Jangan Baper: Sekarang Siapa yang Gila Hormat?



Gila hormat itu tidak boleh, tetapi menjadi orang yang terhormat haruslah jadi tujuan hidup.

(Buya Hamka dalam buku Tasawuf Modern)

Ingat cerita tentang Nabi Khidir yang melubangi perahu nelayan miskin lalu membunuh seorang anak muda. Jelas secara akal sehat ini adalah sebuah kezaliman. Dan ini diprotes oleh Nabi Musa as yang baper.

Tapi dalam rangkaian QS Alkahfi diterangkan akhir cerita di atas bahwa ada hikmah atas semua kejadian itu. Hikmahnya seringkali kita harus berkhusnudzan dan jangan mengambil kesimpulan buruk terhadap seseorang karena yang nampak secara lahir belum tentu sama secara batin.

Maka dalam peristiwa kali ini kita pun perlu menggunakan perspektif Nabi Khidir agar tidak baper dan tidak berburuk sangka. Tentu bukan pada pembunuhan dan pelubangan itu, karena untuk realitas zaman sekarang—seperti yang dikatakan teman saya—rasanya sulit untuk berkhusnudzan terhadap orang yang melubangi perahu dan membunuh anak muda. Polisi akan turun tangan untuk menangkap pembunuh.

Tetapi dalam peristiwa ini adalah pada pentingnya memahami apa makna di balik dari peristiwa yang sebenarnya terjadi yang tak bisa tampak dilihat oleh mata orang kebanyakan. Bahkan oleh orang yang merasa paling jago menulis, merasa sebagai ahli kebijakan, sekolah di luar negeri, dengan gelar berjubel, keturunan Arab padang pasir. Tak bisa menjamin.

Mencermati tayangan Kompas TV tentang razia Satpol PP Kota Serang terhadap mustadh’afin nenek-nenek pedagang warteg yang dirampas dagangannya karena jualan di siang hari, maka muslim di Facebook banyak juga yang belum bisa mencermati lebih dalam dengan mata batin atas sesuatu peristiwa.

Selain di Kota Serang ada juga razia yang dilakukan oleh Satpol PP Kabupaten Lebak. Dan ingat Walikota Serang (H Tubagus Haerul Jaman) dan Bupati Lebak (Hj Iti Oktavia Jayabaya) bukan dari partai Islam. Masing-masing adalah kader atau pernah menjadi kader Partai Golkar dan Partai Demokrat.

Bukan karena saya memiliki mata batin yang hebat sehingga saya mau menulis ini dan seolah-olah saya mumpuni untuk melihat ke kedalaman apa yang ada di balik sesuatu. Apalah awak ini? Cuma sering kita berdoa kepada Allah dengan doa, Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tiba’ah, wa arinal-batila batilan warzuqnaj-tinabah.Ya Allah Tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya.

Kalau Kompas dan grupnya yang menayangkan itu mah menurut saya ideologis banget. Ingin menyampaikan pesan kalau kita yang berpuasa harus hormati orang yang tidak berpuasa. Kemudian benar, jargon ini yang muncul kemudian.

Kalau saya melihat bahwa tayangan itu membawa pesan seperti ini juga bahwa orang yang berpuasa itu zalim dan raja tega. Keimanan yang angkuh. Iman yang hanya tahu sebatas kulit saja.

Dan betul komentar-komentar yang ada sebatas itu. Ujung-ujungnya agama jadi olok-olok. Nama Islam hanya mencerminkan mayoritas yang bodoh dan tak berperikemanusiaan kepada minoritas.

Ada yang membisikkan, “Percuma ente puasa kalau punya kelakuan bejat kayak gitu.” Puasa akhirnya tidak transendetal lagi. Ya sudah iblis tepuk tangan. (Salah ding, iblis kan lagi di neraka. Lagi dibelenggu).

Kompas tak mungkin tak tahu dan tak sadar. Zaman kebolak-balik. Zaman edan. Ini pesan-pesan yang dibawa oleh para sekuler negeri ini. Ini perang ideologi.

Kompas tahu framing-nya. Seperti nge-frame saat FPI ngebongkar tempat maksiat. Yang ketangkep malah pesan bahwa mereka adalah preman berjubah. Substansi bahwa kemaksiatan harus diberantas menguap. Dan masyarakat tak tahu betapa FPI juga punya prosedur buat ngeberantas tempat maksiat, tidak langsung sikat aja bleh.

Saya jadi membayangkan, ada petugas pajak datang ke salah satu rumah Wajib Pajak membawa-bawa polisi lalu menyita mobil Wajib Pajak. Kebetulan ada wartawan TV ikut juga dalam penyitaan itu. Dengan adanya penyitaan itu, istri Wajib Pajaknya menangis meraung-raung dan disorot TV. Sebuah tayangan yang sangat humanis dan bisa dijual.

Padahal petugas pajak sudah memanggil berkali-kali dan menyurati Wajib Pajak untuk membayar utang pajak. Prosedur sebelum penyitaan “yang kejam” itu sudah dilalui oleh petugas pajak tapi tidak di-framing oleh TV. Maka yang tampak adalah kekejaman petugas pajak dan aparat. Substansi ada pajak yang ditilep oleh Wajib Pajak tereduksi.

Kembali ke tayangan tadi, sayangnya teman-teman saya ngeshare karena melihat sisi humanis yang tercederai oleh kekuatan aparat yang dianggap zalim. Jadi baper. Dan banyak kawan-kawan saya yang militan di Facebook ternyata ikutan terjebak nge-share. Alhamdulillah ketika saya ajak dialog via Messenger, dia jadi paham.

Nyata benar di zaman sekarang, di zaman penuh fitnah ini, ulama tidak dihormati sama sekali. Alquran dan Assunah itu adalah pegangan dalam kehidupan sehari-hari buat seorang muslim. Ketika detil teknis tidak ada di keduanya maka ijtihad ulamalah yang menjadi pegangan. Bertanyalah kepada ulama.

Dan banyak ulama telah berijtihad bahwa berjualan di siang hari adalah sebuah keharaman. Ini tanpa mengurangi empati saya terhadap nenek-nenek tadi karena pembelaan terhadap mustadh’afin adalah sebuah pakem mutlak dalam Islam. Bukan umat Rasulullah saw jika kita tidak memedulikan mereka. Tapi cerita tentang pembelaan kepada mereka ini lain soal. Kita harus mengerti terlebih dahulu terhadap substansi menjual makanan di siang hari bulan Ramadhan.

Ingat juga, sebagaimana instruksi menghormati nuansa kesucian Ramadhan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan tempat saya menulis ini, pelarangan di Kota Serang dan Kabupaten Lebak itu tidak dilakukan secara total melainkan hanya di siang hari dan silakan buka di sore hari menjelang waktu berbuka puasa. Bukankah ini sudah memberikan kesempatan yang cukup kepada para penjual makanan itu?

Kenapa tidak memberantas tempat maksiat saja dan kenapa tidak menangkap orang-orang yang makan dan minum di siang hari Ramadhan? Itu sering juga dijadikan alasan penolakan razia Satpol PP terhadap warung-warung yang buka di siang hari. Yakinkah mau mendukung? Kalau dilaksanakan juga sama bae. Diprotes-protes juga dengan dalih menghormati kebebasan.

Ingat berpuasa itu adalah sebuah kewajiban buat muslim. Haram tidak berpuasa kalau tanpa uzur. Kalau ada uzur boleh tidak berpuasa. Tapi jangan manja—merajuk dan protes warung-warung kenapa pada tutup—dan jadi pamer-pamer tidak puasanya seakan-akan hal yang biasa. Anda ini dalam sebuah masa yang diberikan fasilitas oleh Allah. Jadi jangan sombong. Jangan belagu. Dikasih rukhsah (keringanan) tapi belagu. Apalagi yang sengaja tidak berpuasa tanpa uzur, makan minum pamer. Ini sengaja menentang syariat Allah. Kalau sudah demikian tunggu saja azab Allah datang.

Untuk kali ini saya tidak akan berpanjang lebar membahas argumentasi dari para sekuler dan pembenci agama ini tentang jargon sesat mereka yang sekarang lagi ngetren-ngetrennya tentang menghormati orang yang tidak berpuasa, tentang betapa lemah imannya orang yang berpuasa sehingga minta dihormati. Karena
pada saat ini agama hanya sekadar jadi olok-olok. Sekarang yang gila hormat itu siapa?

Semoga kita tetap waspada dalam perang pemikiran ini. Umat islam jumlahnya banyak tapi bagaikan buih. Ayo bangkit, jangan baper. Wallaahua’lam bishshowab.

**

Sebagai informasi tambahan berikut ini:

13423705_10209843691589141_4839408318925057580_n

Alfaqiir dhaif ilallaah: Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

11 Juni 2016

Foto ilustrasi diambil dari jalansurga.com

Advertisements

17 thoughts on “Jangan Baper: Sekarang Siapa yang Gila Hormat?

  1. Iya mas,. alhamdulillah sudah banyak tulisan yang membahas dengan lebih berimbang. Bahkan tadi pagi saya lihat, Dokter Mytha (cukup populer di kalangan anak muda pengguna facebook) juga memposting hal ini dengan analisa yang lebih kepada mengungkap fakta di lapangan. terimakasih juga sudah mengingatkan saya yang awalnya ikut baper.. hehe 🙂

    Like

  2. Saya gak ngerti apa inti tulisan ini.. Seperti mau menolak sesuatu tapi malu2 menyampaikan argumennya. Jdnya gak jelas dan muter2 tanpa arah.

    Like

  3. Betul bang…zaman skrg udh banyak terjebak ideologi PKI .yg benar disalahkan yg salah dibelain …inilah awal kehancuran agama islam yg dirusak oleh pemeluknya sendiri…hrsnya kita sbg umat islam hrs waspada trhdp strategi yg akan menghancurkan agama ,hal ini bs melalui HAM atau cara lainnya….waspadalah

    Like

    1. Islam yu’la wala yu’la ‘alaih. Islam itu tinggi dan tidak ada yang melebihi tingginya. Islam tidak akan hancur sampai kiamat tiba. Cuma umatnya yang harus siap-siap dengan cobaan fitnah, dan bala bencana kalau meninggalkan alquran dan assunnah.

      http://rizaalmanfaluthi.com ~~~sharing is caring. On Jun 13, 2016 11:22 AM, “Blog Riza Almanfaluthi” wrote:

      >

      Like

  4. Kadang-kadang orang memaksakan pemikirannya seolah-olah pemikirannya paling benar. Saya tdk akan menyampaikan pendapat, hanya pertanyaan saja.
    Apakah karena seseorang berpuasa yg tidak wajib puasa harus berpuasa juga?
    Apakah perjual makanan itu mengganggu orang yg sedang berpuasa?
    Apakah satpol PP berwenang menyita barang yg bukan barang terlarang, hanya untuk menegakan aturan diskriminatif yg bertentangan dg ketentuan yg lebih tinggi?

    Like

    1. Silakan buat tulisan sendiri sesuai dengan kebenaran yang Anda miliki dan bolehlah Anda klaim sebagai kebenaran yang paling benar. Itu hak Anda. Dan inilah hak saya menulis atas fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. 1. Tidak wajib berpuasa buat orang yang berpuasa. 2. Memfasilitasi orang yang tidak berpuasa tanpa uzur sya’ri adalah sesuatu yang salah. Bisakah penjual menjamin bahwa yang tidak berpuasa adalah orang yang punya udzur syar’i 3. Ada aturan yang berlaku dan prosedur yang dijalani. Sebagai warga negara seharusnya tahu dan taat terhadap hak dan kewajibannya. Entah penjual atau Satpol PP. Apalagi sebagai umat beragama. Kok bisa aturan itu dianggap sebagai aturan diskriminatif sedangkan itu adalah memberikan kenyamanan buat mayoritas. Jangan menjadi tirani minoritas. Demikian. No debat, next.

      Pada 14 Juni 2016 11.01, Blog Riza Almanfaluthi menulis:

      >

      Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s