Lalu Aku Menerima


Lalu aku menerima setiap kata yang diucapkan salju di musim lalu, agar aku sanggup menerjemahkan hikayat purba atas setiap keikhlasanmu untuk jatuh. Dan aku sekadar mengeratkan mantel agar tak kedinginan.

Dinding-dinding batu tua itu menjadi tempat aksara yang kautulis dengan segenap hujjah yang pernah diajarkan mahagurumu bernama sepi. Dan aku meriang melulu membayangkan panas air yang terjerang agar setiap kenang tentangmu menjadi pemenang bersama asap nafasmu yang menjulang-julang.

Lalu aku menerima derit roda kereta yang dipapah malam lalu, agar aku sanggup menafsirkan riwayat purwa atas setiap kerinduanmu yang rapuh. Dan aku semata-mata pohon yang daunnya membenci putih di halaman samping stasiun tujuan.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13 Januari 2018
Photograph by @yamashitaphoto from @natgeo at Shaolin Temple, Dengfeng, Cina.

Advertisements

Kode Pos


T’lah kuterima suratmu nan lalu
Penuh sanjungan kata merayu
Syair dan pantun tersusun indah, sayang
Bagaikan madah fatwa pujangga

(Setiap malam ayah mendendangkan lagu melayu ini untukku. Entah apa yang dipikirkannya, sehingga kini pun yang terpikirkan olehku hanyalah semua lantaran dan perihal pujangga)

Kan kusimpan suratmu nan itu
Bak pusaka yang amat bermutu
Walau kita tak lagi bersua, sayang
Cukup sudah cintamu setia

(Lembaran-lembaran kertas bertulisan tangan telah banyak terkirim. Dengan syair-syair yang melukakan dirinya sendiri untuk menyebut-nyebutmu dengan kata pusaka)

Tapi sayang sayang sayang
Seribu kali sayang
Ke manakah risalahku
Nak kualamatkan

(Berulang kali engkau mempertanyakannya. Seperti matahari yang tak pernah bosan hinggap di jendela pagi. Cantumkan saja kode pos yang pernah kutitipkan pada tukang pos yang lewat depan rumahmu itu. Engkau ingat: rumah yang menghadap ke laut dengan satu meja dan dua kursi di terasnya dan banyak nyiur di tepian pantai)

Terimalah jawabanku ini
Hanyalah doa restu Ilahi
Mogalah Bang kau tak putus asa, sayang
Pasti kelak kita ‘kan bersua

(Risalah itu selalu kuterima. Kelak akan kubalas segera. Tunggu, tunggulah sahaja. Bukan lagi syair penuh madah. Biarkan saja yang itu rebah. Ini hanyalah cerita. Cerita tentang segala. Segalanya kita)

Penaku satu mendadak patah.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Cikaret, 6 Januari 2018
Kalimat tanpa tutup buka kurung adalah lirik lagu Fatwa Pujangga yang dipopulerkan Aishah.

Radio


 

Benarlah sudah kalaulah malam menjadi sekutu setia kita. Aku sering memboncengmu hampir di tengahnya. Jalanan waktu itu sepi. Tetapi tidaklah sesepi kuburan yang barusan kita lewati.

“Halo pendengar setia radio, selamat malam. Aku akan mendampingimu dengan lagu-lagu masa lalu sejam ke depan. Silakan kalau ada yang mengirim pesan dan salam buat sahabat atau kekasih.”

Saat kita berhenti di lampu merah, nyaringnya melesak dari radio di warung mi dan bubur kacang ijo itu. Aku tak perlu memesan lagu dan mengirim salam. Karena kekasihku ada di belakangku. “Bukan begitu?” Sebuah tanya yang tak perlu jawaban, karena engkau pandai menyelam di lubuk pikiranku.

Tak jarang aku tertawa, tapi engkau tak pernah tertawa. Aku menangis, tapi engkau tak pernah menangis. Lampu hijau telah menyala. Di atas motor, tanganmu yang melingkar di pinggangku semakin dingin. Dingin, lalu menjelma kabut.

“Pendengar setia radio, banyak sudah pesan yang masuk. Salah satunya dari perempuan kabut untuk lelaki gila. Tak perlu menunggu lama, aku putarkan dulu satu lagu yang sudah aku siapkan. What a wonderful world.”

Aku tertawa sekaligus menangis. Tukang becak di pinggir jalan terbangun dan memakiku, “Sedeng!

Malam dan bulan jatuh di sebuah ranjang.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Citayam, 06 Januari 2018

Laut yang Bisa


Laut bisa menyembunyikan kebesarannya
pada sebuah batu yang ditenggelamkan saat pasang tiba.
Dan aku tak mampu untuk menenggelamkan segala kenang
tentangmu waktu surut datang.
Angin mampu mendengkur, itu kauingin lihat sepanjang
dini hari yang malas beranjak.
Ketika tiba saatnya engkau akan tertidur,
angin terbangun,
dan menyentuh seluruh wajahmu yang purnama.
Di situlah aku tak mampu lagi membedakan
mana kata kerja dan sifat.
Sebentar lagi tahun akan berganti.
Engkau janganlah pergi.

***


Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Stasiun Cawang, 6 Januari 2018

Ketika Tidur Pun


Bahkan ketika tidur pun, aku selalu memikirkanmu.
Bahkan ketika memikirkanmu pun, aku selalu tertidur.

Tidur adalah cara melarikan diri dari memikirkanmu.
Memikirkanmu adalah cara terbaik agar aku bisa tidur.

Bahkan ketika tidur pun, aku selalu memikirkanmu.
Bahkan ketika memikirkanmu pun, aku selalu tertidur.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Belitong, 2 Januari 2017
Photograph by @cristinamittermeier
from @natgeo.

Kera Alengka


Maka senja yang separuh baya sungguh tak sabar menjadi malam yang renta. Benar-benar, ia tak kuasa membunuh maut yang lebih suka memburu herring-herring di fjord utara. Dan aku malah telah menghabiskan likat kulitmu, menggelombangkan getar sekujurmu, menidaksempurnakan aku, dan memikrajkan waktu menjadi pagi yang buta. Dan ketika ditanya kaummu, kauhanya mampu menjawab, “Aku menjadi perempuan swahili yang mengantuk.” Di situlah kita sadar, kita menjadi mahir untuk menjadi pemuncak di Aconcagua kerinduan. Untuk malam yang kemarin, malam ini, dan malam-malam selanjutnya yang kaunamai: malam-malam Sinta sebelum disentuh Rahwana. Dan aku cuma kera Alengka yang bisa melolong di sela-sela hela nafasmu. Usai sudah. 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
30 Desember 2017
Photograph by @paulnicklen
from @natgeo.

 

Setabah-tabahnya Mataku


Banyak cerita di balik pembuatan puisi yang dibacakan pagi ini di hadapannya. Tapi cukuplah di suatu waktu kuceritakan kelak kepadamu.

Setabah-tabahnya Mataku
~~~Kepada Ani Natalia (@aniwinner)

Setabah-tabahnya mataku
berkarib dengan malam
ternyata sekali tak pernah tabah
mataku untuk berlelah
membuatkan puisi
untukmu

Sejinak-jinaknya kata-kataku
bersahabat dengan sajak
ternyata sekali tak pernah jinak
kataku untuk beternak
puisi yang ingin kugembalakan
untukmu

Sesayang-sayangnya
penghujan pada dedaunan
ternyata sekali
ia tak pernah sayang,
semalam ia lupa cara
menjatuhkan dirinya
karena melihatku
tak mampu menuliskan puisi
untukmu

perihalmu: segala kerap
yang tak bisa kuperangkap
dengan kata-kata
dan kupenjara
dalam puisi
sebab
engkau puisi itu sendiri
yang penyayang
dan rendah hati.

Sentosalah.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Commuter Line, 27 Desember 2017
Foto: Rora