KITAB WARISAN NABI


KITAB WARISAN NABI

Jika Anda berkesempatan untuk ziarah ke makam Nabi Muhammad saw di Masjid Nabawi, Madinah, entah pada saat umrah ataupun di musim haji, maka saya berpesan kepada Anda untuk bisa mendapatkan buku bagus yang satu ini.

    Banyak sekali memang buku yang dibagikan secara gratis di sana oleh pengelola Masjid Nabawi. Sebagian besar buku itu diterbitkan dengan tema-tema mazhab resmi Kerajaan Saudi Arabia. Dan menurut saya buku inilah yang terbagus. Saya rekomendasikan kepada Anda buku yang berjudul Miiraatsun Nabiy: Bi Lughatil Indunaysiyah ini. Artinya:
Warisan Nabi: Dalam Bahasa Indonesia.

    Kitab itu ditulis oleh ‘Ubaid As-Sindi, diterjemahkan oleh Abu Yusuf, dengan penyunting Abu Sulaiman. Judul terjemahannya adalah Fadhailul A’mal Menurut Sunnah Nabi. Ya, memang buku ini merupakan kumpulan hadits-hadit Nabi Saw bertemakan fadhailul a’mal dengan derajat shahih, minimal hasan.

    Buku dengan jumlah halaman 104 ini terbagi dalam 149 subbab ringkas. Beberapa subbabnya adalah tentang pahala sakit, pahala minum air zam-zam, pahala sabar atas bencana walau sedikit, pahala penduduk madinah, pahala sedekah kepada suami dan kerabat, pahala sifat malu, dan masih banyak lagi yang lainnya.

    Jika bisa dikatakan kitab ini adalah miniatur dari Kitab Riyadhus Shalihin atau Kitab Targhib wa Tarhib Imam Al Mundzir. Kitab yang berisikan hadits-hadits anjuran dan larangan. Dan memang kitab tulisan Imam Nawawi adalah kitab yang harus ada dan menjadi bacaan di setiap rumah kaum Muslimin. Cuma bedanya, Kitab Warisan Nabi ini hanya bertemakan bab-bab anjuran (targhib), tidak ada tema tentang peringatan (tarhib). Maka jangan heran, tak akan ditemukan di sana kata-kata bid’ah itu sesat, sesat itu neraka seperti biasa terlontar.

Hadits-hadits yang ada di sana pun sudah diseleksi atau disaring dan diperas sedemikian rupa sehingga yang ada hanya hadits berderajat sebagaimana telah disebutkan di atas. Namun tetap saja ada kekurangan dari buku ini. Bukan pada isinya yang sudah jelas bagus-bagus itu, melainkan pada alat bantu yang seharusnya ada pada buku ini: daftar isi. Ketiadaannya memang menyulitkan buat pembaca dalam pencarian cepat hadits-hadits yang dikehendaki.

Di mana Anda bisa mendapatkannya? Saya lupa mencatat di pintu nomor berapa. Tetapi seingat saya mengaksesnya melalui pintu sisi kiri Masjid Nabawi. Ruangannya berada di lantai atas tepatnya di lantai tiga, naik via tangga dan bukan eskalator. Atau tanya saja kepada para penjaga masjid keberadaan maktabah. Ruangannya
sempit dan banyak buku serta cd audio dan video yang bertebaran di banyak meja yang ada di sana. Minta kepada penjaga perpustakaannya: miiratsun nabiy, insya Allah dikasih. Minta
yang banyak buat dibagikan di tanah air sebagai oleh-oleh.

Sekadar catatan, Masjid Nabawi itu ada tiga perpustakaan. Pertama Maktabah Masjid Nabawi yang berada di Babul Umar dan Babul Utsman, kedua: Maktabah Shauthiyah, dan ketiga: perpustakaan khusus untuk wanita yang berada di pintu nomor 24*). Nah, saya kurang mengetahui yang saya kunjungi itu perpustakaan yang pertama atau yang kedua. Jangan putus asa untuk mencari jika belum ketemu, pakai bahasa tarzan dengan bilang kepada penjaga masjid: Miiratsun Nabiy. Semoga ditunjukkan oleh Allah tempat itu.

 

***

*) Sedikit catatan diikutip dari blog: pustakakita.wordpress.com

Foto koleksi pribadi

 

Riza Almanfaluthi

@rizaalmanfaluth

12:17 23 Maret 2013    

diunggah pertama kali di http://Islamedia.web.id

    

TIPS BERTOILET DI ARAFAH, MUZDALIFAH, DAN MINA


TIPS BERTOILET DI ARAFAH, MUZDALIFAH, DAN MINA

 

    Calon jamaah haji akan berada di Arafah selama dua hari, di Muzdalifah semalam, di Mina tiga hari, tentunya urusan buang air adalah sesuatu yang penting sekali, oleh karenanya perlu dipahami suasana dan kondisi toilet yang ada di sana. Plus tipsnya. Serius, saya mau cerita tentang yang satu ini.

    Kalau kita membayangkan dua kata: Arab Saudi, maka hal yang terlintas dalam pikiran adalah negara tandus, kering, padang pasir, onta, kurma, Mekkah, dan Madinah. Tapi jangan dikira kalau tandusnya negara itu—yang tentunya kalah jauh dengan ijo royo-royonya Indonesia ini, menyebabkan mereka kekurangan air. Tidak. Bahkan melimpah sekali.

    Selama perjalanan haji tahun 2011 itu terutama di Armina (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), saya sama sekali jarang menjumpai air yang hangat ini mengalir lemah keluar dari kran. Semuanya kencang. Tekanannya tinggi. Sama kalau kita pergi ke toilet di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

*Suasana kamar mandi di Mina

    Air yang keluar kencang ini tentunya menentramkan hati kalau kita mau bersuci ataupun mandi. Meyakinkan saya kalau najis-najis yang ada di badan ataupun di sekitar toilet akan cepat hilang kalau disiram. Mandi dan buang air jadi terbantu. Toilet pun jadi tidak bau.

 

*Toilet di Mina. Lumayan bersih.

    Kita tak bisa membayangkan kalau air yang keluar itu sedikit. Jutaan orang akan mengalami ketidaknyamanan yang luar biasa. Apalagi antrian akan semakin panjang karena orang yang sedang buang hajat itu akan lama memastikan bahwa dirinya sudah suci. Mandi apalagi. Alhamdulillah ini tidak terjadi.

    Saya bersyukur bahwa selama ritual haji yang utama di Armina itu saya tidak mendapatkan kesulitan dalam masalah ini. Karena satu hal juga: saya meminta kepada Allah atas hal yang sepele ini. Saya benar-benar berdoa kepada Allah agar saya dimudahkan segala urusan saya dalam mandi dan bersuci. Enggak perlu antri panjang dan lancar-lancar saja. Kenyataannya memang demikian.

    Dengan modal kesabaran yang sudah dikumpulkan sejak dari tanah air, saya cukup antri sebentar lalu masuk, bersihkan dinding kamar mandi dan lubang pembuangan dengan air yang mengucur deras itu, kemudian mandi. Tentunya saya juga memperhitungkan kapan waktu yang lebih sepinya agar saya bisa bebas, lebih lama serta tidak menzalimi yang lain.

    Perlu diketahui kalau satu toilet atau darul mayah di Armina ini terdiri dari toilet laki-laki dan perempuan. Masing-masing terdiri lebih dari sembilan pintu. Oleh karenanya kita harus tahu kapan waktu sepinya toilet ini. Biasanya kalau jam dua dan tiga pagi. Kalau jam empat pagi sudah mulai antri. Kalau waktu menjelang sholat itu yang antriannya bisa panjang, tiga sampai empat orang berderet ke belakang. Kalau sudah begini, maka toleransi kita perlu dipertajam kalau sudah ada di dalam, tak perlu lama-lama. Seperlunya saja.

    Pada dasarnya kebersihan toilet tergantung para jamaah haji sendiri. Ada yang enggak sabar lalu buang air kecilnya di tempat wudhu. Ini akan membuat najisnya kemana-mana. Ada juga yang menggantungkan, maaf, pakaian dalamnya di tembok-tembok tempat wudhu. Bahkan ada ibu-ibu yang mencuci pakaiannya di tempat wudhu dengan hanya membelitkan kemben sebatas dada—persis mandi di sungai, seperti di tanah airnya saja. Bukan saya yang melihat tapi istri dan ibu-ibu di rombongan kami. Syukurnya juga bukan anggota rombongan atau kloter kami yang melakukan itu.

*Tempat wudhu di Mina

    Itu saja gambaran suasana toilet yang ada di Armina yang dapat saya ceritakan sedikit agar calon jamaah haji dapat mempersiapkan mental dan dirinya. Tentunya kesabaran juga perlu dipupuk karena ada juga yang enggak mau antri untuk bisa mandi ataupun buang hajat. Yang paling penting adalah minta sama Allah untuk dimudahkan dalam segala urusan menyangkut air selama di sana.

Bertoilet di Armina cukup dengan sabar, tahu waktu, tertib mengantri, seperlunya, dan berdoa. Semoga bermanfaat. Semoga keyakinan dalam bersuci menjadi jalan menuju haji yang mabrur. Amin.

**

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11:52 06 Oktober 2012

foto-foto: dokumen pribadi

Pertama kali diunggah di:

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/10/06/tips-bertoilet-di-arafah-muzdalifah-dan-mina/

 

tags: arafah, mina, muzdalifah, mekkah, madinah, toilet, darul mayah, bersuci, arab saudi, thaharah, haji 2011, haji, toilet haji,

    

    
 

 

SIAP-SIAP DISIKUT HULK


SIAP-SIAP DISIKUT HULK

Salah satu doa yang sering kali saya panjatkan saat mau pergi ke tanah suci adalah semoga Allah memberikan teman-teman satu rombongan dan satu kamar yang baik-baik dan menjadikan saya juga teman yang baik buat yang lain. Alhamdulillah terkabul.

    Saya sekamar dengan tiga orang lainnya. Kamar saya ini terletak di lantai 9. Di sebuah flat di sektor 11, di daerah Misfalah-Bakhutmah yang jaraknya lebih dari 2 kilometer dari Masjidil Haram. Saya sebut flat tidak hotel, karena menurut saya tempat yang kami tempati selama 30 hari di Mekkah ini bukan standard hotel. Yang benar-benar standard hotel itu kalau kita menginap di Madinah.

    Ada beberapa cara pergi ke Masjidil Haram dari sektor kami ini. Jalan kaki bisa. Perlu waktu 35 menit jalan cepat untuk sampai ke sana. Atau naik omprengan berupa pick up (mobil bak) dengan harga 2 SAR. Kita bediri kayak kambing di belakang. Saya sarankan jangan naik ini. Karena banyak kejadian jamaah haji yang terjatuh dari mobil.

Atau pilih mobil jenis Colt atau Elf. Harganya sama. Ini cukup aman. Kita masuk dan duduk di dalam mobilnya dan tidak berdiri. Kalau mau menjelang hari hajinya, mobil ini tidak sampai ke tempat terdekat masjid, tetapi paling sampai batas ring road. Mobil berhenti di situ. Karena dilarang masuk oleh polisi sana dan juga jalanan sudah macet, cet. Jadi kita kudu jalan lagi sekitar satu kilometer untuk sampai Masjidil Haram.

    Atau naik bus gratis yang disediakan Pemerintah RI. Tapi ini harus rebutan dengan jamaah haji Indonesia yang lain. Harus sabar juga. Harus bisa jaga hati. Jaga mulut. Karena kalau enggak sabar bisa-bisa terjadi pertengkaran di sini. Dan jangan lupa kalau sudah mendekati hari-hari hajinya, bus tidak disediakan, karena jalanan padat. Kalau tidak salah 5 hari menjelang hari haji mobil bus sudah hilang. Dan mulai disediakan lagi saat 7 hari setelah tanggal 13 Dzulhijjah saat jalanan ke Mekkah sudah mulai berkurang kepadatannya.

    Yang dari Bakhutmah dan Misfalah kalau naik bus gratis Pemerintah RI ini tidak bisa langsung ke tempat dekat Masjidil Haram, tapi cuma mengantarkan kita ke Terminal Bus Kuday. Kita diturunkan di sini. Nah, ke Masjidil Haramnya naik apa? Ya kita naik Bus lagi. Bus yang disediakan oleh Pemerintah Arab Saudi atau maktab atau penyelenggara haji di sana, entah siapa. Bus ini benar-benar sampai di terminal di bawah Menara Jam. Dekat banget dengan Masjidil Haram.

    Kalau kita naik bus dari Kuday, maka kita, jamaah haji Indonesia, akan berhadapan dengan jamaah haji dari Afrika, Turki, Pakistan, dan India. Mereka itu tinggi besar. Baik laki ataupun perempuannya. Siap-siap juga kita disikut dan dilompati oleh orang-orang hitam yang berbadan kekar kayak Hulk itu. Hulk mah warnanya hijau yah…

    Silakan pilih moda transportasi yang mau dipakai. Yang terpenting jaga kesabaran. Ingatlah misi haji yang sedang kita lakukan. Kalau saya sih pilih moda Bus ke Kuday itu. Yang penting lagi adalah pada saat pulangnya. Akan banyak ribuan orang yang berebut bus kalau setelah sholat. Supaya aman kalau mau pulang cepat, maka cari tempat sholat yang dekat dengan terminal. Ketika salam langsung cabut. Atau tunggu setengah jam sampai satu jam setelah sholat. Insya Allah masih masuk di akal rebutan busnya. Saya sering pilih yang kedua. Menunggu saja.

    Biasanya kalau sudah mulai sepi di hari-hari akhir jamaah haji pulang ke tanah air atau mau pergi ke Madinah, supir-supir Bus di Kuday itu akan memuji-muji penumpang Indonesia. “Indonesia hajj bagus…bagus…,” kata mereka sambil angkat jempol. Ujung-ujungnya kalau sudah sampai di tempat tujuan mereka akan mengangkat telunjuk menandakan angka satu.

Mereka minta infak kepada kita satu reyal untuk setiap penumpang. Dan jamaah haji Indonesia terkenal royal serta tidak pelit. Terserah Anda mau kasih atau tidak. Memberi mereka dapat pahala. Tidak memberi juga tidak berdosa. Kebanyakan supirnya berkewarganegaraan Arab tetangga Arab Saudi seperti Yordania, Suriah, Mesir, dan lain-lain. Bukan orang Bengali.

Ohya, ini flat tempat rombongan kami menginap selama di Mekkah pada musim haji 2011.

(Flat kami dilihat dari satelit di luar angkasa, maksudnya pakai google maps)

Syukurnya flat kami ini habis di renovasi. Masih bagus. Tidak kumuh. Tidak gelap. Walau teknologi liftnya tertinggal jauh dengan yang ada di Indonesia. Dan gambar di bawah ini adalah pintu gerbang flat kami.

 

(Suasana saat mau pergi ke Madinah)

    Kamar kami diisi oleh 4 orang. Semua masih dalam satu regu.

(Ini suasana kamar kami sesaat setelah packing dan tinggal berangkat saja ke Madinah)

Dan gambar di bawah ini adalah ranjang saya yang ditempati selama 30 hari di Makkah Al Mukarramah. Tempat saya biasa mimpi dan ngangenin banyak orang di tanah air. Sudah disediakan sprei, bantal dengan sarungnya, dan satu lembar selimut. Kok ada selimut? Bukankah suasana di sana panas? Panas sih panas. Tapi kalau di dalam mah pakai AC. Dingin juga kan? AC-nya kalah canggih dengan AC yang di Indonesia. Coba lihat.

Berikut teman-teman baik saya yang sekamar itu:

Pak Rasyid dan Ibu sedang makan jagung di suatu senja di Jeddah, depan Masjid Terapung. Orang pertama dalam rombongan kami yang mencium hajar aswad. Pengusaha pertambangan yang bersahaja.


Abah Imay dan ibu. PNS DKI dan pengusaha pakaian jadi di Kota Bogor. Orangnya lucu dan humoris.

Dan Pak Tommy, ketua regu kami, alumnus ITB.
Maaf Pak Tommy, enggak saya crop bersama ibu karena pixel fotonya kegedean. J

    Sering kali kalau saya ingat Makkah alMukarramah saya jadi ingat mereka. Empat puluh hari menjadi saksi perjalanan persaudaraan haji kami. Tentunya saya berharap bahwa walau kami berpisah setelah perjalanan itu, Allah akan kumpulkan kami di surganya Allah swt. Ini harapan saya terbesar. Amin.

    Yakin juga ya…kalau perjalanan ke sana, ke dua kota bersejarah itu, adalah perjalanan yang paling tidak bisa dilupakan. Ngangenin…seperti aku yang selalu ngangenin kamu…cie…cie…cie…cie…cie… adaw…adaw…adaw.

    Maka segeralah ke sana.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21:44 01 Juli 2012

 

Tags: makkah, madinah, rasyid, imay, tommy, masjid terapung, jeddah, kuday, bakhutmah, misfalah, makkah almukarramah, hulk, cerita haji, india, pakistan, bengali, afrika, turki, Yordania, Suriah, Mesir

MIMPI ORANG PAJAK


MIMPI ORANG PAJAK

 

Lebih dari empat setengah bulan sudah kami meninggalkan Makkah dan Madinah. Dua kota yang kalau disebut sama teman-teman yang mau pergi haji atau umroh selalu membuat mata saya berkaca-kaca dan hati merindu tidak kepalang. Hanya ratusan foto yang tersimpan dalam komputer menjadi pelipur lara. Atau dengan sesekali menyaksikan tayangan langsung di
http://live.gph.gov.sa/index.htm#.TvYOvVJIZ0t

*Foto sholat dzuhur 21 April 2012

Subhanallah pas saya copy paste alamat situs ini, di masjidil haram sedang adzan dzuhur. Allah…Allah…Allah… Sudut-sudut masjidil haram seperti lekat di depan mata. Ingin sekali untuk kembali ke sana. Saya jadi ingat sebuah tema diskusi dalam sebuah forum, judulnya: ini mimpiku dan mana mimpimu?

Maka hari ini kalau boleh saya bermimpi, kiranya saya bisa setiap saat pergi ke sana dengan mudah. Seperti teman-teman kantor kalau mau pulang kampung naik kereta atau pesawat di setiap bulannya. Jadi kalau iman lagi turun, segera rihlah naik pesawat jet pribadi, pergi hari jum’at sepulang dari kantor menuju Bandara Soekarno Hatta. Kemudian pakai kain ihram di pesawat dan berniat umrah saat tiba di miqat.

Tiba di Jeddah Sabtu pagi. Lalu naik Mercedes yang sudah siap menuju Makkah. Tiba di hotel terdekat dengan Masjidil Haram lalu istirahat sebentar. Setelah itu segera berangkat ke masjid untuk memulai thawaf. Putar-putar tujuh kali. Lalu berdo’a yang banyak di Multazam. Sholat sunnah dua rakaat dan minum air zam-zam. Sesudah itu pergi sa’i dari shofa menuju marwah dan sebaliknya sebanyak tujuh kali. Selesai sudah rangkaian umrah.

*Lorong masjidil haram 18 November 2011

Shalat maghrib, isya, dan shubuh menjadi kesempatan terbaik mendengarkan recite atau bacaan surat imam yang merdu itu. Kyai Haji Abdurrahman Assudais atau Maher bisa jadi yang memimpin sholat itu. Tak bisa bohong kalau saya lebih menyukai bacaan Maher Almu’aqli.

Awalnya saya tak tahu bacaan indah milik siapa ini. Di masjid depan penginapan di Makkah saya pernah dengar bacaan itu. Menyentuh sekali. Tetapi cuma sekali mendengarnya. Lalu waktu sepulang dari sholat dzuhur di Masjid Nabawi terdengar keras banget bacaan yang sama dari toko yang jual buku, kaset, dan cd. Saya datangi toko itu dan menanyakan kepada penjaga toko yang orang Bangla siapa pemilik bacaan ini. Barulah saya tahu kalau ia adalah Maher Almu’aqli, seorang Imam Masjidil Haram dan Nabawi.

Klik saja kalau mau mendengarkan bacaan alfatihahnya di sini. Atau kalau mau lengkap 30 juz unduh saja di sini. Yang pernah ke dua tempat suci itu pasti merindukan bacaan surat para imam itu.

Mari kita lanjutkan mimpinya. Sepertiga malam terakhir diisi dengan qiyamullail dan menyempatkan diri untuk mencium hajar aswad serta sholat dua rakaat di Hijr Ismail. Lalu setelah shubuh, baca alma’tsurat, sholat syuruq, dan dhuha. Sarapan di hotel dan jalan-jalan di menara jam yang tinggi itu. Jam sebelas siap-siap packing karena ba’da dhuhur kembali menuju Jeddah.

Adzan dzuhur berkumandang, segera pergi ke masjid, berdoa yang banyak minta ampunan Allah dan keselamatan umat Islam dari fitnah dunia. Sempatkan diri thawaf setelah shalat dhuhur. Dan jam setengah dua siang sudah tiba di hotel lagi, makan siang lalu cabut.

Sampai di Jeddah sekitar jam setengah empat sore. Naik pesawat jet lagi dan menyusuri 9 jam perjalanan menuju Jakarta dengan istirahat. Tiba di Soekarno Hatta senin dini hari. Paginya sudah ngantor
ngadepin Pemohon Banding dan Penggugat lagi di meja hijau Pengadilan Pajak. Selesai sudah.

Terbangun dari mimpi lalu sadar kalau diri ini hanya orang pajak. Tapi memangnya tak boleh orang pajak punya mimpi-mimpi? Mengutip perkataan teman dari Hasan Al Banna: “Mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok.” Insya Allah bisa. Jangan takut untuk bermimpi. Allah mahakaya, sudah pernahkah kita minta apa saja kepadaNya?

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ayo bermimpilah

20:22 21 April 2012

    

Tags: Maher almu’aqli, makkah, madinah, pengadilan pajak, hasan al banna, hajar aswad, hijr ismail, zam zam, Jeddah, Sudais, Abdurrahman Assudais, bandara soekarno hatta, nabawi, masjidil haram

 

Panggil Saya Pak Haji


Panggil Saya Pak Haji

http://www.islamedia.web.id/2012/01/panggil-saya-pak-haji.html


Islamedia
“Pak Haji..!” Seseorang berteriak. Entah kepada siapa. Saya tetap berjalan. Ternyata teriakan itu semakin kencang. Terpaksa menoleh dan terlihat teman serombongan memanggil-manggil saya. Oh, dia memanggil saya rupanya. Ketika di Mekkah dan Madinah memang ada sesuatu yang baru dan aneh didengar telinga saya. Panggilan Haji itu. Ya panggilan yang biasa disematkan kepada orang yang telah melaksanakan haji. Saya tidak terbiasa.

Walau sebelum berangkat pergi haji, ada yang selalu memanggil saya dengan sebutan itu di kantor, saya anggap sebagai sebuah doa. Begitu pula saat seorang bapak pengatur lalu lintas di pintu keluar komplek akan berkata: “Terima kasih Pak Haji,” ketika ada uang seribu rupiah berpindah ke tangannya, saya anggap sebagai sebuah doa. Alhamdulillah doa mereka terkabul, saya bisa pergi haji.

“Bu..! Bu…! Bu Rahmi…!” seseorang memanggil kepada ibu-ibu itu. Ibu itu tidak menengok sama sekali. “Bu Haji! Bu Haji Rahmi!” perempuan yang bernama Rahmi itu berhenti dan menengok dengan senyum yang begitu sumringah dan berkata kepada yang memanggilnya, “Nah gitu dong, Haji itu mahal.” Aih… segitunya. Tetapi itu gurauan yang sering didengar saat berangkat haji. Kepada yang punya nama Rahmi mohon jangan tersinggung. Ini sekadar contoh.

Kenyataannya? Ada juga memang yang tidak menengok kalau tidak dipanggil dengan sebutan haji di depan namanya. Wah…wah…wah…Insya Allah saya tidak seperti itu. Tetapi saya selalu berusaha memanggil seseorang, tetangga ataupun teman yang telah pergi haji dengan sebutan itu. Bukan untuk apa-apa tetapi sebagai bentuk penghormatan saya kepadanya. Tidak berniat untuk membuatnya ujub atau merasa riya’dan sum’ah.

Jikalau ada seorang ustadz dan ia pun telah berhaji, saya lebih berat memanggilnya dengan sebutan ustadz saja, karena menurut saya panggilan ustadz itu lebih berbobot daripada sebutan haji. Menandakan ia orang yang alim dan berilmu. Tidak semua orang yang haji berilmu bahkan kita tahu di pemberitaan kalau 70% dari jama’ah haji Indonesia tidak atau kurang tahu tentang manasik haji.

Walaupun demikian mengapa sebutan haji itu saya sematkan pada mereka sebagai bentuk penghormatan? Karena bagi saya, secara zahir mereka telah benar-benar mengeluarkan pengorbanan yang begitu banyak untuk bisa ke tanah suci. Mulai dari harta, diri mereka, dan keluarga. Ibadah haji itu berat. Perlu tenaga fisik yang prima untuk menyelesaikannya dengan penuh kekhusu’an. Banyak cobaannya. Terutama ujian kesabaran sampai ambang batasnya. Saya merasakannya sendiri.

Maka tak perlu heran, kalau di zaman penjajahan dulu atau sebelum era transportasi modern seperti sekarang ini, orang yang pergi haji dihormati sekali karena untuk perjalanannya saja sampai butuh waktu berbulan-bulan lamanya bahkan sampai hitungan tahun. Entah dengan naik unta, kuda, atau kapal laut. Penjajah Belanda pun sering mewaspadai orang yang telah pergi haji karena seringkali mereka adalah pionir kebangkitan perlawanan terhadap kepentingan kolonial.

“Enyak, memanggil saya dengan Pak Haji atau enggak, enggak ada bedanya Nyak, enggak berubah Insya Allah,” kata saya pada Enyak yang telah lama bekerja di keluarga kami. “Ah, enggak Pak Haji. Pamali,” katanya.

“Orang zaman sekarang pada bangga dengan gelar keduniaan. Doktor, profesor, sarjana berderet di depan dan belakang namanya tapi enggan dengan gelar atau panggilan haji,” kata salah seorang tetangga kampung sebelah yang bertamu di rumah kami. Ia belum pergi haji dan tetap memaksa saya dengan sebutan Pak Haji. Memang di kampung sebelah yang mayoritas Betawi itu panggilan haji terasa begitu sakral. “Enggak semua orang bisa pergi haji,’ lanjutnya lagi. Terserah Bapak sajalah. Yang penting saya tidak memaksa Bapak untuk memanggil saya dengan sebutan itu.

Sebutan dan panggilan itu bagi saya—dan entah buat orang lain—memang rawan untuk terjadinya ‘ujub, riya’, dan sum’ah. Tetapi saya tentunya tidak bisa memaksa mereka untuk menghentikan sebutan itu. Karena semua itu kembali kepada diri masing-masing. Sering-seringlah istighfar ketika memang ada terselip itu saat kita tidak dipanggil dengan sebutan Pak atau Bu Haji.

Makanya ada yang mengetatkan bahwa panggilan atau gelaran haji itu bid’ah. Bagi saya tak masalah. Artinya sampai mewajibkan orang lain untuk memanggil dirinya dengan sebutan itu, memang bisa terjerumus ke arah itu. Tetapi enggak bisa dong ketika ada yang memanggil saya Pak Haji lalu mereka dikatakan sebagai ahlul bid’ah. Waduh ini keterlaluan banget deh. Berlebihan.

Sebutan haji memang enggak ada di zaman nabi dan para sahabat. Tetapi sering kali kita menyebut-nyebut seseorang dengan sebutan syaikh, hujjatul Islam, ustadz, al hafidz, padahal di zaman nabi dan para sahabat sebutan itu pun juga tidak ada. Enggak ada tuh Ustadz Abu Bakar Assyidiq, Syaikh Umar bin Khatthab, Hujjatul Islam Utsman bin ‘Affan, Ali Al Hafidz, padahal di zaman sekarang banyak disematkan juga sebutan itu kepada orang-orang seperti Syaikh Fauzan, Ustadz Firanda, Hujjatul Islam Ibnu Taimiyyah, dan Assudais Al Hafidz.

Kalau ada yang mengatakan bahwa panggilan haji berkaitan dengan agama maka panggilan syaikh, hujjatul Islam, ustadz, dan al hafidz juga berkaitan dengan agama pula. Dan jika memang panggilan haji itu adalah laqab-laqab yang tidak syar’i dan bertentangan dengan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, maka saya bisa saja mengatakan bahwa sebutan syaikh, hujjatul islam, ustadz, al hafidz juga adalah laqab-laqab yang tidak syar’i dan bertentangan dengan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Padahal masalah keikhlasan adalah masalah batin. Saya tak tahu apa isi terdalam di hati mereka.

Bahkan panggilan yang berkaitan dunia dan tidak ada kaitannya dengan agama sama sekali, bisa jatuh pada hal yang haram jika hanya akan membuat diri kita kurang ikhlas dalam beramal, timbul rasa sombong dan ‘ujub.

“Za, bukan mereka yang menghendaki sebutan syaikh, ustadz, hujjatul islam, al hafidz, tetapi para pengikut atau umatnya yang menghormati mereka,” mungkin ada orang yang akan berkata demikian. Jika demikian mengapa khusnudzan itu juga tidak kita berikan kepada orang-orang yang telah pergi haji? Bukan mereka, Pak Haji dan Bu Haji, yang menghendaki sebutan haji itu tetapi masyarakat dan tetangga yang menghormati mereka.

Bagi saya, masalahnya bukan pada bahwa gelaran haji itu berkaitan dengan masalah agama atau dunia, atau bukan pula bahwa hal itu ada di zaman nabi dan para sahabat atau tidak, tetapi akankah mengakibatkan terhapusnya amal-amal kita atau enggak?

Makanya betapa banyak juga dari mereka, mengutip Muhammad Arifin, Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur’an, memilih untuk tidak menggunakan gelar-gelar kesarjanaan, keulamaan, maupun Haji/Hajjah, demi menghindari riya’ dan kesombongan. Dan hanya menggunakannya pada saat yang diperlukan misalnya untuk kepentingan administrasi saja. Sehingga tidak serta merta kita latah mengatakan mereka yang menyematkan semua gelaran itu sebagai ahlul bid’ah. Hanya Allah dan diri mereka yang dipanggil atau menyematkan dengan sebutan itu, yang tahu apakah mereka riya’ atau tidak.

Bagi saya, jika saya dipanggil Pak Haji, anggap saja sebagai sebuah peringatan apakah saya memang layak untuk disebut itu, jika tingkah laku saya jauh dari apa yang diharapkan oleh agama ini.

Bagi saya, jika saya dipanggil Pak Haji, anggap saja sebagai sebuah pembatas atau pengekang, untuk tidak melakukan apa-apa yang dilarang oleh agama ini. Kalau ingat satu hal ini maka saya jadi malu. Malu banget. Tak layak sekali.

Bagi saya, jika saya dipanggil Pak Haji, anggap saja sebagai sebuah muhasabah, sarana introspeksi diri, apakah haji saya diterima oleh Allah? Saya tentu berharap sekali demikian. Dan tentu pula panggilan itu tak sebanding dengan penerimaan Allah.

Bagi saya, jika saya baru nengok jika dipanggil Pak Haji atau berasa gimana gitu kalau tidak dipanggil hanya dengan nama saja, maka cukup alarm itu sebagai tanda riya’. Semoga saya masih bisa diberikan kesempatan untuk mengucapkan istighfar pada saat itu juga.

Bagi saya, lebih memilih tidak dipanggil Pak Haji untuk menjaga semua itu. Tetapi eits…jangan-jangan kalimat pertama di paragraf ini pun layak untuk di-istighfar-i, hanya sekadar supaya bisa disebut orang yang tawadhu atau rendah hati. Aduhhh… kemana-mana salah. Kemana-mana setan mengintip. Lindungi saya ya Allah.

*

Kertas tanda terima peminjaman dokumen itu ada di depan saya. Siap untuk diteken. Teman saya sudah berdiri menunggu untuk menerima kertas itu. Saya tanda tangani, saya beri tanggal, saya beri nama: Riza Almanfaluthi di bawah tanda tangan. Saya berhenti sejenak, terus bertanya, “Min, perlu saya tulis H di depan nama saya atau tidak nih?” What the, hahaha…

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11.59, 23 Januari 2011

Pak Haji, Pak Haji…

Dimuat pertama kali untuk islamedia.web.id

BROTOSENO, PAK POLISI, DAN MEREKA


BROTOSENO, PAK POLISI, DAN MEREKA

http://sosok.kompasiana.com/2011/12/30/brotoseno-pak-polisi-dan-mereka/

 

Sesaat menunggu iqamat ashar di Masjid Shalahuddin terdengar suara panggilan dari belakang, “Mas, sehat Mas?” Belum sempat menjawab, teman saya ini berkata lagi, “Mas, kata teman saya waktu ngeliat fotonya Broto, langsung bilang kalau wajah polisi itu mirip sama Mas Riza.” Saya langsung cengengesan sambil membayangkan foto Angie lagi berdua sama Kompol Brotoseno yang sedang hangat di portal berita (29/12).

    Mirip gimana? Mirip apanya dengan teman dekat politisi Partai Demokrat itu? Jauh be-eng.Terlalu narsis kalau bilang saya lebih ganteng daripada Polisi perwira itu. Terlalu rendah diri kalau saya berkata sebaliknya. Lihat saja foto di bawah ini, masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya. Yang pasti saya bukan orang yang berada di samping Angie.

    Ingat Brotoseno jadi ingat kejadian waktu di Madinah. Waktu itu sepulang dari shalat Isya di Masjid Nabawi. Saya sendirian bergegas menuju hotel yang jaraknya tak jauh dari masjid. Kurang 100 meter dari hotel tiba-tiba saya disapa oleh dua orang ibu-ibu yang ternyata sedang tersesat. Mereka tak tahu jalan pulang ke hotel mereka. Logat yang kental mengisyaratkan mereka berasal dari daerah Jawa Timur.

    Mereka minta tolong untuk diantarkan ke hotel. Tapi sayangnya ketika saya tanya nama hotelnya mereka tak tahu. Saya minta kepada salah satu dari ibu-ibu itu untuk kembali mengingat jalan pada waktu mereka berangkat. Mereka menyerah. Ya sudah saya jalan pelan-pelan dengan mereka untuk sama-sama mencari hotel itu. Saya tak jadi pulang segera.

    Di saat itu, di saat saya sedang bertanya arah kepada orang-orang, tiba-tiba muncul sosok laki-laki separuh baya dan tampak muda, berbaju gamis warna putih dengan peci warna senada memotong pembicaraan kami. “Tersesat ya Bu? Tenang saja Bu. Ada saya. Saya antar ke maktabnya. Maktab ibu nomor berapa?”

    Kewaspadaan saya langsung jalan, ini kok orang baik banget tiba-tiba langsung menawarkan diri dan main tembak mau antar segala. Apalagi dia bilang tentang maktab, padahal sepengetahuansaya kalau istilah maktab itu adanya di Mekkah, bukan di Madinah. Kalau di Madinah jamaah haji Indonesia tidak dibagi berdasarkan maktab tetapi sektor oleh muassasah. Saya terus terang curiga dan langsung bertanya padanya tanpa tedeng aling-aling, “Tunggu dulu Pak, Bapak ini siapa?”

    “Saya petugas. Di sini saya sudah biasa nganterin orang tersesat,” jawabnya. Dia panjang lebar menjelaskan siapa dirinya dan tentu tidak lupa menyebutkan namanya. Tapi saya lupa dialog tepatnya. Bukan penjelasan itu yang membuat saya tiba-tiba langsung percaya. Dia bilang kalau dia adalah polisi, maksudnya anggota Kepolisian Republik Indonesia yang sedang berhaji. Beneran, saya langsung percaya begitu. Makanya saya memutuskan untuk menitipkan mereka kepada Pak Polisi, “Bu, saya tinggal ya Bu, Ini bapak Polisi. Bapak ini yang akan nganterin ibu ke petugas haji Indonesia.”

    Ibu-ibu itu bukannya senang karena mau ditolong sama Pak Polisi, malah ketakutan dan langsung memegang tangan saya, sambil berbisik pakai bahasa Jawa, terjemahannya begini, “Sudah Mas, saya pokoknya ikut sama kamu saja. Saya takut. Saya takut sama orang Arab.” Hehehehe, kebetulan memang Pak Polisi itu punya wajah Arab. Polisi itu pasrah saja dia dicurigain sama bangsa sendiri. Saya pikir dia jadi korban stigmatisasi yang selama ini diceritakan kepada para jamaah Haji Indonesia tentang orang Arab, yang entah dari mana sumber asal kisah itu.

    Akhirnya saya mengambil jalan tengah dengan mengikuti bapak Polisi itu ke Pos Sektor. Nanti dari sana ibu-ibu itu akan diantar ke hotel oleh petugas haji yang bertugas di sana. Sepanjang perjalanan menuju Pos, Pak Polisi geleng-geleng kepala saja mengingat sampai detik itu mereka tak benar-benar percaya sama dia. Salah satu ibu itu memegang erat ikat pinggang saya. Benar-benar ketakutan dan was-was kalau-kalau saya meninggalkan mereka. Padahal saya tak henti-hentinya juga meminta supaya ibu-ibu itu percaya sama Pak Polisi.

“Kenapa Ibu kok percayanya sama saya, padahal ibu enggak kenal saya?” tanya saya. “Sampeyan kan pakai batik, wislah pokoke aku percaya,” jawabnya. Kebetulan memang pada saat itu saya memakai batik seragam jamaah haji Indonesia. Ibu yang satunya lagi tercecer di belakang sambil mencari-cari wajah dari banyak orang yang sedang lalu lalang. Mungkin ada yang dikenal. Tapi ia gagal, sampai Pak Polisi itu sedikit jengkel dan setengah berteriak, “Sudah Ibu, percaya saja sama saya!”

    Menuju hotel tempat pos sektor itu berada, saya sempatkan berbincang-bincang dengan Pak Polisi. Ternyata ia seorang ajun komisaris polisi (waktu itu dia bilangnya kapten) yang sedang bertugas di daerah Kalimantan. Jabatannya saya lupa, antara kasatserse atau kasat intel. Dan memang betul, ini yang ia yang sadari, kalau ia punya garis keturunan Arab Tanah abang.

Obrolan kami terputus karena kami sudah sampai di depan hotel tempat pos sektor itu berada. Lobi hotel penuh dengan orang Turki. Kami naik ke mezanin hotel dan benar di sana ada bendera Indonesia dan spanduk tanda pos sektor. Yang jauh melegakan adalah tampak pula seorang petugas haji yang sedang jaga di sana. Kata Pak Polisi yang mengantar kami, petugas haji itu juga seorang polisi.

Mengetahui mereka telah diantar ke pos sektor dan ketemu sama petugas haji yang memakai baju biru, ibu-ibu mengucapkan terima kasih dan minta maaf sama Pak Polisi karena telah curiga berat.

Kemudian sudah saatnya Pak Polisi itu pergi dan meninggalkan kami. Selanjutnya petugas haji itu yang akan mengantar ibu-ibu itu ke hotel mereka yang ternyata dekat dengan pos sektor. Anehnya lagi, ketika saya mau meninggalkan mereka, mereka tetap bersikeras supaya saya tetap menemani mereka hingga ke hotel. Aduhai, mereka juga masih tak percaya sama Pak Petugas Haji.

Tidak sampai 100 meter dari pos sektor, kami telah tiba. Barulah terlihat wajah mereka dihiasi senyuman. Ada kelegaan yang tampak. Saya turut senang juga. Sebelum berpisah, saya minta izin memfoto mereka sambil berpesan, “ingat-ingat jalan, ta iye.”

*Ibu Siah dan Ibu Ramiah di depan hotel (26/11).

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

    00.19 30 Desember 2011

Tags: kalimantan, akp, brotoseno, angie, angelina sondakh, masjid shalahuddin, madinah, kompol, haji

 

SUMPAH BEIB, JANGAN SAMPAI HILANG


SUMPAH BEIB, JANGAN SAMPAI HILANG

“Wallet! Wallet..!!” teriak orang Malaysia itu sambil memandang sekeliling orang-orang thawaf yang ada di sekitarnya. Saya yang berada persis di belakangnya menyangka bahwa ia telah kehilangan dompetnya. Benar, ia kecopetan. Hah, di Masjidil Haram ada copet? Tak semua orang yang ada di sana berniat ibadah. Itu saja jawabnya kalau ada pertanyaan mengapa.

    Yang jadi pertanyaan juga mengapa ke Masjidil Haram bawa dompet? Dompet penting untuk bawa duit? Tidak penting sebenarnya karena kita tak perlu bawa uang banyak-banyak. Paling banter cuma 50 Real. Dan itu bisa diselipkan di mana saja. Di kantong kaos kangguru, saku celana, saku kemeja, atau tempat tersembunyi lainnya.

Dompet penting juga untuk menyimpan tanda pengenal dan kartu-kartu penting lainnya? Enggak juga. Sebelum berangkat ke tanah suci saya sudah menyortir apa saja yang wajib ada di dalam dompet. Dan ternyata cuma KTP dan satu ATM saja. SIM tidak perlu di bawa ke sana. Setelah itu dompet saya tipisnya minta ampun.

Karena tidak perlu bawa uang banyak-banyak, juga dikarenakan KTP kita tidak berlaku di sana, pun karena rawan hilang, maka selama ini saya tidak pernah bawa dompet ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Cukup saya simpan dalam kopor besar dan baru saya tengok kembali setelah tiba di tanah air.

Lalu tanda pengenal apa yang berlaku atau penting buat kita di sana? Kalau dihitung-hitung bisa ada sampai tujuh tanda pengenal yang menunjukkan identitas dan alamat kita selama di Makkah ataupun di Madinah.

Yang pertama dan terpenting sudah barang tentu adalah Paspor. Karena ini dokumen paling penting buat Jama’ah Haji Indonesia maka paspor ini akan disimpan oleh pengurus maktab di Makkah atau muassasah di Madinah. Kita sudah tidak pegang paspor lagi sewaktu kita naik ke bus yang akan mengantarkan kita ke pondokan atau hotel dari Bandara King Abdul Aziz, Jeddah atau Bandar Udara Madinah. So, selama kita di Makkah ataupun di Madinah kita tidak pegang paspor sama sekali. Menurut saya metode yang dilakukan oleh maktab ataupun muassasah ini sudah tepat untuk mengantisipasi hilangnya paspor oleh jamaah haji. Karena peluang hilang dokumen ini sangatlah besar.

*Paspor

*Beberapa identitas yang harus dibawa pada saat di Makkah

Setelah paspor ada kartu tanda pengenal lain yang warnanya coklat dan ada foto kita. Ini kita dapatkan dengan menyobek lembar A Dokumen Administrasi Perjalanan Ibadah Haji yang ada di selipan buku paspor. Setelah disobek nanti oleh petugas embarkasi, kita diminta untuk menuliskan nama daerah tempat pondokan berada dan nomor maktab. Lihat sudut kiri atas lembar coklat pada foto di atas. Ada tulisan tangan saya. Setelah disobek, segera simpan kartu itu di kantong depan tas haji kecil kita.

*Buku Dokumen Administrasi Perjalanan Ibadah Haji (DAPIH)

Identitas lainnya adalah gelang besi yang diberikan kepada jamaah haji pada saat di embarkasi sebelum keberangkatan menuju bandar udara. Gelang ini adalah gelang termahal di dunia. Harganya senilai biaya ONH (ongkos naik haji) kita. Di gelang itu sudah tercetak nama , tahun, nomor tempat duduk pesawat, nomor kloter, nomor paspor, tulisan haji Indonesia dalam bahasa Arab , bendera negara, dan lambang negara kita.

Gelang ini jangan sampai hilang karena sangat penting untuk menunjukkan berapa nomor kloter kita. Bagi kita yang usia muda mungkin gampang untuk mengingat nomor kloter tetapi betapa banyak jama’ah haji Indonesia usia lanjut yang tidak mengerti baca tulis, tak bisa berbahasa Indonesia, dan mungkin penglihatannya kurang tajam. Bagaimana kalau mereka tersasar? Maka itulah gunanya gelang, oleh karenanya gelang itu harus dipakai ke mana-mana. Saya benar-benar mencopotnya ketika sampai di rumah di Citayam.

Yang ketiga adalah gelang karet yang diberikan oleh pengurus Maktab. Gelang ini diberikan pada saat pertama kali sampai di kota Mekkah. Jadi sebelum kita turun ke pondokan atau hotel, bus dari Madinah atau dari Jeddah kudu mampir dulu ke kantor Maktab.

Warna gelang kami satu kloter adalah biru muda bertuliskan huruf Arab dan ada angka latinnya juga. Apakah semua gelang orang Indonesia berwarna yang sama? Saya tak tahu. Tak soal warnanya yang terpenting gelang ini penting banget untuk menunjukkan nomor maktab kita. Jadi jangan dilepas juga ini gelang. Sayangnya tulisan yang ada di gelang karet itu mudah luntur.

Selain gelang karet, oleh pengurus Maktab diberikan juga kartu tanda pengenal yang dilaminasi dan dikasih peniti. Peniti ini gunanya agar kartu tanda pengenal itu bisa disematkan di baju atau di mana gitu. Tapi saya sarankan, benar-benar saya sarankan, kalau pakai peniti kartu tanda pengenal itu juga rawan hilang, oleh karenanya simpan saja di kantong bagian luar dari tas haji kecil yang selalu dibawa ke mana-mana itu.

*Bagian belakang kartu tanda pengenal.

Dan sumpah Beib, Demi Allah, jangan sampai hilang ini kartu. Jangan sampai ketinggalan di pondokan atau hotel kalau mau pergi ke Masjidil Haram. Karena kartu ini menunjukkan daerah tempat maktab atau pondokan atau hotel kita berada. Di kartu saya ada tulisan Arab yang bertuliskan Almisfalah Bakhutmah, serta nomor maktab, dan nomor rumah jama’ah. Setiap pondokan atau hotel buat jamaah haji Indonesia selalu disebut sebagai Rumah Jama’ah. Dan setiap rumah jama’ah ada nomor-nomornya. Nomor rumah jama’ah itu selalu terpampang jelas di neon box yang ada di depan pondokan atau hotel.

Bakhutmah adalah nama daerah tempat rumah jama’ah saya berada. Sekitar dua kiloan dari Masjidil Haram. Rumah Jama’ah saya bernomor 1128. Empat digit nomor ini punya arti. Dua digit pertama adalan nomor sektor dan dua digit terakhir adalah nomor urut rumah jama’ah yang berada di sektor tersebut. Kalau ada nomor rumah jama’ah 917, berarti sektor 9 nomor 17. Tapi tak penting tahu detil seperti ini yang penting adalah ingat betul nomor rumah jama’ahnya.

Seringkali saya mengantar orang yang tersasar dan yang paling sulit ditemukan pondokan mereka adalah mereka yang enggak bawa kartu identitas itu dan sama sekali tak ingat atau tak tahu nomor rumah jama’ahnya. So, kartu itu memudahkan banget buat orang yang mau bantuin kita atau pada saat kita mau bantuin orang lain yang sedang tersasar. Ingat jangan sampai hilang. Atau jika memang tak butuh kartu itu tajamkan ingatan Anda, ingatan adik, ingatan kakak, ingatan orang tua, ingatan kakek-nenek, dan ingatan seluruh kerabat Anda yang sedang pergi haji dan berada di Mekkah setajam memori prosesor tercanggih saat ini agar tak lupa.

Ohya jangan juga untuk dilupakan adalah di lantai berapa kamar kita berada dan nomor kamar kita. Sayangnya ini tak dapat kita ketahui di kartu tanda pengenal yang diberikan maktab. Ingatlah-ingatlah atau kalau kita punya ingatan pendek, segera tulis di selembar kertas dan taruh di kantung depan tas kecil. Karena betapa banyak dari jama’ah haji, terutama yang berusia lanjut yang lupa lantai dan di nomor kamar berapa dia tinggal. Perlu diketahui yah, kalau dalam satu hotel itu tidak semua penghuninya mereka yang berada dalam satu kloter yang sama. Ada beberapa juga kloter lain di sana. Makanya kalau tidak ingat-ingat betul, bisa tersesat di hotel sendiri. Betul begitu omsqu?

*Ini adalah pondokan kami. Saat-saat keberangkatan menuju Madinah tanggal 25 November 2011. Di sebelah pintu gerbang pondokan ada yang jual eskrim, sayang saya dari awal sampai akhir tak pernah bisa mencicipi es krim itu. Tak berani. Batuk…uhuk…uhuk…

Nah itu baru di Mekkah, ketika kita baru sampai di Madinah, kita akan diberi dua tanda pengenal lagi. Satu diberikan oleh pihak Muassasah dan satunya lagi diberikan oleh pihak hotel.

  • Kartu Identitas

Terus terang saja kartu yang diberikan pihak muassasah ini pada saya kurang fungsinya. Saya tak tahu kegunaannya apa. Di balik kartu itu juga yang ada cuma informasi tentang muassasah saja. Pakai bahasa Arab lagi.

*Kartu yang diberikan pihak muassasah di Madinah.

Menurut saya yang mesti kita harus punya dan penting dimiliki adalah kartu identitas yang diberikan pihak hotel berupa kartu nama hotel. Pada waktu kami datang pertama kali ke hotel kami, Burju Badri Al Muhammadiyah, pihak hotel menyediakan kartu nama ini dan membagikannya kepada jamaah haji. Nah masalahnya tidak semua hotel begini. So, berinisiatiflah untuk meminta kartu nama hotel kepada pihak hotel.

Jika tidak ada, maka catatlah nama hotel itu dan ingat-ingat betul. Karena lagi-lagi banyak dari jamaah haji Indonesia yang tersasar di Madinah itu adalah mereka yang tidak bawa kartu nama hotel bahkan sama sekali tidak tahu nama hotelnya. Saking semangat ibadah mengejar arba’in, maka pertama kali masuk Masjid Nabawi dengan penuh rasa percaya diri jadi tidak lihat-lihat jalan. Baru sadar kalau sudah keluar pintu. Tadi arahnya kemana yah? Nah loh.

Pada akhirnya apakah menjamin dengan membawa enam atau tujuh tanda pengenal ini kita tidak tersasar? Hanya Allah yang tahu dan berkehendak. Yang penting kita sudah berikhtiar. Jangan lupa untuk tidak bawa dompet.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

23.33 24 Desember 2011-12-24

Tags: burju badri al muhammadiyah, makkah, madinah, masjidil haram, masjid nabawi, al misfalah, bakhutmah, rumah jama’ah, kloter, dapih, dokumen administrasi perjalanan ibadah haji, maktab, muassasah, king abdul aziz, king ‘abdul ‘aziz, malik abdul aziz, malik ‘abdul ‘aziz, onh, ongkos naik haji, biaya perjalanan ibadah haji, bpih, citayam, jeddah