Cerita Lari Pelari Rekreasi: Tiga Minggu Menjelang Pocari Sweat Bandung Marathon 2019


Pocari Sweat Bandung Marathon (PSBM) 2019 tinggal tiga pekan lagi. Semua perihal akomodasi sudah jauh-jauh hari saya siapkan. Tidak lupa yang paling krusial adalah latihan. Ini semua agar bisa finis sehat. Cukup dua full marathon (FM) sebelumnya jadi pelajaran.

Dari gelanggang Tugu to Tugu 2017, Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2018, Borobudur Marathon 2018, dan dua kali latihan lari dengan jarak 35 kilometer saya mendapat pelajaran penting tentang kram, muntah-muntah, inflamasi, dehidrasi, dan anyang-anyangan.

Maka agar semua itu tidak terjadi lagi, saya berusaha menyiapkan diri dengan sebaik mungkin. Perlu diperhatikan juga kalau PSBM ini kurang dari 8 minggu setelah usai bulan Ramadan.

Pertama, saya tetap berlari di bulan puasa walaupun dengan jarak yang pendek-pendek. Ini dilakukan agar otot-otot tidak lupa dengan lari.

Total jarak lari yang saya tempuh di bulan Mei 2019 adalah sepanjang 31,4 kilometer. Lumayan. Soalnya ini baru pertama kalinya saya berlari di bulan puasa sejak saya mengenal olahraga pada akhir 2014. Bahkan dalam perjalanan hidup saya selama ini.

Kedua, saya menambah frekuensi lari dari semula seminggu sekali menjadi minimal tiga atau empat kali dalam sepekan. Ini berarti saya harus mengurangi frekuensi Freeletics saya dari 4 kali dalam seminggu menjadi dua atau tiga kali dalam sepekan.

Jadi selama sepekan itu dua hari saya berlatih Freeletics, empat hari lainnya saya berlari, dan satu hari digunakan untuk istirahat. Hasilnya pada Juni 2019 saya berlari sampai mencapai 131,9 kilometer. Rata-rata seminggu mileage saya mencapai 32,975 km. Tentu ini setengahnya dari mileage penulis Jepang Haruki Murakami yang bisa mencapai 60 km dalam sepekan.

Ternyata mendisiplinkan menambah frekuensi lari itu benar-benar butuh komitmen dan tekad yang kuat. Apalagi di tengah waktu yang sempit. Tetapi karena memang sudah diniatkan sampai saat ini saya bisa menyiasatinya. Bahkan di tengah-tengah saya mengikuti diklat selama sepekan. Di hari-hari kerja biasanya saya berlari seusai jam kantor.

Dengan tekad itu, bahkan saya sampai mengunjungi Gelora Bung Karno di malam hari semata untuk memenuhi jadwal latihan. Itu pengalaman pertama kali saya lari malam-malam di GBK. Semarak sekali ya di sana. Berlari di sana, saya sampai bisa berlari 5 km di bawah 30 menit. Sebuah pengalaman yang lama sekali terulang kembali.

Menyoal latihan lari itu, pada 23 Juni 2019 saya menempuh jarak sepanjang 25,03 km. Sedangkan pada 30 Juni 2019 saya berlari sejauh 30,05 km. Jarak terakhir ini seperti jarak yang pernah saya tempuh pada ajang Tugu to Tugu 2017. Yaitu berlari pada malam tahun baru 2018 dari Polres Depok menuju Kantor Walikota Bogor.

Nah, latihan lari dengan jarak 30,05 km ini mempunyai kisahnya sendiri. Saya mulai lari pada pukul 05.38 untuk menghindari sengatan matahari. Dari rumah di Pabuaran, Bogor saya berlari menuju Perumahan Telaga Golf Sawangan, Depok. Ini berjarak 15 km. Lalu saya balik lagi.

Untuk masalah hidrasi, saya mulai minum sejak 5 km pertama, lalu minum di setiap 2,5 km. Di 10 km tersisa saya minum di setiap satu kilometer. Saya juga makan Gu Gel di KM-15. Kecepatan lari mulai terasa melambat di KM-16.

Di KM-25 mulai tampak gangguan. Terutama mental yang sudah mulai turun. Di kepala selalu terngiang-ngiang begini: “Jaraknya masih jauh. Sudah jalan saja. Menyerah saja. Naik Gojek saja.”

Di kilometer itu juga saya merasakan lapar, seperti tak bertenaga. Maka saya berhenti dulu di warung kecil untuk menenggak minuman bersoda dengan kadar gula 27 gram. Saya harap ini akan membangkitkan energi secara instan.

Sempat sewaktu saya mengeluarkan uang buat bayar minuman itu, mata saya kabur. Kondisinya sama seperti ketika kita sedang duduk, lalu tiba-tiba harus berdiri. Begitulah.Tetapi itu tidak berlangsung lama syukurnya. Saya sudah khawatir saya akan ambruk. Alhamdulillah tidak.

Setelah minum saya tidak langsung lari lagi. Istirahat sejenak. Benar-benar sejenak. Lalu setelah cukup, saya kembali berlari. Eh, ternyata saya masih enggak kuat. Ya sudah saya mulai lari-jalan lari-jalan dari KM-25 sampai dengan KM-28,6. Sebuah titik penentuan apalagi ada tanjakan terakhir menjelang Perumahan Atsiri itu.

Masih ada 1,4 kilometer lagi. Di kilometer itu saya bertekad untuk berlari. Saya tidak mau jalan kaki. Maka saya mulai lari. Mulut saya sampai berucap begini: “Nikmati saja, nikmati saja, sebentar lagi, sebentar lagi.”

Akhirnya finis juga dan saya masih bisa jalan tegak. Enggak sampai muntah-muntah. Enggak sampai kram.

Saya pikir lari-jalan lari-jalan itu akan membuat catatan pace saya jadi amburadul, sekitar 8 menit/km, ternyata masih tidak jauh dari target 7.30, yaitu 7,36 menit/km. Catatan waktu saya kali ini adalah 3 jam 48 menit 20 detik. Ini menjadi Personal Best dalam jarak 30 km. Sewaktu event Tugu to Tugu 2017 saya mencatat waktu sekitar 3 jam 53 menitan.

Sehabis latihan itu saya pijat. Lalu menjelang siang tubuh saya sempat panas. Saya coba memulihkannya dengan tidur dan benar-benar istirahat. Saya baru ingat, di Prambanan dan Borobudur saya sempat meminum obat semacam parasetamol yang ada di race pack untuk menghindari hal itu. Di latihan-latihan tersisa atau pada PSBM nanti, saya akan meminum obat itu seusai race.

Ketiga, saya membuat training plan dengan tabel sederhana Excel. Saya mendiskusikannya dengan anggota DJP Runners lainnya seperti Mas Arif yang sudah jago FM. Ada rencana-rencana saya yang dikoreksinya terutama sepekan sebelum race.

Pada 7 Juli 2019 ada BNI UI Half Marathon dan saya lebih memilih mengikuti ajang itu daripada Milo 10K sebagai bagian rencana latihan saya. Jarak 21 km-nya penunjang latihan long run saya. Maka di UI besok ini saya tidak ngoyo juga. Yang penting happy.

Sepekan setelah itu baru saya coba untuk berlari sejauh 35 km. Ini dua pekan sebelum PSBM. Barangkali yang menjadi pemikiran saya adalah mencari rute yang tidak membosankan dan tidak membuat halu di kilometer-kilometer terakhirnya itu.

Tentu banyak yang bertanya kepada saya target apa yang mau dicapai? Serius, saya yang sekadar pelari rekreasi ingin finis sehat dan bahagia, lari enggak tersiksa, ingin membuktikan apakah dengan frekuensi lari saya yang lebih panjang dalam latihan ini benar-benar mendukung performa lari saya.

Sejak awal Mei 2019 sampai tulisan ini dibuat jarak tempuh km saya sudah 183,34 km. Ini belum termasuk menghitung jarak 21,1 km di BNI UI Half Marathon besok (7/7). Semoga semua ini akan berpengaruh banyak untuk PSBM.

Itu saja. Soal, personal best itu efek samping. Catatan waktu FM di MJM 2018 adalah 6 jam 20 menit 52 detik. Sedangkan catatan waktu di Borobudur Marathon 2018 adalah 6 jam 2 menit satu detik.

Yang penting dijaga selain latihan adalah nutrisi yang baik dan istirahat yang cukup. Pekan besok setelah BNI UI Half Marathon adalah peak training dengan lari jauh sepanjang 35 km. Kembali harus menabung glikogen, istirahat di hari Sabtu, dan setelah itu semoga bisa berlari dengan baik dan bahagia.

Amin.

Baca Juga:

    1. Semua tentang Freeletics
    2. Freeletics buat Pemula
    3. Cerita Lari Tugu to Tugu 2017: Kelinci dan Kura-kura
    4. Cerita Lari Mandiri Jogja Marathon 2018: Aku Membutuhkanmu
    5. Cerita Lari Borobudur Marathon 2018: Karena Kita Sekadar Pelari Rekreasional

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Pabuaran, 6 Juli 2019

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.