Cerita Mudik 2017: Tak mau Mengulang Brexit


Musim mudik usai. Besok Senin semua pekerja akan menjalani rutinitasnya masing-masing. Saya termasuk di antaranya. Dengan menyisakan perjalanan mudik 2017 di kepala sebagai perjalanan yang tidak memberatkan. Mudik atau baliknya. Salah satunya adalah saya akan menepi kalau saya sudah mengantuk mengendarai mobil. Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lebih baik antisipasi.

Sebenarnya banyak hal dilakukan agar tidak mengantuk seperti menampar-nampar pipi, memukul-mukul paha, mengusap-usap wajah dan kepala berulang-kali, minum air putih banyak-banyak, cuci muka, dan minum kopi. Tapi kalau sudah mengantuk ya ternyata semua tidak mempan. Obatnya cuma satu: tidurlah yang nyenyak.

Continue reading Cerita Mudik 2017: Tak mau Mengulang Brexit

Advertisements

Perempuan itu dan Sebuah Dojo



Di pagi yang bising dan buru-buru. Di hari ketiga Ramadan. Di hari pertama berkantor buat para pekerja. Dalam commuter line yang menghimpit sesak. Suara dari pelantang yang berusaha memecahkan gendang telinga menyerantakan kepada penumpang yang akan turun di stasiun berikutnya bahwa perhentian di hadapan adalah Stasiun Cawang. Saat itu kereta listrik ini baru saja berangkat dari Stasiun Duren Kalibata.

Bergegas saya menggeser maju ke arah pintu. Beranjak dari lapis kelima untuk menuju lapis-lapis terdepan, bahkan kalau bisa lapis pertama. Tak mudah melalui lapis-lapis itu. Butuh upaya mengempiskan jasad dan tenaga lebih agar bisa menggeserkan tubuh dan melewati rintangan badan yang kebanyakan lelaki ini. Sambil tak henti-hentinya keluar kata maaf dan permisi dari mulut. Sembari berharap Ramadan sanggup melembutkan hati orang yang berpuasa agar tak keluar kesah atau cacian karena desakan tubuh saya yang barangkali menyakitkan dan mengganggu kenyamanan mereka.

Continue reading Perempuan itu dan Sebuah Dojo