Di Sini Kami Diajarkan Tentang Jurnalisme Islam



Ada gemuruh di dada saat melihat postingan teman-teman di linimasa Facebook saya mengabarkan suasana Aksi Super Damai 212 yang berlangsung di Monas, Jakarta, Jumat (4/12).

Untuk kedua kalinya saya berada di tempat yang tidak tepat sehingga tidak bisa mengikuti Aksi Bela Islam Jilid III. Sebelumnya pada Aksi Bela Islam II pada tanggal 4 November 2016, saya masih berada di Tapaktuan, dan tidak bisa mengikuti aksi itu.

Baca Lebih Lanjut

Mereka Sejenis: Sama-sama Menantang Allah



Menggelitik sih. Dikirimin ini dari lapak sebelah. Melihat liberalis menertawakan dan mempertanyakan hal-hal seperti ini. Tapi sungguh hal ini sudah biasa. Dan Allah sudah kasih jawabannya 14 abad yang lalu.

Dalam penggalan surat Muhammad ayat 4 disebutkan, “Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain.”

Baca Lebih Lanjut.

Ini Sebab Video #aksibelaquran411 Bikin Nangis Banyak Orang


 

Banyak orang merinding, menangis, tergugah, tersemangati, dan berzikir banyak-banyak saat melihat video yang dibuat oleh Oyi Kresnamurti ini. Video ini merekam aksi damai yang diikuti oleh ratusan ribu rakyat Indonesia pada tanggal 4 November 2016.

Awalnya saya mendapatkan dari sebuah grup Whatsapp pada hari Minggu tanggal 6 November 2016. Ibu Muktia Farid membagi tautan di Youtube itu pada pukul 19.34 dengan testimoninya, “Bagus nih rekaman aksi 411.” Iseng saya membuka video itu dan menuju TKP. Dan waow! Benar, video ini bikin merinding.

Baca Lebih Lanjut.

THAGHUT ITU KECIL!!!


THAGHUT ITU KECIL!!!

Sebenarnya kisah ini sudah pernah saya baca, dulu, dulu sekali. Kisah tentang detik-detik menjelang digantungnya Sayyid Quthb. Dan pagi ini saya menemukannya kembali artikel tersebut saat saya sedang berselancar di dunia maya. Kali ini kesan yang saya tangkap begitu berbeda. Ada bening-bening kaca di mata saat membacanya lagi. Apatah lagi saat membaca apa yang diucapkan oleh Sayyid Quthb ketika ia menolak penawaran pengampunan dari rezim Mesir yang berkuasa saat itu.

Berikut saya kutip sebagian kisah itu.

Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.

Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…” (Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”.

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.

Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…” Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!” *)

***

Ada yang selalu saya ingat dari sosok ayah saya saat bercerita tentang orang-orang besar. Ia selalu hafal kalimat-kalimat terkenal yang pernah diucapkan dari para tokoh itu, entah nasional atau dunia, dan ia mengucapkannya secara atraktif di hadapan kami para anak-anaknya sewaktu masih kecil. Itu amat mengesankan bagi saya. Yang sering ia ulang-ulang adalah ucapannya presiden pertama RI, IR. Soekarno. Sampai sekarang pun saya masih ingat walaupun tidak hafal perkataan tersebut. Yaitu tentang bagaimana nenek moyang kita yang berusaha mengusir penjajah Belanda dari tanah air Indonesia dengan mengucurkan keringat dan darah mereka.

Kali ini pun kiranya aku bergerak untuk mencontoh ayah saya. Ada kalimat yang amat mengharukan dan menggugah saya sehingga hampir-hampir saja saya menangis di depan komputer. “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”

Sungguh inilah natijah (buah) dari syahadatain, yang menolak setiap thoghut yang ingin menjadi setara dengan Pencipta dirinya. Inilah realisasi dari keimanan yang amat kuat hingga mampu merasakan dan mengatakan bahwa kehidupan dunia tidaklah sebanding dengan kehidupan akhirat yang abadi.

Bila saya ada dalam posisinya, bisa jadi saya akan mengiyakannya, mengaku bersalah, meminta maaf, serta langsung menandatangani surat itu sebelum sang pembawa surat selesai mengucapkan kalimatnya. Tentunya dengan alasan karena saya belum menikmati seluruh kehidupan dunia ini. Na’udzubillah.

Sungguh mudah mengucapkan dan mengajarkan materi-materi tarbiyah tentang Syahadatain dan Ma’rifatullah, tapi teramat berat dalam merealisasikannya karena di sana ada musuh abadi yang senantiasa mengintai dan menghalangi-halangi, setan dan hawa nafsu.

Bagi saya Syaikh Asysyahid Sayyid Quthb adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mampu merealisasikan nilai-nilai tarbiyah islamiyah dalam sebenar-benarnya kehidupannya. Maka dari akhir orang yang seperti itu mengapa masih banyak orang menghinakannya sedang ia terbukti mampu untuk menjual kehidupan dunianya dengan kehidupan akhiratnya sedang orang-orang yang berbicara sinis tentangnya belumlah teruji dengan pahit manisnya jihad fi sabilillah melawan thagut.

Sungguh ia akan dikenang dengan pemikirannya dan semangat jihadnya yang tak pernah mati. Bahkan orang sekelas Gamal AbdulNasser, Yusuf Kalla dan Hendropriyono pun tak akan mampu mematikannya. Ia mati tapi sesungguhnya ia tetaplah hidup.

Sungguh tidak ada jihad sebelum iman.

Allah Maha Besar! Thaghut itu kecil!

***

*) Kutipan kisah diambil dari sebuah situs internet.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:47 30 Juli 2009

setelah sekian lama tidak menulis

JANGAN KAYAK ANJING


JANGAN SEPERTI ANJING YANG MEMAKAN MUNTAHANNYA

 

Dir, seorang al-akh dari kami, hidupnya serba kekurangan. Sampai ia punya anak lima tak punya rumah untuk ditempati. Selama ini ia hanya menempati rumah yang tidak ditinggali oleh al-akh yang lainnya. Tapi hafalannya banyak, juga aktivitas dakwahnya jangan ditanya. Ia siap untuk berkeringat bahkan berdarah-darah kalau diminta untuk memasang panji-panji dakwah di seantero Pabuaran.

Suatu ketika ia terpaksa untuk menjual telepon genggamnya (HP) untuk sekadar menyambung hidup. Otomatis banyak al-akh yang membutuhkan tenaganya tidak bisa menghubunginya. Komunikasi pun terputus berbulan-bulan. Alhamdulillah ada dana dari kami—tepatnya dana dari teman kami di Jakarta guna kepentingan dakwah di Pabuaran—untuk membelikannya sebuah HP murah. Yang terpenting ia bisa dihubungi dan kembali beraktivitas kembali untuk dakwah.

Lalu kami serahkan HP baru itu kepadanya. Beberapa minggu sebelumnya tanpa sepengetahuan kami ternyata Akh Dir juga sudah menerima pemberian al-akh lainnya sebuah HP untuk digunakan olehnya. Walhasil ia memiliki dua HP saat ini.

Senin pagi, hari libur memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, ada sebuah syuro ikhwah Pabuaran. Di sana tercetus ide dari saya untuk meminta kembali HP tersebut darinya dan diberikan kepada al-akh lainnya yang kebetulan hilang dua hp yang ia miliki saat sholat Jum’at di Istiqlal. Karena saya berpikir HP itu adalah untuk kemaslahatan dakwah maka demi kemaslahatan dakwah yang lebih luas lagi maka HP itu akan lebih berguna lagi di tangan al-akh yang lainnya. Pun, saya berpikir Al-Akh Dir masih punya HP yang satunya lagi. Tapi syuro tidak mengagendakan ide saya ini sampai ke sebuah keputusan. Tidaklah mengapa bagi saya.

Siangnya saya tidur siang. Baru kali itu selama tiga hari libur panjang saya menyempatkannya. Sore hari saya bangun. Sambil masih terbengong-bengong karena kesadaran belum juga penuh—mungkin ruh saya yang bepergian selama tidur tadi belum sepenuhnya merasuki tubuh—saya duduk di meja makan. Di sana ada kitab Riyadhus Shalihin jilid 2 karangan Imam Nawawi. Iseng saya membukanya. Sekali buka mata saya langsung terantuk pada sebuah judul subbab dalam kitab itu. Subhanallah. Apa coba?

Judulnya? Makruh Menarik Kembali Sesuatu Yang Telah Diberikan. Hurufnya kapital semua dan ditebalkan. Saya membaca dua hadits Rasulullah SAW yang ada di sana. Berikut haditsnya:

Dari Ibnu Abbas ra. bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Orang yang menarik kembali pemberiannya, bagaikan anjing yang memakan muntahannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain dikatakan: “Perumpamaan orang yang menarik kembali sedekahnya, bagaikan anjing yang muntah kemudian mencari kembali tumpahannya (muntahannya) lantas dimakannya.” Dalam riwayat lain dikatakan: “Orang yang menarik kembali pemberiannya adalah bagaikan orang yang memakan muntahannya.”

Hadits lainnya. Dari Umar bin Khaththab ra. ia berkata: “Saya menyedekahkannya seekor kuda kepada seseorang yang berjuang di jalan Allah, tetapi kuda itu disia-siakan olehnya, maka saya bermaksud membelinya dan saya berprasangka bahwa ia mau menjualnya dengan harga murah, kemudian saya menanyakan hal itu kepada Nabi saw., beliau lantas bersabda: “Janganlah kamu membeli dan janganlah kamu menarik kembali sedekahmu itu, walaupun ia memberikan kepadamu dengan harga satu dirham, karena sesungguhnya orang yang menarik kembali sedekahnya, bagaikan orang yang memakan kembali muntahannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Coba bayangkan anjing yang sedang memakan muntahannya. Jijay banget gitu lohhhh (tolong mengucapkannya dengan gaya anak muda zaman sekarang, o-nya diperlebar, h-nya dipanjangkan agar terdengar desahannya). Bahkan kalau membeli kembali sedekah yang kita berikan pun dianggap sama dengan laku binatang tadi.

Benar-benar nih Allah memberi teguran kepada saya langsung. Pas banget. Pagi bicara masalah ini. Sore ditunjukkan jalannya. Sekali kebet. Ada dua peringatan itu. Ustadz yang ada di sono pernah bilang, “jangan berlebihan dengan sesuatu yang mubah karena akan menjerumuskan diri kepada hal yang makruh. Jangan berlebihan dengan sesuatu yang makruh karena akan menjerumuskan diri kepada hal-hal yang haram.” Nah loh…

Satu saja dari saya akhirnya: “jangan kayak anjing”.

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

17:41 09 Maret 2009

maulid nabi muhammad saw

Be a Hero!


Be a Hero!

 

    Ikhwatifillah yang dirahmati Allah, sesungguhnya sedari kecil di saat kita masih duduk di bangku sekolah dasar kita telah diberikan pelajaran dari guru-guru kita tentang sifat-sifat kepahlawanan. Pelajaran sejarah dan Pendidikan Moral Pancasila (sekarang berubah menjadi Pendidikan Kewarganegaraan) telah menceritakan kisah-kisah kepahlawanan dari para pendahulu dan pendiri republik ini. Tentunya Anda pasti kenal dengan Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Tjut Nyak Dien, Pattimura, Hatta, dan masih banyak lagi para pahlawan lainnya.

Juga dari pelajaran tarikh dan siroh di madrasah-madrasah yang menceritakan pula tentang kepahlawanan para mujahid Islam berperang bersama Rasulullah shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam. Dan kisah-kisah kepahlawanan lainnya di saat Islam mulai menyebarkan rahmat kasih sayangnya ke seluruh penjuru dunia. Di sini Anda pasti kenal dengan Umar bin Khotthob, Khalid bin Walid, Abu Ubaidah, Thariq bin Ziyad, Muhammad Al Fatih, dan lain sebagainya.

Maka dari membaca pelajaran sejarah, pelajaran masa lalu, telah terpatri dalam benak kita dari para pelaku masa saat sekarang yaitu kita, untuk dapat meniru mereka dan mempunyai sikap kepahlawanan. Sikap yang tergabung di dalamnya keberanian, tidak kenal takut pada siapapun, optimisme, gagah berani, mental yang tangguh, fisik yang kuat, keterampilan tempur yang mumpuni, kearifan lokal dan global, bijaksana, kepemimpinan yang kuat, dan amanah. Semua itu, sekali lagi, dalam benak kita adalah hal yang kudu atau wajib ditiru.

Menjadi pahlawan adalah sebuah cita. Menjadi mujahid adalah harapan. Karena pahlawan adalah pahalawan, orang yang berpahala atas perjuangannya. Dari masa ke masa ada satu hal yang sama yang dituju dari para pahlawan tersebut yaitu melawan ketidakadilan, melawan sebuah kezhaliman.

Hiduplah pahlawan!

Maka adalah sebuah keanehan ketika sedari kecil kita dididik untuk menjadi seorang pahlawan, dididik untuk tidak mempunyai sikap pengecut, sikap seorang pecundang, dididik pula untuk bersikap anti penjajahan yang merantai harkat dan martabat kemanusiaan, tiba-tiba disuguhi pada sebuah kenyataan untuk berdiam diri melihat sebuah kemungkaran, ketidakadilan, kezhaliman yang dilakukan oleh para penguasa.

Sikap kepahlawanan itu diharuskan untuk tunduk pada argumen-argumen dan dalil-dalil yang dicari-cari dan cenderung menutup mata terhadap kesalahan yang dilakukan oleh penguasa. Bahkan dibarengi dengan tuduhan-tuduhan yang menyakitkan dari para pembela penguasa lalim itu bahwa para pengusung sikap kepahlawanan tersebut adalah sekumpulan orang-orang yang tak beruntung dunia dan akhirat. Padahal ianya hanya melakukan hak dan kewajibannya terhadap penguasa yaitu dengan metode amar ma’ruf nahi munkar sesuai syariat Allah dan sesuai kemampuannya. Allohukarim.

Sungguh dulu pun para pahlawan disebut sebagai penjahat oleh para pembencinya.

Ikhwatifillah, kita bukanlah khawarij yang berpendapat bahwa apa saja yang mereka pandang sebagai menentang hukum Allah, maka mengharuskan adanya pemberontakan terhadap penguasa yang melakukannya, guna menyingkirkannya.

Ikhwatifillah, kita pun bukanlah orang-orang yang harus diam, tanpa melepas lisan, dan justru membela penguasa zhalim ketika kemungkaran itu nyata di depan kita. Sikap ini adalah sikap yang anti kepahlawanan bahkan mengungkung fitrah manusia untuk melawan setiap kezhaliman yang ada.

Sungguh kezhaliman itu pasti akan berakhir maka jadilah seorang pahlawan. Bukan seorang pengecut, bukan seorang pecundang. Musytafa Masyhur mengatakan bahwa kezhaliman itu hanyalah ujian bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Dan Allah telah menjanjikan kemenangan kepada orang-orang yang tertindas dari kalangan hamba-hamba-Nya yang beriman. Sebagaimana perkataan Musa terhadap kaumnya yang tertindas si lalim Fir’aun, “mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi-Nya, maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.”

Ikhwatifillah, Islam telah menuntut setiap diri kita untuk menjadi pahlawan yang menolak setiap kezhaliman dari dirinya dan dari saudara-saudaranya. Islam tidak mengizinkan kita untuk hidup dalam kerendahan, kehinaan, dan kelemahan serta ketertindasan karena semua itu adalah sikap hidup yang hanya dimiliki oleh orang-orang jahiliah terdahulu.

Islam hanya menginginkan kita untuk hidup dalam kemuliaan, kekuatan, dan kekuasaan (menjadi penguasa) karena itu adalah sikap-sikap dari orang-orang yang telah diberikan cahaya tarbiyah dari Allah melalui Rasulullah shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh Allah telah berfirman: “Padahal kekuatan itu hanyalah milik Allah, milik Rasul-Nya, dan milik orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafiq itu tiada mengetahui.” (Al-Munafiqun:8).

Ikhwatifillah, Islam telah mengajarkan kita untuk menjadi pahlawan yang menumpas setiap kezhaliman, dan setiap kita yang diperlakukan dengan zhalim maka berhak untuk membela diri. Sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada dosa pun atas mereka.

Maka kenapa memilih selemah-lemahnya iman dengan tidak berbuat apa-apa jika kita mempunyai kemampuan mengubah kemungkaran dan melawan kezhaliman para penguasa lalim dengan tangan. Dan sungguh hanyalah orang-orang yang rela pada kehinaan dan ketertindasan—padahal itu membahayakan agamanya—dianggap sebagai orang-orang yang menzhalimi diri sendiri.

Ikhwatifillah, kita adalah sekumpulan orang yang berusaha meniru dari generasi terdahulu yang telah memberikan contoh bagaimana menyikapi kezhaliman penguasa, tidak dengan memeranginya tanpa pertimbangan maslahat dan mudharat yang matang, tidak dengan membabi buta dalam bertindak sehingga membahayakan Muslim lainnya.

Maka jangan kau pendam karakter kepahlawananmu, karena ia adalah muru’ah.

Jangan kau singkirkan jiwa kepahlawananmu, karena ia adalah kegagahberanian.

Jangan kau kuburkan sikap kepahlawananmu, karena ia adalah panji anti kepengecutan.

Jangan kau hilangkan sikap kepahlawananmu sekadar mencari muka di depan para penguasa lalim.

Jangan kau hilangkan didikan para pendahulumu, karena ia ingin kau menjadi pahlawan, bukan sebagai pecundang yang hanya menginginkan keselamatan untuk dirinya sendiri.

Maka…

Be a hero! karena kezhaliman pasti akan berakhir.

 

Riza Almanfaluthi

13:44 May Day 2008

dedaunan di ranting cemara

 

Maraji’ (bahasan untuk dikaji lebih lanjut):

  1. Al-Qur’an yang Mulia;
  2. Kekuasaan, Jama’ah, dan logika yang keliru (Dalam Menasihati Penguasa), perisaidakwah.com;
  3. Fikih Dakwah JIlid 1, Syaikh Mustafa Masyhur, Al-‘Itishom Cahaya Umat, Cet.IV, 2005.

AL IKHWAN=AHLUL BID’AH= OSAMA?


AL IKHWAN=AHLUL BID’AH= OSAMA?

Masjid di komplek perumahan kami ini bernama Al-Ikhwan. Bangunannya sejak tahun tahun 2001 belum pernah utuh menjadi sebuah masjid. Setelah bergonta-ganti panitia dan telah menghabiskan dana swadaya masyarakat lebih dari 100 juta rupiah, masjid ini pun masih belum beratap. Yang ada cuma reng baja.
Untuk melanjutkan pembangunan ke tahap pengatapan memerlukan dana tunai yang tidak sedikit kurang lebih 75 juta rupiah. Itu pun belum termasuk biaya pemasangan lantai, pemelesteran dan pengecatan dinding, pengadaan kusen dan kamar mandi dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sudah banyak usaha yang dilakukan pengurusnya dalam hal penggalangan dana, mulai dari pengumpulan infak dan zakat penghasilan dari donatur, penitipan kotak infak di tiga SPBU, atau penyebaran banyak proposal. Tapi sampai jelang ramadhan 1427 ini pemasangan atap sebagai target utama selanjutnya tidak kunjung terealisir.
Akhirnya agar sholat tarawih bisa terlaksana di bangunan utama masjid—selama ini memakai bangunan kecil yang sudah ada di bagian bawah meskipun tidak layak untuk menampung banyak orang karena kurangnya ventilasi—maka pengurus pun berinisiatif untuk membeli terpal sebagai pengganti atap metal sambil menunggu terkumpulnya dana tersebut.
Maka terpasanglah sudah atap terpal plastik berwarna biru di masjid kami ini. Dan sudah tiga hari tiga malam ini kami melaksanakan sholat berjamaah di bawah atap itu. Jumlah jamaah pun meningkat—tidak sama saat masih di bawah. Ini dimungkinkan karena luasnya masjid dapat menampung mereka semua. Yang kami tidak bisa bayangkan adalah bagaimana kalau hujan deras benar-benar turun. Kuatkah terpal itu untuk menahan derasnya hujan? Allohua’alam. Kami berharap selama ramadhan ini tidak terjadi hal-hal yang dapat mengganggu aktivitas ibadah kami mengisi ramadhan.
Nah, di Sabtu Sore kemarin jelang 1 ramadhan 1427, di saat takmir masjid sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan shalat tarawih, datanglah tetangga saya—yang diikuti dengan sepasang suami istri bertampang arab. Yang laki-laki berpostur khas timur tengah, hitam, tinggi besar. Berbaju putih lengan panjang tanpa krah dan celana jin warna hitam. Sedangkan yang wanitanya berabaya hitam dengan cadar menutupi sebagian mukanya—walaupun ia tidak menutupi dengan rapat telapak kakinya yang sempat tersembul.
Yang laki-laki tidak bisa berbahasa Indonesia sehingga saat dia berbicara diterjemahkan oleh istri tetangga kami—sebut saja Ibu Ning—yang sempat bermukim di Riyadh selama beberapa tahun. Yang perempuan sanggup berbicara lokal walaupun dengan logat yang aneh. Mungkin karena sudah kelamaan tinggal di bumi Nejed.
Ibu Ning memperkenalkan dua orang tamu tersebut sebagai keponakannya. Suami keponakannya itu—katanya masih keturunan kerajaan, entah menjabat sebagai apa, yang pasti sebutannya adalah Amir—ingin melihat langsung masjid di sini dan berdialog dengan para pengurusnya.
Memang beberapa tahun lalu kami pernah menyampaikan proposal kepada Ibu Ning untuk disampaikan kepada keponakannya. Tapi sampai detik ini tidak ada dana yang cair dari Arab. Ini mungkin dikarenakan suami keponakannya ini belum sempat untuk berkunjung ke tempat kami. Ia dikenal berhati-hati dengan permintaan proposal pembangunan masjid dari Indonesia, soalnya pernah kejadian ternyata masjid yang dibangun tidak sesuai dengan dana yang diberikan. Dana yang diminta tinggi tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang di proposal atau yang dibangun cuma musholla kecil. Istilahnya ada markup dana masjid bodong.
Setelah berbasa-basi sebentar dengan kami, sang Amir ini pun langsung saja ambil gambar dengan telepon genggam berkameranya. Atap terpal, dinding yang tidak berplester, lantai semen, dan banyak lagi gambar yang diambil olehnya. Setelah itu ada beberapa pertanyaan yang diajukan olehnya. Satu yang menggelitik adalah: ”masjid ini masjid ahlul bid’ah bukan?” Yang ia maksud adalah sering diadakan acara-acara bid’ah di sini. Soalnya kalau benar demikian, ia tidak akan menyumbang. Kalau menyumbang ia merasa berdosa. Sang ketua takmir, menjawabnya dengan mantap: ”Insya Allah tidak”. Dalam hati saya berkata: ”Ya…Amir, kalau ente bilang bid’ah, belum tentu bid’ah bagi kami”.
Pertanyaan yang lain adalah ”apakah pengurusnya amanah?. Pertanyaan ini dijawab sendiri oleh Ibu Ning dengan nada penuh percaya diri, ”Insya Allah amanah.”
Namun saat sang Amir ini melihat halaman judul proposal di mana nama Masjid Al-Ikhwan ditulis dengan huruf besar-besar, sang Amir protes dan mengusulkan untuk diganti saja. Maksudnya biarlah nama masjid yang ditulis di proposal yang diubah. Dengan nama apa pun boleh asal jangan Al-Ikhwan.
Ketika ditanya mengapa demikian? ”Karena nama Al-Ikhwan identik dengan nama Osama,” katanya. Soalnya kalau di sana mendengar nama Osama bin Laden sudah antipati dan seringkali dicokok oleh pemerintah sana bila ada kaitan dengan nama itu. Jadi, orang nanti takutnya tidak mau pada menyumbang.
Wow…mantap sekali. Kami berpikir ada dua kemungkinan dalam masalah ini. Pertama ia menganggap bodoh kami yang tidak tahu tentang pertarungan pemikiran di tanah saudi antara salafy dengan Ikhwanul Muslimin, sehingga untuk memudahkan berbicara dengan kami maka dikaitkan dengan nama Osama Bin Laden. Atau yang kedua memang ia benar-benar tidak tahu tentang kaitan kedua jama’ah ini tapi hanya mendengar dari informasi sepihak yang membenci Al Ikhwanul Muslimin lalu mengait-ngaitkanya dengan Osama.
Bila yang benar adalah yang pertama, maka pertanyaan saya adalah sampai sejauh itukah kebencian terhadap Ikhwanul Muslimin terjadi? Sampai ke akar rumput. Atau cuma di akar rumput. Soalnya dari apa yang saya lihat terdapat buku-buku hasil dari tesis dan disertasi di sana yang membahas tema Ikhwanul Muslimin ini dan ini tidak menjadi masalah. Atau ini karena kedewasaan berpikir dan keilmiahan yang menjadi tradisi dari kalangan akademis sana. Allohua’lam, karena saya tidak pernah hidup di tanah arab.
Setelah kami mengganti kaver depan proposal pembangunan masjid dengan nama yang lain, Masjid Citayam —istrinya sempat mengusulkan diganti menjadi Jannatul Khuld—kami pun dijanjikan bahwa Insya Allah ramadhan akan menjadi bulan barokah buat masjid kami ini. Maksudnya ia bertekad akan menuntaskan tahap pengatapannya. Karena banyak kawannya yang rajin berinfak dan sangat senang membangun masjid—sebagai bekal rumah di surga—di saat bulan ramadhan. Kami cuma bisa bersyukur saja. Namun tidak harap-harap cemas karena sudah banyak kami diberi janji tapi nihil realisasi.
***
Setelah mereka pergi, sore itu saya mendapatkan pelajaran ’penting’ bahwa nama Al Ikhwan (yang dalam bahasa Indonesia berarti persaudaraan) bagi saudara-saudara kita di tanah Arab Saudi sana menjadi bahan pertimbangan terpenting untuk jadi tidaknya berinfak. Padahal belum pernah saya menemukan dalilnya bahwa memberikan infak itu harus melihat nama mustahiqnya terlebih dahulu. Atau karena kebencian semata nama Al-Ikhwan identik dengan ke-bid’ah-an (menurut mereka), lawan politik, dan pendukung Osama? Allohuta’ala a’lamu bishshowab.

Kader Masjid Al Ikhwan 
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:46 26 September 2006