Asa dari Sabang sampai Jombang


Titik 0 Kilometer Indonesia yang berada di ujung barat Nusantara, tepatnya di Pulau Weh, merupakan tujuan utama wisata buat para pelancong yang datang ke Aceh.  Dulu lokasi yang instagramable ini masuk ke dalam wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Banda Aceh. Sekarang tidak lagi.

Penyempurnaan organisasi Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak di tahun ini membuat beberapa kantor pelayanan di unit vertikal Ditjen Pajak menghilang. Hal ini membersitkan asa dari para mantan pegawai kantor tersebut.

Peleburan atau penghapusan ini berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 210/PMK.01/2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak yang mulai berlaku pada 29 Desember 2017.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

RIHLAH RIZA #68: Di Atas Space of Hope



Kami bertiga di atas Space of Hope.

Berkali-kali ke Banda Aceh tapi belum sempat jua untuk berkunjung ke Museum Tsunami Aceh. Melewatinya berkali-kali tapi hanya sekadar lewat. Sambil lari, sambil ngelamun, sambil tidur. Sudah hampir dua tahun setengah di sini, tidak bisa begini saja. Harus mampir dan melihat-lihatnya. Takdir mengangkangi saya akhirnya.

Mulanya ada undangan ke Lhokseumawe. Ada rapat koordinasi daerah (rakorda) se-Kantor Wilayah DJP Aceh. Tumben nih Kepala Seksi Penagihan diundang rakorda. Biasanya enggak. Atau saya yang lupa? Atau karena ini Tahun Penegakan Hukum? Entahlah.

Kabar angin, awalnya rakorda akan diselenggarakan di Takengon. Tempat yang belum pernah saya ludahi, maksudnya saya kunjungi. Saya jarang meludah kok. Tapi tidak jadi karena Jokowi mau ke sana. Di Sabang kabar lainnya. Asyik bisa ke sana, ke sebuah tempat yang orang se-Indonesia pengen banget ke titik 0 Indonesia. Saya aja belum pernah ke sana. Enggak jadi juga ternyata.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #5: BANG HAJI DAN MIYAGI


RIHLAH RIZA #5: BANG HAJI DAN MIYABI MIYAGI

 
 

 
 

Dalam aku berkelana

Tiada yang tahu ke mana kupergi

Tiada yang tahu apa yang kucari

Gunung tinggi ‘kan kudaki

Lautan kuseberangi

Aku tak perduli


Tak akan berhenti aku berkelana
Sebelum kudapat apa yang kucari
Walaupun adanya di ujung dunia
Aku ‘kan ke sana ‘tuk mendapatkannya

 
 

(Berkelana Raden Haji Oma Irama, 1978)

**

Hari ketiga di Banda Aceh. Pesawat yang membawa kami pulang ke Jakarta dijadwalkan jam dua belas siang. Pak Andy Purnomo akan mengantarkan kami ke kapal PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung 1 dan museum tsunami kalau masih ada waktu. Makanya kami harus check out pagi ini setelah sarapan.

Tak ada yang banyak saya lakukan menunggu jemputan jam sembilan pagi ini selain packing dan memastikan tidak ada yang tertinggal sama sekali. Pak Andy Purnomo datang tepat waktu bersama Slamet Widada. Sekarang ia tinggal bersama Pak Andy Purnomo di rumah dinas. Slamet tidak pulang ke Jakarta karena pekan depannya sudah dipanggil lagi ke Jakarta untuk mengikuti seminar keberatan.     

Tempat yang pertama kali kami sambangi adalah kapal apung ini. Tempat parkir mobil di lokasi yang sudah menjadi tujuan wisata turis lokal maupun mancanegara ini seadanya. Ada penduduk setempat yang mengarahkan kami harus parkir di mana. Untuk memasuki tempat ini pun tidak dipungut bayaran alias gratis. Namun ada kotak yang diletakkan di tengah pintu masuk. Silakan untuk memasukkan uang di kotak itu. Melewatinya saja juga tak apa-apa. Ada penjaga duduk di dekat pintu masuk sambil tangannya membawa alat hitung. Kalau ada orang masuk alat itu bunyi: “cekrek…cekrek…cekrek…”

 
 

Dokumentasi Pribadi

 
 

Kapal PLTD Apung 1 ini berdasarkan informasi dari Wikipedia awalnya milik PLN yang pada saat terjadinya bencana tsunami tahun 2004 terseret dua sampai tiga kilometer ke daratan dan menabrak rumah beserta isinya. Kapal ini beratnya 2600 ton atau 2,6 juta kilogram. Beratnya minta ampun ya…Tapi kedahsyatan air bah pada saat itu mampu membawa kapal itu sampai ke daratan. Nah, kenapa tidak dipindahkan saja? Kata Mas Andy Purnomo butuh biaya besar untuk memindahkannya. Orang Jerman minta biaya sampai dua puluh hingga empat puluh miliar rupiah. Sebenarnya kalau tak mau repot datangkan saja orang Madura dijamin itu kapal sudah habis tak bersisa.

Saya, Slamet Widada, dan Pak Andy Purnomo (Koleksi Foto Teman)

Sewaktu bencana tsunami di Jepang 11 Maret 2011 ada hal yang sama dengan yang di Aceh. Ada kapal terdampar sampai jauh ke daratan. Kali ini adalah kapal nelayan yang berbobot 300 ton bernama Kyotoku Maru No.18. Masih lebih kecil daripada yang mendarat di daerah Kampung Punge Blangcut, Jayabaru, Banda Aceh.

Gambar diambil dari sini.

Namun masyarakat di dekat tempat kapal ini terdampar tepatnya di Kesennuma, prefektur Miyagi sana tidak mau kapal itu ada. Mayoritas menginginkan agar kapal itu dibongkar saja karena hanya mengingatkan tragedi yang menelan lebih dari 19 ribu korban jiwa itu. Tragedi yang mengakibatkan bocornya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima dan membuat mereka sedih serta bermuram durja tak terobati. Akhirnya mereka sepakat untuk menjadikan kapal itu sebagai besi rongsokan belaka.

Di Aceh, lokasi kapal ini sudah tertata rapih. Ada menara-menara yang dibangun di sekitar kapal itu untuk bisa dinaiki oleh pengunjung. Dari menara itu bisa dilihat dari kejauhan bukit-bukit dan sekelingnya. Dulu pada saat tsunami dataran ini rata dengan tanah tanpa ada rumah-rumah. Sekarang sudah banyak rumah.

 
 

Pemandangan dari ketinggian menara.(dokumentasi pribadi)

Kami tidak lama-lama di sana. Kami tidak menaiki kapal. Kami cuma melihatnya dari menara. Setelah mengambil beberapa gambar teman-teman pun sepakat untuk melanjutkan perjalanan langsung ke bandara. Kami tidak jadi ke museum karena waktu yang mefet mepet. Pun kalau melihat-lihat diorama yang ada di sana tentu butuh waktu lama. Apalagi buat saya yang wajib melihat detil isi museum. Sebelum pergi saya membeli kaos peugot (buatan) Aceh untuk Ayyasy dan dompet kerajinan tangan khas Aceh buat Umminya Kinan.

Tiga hari di Banda Aceh tentunya banyak pengalaman yang didapat walau dengan sedikit tempat yang dikunjungi. Belum lagi kota Sabang dan keindahan panorama pantai di pulau We. Perlu banyak waktu khusus untuk menjelajahinya. Tapi bukan sekarang. Saya datang ke kota Banda Aceh dalam rangka pelantikan mengemban amanah baru sebagai kepala seksi dan bukan untuk piknik. Kedatangan kami ke sana pun sebenarnya awal perjalanan panjang mengemban tugas yang telah diberikan negara. Di kota naga, Tapak Tuan, saya sejatinya akan berlabuh. Di pekan berikutnya. Bukan dengan surat tugas seperti saya datang ke Kutaraja melainkan dengan surat keputusan saya datang ke Tapak Tuan. Sama-sama surat tetapi membuat perbedaan yang jauh. Jauh sekali.

Ini sebuah kelana. Ini sebuah kembara. Ini sebuah rihlah. Ini sebuah babak baru. Yang orang tahu ke mana saya pergi. Yang orang tahu apa yang saya cari. Tidak seperti lirik lagu Bang Haji Rhoma Irama di atas. Walau ada beberapa kesamaan pengelanaan Bang Haji dengan pengelanaan saya: gunung tinggi kudaki dan lautan kuseberangi. Entah
berapa gunung yang dilewati oleh pesawat yang saya naiki. Selat Sunda sudah pasti saya seberangi.

 
 

Saya memegang apa yang dikatakan ‘Aid Al Qarni tentang sebuah kembara ke berbagai tempat itu akan memberikan kebahagiaan kepada jiwa. “Bepergian dan membaca alam terbuka adalah sarana bagi seorang yang beriman agar bisa menyerap banyak pelajaran dan pesan moral.” Tiga hari di ibu kota provinsi tanah rencong ini saja sudah banyak sekali pelajaran yang didapat apalagi berhari-hari dan berbulan-bulan terdampar di ibu kota kabupaten yang tidak ada angkotnya itu. Insya Allah ini benar adanya.

Sebagai akhir pemikiran malam ini adalah pertanyaan: “ingin terdampar seperti kapal yang berada di Miyagi atau di Aceh?”

Dalam aku berkelana…

***

 
 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapak Tuan 18:24 29 Oktober 2013

 
 

Tags: banda aceh, andy purnomo, tapak tuan, fukushima, kapal pltd apung 1, kapal apung, museum tsunami, ‘aid al qarni, ‘aid alqarni, sabang, pulau we, ayyasy, mohammad yahya ayyasy, kinan, kinan fathiya almanfaluthi, ummi kinan, tsunami, berkelana, bang haji rhoma irama, raden haji oma irama, 1978, berkelana 2, kyotoku maru no.18, miyagi,