Martapura: KP2KP, Mayat, dan Pistol (3)


Gertakan Dua Pistol

Wilayah Kerja KP2KP Martapura memang luas. Dan Belitang hanya salah satu dari 20 kecamatan yang ada di OKU Timur. Wajib pajak yang datang ke kantor seringkali wajib pajak yang berada di wilayah terluar dan terjauh jangkauannya. Ini akan menjadi masalah jika dokumen yang dipersyaratkan dalam pembuatan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau pelaporan SPT masih kurang.

Ujung-ujungnya dilema. Menolak atau menerima. Mengingat karakter masyarakat OKU Timur yang keras dan tanpa basa-basi membuat personel KP2KP seringkali tidak mudah menjelaskan kekurangan dokumen pendukung dalam permohonan mereka. Untuk ini mereka punya ceritanya.
Baca Lebih lanjut.

Advertisements

Martapura: KP2KP, Mayat, dan Pistol (2)


Taaruf dan Silaturahmi

KP2KP Martapura merupakan unit vertikal di bawah Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Baturaja, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Sumatera Selatan dan Kepulauan Bangka Belitung. KP2KP Martapura menjadi bagian penting dalam pengumpulan penerimaan pajak yang ditargetkan kepada KPP Pratama Baturaja sebesar Rp561 miliar.

Wilayah kerja KPP Pratama Baturaja yang dikomandoi oleh Akhmad Yani ini meliputi tiga kabupaten yaitu OKU, OKU Timur, dan OKU Selatan. Sebagai kepanjangan tangan dari KPP Pratama Baturaja di OKU Timur maka KP2KP Martapura didirikan sejak 2008. Kantornya masih mengontrak dan berada di perlintasan Jalan Lintas Tengah Sumatera yang merupakan urat nadi perekonomian Pulau Sumatera.

Continue reading Martapura: KP2KP, Mayat, dan Pistol (2)

Martapura: KP2KP, Mayat, dan Pistol (1)


Barangkali Anda akan salah mengira jika saya sebutkan nama Martapura. Tidak, bukan kota yang di Pulau Kalimantan yang saya lawat kali ini. Martapura yang ini berada di Pulau Sumatera. Sama-sama menjadi ibu kota kabupaten.

Kereta api Limited Express Sriwijaya yang saya naiki akhirnya berhenti di Stasiun Martapura, Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan. Kereta api itu mulai berangkat dari Stasiun Tanjung Karang, Bandar Lampung pada pukul 21.00. Singgah sebentar saja di stasiun kecil ini.

Baca Lebih Lanjut.

Matanya Penuh Kenangan, Tercecer di Mana-mana


Saya tersentak. Mimpi itu membangunkan saya. Padahal pesawat terbang ini belum juga lepas landas dari Bandara Adi Sumarmo. Dalam mimpi itu saya seperti berada dalam sebuah penjara gelap.

Topeng besi dengan lubang hanya untuk kedua belah mata menutupi seluruh wajah. Tak ada lubang untuk mulut. Saya merasa seperti dibekap dan berada di ruang sempit. Perasaan takut tempat sempit itu tiba-tiba datang lagi.

Baca Leboh Lanjut.

Candra Membulat di atas Legian



Kehidupan malam yang gempita itu tak membuat saya beranjak dari lobi hotel. Benar-benar tidak mengusik kepenasaran saya tentang Legian. Hanya segelas kopi hitam panas yang saya sesap di atas meja sambil memandang candra yang membulat di hadapan dan di atas Legian.

Sampai pukul 01.15 dini hari sembari menunggu email yang masuk. Dari 100 orang itu berapa yang akan mengirim naskahnya. Masih belum sempat saya ketahui. Naskah yang lolos seleksi tahap pertama itulah yang akan diteruskan kepada saya.

Baca Lebih Lanjut.

Nusakambangan: Arketipe dan Eskapisme di Suatu Hari


Nusakambangan yang saya tahu adalah masa lalu. Ketika seorang penjahat bernama Johanes Hubertus Eijkenboom berusaha melarikan diri dari Nusakambangan. Lalu setelahnya festivalisasi para pengebom dan gembong pengedar narkoba. Tak dinyana, pada akhirnya waktu jua yang mengantarkan saya menginjakkan kaki di nusa yang pernah ada badaknya di tahun 1890-an ini.

**

Senin siang itu tiba-tiba saya ditugaskan sekonyong-konyong untuk segera berangkat ke Cilacap. Besok Selasa, ada dua peristiwa yang mesti dikabarkan. Pertama, penandatanganan Memo of Understanding (MoU) antara Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Tengah II dengan Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1 Batu, Nusakambangan. Kedua, melihat penyerahan penunggak pajak yang disandera dan dipindahkan dari Lapas Mataram, Nusa Tenggara Barat ke Lapas Batu, Nusakambangan.

Continue reading Nusakambangan: Arketipe dan Eskapisme di Suatu Hari

Jejaki Wisata Alam Tapak Kaki Raksasa Tuan Tapa di Tapaktuan



Sekarang lokasi ini sudah berubah jauh dibanding tiga tahun yang lalu. Lokasi yang terkenal di seantero Aceh yaitu jejak tapak kaki raksasa Tuan Tapa di Tapaktuan. Sebuah legenda yang masih dituturkan sampai saat ini oleh masyarakat sana. Di samping keindahan alamnya yang luar biasa.

Baca Legenda: Antara Legenda dan Takdir, Ini yang Menarik di Tapaktuan.

Hari ini ada kunjungan dari teman-teman Kantor Pelayanan Pajak Pratama Lhokseumawe yang mengadakan Tour de Aceh. Dari Lhokseumawe menuju Takengon lalu ke Beutong dan menginap di Nagan. Lalu menuju Tapaktuan, nanti dari Tapaktuan menuju Subulussalam dan Singkil. Dari Singikil balik lagi ke Subulussalam menuju Medan dan Langsa. Lalu Selasa pagi direncanakan sudah sampai di Lhokseumawe kembali.

Baca Lebih Lanjut.