Karena Kami Pendosa



Suatu ketika, sehabis kegiatan Pajak Bertilawah yang dilakukan oleh 12.035 pegawai Direktorat Jenderal Pajak di 366 unit kerja, muncul cuitan dari Pak Zaim Saidi di akun Twitternya. Ia bilang begini,”Pajak haram. Dosanya gak akan hilang hanya dg tilawah Qur’an. Berhentilah memajaki. Hijrah kerja lain.”
Pertama, terima kasih Pak Zaim atas nasihatnya. Kami terima dengan baik walau kami meyakini bahwa pendapat keharaman itu masih bisa diperdebatkan. Kedua, semua manusia pada dasarnya tidaklah lepas dari dosa. Ketiga, kalaupun pegawai pajak ini adalah pendosa, sungguh tak elok dengan meremehkan kebaikan yang dilakukan mereka untuk bertilawah secara serentak pada hari itu.

Saya jadi teringat dengan sebuah kisah dalam kitab Alhikam dari Ibnu Atha’illah As-sakandari. Kisah seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil dan pelacur. Ahli ibadah ini punya keistimewaan: kalau ia berjalan selalu dinaungi awan.

Suatu ketika pelacur perempuan itu melihat ahli ibadah, lalu timbul keinginan dalam hatinya untuk bertaubat. Sang pelacur mendekati ahli ibadah untuk memintakan ampunan kepada Allah. Tetapi ahli ibadah itu merasa jijik didekati pelacur hingga mengusir sang pelacur dengan perkataan yang menyakitkan. Sang ahli ibadah merasa dirinya suci dan takut kalau kesuciannya ternoda.

Akhir cerita Allah menurunkan wahyu kepada Nabi kalau Allah mengampuni dosa pelacur itu dan Allah batalkan amal serta mencabut keistimewaan ahli ibadah. Maka berpindahlah awan dari atas kepala ahli ibadah ke atas kepala pelacur itu.

Ibnu Atha’illah berkomentar, “Sesungguhnya, kemaksiatan yang menimbulkan rasa rendah hati dan harapan (akan rahmat dan kasih sayang Allah) lebih baik daripada ketaatan yang membangkitkan rasa mulia diri dan keangkuhan.”

Karena kami, para pegawai pajak ini, bukanlah orang suci, banyak dosanya, maka kami berusaha untuk beramal dengan sebaik-baiknya. Kalau itu adalah kebaikan yang bisa kami lakukan ya itulah yang mampu kami usahakan.

Pula, karena kami tidak tahu dari ibadah mana dan ibadah yang seperti apa yang diterima oleh Allah swt. Maka kami bertilawah. Kami hanya ingin Allah rida kepada kami.

Karena kami pendosa, kami berdoa. Karena kami pendosa, kami mengemis-ngemis dan mengais-ngais cinta-Nya. Karena kami pendosa, kami ketuk-ketuk pintu langit—karena tangan ini sudah lemah untuk menggedor-gedor pintu. Kalau tidak kepada-Nya, kepada siapa lagi kami meminta?

Kalaupun menurut Bapak, dosa kami tak akan hilang dengan tilawah Alquran, semoga tidak demikian menurut Allah.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Di sudutmu, 21 September 2017

Gambar: Admin Pajak Bertilawah

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s