Setiap Anjing Boleh Berbahagia, Apalagi Aku


 

Apalagi setelahnya?

Si Tokek memberinya selembar foto. Foto gadis yang sama, yang ditempel di langit-langit kabin truk. Gadis itu telah bertambah besar. Berbeda dengan foto-foto sebelumnya, yang semuanya selalu dibawakan oleh Si Tokek, kali ini di balik foto tersebut ada tulisan. Tulisan tangan si gadis kecil:

 

 

Menulis itu membaca. Maka ketika kesibukan memang telah memakan waktu yang kita punya, bahkan untuk menulis pun sampai tak sempat, bagi saya itu tidak mengapa asal waktu-waktu yang lewat itu telah diisi dengan kegiatan membaca. Ini penting buat menulis dan penulis.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Sengkarut Legitimasi


 dew-water-drops-on-a-spider-web

Anisa kewalahan dengan adu teriak di antara dua anaknya. Dentuman pertengkaran yang tiada henti di setiap hari, di setiap waktu makan, di setiap saat. Hingga suatu ketika seorang peninjau datang dan mengevaluasi semuanya.  Diketahui kalau Muthia,  anak sulungnya, selalu memulai pertengkaran dengan keisengan memukul Fathiya, sang adik. Tapi sebenarnya tidak selalu. Juga yang penting adalah sikap Anisa sendiri yang ternyata memicu kedua anaknya untuk tidak mematuhi nasihat Anisa. Mengapa ini bisa terjadi?

Jawaban peninjau itu adalah karena Anisa seorang ibu yang tidak konsisten memberi arahan dan menghentikan tindakan sulung. Anisa kadang melakukan, kadang tidak. Anisa juga tidak memberi perlakuan yang sama ketika Fathiya melakukan keisengan yang tiada berbeda kepada kakaknya. Ini yang dilihat Muthia sebagai perlakuan yang tidak adil.

Continue reading Sengkarut Legitimasi

Misteri Roseto



Ketika Malcolm Gladwell akan memulai menulis buku dia bertemu dengan salah satu temannya yang berprofesi sebagai dokter dan bertugas di Kota Roseto dekat Pennsylvania United Stated, yang penduduknya adalah hampir 100% imigran asal Italia.

Temannya ini bercerita pada Malcolm bahwa dia hampir tidak pernah menemukan penduduk Roseto yang meninggal dunia pada usia muda dan berpenyakit koroner. Kasus ini menjadi hal yang menarik untuk diteliti, mereka ditambah beberapa mahasiswa kedokteran dan sosiologi, kemudian melakukan penelitian dengan mengumpulkan sampel-sampel darah, catatan kematian, dan mempelajari pola makan dan minum mereka.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #36: MENJELMA MENJADI PELUKAN


RIHLAH RIZA #36: MENJELMA MENJADI PELUKAN

 
 

I tell you that wealth does not make you good within,

but that from inner goodness comes wealth and every other benefit to man.

(Socrates, The Apology)

 
 

Akhir Mei lalu, di hari-hari dalam sepekan yang saya manfaatkan betul untuk bersama dengan keluarga, saya menjadi saksi dari sebuah keberhasilan kecil. Keberhasilan yang dilakukan oleh Kinan dan Ayyasy. Ketika saya belum juga reda dari lelah menempuh ribuan kilometer perjalanan Tapaktuan-Jakarta, Kinan sudah meminta saya mencopot dua roda belakang tambahan di sepeda kecilnya itu. Kinan sepertinya ingin memberanikan diri menaiki sepeda hanya dengan dua roda. Saya bilang nanti besok.

Tiba-tiba Kinan datang kembali dari tempat mainnya dengan dua roda belakang tambahan yang sudah terikat di stang sepeda. Roda itu telah dicopot sama tetangga jauh. Tapi Kinan masih belum bisa menaiki sepedanya. Kakinya masih menyentuh tanah. Bahkan Kinan menuntun sepeda sampai rumah ketika ia sadar ia masih belum berani naik.

Besok paginya, Kinan sudah tak sabar ingin belajar naik sepeda. Saya angkat dan bawa sepedanya ke jalanan depan rumah. Saya meminta Kinan duduk di sadel, kakinya dinaikkan di satu pedal, dan saya dorong sepedanya sambil teriak, “genjot sekarang!” Kinan melaju ke depan dengan lancar tanpa halangan. Ia berteriak kesenangan. Kemudian saya memberikan ilmu cara mengerem dan belok agar bisa lebih ahli lagi.

Seharian anak yang mau kelas satu SD ini main sepeda. Tak kenal waktu. Saya mewanti-wanti agar ia berhati-hati dan jangan jauh-jauh. Melihat Kinan dari kejauhan saat ia berusaha keras agar tidak goyang menaiki sepeda ada yang hangat mengalir dalam dada. Tentang sebuah rasa. Bahagia.

Hari-hari berlalu dengan cepatnya. Tahu-tahu besok saya harus kembali lagi ke Tapaktuan. Tapi Sabtu ini saya hadir dalam wisuda Ayyasy. Wisuda Alquran Angkatan III SDIT Al-Hikmah Cipayung Depok. Juz 30 insya Allah sudah dihafalnya. Juz 29 mentok di Surat Almuzammil. Tidak apa-apa cuma hafal segitu. Masih banyak yang belum hafal satu juz. Malah masih banyak yang belum bisa baca Alquran. Apa pun pencapaiannya selalu layak untuk dihargai.

Melihatnya diwisuda dengan memakai baju putih, kopiah hitam yang kebesaran, kain hijau terselempang di bahu, pun ketika ia naik ke atas panggung, diberikan medali dan piagam, serta disalami oleh para ustaz ada hangat yang mengalir dalam dada. Tentang sebuah rasa. Bahagia.

Bahagia yang sederhana. Yang mampu memberikan rasa nyaman. Itu pun baru sebatas bahagia di dunia. Apatah lagi bahagia di akhirat ketika Kinan mampu menaiki sepeda kehidupan dengan sukses. Sedangkan Ayyasy mampu memberikan mahkota cemerlang buat kedua orang tuanya karena hafal Alquran 30 juz misalnya.

Sepeda empat roda Kinan dulu (Foto koleksi pribadi).

 
 

Masjid Alhikmah yang jadi tempat wisuda (Foto koleksi pribadi).

 
 

Ayyasy berdiri di tengah paling belakang di sebelah temannya yang pakai peci putih (Foto koleksi pribadi)

Abi dan Ayyasy (foto koleksi pribadi).

Ayyasy (Foto koleksi pribadi).

 
 

Ayyasy bersama Alustadz Alhafiz Badruddin Lc,. MT.

 
 

Menyaksikan dua momen itu setidaknya adalah saat memastikan diri tidak ada kata terlambat bagi saya untuk memiliki golden moment. Ketika fase-fase sebelumnya, fase anak masih dalam kandungan dan usia 0-2 tahun, fase terbaik dalam membentuk ikatan hati dengan anak terlewati. Golden moment inilah yang oleh Bendri Jaisyurrahman disebut sebagai saat orang tua harus hadir menemani mereka: saat sedih dan berprestasi.

Ketika anak sedih saya harus menjelma menjadi pelukan menenangkan mereka. Ketika mereka berprestasi, wisuda, dalam pertandingan olahraga, atau kegiatan lainnya, saya upayakan sekuat tenaga untuk bisa hadir secara fisik menemani. Inilah saat saya harus menjelma menjadi senyuman, teriakan, tepuk tangan, acungan jempol, dan tertawa buat mereka. Inilah persembahan terbaik orang tua kepada anak. Ini bahagia saya juga. Karena bahagia itu juga tidak semata uang.

Tambah uang tambah bahagia. Ini anggapan yang kebanyakan orang harus terima sebagai realitas. Tapi ternyata pada suatu titik tertentu, pertambahan uang akan berhenti memberikan tambahan kebahagiaan, bahkan menjadi antiklimaks, dan menukik turun tajam. Inilah yang bila digambarkan dalam sebuah grafik disebut dengan “Kurva U Terbalik”.

Dalam buku Malcolm Gladwell yang berjudul David & Goliath: Ketika Si Lemah Menang Melawan Raksasa, titik itu oleh para cendekia berada pada kisaran 75 ribu dolar Amerika Serikat per tahun. Atau sebesar 825 juta rupiah per tahun dengan kurs 11 ribu rupiah per 1 dolar Amerika Serikat. Setara gaji sebulan sebesar 68,75 juta rupiah. Di atas angka ini uang tidak mampu memberikan kebahagiaan lebih. Bahkan memudarkan kebahagiaan.

Dalam buku tersebut Gladwell membandingkan antara pengasuhan anak dengan kekayaan. Kualitas pengasuhan anak di sumbu y dari titik terendah (sukar) menuju titik teratas (mudah). Sedangkan kuantitas kekayaan di sumbu x yang dimulai dari titik miskin bergeser ke kanan menuju titik kaya. Seperti ilustrasi berikut ini:

 
 

Faktanya, tak seorang pun bakal berkata dengan banyak uang yang dimiliki maka kita akan menjadi orang tua yang baik buat anak-anak kita. Sinetron-sinetron Indonesia menjadi cerminan akan hal ini. Rumah megah tak menjamin ada ketenteraman di sana. Bahkan seringkali diisi dengan teriakan, makian, hasutan, dan pertengkaran. Bertambahnya uang pada suatu titik berbalik menjadi pendulum yang akan memperburuk kualitas kita sebagai orang tua buat anak-anak kita. Ini tidak membahagiakan.

Mengapa pada suatu titik tertentu uang tidak memberikan kebahagiaan? Karena ada fenomena—yang saya kutip dari akun twitter Business Life—hedonic treadmill. Semakin kaya kita, semakin tinggi nafsu memiliki materi, semakin tidak puas, dan kebahagiaan pun menjadi stagnan.

Inilah fenomena yang disebut juga dengan fenomena “fokus terhadap apa yang diinginkan”. Kalau kita sehari-hari hanya fokus terhadap apa yang kita inginkan maka yang ada ketidakpuasan terus-menerus. Kita belum liburan ke Bali, belum punya ipad, mobil satu lagi belum terbeli. Begitu banyak daftar keinginan kita yang senantiasa terpikirkan. Ini tidak membahagiakan. Maka Richard Carlson—penulis buku-buku best seller—sebagai konsultan stres pun mengatakan, “Fokuslah terhadap apa yang dimiliki, hidup Anda akan lebih baik. Dan barangkali untuk pertama kalinya Anda akan tahu apa artinya merasa puas.”

Islam sudah mengajarkannya berabad-abad lampau. Kalau kita bersyukur akan ditambah nikmatnya. Jika sebaliknya, azablah yang akan datang. Dicabutnya kebahagiaan dari diri kita bisa jadi merupakan azab kecil yang Allah berikan karena ketidaksyukuran ini. Ah, betapa banyaknya…

Maka, saya mensyukuri keberhasilan kecil mereka ini. Dan akan berusaha mensyukuri keberhasilan mereka yang lainnya. Setelah itu saya harap ada yang hangat mengalir dalam dada. Tentang sebuah rasa. Bahagia.

Walau seringkali menikmatinya dari jauh.

***

 
 

 
 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11 Juni 2014

 
 

 
 

Tags: kinan fathiya almanfaluthi, muhammad yahya ayyasy almanfaluthi, sdit alhikmah cipayung depok, malcolm gladwell, richard carlson, david & goliath ketika si lemah menang melawan raksasa, badruddin lc,

KOMPASIANA HANYA KOLAM KECIL


Kompasiana Hanya Kolam Kecil

 


Ini mah bukan kolam tapi telaga. 😀 (Gambar diambil dari sini)

 

Saya mau bercerita sedikit. Mau memberikan pilihan kepada Ayah dan Bunda yang ingin menyekolahkan anak-anaknya. Saya mengilustrasikannya seperti ini. Ada anak cerdas di Amerika Serikat. Ia mencintai pelajaran matematika, kimia, fisika, biologi, dan ilmu pasti lainnya. Cita-citanya menjadi seorang ahli sains. Selepas SMA ia memilih kuliah di kampus yang ternama dan bonafide untuk menggapai cita-citanya. Di sebuah universitas tempat anak-anak cerdas berkumpul.

Untuk dapat belajar di kampus itu ia harus melalui ujian SAT. Ujian yang digunakan di banyak sekolah tinggi Amerika Serikat sebagai tes masuknya. Mungkin kalau di Indonesia adalah SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri)-nya. Di universitas terkenal itu ia memilih jurusan sains tentunya. Ia lulus dan dapat belajar di sana.

Tapi apa yang terjadi? Di tengah perkuliahan ia gagal dan memilih keluar serta berpindah jurusan ke ilmu sosial. Padahal ia sudah menyadari kenyataan untuk tidak menjadi nomor satu di antara orang-orang cerdas itu. Bahkan ia sangat sadar ketika menjadi mahasiswa biasa-biasa saja bahkan paling bawah sekali pun. Ia tak berharap untuk menyaingi mereka. Targetnya adalah mampu bertahan kuliah.

Namun ia tetap bekerja keras untuk dapat menyamai kecerdasan dan mengikuti irama kepandaian dari mahasiswa cerdas di kelasnya itu. Tapi ia selalu mendapatkan nilai B minus seberapa pun kerasnya usaha belajarnya itu. Nilai-nilai yang tak pernah ia dapatkan di SMA-nya dulu. Katanya, teman-temannya itu sampai pada suatu titik egoisme untuk tidak mau berbagi ilmu karena ketat nya kompetensi. Dosennya sampai bilang juga kepadanya untuk tak perlu ikut mata kuliah ini. Ia menyerah. Ia gagal.

Kalau saja ia memilih universitas yang pertengahan, maka ia akan bisa mengikuti irama kuliah dan menjadi terbaik di kelasnya. Ia pun akan tetap pada jalurnya untuk menjadi ahli sains. Ia tidak bodoh. Ia cerdas. Tapi ia salah dalam memilih. Ia tidak membandingkan dirinya dengan mahasiswa di luar kampusnya. Ia hanya menjadikan teman-teman kampusnya sebagai benchmark. Itu membuatnya merasa bodoh dan tak berguna.

Universitas ternama itu adalah kolam besar dan anak cerdas itu ikan kecilnya. Sedangkan jika ia memilih universitas biasa saja atau universitas pertengahan ia sesungguhnya adalah ikan besar dan universitas biasa itu adalah kolam kecilnya. Ayah dan Bunda ingin menjadikan anak Ayah dan Bunda ikan besar di kolam kecil atau ikan kecil di kolam besar?

Karena berdasarkan penelitian, tak ada signifikansi pengaruh almamater terhadap perolehan pendapatan setelah lulus kuliah. Berdasarkan penelitian pula ada perbandingan seperti ini dengan contoh sederhana. Ada 100 anak tercerdas yang nilai SAT-nya tinggi kuliah di jurusan sains Harvard . Seratus anak yang SAT-nya rendah di bawah daripada mereka yang kuliah di Harvard, kuliah di jurusan sains universitas biasa saja. Dua universitas ini mempunyai metode dan sistem pengajaran yang sama. Ternyata masing-masing dari universitas itu hanya bisa meluluskan 50% saja mahasiswa mereka.

Ini aneh. Seharusnya mereka yang nilai SAT-nya tinggi dan bisa kuliah di Harvard tentu lulus semua. Atau dengan kata lain mahasiswa yang SAT-nya rendah daripada mahasiswa Harvard dan hanya bisa kuliah di universitas biasa saja itu yang tak akan mampu lulus kuliah jurusan sains. Tapi kok malah ada mahasiswa Harvard yang tidak lulus kuliah.

Ini artinya adalah banyak sekali yang mau jadi ikan kecil di kolam besar dengan risiko ia tidak bisa menjadi apa yang diidamkannya, dan tidak memilih menjadi ikan besar di kolam kecil hanya karena gengsi dan kehormatan.

Anak yang saya ceritakan di atas sampai bilang: “Kalau saja saya kuliah di universitas biasa saja itu, saya bakal masih di bidang yang saya cintai dan menjadi ahli sains.” Yang lain bilang: “Lucu sekali banyak mahasiswa matematika dan fisika yang pada akhirnya drop out dan masuk kuliah hukum, setelah lulus menjadi pengacara atau konsultan pajak.”

Saya paham, perusahaan di di Amerika Serikat memilih orang-orang yang terbaik berdasarkan apa yang dihasilkannya bukan semata dari almamater mana ia lulus. Tapi untuk diterapkan di Indonesia mungkin masih cukup sulit karena masih memandang dari mana Anda kuliah. Ini untuk urusan dunia pendidikan. Tapi untuk dunia lainnya bisa jadi bisa.

 

Apa yang saya ceritakan di atas adalah sebuah penceritaan kembali secara sederhana dalam bahasa dan sedikit imajinasi saya dari apa yang ada dalam salah satu bab buku Malcolm Gladwell yang berjudul David & Goliath. Sebuah buku yang memberikan cara pandang baru dalam memahami fenomena sosial. Bagaimana memandang kelemahan sebagai sebuah keunggulan. Semua orang—dalam medan pertempuran itu—memandang remeh kepada David karena ia melawan raksasa kuat bernama Goliath. Tapi sejarah mencatatnya bahwa apa yang dianggap sebagai kekuatan itu rontok tak berdaya di hadapan sosok “penuh” kelemahan. Dari empat buku yang ditulis sebelumnya saya lebih menikmati buku terbarunya ini. Buku ini anti mainstream.

 

Dalam dunia tulis menulis Anda bisa menjadi ikan besar di kolam kecil untuk menjadi orang yang dikenal sebagai penulis hebat. Misalnya dengan konsisten menulis dan mengirimkan tulisan ke media di bawah Kompas. Atau membuat sebuah media sendiri tempat buat para penulis berkreasi tanpa ada seleksi, juri, dan keterbatasan lainnya. Tanpa mengesampingkan kualitas tentunya. Tak perlu berkecil hati. Kompasiana, saat ini, bisa menjadi kolam kecilnya. Dan banyak kompasianer yang telah menjadi ikan besarnya di sana.

Seperti Monet, Degas, Cezanne, Renoir, dan Pisarro yang tidak akan pernah dikenal dunia jika mereka hanya menjadi ikan kecil di kolam besar dengan hanya bertahan bagaimana bisa memasukkan karya mereka di galeri “Salon” yang benar-benar ketat dalam seleksi dan tempatnya sangat terbatas.

Tapi akhirnya mereka membentuk komunitas tersendiri untuk mengenalkan lukisan impresionisme dan mereka menjadi ikan besar di kolam kecil. Pada akhirnya mereka dikenal dunia. Lukisan mereka banyak dicari orang. Saya memilih menjadi ikan besar di kolam kecil. Anda?

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08 Mei 2014

Dimuat pertama kali di Kompasiana: http://media.kompasiana.com/buku/2014/05/09/kompasiana-hanya-kolam-kecil-652009.html

 


 

RIHLAH RIZA #34: THE GLADWELL EFFECT


 

RIHLAH RIZA #34: THE GLADWELL EFFECT

 

 

Tidak ada seorang pun yang bangun sebelum subuh selama tiga ratus enam puluh hari dalam satu tahun tidak mampu membuat keluarganya kaya raya.

(Pepatah Cina)

 

 

Ini pertama kalinya saya membeli buku secara online. Kurang dari tiga hari dua buku bertemakan psikologi sosial dari Surabaya itu sudah sampai di Citayam. Kenapa tidak dikirim ke Tapaktuan? Karena sudah jelas ongkos kirimnya hampir sama dengan harga bukunya. Kebetulan minggu depan saya akan pulang ke rumah, jadi bisa sekalian saya ambil dan bawa ke Tapaktuan nantinya.

Buku-buku karangan Malcolm Gladwell itu benar-benar ingin saya baca. Keinginan yang tak tertahankan. Penantiannya seperti bocah yang dibelikan sepatu baru dan dia tidak sabar menunggu esok hari untuk memakainya. Buku pertama berjudul Tipping Point: Bagaimana Hal-hal Kecil Berhasil Membuat Perubahan Besar. Sebuah buku lama yang terbit di tahun 2002 dalam bahasa Indonesia dan saya terlambat tahu. Sedangkan buku lainnya adalah buku yang terbit pada November 2013 berjudul David and Goliath: Ketika Si Lemah Menang Melawan Raksasa.

Buku-buku Gladwell—nenek dari nenek buyutnya adalah seorang budak di Jamaika yang diperistri oleh pendatang dari Irlandia di tahun 1784—lainnya seperti Blink, Outliers, dan What the Dog Saw sudah saya miliki dan baca sampai tuntas. Bukunya menarik, enak dibaca, ringan, menjungkirbalikkan pendapat dan pemikiran yang sudah mapan selama ini. Seperti pembahasan tentang perempuan yang haidnya tidak teratur. Mereka itulah yang sebenarnya lebih sehat daripada perempuan yang setiap bulannya haid. Ada lagi tentang kesuksesan itu tidak bisa dimungkiri karena faktor keberuntungan, tinggi badan, ketampanan atau saat tepat kapan Anda dilahirkan.

Perkenalan pertama saya dengan buku mantan jurnalis Washington Post ini adalah saat saya membaca buku best seller versi New York Times yang berjudul Outliers: Rahasia di Balik Sukses. Buku ini menyelip di antara berbagai hadiah yang saya terima sewaktu menjuarai Lomba Menulis Artikel Perpajakan di tahun 2012 itu. Akhirnya setelah membaca sampai tuntas saya tertarik dengan buku lainnya. Blink dan What the Dog Saw menyusul. Saya berburu buku secara offline di banyak toko buku untuk mendapatkan Tipping Point. Nihil. Dan setelah setahun lebih akhirnya pencarian itu bakalan berakhir. Beli buku online jadi solusinya.

 

Tiga buku itu (Foto koleksi pribadi)

 

Nah, di antara semua bahasannya yang menarik ada satu bab di buku Outliers yang ingin sedikit saya ceritakan di sini. Tepatnya di bab Bertani Padi dan Ujian Matematika. Bab yang bercerita tentang kegigihan bangsa Asia—terutama Cina, Korea Selatan, Hong Kong, Singapura, dan Jepang—di antara bangsa-bangsa lainnya. Kegigihan itu hasil dari kebudayaan yang dibentuk dari tradisi pertanian dan pekerjaan mereka yang berharga. Bagaimana mereka harus bekerja keras untuk mendapatkan beras. Karena beras adalah panduan kehidupan mereka setiap hari. Sampai muncul peribahasa para petani seperti ini: Tidak ada seorang pun yang bangun sebelum subuh selama tiga ratus enam puluh hari dalam satu tahun tidak mampu membuat keluarganya kaya raya.

Dalam Islam konsep kerja keras yang dimulai dari pagi hari termaktub dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Athabrani. Rasulullah SAW bersabda, “Seusai shalat fajar (shubuh) janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki.” Dari hadis ini sudah mafhum kalau rezeki kita mau banyak dan bertambah maka bangunlah pagi. Saya yakin teman-teman saya di Jakarta sudah banyak yang menerapkan kaidah ini. Ya, bagaimana tidak kalau mereka sudah harus berangkat kerja bahkan sebelum azan subuh berkumandang. Jika terlambat bangun jangan berharap bisa masuk kantor tepat waktu berhubung jalanan Jakarta yang begitu padatnya.

Di Tapaktuan, Insya Allah saya mencoba mengamalkan ini. Saya berusaha dengan keras agar bisa salat subuh–yang ada di kisaran jam setengah enam pagi—ke masjid. Setelah itu membaca ayat-ayatNya walau sedikit. Lalu membaca buku. Berbaring sebentar sambil melihat-lihat hp. Membersihkan kamar. Membereskan apa yang perlu dibawa ke kantor. Kemudian sebelum jam tujuh pagi pergi mandi. Tak lama saya berangkat ke kantor sambil mampir terlebih dahulu ke warung langganan untuk membeli nasi gurih sebagai sarapan. Pokoknya sebelum jam setengah delapan pagi saya sudah ada di meja kerja. Bisa berangkat jam tujuh lebih itu adalah sebuah hal yang patut disyukuri, karena kalau di Jakarta mana mungkin bisa tiba di kantor tanpa terlambat, kecuali yang rumahnya hanya berjarak sepelemparan batu.

Saat saya datang, terkadang ruangan masih gelap, tidak ada siapa-siapa, atau sedang dibersihkan. Setelah saya duduk biasanya saya akan ambil buku agenda kerja dan menuliskan apa yang harus saya lakukan seharian ini. Pokoknya hari itu harus ada yang saya pikirkan dan lakukan untuk negara. Kasihan negara sudah bayar saya tapi saya tidak berbuat apa-apa. Pertanggungjawabannya bukan sekadar di dunia tapi juga di akhirat. Ini juga sebenarnya berkaitan dengan volume pekerjaan yang tentunya jauh lebih sedikit daripada pekerjaan yang ditangani teman-teman saya di Jakarta.

Datang sebelum jam setengah delapan pagi, presensi di finger print, tanpa balik lagi ke rumah adalah komitmen yang berusaha saya jaga betul. Bukan apa-apa, bukan pula merasa paling baik, bukan untuk bergaya, bukan merasa mantan orang kantor pusat DJP. Melainkan hanya sekadar untuk menjaga ritme yang sudah terbentuk selama ini di Jakarta. Soalnya khawatir kalau tidak dijaga, penyakit malas saya sebelum modernisasi DJP kumat lagi. Kalau sudah kumat maka pemulihannya butuh waktu lama. Juga dalam rangka persiapan ketika ditakdirkan menekuni kembali ritme kerja yang sudah harus dimulai dari kehebohan di pagi hari, maka saya sudah tidak perlu penyesuaian lagi. Hanya itu. Selainnya adalah efek samping.

Anda tahu efek utama dari bangun pagi? Banyaknya keberkahan dan keberuntungan. Yang bilang Nabi SAW sendiri. “Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barakah dan keberuntungan (HR Athabrani dan Al-Bazzar).” Apalagi Kanjeng Nabi SAW mendoakan umatnya mendapatkan keberkahan di pagi hari. Dan nilai keberkahan itu tidak bisa dibandingkan dengan gunungan harta yang ada di muka bumi ini. Tak sekadar akan menjadi kaya raya. Bahkan jauh lebih berharga dan tak ternilai. Bahagia adalah salah satu contohnya. Namun kebahagiaan ini tak bisa dibeli dengan uang.

Bicara bangun pagi maka analogi orang yang bangun pagi itu adalah orang yang start untuk sprint tepat pada waktunya. Yang tidak bangun pagi adalah orang-orang yang terlambat. Bangun pagi menjadi karakter utama dari para pekerja keras, walaupun frasa itu sekarang ini sedikit tergeser dengan frasa pekerja cerdas. Tapi tetaplah kerja keras menjadi tulang punggung dari sebuah keberhasilan. Lelah dan susah payah ketika bekerja keras sudah menjadi risiko. Selalu menyertai dari setiap usaha apa pun. Dan…

Bukankah Rasulullah SAW sudah menegaskan, “Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus dengan pahala salat, sedekah, atau haji namun hanya dapat ditebus dengan susah payah dalam mencari nafkah. (HR Athabrani). Sebagaimana hadis lain yang diriwayatkan oleh Ahmad, “Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya keterampilan tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah. Siang dapat malamnya pun dapat. Lalu mau apalagi? Iya ada lagi, jika bekerja keras dan sebaik-baiknya itu diniatkan untuk mencari nafkah buat keluarganya. Ini sepadan dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. Subhanallah.

Terakhir. Sisi positif yang baru saya ketahui adalah bisa jadi bekerja di kota kecil ini menjadi sarana terbaik untuk men-delete catatan dosa yang selama ini menghitam di hati. Saya berharap betul. Nah, buat teman-teman, sayang kalau dilewatkan begitu saja kesempatan yang diberikan Allah kepada kita untuk bisa bekerja keras dan sebaik-baiknya di Tapaktuan atau di mana saja berada. Keberhasilan dan kesuksesan itu bukan buat orang lain melainkan buat diri sendiri. Janganlah lihat orang lain. Ingat satu hal yang pernah diucapkan Colin Powell : “There are no secrets to success. It is the result of preparation, hard work, and learning from failure.”

Well, saya mendapatkan banyak hal dari Malcolm Gladwell.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 13 April 2014

Ditulis dalam rangka 14 tahun milad Mas Haqi.

 

THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY


THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY

Waktu Ahad lalu (23/12) yang liburan panjang itu, kami berempat—saya dengan my beloved rose, Kinan Chubby, dan Ayyasy The Writer—malam-malam pergi ke Margo City, Depok. Niatnya mau nonton film The Hobbit An Expected Journey. Jam masuknya 21.45.

Saya tak tertarik sama Habibie Ainun. Pokoknya mah mau lihat prekuel Lord of The Rings itu. Setelah trilogi hebat sebelumnya itu tak pernah saya nikmati atas kegarangan sound systemnya atau secara visual pada keindahan gambar negeri peri serta kebengisan perangnya.

Kini mumpung ada waktu dan anak-anak mau, kami sempatkan untuk tak melewatkan yang satu itu. Dan sungguh saya beri jempol buat Peter Jackson yang meramu film itu. Setaralah dengan novelnya yang sudah saya baca dua kali lebih itu. Ohya film ini untuk segala umur loh ya.

The Hobbit ini kalau difilmnya akan dibagi tiga bagian. Sesi pertama ini di film The Hobbit An Expected Journey, kisah Bilbo Baggins bersama 13 kurcaci dan Gandalf Penyihir Kelabu sampai pada mereka diselamatkan dari sergapan orc wajah pucat dan diterbangkan oleh para elang raksasa.

Saya membayangkan kalau di film kedua The Hobbit nanti yang akan diputar di tahun 2013 ceritanya berkisar saat mereka ketemu “siluman” beruang Beorn, bertarung dengan laba-laba di hutan lebat, dan cerita para peri yang menawan Bilbo Baggins.

Kalau di film ketiganya tentu ini yang lebih seru. Tapi sayang masih dua tahun lagi tayangnya. Soalnya di bagian akhir trilogi baru ini akan ada pertempuran besar antara pasukan kurcaci dan peri dengan para orc. Tentu di sana akan ada akhir dari Smaug Sang Naga yang mengamuk setelah lama tidur panjang mengangkangi harta rampasan di bekas istana Kurcaci dulu. Seru.

Kembali ke The Hobbit An Expected Journey, yang bagus darinya adalah peran Thorin yang dimainkan cukup apik. Cool. Sangat Ningrat. Dihormati karena ia adalah sang pemimpin, pejuang, putra mahkota, dan pemberani. Punya obsesi dan dendam 24 karat pada orc dan Smaug.

Apalagi mendengar lagu yang jadi soundtracknya: Misty Mountains (Cold). Mereka—para kurcaci—menyanyikan lagu itu di rumahnya Bilbo Baggins saat merindukan istana-istana bawah tanah mereka yang hilang. Misty Mountains (Cold) menjadi ilustrasi musik sepanjang film itu. Sepadan.

Saat film itu selesai, Kinan sudah tertidur di pangkuan Ria Dewi Ambarwati—perempuan yang telah menjadi istri saya sejak 1999. Saya bopong Kinan waktu menuju tempat parkiran. Jarum jam sudah menuding angka 00.30. Angka yang dituding menolak dan menampik jarum jam itu hingga terus saja berputar-putar. Memang waktu tak akan pernah ada yang mampu menghentikannya untuk berjalan. (Hayyah enggak nyambung). Sampai rumah kurang lebih jam 01.00 pagi. Jalanan Depok sampai Citayam sepi banget nget nget. Ya iyalah jam segitu. Kontras dengan lima jam setelah itu.

Besoknya sempat buka-buka lagi buku The Hobbit. Mau baca lagi dari awal. Ramai. Seru. Saya kumpulkan kembali buku trilogi Lord of The Rings. Mulai dari The Fellowship of The Rings, The Two Towers, sampai The Return of The King.

Ayyasy mulai tertarik novel JRR Tolkien, ia mulai bertanya-tanya.

“Emang mau baca?”

“Iya.”

Eh pada akhirnya tetap saja buku itu tergeletak di tempat tidurnya. Tak pernah dibuka lagi.

Pada saat proses mengumpulkan itu saya menemukan buku Isildur, masih bertema Dunia Tengah tapi tak dikarang oleh JRR Tolkien. Menemukan juga buku proses kreatif bagaimana para pengarang memulai menulis, serta buku-bukunya Malcolm Gladwell. Saya foto dah tuh buku. Ceklik….

clip_image001

(Untuk memperbesar foto ini klik saja)

Sudah cukup segitu saja dulu ceritanya. Inilah “me time”-nya kami. Sayang Mas Haqi enggak ikut (fotonya jadi latar belakang foto di atas). Pesantrennya baru libur mulai Sabtu besok tanggal 29 Desember 2012. Insya Allah Nak kita jalan-jalan lagi kayak dulu. Pengen kemana? Ragunan? Hayyah Ragunan mulu. Mancing? Lihat dulu dah. J Kami semua merindukanmu Nak. Apalagi Abi.

Jalan-jalan ke Cipatujah, ketemuan sama pak Polisi.

Di sini kita berpisah, sekian dan terima kasih.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:16 28 Desember 2012

Tanpa diedit lagi