Candra Membulat di atas Legian



Kehidupan malam yang gempita itu tak membuat saya beranjak dari lobi hotel. Benar-benar tidak mengusik kepenasaran saya tentang Legian. Hanya segelas kopi hitam panas yang saya sesap di atas meja sambil memandang candra yang membulat di hadapan dan di atas Legian.

Sampai pukul 01.15 dini hari sembari menunggu email yang masuk. Dari 100 orang itu berapa yang akan mengirim naskahnya. Masih belum sempat saya ketahui. Naskah yang lolos seleksi tahap pertama itulah yang akan diteruskan kepada saya.

Di tengah itu ada yang membincang Socrates lalu melaju kepada harapan dan pernyataan penutup seperti apa buat besok. Malam semakin menjadi-jadi. Candra semakin tumpah cahayanya.

Besoknya. Di siangnya, ada sebuah pertanyaan, “Akan kemana kita? Kuta, Seminyak, atau Jimbaran?”

“Terserah,” jawab saya sambil menutup mata untuk merehatkannya sejenak di mobil yang bergerak entah ke mana. Bagi saya, pantai adalah sebuah kemutlakan realitas yang dimamah memori selama tiga tahun tiga bulan. Tidak ada yang absurd.

Lalu ternyata saya salah. Masing-masing pantai punya caranya sendiri untuk menghipnotis para petandang. Dan pantai ini mampu membuat lubang di hati. Saya dan kami yang datang di Kedonganan, Jimbaran ini. Apatah lagi di senjanya. Sejak itu, sajak semalam tercetak di batu candi ingatan kembali.

Suatu malam, ada ikan deras.
Tetapi itu bukan ikan.
Yang deras adalah hujan.
Seperti dentuman detik waktu di hatimu.

Not-not jahanam yang merangkak di liang telinga
Lampu-lampu yang menghunjam nanar ke mata
Aspal-aspal yang menyerah untuk dilindas
Patung-patung hitam yang tak lelah berdiri
Seperti biru yang lengah kutulis pada April ini

Aku baru teringat, pada panas kopi yang kau sesap,

pada persinggahanmu di sebuah stasiun,
pada kapan yang tak tahu jawabannya,

jam berapa kau akan tiba di sana.

Sedang esok sudah harus menunggumu lagi.

Lelapmu kapan? Mari aku bantu.

Menuangkan gelisah pada cawan tabahmu.

Untuk kau tabur ke langit dengan sebentuk doa.

Doa yang lamat, lama, dan kuyup.

Setelah itu kata-kata yang kau berikan adalah

mending terperangkap tawa daripada terperangkap hujan.

Suatu malam, ada ikan deras.
Tetapi itu bukan ikan.
Yang deras adalah hujan.

**

Candra membulat di atas Legian, lalu surya yang lelah untuk rebah di pelukan samudera.



Mas Ari Maulana yang telah memfoto, terima kasih banyak. Di tengah adalah Mas Tedy Iswahyudi dan Mas Wiyoso Hadi.


Bersama Mas Wiyoso Hadi


***

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
I Gusti Ngurah Rai, 13 April 2017
Malam ini aku datang.


Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s