Cerita Lebaran: Seusai Menjadi Salik Selama Sebulan


Bentangan sawah di Sempulur.

Azan Subuh mengamuk di gendang telinga. Menutupinya dengan bantal rasanya sudah cukup untuk meredakannya. Apalagi perjalanan semalam dari Wringinputih, Magelang menuju Sempulur, Boyolali yang menguras daya dapat menjadi alasan lebih dari sekadar.

Pada akhirnya tidak demikian juga. Saya masih bisa beranjak. Kandung kemih yang penuh mendorong saya untuk segera turun ranjang.
Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Happy Eid Mubarak 1436 H


Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Di hari yang kesedihan tak boleh tampak ini selayaknya keluarga besar Almanfaluthi mengucapkan mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah terima amal ibadah kita selama Ramadhan yang baru saja lewat, dan memperkenankan kita untuk kembali mencumbuinya di tahun-tahun mendatang. Taqabalallaahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, ja’alanallaahu minal a’idin wal faizin.
Semoga pula kita menjadi pribadi-pribadi yang salih dan salih pula dalam bermasyarakat. Happy Eid Mubarak 1436 H.

Foto-foto:

image

                    Mas Haqi, Ummi Kinan, Kinan, Abi, Mas Ayyasy

Lihat Foto Lebih Banyak Lagi.

RIHLAH RIZA #66: Putus Harapan? Itu Gila!


Aroma opor yang harum menguar di dapur. Melata ke dinding-dinding dan singgah kepada mereka yang memiliki hidung di rumah ini. Otak mengolahnya menjadi sebuah informasi lalu mendapatkan sebuah konklusi: lebaran akan tiba.

Dan yang saya inginkan pada saat ini adalah agar waktu berhenti berputar. Atau kalau memang tak bisa dihentikan, kecepatannya cukup dikurangi saja menjadi 20 km/jam. Supaya momen-momen kebersamaan yang indah ini tak cepat berlalu dan tiba-tiba saya harus kembali lagi ke suatu negeri. Catatan ini saya tulis di Semarang, Kamis Legi, satu hari menjelang lebaran.

Baca Lebih Lanjut.

HAMPIR DUA TAHUN


HAMPIR DUA TAHUN

Hampir dua tahun lalu kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang mengakibatkan 34 korban jiwa dan puluhan lainnya luka berat ataupun ringan. Kecelakaan maut antara kereta api (KA) Eksekutif Argo Bromo Anggrek dengan KA Senja Utama, Sabtu (5/10/2010) di Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah.

Semuanya menyisakan kesedihan yang mendalam, terutama bagi kami di Direktorat Keberatan dan Banding, Direktorat Jenderal Pajak. Karena salah satu korban tersebut adalah teman kami yang bernama Nanang Supriyanto.

Ia seperti biasa, di hari jum’at itu dan setelah sepekan atau dua pekan bekerja di Jakarta, menggunakan KA Senja Utama untuk pulang ke Semarang karena istri dan dua orang anaknya tinggal di sana. Tetapi takdir kematian menjemputnya sebelum bertemu dengan keluarganya itu.

Kami hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan tempat yang terbaik buat sosok baik ini, memberikan ampunan kepadanya, dan memasukkan beliau ke tempat orang-orang shalih berada selayaknya.

Dan seperti biasa teman-teman di Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi menjelang hari lebaran 1433 Hijriah ini menunjukkan empatinya yang luar biasa dengan mengirimkan bingkisan kepada anak-anak Mas Nanang. Mungkin ini tak seberapa. Tetapi ada sebuah pesan terkirim dan terunggah: bahwa kami senantiasa mengingatnya. Ada silaturahim yang harus dijaga. Ada jiwa-jiwa yang harus disayang. Ada trauma yang harus dihilangkan. Ada gembira serta bahagia yang harus disemai. Ada cinta yang harus ditumbuhkan. Tahadu tahabbu. Saling memberilah hadiah, niscaya kalian akan saling mencinta.

Ini bukan apologi purba tapi tulus dari garputala rasa yang didentingkan dari hati yang paling dalam. Semoga bisa diterima.

Teruntuk:

Ananda Nadia Sifa Khoirunisa dan Ananda Huwaida Rana Khoirunisa

Anak-anakku…

Apa kabarnya?

Semoga bulan ramadhan ini membawakan keberkahan yang banyak untuk kita semua. Sebentar lagi lebaran akan tiba. Semoga pula di waktu itu akan selalu banyak kebahagiaan yang dirasa. Sebagaimana kebahagiaan yang dirasakan oleh Abi di sana karena banyaknya doa yang terlantun dari kalian.

Allaahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa Robbayani Shaghiira…

(Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa orang tuaku dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi aku di waktu kecil.)

Sebagaimana kebahagiaan yang dirasa Ummi karena melihat kalian tumbuh besar menjadi anak-anak yang sholihat, sehat, dan cerdas.

Tetaplah menjadi yang terindah di mata Ummi, Nak…

Tetaplah menjadi penyejuk mata Ummi, Nak…

Tetaplah selalu mendoakan Abi dan Ummi, Nak…

Anak-anakku…

Senantiasa bergembiralah di lebaran ‘Id seiring takbir yang berkumandang di langit.

Kami pun bergembira melihat kalian bergembira.

Kami pun bahagia melihat kalian bahagia.

Dari kami:

Teman-teman Abi

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

hanya ini yang bisa ada di ramadhan

08:21 15 Agustus 2012

Terima kasih kepada teman-teman Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi atas laku filantropinya. Kearifan yang laik sekali untuk ditiru oleh mereka yang memiliki maruah sebagai manusia bumi.

HARAPAN MAHADAHSYAT


HARAPAN MAHADAHSYAT


Islamedia –Apa yang menyebabkan seseorang ingin terus hidup di dunia? Tentunya karena ada harapan ia akan mendapatkan sesuatu untuk kesenangan dirinya. Dan harapan itu adalah kuncinya. Orang yang tidak punya harapan maka biasa disebut orang yang putus asa. Kalau enggak kuat iman biasanya bunuh diri.

Dalam Islam kita dilarang untuk melakukan bunuh diri, karena dosanya begitu besar. Pun, buat apa bunuh diri karena sebenarnya setiap masalah tentunya selalu ada solusi sebagai pasangannya. Karena pula rahmat Allah yang begitu luas. Maka jangan sekali-kali putus asa dari rahmatNya. Lagi-lagi ini menyangkut masalah iman.

Nah terkait dengan harapan ini, ramadhan bisa juga disebut sebagai bulan penuh harapan. Dengan demikian begitu banyak orang—terutama yang beriman—menyambutnya dengan riang gembira, minimal enggak ngedumel. Mengapa? Karena begitu banyak harapan-harapan yang diberikan Allah kepada orang yang berpuasa. Mulai dari segi kebendaan sampai yang transendental (Memangnya Ulil doang yang bisa ngomong kayak ginian).

Mulai dari sekadar berharap bedug maghrib cepat berbunyi atau juga suasana siang dan malamnya yang berbeda dengan hari-hari biasanya dan ini sering menimbulkan kerinduan yang begitu mendalam. Atau harapan dapat berbuka puasa bersama dengan keluarga dan mendapatkan kehangatan yang menyertainya. Atau dengan mencicipi minuman, makanan, dan masakan yang hanya muncul di bulan Ramadhan itu. Atau keramaian tiada tara di masjid dan musholla bagi anak-anak yang tidak biasa didapatkan di bulan selainnya.

Atau sekadar harapan dapat THR bagi para pegawai dan buruh. Atau dapat bagian beras dan uang zakat bagi para mustadh’afin. Atau harapan bisa mudik yang tidak menyurutkan niat dari jutaan orang para pelakunya walau kesulitan dan kelelahan menghadang didepan. Dan lebaran tentunya. Duh, banyak banget yah harapan-harapan itu. Tetapi itulah yang membuat kita hidup. Apalagi jika semuanya, harapan-harapan itu, bermuara pada kenyataan.

Itu hanya sebatas keduniawian. Padahal ada harapan yang lebih dahsyat dan mahadahsyat lagi. Seluruhnya ada di bagian yang transendental itu. Mulai dari harapan bisa dilipatgandakannya pahala dari semua amal-amal kebaikan yang dilakukan, atau ketenangan jiwa yang begitu banyak dicari oleh orang seantero dunia, atau keberkahan hidup dunia dan akhirat, atau mendapatkan malam yang mulia, malam seribu bulan, malam lailatul qadr.

Atau menjadi orang yang seperti bayi yang baru dilahirkan ke dunia di 1 Syawal. Bersih. Putih. Tanpa noda dan cela apalagi dosa. Atau harapan mendapatkan predikat al-‘abda attaqiyya (orang yang bertakwa)—dan ini sudah jelas dicintai oleh Allah. Atau harapan mendapatkan rahmat, ampunan Allah, dan pembebasan dari api neraka. Atau harapan masuk surganya Allah dari pintu Arroyyan.

 

Dan harapan yang mahadahsyat itu adalah berjumpa dengan Allah Akbar. Sebuah pertemuan kedua setelah pertemuan pertama di alam ruh. Kita begitu merasakan nikmat yang luar biasa hingga mendapatkan sensasi tiada terkira ketika kita berbuka puasa hanya dengan seteguk air dingin atau secangkir teh hangat, seiring itu kita mengucap syukur Alhamdulillah, apatah lagi berjumpa dengan Sang Mahaindah: Allah ‘azza wajalla. Indah nian jika harapan mahadahsyat itu terealisasi.

Berharaplah, teruslah berharap, jangan pernah berhenti untuk berharap di hari-hari Ramadhan yang tersisa ini. Hiduplah, teruslah hidup, jangan pernah berhenti untuk hidup di bulan 1000 harapan ini. Jangan pernah menyerah untuk terus beramal karena Allah, sebagai jalan memuluskan harapan itu menjadi nyata. Jangan pernah untuk lelah lalu kita rehat karena tempat istirahat kita sejatinya cuma ada di sana, di jannahNya Allah.

Semoga, kau dan aku, menjadi bagian dari manusia yang dapat mewujudkan harapan mahadahsyat itu. Agar tak sekadar mimpi.

***

 

Riza Almanfaluthi

Ditulis untuk Islamedia

03.33 pada 20 Ramadhan 1432 H

http://www.islamedia.web.id/2011/08/harapan-mahadahsyat.html

Gambar diambil dari sini.