KITAB WARISAN NABI


KITAB WARISAN NABI

Jika Anda berkesempatan untuk ziarah ke makam Nabi Muhammad saw di Masjid Nabawi, Madinah, entah pada saat umrah ataupun di musim haji, maka saya berpesan kepada Anda untuk bisa mendapatkan buku bagus yang satu ini.

    Banyak sekali memang buku yang dibagikan secara gratis di sana oleh pengelola Masjid Nabawi. Sebagian besar buku itu diterbitkan dengan tema-tema mazhab resmi Kerajaan Saudi Arabia. Dan menurut saya buku inilah yang terbagus. Saya rekomendasikan kepada Anda buku yang berjudul Miiraatsun Nabiy: Bi Lughatil Indunaysiyah ini. Artinya:
Warisan Nabi: Dalam Bahasa Indonesia.

    Kitab itu ditulis oleh ‘Ubaid As-Sindi, diterjemahkan oleh Abu Yusuf, dengan penyunting Abu Sulaiman. Judul terjemahannya adalah Fadhailul A’mal Menurut Sunnah Nabi. Ya, memang buku ini merupakan kumpulan hadits-hadit Nabi Saw bertemakan fadhailul a’mal dengan derajat shahih, minimal hasan.

    Buku dengan jumlah halaman 104 ini terbagi dalam 149 subbab ringkas. Beberapa subbabnya adalah tentang pahala sakit, pahala minum air zam-zam, pahala sabar atas bencana walau sedikit, pahala penduduk madinah, pahala sedekah kepada suami dan kerabat, pahala sifat malu, dan masih banyak lagi yang lainnya.

    Jika bisa dikatakan kitab ini adalah miniatur dari Kitab Riyadhus Shalihin atau Kitab Targhib wa Tarhib Imam Al Mundzir. Kitab yang berisikan hadits-hadits anjuran dan larangan. Dan memang kitab tulisan Imam Nawawi adalah kitab yang harus ada dan menjadi bacaan di setiap rumah kaum Muslimin. Cuma bedanya, Kitab Warisan Nabi ini hanya bertemakan bab-bab anjuran (targhib), tidak ada tema tentang peringatan (tarhib). Maka jangan heran, tak akan ditemukan di sana kata-kata bid’ah itu sesat, sesat itu neraka seperti biasa terlontar.

Hadits-hadits yang ada di sana pun sudah diseleksi atau disaring dan diperas sedemikian rupa sehingga yang ada hanya hadits berderajat sebagaimana telah disebutkan di atas. Namun tetap saja ada kekurangan dari buku ini. Bukan pada isinya yang sudah jelas bagus-bagus itu, melainkan pada alat bantu yang seharusnya ada pada buku ini: daftar isi. Ketiadaannya memang menyulitkan buat pembaca dalam pencarian cepat hadits-hadits yang dikehendaki.

Di mana Anda bisa mendapatkannya? Saya lupa mencatat di pintu nomor berapa. Tetapi seingat saya mengaksesnya melalui pintu sisi kiri Masjid Nabawi. Ruangannya berada di lantai atas tepatnya di lantai tiga, naik via tangga dan bukan eskalator. Atau tanya saja kepada para penjaga masjid keberadaan maktabah. Ruangannya
sempit dan banyak buku serta cd audio dan video yang bertebaran di banyak meja yang ada di sana. Minta kepada penjaga perpustakaannya: miiratsun nabiy, insya Allah dikasih. Minta
yang banyak buat dibagikan di tanah air sebagai oleh-oleh.

Sekadar catatan, Masjid Nabawi itu ada tiga perpustakaan. Pertama Maktabah Masjid Nabawi yang berada di Babul Umar dan Babul Utsman, kedua: Maktabah Shauthiyah, dan ketiga: perpustakaan khusus untuk wanita yang berada di pintu nomor 24*). Nah, saya kurang mengetahui yang saya kunjungi itu perpustakaan yang pertama atau yang kedua. Jangan putus asa untuk mencari jika belum ketemu, pakai bahasa tarzan dengan bilang kepada penjaga masjid: Miiratsun Nabiy. Semoga ditunjukkan oleh Allah tempat itu.

 

***

*) Sedikit catatan diikutip dari blog: pustakakita.wordpress.com

Foto koleksi pribadi

 

Riza Almanfaluthi

@rizaalmanfaluth

12:17 23 Maret 2013    

diunggah pertama kali di http://Islamedia.web.id

    

Advertisements

TIPS BERTOILET DI ARAFAH, MUZDALIFAH, DAN MINA


TIPS BERTOILET DI ARAFAH, MUZDALIFAH, DAN MINA

    Calon jamaah haji akan berada di Arafah selama dua hari, di Muzdalifah semalam, di Mina tiga hari, tentunya urusan buang air adalah sesuatu yang penting sekali, oleh karenanya perlu dipahami suasana dan kondisi toilet yang ada di sana. Plus tipsnya. Serius, saya mau cerita tentang yang satu ini.

    Kalau kita membayangkan dua kata: Arab Saudi, maka hal yang terlintas dalam pikiran adalah negara tandus, kering, padang pasir, onta, kurma, Mekkah, dan Madinah. Tapi jangan dikira kalau tandusnya negara itu—yang tentunya kalah jauh dengan ijo royo-royonya Indonesia ini, menyebabkan mereka kekurangan air. Tidak. Bahkan melimpah sekali.

    Selama perjalanan haji tahun 2011 itu terutama di Armina (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), saya sama sekali jarang menjumpai air yang hangat ini mengalir lemah keluar dari kran. Semuanya kencang. Tekanannya tinggi. Sama kalau kita pergi ke toilet di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

*Suasana kamar mandi di Mina

    Air yang keluar kencang ini tentunya menentramkan hati kalau kita mau bersuci ataupun mandi. Meyakinkan saya kalau najis-najis yang ada di badan ataupun di sekitar toilet akan cepat hilang kalau disiram. Mandi dan buang air jadi terbantu. Toilet pun jadi tidak bau.

*Toilet di Mina. Lumayan bersih.

    Kita tak bisa membayangkan kalau air yang keluar itu sedikit. Jutaan orang akan mengalami ketidaknyamanan yang luar biasa. Apalagi antrian akan semakin panjang karena orang yang sedang buang hajat itu akan lama memastikan bahwa dirinya sudah suci. Mandi apalagi. Alhamdulillah ini tidak terjadi.

    Saya bersyukur bahwa selama ritual haji yang utama di Armina itu saya tidak mendapatkan kesulitan dalam masalah ini. Karena satu hal juga: saya meminta kepada Allah atas hal yang sepele ini. Saya benar-benar berdoa kepada Allah agar saya dimudahkan segala urusan saya dalam mandi dan bersuci. Enggak perlu antri panjang dan lancar-lancar saja. Kenyataannya memang demikian.

    Dengan modal kesabaran yang sudah dikumpulkan sejak dari tanah air, saya cukup antri sebentar lalu masuk, bersihkan dinding kamar mandi dan lubang pembuangan dengan air yang mengucur deras itu, kemudian mandi. Tentunya saya juga memperhitungkan kapan waktu yang lebih sepinya agar saya bisa bebas, lebih lama serta tidak menzalimi yang lain.

    Perlu diketahui kalau satu toilet atau darul mayah di Armina ini terdiri dari toilet laki-laki dan perempuan. Masing-masing terdiri lebih dari sembilan pintu. Oleh karenanya kita harus tahu kapan waktu sepinya toilet ini. Biasanya kalau jam dua dan tiga pagi. Kalau jam empat pagi sudah mulai antri. Kalau waktu menjelang sholat itu yang antriannya bisa panjang, tiga sampai empat orang berderet ke belakang. Kalau sudah begini, maka toleransi kita perlu dipertajam kalau sudah ada di dalam, tak perlu lama-lama. Seperlunya saja.

    Pada dasarnya kebersihan toilet tergantung para jamaah haji sendiri. Ada yang enggak sabar lalu buang air kecilnya di tempat wudhu. Ini akan membuat najisnya kemana-mana. Ada juga yang menggantungkan, maaf, pakaian dalamnya di tembok-tembok tempat wudhu. Bahkan ada ibu-ibu yang mencuci pakaiannya di tempat wudhu dengan hanya membelitkan kemben sebatas dada—persis mandi di sungai, seperti di tanah airnya saja. Bukan saya yang melihat tapi istri dan ibu-ibu di rombongan kami. Syukurnya juga bukan anggota rombongan atau kloter kami yang melakukan itu.

*Tempat wudhu di Mina

    Itu saja gambaran suasana toilet yang ada di Armina yang dapat saya ceritakan sedikit agar calon jamaah haji dapat mempersiapkan mental dan dirinya. Tentunya kesabaran juga perlu dipupuk karena ada juga yang enggak mau antri untuk bisa mandi ataupun buang hajat. Yang paling penting adalah minta sama Allah untuk dimudahkan dalam segala urusan menyangkut air selama di sana.

Bertoilet di Armina cukup dengan sabar, tahu waktu, tertib mengantri, seperlunya, dan berdoa. Semoga bermanfaat. Semoga keyakinan dalam bersuci menjadi jalan menuju haji yang mabrur. Amin.

**

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11:52 06 Oktober 2012

foto-foto: dokumen pribadi

Pertama kali diunggah di:

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/10/06/tips-bertoilet-di-arafah-muzdalifah-dan-mina/

tags: arafah, mina, muzdalifah, mekkah, madinah, toilet, darul mayah, bersuci, arab saudi, thaharah, haji 2011, haji, toilet haji,

SIAP-SIAP DISIKUT HULK


SIAP-SIAP DISIKUT HULK

Salah satu doa yang sering kali saya panjatkan saat mau pergi ke tanah suci adalah semoga Allah memberikan teman-teman satu rombongan dan satu kamar yang baik-baik dan menjadikan saya juga teman yang baik buat yang lain. Alhamdulillah terkabul.

    Saya sekamar dengan tiga orang lainnya. Kamar saya ini terletak di lantai 9. Di sebuah flat di sektor 11, di daerah Misfalah-Bakhutmah yang jaraknya lebih dari 2 kilometer dari Masjidil Haram. Saya sebut flat tidak hotel, karena menurut saya tempat yang kami tempati selama 30 hari di Mekkah ini bukan standard hotel. Yang benar-benar standard hotel itu kalau kita menginap di Madinah.

    Ada beberapa cara pergi ke Masjidil Haram dari sektor kami ini. Jalan kaki bisa. Perlu waktu 35 menit jalan cepat untuk sampai ke sana. Atau naik omprengan berupa pick up (mobil bak) dengan harga 2 SAR. Kita bediri kayak kambing di belakang. Saya sarankan jangan naik ini. Karena banyak kejadian jamaah haji yang terjatuh dari mobil.

Atau pilih mobil jenis Colt atau Elf. Harganya sama. Ini cukup aman. Kita masuk dan duduk di dalam mobilnya dan tidak berdiri. Kalau mau menjelang hari hajinya, mobil ini tidak sampai ke tempat terdekat masjid, tetapi paling sampai batas ring road. Mobil berhenti di situ. Karena dilarang masuk oleh polisi sana dan juga jalanan sudah macet, cet. Jadi kita kudu jalan lagi sekitar satu kilometer untuk sampai Masjidil Haram.

    Atau naik bus gratis yang disediakan Pemerintah RI. Tapi ini harus rebutan dengan jamaah haji Indonesia yang lain. Harus sabar juga. Harus bisa jaga hati. Jaga mulut. Karena kalau enggak sabar bisa-bisa terjadi pertengkaran di sini. Dan jangan lupa kalau sudah mendekati hari-hari hajinya, bus tidak disediakan, karena jalanan padat. Kalau tidak salah 5 hari menjelang hari haji mobil bus sudah hilang. Dan mulai disediakan lagi saat 7 hari setelah tanggal 13 Dzulhijjah saat jalanan ke Mekkah sudah mulai berkurang kepadatannya.

    Yang dari Bakhutmah dan Misfalah kalau naik bus gratis Pemerintah RI ini tidak bisa langsung ke tempat dekat Masjidil Haram, tapi cuma mengantarkan kita ke Terminal Bus Kuday. Kita diturunkan di sini. Nah, ke Masjidil Haramnya naik apa? Ya kita naik Bus lagi. Bus yang disediakan oleh Pemerintah Arab Saudi atau maktab atau penyelenggara haji di sana, entah siapa. Bus ini benar-benar sampai di terminal di bawah Menara Jam. Dekat banget dengan Masjidil Haram.

    Kalau kita naik bus dari Kuday, maka kita, jamaah haji Indonesia, akan berhadapan dengan jamaah haji dari Afrika, Turki, Pakistan, dan India. Mereka itu tinggi besar. Baik laki ataupun perempuannya. Siap-siap juga kita disikut dan dilompati oleh orang-orang hitam yang berbadan kekar kayak Hulk itu. Hulk mah warnanya hijau yah…

    Silakan pilih moda transportasi yang mau dipakai. Yang terpenting jaga kesabaran. Ingatlah misi haji yang sedang kita lakukan. Kalau saya sih pilih moda Bus ke Kuday itu. Yang penting lagi adalah pada saat pulangnya. Akan banyak ribuan orang yang berebut bus kalau setelah sholat. Supaya aman kalau mau pulang cepat, maka cari tempat sholat yang dekat dengan terminal. Ketika salam langsung cabut. Atau tunggu setengah jam sampai satu jam setelah sholat. Insya Allah masih masuk di akal rebutan busnya. Saya sering pilih yang kedua. Menunggu saja.

    Biasanya kalau sudah mulai sepi di hari-hari akhir jamaah haji pulang ke tanah air atau mau pergi ke Madinah, supir-supir Bus di Kuday itu akan memuji-muji penumpang Indonesia. “Indonesia hajj bagus…bagus…,” kata mereka sambil angkat jempol. Ujung-ujungnya kalau sudah sampai di tempat tujuan mereka akan mengangkat telunjuk menandakan angka satu.

Mereka minta infak kepada kita satu reyal untuk setiap penumpang. Dan jamaah haji Indonesia terkenal royal serta tidak pelit. Terserah Anda mau kasih atau tidak. Memberi mereka dapat pahala. Tidak memberi juga tidak berdosa. Kebanyakan supirnya berkewarganegaraan Arab tetangga Arab Saudi seperti Yordania, Suriah, Mesir, dan lain-lain. Bukan orang Bengali.

Ohya, ini flat tempat rombongan kami menginap selama di Mekkah pada musim haji 2011.

(Flat kami dilihat dari satelit di luar angkasa, maksudnya pakai google maps)

Syukurnya flat kami ini habis di renovasi. Masih bagus. Tidak kumuh. Tidak gelap. Walau teknologi liftnya tertinggal jauh dengan yang ada di Indonesia. Dan gambar di bawah ini adalah pintu gerbang flat kami.

 

(Suasana saat mau pergi ke Madinah)

    Kamar kami diisi oleh 4 orang. Semua masih dalam satu regu.

(Ini suasana kamar kami sesaat setelah packing dan tinggal berangkat saja ke Madinah)

Dan gambar di bawah ini adalah ranjang saya yang ditempati selama 30 hari di Makkah Al Mukarramah. Tempat saya biasa mimpi dan ngangenin banyak orang di tanah air. Sudah disediakan sprei, bantal dengan sarungnya, dan satu lembar selimut. Kok ada selimut? Bukankah suasana di sana panas? Panas sih panas. Tapi kalau di dalam mah pakai AC. Dingin juga kan? AC-nya kalah canggih dengan AC yang di Indonesia. Coba lihat.

Berikut teman-teman baik saya yang sekamar itu:

Pak Rasyid dan Ibu sedang makan jagung di suatu senja di Jeddah, depan Masjid Terapung. Orang pertama dalam rombongan kami yang mencium hajar aswad. Pengusaha pertambangan yang bersahaja.


Abah Imay dan ibu. PNS DKI dan pengusaha pakaian jadi di Kota Bogor. Orangnya lucu dan humoris.

Dan Pak Tommy, ketua regu kami, alumnus ITB.
Maaf Pak Tommy, enggak saya crop bersama ibu karena pixel fotonya kegedean. J

    Sering kali kalau saya ingat Makkah alMukarramah saya jadi ingat mereka. Empat puluh hari menjadi saksi perjalanan persaudaraan haji kami. Tentunya saya berharap bahwa walau kami berpisah setelah perjalanan itu, Allah akan kumpulkan kami di surganya Allah swt. Ini harapan saya terbesar. Amin.

    Yakin juga ya…kalau perjalanan ke sana, ke dua kota bersejarah itu, adalah perjalanan yang paling tidak bisa dilupakan. Ngangenin…seperti aku yang selalu ngangenin kamu…cie…cie…cie…cie…cie… adaw…adaw…adaw.

    Maka segeralah ke sana.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21:44 01 Juli 2012

 

Tags: makkah, madinah, rasyid, imay, tommy, masjid terapung, jeddah, kuday, bakhutmah, misfalah, makkah almukarramah, hulk, cerita haji, india, pakistan, bengali, afrika, turki, Yordania, Suriah, Mesir

MIMPI ORANG PAJAK


MIMPI ORANG PAJAK

 

Lebih dari empat setengah bulan sudah kami meninggalkan Makkah dan Madinah. Dua kota yang kalau disebut sama teman-teman yang mau pergi haji atau umroh selalu membuat mata saya berkaca-kaca dan hati merindu tidak kepalang. Hanya ratusan foto yang tersimpan dalam komputer menjadi pelipur lara. Atau dengan sesekali menyaksikan tayangan langsung di
http://live.gph.gov.sa/index.htm#.TvYOvVJIZ0t

*Foto sholat dzuhur 21 April 2012

Subhanallah pas saya copy paste alamat situs ini, di masjidil haram sedang adzan dzuhur. Allah…Allah…Allah… Sudut-sudut masjidil haram seperti lekat di depan mata. Ingin sekali untuk kembali ke sana. Saya jadi ingat sebuah tema diskusi dalam sebuah forum, judulnya: ini mimpiku dan mana mimpimu?

Maka hari ini kalau boleh saya bermimpi, kiranya saya bisa setiap saat pergi ke sana dengan mudah. Seperti teman-teman kantor kalau mau pulang kampung naik kereta atau pesawat di setiap bulannya. Jadi kalau iman lagi turun, segera rihlah naik pesawat jet pribadi, pergi hari jum’at sepulang dari kantor menuju Bandara Soekarno Hatta. Kemudian pakai kain ihram di pesawat dan berniat umrah saat tiba di miqat.

Tiba di Jeddah Sabtu pagi. Lalu naik Mercedes yang sudah siap menuju Makkah. Tiba di hotel terdekat dengan Masjidil Haram lalu istirahat sebentar. Setelah itu segera berangkat ke masjid untuk memulai thawaf. Putar-putar tujuh kali. Lalu berdo’a yang banyak di Multazam. Sholat sunnah dua rakaat dan minum air zam-zam. Sesudah itu pergi sa’i dari shofa menuju marwah dan sebaliknya sebanyak tujuh kali. Selesai sudah rangkaian umrah.

*Lorong masjidil haram 18 November 2011

Shalat maghrib, isya, dan shubuh menjadi kesempatan terbaik mendengarkan recite atau bacaan surat imam yang merdu itu. Kyai Haji Abdurrahman Assudais atau Maher bisa jadi yang memimpin sholat itu. Tak bisa bohong kalau saya lebih menyukai bacaan Maher Almu’aqli.

Awalnya saya tak tahu bacaan indah milik siapa ini. Di masjid depan penginapan di Makkah saya pernah dengar bacaan itu. Menyentuh sekali. Tetapi cuma sekali mendengarnya. Lalu waktu sepulang dari sholat dzuhur di Masjid Nabawi terdengar keras banget bacaan yang sama dari toko yang jual buku, kaset, dan cd. Saya datangi toko itu dan menanyakan kepada penjaga toko yang orang Bangla siapa pemilik bacaan ini. Barulah saya tahu kalau ia adalah Maher Almu’aqli, seorang Imam Masjidil Haram dan Nabawi.

Klik saja kalau mau mendengarkan bacaan alfatihahnya di sini. Atau kalau mau lengkap 30 juz unduh saja di sini. Yang pernah ke dua tempat suci itu pasti merindukan bacaan surat para imam itu.

Mari kita lanjutkan mimpinya. Sepertiga malam terakhir diisi dengan qiyamullail dan menyempatkan diri untuk mencium hajar aswad serta sholat dua rakaat di Hijr Ismail. Lalu setelah shubuh, baca alma’tsurat, sholat syuruq, dan dhuha. Sarapan di hotel dan jalan-jalan di menara jam yang tinggi itu. Jam sebelas siap-siap packing karena ba’da dhuhur kembali menuju Jeddah.

Adzan dzuhur berkumandang, segera pergi ke masjid, berdoa yang banyak minta ampunan Allah dan keselamatan umat Islam dari fitnah dunia. Sempatkan diri thawaf setelah shalat dhuhur. Dan jam setengah dua siang sudah tiba di hotel lagi, makan siang lalu cabut.

Sampai di Jeddah sekitar jam setengah empat sore. Naik pesawat jet lagi dan menyusuri 9 jam perjalanan menuju Jakarta dengan istirahat. Tiba di Soekarno Hatta senin dini hari. Paginya sudah ngantor
ngadepin Pemohon Banding dan Penggugat lagi di meja hijau Pengadilan Pajak. Selesai sudah.

Terbangun dari mimpi lalu sadar kalau diri ini hanya orang pajak. Tapi memangnya tak boleh orang pajak punya mimpi-mimpi? Mengutip perkataan teman dari Hasan Al Banna: “Mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok.” Insya Allah bisa. Jangan takut untuk bermimpi. Allah mahakaya, sudah pernahkah kita minta apa saja kepadaNya?

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ayo bermimpilah

20:22 21 April 2012

    

Tags: Maher almu’aqli, makkah, madinah, pengadilan pajak, hasan al banna, hajar aswad, hijr ismail, zam zam, Jeddah, Sudais, Abdurrahman Assudais, bandara soekarno hatta, nabawi, masjidil haram

 

Panggil Saya Pak Haji


Panggil Saya Pak Haji

http://www.islamedia.web.id/2012/01/panggil-saya-pak-haji.html


Islamedia
“Pak Haji..!” Seseorang berteriak. Entah kepada siapa. Saya tetap berjalan. Ternyata teriakan itu semakin kencang. Terpaksa menoleh dan terlihat teman serombongan memanggil-manggil saya. Oh, dia memanggil saya rupanya. Ketika di Mekkah dan Madinah memang ada sesuatu yang baru dan aneh didengar telinga saya. Panggilan Haji itu. Ya panggilan yang biasa disematkan kepada orang yang telah melaksanakan haji. Saya tidak terbiasa.

Walau sebelum berangkat pergi haji, ada yang selalu memanggil saya dengan sebutan itu di kantor, saya anggap sebagai sebuah doa. Begitu pula saat seorang bapak pengatur lalu lintas di pintu keluar komplek akan berkata: “Terima kasih Pak Haji,” ketika ada uang seribu rupiah berpindah ke tangannya, saya anggap sebagai sebuah doa. Alhamdulillah doa mereka terkabul, saya bisa pergi haji.

“Bu..! Bu…! Bu Rahmi…!” seseorang memanggil kepada ibu-ibu itu. Ibu itu tidak menengok sama sekali. “Bu Haji! Bu Haji Rahmi!” perempuan yang bernama Rahmi itu berhenti dan menengok dengan senyum yang begitu sumringah dan berkata kepada yang memanggilnya, “Nah gitu dong, Haji itu mahal.” Aih… segitunya. Tetapi itu gurauan yang sering didengar saat berangkat haji. Kepada yang punya nama Rahmi mohon jangan tersinggung. Ini sekadar contoh.

Kenyataannya? Ada juga memang yang tidak menengok kalau tidak dipanggil dengan sebutan haji di depan namanya. Wah…wah…wah…Insya Allah saya tidak seperti itu. Tetapi saya selalu berusaha memanggil seseorang, tetangga ataupun teman yang telah pergi haji dengan sebutan itu. Bukan untuk apa-apa tetapi sebagai bentuk penghormatan saya kepadanya. Tidak berniat untuk membuatnya ujub atau merasa riya’dan sum’ah.

Jikalau ada seorang ustadz dan ia pun telah berhaji, saya lebih berat memanggilnya dengan sebutan ustadz saja, karena menurut saya panggilan ustadz itu lebih berbobot daripada sebutan haji. Menandakan ia orang yang alim dan berilmu. Tidak semua orang yang haji berilmu bahkan kita tahu di pemberitaan kalau 70% dari jama’ah haji Indonesia tidak atau kurang tahu tentang manasik haji.

Walaupun demikian mengapa sebutan haji itu saya sematkan pada mereka sebagai bentuk penghormatan? Karena bagi saya, secara zahir mereka telah benar-benar mengeluarkan pengorbanan yang begitu banyak untuk bisa ke tanah suci. Mulai dari harta, diri mereka, dan keluarga. Ibadah haji itu berat. Perlu tenaga fisik yang prima untuk menyelesaikannya dengan penuh kekhusu’an. Banyak cobaannya. Terutama ujian kesabaran sampai ambang batasnya. Saya merasakannya sendiri.

Maka tak perlu heran, kalau di zaman penjajahan dulu atau sebelum era transportasi modern seperti sekarang ini, orang yang pergi haji dihormati sekali karena untuk perjalanannya saja sampai butuh waktu berbulan-bulan lamanya bahkan sampai hitungan tahun. Entah dengan naik unta, kuda, atau kapal laut. Penjajah Belanda pun sering mewaspadai orang yang telah pergi haji karena seringkali mereka adalah pionir kebangkitan perlawanan terhadap kepentingan kolonial.

“Enyak, memanggil saya dengan Pak Haji atau enggak, enggak ada bedanya Nyak, enggak berubah Insya Allah,” kata saya pada Enyak yang telah lama bekerja di keluarga kami. “Ah, enggak Pak Haji. Pamali,” katanya.

“Orang zaman sekarang pada bangga dengan gelar keduniaan. Doktor, profesor, sarjana berderet di depan dan belakang namanya tapi enggan dengan gelar atau panggilan haji,” kata salah seorang tetangga kampung sebelah yang bertamu di rumah kami. Ia belum pergi haji dan tetap memaksa saya dengan sebutan Pak Haji. Memang di kampung sebelah yang mayoritas Betawi itu panggilan haji terasa begitu sakral. “Enggak semua orang bisa pergi haji,’ lanjutnya lagi. Terserah Bapak sajalah. Yang penting saya tidak memaksa Bapak untuk memanggil saya dengan sebutan itu.

Sebutan dan panggilan itu bagi saya—dan entah buat orang lain—memang rawan untuk terjadinya ‘ujub, riya’, dan sum’ah. Tetapi saya tentunya tidak bisa memaksa mereka untuk menghentikan sebutan itu. Karena semua itu kembali kepada diri masing-masing. Sering-seringlah istighfar ketika memang ada terselip itu saat kita tidak dipanggil dengan sebutan Pak atau Bu Haji.

Makanya ada yang mengetatkan bahwa panggilan atau gelaran haji itu bid’ah. Bagi saya tak masalah. Artinya sampai mewajibkan orang lain untuk memanggil dirinya dengan sebutan itu, memang bisa terjerumus ke arah itu. Tetapi enggak bisa dong ketika ada yang memanggil saya Pak Haji lalu mereka dikatakan sebagai ahlul bid’ah. Waduh ini keterlaluan banget deh. Berlebihan.

Sebutan haji memang enggak ada di zaman nabi dan para sahabat. Tetapi sering kali kita menyebut-nyebut seseorang dengan sebutan syaikh, hujjatul Islam, ustadz, al hafidz, padahal di zaman nabi dan para sahabat sebutan itu pun juga tidak ada. Enggak ada tuh Ustadz Abu Bakar Assyidiq, Syaikh Umar bin Khatthab, Hujjatul Islam Utsman bin ‘Affan, Ali Al Hafidz, padahal di zaman sekarang banyak disematkan juga sebutan itu kepada orang-orang seperti Syaikh Fauzan, Ustadz Firanda, Hujjatul Islam Ibnu Taimiyyah, dan Assudais Al Hafidz.

Kalau ada yang mengatakan bahwa panggilan haji berkaitan dengan agama maka panggilan syaikh, hujjatul Islam, ustadz, dan al hafidz juga berkaitan dengan agama pula. Dan jika memang panggilan haji itu adalah laqab-laqab yang tidak syar’i dan bertentangan dengan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, maka saya bisa saja mengatakan bahwa sebutan syaikh, hujjatul islam, ustadz, al hafidz juga adalah laqab-laqab yang tidak syar’i dan bertentangan dengan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Padahal masalah keikhlasan adalah masalah batin. Saya tak tahu apa isi terdalam di hati mereka.

Bahkan panggilan yang berkaitan dunia dan tidak ada kaitannya dengan agama sama sekali, bisa jatuh pada hal yang haram jika hanya akan membuat diri kita kurang ikhlas dalam beramal, timbul rasa sombong dan ‘ujub.

“Za, bukan mereka yang menghendaki sebutan syaikh, ustadz, hujjatul islam, al hafidz, tetapi para pengikut atau umatnya yang menghormati mereka,” mungkin ada orang yang akan berkata demikian. Jika demikian mengapa khusnudzan itu juga tidak kita berikan kepada orang-orang yang telah pergi haji? Bukan mereka, Pak Haji dan Bu Haji, yang menghendaki sebutan haji itu tetapi masyarakat dan tetangga yang menghormati mereka.

Bagi saya, masalahnya bukan pada bahwa gelaran haji itu berkaitan dengan masalah agama atau dunia, atau bukan pula bahwa hal itu ada di zaman nabi dan para sahabat atau tidak, tetapi akankah mengakibatkan terhapusnya amal-amal kita atau enggak?

Makanya betapa banyak juga dari mereka, mengutip Muhammad Arifin, Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur’an, memilih untuk tidak menggunakan gelar-gelar kesarjanaan, keulamaan, maupun Haji/Hajjah, demi menghindari riya’ dan kesombongan. Dan hanya menggunakannya pada saat yang diperlukan misalnya untuk kepentingan administrasi saja. Sehingga tidak serta merta kita latah mengatakan mereka yang menyematkan semua gelaran itu sebagai ahlul bid’ah. Hanya Allah dan diri mereka yang dipanggil atau menyematkan dengan sebutan itu, yang tahu apakah mereka riya’ atau tidak.

Bagi saya, jika saya dipanggil Pak Haji, anggap saja sebagai sebuah peringatan apakah saya memang layak untuk disebut itu, jika tingkah laku saya jauh dari apa yang diharapkan oleh agama ini.

Bagi saya, jika saya dipanggil Pak Haji, anggap saja sebagai sebuah pembatas atau pengekang, untuk tidak melakukan apa-apa yang dilarang oleh agama ini. Kalau ingat satu hal ini maka saya jadi malu. Malu banget. Tak layak sekali.

Bagi saya, jika saya dipanggil Pak Haji, anggap saja sebagai sebuah muhasabah, sarana introspeksi diri, apakah haji saya diterima oleh Allah? Saya tentu berharap sekali demikian. Dan tentu pula panggilan itu tak sebanding dengan penerimaan Allah.

Bagi saya, jika saya baru nengok jika dipanggil Pak Haji atau berasa gimana gitu kalau tidak dipanggil hanya dengan nama saja, maka cukup alarm itu sebagai tanda riya’. Semoga saya masih bisa diberikan kesempatan untuk mengucapkan istighfar pada saat itu juga.

Bagi saya, lebih memilih tidak dipanggil Pak Haji untuk menjaga semua itu. Tetapi eits…jangan-jangan kalimat pertama di paragraf ini pun layak untuk di-istighfar-i, hanya sekadar supaya bisa disebut orang yang tawadhu atau rendah hati. Aduhhh… kemana-mana salah. Kemana-mana setan mengintip. Lindungi saya ya Allah.

*

Kertas tanda terima peminjaman dokumen itu ada di depan saya. Siap untuk diteken. Teman saya sudah berdiri menunggu untuk menerima kertas itu. Saya tanda tangani, saya beri tanggal, saya beri nama: Riza Almanfaluthi di bawah tanda tangan. Saya berhenti sejenak, terus bertanya, “Min, perlu saya tulis H di depan nama saya atau tidak nih?” What the, hahaha…

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11.59, 23 Januari 2011

Pak Haji, Pak Haji…

Dimuat pertama kali untuk islamedia.web.id

PORQUE TU ERES NEGRO


PORQUE TU ERES NEGRO

Waktu hari minggu kemarin (1/1), saya lihat berita di televisi tentang kerusuhan yang terjadi di Nigeria. Perang antaretnis dan agama yang dipicu oleh perebutan lahan pertanian. Dalam tayangan tersebut Presiden Nigeria berkunjung ke salah satu lokasi kerusuhan. Banyak orang yang mengerumuninya. Melihat wajah orang-orang Nigeria itu saya jadi kebayang mereka. Saya jadi tersenyum-senyum sendiri.

Tak jauh-jauh memang cerita ini tentang pengalaman saya dengan mereka waktu di Tanah Suci. Orang Indonesia sering menyebut mereka orang Negro. Tapi saya enggak tega menyebut mereka seperti itu. Karena berasa SARA banget. Berasa rasis. Berasa jadi Luis Suarez yang bilang pada Patrice Evra dalam bahasa Spanyol : Porque tu eres negro (Itu karena elo negro). Untung bilangnya tidak di Bronx, New York, kalau enggak, habis itu Suarez. Jadi saya cukup menyebut mereka orang Afrika. Walau di Afrika banyak Negara yang warga mayoritasnya tak berkulit hitam seperti Mesir, Aljazair, Libya, Maroko, dan Tunisia.

Jumlah jamaah haji orang Afrika ini dominan setelah orang Asia Selatan seperti Pakistan, Bangladesh, dan India. Dan mukanya sama semua. Seperti saya terkadang tak bisa bedain mana orang India yang satu dengan yang lain. Mana si anak, mana si paman. Kok lagi-lagi ketemu sama orang itu. Dia lagi. Dia lagi. Padahal mereka juga kalau ngeliat kita juga sama. Elo lagi. Elo lagi. Muka lo sama bae.

Jama’ah haji dari orang kulit hitam ini juga yang saya tahu biasanya berasal dari Nigeria, Mali, Burkina Faso, Gambia, Ghana, Guinea-Bissau, Cote d’Ivoire, Sudan, Chad, dan lain-lain. Membedakan mereka dari pakaiannya yang warna-warni dan biasa ada tulisan nama negaranya. Sedangkan jangan salah kalau ada tulisan Kaduna State, Bauchi State, Gombe State, Kano State. Itu bukan nama salah satu negara di Afrika tetapi itu adalah nama negara bagian Nigeria.

Tapi terus terang saja, saya kagum kalau ngeliat orang Afrika. Apalagi kalau pas lagi make kain ihram. Bener-bener kontras. Putih dan hitamnya kelihatan mencolok. Indah dipandang mata. Lebih Surrealis daripada lukisannya Dali, lebih naturalis daripada punyanya William Blis Baker, dan lebih realis daripada gambar yang dihasilkan seorang Karl Briullov (opo meneh? kaya iya-iyao). Saya cuma bilang Subhanallah.

Yang saya lihat dari mereka adalah kesederhanaan. Mereka itu kalau pergi ke Masjidil Haram ya cuma bawa diri aja. Paling banter bawa sajadah. Sandal dan baju panjang selutut sudah pasti. Itu pun kadang enggak pake kaos dalam.

Beda banget sama orang Indonesia, termasuk saya, yang kalau mau pergi ke Haram bawaannya banyak dan ribet. Tas kecil di depan dada, tas ransel atau tas tenteng isi sajadah, minuman, jaket, biskuit, Alqur’an—padahal di Haram juga banyak. Dan juga bawa istri. Ini sudah pasti. Makanya kita sering kalah gesit sama mereka. Kita enggak mobil (baca mobail). Kita ketinggalan dari mereka, mereka ambil selangkah seperti kita ambil dua langkah. Ya iyalah secara mereka badannya gede-gede dan tinggi-tinggi.

Ngomongin anatomi mereka saya pikir ini adalah kemahaadilan Allah. Mereka dikarunia kulit item—yang kebanyakan orang pasti udah mandang enggak enak aja, jadi ngeliat-liat kulit item saya—tetapi juga diberikan kelebihan dalam bentuk yang lain. Bukannya jari mereka 14, atau kaki mereka empat. Bukan. Tetapi tubuh mereka yang, gede, tinggi, dan atletis. Kebanyakan dari mereka otot bisep dan trisepnya nongol membentuk. Kalau diliatin mungkin ada dua telor di lengannya. Perutnya mungkin juga kayak perut superhero komik Marvel, kotak-kotak—perkecualian Hulk.

2011-11-19 06.20.16

*Sedang khusyu’

Pernah saya lihat waktu thawaf, ada orang Afrika gedenya minta ampun. Sudah tinggi dua meter, gede lagi. Jadi tontonan dah dia. So, dengan kelebihan bentuk fisik mereka itu, pantas mereka hebat kalau dalam urusan mencium hajar aswad, rebutan naik bis, dan menerobos keluar lingkaran thawaf. Sampai orang-orang di sekitar kepental semua padahal cumma kesenggol dikit. Wajar, mereka berani menerobos berlawanan arah soalnya mereka kayak kereta api Argo Bromo Anggrek di waktu malam. Cool, calm, confident. Mereka tak sendirian tetapi minimal berempat sambil teriak Thariq! Thariq! Thariq! So, daripada mental lebih baik kita yang nyingkir ngasih jalan. Mangga…

Syukurnya pihak Kerajaan Arab Saudi ngerti dah sama kesulitan orang Melayu ngadepin mereka. Makanya di Mina, kita enggak digabung waktu ngelempar jumroh. Tak bisa dibayangin waktu tahun 90-an yang tempat lempar jumrahnya tak seperti sekarang yang sudah bertingkat-tingkat. Tiangnya cuma kecil, satu lantai, dan dua arah. Makanya sering kejadian tubrukan. Merekalah yang jadi pemenangnya.

Mencium hajar aswad itu susah, tapi bagi mereka gampang. Kalau dipikir-pikir dan dialami, yang susah dalam proses mencium hajar aswad adalah pada saat mau keluar setelah menciumnya. Ke kiri ada dorongan yang ngantri dari multazam. Ke kanan ada dorongan dari yang ngantri sejak di rukun Yamani. Ke belakang susah juga. Eh, ini orang Afrika gampang aja keluarnya dengan memanfaatkan gedenya tubuh mereka, atau kalau enggak gede ya mereka naik ke pundak orang di belakangnya dan berenang di atas kepala orang-orang—seperti kayak di festival rock di amrik sana—lalu lompat jumpalitan. Bebas dah.

Kebersahajaan mereka juga bisa dilihat waktu di hotel atau di Masjidil Haram. Mereka itu sepertinya enggak suka kalau siang hari ngendon di kamar. Pengennya ngumpul di luar hotel, kongkow-kongkow bersama kawan-kawannya. Ada yang tiduran sambil telentang atau tiduran dengan kepalanya ditaruh di atas satu tangan, cukur rambut dan kumis, dan makan-makan.

Memang di depan hotel mereka—kebetulan pondokan kami bersebelahan—biasanya juga banyak wanita penjual makanan khas mereka. Ada nasi putih panjang yang lembek, dicampur kuah kari, daging rendang, ayam goreng yang gede-gede, dan masih banyak yang lainnya. Yang saya suka dan doyan adalah kentang goreng dan telor dadarnya dengan membayar 5 real saja. Tetapi kalau lainnya saya enggak tega makannya. Apalagi ada yang sejenis sagu atau tepung bulat-bulat hitam dipencet-pencet sampai lunak pakai sendok sop ditambah susu di atas mangkok alumunium besar. Kayaknya kalau mereka yang makan seperti sedapnya minta ampun.

Mereka itu kalau makan gampang saja. Duduk di atas trotoar lalu makan dengan tangan. Enggak jijik enggak apa walau tempatnya kotor dan di sebelahnya ada tempat sampah yang lalatnya cuma satu tapi temannya banyak itu.

Kalau di Masjidil Haram mereka bisa tidur di mana saja. Tempat panas, tempat dingin, di jalanan, atau di pinggir toko. Kayaknya mereka addict sama yang namanya tegel keramik. Di negaranya kali enggak ada keramik, alas rumahnya tanah atau pasir merah semua. Ini bukan merendahkan tetapi bisa dicek di Google kalau tak percaya. Mereka tuh bisa tahan lama-lama di tempat yang banyak kipas anginnya atau ada AC-nya yang biasa orang Melayu sudah pada masuk angin. Mereka sudah kebal kali.

2011-11-18 15.01.58

*Tidur di mana saja

Satu kelebihan mereka juga adalah kemana-mana selalu dengan rombongan sejenisnya. Maksudnya laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Jarang campur laki-laki dan perempuan. Enggak ada tuh, atau jarang sekali terlihat, mereka gandengan tangan dengan perempuan. Enggak seperti jama’ah haji Indonesia kemana-mana runtungan (gandengan) terus, termasuk saya.

Wanita Afrika biasanya berpakaian dengan jilbab warna-warni yang panjang-panjang. Kalau shalat kakinya enggak ditutup pakai kaos kaki. Wajar demikian karena kebanyakan mazhab yang dipakai di Afrika adalah Mazhab Imam Malik. Makanya di Mekkah dan Madinah peziarah haji yang paling rapat menutup aurat adalah wanita Indonesia, karena umumnya bermazhab Imam Syafi’i yang menganggap aurat semua anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

Suatu ketika istri saya ngobrol dengan wanita Afrika di Masjid Nabawi. Enggak tahu pakai bahasa Tarzan atau pakai bahasa Inggris. Kayaknya Inggris deh. Sampai suatu titik si wanita Afrika itu nunjuk-nunjuk mukena putih yang dipakai istri. Dia bilang tertarik dan ngebet banget sama itu mukena yang dipakai sama orang Indonesia dan Malaysia. … Di negaranya enggak ada “jilbab” seperti itu. Padahal di Tanah Abang—tempat saudara-saudaranya mangkal di Indonesia—banyak dijual mukena dengan beraneka jenis. Besoknya janjian di tempat yang sama, Istri kasih itu mukena yang satu lagi untuk dia. Senangnya…Dia suka sekali dengan warna putih kayaknya. So, surealis, naturalis, dan realis.

Mereka, laki dan perempuannya, sudah terbiasa wudhu cukup dengan seukuran satu botol air mineral, mulai dari cuci tangan sampai kaki. Makanya mereka gampang saja saat wudhu memakai air zam-zam di Masjidil Haram. Beda dengan orang Indonesia, yang negerinya berlimpah dengan air, wudhu kalau enggak dengan air banyak kayaknya kurang afdhal. Makanya kalau wudhu bikin becek saja.

Pernah suatu ketika saya melihat wanita Afrika yang berdoa dekat Maqam Ibrahim berdoa dengan suara keras, sambil berdiri, dan tangan diangkat. Tangannya digerakkan naik turun. Enggak orang Afrika enggak orang Indonesia kalau punya hajat sama Allah ya kayak gitu. Sepertinya ingin memastikan kalau dengan tangan yang digerakkan naik turun itu mereka telah doa dengan sungguh-sungguh.

Di pelataran luar Masjidil Haram kayak gitu juga. Waktu dhuha saya ketemu mereka, wanita Afrika, yang sama-sama lagi berdoa. Dengan barisan yang tidak teratur. Ada yang menghadap ke barat, timur, atau ke arah manapun. Tua muda berdoa. Yang kedengaran di telinga saya mereka bilang: abreh…abreh..abreh….Amin.

2011-11-22 08.44.30

*Mereka bukan sedang ngobrol, tapi lagi do’a. Dhuha tanggal 22 November 2011.

Suatu ketika kami sedang lihat-lihat parfum di sebuah toko. Datang lima pria Afrika. Saya sok kenal dan sok dekat langsung mengisyaratkan jempol padanya untuk satu botol parfum yang dia pegang. Terus dia tanya pada saya sambil menunjuk istri saya, “Is she your wife?” saya jawab, “Yes.” Serentak mereka tertawa ngakak. Kami juga ikut tertawa. Apalagi ada yang nyeletuk orang Indonesia yang kebetulan ada di sana kepada orang-orang Afrika itu, “Hai, Gods must be crazy. Gods must be crazy.” Kami tambah kencang ketawanya karena ingat wajah mereka seperti wajah pemeran film itu, Nixau. Mereka tertawa kami tertawa. Entah apa yang ditertawakan. Sama-sama tak tahu. Yang penting tertawa.

2011-11-22 08.35.02

*Khusyu’ berdo’a.

Sore itu, saat pulang dari melempar jumrah di hari kedua atau tanggal 12 Djulhijjah 1432 H. Rombongan kami foto-foto. Kebetulan pula kami bertiga sedang difoto oleh teman kami, eh belum juga klik, ada empat wanita Afrika, masih muda-muda, sudah ada di belakang dan di samping kami, pengen ikut difoto sambil angkat dua jari. Cheeeeees… “Where do you come from?” tanya saya. “Chad!” seru mereka. Sejak itu saya baru tahu kalau Chad itu mayoritas penduduknya adalah muslim. Satu hal lagi, enggak orang Afrika enggak orang Indonesia seneng juga narsis-narsisan difoto.

Sewaktu di Madinah, kami menemukan sedikit orang Afrika. Tak ada lagi “persaingan” orang Melayu dengan mereka. Kini orang Melayu harus “berhadapan” dengan orang-orang Asia Selatan seperti Pakistan dan India itu. Kalau dibandingkan dengan orang Pakistan dan India, orang Afrika itu tawadhu-tawadhu. Enggak banyak omong. Kalau enggak kebagian tempat di shaf, mereka cari tempat lain. Beda dengan orang Pakistan atau India yang sering maksa juga sering ngatur-ngatur. Apakah mereka ini, orang Afrika, kena sindrom inferioty complex karena bekas bangsa budak? Enggak ah. Atau enggak tahu. Beda dengan orang Turki yang malah superiority complex. Tapi nanti saja bahas orang turkinya.

‘Ala kulli hal, kami semua yang ada di sana, Melayu kek, Afrika kek, Asia kek, Eropa kek, Amerika kek sama-sama datang ke Tanah Suci untuk semata-mata mencari ridhanya Allah. Mereka semua adalah saudara saya. Haram untuk disakiti. Wajib untuk dibela. Doanya cuma satu untuk kita dan mereka: “Semoga dikumpulkan semuanya di jannahnya Allah.” Maafkan saya Bro dan Sist atas segala salah.

Amin.

 

***

Ini cuma satu potret kecil dari sebuah landscape yang luas. Jadi tidak mencerminkan keseluruhan sehingga langsung bisa disimpulkan dan digeneralisasikan memang sudah pasti adanya begitu. Orang lain mungkin menangkap dan memandang beda terhadap mereka. Baydewey, maafkan saya jika ada kekeliruan.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14.35 3 Januari 2012

BROTOSENO, PAK POLISI, DAN MEREKA


BROTOSENO, PAK POLISI, DAN MEREKA

http://sosok.kompasiana.com/2011/12/30/brotoseno-pak-polisi-dan-mereka/

 

Sesaat menunggu iqamat ashar di Masjid Shalahuddin terdengar suara panggilan dari belakang, “Mas, sehat Mas?” Belum sempat menjawab, teman saya ini berkata lagi, “Mas, kata teman saya waktu ngeliat fotonya Broto, langsung bilang kalau wajah polisi itu mirip sama Mas Riza.” Saya langsung cengengesan sambil membayangkan foto Angie lagi berdua sama Kompol Brotoseno yang sedang hangat di portal berita (29/12).

    Mirip gimana? Mirip apanya dengan teman dekat politisi Partai Demokrat itu? Jauh be-eng.Terlalu narsis kalau bilang saya lebih ganteng daripada Polisi perwira itu. Terlalu rendah diri kalau saya berkata sebaliknya. Lihat saja foto di bawah ini, masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya. Yang pasti saya bukan orang yang berada di samping Angie.

    Ingat Brotoseno jadi ingat kejadian waktu di Madinah. Waktu itu sepulang dari shalat Isya di Masjid Nabawi. Saya sendirian bergegas menuju hotel yang jaraknya tak jauh dari masjid. Kurang 100 meter dari hotel tiba-tiba saya disapa oleh dua orang ibu-ibu yang ternyata sedang tersesat. Mereka tak tahu jalan pulang ke hotel mereka. Logat yang kental mengisyaratkan mereka berasal dari daerah Jawa Timur.

    Mereka minta tolong untuk diantarkan ke hotel. Tapi sayangnya ketika saya tanya nama hotelnya mereka tak tahu. Saya minta kepada salah satu dari ibu-ibu itu untuk kembali mengingat jalan pada waktu mereka berangkat. Mereka menyerah. Ya sudah saya jalan pelan-pelan dengan mereka untuk sama-sama mencari hotel itu. Saya tak jadi pulang segera.

    Di saat itu, di saat saya sedang bertanya arah kepada orang-orang, tiba-tiba muncul sosok laki-laki separuh baya dan tampak muda, berbaju gamis warna putih dengan peci warna senada memotong pembicaraan kami. “Tersesat ya Bu? Tenang saja Bu. Ada saya. Saya antar ke maktabnya. Maktab ibu nomor berapa?”

    Kewaspadaan saya langsung jalan, ini kok orang baik banget tiba-tiba langsung menawarkan diri dan main tembak mau antar segala. Apalagi dia bilang tentang maktab, padahal sepengetahuansaya kalau istilah maktab itu adanya di Mekkah, bukan di Madinah. Kalau di Madinah jamaah haji Indonesia tidak dibagi berdasarkan maktab tetapi sektor oleh muassasah. Saya terus terang curiga dan langsung bertanya padanya tanpa tedeng aling-aling, “Tunggu dulu Pak, Bapak ini siapa?”

    “Saya petugas. Di sini saya sudah biasa nganterin orang tersesat,” jawabnya. Dia panjang lebar menjelaskan siapa dirinya dan tentu tidak lupa menyebutkan namanya. Tapi saya lupa dialog tepatnya. Bukan penjelasan itu yang membuat saya tiba-tiba langsung percaya. Dia bilang kalau dia adalah polisi, maksudnya anggota Kepolisian Republik Indonesia yang sedang berhaji. Beneran, saya langsung percaya begitu. Makanya saya memutuskan untuk menitipkan mereka kepada Pak Polisi, “Bu, saya tinggal ya Bu, Ini bapak Polisi. Bapak ini yang akan nganterin ibu ke petugas haji Indonesia.”

    Ibu-ibu itu bukannya senang karena mau ditolong sama Pak Polisi, malah ketakutan dan langsung memegang tangan saya, sambil berbisik pakai bahasa Jawa, terjemahannya begini, “Sudah Mas, saya pokoknya ikut sama kamu saja. Saya takut. Saya takut sama orang Arab.” Hehehehe, kebetulan memang Pak Polisi itu punya wajah Arab. Polisi itu pasrah saja dia dicurigain sama bangsa sendiri. Saya pikir dia jadi korban stigmatisasi yang selama ini diceritakan kepada para jamaah Haji Indonesia tentang orang Arab, yang entah dari mana sumber asal kisah itu.

    Akhirnya saya mengambil jalan tengah dengan mengikuti bapak Polisi itu ke Pos Sektor. Nanti dari sana ibu-ibu itu akan diantar ke hotel oleh petugas haji yang bertugas di sana. Sepanjang perjalanan menuju Pos, Pak Polisi geleng-geleng kepala saja mengingat sampai detik itu mereka tak benar-benar percaya sama dia. Salah satu ibu itu memegang erat ikat pinggang saya. Benar-benar ketakutan dan was-was kalau-kalau saya meninggalkan mereka. Padahal saya tak henti-hentinya juga meminta supaya ibu-ibu itu percaya sama Pak Polisi.

“Kenapa Ibu kok percayanya sama saya, padahal ibu enggak kenal saya?” tanya saya. “Sampeyan kan pakai batik, wislah pokoke aku percaya,” jawabnya. Kebetulan memang pada saat itu saya memakai batik seragam jamaah haji Indonesia. Ibu yang satunya lagi tercecer di belakang sambil mencari-cari wajah dari banyak orang yang sedang lalu lalang. Mungkin ada yang dikenal. Tapi ia gagal, sampai Pak Polisi itu sedikit jengkel dan setengah berteriak, “Sudah Ibu, percaya saja sama saya!”

    Menuju hotel tempat pos sektor itu berada, saya sempatkan berbincang-bincang dengan Pak Polisi. Ternyata ia seorang ajun komisaris polisi (waktu itu dia bilangnya kapten) yang sedang bertugas di daerah Kalimantan. Jabatannya saya lupa, antara kasatserse atau kasat intel. Dan memang betul, ini yang ia yang sadari, kalau ia punya garis keturunan Arab Tanah abang.

Obrolan kami terputus karena kami sudah sampai di depan hotel tempat pos sektor itu berada. Lobi hotel penuh dengan orang Turki. Kami naik ke mezanin hotel dan benar di sana ada bendera Indonesia dan spanduk tanda pos sektor. Yang jauh melegakan adalah tampak pula seorang petugas haji yang sedang jaga di sana. Kata Pak Polisi yang mengantar kami, petugas haji itu juga seorang polisi.

Mengetahui mereka telah diantar ke pos sektor dan ketemu sama petugas haji yang memakai baju biru, ibu-ibu mengucapkan terima kasih dan minta maaf sama Pak Polisi karena telah curiga berat.

Kemudian sudah saatnya Pak Polisi itu pergi dan meninggalkan kami. Selanjutnya petugas haji itu yang akan mengantar ibu-ibu itu ke hotel mereka yang ternyata dekat dengan pos sektor. Anehnya lagi, ketika saya mau meninggalkan mereka, mereka tetap bersikeras supaya saya tetap menemani mereka hingga ke hotel. Aduhai, mereka juga masih tak percaya sama Pak Petugas Haji.

Tidak sampai 100 meter dari pos sektor, kami telah tiba. Barulah terlihat wajah mereka dihiasi senyuman. Ada kelegaan yang tampak. Saya turut senang juga. Sebelum berpisah, saya minta izin memfoto mereka sambil berpesan, “ingat-ingat jalan, ta iye.”

*Ibu Siah dan Ibu Ramiah di depan hotel (26/11).

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

    00.19 30 Desember 2011

Tags: kalimantan, akp, brotoseno, angie, angelina sondakh, masjid shalahuddin, madinah, kompol, haji