Yang Berlarian di Kepala


Duhur itu, mobil kami bergerak meninggalkan pusat kota Timika. Kami berencana menuju Kuala Kencana. Ini kota yang dibangun Freeport sebagai tempat keberadaan kantor mereka dan perumahan para pegawainya.

Letaknya 20 km dari tempat kami menginap atau sekitar setengah jam perjalanan.  “Sampai di sana nanti kita ke alun-alun dan supermarketnya,” kata Mas Alef. Di sepanjang perjalanan itu Mas Alef banyak bercerita tentang Kuala Kencana dan Tembagapura. Kota yang disebut terakhir ini masih empat jam perjalanan dari Timika. Di sana adalah tempat tambang dan mes pekerja PT Freeport Indonesia.

Continue reading Yang Berlarian di Kepala

Menjumpai Pertengkaran yang Entah Mempertengkarkan Apa


Interior Bandara Mozes Kilangin (Foto milik pribadi)

Namanya Bandara Mozes Kilangin. Awalnya didirikan untuk operasional Freeport di tahun 1970. Kemudian bandara ini dialihfungsikan untuk penerbangan umum pada 2008. Modernisasi dan perluasan bandara dilakukan sejak 2014. Bandara di sisi utara landasan tetap menjadi sarana pendukung utama Freeport dan bandara di sisi selatan landasan menjadi pintu keluar masuk penumpang komersial. Jelas, Bandara Sentani kalau jauh dibandingkan Bandara Mozes Kilangin. Selain luas dan megah, bandara ini memiliki desain dengan perpaduan arsitektur lokal dan modern.

Saya merasakan keunikan tersendiri saat mendengar untuk pertama kalinya nama Mozes Kilangin disebut. Setelah saya menelusurinya di internet, saya mengetahui kalau nama ini diambil dari nama seorang tokoh penting suku Amungme, sebuah suku yang mendiami wilayah pegunungan Mimika. Ia orang Amungme pertama kali yang berhasil tamat pendidikan guru. Ia juga yang memperjuangkan nasib masyarakat adat dan menjadi penengah antara suku, perusahaan, dan pemerintah.

Continue reading Menjumpai Pertengkaran yang Entah Mempertengkarkan Apa

Di Balik Jendela 5F


Danau Habema dilihat dari ketinggian (Foto milik pribadi).

Tidak pernah terbayangkan pada akhirnya saya bisa menginjakkan kaki ke Timika. Sebuah tempat yang sangat terkenal di seantero Indonesia karena ada Freeportnya. Perusahaan pertambangan emas yang dulu dimiliki perusahaan Amerika Serikat dan sekarang 51% sahamnya dikuasai pemerintah Republik Indonesia.

Timika merupakan ibu kota Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Ibu kota Provinsi Papua Tengah berada di Nabire. Saya mengetahuinya karena saya ditugaskan di Papua. Kalau tidak, pelajaran geografi pulau Papua hanya sebatas Jayapura dan Merauke.

Continue reading Di Balik Jendela 5F

Anakku Ganteng Seperti Orang Pantai


Bersama Mama Tua dan Agus yang sedang menangis.

 

Setelah bersilaturahmi dengan Kepala Badan Pengeloaan Aset dan Keuangan Daerah (BPKAD) Provinsi Papua Pegunungan, Kepala BPKAD Kabupaten Jayawijaya, dan Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Wamena, saya diajak untuk mengunjungi salah satu honai yang ada di pinggiran Wamena.

Di sana ada mumi yang dipertunjukkan kepada kami dengan salah seorang pemuda berpakaian adat Papua. Tentunya lengkap dengan hiasan taring babi di hidungnya. Mumi berusia ratusan tahun ini merupakan warisan budaya Suku Dani di Lembah Baliem.

Continue reading Anakku Ganteng Seperti Orang Pantai

Di Antara Jembatan Holtekamp dan Kenangan Tapaktuan


Setelah bertemu dengan Pak Sekti di kanwil, hari belumlah selesai. Sehabis salat Asar saya langsung mengumpulkan anggota tim Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jayapura. Saya ingin berkenalan dan menyamakan visi dengan mereka.

Waktu berjalan dengan cepat. “Nanti kita buka puasa bareng di luar, Pak,” kata Mas Chandra, Kepala Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal, KPP Pratama Jayapura.

Continue reading Di Antara Jembatan Holtekamp dan Kenangan Tapaktuan

Merasa Sedikit Lebih Pulang


Setelah melepas Bu Hanna, saya segera berganti pakaian. Sebentar lagi masuk waktu salat Jumat. Saya tidak perlu jauh-jauh mencari masjid karena ada masjid di belakang kantor. Namanya Masjid Shalahuddin. Masjid ini dibangun di masa kepemimpinan kepala kantor sebelumnya, yaitu Pak Haris FM.

Dari cerita teman-teman di sini, pendirian masjid dilatarbelakangi adanya pegawai yang sewaktu mau salat Subuh di luar sempat mengalami pemukulan. Akhirnya daripada keluar jauh-jauh cari masjid, Pak Haris FM berinisiatif mendirikan masjid di dalam kompleks perkantoran KPP Pratama Jayapura.

Continue reading Merasa Sedikit Lebih Pulang

Tifa di Hari Pertama


Lampu di ujung pesawat saat meninggalkan Jakarta.

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya pernah meminta kepada pramugara Batik Air itu untuk membangunkan saya di waktu sahur, tetapi justru saya terbangun oleh suara samar-samar pengumuman. Saya beruntung bisa terbangun.

Pengumuman itu menginformasikan kalau waktu Subuh akan segera tiba 20 menit lagi. Jam ponsel menunjukkan pukul 03.10. Masih dalam mode Waktu Indonesia Barat. Saya segera menyantap roti yang disiapkan sebelum berangkat. Bismillaah, saya iringi pula dengan niat berpuasa Ramadan. Di luar jendela belum terlihat apa-apa selain gelap dan kelap-kelip lampu di ujung sayap pesawat.

Continue reading Tifa di Hari Pertama

Empat Jam dari Jakarta: Menyingkap Keberadaan Suku Terasing


Indonesia masih memiliki suku terasing sampai di era modern ini, seperti suku Togutil di Halmahera Utara, Suku Kombai dan Korowai di Papua, atau Suku Kubu di Jambi dan Sumatera Selatan.

Keterasingan ini bisa karena keterisolasian secara geografis. Namun, tidak jauh dari Jakarta, sejarak 160-an km, atau kurang dari empat jam perjalanan, tinggallah Suku Baduy di wilayah Provinsi Banten. Suku ini mengisolasi diri dari kemajuan peradaban. Jika mengutip penelitian Yunita dkk. (2025), suku Baduy merupakan suku bangsa yang masih teguh mempertahankan adat istiadat dan tradisi mereka.

Baca Lebih Banyak

Orang-Orang Kazakh


Menuju Makkah Almukarramah.

Pada zaman Kekhalifahan Utsmani, tepatnya di masa Sultan Abdul Hamid II, dibangunlah jalur kereta api dari Damaskus, Amman (Yordania), sampai ke Madinah. Jalur itu selesai dibangun pada 1908 dan mulai beroperasi pada 1912. Namun, sejak Perang Dunia I jalur itu mulai terbengkalai sampai sekarang. Stasiun Madinah dalam Jalur Kereta Hijaz itu menjadi museum belaka pada saat ini. Letaknya kurang dua kilometer dari hotel kami.

Namun, dari tempat mikat kami di Bir Ali, stasiun itu bukan tujuan kami, melainkan Stasiun Kereta Cepat Madinah. Stasiun ini sepi. Tidaklah seramai stasiun kereta yang ada di tanah air. Tempat parkir stasiun luas. Ada masjid juga. Bus yang mengantarkan kami langsung meninggalkan stasiun begitu semua penumpangnya turun. Tidak ada kendaraan lain, kecuali satu kendaraan polisi yang ikut meninggalkan stasiun juga. Sekilas saya melihat salah satu polisi itu merokok.

Continue reading Orang-Orang Kazakh

Kembali ke Bandung dan Sajak-Sajak Kecil kepada M


Saya kembali ke Bandung. Kota yang banyak meninggalkan kenangan sedari dulu. Goenawan Mohamad pernah menulis catatan pinggir dengan judul satu kata itu. Lead-nya demikian:

Di bawah celah di antara rimbun pohon-pohon hutan di Ohio, wanita tua itu memimpin pertemuan para bekas budak. Ia namai pertemuan itu “Call”. Ia tak berkhotbah. Baby Suggs hanya berkata, “Di tempat ini, di sini, kita daging, daging yang nangis, ketawa; daging yang menari dengan kaki telanjang pada rumput.”

Baca Lebih Lanjut