Menunggu Kartu Lebaran


Aku menunggu kartu lebaran
di penghujung bulan
untuk kau kirimkan
pada masa silam

Aku menunggu coretan
di kertas karangan
sambil membayangkan
bulan bertengger di kegelapan

Aku menunggu kartu lebaran
diantar pak pos
mengetuk-ngetuk pintu pagar
Ada suraaaaat!!!

Aku menunggu coretan
maaf lahir dan batin
dari jemarimu yang semesta
seharum tepian surgaloka

Aku menunggu kartu lebaran
untuk kusemat di dada
sepanjang rusuk waktu
dan helaian kenangan

Aku menunggu coretan
yang tak pernah ada lagi
diganti huruf-huruf tegak
itu juga asal kopas.

Aku menunggu kartu lebaran
musnah kaubakar sendirian
abunya sampai di pikiran:
engkau yang masih rebahan

:di gigir ramadan.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
18 Mei 2018
Photo by @fennelmk. Check out his feed for more. 

Advertisements

Bagaimana Rasanya Kopi Ini?


IMG-20180510-WA0020_1

Bagaimana rasanya kopi ini? tanyamu kepadaku di suatu pagi yang meringkuk. Aku memetik semua partikel di udara kemudian memasukkannya ke dalam lumbung hidungku. Seperti pertapa di Kathmandu yang merajang dingin, aku menjawabnya sederhana: rasanya kopi, tanpa warna.

Di sepanjang titik-titik, engkau berkehendak mengecat seluruh kain yang ada di kota ini serupa warna kerudungmu yang pernah kaupakai di sebuah malam. Tetapi warnanya tak cukup satu. Dan engkau hanya bisa berteriak, nyatanya yang kau dapatkan hanya hitam jelaga.

Esok pagi, kutemui kau sedang berdiri di gerbang kota. Mengetuk dada setiap orang yang lewat, mendengar degup mereka satu-satu. Untuk kaucari warna jembatan nirwana. Di jantung orang yang sedang jatuh cinta.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11 Mei 2018

Di Hadapanmu


Pastinya, lama-kelamaan samudra yang kautatap adalah tempat bersahaja untuk sudra sepertiku.
Ikarus yang kecipak kepak sayapnya dimamah lemah, meluruh jatuh, karam bersama sayu.
Dan engkau tetaplah maharani di puncak kertap matahari magrib.
***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
8 Mei 2018

Kalau Sudah Begini



Kalau sudah begini, aku ingat di suatu masa, di muara Kali Bluwak, jauh di batas Alas Kencono Wungu yang mulai gundul, di tepianku. Saat pacarmu menghilang di kejauhan lalu engkau diterkam kesenyapan sampai menggigit jantungmu sendiri. Aku datang membawa sedikit kabar. Kabar yang kuambil dari sobekan koran. Di sana, di halaman kedua, ada judul yang ditulis besar: Lepas dari Penjara, Bramacorah Sadis Berkeliaran. Engkau tak tahu, ialah yang menjadi pacarmu untuk kesekian kali. Dan untuk kesekian kali itulah aku hanya menjadi pelipurmu, melihatmu dari jauh, menjilati jari-jari kakimu yang sengaja kau masukkan ke dalamku. Seringkali kubisikkan kepadamu, jangan kau menunggunya, karena setiap hari ia menghilang membawa kenang, dan setelahnya kau berperang dengan kenelangsaan. Lagi-lagi aku datang kembali menghibur membawa mahkota putih buih di sekujur untukmu. Tetapi kautetap tak peduli. Engkau masih menunggunya, sedangkan aku yang selalu ada setiap saat, siang dan malam, kau abaikan. Kau hanya mendengar deruku saja. Selainnya tidak. Senja, bramacorah itu, memang tak tahu diuntung. Dan aku tetap yang tak beruntung.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
8 Mei 2018

Kepada Puisi yang Berulang Tahun Hari Ini


Mudah saja membiarkan gema jantungmu itu berkelana ke seantero bentala, angkasa, atau jiwa-jiwa dahaga. Tetapi buatku sulit sekali untuk melupakan satu jengkal hurufmu dalam kataku, satu milimeter persegi pada kulitmu, satu nirmala pada ayumu. Maka, berulangkali aku bilang kepadamu, datang, datang, datanglah padaku, mengkhianati waktu, untuk kupeluk dirimu, dan tak pernah lepas lagi. Atau kaudengungkan huruf-hurufmu, agar aku terbakar, jadi abu.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
28 April 2018

Photo by @_marcelsiebert check out his feed for more

Selamat hari puisi nasional. Puisi ini didedikasikan dalam rangka memperingati hari puisi nasional yang jatuh pada hari ini tanggal 28 April 2018.

Butir-butir Puisi di Kaca Jendela


Aku menitipkan pesan
dari hujan yang barusan
kepada serbuk-serbuk sari
untuk putik-putik yang terbaring
jikalau kau lupa
warna harumku
lihat saja buru-buru
butir-butir puisi yang terasing
merenung di kaca jendela
beberapa orang akan berkaca
beberapanya lagi mengabaikan
tak mengapa, nanti kaukejutkan
dengan mahligai bunga
di mulut-mulut mereka.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
26 April 2018
Photo by @robertlukeman check out his feed for more

Ketika Bayang-bayangmu


Ketika bayang-bayangmu memelukku
datanglah cepat-cepat,
Ketika malam-malamku merengkuhmu
pulanglah lambat-lambat,
tanganku rerantingmu
matamu jemariku
tertawalah di sabana sepi
tempat duka tak diraya lagi.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
07 April 2018
Seperti seabad aku tak menulis puisi
Photo by @a_guy_named_eric check his feed out for more.