Buatku, Apalagi yang Ditunggu?



Aku pilih untuk menyudahi malam dengan memintal doa untukmu; untuk bahagiamu. Pada satu doa saat keinginan dan kepasrahan bersatu dalam sujud tanpa syarat, di sanalah kamu sebagai titik tujuannya.

(Moammar Emka)

Saya kembali tidur di musala lantai 2 Bandara Kualanamu tadi malam. Ini untuk kedua kalinya. Yang pertama karena ketinggalan travel menuju Tapaktuan beberapa waktu yang lalu. Sekarang, karena saya menyengaja menghindari naik travel agar bisa berlama-lama dengan keluarga. Dan karena saya sudah sampai pada titik jenuhnya mengarungi gelapnya malam Senin, Kabanjahe, Sidikalang, Subulussalam serta mengorbankan diri untuk duduk berlama-lama selama 10 jam di mobil Kijang Innova.

Makanya saya lebih memilih penerbangan terakhir dari Bandara Halim Perdana Kusumah menuju Bandara Kualanamu dengan menggunakan pesawat Batik Air pada pukul 20.05. Ternyata, saya banyak bertemu dengan teman-teman sejawat yang juga berangkatnya sama: memilih penerbangan terakhir.

Baca Lebih Lanjut.

FREELETICS WOCHE 6: 5893 Meter



Lebih dari dua puluh tahun yang lalu saya memulai memakai jaket STAN Prodip Keuangan. Dan kini melihat anak-anak muda yang berjas sama di Balai Diklat Keuangan (BDK) Medan. Kelak mahasiswa D1 STAN ini akan menjadi generasi baru Kementerian Keuangan menggantikan para seniornya. Perilaku mereka sudah dibina sedemikian rupa. Kalau bertemu dengan seniornya selalu pertama kali mengucapkan salam.

*

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #43: SAAT LAPANG BARU BERBAGI, SEMPIT EUWEUH



…dan Kami lebih dekat kepadanya

daripada urat lehernya. (Alqaaf:16)

Stasiun Kereta Api Medan. Tiga hari sebelum Ramadan 1435 H usai. Saat itu menjelang waktu berbuka puasa. Saya duduk di bangku tunggu stasiun dekat musala. Sembari menunggu pengumuman keberangkatan kereta yang akan mengantarkan saya ke Bandara Kualanamu.

Tidak seberapa lama, seorang laki-laki yang membawa troli bagasi penuh tas dan kardus datang mendekat. Mungkin ia akan ke toilet yang berada di sebelah tempat salat ini, pikir saya. Memandang wajahnya seperti sangat dekat. Pernah saya kenal.

Saya berinisiatif untuk menyapa duluan, “Mas, kayaknya saya kenal. Di mana yah?” Langsung dia menjawab, “Mas Riza yah?” Ia menyebut nama. “Kita pernah satu kos dulu,” katanya lagi. Ingatan saya langsung menuju kampus STAN dulu. Setelah itu kami hanyut dalam perbincangan masa lalu dan sekarang.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #18: NOTHING’S IMPOSSIBLE


RIHLAH RIZA #18: NOTHING’S IMPOSSIBLE

 

 

dt.common.streams.StreamServer

Ilustrasi Pohon Tumbang dari gazettenet.com

 

Hujan deras mengguyur sebuah kota di India. Jalanan lumayan padat saat itu. Sampai kemudian ada pohon tumbang jatuh menghalangi jalan. Untung pohon itu tidak menimpa apa pun. Walaupun jalanan ramai, tak ada satu pun yang bergerak untuk menggesernya. Sama sekali tidak ada.  Lalu muncul anak kecil yang mendorong pohon itu. Raut muka meringis sungguh-sungguh tertera di wajahnya karena tenaga yang berusaha ia keluarkan.

Ukuran tubuhnya saja jelas tidak mungkin akan bisa menggeser satu sentimeter pun. Ia memang tak bisa menggesernya. Tapi ia punya laku. Ia punya tekad. Laku dan tekad itulah yang membuang egoisme orang kota dan menggerakkan orang dewasa yang punya nalar itu untuk sama-sama turun membantunya. Laki dan perempuan, tua dan muda, semua turut menggeser tumbangan pohon di tengah hujan yang tak mau berhenti. Akhirnya mereka berhasil, hujan pun berhenti tiba-tiba, langit tersibak, matahari muncul, dan jalanan pun lancar kembali.

**

Hari ahad pekan itu saya harus kembali ke Tapaktuan dari Jakarta. Sesampainya di Medan petang hari. Dari Medan biasanya saya naik travel. Tapi kali ini saya diajak ikut rombongan teman yang tinggal di kota terbesar ketiga di Indonesia ini.

Jalanan sepanjang ratusan kilometer telah kami lalui. Di tengah perjalanan mobil yang kami tumpangi berenam ini tiba-tiba harus berhenti mendadak. Syukur, kecepatannya masih bisa dikendalikan. Kami merayakan sepi yang menyengat ketika mesin mobil dimatikan di tengah hutan seperti ini. Persis di depan kami, dalam jarak yang tidak terlalu jauh, sesuatu menghalangi jalan. Sepintas seperti susunan batu yang disemen dalam kepekatan dini hari.

Ternyata itu pohon besar. Tidak ada orang di sana seperti yang sudah-sudah sebagai modus pemalakan. Menebang dahan pohon, menaruhnya di tengah jalan, dan meminta uang kepada pengguna jalan di kegelapan malam. Sekarang, ini pohon yang sebenar-benarnya tumbang.

Tidak ada yang lain selain kami dalam beberapa saat. Kami sudah meninggalkan jauh rombongan mobil di belakang. Di depan kami, dari arah yang berlawanan, di balik pohon tumbang pun belum ada mobil juga. Hanya kami sendirian waktu itu.

Kami turun. Kami terpana. Banyak pertanyaan yang memenuhi kepala. Bagaimana caranya kami melewati halangan ini? Kami harus segera sampai di Tapaktuan sedangkan perjalanan masih jauh, masih beberapa jam lagi.  Tidak ada jalan memutar menuju daerah di depan kami, Kota Subulussalam. Ini satu-satunya jalan dari Medan menuju Tapaktuan.

Sebelumnya kami pun harus melewati jalan sempit yang berkelok-kelok, gelap, dan penuh kabut. Kabutnya tebal sehingga wiper mobil kami harus dinyalakan agar tidak ada air yang menghalangi pandangan. Jarak pandang pun terbatas. Teman kami, Dony Abdillah, yang memegang kemudi harus ekstra hati-hati. Pengalaman berbulan-bulan membawa mobil Medan-Tapaktuan pulang pergi di akhir pekan cukup menambah kewaspadaannya.

Pohon ini tumbang dari sisi kanan kami. Tebing dari sebuah pegunungan. Di sebelah kiri kami jurang. Dasarnya tidak tahu seberapa dalamnya. Gelap. Sepertinya pohon ini tumbang barusan saja. Karena jarak kami dengan mobil yang menyusul kami tak seberapa lama. Mobil itu melewati bagian jalan ini dan tepat beberapa detik atau menit kemudian pohon itu rubuh. Atau sebenarnya mereka jatuh ke dalam jurang itu, terdorong reruntuhan pohon. Kami tak tahu.

Dari arah yang berlawanan mulai muncul satu mobil. Supir dan penumpangnya turun. Mereka melihat apa yang telah menghalangi perjalanannya. Setelah mengetahui kondisi pohon yang jatuh ia bisa langsung ambil kesimpulan. Supir mobil sana di tengah keterpanaan kami yang begitu lama langsung ambil insiatif untuk menyingkirkan satu per satu. Saya pun langsung ambil bagian. Begitu pula teman-teman yang lain. Ini langkah yang tepat daripada kami hanya berdiam diri menunggu nasib selanjutnya, menanti bentuk pertolongan lain yang kami tak tahu seperti apa.

Kami harus patahkan ranting-rantingnya terlebih dahulu sebelum menyingkirkan batang pohon yang besar itu. Pohon ini ternyata pohon tua dan sudah lapuk. Kami kikis dengan tangan kosong semua yang menghalangi jalan. Tanah, dahan kecil, ranting, dan daun-daun kami terjunkan ke sisi kiri, ke jurang. Suara benda jatuh yang menyentuh dasar jurang terdengar lama sejak digelindingkan dari atas. Tanda jurangnya dalam.

Yang kami khawatirkan pada saat proses pembersihan itu adalah masih adanya reruntuhan di atas yang belum semuanya turun. Jangan-jangan ketika kami menarik ranting-ranting itu lalu longsoran tanahnya menghunjam ke bawah dan menimpa kami. Tapi kami tepis semua pikiran buruk itu. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Semua patahan dan longsoran yang bisa kami buang dengan alat ala kadarnya dapat kami singkirkan. Tinggal batang pohonnya.

Tak lama kemudian tempat itu mulai hidup. Mobil dari arah yang sama dan berlawanan sudah mulai menumpuk.  Juga bus besar. Ini sangat membantu kami. Artinya akan ada banyak tenaga tambahan untuk menyingkirkan halangan yang masih teronggok di tengah jalan.

Beberapa orang sudah mulai menggulingkan batang pohon yang besar itu. Pohon ini harus digulingkan ke jurang agar terbuka jalan untuk semua kendaraan dari dua arah.  Kalau Jika hanya digeser ke sisi kanan, maka hanya memberikan ruang untuk mobil berukuran sedang saja. Bus dan truk jelas tak akan bisa melewatinya. Tapi menggulingkan pohon itu ternyata sulit, karena di akarnya masih banyak tanah dan potongan dahan-dahan yang menumpuk. Pohon hanya bergeser sedikit.

“Itu harus disingkirkan satu per satu,” kata saya kepada mereka.

“Kapan selesainya?” kata salah satu dari mereka meruntuhkan harapan.

Bagi saya perkataan itu perkataan negatif. Saya yakin kalau satu demi satu, sedikit demi sedikit, bagian-bagian dari tanah dan tumpukan itu dibuang ke jurang—tidak sekadar dipinggirkan—maka lama kelamaan akan habis juga. Buktinya tidak akan mungkin di hadapan kami tinggal batang pohon itu saja jika kami tidak menyingkirkan satu demi satu semua ranting dan dahan-dahan sebelumnya.

Juga perkataan itu mengandung keegoisan tingkat tinggi karena hanya memikirkan kepentingan mobil berukuran sedang saja. Bus jelas tidak dipikirkan. Tapi apa mau dikata karena memang belum semua penumpang bus turun untuk turut membantu. Kalau semua turun, insya Allah akan selesai dalam waktu yang tidak lama. Tidak ada yang mustahil. Seperti yang Oz bilang dalam OZ The Great And Powerful: “Nothing’s impossible if you just put your mind to it.”

Tapi mereka bergeming. Juga penumpang bus tidak ada yang turun. Ya sudah, kami pun mengerjakan apa yang bisa kami kerjakan. Kami berenam berburu dengan waktu. Maka dengan bantuan tali, dorongan, daya ungkit dari potongan kayu di bawah pohon akhirnya pohon besar itu bisa digeser ke sisi kanan. Jalan terbuka pas untuk mobil pribadi. Bus dan truk tidak bisa lewat karena sebelah kanan jurang menganga gelap.

Setelah terbuka jalan, mobil-mobil kecil pun bergegas melaluinya dengan kesetanan. Seperti air lepas dari bendungan. Bahkan mobil kami yang paling depan pun disusul oleh banyak mobil dari antrian paling belakang. Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi saat itu. Saya tak tahu nasib para penumpang bus dan truk itu selanjutnya.

Hambatan seperti tanah longsor adalah salah satu risiko yang harus dilalui oleh para pelaju dari Kota Medan menuju Tapaktuan selain dipalak, mobil masuk sungai, masuk jurang, ban kempis, dan mesin mogok. Kami tidak akan pernah menghendaki kejadian itu menimpa kami tentunya.

Kejadian di sana memang ada laku dan tekad. Ikhtiar untuk berusaha menyingkirkan pohon. Laku dan tekad dari segelintir kami. Tapi itu tidak mampu menggerakkan banyak orang untuk turun bareng menyingkirkan segala. Laku dan tekad yang dipertunjukkan oleh anak kecil di atas cuma ada di televisi. Iklan sebuah minuman. Tidak menjadi nyata di sini. Di pinggiran hutan belantara ini. Maka nothing’s impossible pun tegas dibekap kabut dan benar-benar menjadi mustahil. Dini hari itu kami merayakan ketidakmungkinan dalam pikiran kami.

Beberapa jam kemudian kami tiba di Kota Tapaktuan. Jam enam pagi kota kecil ini masih sepi. Matahari pun belum bangun. Kami kemudian sukses menaruh jari di mesin finger print KPP Pratama Tapaktuan. Senin ini kami tidak terlambat. Itu berarti penghasilan kami tidak dipotong. Alhamdulillah.

Jika ada yang mengatakan kalau tidak mau dipotong ya jangan terlambat. Jika tidak mau terlambat berarti jalan dari Kota Medannya Minggu siang saja, jangan malam Seninnya. Coba yang berkata demikian untuk ditugaskan terlebih dahulu di sini.  Di daerah yang peringatan hari jadinya yang  ke-68 pada tanggal 28 Desember 2013 ini akan dihadiri oleh Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal. Semata bagi kami kebersamaan dengan keluarga menjadi saat-saat yang tak bisa dinilai dengan materi.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dini hari di tengah debur ombak

00:35  24 Desember 2013

 

 

 

RIHLAH RIZA #15: BERAPA JUGUN IANFU?


RIHLAH RIZA #15: BERAPA JUGUN IANFU?

Selain sebagai pegiat LSM lingkungan di Conservation International, bintang Hollywood pendukung zionis ini ternyata juga pengoleksi pesawat terbang pribadi untuk pergi ke ranch, mansion atau ke mana saja ia suka. Salah satu yang ia punya adalah jenis pesawat yang saya naiki pertama kali ini dan itu pun dibiayai negara.

*

    Di atas pesawat berbaling-baling satu milik maskapai penerbangan perintis Susi Air yang sedang menaik saya lamat-lamat menatap dari kejauhan Bandar udara Teuku Cut Ali, Pasie Raja, Aceh Selatan. Semakin kecil, kecil, dan kecil saja bangunan yang ada di sana. Dari atas ketinggian itulah saya baru tahu kalau bandara itu dekat dengan pantai indah berpasir putih yang menyambung dengan Pantai Cemara di kejauhan sana. Selanjutnya akan banyak pemandangan memukau yang menemani saya sepanjang perjalanan.

    Pesawat Cessna Grand Caravan C208B ini akan membawa saya menuju Banda Aceh untuk melaksanakan tugas yang diberikan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan yakni menghadiri acara Forum Penagihan se-Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Aceh selama tiga hari. Kemudian lanjut dengan penugasan lainnya yaitu memberikan pelatihan menulis buat teman-teman di Forum Pelayanan dan KP2KP se-Kanwil DJP Aceh di Lhokseumawe. KP2KP merupakan singkatan dari Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan. Kantor instansi vertikal DJP setingkat eselon empat.

    Saya cuma sendirian di atas pesawat itu. Sebelas kursi lainnya kosong. Saya duduk di bagian belakang. Ini bukan kemauan saya. Tapi sudah diarahkan oleh petugas Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan untuk duduk di belakang. Kalau yang naik dua atau tiga orang atau lebih pengaturan tempat duduknya pun akan berbeda. Mungkin maksudnya untuk menyeimbangkan beban yang ada.

Di bagian depan ada dua orang yang mengemudikan pesawat ini. Ruangan mereka tanpa sekat dengan ruangan penumpang. Saya tak tahu yang mana dari mereka berdua itu yang menjadi supir benerannya (pilot utama) dan mana yang jadi supir tembak atau keneknya (ko-pilotnya). Kalau lihat film-film Hollywood biasanya yang sebelah kiri yang jadi pilot utama.

Satu orang pilot berkebangsaan Jepang dengan wajah khasnya yang rada-rada bagero itu. Dialah yang duduk di sebelah kiri. Satu lagi orang bule gundul yang saya tak tahu berkebangsaan apa. Dari supir Susi Air yang menjemput saya di mess saya dapat informasi kalau para pilot itu selain dari Jepang juga berasal dari Jerman, Belanda, dan Spanyol.

Sebagai salah satu bentuk pelayanan prima mereka, cabang Susi Air yang ada di Tapaktuan memberikan fasilitas layanan antar jemput dari dan atau menuju bandara. Tentunya dengan tambahan ongkos sebesar dua puluh ribu rupiah. Ini sepadan dengan 45 menit yang dibutuhkan mobil itu melaju dari Tapaktuan menuju bandara atau sebaliknya.

Tidak setiap hari pesawat ini ada di Tapaktuan. Hanya ada pada Hari Senin, Selasa, Jumat, dan Sabtu. Rutenya pun bermula dari Bandara Internasional Kualanamu, Medan yang berangkat jam tujuh pagi. Satu jam kemudian tiba di Bandara Teuku Cut Ali. Lalu berangkat lagi menuju Bandara Internasional Iskandar Muda, Banda Aceh. Dari sana pesawat itu kembali lagi ke Tapaktuan dan Medan.

Susi Air memang melayani semua daerah di Provinsi Aceh yang ada bandaranya. Ongkosnya masih terjangkau karena setengahnya disubsidi oleh pemerintah pusat. Oleh karenanya mereka harus tetap berangkat mengudara walau tidak ada penumpang sama sekali. Sayangnya informasi tentang jadwal penerbangannya sampai dengan saat ini tidak bisa diakses melalui situs internetnya. Para penumpang harus menelepon ke nomor telepon masing-masing cabang yang telah disediakan di situs itu jika ingin memesan tiket. Tiketnya pun masih ditulis dengan tangan seperti tiket travel Tapaktuan-Medan.

Faktor cuaca sangat menentukan apakah pesawat jadi berangkat atau tidak. Walaupun dalam brosur promosinya mesinnya tahan untuk segala jenis cuaca. Jadi bisa saja jadwal terbang kita pada hari itu batal karena pesawat tidak jadi berangkat. Tapi tentunya tiket tidak hangus. Penerbangan akan dijadwalkan keesokan harinya.

Alhamdulillah Senin itu cuaca sangatlah cerah. Saya masih dapat menikmati pemandangan pantai dan kota Tapaktuan saat pesawat ini melintas di atasnya. Pesawat ini sebagian perjalanannya menyusuri pinggiran pantai barat Aceh. Sebagian lainnya di atas pegunungan yang syukurnya masih lebat dengan hutan.

Ini berbeda dengan apa yang saya lihat di tahun 2005 saat saya menaiki sebuah pesawat kecil dari pedalaman Kalimantan Tengah menuju Kota Balikpapan. Yang tampak hanyalah dataran gundul dan bopeng-bopeng sebagai akibat penambangan dan penebangan liar. Paru-paru dunia itu telah mengalami luka dahsyat yang entah bagaimana lagi kondisinya pada saat ini. Itulah yang menyebabkan Harrison Ford dengan kurang ajarnya menyemprot Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menuntut agar para pelaku deforestasi itu dipenjara.

Bandar Udara Teuku Cut Ali (Foto koleksi pribadi).

Kabin pesawat Cessna Grand Caravan C208B (Foto koleksi pribadi).

Air minum dalam kemasan,kue semacam dorayaki, dan kue yang didalamnya ada kacang ijo. (Foto koleksi pribadi)

Pemandangan pantai di daerah dekat Tapaktuan Aceh Selatan dari atas ketinggian. (Foto koleksi pribadi).

Pemandangan pegunungan dari atas ketinggian (Foto koleksi pribadi).

Persawahan di dekat Kota Banda Aceh (Foto koleksi pribadi).

 

 

Pesawat yang saya naiki saat mendarat di Bandara Internasional Iskandar Muda (Foto koleksi pribadi).

 

Di dalam pesawat, selagi pilot asyik makan wafer, saya pun menyantap snack dalam kotak yang telah diberikan petugas Susi Air sebelum pesawat mengudara. Pilot dari Jepang itu juga menyalakan
hp. Makanya saya pun tak canggung-canggung lagi whatsapp-an, gtalk-an, sms-an dengan teman-teman di hp. Tak ada awak kabin pesawat yang mendemonstrasikan prosedur keselamatan penerbangan seperti di pesawat berpenumpang banyak.

Walau sudah tak terhitung berapa kali mereka melintasi daerah yang sama, entah kenapa pilot asing dari Jepang itu juga masih suka mengambil gambar dengan kamera hpnya. Satu hal yang pasti dan tidak bisa dipungkiri adalah Indonesia itu indah, subur, dan kaya. Ini masih mending pilot Jepang itu cuma mengambil gambar, nenek moyangnya dengan semangat imperialis dan fasisnya mengambil habis raga dan jiwa anak bangsa serta kekayaan negeri ini.

Berapa ribu ton bijih besi yang dikirim ke negeri matahari terbit untuk dibuat senjata-senjata berat mereka? Berapa ratus ribu ton beras yang dikirim buat bekal pasukan mereka bertempur di seluruh asia pasifik? Berapa banyak leher nenek moyang kita terpenggal samurai-samurai mereka? Berapa nyawa hilang untuk romusha mereka? Berapa perempuan-perempuan terhormat kita, ibu-ibu kita yang menjadi Jugun Ianfu mereka? Kalau saja Nagasaki dan Hiroshima tidak dibom angka-angka yang akan menjawab banyak pertanyaan itu menjadi semakin tinggi.

Sekarang penjajahan fisik seperti itu sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah penjajahan dalam bentuk ekonomi dan budaya. Itu pun tanpa sadar dirasakan. Atau memang dirasakan bahkan dinikmati dengan sepenuh hati? Mereka mendapatkan harga yang murah dari gas yang dibeli dari kita sedangkan di saat yang sama industri kita masih kekurangan suplai gas dan harganya jauh lebih mahal. Masih bisa menghitung berapa potensi kerugian Pajak Penghasilan yang hilang dari setiap transaksi dividen terselubung yang dibalut dengan istilah royalti dan imbalan atas jasa yang dibayarkan oleh perusahaan Jepang di Indonesia kepada perusahaan induknya?

Aih, mengapa di atas ketinggian ratusan kaki di atas permukaan laut ini saya masih bisa berpikir tentang penjajahan masa lalu dan pertempuran argumentasi di ruang sidang Pengadilan Pajak sewaktu saya masih menjadi anggota Tim Banding Direktorat Keberatan dan Banding, DJP sedangkan di bawah sana masih banyak pemandangan indah yang bisa dinikmati?

Saya tatap kembali alam yang membentang. Pesawat itu bergoncang saat menabrak awan dan mengalami sedikit turbulensi. Saya memperbanyak shalawat seperti saat saya dulu pernah ketakutan menaiki mobil turbo kuning yang dipacu kencang teman saya di jalanan Sudirman menuju Thamrin.

Sudah 60 menit pesawat ini melayang di udara dan sebentar lagi akan mendarat di Bandara Internasional Iskandar Muda. Dari sana saya akan langsung ke hotel saja. Tapi ternyata tidak. Takdir nantinya membelokkan saya ke suatu tempat. Ini mengejutkan saya. Kalau saja saya tahu beberapa jam sebelumnya saya akan tiba di suatu tempat yang tidak pernah terlintas dalam pikiran untuk dikunjungi, saya mungkin tidak akan pernah seterkejut ini. Ya, karena saya tiba di suatu lokasi tempat dikuburkannya manusia setipe Harrison Ford di Banda Aceh.

***

Catatan: Jugun Ianfu adalah wanita yang menjadi budak seks di rumah bordil militer pendudukan Jepang.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Banda Aceh, 2 Desember 2013

RIHLAH RIZA #8: MEULABOH DAN 105 TAHUN YANG LALU


RIHLAH RIZA #8: MEULABOH DAN 105 TAHUN YANG LALU

Meulaboh. Di waktu sahur. Akhir Ramadhan 1316 H (11 Februari 1899 M). Suaminya tertembak di dada dan di perutnya. Tembakan prajurit Van Heutsz merobohkan dan menyebabkan suaminya meninggal dunia. Jenazah suami keduanya ini dibawa para pengikutnya untuk dikuburkan di sebuah tempat yang dirahasiakan agar tidak diketahui Penjajah Belanda yang ingin memastikan kalau “pengkhianat” yang bernama Teuku Umar ini benar-benar tewas.

    **

Kami bertiga tiba di Bandara Kualanamu jam 8.15 pagi (27/10) dan harus menunggu tiga jam lebih agar bisa naik pesawat ke Meulaboh. Untuk ke sana kami harus ganti pesawat yang lebih kecil lagi. Dari Jakarta menuju Kualanamu kami memakai pesawat Boeing yang dioperasikan Lion Air, sedangkan ke Meulaboh kami menggunakan maskapai Wings Air dengan pesawat ATR72-500 berbaling-baling dua buatan perusahaan Perancis-Italia. Tentu dengan kapasitas penumpang yang lebih sedikit daripada Boeing. Berkisar 70-an penumpang.

    Penerbangan kami ini merupakan penerbangan connecting. Kami cukup membeli tiket sekali saja. Ada beberapa jadwal penerbangan dari Jakarta mulai dari jam lima sampai jam delapan pagi. Semua penerbangan di jam tersebut transit di Kualanamu menunggu pesawat ATR72-500 yang dijadwalkan berangkat jam 10.45 siang. Saya sarankan jangan terbang dengan pesawat yang berangkat dari Jakarta jam delapan pagi karena dikhawatirkan ditinggal oleh pesawat ke Meulaboh itu jika ada keterlambatan atau delay di Bandara Soekarno Hatta.

(Koleksi Foto Pribadi)

    Ada keterlambatan. Oleh karenanya jam 11 lebih kami baru diminta untuk segera naik pesawat. Kami naik bus yang telah disediakan menuju pesawat yang diparkir jauh dari tempat tunggu kami. Karena pesawat ATR72-500 ini masuknya melalui pintu belakang maka tak perlu ada garbarata. Perlu waktu lima puluh menit penerbangan untuk sampai ke Bandara Cut Nyak Din, Meulaboh. Kalau ditarik garis lurus kami harus menempuh perjalanan sepanjang 295 km.

    Dua teman saya bertujuan akhir Meulaboh. Tetapi Meulaboh bukan tujuan saya. Tapaktuanlah yang menjadi tujuan. Tentu banyak jalan menuju Tapaktuan. Banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan untuk memilih jalan itu.

    Pertama, Jakarta-Banda Aceh melalui udara dilanjut dengan menempuh 439 km perjalanan darat menggunakan travel menuju Tapaktuan selama kurang lebih delapan jam. Jalanan mulus. Harga tiket pesawat dan lamanya perjalanan Jakarta-Banda Aceh tentunya lebih mahal dan lebih lama daripada Jakarta-Kualanamu apalagi kalau transit dulu.

    Kedua, Jakarta-Kualanamu melalui udara dilanjut menuju Meulaboh dengan pesawat dan masih ada 200-an km menuju Tapaktuan dengan perjalanan darat atau sekitar tiga sampai empat jam lebih. Harus ada yang menjemput di Bandara Cut Nyak Din. Jalanan mulus.

    Ketiga, Jakarta-Kualanamu melalui udara dilanjut menuju Tapaktuan dengan pesawat Susi Air berjenis Cessna Grand Caravan C 208 B berpilot dua orang dan berpenumpang dua belas orang. Tarifnya murah karena telah disubsidi pemerintah. Jadwalnya tidak setiap hari dan hanya di jam-jam tertentu. Untuk menyiasati waktu dan daripada menempuh perjalanan darat yang lama maka banyak teman di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan bila berangkat dari Jakarta ia mengambil perjalanan paling malam lalu menginap—tidur di mana saja—di Bandara Kualanamu kemudian lanjut dengan pesawat kecil menuju Bandara Kelas IV Teuku Cut Ali, Pasie Raja, Tapaktuan. Jadwalnya itu yang sering tidak bersahabat. Dari Tapaktuan sekitar jam empat sore sedangkan dari Kualanamu jam tujuh pagi. Tentu ini bikin terlambat (TLB) atau pulang cepat (PC) dalam catatan kehadiran kita.

    Keempat, Jakarta-Kualanamu melalui udara. Kemudian naik bus, kereta api, atau taksi menuju Medan. Lalu dari Medan naik travel atau bis menuju Tapaktuan. Menempuh tujuh hingga delapan jam perjalanan dengan jarak 390-an km. Jarak tempuhnya lebih pendek daripada rute dari Banda Aceh namun jalanan tidak mulus. Dengan perpindahan bandara dari Polonia, Medan ke Kualanamu, Deli Serdang menambah waktu tempuh untuk bisa sampai di Tapaktuan.

    Saran penting dari saya berdasarkan informasi dari teman-teman adalah lebih baik naik travel dari Medan ke Tapaktuan daripada naik bis jika ingin memburu waktu sampai di Tapaktuan pagi-pagi. Travel hanya ada di Medan. Belum ada di Kualanamu. Jam terakhir travel adalah jam 9 malam. Setelah itu tak ada lagi.

    Itulah empat rute menuju Tapaktuan. Sedangkan perjalanan dengan rute Jakarta Meulaboh ini saya tempuh karena ini merupakan perjalanan pertama, bersama teman, bawa banyak barang, dijemput juga oleh teman-teman, dan tidak mengetahui jalur langsung dari Kualanamu ke Tapaktuan. Rute ini tidak akan saya tempuh lagi Insya Allah. Yang masih masuk akal bagi saya adalah rute ketiga dan keempat.

    Ohya, penting juga diketahui, bahwa  ketika pesawat ini bertujuan Meulaboh, maka sesungguhnya pesawat ini mendaratnya di Bandara Cut Nyak Din yang berada di Kabupaten Nagan Raya. Kabupaten ini merupakan pecahan dan bersebelahan dengan Kabupaten Aceh Barat yang beribu kota Meulaboh. Masih 45 km dari Bandara Cut Nyak Din menuju kota Meulaboh.

Pesawat ATR72-500 saat tiba di Bandar Udara Cut Nyak Din, Kabupaten Nagan Raya. (Foto Pribadi)

    Saya tiba di Bandara Cut Nyak Din jam 12.15. Saya berpisah dengan dua orang teman saya yang ditempatkan di KPP Pratama Meulaboh. Lalu saya melanjutkan perjalanan dengan teman-teman dari KPP Pratama Tapaktuan yang menjemput saya satu jam kemudian. Mereka adalah Mas Yan Permana, Mas Hasbul—teman lama saya di KPP Penanaman Modal Asing Empat dulu, Mas Suardjono dan Mas Oji Saeroji.

    Mulailah perjalanan panjang kami menuju Tapaktuan. Melewati perkebunan kelapa sawit, jalanan mulus yang sepi, tak bertemu dengan bis gede-gede seperti di Pantura Jawa, jarang ketemu truk, tak ada angkot, yang ada pesaing kami: motor. Perjalanan kami diselingi dengan berhenti dua kali di masjid yang berbeda, lalu makan di rumah makan Jokja (Pakai k bukan g), dan berhenti sebentar di SPBU. Saya mengira perjalanan darat ini berlangsung singkat tapi ternyata lama. Saya sampai terkantuk-kantuk karena tempat tujuan tak kunjung tiba.

    Kami banyak disuguhi pemandangan elok. Bukit-bukit lebat seperti di jalanan Garut-Tasikmalaya. Bahkan suatu saat kami melewati barisan bukit yang diatasnya ditutupi kabut dan dari kumpulan kabut itu muncul lengkung pelangi yang luar biasa indahnya. Kebetulan habis hujan saat itu. Subhanallah. Indah banget. Apalagi kalau sudah sampai di Kecamatan Sawang, Tapaktuan kita akan melihat pemandangan pantai yang eksotis. Bagian tentang keeksotisan inilah yang saya tidak sabar untuk menuliskannya segera. Tapi nanti satu per satu saya akan menyuguhkannya di bagian lain.

Plang KPP Pratama Tapaktuan (Koleksi Pribadi)

Akhirnya pada pukul 18.15 saya tiba di Tapaktuan. Mobil yang kami kendarai mampir sebentar melihat kantor kami. Kata teman agar saya tidak shock dulu sebelum benar-benar bekerja esok harinya. Mess tempat saya akan tinggal berjarak tidak jauh dari kantor ini. Kurang lebih 75 meter.

So, total jenderal 14,5 jam perjalanan Citayam menuju Tapaktuan. Dengan kecanggihan teknologi perjalanan 2400-an km itu hanya ditempuh beberapa jam saja. Saya tak bisa membayangkan berapa hari perjalanan dengan menaiki kuda. Ngapain lagi bayangin naik kuda. Dengan kecanggihan teknologi itulah setidaknya mengurangi lelah yang diderita jika perjalanan itu harus kudu naik kuda atau perjalanan darat berhari-hari.

Tinggal ke depannya perlu dipikirkan lagi moda transportasi yang mengubah benda padat menjadi partikel tak terlihat dan memindahkannya dalam sekejap ke tempat yang dituju lalu menjadikan partikel itu seperti semula. Fiksi dan Hollywood banget. Tapi semua bermula dari mimpi seperti mimpi Leonardo Da Vinci yang merancang bangun alat yang bisa menerbangkan manusia. Atau seperti pintu doraemonkah?

Alat yang mampu menuntaskan rindu kepada orang dan kampung halaman, tanpa lelah, dan bisa setiap saat. Yang akan menuntaskan rindu seperti  rindu Cut Nyak Din akan negeri tempat ia dilahirkan. Ia terbuang di masa tuanya. Ke sebuah tempat yang jaraknya ribuan kilometer dari makam suaminya. Sebab suatu alasan: keberadaannya di Aceh membuat semangat perlawanan rakyat Aceh tetap berkobar. Tentu jangankan pesawat, bus pun tak ada pada masa itu.

Gunung Puyuh, Sumedang. Di 105 tahun yang lalu dari tanggal ini, tepatnya 6 November 1908 ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Keterasingan yang dibawa sampai mati. Tapi jasanya tak pernah terasing di jiwa anak bangsa atas semangat dan perlawanannya yang tak mengenal lelah dan sakit. Dan saya hampir dekat dengan Meulaboh. Suatu saat, jika ada waktu dan kesempatan saya akan mengunjungi makam suaminya dan berdoa di sana: agar Allah menggabungkannya ke dalam golongan orang-orang yang syahid.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 5:51 6 November 2013

Tags: Jakarta-Meulaboh, Pesawat dari Jakarta ke meulaboh, Jakarta-tapaktuan, pesawat dari Jakarta ke tapaktuan, citayam, tapaktuan, kpp pratama tapaktuan, nagan raya, aceh selatan, aceh barat, bandara teuku cut ali, bandara cut nyak din, garut-tasikmalaya, garut, tasikmalaya, pesawat ke tapaktuan, pesawat ke meulaboh, jadwal ke meulaboh, jadwal ke tapaktuan, kpp pma empat, kpp penanaman modal asing empat, rumah makan jokja, pesawat atr72-500, kualanamu, banda aceh, medan, yan permana, oji saeroji, hasbul, suardjono, polonia, deli serdang, pasie raja, kpp pratama meulaboh, teuku umar, sumedang, van heutsz, gunung puyuh.