejak tahun 1904.

Sekarang produksi kopi menjadi tulang punggung sebagian masyarakat Aceh terutama di Aceh Tengah dan Bener Merah. Dari data terakhir di tahun 2012 Aceh menjadi daerah penghasil kopi terbesar keenam setelah Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Bengkulu.

Catatan ini sudah terlalu panjang. Saatnya mengakhirinya dengan satu pesan: kini berpikirlah sejenak saat kita meminum kopi. Karena ada masa lalu yang mengikutinya.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

5:41 26 Oktober 2013

 

Thanks to: Mas Hidra Simon dan Afrizal Kurniawan Syarief karena telah mengantar kami untuk ngupi-ngupi. Thanks to Opalucu karena telah menerima kami.

 

Tags: Hidra Simon, Suardjono, oji saeroji, jaelani, kepala KPP Pratama Tapak Tuan, afrizal kurniawan syarief, maman purwanto, kpp pratama banda aceh, kpp pratama tapak tuan, kpp pratama subulussalam, aan ‘n adua kupi, opa lucu, nova yanti, @opalucu, slamet widada, agung pranoto eko putro, Johannes van den bosch, cultuurstelsel, cultuur stelsel, hotel medan, pangeran diponegoro, tanah gayo, kopi aceh, kopi gayo, graaf,