Jangan Menjelaskan Ini kepada Ekonom dan Politikus


Selama satu abad terakhir atau lebih, para akademikus telah memberi umat manusia kemajuan-kemajuan ilmiah luar biasa di hampir semua bidang studi…kecuali satu.

Satu paragraf itu menjadi lead yang menarik dari Bab Pendahuluan yang ada dalam buku Bagaimana Perekonomian Tumbuh dan Mengapa Runtuh. Peter D Schiff dan Andrew J Schiff menulis buku ini dan terbit pertama kali pada 2010. Baru diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada 2016.

Baca Lebih Lanjut

Advertisements

Lebih Sedikit itu Lebih Bahagia


 

Di Amerika Serikat, menimbun barang-barang di rumah menjadi penyakit kejiwaaan. Atau lebih dikenal sebagai Hoarding Disorder. Sebanyak 6% dari jumlah penduduk Amerika Serikat mengalami hal ini. Di Inggris sebanyak 3 juta jiwa.

Sepeda itu masih bagus. Hanya rusak sedikit di pedalnya. Datang ke bengkel sepeda hanya sekadar jadi niat belaka. Tidak pernah terealisasikan berbulan-bulan kemudian.

Mobil mainan dengan kendali jarak jauh berada di samping televisi tabung. Tidak pernah digunakan oleh anak-anak laki-laki saya yang sudah kuliah dan SMA. Juga bukan mainan buat anak perempuan saya yang sekarang sedang senang bermain bola bekel.

Baca Lebih Lanjut.

THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY


THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY

Waktu Ahad lalu (23/12) yang liburan panjang itu, kami berempat—saya dengan my beloved rose, Kinan Chubby, dan Ayyasy The Writer—malam-malam pergi ke Margo City, Depok. Niatnya mau nonton film The Hobbit An Expected Journey. Jam masuknya 21.45.

Saya tak tertarik sama Habibie Ainun. Pokoknya mah mau lihat prekuel Lord of The Rings itu. Setelah trilogi hebat sebelumnya itu tak pernah saya nikmati atas kegarangan sound systemnya atau secara visual pada keindahan gambar negeri peri serta kebengisan perangnya.

Kini mumpung ada waktu dan anak-anak mau, kami sempatkan untuk tak melewatkan yang satu itu. Dan sungguh saya beri jempol buat Peter Jackson yang meramu film itu. Setaralah dengan novelnya yang sudah saya baca dua kali lebih itu. Ohya film ini untuk segala umur loh ya.

The Hobbit ini kalau difilmnya akan dibagi tiga bagian. Sesi pertama ini di film The Hobbit An Expected Journey, kisah Bilbo Baggins bersama 13 kurcaci dan Gandalf Penyihir Kelabu sampai pada mereka diselamatkan dari sergapan orc wajah pucat dan diterbangkan oleh para elang raksasa.

Saya membayangkan kalau di film kedua The Hobbit nanti yang akan diputar di tahun 2013 ceritanya berkisar saat mereka ketemu “siluman” beruang Beorn, bertarung dengan laba-laba di hutan lebat, dan cerita para peri yang menawan Bilbo Baggins.

Kalau di film ketiganya tentu ini yang lebih seru. Tapi sayang masih dua tahun lagi tayangnya. Soalnya di bagian akhir trilogi baru ini akan ada pertempuran besar antara pasukan kurcaci dan peri dengan para orc. Tentu di sana akan ada akhir dari Smaug Sang Naga yang mengamuk setelah lama tidur panjang mengangkangi harta rampasan di bekas istana Kurcaci dulu. Seru.

Kembali ke The Hobbit An Expected Journey, yang bagus darinya adalah peran Thorin yang dimainkan cukup apik. Cool. Sangat Ningrat. Dihormati karena ia adalah sang pemimpin, pejuang, putra mahkota, dan pemberani. Punya obsesi dan dendam 24 karat pada orc dan Smaug.

Apalagi mendengar lagu yang jadi soundtracknya: Misty Mountains (Cold). Mereka—para kurcaci—menyanyikan lagu itu di rumahnya Bilbo Baggins saat merindukan istana-istana bawah tanah mereka yang hilang. Misty Mountains (Cold) menjadi ilustrasi musik sepanjang film itu. Sepadan.

Saat film itu selesai, Kinan sudah tertidur di pangkuan Ria Dewi Ambarwati—perempuan yang telah menjadi istri saya sejak 1999. Saya bopong Kinan waktu menuju tempat parkiran. Jarum jam sudah menuding angka 00.30. Angka yang dituding menolak dan menampik jarum jam itu hingga terus saja berputar-putar. Memang waktu tak akan pernah ada yang mampu menghentikannya untuk berjalan. (Hayyah enggak nyambung). Sampai rumah kurang lebih jam 01.00 pagi. Jalanan Depok sampai Citayam sepi banget nget nget. Ya iyalah jam segitu. Kontras dengan lima jam setelah itu.

Besoknya sempat buka-buka lagi buku The Hobbit. Mau baca lagi dari awal. Ramai. Seru. Saya kumpulkan kembali buku trilogi Lord of The Rings. Mulai dari The Fellowship of The Rings, The Two Towers, sampai The Return of The King.

Ayyasy mulai tertarik novel JRR Tolkien, ia mulai bertanya-tanya.

“Emang mau baca?”

“Iya.”

Eh pada akhirnya tetap saja buku itu tergeletak di tempat tidurnya. Tak pernah dibuka lagi.

Pada saat proses mengumpulkan itu saya menemukan buku Isildur, masih bertema Dunia Tengah tapi tak dikarang oleh JRR Tolkien. Menemukan juga buku proses kreatif bagaimana para pengarang memulai menulis, serta buku-bukunya Malcolm Gladwell. Saya foto dah tuh buku. Ceklik….

clip_image001

(Untuk memperbesar foto ini klik saja)

Sudah cukup segitu saja dulu ceritanya. Inilah “me time”-nya kami. Sayang Mas Haqi enggak ikut (fotonya jadi latar belakang foto di atas). Pesantrennya baru libur mulai Sabtu besok tanggal 29 Desember 2012. Insya Allah Nak kita jalan-jalan lagi kayak dulu. Pengen kemana? Ragunan? Hayyah Ragunan mulu. Mancing? Lihat dulu dah. J Kami semua merindukanmu Nak. Apalagi Abi.

Jalan-jalan ke Cipatujah, ketemuan sama pak Polisi.

Di sini kita berpisah, sekian dan terima kasih.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:16 28 Desember 2012

Tanpa diedit lagi

STEVE JOBS: SISI HEBAT DAN GELAPNYA


STEVE JOBS: SISI HEBAT DAN GELAPNYA

 

Judul Buku : Steve Jobs
Penulis : Walter Isaacson

Penerjemah : Word++ Translation Service & Tim Bentang
Penerbit : Bentang, Cetakan Kedua, November 2011
Harga : 119.000
Tebal :xxii + 742

    Kuartal terakhir 2011 dunia perbukuan diramaikan dengan terbitnya buku biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson. Buku yang semula direncanakan terbit di tahun 2012 ini dimajukan penerbitannya setelah Sang Pendiri Apple Computer ini meninggal karena kanker pankreas yang dideritanya, Oktober 2011.

    Isaacson secara apik meramu hasil wawancaranya—dengan kerabat, kawan, dan musuh Jobs—menjadi sebuah jalinan cerita yang menarik. Mulai dari ketika ia kanak-kanak dan merasa ia hanya anak adopsi dan telah ditelantarkan oleh orang tua kandungnya, perjuangannya bersama Steve Wozniak mendirikan Apple, perangnya dengan IBM, perseteruan abadinya dengan Bill Gates, pemecatannya dari Apple, mendirikan NeXT, memadukan teknologi dan seni di Pixar, menguasai Disney, kembali menjadi CEO Apple, meluncurkan banya produk fenomenal, hingga perlawanannya—yang sayang terlambat—dengan kanker.

    Bagaimana Jobs memandang kematian diuraikan pula di bagian akhir buku ini. Kematian dimungkinkan, menurutnya, hanya sebuah tombol on atau off. “Klik, dan akhirnya, engkau pergi selamanya.” Maka wajar saja tombol on atau off tidak pernah diletakkan di setiap peranti Apple.

Penulis buku ini cermat menampilkan Jobs sebagai seorang perfeksionis, inovator sekaligus seniman setara Thomas Alva Edison dan Henry Ford, negosiator ulung, seorang Midas yang mampu merubah Pixar bahkan Apple menjadi perusahaan paling bernilai di seluruh jagat, di samping sikap tidak bertanggung jawab—ternyata meniru dari sikap ayah kandung yang dibencinya itu—terhadap Lisa, anak dari kekasihnya, Chrisann Brennan. Atau ketika ia sering memarkirkan mobilnya yang tanpa plat nomor di tempat parkir khusus buat orang cacat. Aturan tidak berlaku buat dirinya.

Orang seringkali tercengang mendengar cerita kalau ia hanya digaji oleh Apple, pada saat kembalinya di tahun 1997, sebesar $ 1 per tahun tanpa opsi saham. Itu yang ia minta sendiri awalnya. Ia pun sering berkata, “Aku tidak mau orang-orang yang bekerja denganku di Apple mengira aku kembali supaya kaya.” Tetapi faktanya pada saat ia menanggalkan gelar i di depan CEO-nya untuk menjadi CEO ia meminta pesawat jet pribadi Gulfstream V dan opsi saham sebanyak 20 juta lembar saham. Ia semakin kaya. Inilah bentuk distorsi realitas lapangan yang diciptakannya.

“Saya kecewa terhadap Obama,” ujar Jobs suatu ketika kepada Isaacson. “Dia kesulitan menjalankan kepemimpinan karena enggan menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain.” Ya, betul Jobs beda dengan Obama. Dia tak segan-segan bersikap kejam, melukai dan menyakiti ratusan bawahan atau rekan kerjanya dengan kata-kata kasar dan intimidatif. Tapi kebanyakan dari mereka yang disakiti Jobs mengakui bahwa mereka mampu melakukan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan setelahnya.

Jobs memang seorang presenter produk yang hebat. Presentasinya penuh dengan kekuatan kata-kata yang luar biasa dan inspiratif. Tetapi menyangka bahwa kata-kata seperti stay hungry, stay foolish atau simplicity is the ultimate sophistication yang sudah menjadi trademark dari Jobs adalah murni dari pemikiran Jobs maka itu adalah salah. Darimana ia mendapatkannya, semua diuraikan dalam buku ini.

Jobs dikenal pula dengan cara berpakaiannya yang khas. Kaos turtleneck, celana jin, dan sepatu olahraganya sudah menggambarkan sosok dirinya seperti apa. Tetapi untuk mendapatkan latar belakang secara eksplisit yang mendasari mengapa ia berpakaian seperti itu maka tidak akan didapatkan dalam buku ini. Padahal Jobs tak akan pernah membuat desain produk, kantor, atau tokonya tanpa ada makna di belakangnya.

Seperti juga Anda akan kecewa kalau Anda ingin mengetahui mengapa inovasinya berupa iPod sampai iCloud selalu didahului huruf i. Atau karena ia pernah menjabat sebagai CEO ad interim atau disingkat iCEO sehingga Jobs—yang terbiasa ingin agar orang lain memusatkan perhatian pada dirinya—terobsesi bahwa produknya pun adalah i daripada produk pesaing lainnya. Penulis sepertinya melewati hal itu.

    Kaver buku ini pun benar-benar memenuhi salah satu filosofi dari Steve Jobs sendiri yaitu kesederhanaan dan keindahan. Hanya ada dua foto Jobs di depan dan belakang buku. Tidak ada tulisan lain kecuali judul buku, nama penulis dan penerbit di depan dan di sisi buku. Tidak perlu ada endosemen dari siapapun atau tulisan best seller di sana, karena nama Jobs sendiri sudah menjadi jaminan buku ini akan menjadi laku keras.

Kita hanya mengetahui Jobs dari pemberitaan media yang mengulas tentang kejeniusannya dalam menghasilkan banyak produk yang bisa mengubah dunia selama tiga dekade. Dengan membaca buku ini maka kita akan semakin menjadi tahu sisi-sisi terdalam dari Jobs, tak hanya sisi-sisi hebatnya, tetapi juga sisi gelap, sisi kepala bertanduk dan dirinya yang berekor.

Jobs sendiri tidak menggunakan haknya untuk membaca terlebih dahulu atas buku ini atau dengan kata lain mengontrolnya. Sebuah hal yang paradoks dari sikap Jobs yang selama ini selalu ingin pegang kendali atas segala sesuatu. Ia hanya ingin Penulis, mantan pemimpin CNN dan manajer editor majalah Time ini, menulis dengan jujur kelebihan dan kelemahan yang ada pada dirinya.

    Kesalahan sedikit yang mengganjal dari penulis atau penyuntingnya adalah ketika buku yang ditulis selama dua tahun ini menceritakan tentang Chrissann Brennan bersama Greg Calhoun menempati rumah kecil, mulanya adalah kandang ayam, yang berada di perkebunan Friedland. Apakah ini terjadi pada saat musim semi 1875?

Namun secara keseluruhan buku ini bagus sekali dan pantas ditambah sebagai koleksi perpustaaan. Sangat layak dibaca oleh banyak kalangan terutama pecinta teknologi, manajer yang ingin berkembang, dan terutama sekali para pecinta buku seperti Anda.

**

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

31 Desember 2011

*Dimuat di Berita Pajak Mei 2012 dengan penyuntingan.

 

 

Tags: Steve jobs,steve, apel, ipad,iphone,icloud, thomas alva edison, jobs, apple,applecomputer, iceo,obama, Walter Isaacson

Al-Wajiz: 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari


 

Al-Wajiz: 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari

Judul Buku Terjemahan                                : Al-Wajiz; 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari

Judul Buku Asli                                  : Al-Wajiz fi Syarhi Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah fi Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah

Penulis                 : Abdul Karim Zaidan, Dr.

Penerjemah       : Muhyidin Mas Rida Lc.

Penerbit              : Pustaka Al-Kautsar, Jakarta

Cetakan               : Pertama, Februari 2008

Tebal                     : xxxii + 280 hlm

·         Seseorang yang tidak mampu membayar utang, diberi tangguh sampai mampu melunasi utangnya;

·         Seseorang dalam keadaan sangat kelaparan, kemudian dia memakan makanan orang lain, maka dia harus mengganti seharga makanan tersebut;

·         Sesuatu yang haram diterima, juga haram diberikan;

·         Tidak boleh membuat bangunan yang dapat merugikan orang lain;

·         Seseorang yang merasa dirugikan, tidak boleh membalas dengan merugikan orang lain, tetapi harus lapor ke pengadilan;

·         Diperbolehkan membunuh para pemberontak;

·         Tidak boleh menutup toko yang baru karena kehadirannya dianggap merugikan toko yang lama.

(kaver depan)

***

                Mengikuti berbagai forum diskusi dan kajian tentang fikih maka kita akan sering mendapati para peserta diskusi, mentor, guru menyebutkan kaedah-kaedah fikih. Semisal kaedah bahaya tidak boleh dihilangkan dengan bahaya yang serupa, mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan, keadaan darurat memperbolehkan melakukan yang dilarang,  atau kaedah suatu yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya adalah wajib dan masih banyak lagi contoh kaedah yang lainnya.

                Bagi yang ingin memahami lebih lanjut tentang berbagai kaedah ini biasanya harus merujuk pada kitab-kitab fikih yang terkenal. Terkadang yang dibahas hanya beberapa kaedah saja. Kebanyakan pula referensi tersebut tersedia dalam bahasa Arab. Ini tentu menyulitkan bagi mereka yang tidak mengerti bahasa itu. Maka buku terjemahan yang diterbitkan baru-baru saja ini, tentunya sangat membantu sekali bagi Anda, para penuntut ilmu ataupun siapapun yang ingin mendalami kajian kaedah fikih dalam kehidupan sehari-hari. Dan Anda tidak perlu membacanya dari awal sampai tuntas untuk mengetahui dengan segera kaedah yang diperlukan. Anda cukup dengan mencari di daftar isinya, lalu menuju halaman yang dituju, dibaca, dan dipahami. Anda dapat membaca buku ini dari kaedah mana saja. Praktis sekali.

                Penulis buku ini mengumpulkan sebanyak seratus kaedah fikih –yang tersebar dari berbagai kitab para ulama—yang bisa dijadikan sebagai dasar pengambilan suatu hukum. Kaedah fikih ini—sebagaimana disebutkan dalam pengantar penerbit—merupakan sesuatu yang sangat penting, mengingat nash-nash Al-Qur’an maupun hadits menggariskan hukum secara global, sementara permasalahan hukum dari waktu ke waktu semakin komplek dan semakin banyak, sehingga diperlukan metode dalam pengambilan hukum tersebut.

                Buku ini diawali dengan memberikan pengertian apa itu definisi kaedah secara bahasa serta perbedaan antara kaedah fikih dan hukum fikih itu sendiri. Yang menarik lagi dalam buku ini adalah di setiap kaedah yang dibahas diberikan makna,  dalil-dalil, cabang, pengecualian kaedah, serta contoh-contohnya. Ini tentunya lebih memudahkan dan memberikan penjelasan yang menyeluruh bagi para pembacanya.

                Bagi saya, kehadiran buku ini benar-benar merupakan taufik Allah yang diberikan-Nya kepada saya. Betapa tidak, dua atau tiga minggu sebelum saya membeli buku ini saya kesulitan dalam mencari kaedah-kaedah fikih yang diperlukan untuk memahami timbulnya suatu perkara dalam hukum fikih, baik di internet ataupun dalam buku-buku fikih yang saya miliki. Dan akhirnya Allah memudahkan saya dengan menemukan buku ini di suatu pameran buku Islam yang baru saja berakhir hari ini (9/03).

                Walaupun diakui sendiri oleh penulisnya bahwa kumpulan kaedah ini merupakan kumpulan catatan singkat yang berisi penjelasan sebagian kaedah fikih dalam syariat Islam dan belum ditulis secara luas serta komprehensif, setidaknya bagi dunia perbukuan Indonesia  merupakan penambahan harta karun referensi Islam yang amat berharga. Pun bagi saya dan Anda tentunya keberadaan buku ini memperdalam samudra perbendaharaan tsaqofah (wawasan) serta menuntaskan dahaga intelektualitas kita. Semoga.

Riza Almanfaluthi

Tengah malam, 00.01 WIB 10 Maret 2008

dedaunan di ranting cemara

https://dirantingcemara.wordpress.com

               

Biola Tak Berdawai


Biola Tak Berdawai
:Sebuah Roman
Seno Gumira Ajidarma & Sekar Ayu Asmara
Penerbit PT Andal Krida Nusantara (Akur)
Cet. II Maret 2004

Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya—tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bicara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai. (Prolog, hal 1)
Buku ini ditulis berdasarkan skenario dan film karya Sekar Ayu Asmara. Dengan cara pandang seorang anak tunadaksa (dengan banyak cacat yang diderita) bernama Dewa. Autistik, bisu, tubuh kecil yang tidak bisa berkembang, mata terbuka tapi tidak melihat, telinga yang bisa menangkap bunyi tapi tidak mendengar, jaringan otak yang rusak, leher yang selalu miring, kepala yang selalu tertunduk, wajah bagaikan anak genderuwo adalah gambaran dari anak itu.
Sebagai salah satu bayi yang tumbuh besar sampai umur delapan tahun—yang di luar perkiraan kebanyakan orang di panti asuhan tersebut, ia adalah belahan jiwa dari salah seorang pengasuhnya, Renjani. Renjani bersama Mbak Wid adalah pengurus panti asuhan yang bernama Rumah Asuh Ibu Sejati, terletak di daerah para pengrajin perak bernama Kotagede di pinggiran kota Yogyakarta. Tempat di mana mereka menampung bayi-bayi yang tidak dikehendaki, karena cacat ataupun karena hasil dari hubungan gelap.
Renjani bersama Dewa mengarungi pergiliran waktu dengan menyaksikan kedatangan para bayi tunadaksa yang cepat pula meninggalkan mereka karena kematian, meninggalkan mereka menuju ke pekuburan bayi. Begitu pula dengan Mbak Wid, seorang dokter kepala, yang di siang harinya mengenakan pakaian putih-putih, tapi di saat malam tiba, ia berubah menjadi perempuan berbaju hitam-hitam yang begitu percaya ramalan kartu Tarot dan menyepi di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan seratus lilin. Selalu, Renjani menemani Mbak Wid dalam permainan kartu itu, tentu dengan Dewa yang tetap terdiam membisu, dengan leher yang selalu miring, dan kepala yang selalu tertunduk.
Sampai suatu ketika saat Dewa mendengar alunan biola dari sebuah CD, sebuah kekuatan mampu membuat kepalanya terangkat—hanya sepersekian detik, dan Renjani—ibunya yang mantan penari balet—melihat itu! Renjani menghambur memeluknya. “ Dewa, Dewa—Dewa suka ibu menari ya? Ah, Ibu sayang sekali sama kamu Dewa!”
Sepersekian detik itulah yang kemudian membawa Renjani dan Dewa melihat Ballet Ramayana yang dimainkan setiap bulan purnama di Candi Prambanan. Lalu berkenalan dengan pemuda yang lebih muda usia daripadanya. Bhisma, salah seorang pemain biola dari pertunjukan itu selalu memperhatikan Renjani saat pertunjukan berlangsung. Singkat cerita, Bhisma semakin akrab dengan Renjani, pun dengan Dewa yang ia sebut sebut sebagai biola tak berdawai.
Tapi keakraban dan benih cinta yang mulai tumbuh itu rusak saat Bhisma memaksa Renjani menerima dirinya karena itu berarti mengusik masa lalu Renjani yang gelap, yang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia pindah dari Jakarta ke tempat sepi ini. Ia belum sanggup berdamai dengan masa lalunya. Masa lalu yang merusak kehormatannya sebagai seorang perempuan. Ia diperkosa oleh guru baletnya.
Jejak-jejak gelap itu menjelma menjadi segumpal daging yang Renjani secara ceroboh menggugurkannya. Lalu menjadi kanker yang membuatnya koma selama seminggu dan akhirnya berkumpul bersama bayi-bayi tunadaksa yang tidak sanggup bertahan hidup di dunia. Bhisma menyesal atas pemaksaannya itu.
Penyesalan yang hanya bisa membuatnya melakukan sebuah konser tunggal. Di kuburan Renjani. Di kuburan para tunadaksa itu. Memainkan resital gubahannya yang baru terselesaikan dan tak sempat tertunaikan untuk dimainkan di hadapan Renjani.
Tapi walaupun terlambat konser itu bagi Dewa adalah konser dari seribu biola, seribu harpa, seribu seruling, seribu piano, seribu timpani, seribu cello, seribu bas betot, seribu harmonica, seribu gitar listrik, dan seribu anggota paduan suara malaikat dari sorga. Membuat langit ini penuh dengan cahaya dan lapisan-lapisan emas berkilauan. Dan yang mampu membuat Bhisma tertegun, mampu membuat biola itu berhenti sejenak, mampu membuat Dewa berkata: “D..de….f….faa…shaa…shaa…aang…iii…buuu.”
Dewa sayang kamu Renjani.
Secara keseluruhan roman ini bercerita dengan sederhana sekali. Sekali lagi, sederhana sekali. Ada yang membuatnya beda dan menjadikan novel ini berciri khas unik yaitu penyelipan kisah-kisah pewayangan, kakawin Bharata-Yuddha beserta para tokoh-tokohnya, Drupadi, Pandawa, Kurawa, Bhisma, Sengkuni, Dorna, dan yang lainnya. Kisah-kisah yang terlupakan oleh saya. Namun sempat membangkitkan memori bahwa saya sempat membaca komiknya waktu masih SD dulu.
Filmnya meraih berbagai penghargaan internasional namun roman adaptasi dengan judul sama ini bagi saya biasa-biasa saja. Belum menggugah rasa kebahasaan saya walaupun ditulis oleh seorang yang bernama Seno Gumira Ajidarma. Penulis serba bisa Indonesia yang paling produktif—sebagaimana ditulis dalam kata pengantar buku itu—yang piawai sekali memainkan kata-kata dan sekali lagi menurut penulis kata pengantar tersebut mampu menangkap echo cinta dari film itu. Bagi saya Seno tidak sepiawai saat memainkan kata dan cinta tentunya dalam “Sepotong senja untuk Pacarku.” Karena ia terkungkung dalam sebuah skenario? Entah. Buku ini cukup dibaca saat waktu senggang saja.
Namun kavernya bagi saya mampu untuk “menutupi” kekurangan ini. Indah. Biola tak berdawai, kupu-kupu jingga, warna hitam yang dominan adalah sebuah citra tepat dari sebuah sampul yang menggambarkan isi buku ini. Sebuah asa akan asmara, yang hilang terampas oleh duka dan waktu.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
06.08 23 Juni 2007

ELANG RETAK: MATI BUKAN MASALAH, HIDUP YANG JADI PERSOALAN


ELANG RETAK: MATI BUKAN MASALAH, HIDUP YANG JADI PERSOALAN

Judul: Elang Retak
Penulis: Gus Ballon
619 Hal. Cetakan I, Juli 2005
Penerbit: Q-Press (Kelompok Penerbit Pustaka Hidayah)
Alamat: Jalan Rereng Adumanis 31, Sukaluyu Bandung 40123 Jawa Barat, Indonesia

Novel ini saya temukan dalam tumpukan buku diskon yang dijual oleh toko buku terkenal di Depok. Sebuah buku cerita tebal yang dibanderol dengan harga cuma lima belas ribu rupiah. Tebal dan murah, dua parameter ini yang membuat saya membelinya setelah beberapa hari sebelumnya saya kosong dari aktivitas membaca.
Saya mungkin terlambat untuk membacanya dan untuk membuat sebuah tulisan tentang novel ini, oleh karena itu saya tidak akan membahas dengan mendalam apa isinya, karena sudah pernah dibahas oleh Alif di forum diskusi ajangkita, Jadi saya menulis apa yang saya rasakan setelah membacanya.
Pertama adalah masalah si penulisnya. Baru kali ini saya tidak melihat sebuah pengenalan pribadi dari seorang penulis novel. Di sana tak ada satu halaman pun sebagai kata pengantar atau biografi kecil dari penulis. Entah Gus Ballon ini adalah nama asli atau nama pena. Sungguh mengundang kepenasaran bagi saya karena novel ini bagus.
Baru pertama kali ini pula ada novel—yang seperti Alif katakan—sebuah novel thriller militer berlatar belakang operasi militer ABRI. Membacanya membuat saya berempati terhadap keadaan para prajurit yang hidup dengan keprihatinan tetapi penuh semangat perjuangan, polos dan dengan kepolosan tersebut mereka hanya menjadi pion dari sebuah ambisi politik dari para jenderal yang berkhianat dan tega untuk mengorbankan mereka.
Novel ini pun membuat saya tidak bisa beranjak dan melepaskannya dari tangan ini. Semakin bertambah banyak halaman yang terbaca semakin bernafsu untuk segera menuntaskannya. Karena seru, tegang, dan lucu. Ya, kelucuan dari seorang Jajang Nurjaman, prajurit urakan, ahli tempur, yang tidak mengenal medan (antara hidup dan mati) untuk selalu mengeluarkan gurauan.
Jajang hanyalah satu dari empat belas prajurit yang dikirim ke Pulau Kabilat di Pasifik utnuk sebuah misi khusus. Misi untuk menghancurkan batangan emas yang dimiliki oleh pemberontak yang akan ditukarkan dengan senjata dan amunisi yang dikirim oleh Jenderal Korea Utara yang korup.
Keempatbelas orang tersebut adalah prajurit-prajurit amburadul, urakan, cara berpakain seenaknya, terkesan tidak dispilin, yang dibuang dan tidak disenangi oleh kesatuan lain, tapi ganas dan tidak takut mati. Dan yang ada di markas hanya mereka pada saat itu untuk dikirim segera. Maka mereka adalah:
Sersan Kepala Peter Soselisa. Lahir di Ambon. Peraih medali keberanian dalam operasi”Trisula”, ”Seroja”. Berpengalaman dalam berbagai aksi khusus maupun gabungan. Jabqtan terakhir, instruktur kepala. Brevet: terjun bebas. Satu kali penangguhan pangkat karena tindakan indispliner dan satu kali penurunan pangkat karena melanggar perkawinan. Istrinya dua. Karena tidak tega untuk menceraikan salah satu istrinya maka ia menceraikan dua-duanya.
Sersan Mayor Fajar Sidik, mahir berbagai senjata, empat kali tugas khusus, satu kali aksi gabungan. Mendapat medali atas keberaniannya menolong yang luka sewaktu kontak senjata jarak dekat. Brevet: Pendaki Utama. Satu kali penundaaan pangkat.
Kopral Dua Jajang Nurjaman. Asal Ciamis. Mahir berbagai senjata. Empat tugas khusus, tiga kali aksi gabungan. Mendapat medali atas keberhasilannya melumpuhkan sebuah kubu musuh dalam pertempuran di sekitar Laga. Juga medali keberanian mencuri bendera di markas musuh sekitar Hiomar. Satu kali penurunan pangkat, dua kali penundaan pangkat.
Prajurit Satu Baringin Sinaga, lahir di Brastagi. Ahli senapan mesin. Tiga kali tugas khusus, satu kali tugas intelijen. Satu kali penundaan pangkat karena memukul seorang kapten dari kesatuan lain.
Prajurit Satu Eko Cahyono. Ahli peledak. Dua kali tugas khusus. Pernah meledakkan bahan bakar musuh di hutan Baucau. Brevet: Pendaki utama. Satu kali penurunan pangkat akibat berkelahi dengan polisi lalu lintas, gara-gara mengejek soal setoran surat tilang. Empat polisi dirawat di RS.
Prajurit Satu Margono Priambodo, lahir di Jetis, Muntilan. Ahli senapan mesin. Satu kali tugas khusus, satu kali aksi SAR. Satu kali penurunan pangkat karena indisipliner.
Prajurit Dua Mansur Karim. Lahir di Solo dari ayah Arab dan ibu Jawa. Satu kali tugas khusus, satu kali aksi intelijen. Mendapat medali atas keberaniannya menawan perwira musuh. Dua kali penundaan pangkat.
Prajurit Dua Gerson Nelson, asal Flores. Ahli radio komunikasi dan sabotase. Satu kali tugas khusus. Satu kali penundaan pangkat beturut-turut, karena melanggar perintah.
Prajurit Dua Panji Kurnia. Anak pensiunan PM, lahir di Grsik. Guru ngaji di barak. Jago tembak (sniper). Satu kali tugas khusus. Brevet: penembak mahir. Satu kali penurunan pangkat karena menembak pantat penjual ganja tanpa bukti.
Prajurit Satu Ahmad Basso, asal Makassar. Dua kali tugas khusus. Batal mendapat medali. Ahli perkelahian satu lawan satu. Satu kali hukuman kurungan karena menjual ransum sebanyak setengah truk.
Kopral Satu Bram alias Ibrahim Ali fatoni, Jakarta asli. Satu kali operasi intelijen, dua kali tugas khusus. Dua kali lolos dari tawanan musuh. Ahli mekanik dan komunikasi. Brevet: Penyelam mahir. Satu kali penurunan pangkat—dua tingkat sekaligus—karena meledakkan lima truk pengangkut pasir milik pemborong yang mengganggu ketentraman sebuah desa di Tangerang. Satu kali lagi penundaan pangkat karena masuk rumah seorang lurah melalui atap, dan mengancam lurah tersebut agar membereskan masalah ganti-rugi tanah di daerah Sawangan.
Kopral Dua Jamal Ahman, ahli peledak asal Bangkalan Madura. Tiga kali aksi khusus, tiga kali terluka. Satu kali penindaan pangkat karena kabur selama 40 hari untuk menyepi di Gua Surowati—gua pertapaan Sunan Kalijaga—dan 21 hari bertapa di Batu Ageng—tempat bertapa Sunan Drajat di Paciran, Tuban.
Sersan Mayor Albertus, lima belas kali tugas khusus, delapan kali aksi gabungan, lima kali tugas intelijen, dua kali oeprasi SAR. Mahir berbagai senjata dan pertarungan tangan kosong. Semua medali dicabut. Brevet: terjun bebas. Tiga kali penurunan pangkat, dua kali penundaan pangkat, dan dua kali hukuman kurungan.
Dan Harun, tokoh utama dalam novel ini, si Bajingan, sipil, yang direkrut oleh militer karena mengenal seluk beluk Pulau Kabilat. Mahasiswa yang menjadi buronan karena telah membunuh bandar judi dan melukai seorang polisi Medan saat dirinya dikeroyok. Ia bilang ia cuma dalam rangka membela diri. Veteran perang vietnam yang direkrut oleh SEAL sebagai sukarelawan melawan vietcong. Saat Saigon jatuh ia melarikan diri dan bergabung dengan penyelundup senjata dari Filipina yang bermarkas di Pulau Kabilat. Mahir M16, pisau, dan perkelahian satu lawan satu.
Mereka dipimpin secara hirarki oleh Letnan Risman Zahiri, seorang sederhana, ramah, rendah hati, prajurit tempur berpengalaman, dan disegani oleh anak buahnya. Sosoknya mirip seorang ajengan dan ia mempunyai julukan Kyai Guntur.
Dan dalam misi khusus yang bersandi Konta ini mereka dipimpin oleh Mayor Santoso, prajurit dan komandan tempur berpengalaman, tegas, tidak mudah tersenyum, dan punya satu prinsip: semua tugas harus dituntaskan sebagai Prajurit Komando.
Saat membaca novel yang bersetting akhir tahun 70-an dan pertengahan 80-an—walapun tidak dinyatakan secara tegas, saya tidak menyangka ada sebuah deskripsi seperti ini. Biasanya cuma ada di film-film holywood. Tidak menyangka bahwa kita pun sebenarnya punya kesatuan tempur yang tangguh secara professional. Gambaran ini perlu agar menyadarkan pembaca bahwa pasukan ABRI (sekarang TNI) walaupun dengan keterbatasan yang ada tidak bisa dipandang sebelah mata.
Maka dengan berbagai keahlian tempur yang dimiliki, berangkatlah mereka untuk melaksanakan misi yang tanpa disadari pula bahwa ada yang telah membocorkan pendaratan mereka. Maka berbagai masalah pun mulai bermunculan. Diakhir cerita Jajang selamat dalam misi tapi tetap saja dihukum untuk menghormat bendera di tengah lapangan karena memukul pejabat dan membuat mobil sang pejabat penyok.
Dengan Santoso yang menyadari bahwa dirinya cuma pion dari ambisi segelintir orang untuk melanggengkan kekuasaan. Dengan tetap mendapatkan pelajaran penting dari seorang yang bernama Harun: sebagai apa, untuk apa, dan bagaimana ia hidup, itulah yang utama. Ia hanyalah manusia dengan kelebihan dan juga keterbatasannya.
Secara umum alurnya menarik, penuh ketegangan. Apalagi penuh perenungan diri dari sang tokoh. Terantuk pada sebuah kalimat: mati bukan masalah, hidup yang jadi persoalan. Mulai mengenal Tuhan, saat jelang maut. Tipisnya batas antara hidup dan mati. Saya memberi nilai tiga bintang untuk novel ini. Belum sedramatis JRR Tolkien yang mampu mengundang pembaca untuk membaca bukunya berulang kali. Tapi cukuplah sebagai alternatif bacaan sebagaimana penerbitnya tegaskan dalam pengantarnya.
Allohua’lam bishshowab.

Riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:07 26 April 2007
Gelas itu masih bening
http://10.9.4.215/blog/dedaunan
https://dirantingcemara.wordpress.com