CARA CEPAT HENTIKAN CEGUKAN TANPA AIR


 

Ini sudah saya twitkan tentang cegukan itu. Tapi saya narasikan agar menjadi abadi adanya ia. Tak tertelan sama kicauan yang lain. Dan semoga saja bisa manfaat buat yang lain. Iya tuh Bro, waktu pagi tadi saat mau mengeluarkan motor tahu-tahu dari mulut saya keluar bunyi-bunyian: Ceguk. Cegik. Ceguk. Cegik.

Saya pikir cegukan seperti ini tak akan bertahan lama. Eh ternyata sampai kereta datang di Stasiun Citayam cegukan itu tak berhenti. Tubuh saya sampai terangkat sedemikian rupa kalau lagi cegukan. Saya sampai tak enak sama yang lain. Makanya segera saya cari cara menyembuhkan cegukan tanpa air melalui Google. Biasanya kalau pakai air sih mudah menghentikannya. Tinggal minum air putih sebanyak-banyaknya sambil menutup hidung. Insya Allah berhasil. Lah ini pas ada di kereta bagaimana minum airnya coba?

Dan ketemu juga tips menghentikan cegukan itu tanpa air. Cuma sebelumnya saya mau kasih tahu mengapa sih terjadi cegukan pada diri kita setiap manusia. Kalau orang tua zaman dulu mah selalu bilang kalau cegukan yang dialami sama anak bayi itu tanda lagi tumbuh gede. Nah ini saya bukan anak bayi gitu loh? Jadi mau tumbuh apanya lagi?

Saya kutip secara langsung dari Wikipedia yah tanpa edit lagi. Seperti ini:

Cegukan adalah kontraksi tiba-tiba yang tak disengaja pada diafragma, dan umumnya terjadi berulang-ulang setiap menitnya. Udara yang tiba-tiba lewat ke dalam paru-paru menyebabkan glottis (ruang antara pita suara) menutup, serta menyebabkan terjadinya suara hik. Cegukan umumnya akan selesai dengan sendirinya, meskipun ada beberapa pengobatan rumah tangga (home remedy) untuk mempercepat cegukan, dan ada beberapa pengobatan yang dibutuhkan. Istilah medis untuk cegukan adalah singultus.

Cegukan seringkali berkembang dalam situasi tertentu, seperti makan terlalu cepat, minum air dingin sesaat setelah makan makanan panas, makan makanan yang sangat panas atau pedas, tertawa atau batuk terlalu keras, kelebihan minuman beralkohol, atau karena keseimbangan elektrolit. Cegukan dapat pula disebabkan karena tekanan saraf frenik oleh struktur anatomi yang lain, atau karena tumor dan penyakit ginjal lainnya, meski hal ini jarang terjadi. American Cancer Society melaporkan bahwa 30% pasien kemoterapi menderita cegukan sebagai efek samping perlakuan.

Nah, kayaknya salah satunya memang saya alami. Yaitu makan makanan yang sangat panas, mi instan rebus jam empat pagi tadi. Kembali kepada cara menghentikan cegukan yang saya temukan dari Google tepatnya dari blog orang itu ternyata memang tidak berhasil. Ada empat langkah yang ia tulis tapi masih belum sederhana. Masih ada pertanyaan yang mengambang atas setiap langkah itu. Kebetulan cara itu juga gatot alias gagal total diterapkan kepada saya.

Akhirnya saya modifikasikan atawa improvisasikan dengan cara saya sendiri dan syukurnya berhasil 100% dengan cepat. Seketika Insya Allah. Bagaimana caranya? Ohya saya tidak mengutip cara ini dari Wikipedia. Cara ini adalah cara yang berhasil saya terapkan. Bukan cara Wikipedia yang belum tentu keberhasilannya.

Berikut cara saya:

1. Gelembungkan mulut sebesar-besarnya;

2. Tutup hidung rapat-rapat dengan tangan;

3. Telan udara yang ada di mulut. Pokoknya ditelan.

4. Ulangi sampai tiga kali.

Sudah itu saja. Dan Alhamdulillah tak perlu menunggu lama cegukan saya ini langsung hilang. Saya pun bisa melanjutkan perjalanan naik krl ini tanpa ada hambatan yang berarti—masih bisa berdiri di atas kereta tanpa bunyi ceguk, cegik.

Semoga bermanfaat.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:44 27 Desember 2012

gambar diambil dari sini.

OBAT MANJUR BUAT AMBEIEN PARAH


SEBARKAN OBAT TRADISIONAL INI Kawan, ini bukanlah cerita bohongan sebagaimana teman-teman saya bilang tentang sebuah cerita fiksi. Karena apa yang akan aku ceritakan kepada kamu semua adalah cerita bukan fiksi, cerita nyata tentang apa yang dialami oleh sahabat saya. Dia adalah benar-benar sahabat saya sekaligus guru kehidupan saya. Tak perlu kamu tahu nama dia yang sebenarnya. Cukup panggil saja dia A Hun.

A Hun, teman saya ini, berpesan kepada saya untuk menceritakan apa yang dialaminya agar dapat bermanfaat buat orang lain. Karena apa yang dia alami benar-benar di luar perkiraannya. Ya, A Hun menderita ambeien parah, tak perlu juga saya sebutkan proses keparahannya itu karena saya khawatir kamu yang sedang makan dan membaca tulisan ini jadi tidak bisa makan lagi, karena kamu terlalu serius dan fokus untuk membayangkannya. Ah, masalah ini cukup Dibaca dan didengar saja. Selesaikan saja makan kamu lalu barulah mencoba membayangkannya, tetapi tak perlu mengutarakannya lagi pada saya. Karena saya sudah terlalu banyak menelan segala cerita tentang itu.

Ohya, kembali kepada A Hun—ingat yah dia itu teman saya—karena parahnya itu, berobat ke dokter umum sampai dua kali pun belum bisa membuat pendarahannya berhenti (tak perlu membayangkan lebih dalam lagi). Sampai harus di rujuk ke rumah sakit dan dokter di sana sudah bersedia untuk melakukan operasi kecil pada hari yang telah ditentukan.

Karena sudah trauma dengan selang yang pernah masuk dari alat vitalnya (maaf) waktu dia di opname karena sakit ginjal, maka ia sangat ketakutan sekali mendengar kata operasi ini. Ia pun berdoa agar penyakitnya segera sembuh. Untuk itu ia berusaha pula untuk mencari obat-obatan alternatif atau tradisonal. Dan ia mendapatkan sesuatu yang berharga untuk proses penyembuhannya. Di tengah pencarian itu ia ditelepon dari rumah sakit untuk segera datang ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. A Hun—dia itu teman saya–menolak untuk datang dan ia meminta pihak rumah sakit untuk mengundurkan jadwal operasi itu di keesokan harinya saja. Ia bilang ia belum siap mental.

Ya ada sebuah obat tradisonal yang dianjurkan oleh saudaranya untuk mengatasi penyakit ini. Dan alhamdulillah sembuh. Apalagi proses penyembuhannya cepat sekali. Pagi itu sebagaimana dianjurkan oleh saudaranya, A Hun pun membuat obat tradisional tersebut. Apa obat tradisional itu? Dan bagaimana cara membuatnya? Berikut rinciannya:

1. Siapkan 1 butir kelapa tua;

2. Siapkan 1 butir tomat merah;

3. Siapkan gelas;

4. Siapkan sendok.

Itu saja persiapannya. Lalu selanjutnya apa yang harus dilakukan? Berikut ikhtiarnya:

1. Kelapa diparut, diperas, dan santannya dimasak. Lama kelamaan dari hasil pemanasan ini akan muncul minyaknya. Bila selesai masak minyaknya disisihkan di tempat yang telah disediakan.

2. Lalu masukkan 1 butir tomat ke dalam gelas dan masukkan pula satu sendok makan minyak kelapa yang kita buat. Dan tumbuk secukupnya tomat tersebut dengan memakai sendok tersebut. Tidak perlu sampai halus. Yang terpenting bisa ditelan oleh mulut kita dan dimamah dengan baik dalam pencernaan kita.

3. Setelah itu makan hasil olahan sederhana itu. Kamu buat obat itu dua kali sehari, pagi dan malam. Ingat!, baca basmallah terlebih dahulu sebelum menelannya.

4. Senantiasa berdoa.

Apa yang terjadi kawan-kawan di saat A Hun–dia teman saya loh yah–memakan obat tradisonal itu? Yup, alhamdulillah paginya di saat ia memenuhi panggilan alam seperti biasa, buang air besarnya itu sama sekali tidak ada pendarahan, tidak ada rasa sakit yang selama ini membayanginya. Benar-benar luar biasa. Subhanallah. Walhasil ia membatalkan operasi itu. Selama beberapa hari selanjutnya ia tetap meneruskan pengobatan tradisional mandirinya itu. Dan diceritakanlah kesuksesan itu kepada saya dan menyuruh saya untuk menceritakannya kepada orang lain agar asas kemanfaatan ini bisa dirasakan banyak orang.

A Hun, dia itu teman saya, telah berdoa dan berupaya untuk kesembuhan penyakitnya lalu hasilnya diserahkan kepada Allah. Syukurnya Allah mengabulkan doanya dan menerima ikhtiarnya itu. Lalu agar ia mendapatkan pahala kebaikan lebih, ia memberikan petunjuk atau cara bagus ke arah kebaikan ini kepada orang lain agar orang lain pun merasakan hal yang sama tentang manfaat obat ini. Kata qudwah kita Rasulullah saw: Addaalu ‘alal khoiri kafaa’ilihi 1). Barangsiapa yang menunjuki jalan kepada kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukan kebaikan itu. Luar biasa bukan?

Juga karena A Hun tidak mau dicap sebagai kufur nikmat maka ia mau menyebarkan kebaikan yang ia peroleh itu kepada yang lain. Bukankah Jenderal Besar, teladan kita, Muhammad Saw itu juga pernah bilang: “barangsiapa memperoleh suatu yang makruf maka hendaklah menyebutnya karena berarti dia mensyukurinya, dan kalau merahasiakannya (berarti) dia mengkufuri nikmat itu.” 2)

Jadi, kepada kawan-kawan yang mempraktikkan pengobatan tradisional ini lalu sembuh, alhamdulillah, maka dianjurkan untuk menyebarkan informasi ini seluas mungkin agar pula dapat pahala kebaikan yang lebih besar lagi. Insya Allah.

Cukup sekian dari saya untuk kamu-kamu, kawan-kawan saya dari teman saya yang bernama A Hun–dia itu teman saya loh.

*

1. HR Bukhori.

2. HR. Ath-Thabrani

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09.03 18 Maret 2008