Di Titik Didih Kerinduan


Malam lebaran di salah satu sudut Semarang.

Suara mirip peluit mencelat dari ketel yang isinya air mendidih. Uap panasnya berontak dan buru-buru keluar dari celah sempit di ujung moncong ketel seperti iblis dengan bala tentaranya ketika azan Magrib 1 Syawal besok berkumandang.

Mereka kembali merapatkan barisan, berkoordinasi, dan membagi tugas mengembalikan manusia kepada kesesatan setelah sebulan mereka dipenjara. Mereka ingin agar kawan-kawannya dari kalangan manusia yang sudah suci dibasuh Ramadan, kembali menjadi anggota yang akan menemani mereka di neraka.

Air dengan kepulan uap tipis itu kutuang ke atas saringan Cafflano. Di dalamnya berisi bubuk kopi Gayo yang aromanya harum nian itu. Air warna kecoklatan keluar pelan-pelan dari ujung saringan menuju dasar gelas. Sedikit demi sedikit air itu membanjir bersama wanginya yang menguar. Kuangkat gelas dan kudekatkan ke bibirku. Kusesap pelan-pelan dan kunikmati setiap tetesan kahwa yang menjamah lidah dan mengalir ke kerongkongan. Subhanallah.

Hari ini azan Magrib pada H-2 lebaran dan aku kembali mengenang perjalanan mudik seharian tadi dari Segeran menuju ke sini, ke Semarang ini.

***

Cerita perjalanan mudik 2018 sebelumnya dapat di baca di sini: Membeli Martabak di Bulak.

Malam itu setelah sampai di rumah Lik Idah (bibi) di Segeran, aku menyempatkan diri untuk salat tarawih munfarid. Tak segan-segan aku terus mengingatkan Maulvi untuk segera mengkhatamkan Alquran. Ayyasy tinggal delapan juz lagi untuk meyelesaikan tilawah yang ketiga kalinya. Kinan belumlah sanggup untuk melakukan itu. Ia masih tergoda dengan melihat-lihat para squishy spammers dan tiktokers itu di Instagram.

Malam Ramadan di Segeran masih terasa dengan takzim karena lantunan ayat-ayat mulia Alquran yang dibacakan dengan tartil sampai larut malam.  Aku menyempatkan diri meminum kopi Gayo yang kubikin sendiri, tetapi tetap saja tak bisa menahan kantukku. Aku butuh istirahat. Besok kami harus melanjutkan perjalanan ke Semarang.

Kami sahur dengan empal gentong yang sengaja dibuat adik ibuku untuk menyambut kami. Lik Idah tahu saja kalau aku suka banget dengan masakan tradisional khas Cirebon itu.

Rabu pagi (13 Juni 2018) sekitar pukul 10.00 kami berangkat menuju Semarang. Kalau melihat Google Maps, jalanan yang akan kami tempuh masih berwarna biru. Kubaca status teman di Facebook kalau Jalan Tol Jakarta-Cikampek sudah berwarna merah dari ujung ke ujung. Panjang sekali. Tsunami pemudik itu akan segera datang, namun belum sampai ke Cipali. “Jangan sampai disusul gelombang itu,” pikirku.

Foto bersama dengan Bibi.

Baru saja kami keluar dari gang rumah Bibi, mobilku yang berhenti untuk belok kanan ditabrak motor. Pintu mobil lecet parah dan panel bagian bawah melesak ke dalam. Untuk bagian ini cukup diceritakan sampai di sini saja. Kami selesaikan urusan dengan cepat. Tak perlu menunggu lebih lama lagi seperti Le Petit Caporal memutuskan menunggu sampai tengah hari untuk menyerang Duke of Wellington di selatan Brussels. Ini fatal.

Dari Segeran kami menuju Gerbang Tol Palimanan. Tidak ada kemacetan yang berarti dari Jatibarang sampai Palimanan bahkan hingga kami memasuki tol fungsional Pemalang-Batang. Dengan adanya tol fungsional ini jelas kami tidak akan singgah seperti biasanya di SPBU favorit kami di Tegal: SPBU MURI. Kota tempat kelahiran Imam Tantowi—sutradara dan penulis skenario—ini akan menjadi kota mati seperti Brebes dan kota-kota lainnya yang dilewati jalan tol jika tidak mampu berbenah.

Selepas Zuhur, aku mulai mengantuk. Aku serahkan kemudi kepada Mas Haqi saat memasuki Jalan Tol Fungsional Pemalang-Batang itu. Alhamdulillah, Mas Haqi mampu menguasai kemudi dengan baik. Jam terbangnya memang harus ditambah untuk meningkatkan pengalaman dan kepercayaan dirinya mengemudi. Aku tekankan kepadanya kalau mengemudi itu ketrampilan paling dasar yang harus dikuasai oleh laki-laki. Sambil berkata demikian aku melirik Ayyasy, “Begitu juga kamu, Nak.”

Sampai di suatu titik, kurang lebih pada pukul 15.00, mobil para pemudik dikeluarkan dari jalan tol fungsional Pemalang-Batang. Kami tidak boleh melewati jembatan melengkung warna merah itu, padahal Google Maps terus mengarahkan kami ke sana walaupun kami telah jauh meninggalkannya di belakang. Jikalau jembatan itu sudah benar-benar bisa digunakan perjalanan Segeran-Semarang barangkali menjadi perjalanan mudik paling singkat.

Sebelum Kendal kami meminggirkan mobil di sebuah masjid, kami harus salat sekalian juga istirahat. Ini rehat pertama kami semenjak memulai perjalanan. Setelah salat, kemudi kupegang kembali.

Memasuki Semarang ada dua kemacetan panjang yang harus kami lalui. Ini karena ada dua titik pembukaan pagar pembatas jalan. Sudah pasti kalau pagar pembatas itu dibuka, banyak orang yang menyeberang dan mobil yang berputar arah.

Sampai kemudian kami memasuki Gerbang Tol Jatingaleh dan keluar di Pintu Tol Gayamsari. Dari sana kami menuju perumahan Tlogosari persis ketika gelap memayungi langit Semarang dan azan Magrib H-2 lebaran berkumandang. Jarang-jarang kami sampai di sore hari begini.

Aku mengenang 11 tahun lampau ketika jalan tol panjang itu belum ada sama sekali, kami berangkat pagi dari Citayam melalui jalan Pantura dan sampai di Semarang persis malam lebaran. Hanya dua belas jam perjalanan dan waktu tempuh seperti itu menjadi langka setelah itu. Puncaknya horor Brexit di 2016.

**

Hari terakhir Ramadan 1439 H kami lalui di Semarang yang panas dengan bibir kering dan pecah-pecah. Tetapi syukurnya bisa kami lalui dengan segera. Azan Magrib di sini lebih cepat 15 menit daripada di Citayam. Yang terpikirkan olehku adalah,  “Apakah aku akan bisa bersua kembali dengan Ramadan yang akan datang?” Aku selalu memimpikanmu di titik didih kerinduan.

Malam Lebaran
Bulan di atas kuburan.
(Sitor Situmorang)

Bersambung.

Menunggu di malam lebaran.
Bocah menunggu di malam lebaran.

***
Riza Almanfauthi
Dedaunan di ranting cemara
4 Syawal 1439 Hijriah

Cerita Mudik 2018 Sebelumnya (1): Membeli Martabak di Bulak
Cerita Mudik 2018 Berikutnya (3): Bagaimana Kalau Kangen?

Advertisements

2 thoughts on “Di Titik Didih Kerinduan

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.