Jangan Baper: Sekarang Siapa yang Gila Hormat?



Gila hormat itu tidak boleh, tetapi menjadi orang yang terhormat haruslah jadi tujuan hidup.

(Buya Hamka dalam buku Tasawuf Modern)

Ingat cerita tentang Nabi Khidir yang melubangi perahu nelayan miskin lalu membunuh seorang anak muda. Jelas secara akal sehat ini adalah sebuah kezaliman. Dan ini diprotes oleh Nabi Musa as yang baper.

Tapi dalam rangkaian QS Alkahfi diterangkan akhir cerita di atas bahwa ada hikmah atas semua kejadian itu. Hikmahnya seringkali kita harus berkhusnudzan dan jangan mengambil kesimpulan buruk terhadap seseorang karena yang nampak secara lahir belum tentu sama secara batin.

Maka dalam peristiwa kali ini kita pun perlu menggunakan perspektif Nabi Khidir agar tidak baper dan tidak berburuk sangka. Tentu bukan pada pembunuhan dan pelubangan itu, karena untuk realitas zaman sekarang—seperti yang dikatakan teman saya—rasanya sulit untuk berkhusnudzan terhadap orang yang melubangi perahu dan membunuh anak muda. Polisi akan turun tangan untuk menangkap pembunuh.

Baca Lebih Lanjut.

MILITANSI SEBATAS SOMAY DAN CENDOL


MILITANSI SEBATAS SOMAY DAN ES CENDOL

Yang sering twitteran dan mampir ke hashtag #IndonesiaTanpa JIL insya Allah tahu kalau Senin malam (15/5) Hard Rock FM mengundang Akmal Sjafril (anti JIL) untuk dialog dengan Abdul Moqsith Ghazali, tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL).

Moqsith tidak bisa hadir karena istrinya sakit dan pihak Hard Rock FM telah mengundang berbagai tokohnya untuk menggantikan Moqsith. Seperti Ulil Abshar Abdilla, Lutfie Assyaukanie, dan kawan-kawan. Tetapi semuanya saling lempar sampai-sampai acara itu hanya diisi oleh Akmal Sjafril.

Pembatalan diskusi itu sebenarnya memunculkan sebuah pandangan kalau JIL yang digadang-gadang oleh banyak tokoh “cendekiawan” hanya nama kosong belaka. Mengapa? Karena untuk menghadirkan satu tokoh dan demi mempertahankan gagasan mereka saja tidak bisa. Padahal diskusi ini adalah cara elegan daripada tweetwar di Twitter.

Seringkali mereka menganggap diri mereka sebagai orang yang anti kekerasan dan selalu mengedepankan dialog. Tetapi malam tadi fakta meruntuhkannya. Mereka sejatinya adalah pendukung kekerasan ala tweetwar. Mereka lebih suka ngebuli dan berucap kata kotor di Twitter daripada diskusi dan dialog. Kata bangsat (yang diucapkan Saidiman) dan anjing (yang diteriakkan RoriUddarojat) sudah jadi makian biasa. Tak mungkin keluar dari hati yg bersih. Tetapi itulah liberal. Anti aturan.

Harusnya mereka berani datang untuk diskusi. Pun karena tempatnya adalah tempat netral, tempat sebagian besar komunitas mereka sering kongkow-kongkow dan bukan di masjid. Tak perlu khawatir kalau Front Pembela Islam (FPI) datang atau diskusi itu akan dihadiri oleh banyak massa seperti yg terjadi di Universitas Islam Jakarta (UIN) beberapa tahun silam.

Tak perlu khawatir dihujat oleh peserta diskusi. Wong yang ada cuma host, Akmal Sjafril , dan penelepon. Kalau karena takut biasanya yang takut itu karena punya salah. Atau karena diskusinya cuma di radio yang pendengar terbatas. Tidak seperti di televisi yang bisa juga nampang jual muka?

Atau karena cuma Akmal Sjafril yang datang dan dia tidak selevel dengan mereka. Akmal Sjafril baru menulis dua buku. Dia pun cuma lulusan strata dua. Dia juga bukan santri. Akmal sekelas santri pesantren kilat ramadhan. Kalau demikian adanya, sejarah kembali memutar ulang jarumnya. Dulu Nurcholis Madjid pernah meremehkan ustadz Daud Rasyid karena belum bergelar Doktor dan cuma MA.

Tapi memang kecendekiawanan seseorang bukan dinilai dari gelar yang diraih dan statusnya melainkan dari kekuatan narasinya. Akmal Sjafril telah membuat mereka takut karena kekuatan narasi itu. Akmal cuma jebolan INSISTS sebuah grup diskusi yang belum lama eksis daripada Komunitas Utan Kayu atau Freedom Institute atau bahkan dari JIL itu sendiri.

Dengan ketidakhadiran mereka dalam diskusi tadi malam semakin meyakinkan saya kalau JIL itu cuma nama doang yang dikarbit media tapi minim militansi. Contohnya Guntur Romli yang enggak datang ke Hard Rock FM karena honornya yang hanya pantas untuk beli somay dan es cendol. Mana buktinya?

(Sumber gambar dari sini)

Ketidakhadiran mereka pun meyakinkan saya kalau hukum menghadapi mereka itu fardu kifayah sama seperti hukum memandikan jenazah. Tidak perlu banyak-banyak orang untuk mengurusi itu. Tak harus semua potensi umat dikerahkan melawan mereka. Cukup orang-orang yang konsisten dan fokus untuk itu. Orang-orang itu layak dijadikan jenderal besar melawan mereka. Jenderal besar perang pemikiran. Dan upaya memperluas dukungan dengan mencari dan menjadikan pendukung-pendukung Indonesia tanpa JIL sebagai prajurit-prajurit perang pemikiran itu tetap perlu sekali.

Terpenting pula kita meyakinkan diri bahwa kebatilan mereka akan selalu kalah. Karena mereka sejatinya rapuh seperti rumah laba-laba. Semoga kita dilindungi Allah dari setiap kesesatan. Tetap berjuang.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ngetwit 16 Mei 2012 yang ditulis ulang pada:

16:12 18 Mei 2012

 

Tags: Abdul Moqsith Ghazali, moqsith, ulil, Ulil Abshar Abdilla, Lutfie Assyaukanie, Twitter,Tweetwar, Saidiman, Front Pembela Islam, FPI, Universitas Islam Jakarta, UIN, Akmal Sjafril, Nurcholis Madjid, Daud Rasyid,INSISTS,Komunitas Utan Kayu, KUK, Freedom Institute, Guntur Romli,Hard Rock FM, Indonesia tanpa JIL, perang pemikiran, #indonesiatanpajil, #itj

FPI, ULIL, DAN MEREKA


FPI, ULIL, DAN MEREKA

Front Pembela Islam (FPI) teriak-teriak demo menuntut penutupan tempat maksiat tetapi belum tentu tempat maksiat itu segera ditutup. Tapi orang sekelas gubernur DKI Jakarta seperti Sutiyoso dengan hanya bermodal torehan tinta hitam di atas surat keputusannya, tempat maksiat sebesar apapun, sementereng apapun, dengan bekingan siapapun bisa ditutup dalam waktu semalam.

    Tanpa meremehkan apa yang telah dilakukan FPI dalam pemberantasan kemaksiatan di tanah air, fakta bahwa kekuasaan merupakan sarana paling efektif untuk merubah sesuatu adalah hal yang sulit terbantahkan. Maka banyak orang sangat ingin berkuasa, entah untuk merubah sesuatu ke arah yang lebih baik atau sebaliknya.

    Ini yang dilakukan oleh salah satu pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Absar Abdilla, setelah kalah dalam ajang perebutan kepemimpinan di Nahdhatul Ulama (NU) beberapa waktu yang lalu. Ulil sepertinya nyaman diajak bergabung ke partai penguasa, Partai Demokrat pimpinan Anas Urbaningrum. Dan yang pasti Ulil tahu betul kalau dekat-dekat dengan partai penguasa ia akan memperoleh keuntungan. Minimal untuk menyebarkan ide-ide pluralismenya secara lebih luas.

     Terbukti, pada saat ada momen pengusiran anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Ribka dan Rieke, dalam sebuah pertemuan di Banyuwangi yang dilakukan oleh ormas Islam salah satunya FPI, maka Ulil langsung berteriak kencang dan melakukan penggalangan opini untuk membubarkan musuh ideologi lamanya itu. Menurut dia, FPI adalah ormas yang sering melakukan kekerasan secara sistematis dalam setiap kegiatannya. Sehingga pewacanaan pembubaran FPI harus terus menerus digaungkan.

    Kini Ulil sudah punya tempat strategis agar suaranya bisa didengar lebih kencang lagi. Dulu mungkin hanya kalangan tertentu saja—baik kawan atau lawan—yang tahu begitu rupa tentang Ulil dan pemikirannya. Dengan bergabungnya dia dengan lingkaran kekuasaan dia dapat bebas dan mudah untuk semakin menggalang kekuatan melalui jaringan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) kiri dan liberalnya. Yang berarti pula Ulil semakin dekat dengan media yang akan sering menjadikannya narasumber. Ini semakin tidak mudah buat para pegiat Islam yang sering bertarung pemikiran dengannya.

    Maka bagi para muslim yang biasa bergerak dalam dunia pergerakan Islam, selayaknya untuk merapatkan barisan, konsisten dalam mewujudkan visi dan misinya, tak perlu berselisih dan saling melontarkan kecaman serta menuduh pergerakan Islam lainnya telah keluar dari garis perjuangan.

Tak perlu alergi dengan kekuasaan. Karena bila kekuasaan berada di tangan orang-orang yang sholeh tentunya kekuasaan itu diarahkan kepada perbaikan. Maka memperbanyak orang-orang sholeh dalam dan dekat dengan pusat kekuasaan menjadi sebuah kemestian.

Mereka yang telah berada dalam sistem kekuasaan itu diharapkan semakin bekerja lebih keras lagi dalam membumikan nilai-nilai Islam pada setiap kebijakan yang akan diambil, menunjukkan kebersihan dan kepeduliannya pada mustad’afin (orang-orang lemah). Mereka yang berada di luar sistem tentunya harus lebih dapat memberikan pencerahan kepada umat, membangun jaringan, mengalirkan semangat persatuan para qiyadah (pemimpin) setiap pergerakan kepada akar rumput dan tentunya masih banyak lagi yang lainnya.

Maka jika itu benar terwujud, tak perlu khawatir FPI akan dibubarkan dan terserah Ulil mau ngomong apa.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di tengah Paraguay kesulitan menjebol gawang Jepang

11.07 29 Juni 2010