Ini Sebab Video #aksibelaquran411 Bikin Nangis Banyak Orang


 

Banyak orang merinding, menangis, tergugah, tersemangati, dan berzikir banyak-banyak saat melihat video yang dibuat oleh Oyi Kresnamurti ini. Video ini merekam aksi damai yang diikuti oleh ratusan ribu rakyat Indonesia pada tanggal 4 November 2016.

Awalnya saya mendapatkan dari sebuah grup Whatsapp pada hari Minggu tanggal 6 November 2016. Ibu Muktia Farid membagi tautan di Youtube itu pada pukul 19.34 dengan testimoninya, “Bagus nih rekaman aksi 411.” Iseng saya membuka video itu dan menuju TKP. Dan waow! Benar, video ini bikin merinding.

Baca Lebih Lanjut.

Kemenkeu Mengajar: Sehari Menjadi Guru



“Kapan Abi bisa ke sini? tanya anak saya, Ayyasy, yang ada di pesantren di kawasan perbatasan Bogor-Sukabumi.

“Kayaknya enggak bisa hari ini Nak. Soalnya Abi harus persiapan buat ngajar besok,” jawab saya dari seberang telepon.

“Yaaaaaaah,” suara Ayyasy mengisyaratkan kekecewaan.

Ïya insya Allah besok, setelah ngajar Abi datang ke sana yah,” jawab saya sambil menahan perih karena ada lubang yang menganga tiba-tiba muncul di hati. Bagi saya yang jarang bertemu dengannya ini nada kecewa darinya tentu menyesakkan dada. Penugasan di Tapaktuan, Aceh Selatan, membuat saya hanya bisa pulang sekali dalam sebulan.

Baca Lebih Lanjut

Dua Bekal Buat Anda Para Aktivis Media Sosial



Pagi ini di saat salat duha, sebuah pesan masuk dalam aplikasi Whatsapp saya. Pesan dalam bentuk gambar seorang Imam Masjidilharam—Syaikh Sudais—yang di atas foto dirinya itu termaktub sebuah pesan kenabian. Ya, benar-benar pesan dari seorang nabi junjungan alam 1400 tahun silam.

Doa orang tua untuk anaknya bagaikan doa nabi terhadap umatnya (H.R. Adailami). Itu teks hadis nabi dalam gambar tersebut. Pesan yang datang pada saat yang tepat mewujud dalam sebuah amal: saya tergerak untuk mendoakan kembali anak-anak saya. Kalau saja ibu saya masih hidup saat itu, saya pun pasti akan menghubunginya untuk meminta doa mustajab.

Baca Lebih Lanjut.

5 Hal Penting dari Si Tuli yang Kudu Kamu Lakukan Segera



Ilustrasi ayah dan anaknya dalam suatu pernikahan (Dari sini)

Ada ulama yang dikenal sebagai seorang zuhud, warak, dan berkepribadian sederhana serta hidup dalam keprihatinan. Ia sezaman dan pernah bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Namanya Hatim Alasham. Nama lengkapnya Abu Abdurrahman Hatim bin Unwan Alasham. Ia dijuluki sebagai Alasham. Mengapa dijuluki sebagai Alasham (si tuli)? Ii Ruhimta dalam buku yang ditulisnya berjudul Kisah Para Salik menceritakan sosok syaikh dari Khurasan ini.

Dikatakan bahwa seorang perempuan bertanya kepada Hatim. Ketika bertanya tiba-tiba perempuan itu mengeluarkan angin. Merahlah mukanya karena malu. Hatim berkata kepadanya, “Hai, coba kamu keraskan suaramu agar dapat kudengar!” Perempuan itu bergembira sebab ia mengira bahwa Hatim itu tuli. Maka setelah peristiwa itu Hatim dikenal dengan Hatim Alasham.

Baca Lebih Lanjut.

SURAT YANG MEMBUATNYA GEMETAR


SURAT YANG MEMBUATNYA GEMETAR


    Surat pemanggilan dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu telah membuat keluarga besar istrinya terperanjat dan risau. “Apa salah suami saya? Kena kasus apa?” tanya Sang Istri. Tentu saja juga membuat dirinya yang sedang memulai iktikaf di hari pertama Ramadhan itu gamang. Bagaimana bisa kondisi ini ada ketika ia benar-benar ingin memulai iktikafnya secara penuh mulai hari pertama sampai hari terakhir nanti. Tapi ia menyadari bahwa ini semua takdir Allah.

    Yang membuatnya sedikit tenang adalah ia dipanggil oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu kapasitasnya hanya sebagai saksi atas sebuah kasus yang terjadi di sebuah perusahaan asuransi, tempatnya ia bekerja. Bukan sebagai tersangka ataupun terdakwa. Tapi itu saja sudah membuatnya menguras energi dan mengalihkan fokusnya.

    Berulang kali ia membaca surat itu. Pelan-pelan. Lalu ia pahami betul setiap kata yang ada. Agar tidak ada kata yang tidak dimengertinya. Ia mengontak teman-temannya untuk berkonsultasi tentang kasusnya ini. Semua dipersiapkan dengan betul supaya tenang dalam persidangan dan ia mampu menjawab semua pertanyaan Majelis Hakim.

    Selama proses itu ia mengamati cara berpikir dan tindakannya sendiri. Di sinilah ia mengerti bahwa telah ditampakkan di hadapan dirinya sebuah pelajaran maha penting. Pelajaran tentang laku yang seharusnya ia kedepankan saat berinteraksi dengan Al-Qur’an.

    Seharusnya ia lebih gemetar saat menerima ‘surat-surat’ dari Allah itu tinimbang surat dari Pengadilan negeri jakarta Selatan. Surat dari Sang Pencipta Manusia yang kedudukannya jelas sangatlah jauh daripada Majelis Hakim yang hanya makhluk fana. Apatah lagi saat membacanya. Ia seharusnya gemetar saat mendapat ancaman-ancaman jika Ia tidak memenuhi apa yang telah dijanjikannya saat ia masih berada di alam ruh.

    Seharusnya ia berlinang air mata saat ia tak mampu memahami setiap makna dibalik kata yang tertulis di sana. Apatah lagi saat ia menyadari bahwa ia tak mampu untuk melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan.

    Seharusnya ia lebih takut dihadapkan pada sebuah pengadilan kelak yang benar-benar tanpa intervensi uang dan kekuasaan. Pengadilan yang membuat setiap manusia terperanjat ngeri karena kedahsyatan suasananya. Apatah lagi Sang Hakimnya di sana.

    Pun seharusnya ia lebih mempersiapkan diri sesempurna-sempurnanya untuk mencari bekal terbaik. Agar kelak ia tak terjerembab karena dilempar dengan buku amalnya dari belakang. Duhai diri…berbeda sekali diri menghadapi dua hal ini.

     “Karena yang satu adalah material dan yang satunya lagi adalah masalah iman,” ujarnya. Ia menyadari bahwa ia adalah bagian dari milyaran manusia yang hidup di muka bumi ini dan berada pada zaman serba materialistis. Tapi tak serta merta harus terpalit, tersert-seret, dan terjerumus pada semua yang menggodanya.

    Tekad pun tercetus, materialisme bolehlah hidup tapi bukan di hatinya tapi cukup di tangannya. Di hatinya hanya untuk Al Qur’an yang kembali ia baca setiap harinya satu juz setelah Ramadhan meninggalkan dirinya. Ia tartilkan bacaannya, karena setiap huruf di dalamnya punya hak masing-masing untuk dibaca dengan benar. Ia bertekad kuat memahami makna yang dikandungnya, selain pula menambah pundi-pundi kekayaan hafalannya. Tertatih-tatih dengan memohon perlindungan-Nya agar ia selamat dalam mengumpulkan sebaik-baik bekal.

    Saya termenung mendengar tuturannya pada saat acara mabit tadi malam. Ini adalah sebagian kecil dari upayanya meri’ayah (memelihara) amalan-amalan Ramadhan agar tetap tumbuh dan bersemi setelah Ramadhan dan Syawal usai. Sebuah telatah yang patut dijiplak mentah-mentah tanpa perlu membayar royalti. Biar Allah SWT yang membayarnya saja dengan balasan banyak kebaikan.

**

Riza Almanfaluthi

@rizaalmanfaluth

Citayam, 23 September 2012

dimuat di Dakwatuna di

http://www.dakwatuna.com/2012/09/23125/surat-yang-membuatnya-gemetar/

Gambar diambil dari situs: http://www.iol.co.za/

KISAH NYATA: LAKUKAN INI JIKA INGIN PUNYA ANAK


KISAH NYATA: LAKUKAN INI JIKA INGIN PUNYA ANAK

image

“Jika belum adanya keturunan yang membuatmu gelisah di penghujung malam ini mintalah Allah ta’ala dengan do’a Nabi Zakariya.” Satu kalimat yang ditwitkan oleh Moh. Fauzil Adhim pada dini hari ini membuat saya termenung. Sebuah kebetulan bahwa pada malam itu saya ingin menuliskan sebuah cerita tentang kegundahan seorang teman akan hadirnya buah hati dalam umur perkawinannya yang baru mencapai lima bulan. (Baca Juga  PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI).

Sebuah waktu yang tidak bisa disetarakan dengan waktu sepi yang dimiliki oleh Nabi Zakariya dalam sebuah penantian yang panjang dan endapan keniscayaan kalau istrinya yang mandul tidak pernah mungkin akan punya keturunan. Maka hanya doa yang bisa terlantun: “Tuhanku, jangan biarkan aku sendiri. Dan Engkaulah sebaik-baik Waris (QS. 21: 89)”

Dalam sebuah percakapan maya, di pertengahan ramadhan 1433 H yang penuh keberkahan, tercetus sebuah kegalauan betapa pusing teman saya ini memikirkan istrinya yang juga belum mendapatkan tanda-tanda kehamilan.

“Kamu mau enggak saya beri solusi?” sebuah pertanyaan yang sebenarnya tak butuh jawaban. Karena dengan mengemukakan masalahnya pada saya saja setidaknya ia merasa sudah cukup gelisah itu terkurangi.

“Kamu dan istri kamu lakukan dua hal ini.”

“Apa?”

“Istighfar dan sedekah. Perbanyaklah. Misalnya saat mau berhubungan intim, saat kamu berdiri di dalam kereta, saat kamu bekerja. Insya Allah kita akan lihat hasilnya dalam sebulan ini.”

Hanya itu yang bisa saya sampaikan padanya persis seperti apa yang diriwayatkan oleh Abu Hanifah dalam Musnadnya, dari Jabir bin Abdullah ra, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad saw sambil berkata: “Wahai Rasulullah! Aku tidak dikaruniai seorang anak pun dan aku tidak memiliki anak.” Maka Rasulullah saw bersabda: “Lalu di mana kamu dari banyak beristighfar dan banyak bersedekah, karena engkau akan diberi rizki anak karena sebab keduanya.” Lalu laki-laki ini memperbanyak sedekah dan istighfar. Jabir berkata, “Maka orang ini dikaruniai sembilan anak laki-laki.”1)

Saya meyakinkannya untuk melakukan dua hal itu. Apalagi sudah jelas kalau dalam Surat Nuh (71: 10-12) disebutkan tentang janji Allah kepada orang yang meminta ampunan kepadaNya, maka Ia akan memberikan banyak rupa kebaikan dan salah satunya adalah memperbanyak harta dan anak. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

Kepada para jamaah shalat tarawih saya sampaikan cerita teman ini dan berharap ada keajaiban yang datang dalam sebulan ini. Pengharapan besar, doa yang terucap sepenuh keyakinan, sedekah yang seikhlas-ikhlasnya, permintaan ampunan tertuturkan dengan sebenar-benarnya permintaan, dari hati yang dilembutkan oleh madrasah ramadhan, pada waktu yang mustajabah, variabel manalagi yang akan membuat Allah tidak mewujudkan semua asanya?

Ramadhan usai, Syawal menjelang. Hiruk-pikuk mudik, lebaran, dan baliknya menyita perhatian semua. Tidak terkecuali saya. Tapi ada mekanisme takdir Allah yang sedang berjalan. Hari ke-9 Syawal sang teman memberitahu saya, “Aku mengucapkan terima kasih untuk saran dan doa kamu bulan puasa kemarin. Subhanallah walhamdulillah. Aku telah memastikan secara medis kalau kandungan istriku sudah berjalan kurang lebih lima minggu.”

Allah Maha Besar, nikmat mana lagi yang hendak diingkari. Allah tunjukkan keajaiban sedekah dan istighfar itu pada kami, walau baru sebatas janin. “Terus perbanyak sedekah dan istighfarnya, karena sedekah dan istighfarmu yang konsisten akan menjaga kandungan istrimu.”

Istighfar itu tanda kepasrahan dari hamba yang sesadar-sadarnya kalau dirinya lemah, membawa kedamaian, menjadikan lapang atas setiap kesedihan, jalan keluar atas setiap kesempitan, dan membuka datangnya rizki dari arah yang tiada terduga. Dan ia adalah sarana tarbiyah untuk menjadikan diri shalih secara pribadi sebagaimana shalat.

Sedekah berkelindan dengan istighfar. Sedekah itu pembuktian adanya iman di dada, ia menghapus kesalahan, menjauhkan dari kematian yang buruk, menghindarkan dari musibah, ia mengobati orang-orang yang sakit. Dan ia adalah sarana tarbiyah untuk menjadikan diri shalih secara sosial sebagaimana zakat.

Inilah ikhtiar. Dan setelah kawan saya itu, keajaiban apalagi yang akan muncul di hadapan Anda dari banyaknya istighfar dan sedekah yang tertunaikan?

6281399319821

Ini anak yang dimaksud. Sudah besar rupanya hari ini. Namanya Ganes.

Untuk berkonsultasi dengan saya silakan melalui Facebook Messenger dan Whatsapp.

**

Terkait artikel ini JANGAN LUPA baca juga yang ini:

ISTRI BELUM HAMIL-HAMIL, SUAMI MAU NIKAH LAGI

SUAMI PENYABAR SETARA TABI’IN ITU ADA

Kisah Nyata: Ini Dia 7 Ikhtiar Dalam 7 Tahun untuk Mendapatkan Momongan

DUA PULUH TUJUH TAHUN MENANTI, AKHIRNYA HAMIL JUGA

PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI

Maraji’:

1) Musnad Abi Hanifah, syarah Mulia Ali al-Qari dalam Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam; Keajaiban Sedekah & Istighfar

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

30 Agustus 2012

Sumber Gambar diambil dari sini.

Diunggah pertama kali untuk: Citizen Fimadani

Tags: Zakariya, Moh. Fauzil Adhim, Jabir bin Abdullah, Abu Hanifah, Musnad Abi Hanifah, Sedekah, istighfar,