Cerita Rahayu Beranak Diiringi Murattal


Rahayu beberapa hari sebelum beranak.

Semalam Rahayu melahirkan tiga anak. Proses persalinannya di dalam kandang diiringi dengan murattal (bacaaan Al-Qur’an) syahdu.

Beberapa hari sebelumnya, anak sulung saya Maulvi, yang paling bertanggung jawab tentang keberadaan Rahayu di rumah ini, sudah menyiapkan segalanya. Dari mulai membeli alas khusus, membersihkan kandang, sampai menaruh kandang di tempat tertentu.

Baca Lebih Lanjut

Pelayanan Cepat Kantor Imigrasi Jakarta Selatan


Genghis Khan dan penerusnya dari bangsa Mongol yang nomaden ketika menaklukkan Tiongkok dan mengatur administrasi pemerintahan yang wilayahnya sangat luas tetap menggunakan mesin birokrasi kekaisaran sebelumnya yang didominasi cendekiawan Konfusianisme dan berasal dari suku Han, sebagai suku asli Tiongkok.

Kucing kampung warna abu-abu itu tidur di atas keset panjang merah persis di depan pintu keluar layanan Kantor Imigrasi Jakarta Selatan. Ia terlelap walaupun kaki para tamu lalu lalang dan melangkahi tubuhnya.

Melihatnya, saya mengambil karnivora betina itu dengan hati-hati dan memindahkannya. Saya meletakkan tubuh si kucing tetap di keset merah, tetapi tidak di depan pintu persis. Ia bangun sebentar dan melanjutkan tidurnya yang asyik.

Memang ada urusan apa saya di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan ini?

Baca Lebih Lanjut

Sekali Lagi, Menulis Itu Gampang


Photo by Frans Van Heerden on Pexels.com

Kemarin petang, Ayyasy dikejar tenggat untuk karya esai yang harus dibuatnya.

“Kapan paling lambat?” tanya saya.

Baca Lebih Lanjut

RIHLAH RIZA #7: MADU BUAT RINDU, GANDIWA BUAT ARJUNA


RIHLAH RIZA #7:

MADU BUAT RINDU, GANDIWA BUAT ARJUNA

 

Sehebat-hebatnya seorang Hawkeye di The Avengers ataupun seorang Legolas di The Lord of the Ring, mereka tetap kalah dengan sosok bernama Arjuna. Dua kantung panah yang dimilikinya tak pernah habis dengan anak panah. Tetapi mereka bertiga tak berarti apa-apa tanpa busur. Padang luas, bengis nan amis, dan kejam—Kurusetra—menjadi saksi saat langit-langit di atasnya menghitam karena hujan panah putra ketiga Kunti ini.

**

Dini hari jam setengah tiga pagi saya terbangun. Saya harus bersiap-siap mengejar pesawat yang akan membawa saya ke Kualanamu. Dari bandara yang baru dibuat itu saya akan naik pesawat menuju Meulaboh. Tepat satu jam kemudian kami sudah berangkat. Kinan dan Ayyasy melanjutkan tidurnya di samping Ummu Haqi. Di sebelah saya ada adiknya yang membawa mobil ini.

Untuk pergi ke bandara kali ini saya tidak lewat pintu tol Citeureup Jagorawi karena saya pikir perjalanan akan lancar-lancar saja. Nanti kami akan masuk tol dalam kota melalui pintu tol Pancoran. Saya perkirakan sampai di bandara sekitar jam setengah lima pagi.

Ternyata ada sesuatu yang tidak saya duga. Hari itu Jakarta akan mengadakan lomba Jakarta Marathon International 2013 yang diikuti oleh peserta dari dalam dan luar negeri seperti Ethiopia dan Kenya—dua negara yang konsisten mencetak pelari-pelari jarak jauh dunia. Saya tahu akan ada kegiatan besar itu dan saya juga tahu kalau ada penutupan ruas jalan di sekitar rute lari marathon itu. Tetapi saya tak menyangka kalau jalan Pancoran menuju Mampang ditutup dan diblokir polisi lebih dini.

Akhirnya saya putuskan untuk masuk lewat pintu tol di depan Menara Saidah. Kami pun dari Pancoran menuju Cawang Bawah untuk memutar. Ternyata pintu tolnya belum buka. Saya sedikit cemas karena teman-teman yang sudah ada di Bandara Soekarno Hatta sudah mulai check-in. Kami balik lagi ke Pancoran dan memutuskan untuk kembali ke Cawang Bawah menuju Cawang UKI. Dari sana masuk tol dalam kota melalui pintu tol terdekat.

Bunyi tang tung tang tung tanda notifikasi Whatsapp semakin terdengar. Teman-teman sudah memutuskan untuk meninggalkan saya. Tak masalah. Karena dengan sedikit ngebut saya akan sampai jam lima pagi. Masih satu jam lagi dari jadwal penerbangan. Tapi seharusnya saya memikirkan ketersediaan waktu lebih untuk penghitungan bagasi saya. Sepanjang perjalanan menuju bandara itu saya isi dengan istighfar dan shalawat. Insya Allah ini solusi dan ikhtiar selamat.

Sampai di terminal 1B yang penuh itu saya turun, menurunkan koper besar dengan berat lebih dari 25 kg, dan menyalami satu per satu anggota keluarga. Lalu langsung masuk antrian tanpa menengok ke belakang. Petugas imigrasi mengecek tiket dan tas para calon penumpang. Setelah lolos pemeriksaan saya segera menuju tempat check-in maskapai penerbangan. Saya tidak terlambat karena masih menjumpai dua teman saya di sana. Pyuhhh…

Butuh waktu empat puluh menit sejak kedatangan saya untuk check-in dan membayar kelebihan bagasi kami. Ini berarti teman-teman sudah mengantri satu jam. Lebih lama daripada saya. Ada panggilan buat para calon penumpang untuk segera naik pesawat ke Kualanamu. Kami bergegas ke atas setelah sebelumnya membayar airport tax. Kami melalui pemeriksaan imigrasi kembali.

Di ruang tunggu sudah tidak ada orang lagi. Semua telah memasuki pesawat, tinggal kami bertiga yang belum masuk. Bahkan ketika kami akan masuk pun ada petugas imigrasi yang meminta tas teman saya karena di dalamnya masih berisi dua logam panjang kunci sepedanya. Itu seharusnya berada dalam tas bagasi dan tidak boleh masuk kabin pesawat. Untuk mudahnya tas itu dititipkan di awak kabin.

Ketika sudah menghempaskan tubuh di kursi pesawat itulah kelegaan muncul. Soalnya tak lama kemudian pesawat benar-benar menggerakkan rodanya. Ini jadi pengalaman berharga buat saya. Pesawat jarang delay kalau pagi. Antrian check-in juga panjang. Lamanya check-in dengan barang bawaan yang berat dan masuk bagasi pun perlu diperhitungkan. Pokoknya kalau berangkat dari Citayam menuju bandara harus tiga sampai empat jam sebelum batas waktu take-off pesawat. Bahkan lebih baik jika dari batas mulai check-in. Jangan lupa, lewat tol Jagorawi saja.

**

Saat pesawat mulai terbang, saya pejamkan mata. Sambil memikirkan momen yang seharusnya ada tapi terlewatkan. Saya tadi terburu-buru tidak sempat mencium dan memeluk Kinan dan Ayyasy. Sesuatu yang tidak biasa. Ini membuat ruang hampa di hati. Rasa yang hampir sama saat meninggalkan pertama kali bapak dan ibu waktu kelas satu SMA karena saya harus indekos di kota lain.

Berpisah dengan sesuatu yang kita cintai adalah hal terberat dalam hidup. Dan saya merasakannya sekarang. Merasakan apa yang senior-senior saya alami dulu. Mungkin ini pula yang menyebabkan banyak teman melepaskan statusnya sebagai pegawai pajak karena penempatan di tempat yang jauh dan berpisah dengan keluarga. Sebagian besar teman-teman saya tetap memilih bertahan. Yang terakhirlah yang saya pilih. Karena yakin ini yang terbaik yang Allah berikan kepada saya sebagai jawaban atas doa: Robbi ‘anzilni munzalan mubarakan wa anta khoirun munzilin.
Ya Robbi, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik baik yang memberi tempat.

Kalau sudah berpikir demikian, penempatan di Tapaktuan sejatinya adalah sebuah hadiah yang diberikan Allah kepada saya. Ini yang terbaik buat saya, keluarga saya, ruhani saya, perjalanan hidup saya, instansi saya, dan akhirat saya. Insya Allah.

Serupa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail, saya tinggalkan Ummu Haqi, Kinan, Ayyasy, dan Mas Haqi dalam perlindungan Allah. Saya pasrahkan semuanya kepada Allah. Dialah yang akan menjaga mereka. Dialah pemilik sejati mereka. Biarlah pemiliknya yang menjaga mereka. Cukup doa yang tak kurang-kurang buat mereka.

**

Bandara Kualanamu. Saya masih harus menunggu beberapa jam lagi di sana. Ada notifikasi status facebook yang masuk. Dari Ummu Haqi.

Dan Allah selalu tahu bagaimana caranya menenangkan hati kita dan anak-anak. waktu kedatangan yang berkejaran dengan jadwal keberangkatan, nyaris tak memberi ruang bagi kita untuk mengumbar kesedihan. Cukuplah cium tangan mengiringi ketergesaan. Alhamdulillah, semoga Allah mudahkan semua urusan. Fii ‘amanillah abi….”

Ini menguatkan. Apalagi ketika sudah sampai di tujuan, foto live ini terkirim malam-malam.

Kinan dan Ayyasy

Fasad sudah lelah! Hancur sudah letih! Luluh lantak sudah semua payah yang mendera sekujur tubuh. Ini madu buat rindu saya. Serupa busur gandiwa buat Arjuna. Semoga kita bisa berkumpul lagi Nak.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 3 November 2013

Hujan, sendiri, dan pantai yang berkabut.

 

 

Tags: Kunti, hawkeye, legolas, arjuna, the avenger, the lord of the ring, kualanamu, meulaboh, tapaktuan, kpp pratama tapaktuan, kantor pelayan pajak pratama tapaktuan, kabupaten aceh barat daya, kabupaten aceh selatan, blangpidie, kinan, ayyasy, kinan fathiya almanfaluthi, yahya ayyasy almanfaluthi, ria dewi ambarwati, ummu haqi, haqi, soekarno hatta, tol citeureup, tol dalam kota, jagorawi, citayam

RIHLAH RIZA #5: BANG HAJI DAN MIYAGI


RIHLAH RIZA #5: BANG HAJI DAN MIYABI MIYAGI

 
 

 
 

Dalam aku berkelana

Tiada yang tahu ke mana kupergi

Tiada yang tahu apa yang kucari

Gunung tinggi ‘kan kudaki

Lautan kuseberangi

Aku tak perduli


Tak akan berhenti aku berkelana
Sebelum kudapat apa yang kucari
Walaupun adanya di ujung dunia
Aku ‘kan ke sana ‘tuk mendapatkannya

 
 

(Berkelana Raden Haji Oma Irama, 1978)

**

Hari ketiga di Banda Aceh. Pesawat yang membawa kami pulang ke Jakarta dijadwalkan jam dua belas siang. Pak Andy Purnomo akan mengantarkan kami ke kapal PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung 1 dan museum tsunami kalau masih ada waktu. Makanya kami harus check out pagi ini setelah sarapan.

Tak ada yang banyak saya lakukan menunggu jemputan jam sembilan pagi ini selain packing dan memastikan tidak ada yang tertinggal sama sekali. Pak Andy Purnomo datang tepat waktu bersama Slamet Widada. Sekarang ia tinggal bersama Pak Andy Purnomo di rumah dinas. Slamet tidak pulang ke Jakarta karena pekan depannya sudah dipanggil lagi ke Jakarta untuk mengikuti seminar keberatan.     

Tempat yang pertama kali kami sambangi adalah kapal apung ini. Tempat parkir mobil di lokasi yang sudah menjadi tujuan wisata turis lokal maupun mancanegara ini seadanya. Ada penduduk setempat yang mengarahkan kami harus parkir di mana. Untuk memasuki tempat ini pun tidak dipungut bayaran alias gratis. Namun ada kotak yang diletakkan di tengah pintu masuk. Silakan untuk memasukkan uang di kotak itu. Melewatinya saja juga tak apa-apa. Ada penjaga duduk di dekat pintu masuk sambil tangannya membawa alat hitung. Kalau ada orang masuk alat itu bunyi: “cekrek…cekrek…cekrek…”

 
 

Dokumentasi Pribadi

 
 

Kapal PLTD Apung 1 ini berdasarkan informasi dari Wikipedia awalnya milik PLN yang pada saat terjadinya bencana tsunami tahun 2004 terseret dua sampai tiga kilometer ke daratan dan menabrak rumah beserta isinya. Kapal ini beratnya 2600 ton atau 2,6 juta kilogram. Beratnya minta ampun ya…Tapi kedahsyatan air bah pada saat itu mampu membawa kapal itu sampai ke daratan. Nah, kenapa tidak dipindahkan saja? Kata Mas Andy Purnomo butuh biaya besar untuk memindahkannya. Orang Jerman minta biaya sampai dua puluh hingga empat puluh miliar rupiah. Sebenarnya kalau tak mau repot datangkan saja orang Madura dijamin itu kapal sudah habis tak bersisa.

Saya, Slamet Widada, dan Pak Andy Purnomo (Koleksi Foto Teman)

Sewaktu bencana tsunami di Jepang 11 Maret 2011 ada hal yang sama dengan yang di Aceh. Ada kapal terdampar sampai jauh ke daratan. Kali ini adalah kapal nelayan yang berbobot 300 ton bernama Kyotoku Maru No.18. Masih lebih kecil daripada yang mendarat di daerah Kampung Punge Blangcut, Jayabaru, Banda Aceh.

Gambar diambil dari sini.

Namun masyarakat di dekat tempat kapal ini terdampar tepatnya di Kesennuma, prefektur Miyagi sana tidak mau kapal itu ada. Mayoritas menginginkan agar kapal itu dibongkar saja karena hanya mengingatkan tragedi yang menelan lebih dari 19 ribu korban jiwa itu. Tragedi yang mengakibatkan bocornya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima dan membuat mereka sedih serta bermuram durja tak terobati. Akhirnya mereka sepakat untuk menjadikan kapal itu sebagai besi rongsokan belaka.

Di Aceh, lokasi kapal ini sudah tertata rapih. Ada menara-menara yang dibangun di sekitar kapal itu untuk bisa dinaiki oleh pengunjung. Dari menara itu bisa dilihat dari kejauhan bukit-bukit dan sekelingnya. Dulu pada saat tsunami dataran ini rata dengan tanah tanpa ada rumah-rumah. Sekarang sudah banyak rumah.

 
 

Pemandangan dari ketinggian menara.(dokumentasi pribadi)

Kami tidak lama-lama di sana. Kami tidak menaiki kapal. Kami cuma melihatnya dari menara. Setelah mengambil beberapa gambar teman-teman pun sepakat untuk melanjutkan perjalanan langsung ke bandara. Kami tidak jadi ke museum karena waktu yang mefet mepet. Pun kalau melihat-lihat diorama yang ada di sana tentu butuh waktu lama. Apalagi buat saya yang wajib melihat detil isi museum. Sebelum pergi saya membeli kaos peugot (buatan) Aceh untuk Ayyasy dan dompet kerajinan tangan khas Aceh buat Umminya Kinan.

Tiga hari di Banda Aceh tentunya banyak pengalaman yang didapat walau dengan sedikit tempat yang dikunjungi. Belum lagi kota Sabang dan keindahan panorama pantai di pulau We. Perlu banyak waktu khusus untuk menjelajahinya. Tapi bukan sekarang. Saya datang ke kota Banda Aceh dalam rangka pelantikan mengemban amanah baru sebagai kepala seksi dan bukan untuk piknik. Kedatangan kami ke sana pun sebenarnya awal perjalanan panjang mengemban tugas yang telah diberikan negara. Di kota naga, Tapak Tuan, saya sejatinya akan berlabuh. Di pekan berikutnya. Bukan dengan surat tugas seperti saya datang ke Kutaraja melainkan dengan surat keputusan saya datang ke Tapak Tuan. Sama-sama surat tetapi membuat perbedaan yang jauh. Jauh sekali.

Ini sebuah kelana. Ini sebuah kembara. Ini sebuah rihlah. Ini sebuah babak baru. Yang orang tahu ke mana saya pergi. Yang orang tahu apa yang saya cari. Tidak seperti lirik lagu Bang Haji Rhoma Irama di atas. Walau ada beberapa kesamaan pengelanaan Bang Haji dengan pengelanaan saya: gunung tinggi kudaki dan lautan kuseberangi. Entah
berapa gunung yang dilewati oleh pesawat yang saya naiki. Selat Sunda sudah pasti saya seberangi.

 
 

Saya memegang apa yang dikatakan ‘Aid Al Qarni tentang sebuah kembara ke berbagai tempat itu akan memberikan kebahagiaan kepada jiwa. “Bepergian dan membaca alam terbuka adalah sarana bagi seorang yang beriman agar bisa menyerap banyak pelajaran dan pesan moral.” Tiga hari di ibu kota provinsi tanah rencong ini saja sudah banyak sekali pelajaran yang didapat apalagi berhari-hari dan berbulan-bulan terdampar di ibu kota kabupaten yang tidak ada angkotnya itu. Insya Allah ini benar adanya.

Sebagai akhir pemikiran malam ini adalah pertanyaan: “ingin terdampar seperti kapal yang berada di Miyagi atau di Aceh?”

Dalam aku berkelana…

***

 
 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapak Tuan 18:24 29 Oktober 2013

 
 

Tags: banda aceh, andy purnomo, tapak tuan, fukushima, kapal pltd apung 1, kapal apung, museum tsunami, ‘aid al qarni, ‘aid alqarni, sabang, pulau we, ayyasy, mohammad yahya ayyasy, kinan, kinan fathiya almanfaluthi, ummi kinan, tsunami, berkelana, bang haji rhoma irama, raden haji oma irama, 1978, berkelana 2, kyotoku maru no.18, miyagi,

SEPEDA DAN IBNU ‘ABBAS


SEPEDA DAN IBNU ‘ABBAS

 

Hari ini Jum’at awal dari long long weekend. Tak kemana-mana ternyata. Tapi ada agenda yang sudah disiapkan sebelumnya. Benerin bingkai cermin yang rusak, benerin antena internet, ke bengkel sepeda untuk benerin sepedanya Ayyasy dan Kinan, beli kertas lem buat jebak tikus, ke tukang jahit untuk benerin resleting dua jaket Boss, dan panggil reparator mesin cuci. Sampai malam ini yang belum kelakon adalah yang pertama.

Kinan seneng banget sepedanya dibenerin. Ban depan dan belakangnya kempes, dus dua roda plastik kanan kirinya juga sudah tinggal besi penyangganya saja. Makanya kita ke bengkel. Kinan masih belum bisa bersepeda dengan dua roda, harus ditambah dengan roda cadangan. Maka roda cadangannya yang rusak itu kudu diganti dengan yang baru.

Kalau sepeda Ayyasy—sebenarnya itu sepeda Mas Haqi yang sudah lama tak terpakai—rusaknya di pedal dan bannya yang kempes. “Bi, sekalian beli spakbor belakang ya,” pintanya. Tapi saya bilang kepadanya kalau untuk itu nanti saja di bulan depan. Sekalian dengan jok yang kayaknya perlu diganti saking kerasnya kalau diduduki, insya Allah.

Setelah sepeda itu diperbaiki, Ayyasy dan Kinan langsung sepeda-sepedaan sore itu di jalanan depan rumah. Saking senengnya main sepeda dengan roda barunya itu Kinan sampai menangis tak mau balik rumah, padahal adzan maghrib sudah mau tiba. Sampai saya harus membujuk dia dan berjanji agar pagi-pagi nanti saya yang akan nemenin Kinan main sepeda.

Kinan dan Ayyas sore ini (29/03/2013)

    Saya cuma beri pesan kepada mereka berdua. Jaga dan rawat sepeda itu. Kalau habis main langsung masukin ke dalam rumah. Jangan sampai kejadian dulu terulang kembali. Dua sepeda milik Mas Haqi dan Ayyasy lenyap tak tahu “ditelan” siapa. Padahal itu sepeda sudah ada di dalam pagar rumah.

    ‘Ala kulli hal sepeda yang hilang belumlah seberapa tinimbang anggota tubuh yang hilang. Bahkan kalaupun ada anggota tubuh yang hilang sesungguhnya masih ada anggota tubuh lain yang masih dipergunakan. Waduh…ini mah qaul (perkataan) orang-orang sufi banget dan amalan orang yang beriman. Contohnya Ibnu Abbas ra yang pernah berkata, “jika Allah mencabut cahaya dari kedua mataku, maka lisan dan telingaku masih memiliki cahaya.”

    Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang yang sedemikian rupa.     Cukup untuk hari ini.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

23:24 29 Maret 2013

THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY


THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY

Waktu Ahad lalu (23/12) yang liburan panjang itu, kami berempat—saya dengan my beloved rose, Kinan Chubby, dan Ayyasy The Writer—malam-malam pergi ke Margo City, Depok. Niatnya mau nonton film The Hobbit An Expected Journey. Jam masuknya 21.45.

Saya tak tertarik sama Habibie Ainun. Pokoknya mah mau lihat prekuel Lord of The Rings itu. Setelah trilogi hebat sebelumnya itu tak pernah saya nikmati atas kegarangan sound systemnya atau secara visual pada keindahan gambar negeri peri serta kebengisan perangnya.

Kini mumpung ada waktu dan anak-anak mau, kami sempatkan untuk tak melewatkan yang satu itu. Dan sungguh saya beri jempol buat Peter Jackson yang meramu film itu. Setaralah dengan novelnya yang sudah saya baca dua kali lebih itu. Ohya film ini untuk segala umur loh ya.

The Hobbit ini kalau difilmnya akan dibagi tiga bagian. Sesi pertama ini di film The Hobbit An Expected Journey, kisah Bilbo Baggins bersama 13 kurcaci dan Gandalf Penyihir Kelabu sampai pada mereka diselamatkan dari sergapan orc wajah pucat dan diterbangkan oleh para elang raksasa.

Saya membayangkan kalau di film kedua The Hobbit nanti yang akan diputar di tahun 2013 ceritanya berkisar saat mereka ketemu “siluman” beruang Beorn, bertarung dengan laba-laba di hutan lebat, dan cerita para peri yang menawan Bilbo Baggins.

Kalau di film ketiganya tentu ini yang lebih seru. Tapi sayang masih dua tahun lagi tayangnya. Soalnya di bagian akhir trilogi baru ini akan ada pertempuran besar antara pasukan kurcaci dan peri dengan para orc. Tentu di sana akan ada akhir dari Smaug Sang Naga yang mengamuk setelah lama tidur panjang mengangkangi harta rampasan di bekas istana Kurcaci dulu. Seru.

Kembali ke The Hobbit An Expected Journey, yang bagus darinya adalah peran Thorin yang dimainkan cukup apik. Cool. Sangat Ningrat. Dihormati karena ia adalah sang pemimpin, pejuang, putra mahkota, dan pemberani. Punya obsesi dan dendam 24 karat pada orc dan Smaug.

Apalagi mendengar lagu yang jadi soundtracknya: Misty Mountains (Cold). Mereka—para kurcaci—menyanyikan lagu itu di rumahnya Bilbo Baggins saat merindukan istana-istana bawah tanah mereka yang hilang. Misty Mountains (Cold) menjadi ilustrasi musik sepanjang film itu. Sepadan.

Saat film itu selesai, Kinan sudah tertidur di pangkuan Ria Dewi Ambarwati—perempuan yang telah menjadi istri saya sejak 1999. Saya bopong Kinan waktu menuju tempat parkiran. Jarum jam sudah menuding angka 00.30. Angka yang dituding menolak dan menampik jarum jam itu hingga terus saja berputar-putar. Memang waktu tak akan pernah ada yang mampu menghentikannya untuk berjalan. (Hayyah enggak nyambung). Sampai rumah kurang lebih jam 01.00 pagi. Jalanan Depok sampai Citayam sepi banget nget nget. Ya iyalah jam segitu. Kontras dengan lima jam setelah itu.

Besoknya sempat buka-buka lagi buku The Hobbit. Mau baca lagi dari awal. Ramai. Seru. Saya kumpulkan kembali buku trilogi Lord of The Rings. Mulai dari The Fellowship of The Rings, The Two Towers, sampai The Return of The King.

Ayyasy mulai tertarik novel JRR Tolkien, ia mulai bertanya-tanya.

“Emang mau baca?”

“Iya.”

Eh pada akhirnya tetap saja buku itu tergeletak di tempat tidurnya. Tak pernah dibuka lagi.

Pada saat proses mengumpulkan itu saya menemukan buku Isildur, masih bertema Dunia Tengah tapi tak dikarang oleh JRR Tolkien. Menemukan juga buku proses kreatif bagaimana para pengarang memulai menulis, serta buku-bukunya Malcolm Gladwell. Saya foto dah tuh buku. Ceklik….

clip_image001

(Untuk memperbesar foto ini klik saja)

Sudah cukup segitu saja dulu ceritanya. Inilah “me time”-nya kami. Sayang Mas Haqi enggak ikut (fotonya jadi latar belakang foto di atas). Pesantrennya baru libur mulai Sabtu besok tanggal 29 Desember 2012. Insya Allah Nak kita jalan-jalan lagi kayak dulu. Pengen kemana? Ragunan? Hayyah Ragunan mulu. Mancing? Lihat dulu dah. J Kami semua merindukanmu Nak. Apalagi Abi.

Jalan-jalan ke Cipatujah, ketemuan sama pak Polisi.

Di sini kita berpisah, sekian dan terima kasih.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:16 28 Desember 2012

Tanpa diedit lagi

Kenapa yang Pertama Iwojima?


image

Sebelumnya sudah kebayang nanti kalau sudah sampai di toko buku itu saya bisa sepuasnya beli setiap buku. Tapi pada kenyataannya tetap saja yang saya beli adalah buku-buku yang benar-benar akan saya habiskan untuk satu bulan ini.

Kemarin Ayyash sudah saya bebaskan untuk beli apa saja. Eh dia cuma beli komik Naruto edisi terakhir. Dan beli mainan congklak atawa dakon atawa mancala yang dikombinasi dengan permainan kayak scrabble. Harganya diskon 50%. Kinan bagaimana?

Kinan sudah uring-uringan tak mau ke toko buku itu. Enggak ding. Awalnya mau eh pas lewat suatu mal berubah haluan dah niatnya untuk ke toko buku. Pengennya ke tempat bermain yang ada di mal itu. Tapi seberapa banyaknya tetesan airmatanya yang saya usap dari pipinya tetap tak menggoyangkan niat saya. 🙂 Maaf ya Nak…pan sudah pekan lalu kita mampir ke sana.

Setelah ngambeknya mereda seperti biasa dia jelajahi ruangan toko buku dan mengambil buku mewarnai dan buku latihan menempelkan stiker. Bahkan dia ambil tiga buku, lebih banyak daripada yang diambil kakaknya.

Beberapa buku terjemah juz 30 diambil Ummu Haqi, istri saya yang bernama Ria Dewi Ambarwati ini. Cuma itu bae. Tak ada yang lain. My beloved rose ini sudah sibuk jaga Kinan yang kemana-mana jadi tak sempat lihat-lihat buku secara mendalam.

Sekarang apa yang saya beli? Sudah saya twitkan kemarin kalau saya menemukan bukunya Malcolm Gladwell di toko buku itu. Saya tahu Malcolm Gladwell semasa saya menerima hadiah dari Direktorat Jenderal Pajak saat memenangkan juara pertama Lomba Menulis Artikel Perpajakan Tahun 2012. Dari beberapa hadiah yang saya terima itu ada buku judulnya Outliers. Ditulis oleh Gladwell itu. Langsung dah kepincut sama dia. Tak perlu berpikir dua kali untuk ambil What the Dog Saw. Eeh…pas mau bayar ketemu lagi sama bukunya yang lain: Blink. Saya Ambil juga.

Gladwell itu memberikan yang baru dalam memandang sesuatu. Cara dia bagaimana mendefinisikan sukses di Outliers itu bagus banget. Kisah-kisah nyata yang ditulis di sana dibuat dalam gaya jurnalistik investigatif. Sangat Menarik. Intinya: darinya saya mendapatkan banyak ilmu dan kisah baru. Begitu yah kalau orang sudah punya kualitas menulis yang bagus maka untuk buku selanjutnya bisa jadi jaminan mutu sampai saya borong semua bukunya.

Hal sama saat saya beli buku tentang Karmaka Surjaudaja, pendiri OCBC NISP yang berjudul Tidak Ada yang Tidak Bisa. Kalau buku itu tidak ditulis oleh Dahlan Iskan saya tak akan mungkin membelinya. Saya suka buku yang ditulis Dahlan Iskan karena cara berceritanya bagi saya yang kayak “ngedongengin”. Bikin semangat. Bikin tumbuh banyak harapan.

Dua buku lain adalah tentang Perang Dunia II. Pertempuran di salah satu “hotspot”nya: Samudra Pasifik. Saat prajurit Amerika merebut Guadalcanal dan Iwojima dari tangan serdadu Jepang penguasa pulau pada waktu itu. Saya sudah punya film dokumenter perebutan Iwojima itu. Nah saya ingin melengkapi kajian pertempuran tersadis yang pernah ada ini dari bukunya.

Buku terakhir adalah buku seputar rahasia dan skandal yang pernah terjadi di Vatikan yang dilakukan para pausnya. Sejak awal berdirinya Vatikan sampai sekarang. Harganya didiskon hingga cuma Rp27 ribu kurang sedikit.

Nah itu beberapa buku yang saya beli di bulan ini. Dan saya yakin buku-buku itu adalah buku-buku yang bisa saya baca sampai khattam. Serta manfaat buat saya. Buat apa? Yakni untuk memenuhi dahaga intelektualitas (jiaaa…) saya, menghilangkan lapar kepenasaran saya tentang sejarah dunia, dan menyerap ilmu cara menulis yang baik.

Dan ngomong-ngomong tahu tidak, dari semua buku itu buku apa yang pertama kali saya baca? Tepat sekali… Iwojima 1945. Jangan tanya kenapanya. Karena tidak semua harus ditanyakan dengan kata “why”.

Sekian.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara.

Ummulqura, Bogor.

Ditulis pada smartphone pada program thinkfree.

11.20 16 Desember 2012

CERITA MUDIK BOGOR SEMARANG 21 JAM LEBIH


CERITA MUDIK BOGOR SEMARANG 21 JAM LEBIH

 

Ramadhan, mudik, dan baliknya sudah berlalu. Saatnya menatap hari esok untuk menekuni rutinitas dan pekerjaan kembali. Namun masih ada bagian cerita yang belum sempat untuk dituliskan di sini. Oleh karenanya izinkan saya untuk mengisahkan sedikit perjalanan mudik kami.

    Cuti bersama dimulai dari hari Senin, Kamis, dan Jum’at. Ditambah satu hari lagi cuti tahunan pada hari Senin pekan depannya sehingga kalau ditotal jenderal jumlah hari libur yang saya ambil –dari tanggal 27 Agustus s.d. 5 September—adalah sebanyak 10 hari.

    Karena masih banyak tugas yang harus diselesaikan terutama masalah pengumpulan dan pembagian zakat di Masjid Al-Ikhwan maka saya putuskan untuk memulai perjalanan mudik itu pada Sabtu malam Ahad tepatnya pukul 00.00. Karena memang tugas penghitungan ZIS baru selesai jam setengah 12 malam. Pada menit ke-40 selepas tengah malam kami pun berangkat.

    Kilometer sudah dinolkan, tangki bensin sudah dipenuhkan, shalat safar tertunaikan, shalawat sudah dipanjatkan, perbekalan sudah disiapkan, dan fisik sejenak sudah diistirahatkan maka perjalanan dimulai dengan menyusuri terlebih dahulu tol Jagorawi lalu ke Lingkar Luar Cikunir sampai ke tol Cikampek.

    Keberuntungan di tahun lalu tidak berulang di tahun ini. Selepas pintu tol Cikopo mobil kami dialihkan ke jalur kanan untuk melewati Subang karena pertigaan Jomin macet total. Padahal rencana kami adalah untuk singgah dulu di tempat bibi, Lik idah, di Segeran Indramayu. Kalau melalui jalur tengah—Cikopo, Subang, Cikamurang, Kadipaten, Palimanan—sudah pasti kami harus memutar terlalu jauh ke Segeran.

    Sebelum masuk Kalijati Subang saja sudah macet total. Kami pun mematikan mesin mobil. Jam sudah menunjukkan setengah empat pagi ketika kami memulai sahur di atas kendaraan. Kami sudah bertekad untuk tidak mengambil dispensasi untuk tidak berpuasa pada saat menjadi musafir.

Karena saya merasakan betul kenikmatan berbuka di saat orang lain tidak berpuasa dan godaan tawaran pedagang asongan dengan minuman dingin yang berembun di siang terik, apalagi di tengah kemacetan yang luar biasa. Syukurnya Haqi dan Ayyasy juga mau untuk sahur dan berpuasa. Kebetulan pula mobil kami tepat berhenti di depan masjid, sehingga ketika adzan shubuh berkumandang kami dengan mudahnya memarkirkan mobil dan shalat.

Setelah shalat kondisi jalanan ke arah Subang sudah tidak macet lagi. Arah sebaliknya yang menuju Sadang yang macet. Kami melewati Subang menuju Cikamurang dengan kecepatan sedang. Menjelang matahari terbit kami melewati perkebunan pohon-pohon Jati. Indah sekali pemandangan yang terekam dalam mata dan benak menyaksikan matahari yang mengintip di sela-selanya. Dan sempat tertuliskan dalam sebuah puisi yang berjudul Terperangkap. Saya rekam dengan menggunakan kamera telepon genggam dan unggah segera ke blog.

Sebelum Cikamurang kami lewati, lagi-lagi kendaraan kami dialihkan dari jalur biasanya ke arah jalur alternatif. Tentunya ini memperpanjang jarak dan waktu yang kami tempuh sampai Kadipaten. Kemacetan yang kami temui selepas Cikamurang sampai Palimanan hanyalah pasar tumpah. Terutama pasar tumpah di Jatiwangi dan Pasar Minggu Palimanan.

Setelah itu kami melewati jalur tol Kanci Palimanan melalui pintu tol Plumbon. Di tengah perjalanan karena mendapatkan informasi dari teman—yang 15 menit mendahului kami—via gtalk bahwa di pintu tol Pejagan kendaraan dialihkan arusnya menuju Ketanggungan Timur dan tidak boleh ke kiri menuju Brebes maka kami memutuskan untuk keluar tol melalui pintu tol Kanci.

Tapi jalur ini memang padat sekali. Kalau dihitung jarak Kanci hingga Tegal ditempuh dalam jangka waktu lebih dari 3 jam. Jam sudah menunjukkan angka 15.15 saat kami beristirahat di SPBU langganan kami, SPBU Muri, tempat yang terkenal dengan toiletnya yang banyak dan bersih. Shalat dhuhur dan ashar kami lakukan jama’ qashar. Haqi dan Ayyasy sudah protes mau membatalkan puasanya karena melihat banyak orang yang makan eskrim dan minum teh botol. Kami bujuk mereka untuk tetap bertahan. Bedug buka sebentar lagi. Sayang kalau batal. Akhirnya mereka mau.

Setelah cukup beristirahat kami langsung tancap gas. Jalanan lumayan tidak penuh. Pemalang kami lewati segera. Kami memang berniat untuk dapat berbuka di Pekalongan. Di tempat biasa kami makan malam seperti mudik di tahun lalu. Di mana coba? Di alun-alun Pekalongan, sebelah Masjid Agung Al-Jami’ Pekalongan, tepatnya di Rumah Makan Sari Raos Bandung. Yang patut disyukuri adalah kami tepat datang di sana pas maghrib. Beda banget dengan tahun lalu yang maghribnya baru kami dapatkan selepas Pemalang.

Rumah makan ini khusus menjual ayam kampung yang digoreng. Sambalnya enak. Tempatnya juga nyaman. Ada lesehannya juga. Kebetulan pula pada saat kami datang, kondisinya padat banyak pengunjung, dan anehnya kami dapat tempat paling nyaman yang ada lesehannya. Persis di tempat kami duduk setahun yang lalu.

Cukup dengan teh hangat, nasi yang juga hangat, sambal dan lalapan, satu potong ayam goreng, suasana berbuka itu terasa khidmatnya. Yang membuat saya bahagia adalah Haqi dan Ayyasy mampu menyelesaikan puasanya sehari penuh.

Setelah makan dan istirahat kami langsung sholat maghrib dan isya. Walaupun tempat sholat sudah disediakan di rumah makan itu, saya dan Haqi berinisiatif shalat di Masjid Agung Al-Jami’ Pekalongan. Waktu itu suasana masjid ramai karena dekat dengan alun-alun yang sesak dipenuhi pedagang dan pusat perbelanjaan. Kami sempat merekam gambar menara masjid tua ini.

Selepas adzan ‘isya kami segera berangkat kembali untuk menyelesaikan kurang lebih 102 km tersisa perjalanan kami. Batang kami lewati tanpa masalah. Kendal pun demikian. Saya yang tertidur tiba-tiba sudah dibangunkan karena mobil kami ternyata sudah sampai di rumah mertua di daerah Grobogan dekat stasiun Poncol.

Perjalanan kami belum berakhir karena kami memang berniat menginap di rumah kakak. Sekarang gantian saya yang menyetir menuju Tlogosari, Pedurungan. Tidak lama. Cuma 15 menit saja. Akhirnya tepat pada pukul 21.45 kami pun sampai di tujuan.

Wuih… lebih dari 21 jam lamanya perjalanan mudik ini. Saya sempat berpikir lama–kelamaan jarak Bogor Semarang susah untuk ditempuh dalam jangka waktu 12 jam atau lebih sedikit. Tidak seperti di tahun 2007 lalu waktu kami berangkat jam enam pagi sampai di Semarang sekitar pukul tujuh petang dengan suara takbir menggema dan kembang api menghiasi langit.

Tapi apapun yang kami lalui yang terpenting penjalanan itu bisa ditempuh dengan selamat. Saya yakin shalawat yang kami lantunkan menjadi salah satu faktor utama keselamatan kami. Dan berujung pada kebahagiaan kami di lebaran bersama keluarga di kampung. Semoga cerita mudik Anda pun berakhir bahagia.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.37 WIB

6 September 2011

 

Diupload pertama kali di http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/09/06/cerita-mudik-bogor-semarang-21-jam/

Tags: bogor, semarang, ramadhan, mudik, cuti bersama, masjid al-ikhwan, tol jagorawi, lingkar luar cikunir, tol cikampek, tol cikopo, subang, lik idah, segeran, indramayu, cikamurang, kadipaten, palimanan, kalijati, haqi, ayyasy, cikamurang, palimanan, jatiwangi, pasar minggu palimanan, tol kanci palimanan, plumbon, gtalk, pejagan, ketanggungan timur, brebes, spbu muri, pemalang, pekalongan, alun-alun pekalongan, masjid agung al-jami’ pekalongan, rumah makan sari raos bandung, batang, kendal, grobogan, stasiun poncol, tlogosari, pedurungan

AYYASY, KINAN, UNTA, KIJANG, DAN RUSA


AYYASY, KINAN, UNTA, KIJANG, DAN RUSA

 

Sabtu malam Ahad sebelum Ramadhan, kami bertiga—saya, Ayyasy, dan Kinan—menjemput Ummu Haqi dari sebuah hotel di Bogor tempat konsinyering sehari penuh itu diselenggarakan. Nama hotel itu adalah Hotel Sahira, tepatnya di jejeran Jalan Paledang. Kalau saya cuma tahu jalan itu identik dengan nama penjara.

Hotel itu dekat ditempuh dari stasiun Bogor. Jalan kaki bisa atau naik ojek juga bisa. Hotelnya terlihat bagus. Tampak depan bangunan bercita rasa zaman keemasan kolonial Belanda. Sepertinya juga hotel ini hotel syariah karena ada larangan untuk membawa minuman keras dan pasangan yang bukan mahrom untuk menginap. Di setiap kamarnya ada Alqur’an dan terjemahnya serta sajadah untuk shalat.

Untuk kami disediakan satu kamar buat bermalam sampai besok tetapi karena ada agenda yang tak bisa ditinggalkan oleh saya maka kami putuskan untuk pulang saja. Nah, sebelum pulang itu saya sempatkan untuk menjepret Ayyasy dan Kinan di samping unta yang sedari tadi mematung di lobi hotel yang interior dan pencahayaannya cukup bagus.

Selamat dinikmati saja fotonya. J Omong-omong tentang Bogor banyak sekali tempat eksotik untuk dikunjungi. Bogor bisa disamakan dengan Bandung. Yang membedakan adalah hujan, pohon, kijang dan rusanya. Satu lagi kata orang sih…perempuannya. Ah, ada-ada saja. Suatu saat kami akan sempatkan untuk jalan-jalan di sana. Eksplorasi lebih dalam dan lama.

Ini yang terakhir. Beneran terakhir. Sumpah. Kalau ke Bogor melewati istana Bogor dan di halaman luasnya menemukan banyak binatang mamalia seperti kijang dan rusa maka yang menjadi pertanyaan adalah apa bedanya kijang dengan rusa? Saya tanya saya jawab sendiri. Kalau kijang itu punya totol-totol sedangkan rusa tidak punya. Membedakan jantan dan betinanya bagaimana? Yang jantan itu punya tanduk sedangkan yang betina tidak.

Jadi kalau ada yang bertotol-totol dan tidak bertanduk itu namanya adalah kijang betina. Jangan salah sebut yah…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

merdekalah kita

11.28 17 Ramadhan 1432 H

 

 

Tags: bogor, paledang, stasiun bogor, kijang, rusa, hotel sahira, kolonial belanda, belanda, istana bogor, bandung, kinan, ayyasy