RIHLAH RIZA #18: NOTHING’S IMPOSSIBLE


RIHLAH RIZA #18: NOTHING’S IMPOSSIBLE

 

 

dt.common.streams.StreamServer

Ilustrasi Pohon Tumbang dari gazettenet.com

 

Hujan deras mengguyur sebuah kota di India. Jalanan lumayan padat saat itu. Sampai kemudian ada pohon tumbang jatuh menghalangi jalan. Untung pohon itu tidak menimpa apa pun. Walaupun jalanan ramai, tak ada satu pun yang bergerak untuk menggesernya. Sama sekali tidak ada.  Lalu muncul anak kecil yang mendorong pohon itu. Raut muka meringis sungguh-sungguh tertera di wajahnya karena tenaga yang berusaha ia keluarkan.

Ukuran tubuhnya saja jelas tidak mungkin akan bisa menggeser satu sentimeter pun. Ia memang tak bisa menggesernya. Tapi ia punya laku. Ia punya tekad. Laku dan tekad itulah yang membuang egoisme orang kota dan menggerakkan orang dewasa yang punya nalar itu untuk sama-sama turun membantunya. Laki dan perempuan, tua dan muda, semua turut menggeser tumbangan pohon di tengah hujan yang tak mau berhenti. Akhirnya mereka berhasil, hujan pun berhenti tiba-tiba, langit tersibak, matahari muncul, dan jalanan pun lancar kembali.

**

Hari ahad pekan itu saya harus kembali ke Tapaktuan dari Jakarta. Sesampainya di Medan petang hari. Dari Medan biasanya saya naik travel. Tapi kali ini saya diajak ikut rombongan teman yang tinggal di kota terbesar ketiga di Indonesia ini.

Jalanan sepanjang ratusan kilometer telah kami lalui. Di tengah perjalanan mobil yang kami tumpangi berenam ini tiba-tiba harus berhenti mendadak. Syukur, kecepatannya masih bisa dikendalikan. Kami merayakan sepi yang menyengat ketika mesin mobil dimatikan di tengah hutan seperti ini. Persis di depan kami, dalam jarak yang tidak terlalu jauh, sesuatu menghalangi jalan. Sepintas seperti susunan batu yang disemen dalam kepekatan dini hari.

Ternyata itu pohon besar. Tidak ada orang di sana seperti yang sudah-sudah sebagai modus pemalakan. Menebang dahan pohon, menaruhnya di tengah jalan, dan meminta uang kepada pengguna jalan di kegelapan malam. Sekarang, ini pohon yang sebenar-benarnya tumbang.

Tidak ada yang lain selain kami dalam beberapa saat. Kami sudah meninggalkan jauh rombongan mobil di belakang. Di depan kami, dari arah yang berlawanan, di balik pohon tumbang pun belum ada mobil juga. Hanya kami sendirian waktu itu.

Kami turun. Kami terpana. Banyak pertanyaan yang memenuhi kepala. Bagaimana caranya kami melewati halangan ini? Kami harus segera sampai di Tapaktuan sedangkan perjalanan masih jauh, masih beberapa jam lagi.  Tidak ada jalan memutar menuju daerah di depan kami, Kota Subulussalam. Ini satu-satunya jalan dari Medan menuju Tapaktuan.

Sebelumnya kami pun harus melewati jalan sempit yang berkelok-kelok, gelap, dan penuh kabut. Kabutnya tebal sehingga wiper mobil kami harus dinyalakan agar tidak ada air yang menghalangi pandangan. Jarak pandang pun terbatas. Teman kami, Dony Abdillah, yang memegang kemudi harus ekstra hati-hati. Pengalaman berbulan-bulan membawa mobil Medan-Tapaktuan pulang pergi di akhir pekan cukup menambah kewaspadaannya.

Pohon ini tumbang dari sisi kanan kami. Tebing dari sebuah pegunungan. Di sebelah kiri kami jurang. Dasarnya tidak tahu seberapa dalamnya. Gelap. Sepertinya pohon ini tumbang barusan saja. Karena jarak kami dengan mobil yang menyusul kami tak seberapa lama. Mobil itu melewati bagian jalan ini dan tepat beberapa detik atau menit kemudian pohon itu rubuh. Atau sebenarnya mereka jatuh ke dalam jurang itu, terdorong reruntuhan pohon. Kami tak tahu.

Dari arah yang berlawanan mulai muncul satu mobil. Supir dan penumpangnya turun. Mereka melihat apa yang telah menghalangi perjalanannya. Setelah mengetahui kondisi pohon yang jatuh ia bisa langsung ambil kesimpulan. Supir mobil sana di tengah keterpanaan kami yang begitu lama langsung ambil insiatif untuk menyingkirkan satu per satu. Saya pun langsung ambil bagian. Begitu pula teman-teman yang lain. Ini langkah yang tepat daripada kami hanya berdiam diri menunggu nasib selanjutnya, menanti bentuk pertolongan lain yang kami tak tahu seperti apa.

Kami harus patahkan ranting-rantingnya terlebih dahulu sebelum menyingkirkan batang pohon yang besar itu. Pohon ini ternyata pohon tua dan sudah lapuk. Kami kikis dengan tangan kosong semua yang menghalangi jalan. Tanah, dahan kecil, ranting, dan daun-daun kami terjunkan ke sisi kiri, ke jurang. Suara benda jatuh yang menyentuh dasar jurang terdengar lama sejak digelindingkan dari atas. Tanda jurangnya dalam.

Yang kami khawatirkan pada saat proses pembersihan itu adalah masih adanya reruntuhan di atas yang belum semuanya turun. Jangan-jangan ketika kami menarik ranting-ranting itu lalu longsoran tanahnya menghunjam ke bawah dan menimpa kami. Tapi kami tepis semua pikiran buruk itu. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Semua patahan dan longsoran yang bisa kami buang dengan alat ala kadarnya dapat kami singkirkan. Tinggal batang pohonnya.

Tak lama kemudian tempat itu mulai hidup. Mobil dari arah yang sama dan berlawanan sudah mulai menumpuk.  Juga bus besar. Ini sangat membantu kami. Artinya akan ada banyak tenaga tambahan untuk menyingkirkan halangan yang masih teronggok di tengah jalan.

Beberapa orang sudah mulai menggulingkan batang pohon yang besar itu. Pohon ini harus digulingkan ke jurang agar terbuka jalan untuk semua kendaraan dari dua arah.  Kalau Jika hanya digeser ke sisi kanan, maka hanya memberikan ruang untuk mobil berukuran sedang saja. Bus dan truk jelas tak akan bisa melewatinya. Tapi menggulingkan pohon itu ternyata sulit, karena di akarnya masih banyak tanah dan potongan dahan-dahan yang menumpuk. Pohon hanya bergeser sedikit.

“Itu harus disingkirkan satu per satu,” kata saya kepada mereka.

“Kapan selesainya?” kata salah satu dari mereka meruntuhkan harapan.

Bagi saya perkataan itu perkataan negatif. Saya yakin kalau satu demi satu, sedikit demi sedikit, bagian-bagian dari tanah dan tumpukan itu dibuang ke jurang—tidak sekadar dipinggirkan—maka lama kelamaan akan habis juga. Buktinya tidak akan mungkin di hadapan kami tinggal batang pohon itu saja jika kami tidak menyingkirkan satu demi satu semua ranting dan dahan-dahan sebelumnya.

Juga perkataan itu mengandung keegoisan tingkat tinggi karena hanya memikirkan kepentingan mobil berukuran sedang saja. Bus jelas tidak dipikirkan. Tapi apa mau dikata karena memang belum semua penumpang bus turun untuk turut membantu. Kalau semua turun, insya Allah akan selesai dalam waktu yang tidak lama. Tidak ada yang mustahil. Seperti yang Oz bilang dalam OZ The Great And Powerful: “Nothing’s impossible if you just put your mind to it.”

Tapi mereka bergeming. Juga penumpang bus tidak ada yang turun. Ya sudah, kami pun mengerjakan apa yang bisa kami kerjakan. Kami berenam berburu dengan waktu. Maka dengan bantuan tali, dorongan, daya ungkit dari potongan kayu di bawah pohon akhirnya pohon besar itu bisa digeser ke sisi kanan. Jalan terbuka pas untuk mobil pribadi. Bus dan truk tidak bisa lewat karena sebelah kanan jurang menganga gelap.

Setelah terbuka jalan, mobil-mobil kecil pun bergegas melaluinya dengan kesetanan. Seperti air lepas dari bendungan. Bahkan mobil kami yang paling depan pun disusul oleh banyak mobil dari antrian paling belakang. Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi saat itu. Saya tak tahu nasib para penumpang bus dan truk itu selanjutnya.

Hambatan seperti tanah longsor adalah salah satu risiko yang harus dilalui oleh para pelaju dari Kota Medan menuju Tapaktuan selain dipalak, mobil masuk sungai, masuk jurang, ban kempis, dan mesin mogok. Kami tidak akan pernah menghendaki kejadian itu menimpa kami tentunya.

Kejadian di sana memang ada laku dan tekad. Ikhtiar untuk berusaha menyingkirkan pohon. Laku dan tekad dari segelintir kami. Tapi itu tidak mampu menggerakkan banyak orang untuk turun bareng menyingkirkan segala. Laku dan tekad yang dipertunjukkan oleh anak kecil di atas cuma ada di televisi. Iklan sebuah minuman. Tidak menjadi nyata di sini. Di pinggiran hutan belantara ini. Maka nothing’s impossible pun tegas dibekap kabut dan benar-benar menjadi mustahil. Dini hari itu kami merayakan ketidakmungkinan dalam pikiran kami.

Beberapa jam kemudian kami tiba di Kota Tapaktuan. Jam enam pagi kota kecil ini masih sepi. Matahari pun belum bangun. Kami kemudian sukses menaruh jari di mesin finger print KPP Pratama Tapaktuan. Senin ini kami tidak terlambat. Itu berarti penghasilan kami tidak dipotong. Alhamdulillah.

Jika ada yang mengatakan kalau tidak mau dipotong ya jangan terlambat. Jika tidak mau terlambat berarti jalan dari Kota Medannya Minggu siang saja, jangan malam Seninnya. Coba yang berkata demikian untuk ditugaskan terlebih dahulu di sini.  Di daerah yang peringatan hari jadinya yang  ke-68 pada tanggal 28 Desember 2013 ini akan dihadiri oleh Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal. Semata bagi kami kebersamaan dengan keluarga menjadi saat-saat yang tak bisa dinilai dengan materi.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dini hari di tengah debur ombak

00:35  24 Desember 2013

 

 

 

M A E S T RO


M A E S T R O

 

Sengaja menuliskan ini dengan segera di tengah kemacetan yang melanda Jakarta di jumat petang ini (13/5). Apalagi setelah ada pengumuman dari tiga kementerian yang berbeda bahwa senin yang hari kejepit itu dijadikan cuti bersama. Sepertinya Jakarta bertambah macet lagi.

Saya menuliskannya pun di talam taksi, di tengah perjalanan menuju Stasiun Sudirman untuk mengejar kereta terakhir ke Bogor. Saya teringat tentang beberapa email yang mampir ke kotak surat saya. Tentang tulisan atau artikel yang dibuat oleh teman-teman saya yang mau memulai kembali hobi menulisnya. Saya mendapatkan semua email itu dengan senang hati. Karena bagi saya itu juga merupakan pembelajaran yang bagus buat saya. Jonru menyebutnya ATM: amati, tiru dan modifikasi tulisan orang lain agar kita dapat menulis dengan lebih baik lagi.

Pun karena saya ingat pengalaman beberapa tahun yang lampau, ketika saya mau mengawali menulis itu dengan intens. Saya butuh seseorang untuk dapat menilai tulisan saya itu. Saya haus akan komentar dan tanggapan, oleh karenanya saya kirim ke beberapa penulis yang sudah terkenal. Maklumlah saya ingin mengetahui bagaimana mereka menanggapi tulisan saya itu.

Ternyata pada kenyataannya sedikit sekali yang menanggapi, walau sudah berkali-kali saya kirim tulisan lainnya. Akhirnya saya bertekad bahwa saya tak perlu dengan komentar mereka dan saya akan tetap berusaha menulis dan menulis. Dan insya Allah sekarang saya bisa menulis.

Kemudian tibalah saatnya saya menjadi orang yang berada di posisi dulu yakni orang yang dimintakan tanggapannya. Padahal saya bukanlah penulis terkenal apalagi penulis yang sudah menghasilkan sebuah buku. Bukan. Tetapi menyadari bahwa saya tak mau menjadi orang yang pernah dimintakan tanggapan dan tidak memberi respon maka sampai saat ini saya berusaha untuk menjadi orang yang mudah untuk memberikan tanggapan atau penilaian, walaupun di tengah keterbasan waktu yang ada.

Karena saya menyadari bahwa sekadar komentar dan tanggapan saya bisa jadi membawa semangat yang luar biasa buat mereka yang memulai menulis itu. Makanya saya insya Allah tulus memberikan tanggapan. Dan maaf jika sampai saat ini ada yang merasa belum ditanggapi saya. itu bukan karena meremehkan tetapi karena saya perlu waktu untuk membacanya.

Sebenarnya saya yakin bahwa mereka itu, teman-teman saya ini, mempunyai kemampuan luar baisa menuangkan apa yang dirasa, dilihat, dan didengarnya dalam banyak kata yang tertulis. Tinggal diberikan pemantik dan di sisi mana sumbu itu mudah untuk dibakar.

Saya kemudian teringat sebuah cerita yang dikisahkan oleh teman saya tentang seorang perempuan penari hebat di sebuah kota kecil. Di suatu saat kota tersebut akan dikunjungi seorang maestro penari terkenal. Dan diumumkan kepada para penari di kota tersebut untuk ikut audisi yang diselenggarakan maestro tersebut. Bila lulus audisi maka akan dididik maesro itu dan ikutkan dalam setiap penampilannya. Maka, perempuan penari itu berlatihlah dengan keras dan keras untuk bisa menampilkan yang terbaik di depan maestro tersebut.

Sampai pada waktunya, ia diberikan kesempatan beberapa menit untuk menari di depannya, maestro itu mengangguk-angguk dan tiba-tiba ketika tarian itu belumlah selesai, maestro bangkit dan keluar ruangan audisi. Perempuan penari itu terkejut, langsung menghentikan tariannya, dan bertanya-tanya mengapa sang maestro itu meninggalkannya begitu saja. Ia berpikir bahwa meastro itu tidak menyukai tariannya. Pasti tariannnya tidak indah untuk dinikmati. Maka ia pun pulang. Kesedihan yang menghantamnya terlihat sangat.

Sampai-sampai pada sebuah kesimpulan bahwa buat apa dia menari lagi. Akhirnya ia pun bertekad untuk tidak menari dan menyimpan pakaian dan peralatan menarinya di sebuah peti. Tertutup dan terkunci rapat. Ia pun melarang anak-anaknya untuk menari.

Jawaban atas mengapa maestro itu pergi meninggalkannya pada saat audisi itu diketahui setelah belasan tahun kemudian. Sang Maestro datang kembali ke kota itu. Maka perempuan penari itu menyempatkan diri untuk bertemu lagi dengan Mestro dan mengajukan sebuah tanya yang membutuhkan jawaban itu.

Awalnya sang maestro tidak mengenalnya, tetapi kemudian setelah diberitahu bahwa perempuan yang di depannya adalah peserta audisi bertahun-tahun lampau, maka ia pun mengenalnya.

“Oh ini dia penari itu? Sekarang sudah kemana saja menari?”

“Tidak Tuan. Saya cuma jadi ibu rumah tangga. Saya mau bertanya mengapa Tuan Guru meninggalkan saya dan tidak melihat tarian saya sampai selesai?”

“Oh waktu itu saya tiba-tiba ingin ke belakang. Jadi saya meninggalkanmu. Dan sebenarnya sudah aku siapkan kartu nama untuk diberikan kepadamu, tetapi saat aku kembali kau sudah tidak ada.”

“Jadi hanya karena itu, lalu bagaimana dengan tarianku?”

“Kau penari hebat. Dan aku mengagumimu.”

    Terperangahlah perempuan penari itu. Ia terkejut. Setelah berterima kasih kepada Sang Maestro ia pulang dan segera membongkar pakaian dan peralatan menarinya dan bertekad untuk menari kembali serta berlatih keras membayar tahun-tahun yang lewat. Tidak ada kata terlambat. Inilah Kisah itu lebih dan kurangnya.

Andai saja bukan karena maestro itu yang tak mampu menahan dirinya untuk duduk lebih lama lagi dan sekadar memberi sepatah dua patah kata penyemangat atau karena prasangka terburu-buru perempuan penari itu maka yang terjadi tentu akan berbeda.

    Maka, kepada teman-teman yang ingin tulisannya dikomentari oleh saya, sila dikirim saja via email. Dan saya tidak akan seperti maestro itu meninggalkan kalian. Kapanpun. Apapun yang terjadi. Saya tak akan pernah bosan untuk menyemangati terkecuali kalian yang sudah bosan mendengar ceracauan saya. Kalau belum juga ditanggapi mohon saya untuk diingatkan. Semoga upaya kecil ini membuat kita semua bersemangat untuk menulis.

    Siang ini, sebelum saya mengedit tulisan ini sebuah pesan masuk dalam kotak surat, “Terimakasih banyak ya, tak bosan menyemangati saya. Semoga jadi amal sholih yang berkelanjutan, semoga juga menjadi sarana untuk membuat semangat Bapak jauh lebih berkobar. Menyemangati = tersemangati !!”

    Siapapun kau, dengan tetap adanya saya atau tidak, tetaplah menulis, karena menulis adalah mewariskan peradaban. Dan saya sudah cukup bahagia melihatmu—dari jauh—bisa menulis apa yang kau lihat, dengar, dan rasa.

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

*izin membagi cerita penari itu di sini, Edelweis…

05.57 18 Mei 2011

Tags: Penari, penulis, maestro, jakarta, jonru


 

KARENA IA ADALAH PENGGANTI YANG LEBIH BAIK


KARENA IA ADALAH PENGGANTI YANG LEBIH BAIK

 

Hari sudah semakin sore, jum’at (29/4) itu rekonsiliasi dengan Pemohon Banding di gedung Pengadilan Pajak belumlah usai seluruhnya. Kami hanya dapat menyelesaikan untuk satu sengketa pajak saja mengenai objek-objek Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 23.

Kami sepakat untuk melanjutkannya di pekan yang akan datang. Tentunya bagi tim kami, yang penting ada panggilan dari Pengadilan Pajak, kalau tidak ada itu kami tidak akan datang. Jangan dilupakan, kami tidak akan datang juga walau sudah ada panggilan kalau tidak ada surat tugas dari direktur kami. Ini semata-mata agar kami tidak dianggap sebagai petugas banding liar dan tetap dalam kerangka melaksanakan tugas negara—bukan tugas pribadi.

Saya bergegas menuju Jalan Senen Raya untuk menghadang Bus Jurusan Senen Cimone yang melewati Stasiun Gambir—karena dari sana saya akan pulang naik kereta rel listrik (KRL). Untuk menghentikan bus itu saya harus menunggu lama di seberang Hotel Oasis Amir. Bisa saja saya naik bajaj atau ojek motor atau juga naik taksi. Tapi pilihan itu akan saya ambil jika waktunya mepet dengan jadwal KRL yang saya naiki. Dan untuk hari itu waktu yang saya miliki masih banyak.

Kemudian tak sengaja mata saya melihat gedung tinggi di ujung sana. Tempat Pengadilan Pajak berada. Saya sempatkan untuk mengambil gambarnya dengan menggunakan kamera hp.

Gedung bercat putih itu adalah Gedung Dhanaphala. Di sana selain Pengadilan Pajak adalah tempat berkantornya para pegawai Direktorat Jenderal Anggaran.

Bus itu tiba dan tak sampai 10 menit sampai di depan Stasiun Gambir. Sesampainya di stasiun itu segera saya beli tiket dan naik ke lantai 1. Saya mencari tempat duduk di sana. Tak biasanya saya demikian. Di hari-hari sebelumnya kalau sudah beli tiket saya langsung naik ke lantai dua dan menunggu KRL datang di peron 3-4.

Saya pikir waktunya masih lama dan pasti akan ada pemberitahuan kalau KRL Pakuan Ekspress itu tiba di Stasiun Gambir dari Stasiun Kota. Makanya saya santai saja duduk-duduk di bangku lantai 1. Ada sekitar 20 menit saya di sana. Untuk sekadar menelepon, sms-an, dan tentunya melihat Monas dari kejauhan. Sepertinya emas yang ada dipuncaknya itu tak berkurang satu gram pun.

Ketika ada pengumuman bahwa KRL Pakuan datang, saya segera naik ke lantai 2 dengan santainya. Eh, pas betul, setibanya di atas, KRL Pakuan itu sudah nongkrong di jalur 3 dengan pintu yang sudah tertutup dan kemudian berangkat lagi. Saya gigit jari. Saya ketinggalan kereta. Tega nian KRL itu untuk tidak membuka pintunya barang sejenak agar saya bisa ikut dengannya.

Aneh, seharusnya pengumuman kedatangan KRL diberitahukan sebelum KRLnya datang di Stasiun Gambir bukan? Atau pada saat KRL sudah berangkat dari stasiun terdekat. Nah, ini benar-benar tidak ada. Tiba-tiba diumumkan kalau KRLnya sudah tiba di jalur 3. Atau sebenarnya ini salah saya? Seharusnya pula kalau sudah tahu jadwalnya jam segitu ya segera naik ke atas. Tak perlu tunggu pengumuman. Nanti akan alasan begini: “Memangnya jadwal KRL selama ini tepat waktu?” Ya sudahlah akan banyak argumentasi yang muncul.

KRL ini memang tidak berhenti di Stasiun Citayam tetapi ia berhenti di Stasiun Bojonggede. Dari sana saya harus menunggu KRL arah baliknya yang menuju ke Jakarta untuk nantinya turun di Stasiun Citayam.

Keterlambatan ini harus ditebus dengan 20 menit menunggu kereta berikutnya. Apalagi sore itu Stasiun Gambir sudah mulai penuh karena banyaknya pemakai jasa kereta api yang ingin pulang kampung. Maklum akhir pekan. Jadi suasananya tambah semrawut.

Eh, kekecewaan ini terobati juga. Dari pengumuman yang ada, KRL berikutnya itu bisa berhenti di Stasiun Citayam. Jadi tak perlu harus ke Stasiun Bojonggede dan balik lagi. Dan betul ketika sampai di Stasiun Citayam waktu tibanya tidak berbeda jauh bila naik KRL yang meninggalkan saya itu. Hmm…

Saya kembali memikirkan sesuatu. Hingga pada sebuah ujung bahwa seringkali kita menyesali dan merutuki nasib karena sesuatu yang diharapkan lepas dari tangan kita. Padahal Allah sudah menggariskan kalau memang yang diharapkan itu bukan untuk kita, bisa jadi karena tidak baik untuk kehidupan kita di dunia atau setelahnya. Pun, karena Allah sudah mempersiapkan yang lain lagi sebagai penggantinya, bahkan lebih baik.

Sore itu saya mendapatkan yang terakhir.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

bahagia ditemani sepanjang perjalanan

10.40 01 Mei 2011

 

Tags: pengadilan pajak, senen raya, hotel oasis amir, Cimone, kereta rel listrik, gambir, citayam, bojonggede, pajak penghasilan pasal 23, pakuan, jakarta, gedung dhanapala, direktorat jenderal anggaran, departemen keuangan,

 

scramblezone@halaqoh


15.12.2005 – scramblezone@halaqoh

Tidak biasanya saya begitu bersemangat dengan chatting kali ini. Dan sudah lama saya tidak antusias dengan mIRc sejak tahun 2003. Script-script yang saya punyai dan saya kuasai dulu hilang dan tidak saya kuasai lagi. Hingga untuk mengucapkan dan menjawab salam saja harus ketik panjang dan tentu ditambah kesalahan ketik. Namun kali ini setelah jaringan di kantor lebih cepat daripada tiga minggu kemarin, saya mencoba mengikuti dunia perchatingan, tentu disela-sela pekerjaan yang kini semakin menepis persediannya untuk diselesaikan.
Awalnya biasa saja, setelah itu–tepatnya kemarin–saya begitu bersemangat. Ada game baru di #halaqoh, scramblezone namanya. Menjawab pertanyaan yang diajukan si bandar dengan jawaban berupa huruf yang sudah diacak sedemikian rupa. Yang berhasil menjawabnya maka akan mendapatkan nilai 1. Semakin banyak dia berhasil menjawab maka ia akan memperoleh nilai 1 yang lebih banyak.
Saya pernah mengenal permainan ini, dulu, tapi swear, saya tidak tertarik. Namun ada bedanya kali ini di #halaqoh. Pertanyaannya berkisar di dunia Islam, mulai nama-nama kota negara Islam sampai urusan fikih. Jawaban yang terkadang konyol sampai-sampai membuat saya tertawa, lucu banget. Permainan ini terkadang tidak melihat soalnya terlebih dahulu asal ia ingat susunan huruf apa yang diacak, bisa langsung dijawab tapi kalau begini terkadang ngaco.
Contohnya ini:
» Petunjuk : merk
» Huruf : qomcap preorsai
Saya jawab: capgomeh barongsai, ternyata salah. Memang kagak nyambung. Yang benar adalah compaq presario.
Ada juga yang protes, dilayarnya dia yang pertama menjawab tapi ternyata ia tidak mendapat point 1, keduluan sama yang lain. Tapi memang ini semua tergantung siapa yang masuk terlebih dahulu ke komputer si bandar. Berarti kualitas jaringan berpengaruh terhadap kecepatan menajwab. Bisa saja ia duluan menjawab tapi jaringannya sedang jelek, maka-siap-siap saja jawabannya didahului sama yang lain. Yang parah, banyak juga yang sudah dapat nilai banyak tapi jaringannya juga jelek dan tiba-tiba ia terputus dari koneksi atau disconnected, maka disaat ia kembali lagi ia harus mengumpulkan nilai dari nol lagi. Sungguh malang…But, the game is the game. Namanya juga permainan, terima sajalah. (hehehehe, maaf yah).
Terkadang juga koma di atas (tuts sebelah angka 1) yang diinginkan si Bandar tidak sama dengan koma di atas (tuts dekat enter) yang dimaksud oleh para peserta, maka kalaupun ngetik sampai benjut juga ya tetap salah. Juga kalau si bandar kehabisan pertanyaan, maka ia kasih soal yang kayak gini:
» Petunjuk : bandar kentekan soal
» Huruf : temmu
Bagi orang Jawa, soal seperti ini gampang banget. Jawab saja: mumet, selesai. Saya dapat poin satu. Tapi bagi yang bukan orang Jawa, waduh…ini yang susah. Makanya saya sarankan kepada si Bandar supaya beli atau pinjam buku ensklopedia dunia Islam yang ada 6 jilid itu untuk bisa membuat soal yang bermutu gitu (bukan begitu enigma???:-)
Betewe, untuk permulaan permainan ini asyik banget buat mengisi waktu luang. Tapi jangan sampai lupa pekerjaan yah…
Allohua’lam bishshowab.
dedaunan di ranting cemara
salam buat mas squall, mbak al1f1a, enigma, dll dah…
15:36 15 November 2005

Para ustadz Pelayan TPT


Ada sesuatu yang berbeda di Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) KPP PMA Tiga hari ini. Tampak para ustadz begitu sibuknya melayani Wajib Pajak di hari terakhir pelaporan SPT. Tapi mereka bukan sembarang ustadz. Ya, mereka adalah para pegawai di seksi Pelayanan KPP PMA Tiga sendiri yang memakai baju koko dan peci hitam (milik sendiri dan bukan pemberian kantor) untuk melayani Wajib Pajak di bulan ramadhan yang suci ini.
Terasa teduh sekali. Terasa indah dipandang mata. Menyejukkan. Dan menjungkirbalikkan stigma yang melekat selama ini kepada petugas pajak. Ada proses perubahan di sini. Ataupun dalam bahasa manajemen strategis ada proses unfreezing dari suatu kestatisan gerak. Bagaimana tidak, biasanya yang kita jumpai adalah para petugas yang berkemeja rapih dengan dasi yang menempel gagahnya di leher. Kali ini di ramadhan ini, mereka tidak seperti biasanya. Inilah berkah dari ramadhan mubarak.
Suatu keniscayaan bahwa keteduhan yang muncul ini adalah upaya berkelanjutan dari suatu perubahan radikal yang harus—mau tidak mau—dilakukan oleh KPP PMA Tiga, sebagai KPP yang telah memegang kode etik dalam setiap pelayanan dan tugasnya. Yang dalam bahasa gaulnya, telah menjadi syari’ah. Maka upaya ini patut dihargai sebagai upaya cemerlang dan pengukuhan stigma kebaikan yang akan melekat pada KPP PMA Tiga, bukan sebagai pemanis mata saja.
Tentu bahwa keindahan, keteduhan, dan kesejukan tersebut tidak berhenti pada hanya terekspresikannya dengan tampilan fisik dan pada bulan suci nan mulia ini, namun juga diharapkan bahwa keindahan, keteduhan, dan kesejukan juga melekat pada batin dan jiwa seluruh pegawai KPP PMA Tiga dan di bulan-bulan setelah ramadhan.
Karena sesungguhnya kebahagiaan itu tidak hanya berhenti pada kebahagiaan dzahir atau fisik semata namun juga beriring dengan adanya kebahagiaan jiwa berupa ketenangan saat bekerja, ketenangan dalam bersosialisasi, dan masih banyak lainnya.
Sekali lagi ide bersama para petugas pelayanan yang muncul ini patut dihargai. Patut menjadi contoh dan teladan bagi KPP yang lain. Tentu didasari bahwa semua itu karena Allah serta adanya tekad yang kuat untuk berubah. Percuma saja petugas TPT di berikan tampilan indah itu sedangkan pada tataran nyatanya tingkah laku para pegawai KPP tersebut masih seperti yang lama dan tidak berubah.
Salut. Semoga Allah merahmati kalian dan kita semua.

dedaunan di ranting cemara
ramai
13:49 20 September 2005