Sekuntum Senar Biola


Jari jemarimu sungguh tangguh memetik sekuntum senar biola yang kaupegang di tangan, setangguh buku-buku jarimu yang pernah kaualukan ke tembok tinggi penuh onak, tajamnya seperti mahkota duri yang pernah disematkan di kepala bahaduri yang seolah-olah.

Darimu lahir kelopak-kelopak bunyi yang sengaja kauperosokkan ke dalam got depan rumah sakit. Wanginya merah. Serupa puisi yang sengaja kaugodok di ceret yang pernah kaubeli di pinggir jalan, di suatu hari yang ganas.

Ceret itu berteriak-teriak kepanasan meminta untuk segera diangkat dari pembakaran tanur tinggi, meminta diselamatkan dari nyala api. Pelan-pelan kukucurkan puisi ke atas bubuk kopi. Lagi-lagi wanginya merah, semerah peribahasa yang kausembunyikan dalam hati.  Atau sudah kaulempar ke tebing tinggi?

Puisi hitam ini tak sesederhana pikiranku, tetapi tak serumit ihwalmu. Pejam-pejamlah. Biarkan kuhirup putih wangimu yang malam ini tiba-tiba lewat dan melesak ke dalam hidungku. Masih sama rupanya. Biarkan kudengar debar jantungmu dengan sekuntum senar biola yang kusematkan di dadamu. Masih lama kiranya.

***
Lagi, fotonya Mastah Fotografi #DoF Pak @Harris_motret
Danke, danke, danke schon, Mastah. ​

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
04 November 2017.

Advertisements

Pernah Percaya


Aku pernah percaya pada putih geligimu yang legam, seperti yang pernah kautancapkan di leherku di suatu malam. Bekasnya merah.

Kau pernah percaya pada air mataku yang jatuh di pipi, seperti yang pernah kuceritakan padamu di suatu hari. Beningnya tabah.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
29 Oktober 2017

Photograph by @paulnicklen from @natgeo

Ada Sepotong Pagi


Ketika pagi sudah menjulurkan lidah terangnya, yang saya bisa lakukan di waktu itu adalah bersiap menerima takdirnya, tentu setelah memerintahkan sel-sel di sekujur tubuh untuk tidak bergeming. Sabtu, 28 Oktober 2017, di kompleks Kementerian Keuangan, Jakarta ribuan orang berkelimun. Ada family gathering dan lomba lari di sana. Dan saya memilih yang terakhir untuk bergabung bersama mereka di sepotong pagi itu.

 

Ada sepotong pagi membentang di langit, kutaruh sepotong lainnya di bentangan sepatumu, di sana, aku harap kautemukan setiap keindahan pagi yang ditulis penyair: matahari yang tak bersedih, kabut yang tak melangut, embun yang tak melamun, dan doa dengan tak sedikit asa. Doa baik-baik, sungguh-sungguh, sepenuh seluruh, agar langit gaduh dan riuh.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
28 Oktober 2017

Aku Menaruh Matamu di Mataku


Aku mengira wajahmu telanjur berdebar saat melihatku memanen bulir-bulir terang di matamu yang asri seperti bungalo di tepian telaga. Saat menyingkap gelap yang menyelinap di halaman-halamanku yang kaubaca. Saat dinding jantungmu belumlah cukup tebal untuk melindungi dari cemburu buta. Saat gemetarmu, tertawamu, kedikmu menyusut menjadi kelopak-kelopak mekar padma. Dan aku mendengarmu. Dan aku terjun menjadi abu setelah kaubakar aku dengan perasaan-perasaan paling dalam perigimu. Dan aku mendengarmu. Dan aku hanyalah sehelai benang yang jatuh dari jalinan zirahmu. Dan aku mendengarmu. Dan kau yang meraba hurufku dengan bening jari di pejam netramu yang bercahaya. Dan aku mendengarmu. Dan kau yang menghujani jantungku dengan rinai rindu di putih gaunmu yang merajalela. Sekarang, aku menaruh matamu di mataku.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Oktober 2017

Lagi, lagi, dan lagi. Fotonya Mastah Fotografi #DoF Pak @Harris_motret yang sungguh-sungguh berbunyi ini diinfakkan kepada saya, untuk dikata-katai. 😀 Danke, danke, danke schon, Mastah.

Gletser Dusta di Kulitmu


Nada harus berganti nada agar biola yang kaugesek menjadi perihal rindu yang memukul gendang-gendang telingaku, agar tidak menjadi tawa yang kautabur kepada lantai hitam semenjana, atau agar sekadar helai sayap menutup bahumu muasal pelukku. Cobalah di lidah apiku, agar sekujur gletser dusta di kulitmu, merayap ke jendela dan pergi bersama pagi yang merintih-rintih. Aku adalah hitam di balik punggungmu, atau sekadar bayang di setiap pikirmu. Percayalah…

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Oktober 2017

 

Foto ini sejatinya milik Mastah DOF Pak @harris_motret. Suatu ketika, sambil guyon ia bertanya kepada saya, “Sudah ada belum puisi untuk foto ini?” Ya sudah, dan begitulah adanya captioning dari fotonya yang ciamik tenan itu.

 

Di Tepian Furka Pass


Ketika pagi menyusut menjadi peputih di puncak-puncak ketinggian, di lobi hotel aku sedang menunggu bus warna kuning yang akan membawaku kembali kepada keramaian. Di sinilah aku lalu percaya kepada hidungku yang tak pernah mengelabui tentang aroma kopi yang menguar dari dapur, kepada mataku yang tak pernah mengaburi tentang kaki-kaki kabut dan gunung yang mulai mendekat, tentang pikirku yang tak pernah mengakali tentang kesementaraan dan kekekalan. Di pucuk-pucuk pinus aku taruh bulir-bulir embun untuk dimangsa cahaya. Di deru-deru bus aku taruh mata-mata rabun untuk digilas roda. Besok, aku kembali ke sini, tak membawa sendok dan garpu yang tak perlu. Karena jantungku saja sudah cukup. Dengan detaknya, dengan degup Berlinnya, yang pertama atau pun kedua.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
21 Oktober 2017

Lembayung yang Terlambat Tidur


Tumpukan batu bata roboh masih tak bosan merajam matanya dengan lembayung di suatu senja serupa boneka kuning di pinggiran bantalmu yang sering kauajak bincang-bincang di setiap malam ketika kauhendak mendaki puncak mimpi dan nyeri. Kantuk membuat sujudmu lama.

Malam usai dan dini hari bangkit menuju pintu membuka daunnya yang hijau, menyilakan kucingmu, lagi-lagi kuning, masuk ke haribaan matamu untuk tidur dan menghitung mawar yang tumbuh di sana, aku lupa jantungku pun merekah di tempat yang sama.

Subuh terbangun dengan susah payah memicingkan mata, betapa ia buta dengan pagi yang hendak lewat, menanggalkan rindu putih yang roboh satu per satu dari kepalanya tempat ia menyimpan belati. Aku masih ingat, langit adalah asalmu, tak sulit untuk membiru sebentar lagi.

Adalah benar, kenapa siang selalu menyimpan ribuan umpama? kenapa sore selalu terkecoh untuk cepat tiada? kenapa sarimu yang lembayung dan pernah kaupakai di suatu hari terbakar kobaran senja?

Karena aku adalah bilah bahu pikir dan bingungmu. Barangkali.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
19 Oktober 2017