Tinggalkan Cara Lama, Ini Cara Mudah Screenshot dan Copas Pakai Snipping Tool


Sebagai dosen Komunikasi Publik PKN STAN saya seringkali butuh tangkapan layar untuk mengirimkan gambar di Whatsapp untuk dilaporkan ke portal PKN STAN atau dibagi ke grup mahasiswa yang saya ajar.

Ada dua cara yang selama ini saya lakukan.

Cara Pertama,

Cara pertama adalah dengan memencet tombol “PrtSc” di papan ketik (keyboard). Kemudian saya mencari aplikasi “Paint” dan membuka aplikasi itu lalu menempelkan hasil tangkapan layar itu ke layar kosong aplikasi “Paint”.

Setelah itu saya “crop” sesuai kebutuhan dan utak-atik sedikit lalu menyimpannya di tempat yang saya inginkan. Saya kemudian membuka aplikasi Whatsapp, mencari grup, dan “paste” (Ctrl+v) di grup Whatsapp. Lama ya, sungguh tak praktis sekali.

 

Cara Kedua,

Hasil dari “PrtSc” itu langsung kita rekatkan (paste) di Whatsapp. Singkat sekali. Namun, itu membuat informasi yang tidak perlu juga ditampilkan dan diketahui oleh penerima pesan. Kalau gambarnya biasa-biasa saja dan tidak ada informasi yang sensitif, tidak masalah bukan? Lain soal kalau ada informasi sensitif, itu bisa berbahaya pastinya.

Seringnya saya memakai cara kedua demi kepraktisan. Tetapi rawan bocor hal-hal yang yang tak perlu diketahui oleh pihak lain. Lalu bagaimana dong?

 

Ternyata, Ada Cara Lebih Praktis

Nah, kemudian saya mendapatkan cara mudahnya dari Mbak Meirna Dianingtyas di grup Whatsapp tentang cara mudah rekat tempel gambar dan menyingkat prosedur di atas itu. Yaitu memakai aplikasi Snipping Tool.

Aplikasi ini bisa dicari di Windows melalui kolom “Search”. Gampangnya kita tidak perlu buka aplikasi itu kalau kita mau langsung tangkap layar (Screenshot) gambar yang kita inginkan. Cukup dengan:

 

  1. Menghafalkan tiga tombol yang dipencet bersamaan ini.

Logo Windows + Shift + S

Ketika kita pencet tombol itu secara bersamaan, maka layar komputer kita akan redup 

dan akan menampilkan tombol-tombol seperti ini:

Paling kiri Rectangular Snip, menangkap objek sesuai keinginan kita dalam bentuk kotak.

Kedua dari kiri, Freeform Snip, menangkap objek di layar komputer dalam bentuk yang tidak beraturan.

Ketiga dari kiri, Window Snips dan Fullscreen Snip menangkap layar komputer secara utuh. Bedanya apa? Enggak tahu. Ha ha ha…

 

  1. Pencet salah satu tombol itu lalu klik di layar komputer. Objek akan tersimpan di “clipboard”

Nah, untuk kebutuhan saya, saya selalu memakai tombol “Rectangular Snip”.

Pakai tombol paling kiri yaitu “Rectangular Snip” maka kita bisa menangkap objek yang kita inginkan (tidak satu layar penuh), geser kursor tetikus (mouse) sambil menahan tombol kiri tetikus sampai gambar yang kita inginkan masuk ke dalam kotak terang,  kemudian lepaskan tombol kiri, dan langsung rekatkan (Ctrl+v) di layar Whatsapp tujuan. Selesai sudah. Jadi kita tidak perlu buka aplikasi “Paint” dan informasi yang diberikan kepada penerima pesan sesuai kebutuhan saja.

Kita pun bisa mengunduh gambar itu via Whatsapp.

Selamat mencoba.

Silakan berkomentar dan bertanya di ruang komentar. Terima kasih.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
30 November 2020
Gambar dari Wallpaperflare.com

Setelah Lolos dari Maut, Akan Berterima Kasih kepada Siapa?


Photo by cottonbro on Pexels.com.

Di tempat itu, malam-malam, menyalakan PC Desktop yang dengingnya seperti suara Gryllus Mitratus, membuka Windows 95, dan mengetik di Word for Windows 1.0 kemudian belajar menulis.

*
Mendapat pekerjaan dengan upah yang bisa memenuhi biaya hidup sehari-hari dan bahkan bisa menabung itu adalah sesuatu yang hebat.

Dipindahtugaskan ke tempat kerja yang lebih dekat dengan keluarga atau homebase tentunya sebuah kenikmatan yang luar biasa dan wajib disyukuri.

Baca Lebih Lanjut

Pemuda yang Berdamai dengan Kegagalan dan Hajar Rasyid


Photo by Nathan Cowley on Pexels.com

 

Pada 1785, pemuda Prancis ini ditolak untuk mengikuti ekspedisi berbahaya ke Samudra Pasifik. Kegagalan yang mesti ia terima namun patut disyukuri. Kegagalan yang memengaruhi jalannya sejarah dunia dan Indonesia tak terkecuali.

 Pagi menjelang siang tadi ada jadwal uji coba perkuliahan jarak jauh (PJJ) untuk mahasiswa PKN STAN yang saya ampu. Ini sekaligus menguji saya dalam menggunakan aplikasi PJJ yang disediakan pihak akademik.

Baca Lebih Lanjut

Langgam Menaikkan Rasio Pajak


Rasio Pajak masih menjadi pilihan yang dibahas menjelang pemilihan presiden dan legislatif pada 17 April 2019. Salah satunya pada diskusi publik yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Ekonomi dan Perpajakan (PSEP) di Café 88, Kampus PKN STAN, Tangerang, Banten (Kamis, 21 Maret 2019).

Acara yang mengangkat tema Prospek Tax Ratio Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global ini menghadirkan narasumber Kepala Kantor Wilayah Jakarta Selatan II Edi Slamet Irianto, anggota Komisi XI DPR RI M Misbakhun, Direktur Program INDEF Berly Martawardaya, dan Direktur Eksekutif PSEP Hangga Surya Prayoga.

Baca Lebih Lanjut

Bangunkan yang Tidur Itu!


Melania Trump, Grace Eline, dan Joshua Trump duduk di tribun.

Kinan tertidur saat mengantre untuk menyetorkan hafalan Alquran kepada ustaz pembimbingnya pada sore itu. Teman Kinan berusaha membangunkannya. “Tidak usah. Biarkan saja,” kata sang ustaz.

Di lain waktu dan tempat, bocah sepantaran Kinan, Joshua Trump duduk di sebelah kiri Melania Trump. Hanya diselingi satu bangku saja yang diduduki Grace Eline, bocah penderita germinoma. Namun Joshua tertangkap kamera sedang tertidur lelap.
Baca lebih Lanjut.

14 Tahun yang Lalu: Isyarat Lolongan Anjing Itu


Malam Ahad itu, di kejauhan, anjing melolong. Panjang sekali. Begitu menyayat hati. Tetapi sejatinya membuat bulu kuduk Nova Yanti merinding. Mendengar itu,  Opa, biasa Nova Yanti dipanggil akrab, bergegas untuk segera tidur dan bangun lebih pagi. Banyak rencana yang sudah diperam di otaknya. Paling tidak bersih-bersih rumah adalah pekerjaan pertama yang harus diselesaikannya besok.

Mata Opa lalu terpejam. Memaksa melupakan kesedihan yang sebelumnya hinggap. Ia kecewa sekali tak bisa ikut pergi bersama suaminya menjenguk kakak ipar yang sedang sakit berat di Penang, Malaysia.

Baca Lebih Lanjut.

Matanya Penuh Kenangan, Tercecer di Mana-mana


Saya tersentak. Mimpi itu membangunkan saya. Padahal pesawat terbang ini belum juga lepas landas dari Bandara Adi Sumarmo. Dalam mimpi itu saya seperti berada dalam sebuah penjara gelap.

Topeng besi dengan lubang hanya untuk kedua belah mata menutupi seluruh wajah. Tak ada lubang untuk mulut. Saya merasa seperti dibekap dan berada di ruang sempit. Perasaan takut tempat sempit itu tiba-tiba datang lagi.

Baca Leboh Lanjut.

Mau Riset di Ditjen Pajak? 6 Hal Penting Ini Harus Jadi Perhatian


Gampangkah?

Rangga***(bukan nama sebenarnya) datang ke meja saya. Ia berkemeja warna putih dan celana panjang warna hitam. Di punggungnya menggantung tas ransel. Ada map yang dibawa dengan kedua tangannya. Ia diantar oleh pelaksana Direktorat Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat (Direktorat P2Humas).

Rangga adalah mahasiswa semester terakhir PKN STAN. Awal tahun ini ia sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kebayoran Lama. Sembari itu ia ditugaskan untuk membuat semacam tugas akhir berupa karya tulis atau laporan PKL. Siang itu, di saat langit Jakarta masih manyun, Rangga menyodorkan Lembar Persetujuan Menjadi Lokasi Penelitian (Riset) untuk saya tandatangani.

Baca Lebih Lanjut.

Dipanggil Kantor Pajak, Bintang Film Pocong Ini Awalnya Deg-degan


Bintang film Pocong dan Pocong 2, Revalina S Temat, dalam akun media sosial miliknya membagi pengalaman saat ia datang bersama adiknya ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pondok Aren di Kompleks Kampus PKN STAN, Pondok Aren, Banten (Jumat, 3/11).

Reva, panggilan akrab pemeran utama wanita terbaik dalam Festival Film Indonesia 2009, memenuhi panggilan KPP Pratama Pondok Aren di hari Kamis, 2 November 2017. Awalnya ia merasa deg-degan karena citra petugas pajak yang dianggap menyeramkan. Namun ternyata citra itu tidak seseram yang ia bayangkan.
Baca Lebih Lanjut.

Saat Menonton Televisi di Tetangga Sebelah


Foto siang tadi

DI WAKTU KECIL***dulu, saya dan adik saya kalau menonton televisi pergi ke tetangga yang keturunan Tionghwa. Kalau malam, sehabis isya, saya mengetuk pintu rumah tetangga kami itu, “Papih! Papih!” teriak kami kepada bapak tua yang biasa kami panggil demikian. Istrinya pun kami panggil Mamih.

Kalau kami datang, anjing kecilnya bernama Bleki, karena warna bulunya yang hitam, menyambut kami dengan gonggongan atau geramannya. Saya memang tidak pernah akur dengan asu itu. Jadi di depan televisi itu saya mengangkat kaki ke atas kursi, duduk bersila, bukan bermaksud tak sopan, ini sekadar menghindari kaki-kaki kami terkena sentuhan sang asu. Baca Lebih Lanjut.