Tidak Hanya Malam yang Dekat Dengan Kejujuran


 

Tidak Hanya Malam yang Dekat Dengan Kejujuran

Oleh: Riza Almanfaluthi

Advertisements

Menghilang Bersama Ribuan Kupu-kupu


Seringkali aku lumpuh dalam kedigdayaan malam. Ia menghanyutkan kesendirian dengan kaki-kaki bulan yang meraba pelupuk jendela kamarmu dan masuk diam-diam tanpa permisi. Datang dan perginya menjejakkan purwaragam warna. Padamu. Padaku. Pada langit. Pada tanah. Pada keharuman. Pada rambutmu. Pada tawamu.

Kenyataan yang kutelan pahitnya adalah di setiap kangkangan malam itu, engkau menghilang pelan-pelan, mulai dari jemarimu yang pernah kusentuh dengan pandangan, membayang ribuan kupu-kupu, menjelma ribuan kupu-kupu. Terbang ke langit. Satu yang terakhir dari kupu-kupu itu menyempatkan diri menengok hitam mataku tanpa dasar.

Yang kubenci dari semua itu, pertanyaan siapa lagi yang akan meneduhi waktu tak bertepi, yang merindangi hari tanpa pori, yang memayungi melata di kemarau hati. Siapa? Maka huruf-huruf yang ingin abadi itu hanya punya satu musuh: tombol Delete yang kausentuh. Huruf itu tak akan bisa menjadi puisi, menjadi tentangmu, karena kau menghilang bersama ribuan kupu-kupu.

Di atas kertas sobekan kecil, dengan pinsil berujung tajam, ada yang tega melukai putihnya untuk sekadar berucap: aku satu kupu-kupu ketinggalan untuk mati.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
25 Agustus 2017
Gambar dari Pinterest.

Matahari Alasan


Engkau, matahari alasan
agar jarak menjelma sehasta
agar demam tak menjadi nestapa
agar sajak tercipta untuk dibaca
agar dekap mewujud di kereta baja
agar peron kerap memiliki cerita

Engkau, selalu menjadi kausa
di koma, jeda, dan titik Yogyakarta.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
10 September 2017

Malam Ini Kanda Dinda


Malam ini Kanda Dinda, aku berdiri di hadapan kalian, membaca sajak-sajak. Ini bukan sembarang sajak. Aku menulisnya di suatu malam. Sehabis hujan yang kaget.  Aku ingin kita mendengarnya. Untuk diingat, untuk nanti, untuk sampai akhir masa.  Pada ingatan-ingatan panjang kita.

Malam ini Kanda Dinda, 20 tahun bukan waktu yang pendek buat para pemimpi. Tapi bukan waktu yang lama buat para pecinta. Kita pemimpi dan pecinta. Mimpi untuk malam-malam kita. Cinta untuk jiwa-jiwa kita.

Malam ini Kanda Dinda, ingatkah kalian pada tebing masa ketika kita pertama kali menaiki gerbang itu. Kita kumpulan pasukan tak bertenaga tapi punya otak dan jiwa. Kita punya sesuatu untuk diperjuangkan. Mati-matian. Asa yang menggema di setiap dada.

Malam ini Kanda Dinda, ingatan kita ditaruh pada keranjang waktu ketika kita ditebarkan bagai benih, ditabur dari angkasa. Dilesakkan angin. Dibenam pada tanah harapan. Kita mendekat. Kita menjauh. Lalu menjadi apa-apa yang kita inginkan.

Malam ini Kanda Dinda, sebentuk pertanyaan datang menyeduh kepala kita. Masih berkobarkah api cita-cita ideal yang menjulang-julang, atau sudah tersiram salju realita? Rupanya merapi tantangan menyongsong di muka.

Malam ini Kanda Dinda, kita menyerah? Tidak. Kita tak menyerah. Kita melulu berdamai dengan waktu yang kita usung. Kita bongkar satu per satu batu halangan sepadan kebolehan masing-masing, Kanda. Kita manusia biasa Dinda. Tapi kita yakin Dinda, selama di dada kita bersemayam puncak jaya keteguhan, matahari istikamah, ketawakalan para rasul, manusia biasa pandai menyusun mimpi-mimpi besar dengan izin-Nya.

Malam ini Kanda Dinda, kita tak sama lagi dengan saat pertama itu. Tapi kita punya satu yang tak musnah. Persahabatan. Malam ini kita berkumpul untuk mengejanya. Diam-diam. Mengimlanya. Pelan-pelan. Meneriakinya. Keras-keras.

Malam ini Kanda Dinda, barangkali sebagian kita menjadi apa-apa, sebagian kita lainnya tidak menjadi apa-apa. Tetapi jangan pernah lupakan bahwa kita adalah teman. Karena kita merasakan mengkudu yang sama. Madu yang tak beda.

Malam ini Kanda Dinda,   kita menjadi hujan yang tak pernah ingkar dengan September, Oktober, November, dan Desember.  Kita menjadi merpati yang tak pernah lupa kembali ke sarang. Kita menjadi malam yang selalu ingat akan pagi.

Malam ini Kanda Dinda, tak semudah membilang kun fayakun atas wujud lempung pertemanan kita yang samudra. Badai sering datang. Tetapi kita ingat, setelahnya, selalu ada cakrawala terang benderang dan ombak yang mengantuk.  Terkadang kita merenggang bagai karet. Terkadang kita menguat bagai besi.

Malam ini Kanda Dinda, kita dengarkan apa yang Ibnu Athoillah tulis berabad-abad yang lampau. Sahabat sejatimu adalah yang bersahabat denganmu dalam kondisi ia mengetahui aibmu. Tidak lain adalah Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Sebaik-baik sahabatmu adalah yang mengharapmu bukan karena keuntungan yang dia harap darimu.

Malam ini Kanda Dinda, ujung cahaya menebas halimun pikir kita untuk satu perihal: tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.

Untuk itu, Malam ini Kanda Dinda, di 20 tahun yang ditaburkan angin waktu, bolehlah hamba menjadi Harun-nya Musa, Abubakar-nya Muhammad, Plato-nya Socrates buatmu, buat kalian, sampai di suatu masa. Masa yang tak bisa kita miliki lagi.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Puisi ini ditulis pada 31 Agustus 2017
Puisi ini dibacakan pada 2 September 2017 dalam acara Reuni Alumni STAN Prodip Keuangan Spesialisasi Pajak Angkatan 94-97 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta.
#breakingthedistance
#reunipajak2dekade
#pajak97