Semangkuk Empal Gentong Untuknya


Sekeluarnya dari peron Stasiun Cirebon, saya dipepet bapak tukang becak yang menawarkan jasanya. “Mau ke mana, Pak? Saya antar ya, Pak?” kata tukang becak itu dengan logat Cirebonnya yang kental-kental manis.

“Enggak, Pak,” tukas saya. Saya memang hendak ke penginapan yang tak jauh dari Stasiun Cirebon, namun spanduk besar berwarna kuning bertuliskan Empal Gentong Mang Darma sangat merisak selera saya di waktu jam makan siang ini.

Continue reading Semangkuk Empal Gentong Untuknya

Advertisements